ANTARA JIHAD DAN TERORISME DI INDONESIA

Oleh : Anas Fais Hermawan

Terorisme, kata yang selalu menjadi konotasi negative bagi sebuah agama, nampaknya tidak mengenal kata usai. Berbagai peristiwa yang ditimbulkannya, selalu saja mengagetkan dan menggemparkan seluruh lapisan masyarakat di bumi pertiwi. Bahkan, terorisme juga nampaknya juga menjadi ancaman yang paling ditakuti oleh setiap negara, dari negara yang terkecil bahkan negara adi kuasa sekalipun.

Apapun motifnya, kenyataan video pemenggalan kepala, berita penembakan di sebuah kota ataupun desa, pembobolan beberapa bank swasta, pengiriman berbagai bentuk paket “hadiah” bom sampai pada beberapa aksi bentuk bunuh diri lainnya nampaknya menjadi berita yang sangat mengerikan untuk dilayangkan dalam media massa.

Pada perkembangan selanjutnya, yang terjadi adalah munculnya beberapa isu yang menyatakan bahwa semua “kegiatan” ini adalah memang dirancang dan dibiayai sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang berkepentingan menjatuhkan nama suatu agama ataupun bangsa di mata internasional ataupun di mata agama-agama lainnya. Hal ini kemudian memunculkan timbulnya kesenjangan antar pemeluk agama bahkan antar aliran dalam satu agama. Sehingga yang terjadi adalah saling menyalahkan satu sama lain.

Menjadi bahan yang sudah biasa bila dikatakan bahwa Islam selalu dituding sebagai dalang dibalik semua ini. Apapun alasannya, mungkin kita semua pernah menyaksikan hal terkecil yang menjadi pembenaran atas statement ini. Telah sama-sama kita saksikan bagaimana aksi brutal pasukan berjubah dalam setiap demonstrasi ataupun pengrusakan tempat-tempat umum, yang alam aksinya selalu meneriakkan kalimat-kalimat thoyyibah. Apakah mereka benar-benar berbuat sesuai dengan syari’at Islam?

Hal inilah yang kemudian mendorong penulis merasa perlu untuk mencari beberapa konsepsi jihad – yang benar-benar murni – menurut pandangan Islam.

Penulis membatasi pembahasan permasalahan ini hanya dalam lingkup nasional saja. Hal ini dimaksudkan agar pembahasannya dapat lebih terarah dan tidak terlalu panjang lebar mengingat terlalu kompleksnya kegiatan terror yang telah tersebar di seluruh dunia, serta keterbatasan kemampuan yang penulis miliki.

 

SEJARAH TERORISME

Kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah[1].

Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia.Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh[2]. Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.

Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang memopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas[3].

Terorisme di Indonesia merupakan terorisme di Indonesia yang dilakukan oleh kelompok militan yang mengatasnamakan Jemaah Islamiyah yang berhubungan dengan al-Qaeda ataupun kelompok militan yang menggunakan ideologi serupa dengan mereka. Sejak tahun 1981, beberapa “target negara Barat” telah diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan juga penduduk Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002[4].

Berikut adalah beberapa kejadian terorisme yang telah terjadi di Indonesia dan instansi luar negeri di Indonesia:

1981

  • Garuda Indonesia Penerbangan 206, 28 Maret 1981. Sebuah penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Palembang ke Medan pada Penerbangan dengan pesawat DC-9 Woyla berangkat dari Jakarta pada pukul 8 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat tersebut dibajak oleh 5 orang teroris yang menyamar sebagai penumpang. Mereka bersenjata senapan mesin dan granat, dan mengaku sebagai anggota Komando Jihad; 1 kru pesawat tewas; 1 tentara komando tewas; 3 teroris tewas.

1985

  • Bom Candi Borobudur 1985, 21 Januari 1985. Peristiwa terorisme ini adalah peristiwa terorisme bermotif “jihad” kedua yang menimpa Indonesia.

2000

  • Bom Kedubes Filipina, 1 Agustus 2000. Bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.
  • Bom Kedubes Malaysia, 27 Agustus 2000. Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
  • Bom Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000. Ledakan mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.
  • Bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.

2001

  • Bom Gereja Santa Anna dan HKBP, 22 Juli 2001. di Kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, 5 orang tewas.
  • Bom Plaza Atrium Senen Jakarta, 23 September 2001. Bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.
  • Bom restoran KFC, Makassar, 12 Oktober 2001. Ledakan bom mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah. Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak.
  • Bom sekolah Australia, Jakarta, 6 November 2001. Bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.

2002

  • Bom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
  • Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.
  • Bom restoran McDonald’s, Makassar, 5 Desember 2002. Bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald’s Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.

2003

  • Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta, 3 Februari 2003, Bom rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
  • Bom Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, 27 April 2003. Bom meledak dii area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan ringan.
  • Bom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan sebagian Hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lainnya mengalami luka-luka.

2004

  • Bom Palopo, 10 Januari 2004. Menewaskan empat orang. (BBC)
  • Bom Kedubes Australia, 9 September 2004. Ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia, dan Gedung BNI. (Lihat pula: Bom Kedubes Indonesia, Paris 2004)
  • Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.

2005

  • Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005
  • Bom Tentena, 28 Mei 2005. 22 orang tewas.
  • Bom Pamulang, Tangerang, 8 Juni 2005. Bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
  • Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA’s Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
  • Bom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.

2009

  • Bom Jakarta, 17 Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul 07.50 WIB.

2010

  • Penembakan warga sipil di Aceh Januari 2010
  • Perampokan bank CIMB Niaga September 2010

2011

  • Bom Cirebon, 15 April 2011. Ledakan bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon saat Salat Jumat yang menewaskan pelaku dan melukai 25 orang lainnya.
  • Bom Gading Serpong, 22 April 2011. Rencana bom yang menargetkan Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang Selatan, Banten dan diletakkan di jalur pipa gas, namun berhasil digagalkan pihak Kepolisian RI
  • Bom Solo, 25 September 2011. Ledakan bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Jawa Tengah usai kebaktian dan jemaat keluar dari gereja. Satu orang pelaku bom bunuh diri tewas dan 28 lainnya terluka[5].

 

DEFINISI JIHAD

Jihad berasal dari kata “Jahada” yang dimaknai sebagai suatu usaha keras, atau mengerahkan semua kesungguhan untuk mencapai suatu tujuan . sedangkan secara syar’i Para Ulama’ mendefinisikan jihad dengan berbagai definisi, diantaranya adalah bermakna: “Mencurahkan segala kemampuan dalam memerangi orang-orang kafir atau musuh[6] . ada juga yang mendefinisikannya sebagai istilah dalam mengerahkan seluruh kekuatan demi kemashlahatan umat islam, dan meluhurkan kalimat-kalimat Allah serta mengembangkan dan menyebarluaskan syariat islam ke seluruh penjuru dunia[7] .

Sebagaimana pengertian diatas kemudian pembagian jihad terbagi menjadi beberapa bentuk.

  1. Jihad dengan Ilmu Pengetahuan
  2. Jihad dengan Harta Benda
  3. Berperang dalam rangka menghadapi serangan musuh
  4. Berperang dalam rangka menyampaikan dan menyebarkan dakwah islam ke Negara lain
  5. Berperang ketika keadaan Negara telah diserang oleh musuh[8].

Beberapa ayat al-Qur’an dan al-Hadith yang menyeru untuk berjihad antara lain sebagaimana berikut:

..dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Al Baqarah: 190)

 Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa (At Taubah: 123)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar (At Taubah: 111)

Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (At Taubah: 41).

حديث أبي داوود في الجهادعن ابى هريرة زضي الله عنه قال قال رسول الله صلعم الجهاد واجب عليكم مع كل أمير برا كان او فاجرا

Hadits Abu Dawud dalam Bab Jihad diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Berkata: Rasulullah bersabda : Jihad itu wajib bagimu bersama pemimpin. Pemimpin yang bijak ataupun yang fajir

وقال رسول الله صلعم لغدوة في سبيل الله او راحة خير من الدنيا وما فيها

Rasulullah bersabda Berangkat pagi sekali dalam urusan sabilillah atau sore hari itu lebih baik dari pada dunia dan isinya (HR. Bukhari)

PERBEDAAN JIHAD DENGAN HARB/ QITAL

Definisi yang telah dijelaskan di atas memberikan pengertian pada kita bahwa istilah jihad itu sifatnya lebih umum dari pada qital ataupun harb. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an :

 orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (At-Taubah:20).

dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (Al-Ankabut:6).

 

Dalam hal ini, qital ataupun harb dipandang sebagai salah satu bentuk ataupun salah satu macam dari jihad[9]. Namun dalam perkembangannya, beberapa literatur fiqh baik kontemporer ataupun yang salaf, banyak ditemukan adanya pengkaburan dalam istilah ini. Sering jihad dimaknai sebagai satu bab yang cenderung mengarah pada pembahasan mengenai peperangan dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Sehingga pemahaman pembaca pun sering menjadi kabur lagi karena hal ini.

 

SEJARAH DAN HUKUM JIHAD

Para ulama sepakat bahwa disyariatkannya jihad pertama kali ialah setelah hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah[10]. Hal ini ditandai dengan turunnya ayat antara lain:

telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena Sesungguhnya mereka telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan Kami hanyalah Allah”. dan Sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,(Al Hajj: 39-40)

dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Al Baqarah:190).

 

Adapun mengenai hukum jihad pada masa Rasulullah dijelaskan sebagaimana berikut:

Di dalam Fathul Bari, Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ada dua pendapat yang masyhur di kalangan para ulama. (Pertama adalah pendapat dari) Al-Mawardi, dia berkata: “(Hukumnya) fardhu ‘ain bagi orang-orang Muhajirin saja, bukan selain mereka.” Pendapat ini dikuatkan dengan perkara tentang wajibnya hijrah atas setiap muslim ke Madinah dalam rangka menolong Islam. (Kemudian) As-Suhaili, dia berkata: “Fardhu ‘ain atas orang-orang Anshar saja, bukan selain mereka.” Pendapat ini dikuatkan dengan baiat para shahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Al-Aqabah untuk melindungi dan menolong Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari dua pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa jihad menjadi fardhu ‘ain atas dua thaifah (Yakni Muhajirin dan Anshar) dan fardhu kifayah atas selain mereka[11].

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dan kalangan Asy-Syafi’iyyah sepaham dengannya lebih menguatkan pendapat yang menyatakan fardhu kifayah (bagi kalangan Muhajirin maupun Anshar). Beliau berhujjah bahwa dalam peperangan yang terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada para shahabat yang ikut dan ada pula yang tidak. Kemudian, walaupun jihad menjadi kewajiban atas orang-orang Muhajirin dan Anshar, namun kewajiban ini tidak secara mutlak[12].

Sebagian berpendapat, jihad (hukumnya) wajib ‘ain dalam peperangan yang di dalamnya ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan (wajib ‘ain) pada selainnya. Yang benar dalam hal ini ialah, jihad menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang dipilih (ditunjuk) oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun ia tidak keluar ke medan tempur.

Setelah itu muncul perselisihan di antara Fuqaha’ tentang hukum jihad pada masa setelah Rasulullah, fardhu ‘ain ataukah fardhu kifayah?

Sebagaimana dikutip oleh Abu Ubaidah Syafruddin, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Apabila imam (penguasa) memerintahkan kepada kalian untuk berjihad, maka keluarlah. Hal ini menunjukkan bahwa jihad bukanlah fardhu ‘ain, akan tetapi fardhu kifayah. Apabila sebagian telah menunaikannya, gugurlah kewajiban yang lain. Dan jika tidak ada yang melakukannya sama sekali, berdosalah mereka. Dari kalangan Asy-Syafi’iyyah berpendapat tentang jihad di masa sekarang hukumnya fardhu kifayah, kecuali jika orang-orang kafir menyerang negeri kaum muslimin, maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas mereka. Dan jika mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup, wajib bagi negeri yang bersebelahan untuk membantunya[13].

Dapat diambil kesimpulan bahwa pendapat yang masyhur di kalangan  ahlul Fiqh tentang hukum jihad pada masa setelah kenabian adalah fardhu kifayah, berikut adalah beberapa keadaan yang menjadikan hukum tersebut berubah menjadi fardhu ‘ain, di mana sebagiannya telah disebut di atas:

  1. Apabila bertemu dengan musuh yang sedang menyerang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya ialah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.(Al-Anfal: 15-16)

  1. Apabila negerinya dikepung oleh musuh. Dalam keadaan ini wajib atas penduduk negeri tersebut untuk mempertahankan negerinya. Keadaan ini serupa dengan orang yang berada di barisan peperangan. Sebab apabila musuh telah mengepung suatu negeri, tidak ada jalan lain bagi penduduknya kecuali untuk membela dan mempertahankannya. Dalam hal ini musuh juga akan menahan penduduk negeri tersebut untuk keluar dan mencegah masuknya bantuan baik berupa personil, makanan dan yang lainnya. Karena itu wajib atas penduduk negeri untuk berperang melawan musuh sebagai bentuk pembelaan terhadap negerinya.
  2. Apabila diperintah oleh imam. Apabila seseorang diperintah oleh imam untuk berjihad, hendaknya ia mentaatinya. Imam dalam hal ini ialah pemimpin tertinggi negara dan tidak disyaratkan ia sebagai imam secara umum bagi kaum muslimin semuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini di bandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan diganti-Nya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38-39)

  1. Apabila diperlukan atau dibutuhkan. Misal dalam hal ini, kaum muslimin memiliki senjata berat seperti artileri, pesawat, atau teknologi tempur lainnya, namun tidak ada yang mampu mengoperasikannya kecuali seseorang. Maka menjadi fardhu ‘ain atas orang tersebut dengan sebab ia dibutuhkan[14].

Kesimpulan dari penjelasan di atas, jihad menjadi fardhu ‘ain pada empat perkara:

  1. Apabila bertemu dengan musuh
  2. Apabila negerinya dikepung musuh
  3. Apabila diperintah oleh imam
  4. Apabila diperlukan atau dibutuhkan

 

Kesimpulan

Dari beberapa uraian diatas, sementara ini penulis dapat menyimpulkan bahwa Terorisme yang terjadi di Indonesia adalah sama sekali bukan atas dasar Jihad dalam Islam.

Ada beberapa faktor yang penulis jadikan sebagai dasar dalam pengambilan kesimpulan ini. Bila Jihad itu bertujuan untuk menjunjung Kalimat Allah secara murni, maka Terorisme – bila dikaitkan dengan kalimat Allah – nyatanya lebih cenderung menistakan kalimat Allah. Yang kedua, asas dari peperangan dalam islam sendiri bukan “menyerang” tetapi “bertahan”. Berbeda dengan terorisme yang dalam setiap tindakannya adalah selalu menyerang ketika lawan – kalaupun itu dianggap sebagai lawan – dalam keadaan tidak siap. Inilah beberapa yang mungkin dapat kami jadikan alasan kenapa kami kemudian membedakan antara jihad islam dan terorisme.

 

[1] Muhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi,Jurnal Kriminologi Indonesia, FISIP UI, vol 2 no III, 2002  Hal. 30.

[2] History of Terrorism, <http :// www.terrorismfiles.org/encyclopaedia/ history_of_terrorism. Html >

[3] Muladi, Demokrasi, HAM dan Reformasi Hukum di Indonesia, 2002 (Jakarta:The Habibie Center), hal. 168

[4] Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Terorisme_di_Indonesia, Html >

[5] ibid

[6] Ahmad Ibn Hajar al-Asqallany,Fath al-Bary III, 2000 (Beirut:Dar al-Fikr) Hal. 77

[7] Mushthafa al-Khin, Fiqh al-Minhajy Jilid III,1996 (Beirut:Dar al-Syamiyah) Hal. 478

[8] Ibid, Hal. 479

[9] Ibid Hal. 478

[10] Ibid Hal. 479

[11] Ibnu Hajar al-Asqallany, Fath al-Bary, dikutip oleh Abu Ubaidah Syafruddin dalam Risalah Jihad (islam anti terorisme), http:// jihadbukan kenistaan.com/ terorisme/sebab-munculnya-terorisme-sebab-11-13.html>

[12] ibid.

[13] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, hal. 11-12 dikutip oleh Abu Ubaidah Syafruddin dalam Risalah Jihad (islam anti terorisme), http:// jihadbukankenistaan.com/ terorisme/sebab-munculnya-terorisme-sebab-11-13.html>

[14] Abu Ubaidah Syafruddin,Risalah Jihad …..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *