DESAKRALISASI DOKTRIN ASWAJA DI KALANGAN NAHDLATUL ULAMA

Oleh: M.A. Heryanto Alfudholli, M.H.I,.S.Th.I

Desakralisasi doktrin Aswaja dalam kehidupan beragama di Indonesa kembali didengungkan sebagai akibat dari Interaksi berbagai arus pemikiran yang yang berkembang di kalangan masyarakat. Terlebih, konsep Aswaja sebagai faham yang dianut mayoritas muslim Indonesia menjadi kuno, tiba-tiba, NU lahir sebagai sebuah prasasti bisu karena tidak mampu menjawab persoalan umat, yang tak hanya menyangkut aspek sakralitas agama semata, tetapi juga dalam kehidupan sosio kultural lainnya. Permasalahan inilah yang menyebabkan sebagian kalangan berpendapat perlu adanya suatu reinterpretasi atas doktrin yang selama ini mengakar kuat di masyarakat. Kedudukan Aswaja versi NU yang setara dengan teks-teks skriptural agama (Baca:Al-qur;an Hadits), dengan sedikit bumbu-bumbu syi’ah, yaitu Kyai tak lain adalah “Nabi” bagi orang NU. Dari sini persoalan mulai muncul. Bukan karena persoalan NU yang banyak melakukan amalan heretisme agama (Bid’ah), akan tetapi lebih pada sang Kyai yang banyak mengeluarkan sebuah statemen yang terkadang bukan melahirkan suatu solusi atas persoalan umat, bahkan terkadang kontras dengan realitas yang ada. Hanya ada satu pilihan untuk tetap menjaga NU agar konsisten dengan kaidahnya soleh likulli zaman wal makan, yaitu dekonstruksi dan rekonstruksi faham Aswaja.

DEFINISI NU SEBAGAI ORMAS KEAGAMAAN

Nahdlatul Ulama “Kebangkitan Ulama” yang kemudian disingkat  NU adalah salah satu organisasi sosial keagamaan di Indonesia, didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H./31 Januari 1926 M. di Surabaya atas prakarsa KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Organisasi ini memiliki kantor pusat yang terletak di Ibukota Negara di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. NU yang sebelumnya dilatarbelakangi dengan kemunculan Sarekat Islam (SI) tahun 1912, Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah air) tahun 1916,  Nahdlatut Tujjar tahun 1918, dan menjelang tahun 1919 Taswirul Afkar dengan menganut faham Ahlussunah Wal Jama’ah, adalah faham yang teologi kalamnya mengikuti Imam Abu Hasan Alasy’ari dan Abu Mansur Almaturidi, fiqihnya mengikut madzhab 4 (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), serta tasawwufnya mengikuti Imam Ghozali. Dengan demikian tujuan didirikannya NU adalah untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah di tengah-tengah kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila. Dalam Muktamar NU yang ke-27 tahun 1984 di Situbondo, ditetapkan bahwa NU kembali ke khittah 1926 yaitu kembali mengokohkan dirinya sebagai organisasi sosial keagamaan[3].

Walaupun masih bersifat multi tafsir dalam aktualisasi kembalinya NU ke hittah, namun NU tetap membentuk dirinya sosok organisasi nasional yang memimpin kearah kristalisasi Islam Indonesia, kubu pembaru tradisionalis diserang oleh semua pihak yang merasa tidak cocok dengan gagasan progresif Kyai Achmad Siddiq, terlebih lagi gagasan Abrurrahman Wahid, sehingga tidak heran kalau dalam setiap Munas dan Muktamar di Cilacap tahun 1987 misalnya, Yogyakarta tahun 1992 dan terakhir di Cipasung Desember 1994 selalu ada upaya ingin menggulingkan kepemimpinannya. Kemenangan  Abdurrahman Wahid yang terakhir ini merupakan bukti bahwa selama ini ia telah mendapat pengakuan nasional sebagai cendekiawan independen yang cukup tegar tidak hanya menghadapi kaum konservatif, tapi juga pihak penguasa segala kekurangannya.

DEFINISI ASWAJA

Secara umum dalam Islam tidak ada yang namanya aliran Aswaja itu, namun dalam prakteknya sebagaimana dijelaskan diatas, kaum Aswaja senantiasa menisbatkan pemikiran mereka pada pendapat Madzahib. Mengacu pada filsafat ilmu, definisi Aswaja itu merupakan definisi yang absurd. Namun dalam konteks terminologi definisi Aswaja itu mengacu pada sebuah penggalan hadits:

روى ابو داود والترمذى وابن ماجه عن ابي هريرة  رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: افترقت اليهود على احدى وسبعين فرقة, وتفرقت النصارى على اثنين وسبعين فرقة, وتفرقت امتى على ثلاث وسبعين فرقة, كلها فى النار الا واحدة, قالوا ومن هم با رسول الله؟ فال: هم الذين على الذى انا عليه واصحابي. قال الشهاب الخفاجى رحمه الله تعالى فى نسيم الرياض: والفرقة الناجية اهل السنة والجما عة

Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Mazah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabada: Orang Yahudi terpecah menjadi 71 kelompok, orang Nashrani terpecah menjadi  72 kelompok, umatku terpecah menjadi 73 kelompok dan semuanya akan masuk ke neraka kecuali satu, Sahabat bertanya: Siapa mereka wahai Rasulullah? Rasul menjawab:Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada sesuatu yang diyakini olehku dan sahabat-sahabatku.

Sihab Al khafazi ra, dalam kitab Nasimi Ar Riyadh: Kelompok yang selamat adalah Ahlussunnah waljama’ah[4].

Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW, dan Jamaah berarti sahabat nabi. Ahlussunnah wal jama’ah mengandung arti “penganut sunnah (ittikad ) nabi dan para sahabat beliau”. Ahlussunnah sering juga disebut Sunni dibedakan menjadi 2 pengertian, yaitu khusus adalah mazhab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan Mu’tazilah, dan umum adalah lawan kelompok Syiah, Dalam pengertian ini, Mu’tazilah sebagai mana juga Asy’ariyah masuk dalam barisan Sunni

NAHDLATUL ULAMA DAN ASWAJA BERDASARKAN QANUN ASASI

NU (Nahdhatul Ulama’) dalam anggaran dasarnya (qanun asasi) menyatakan, bahwa dalam fiqih menganut salah satu dari 4 madzhab (syafi’i, hanafi, hambali, maliki). Dalam teologi, menganut salah satu dari 2 aliran (asy’ariyyah, maturidiyyah). Dalam tasawwuf mengikuti pemikiran tokoh-tokoh sentral sufi semacam Junaidi al-baghdadi, sariy assaqothi, syaqiq al-balkhi, ma’ruf al karkhiy dan lain sebagainya (yg lebih menekankan pada pendalaman dan praktek syariat serta suluk, juga adab secara intensif). Jika ada orang NU menganut madzhab syafi’i, maka tidak ada larangan baginya mengikut salah satu pendapat madzhab lain jika keadaan menuntut seseorang melakukan talfiq dalam agama. Soal anggaran dasar NU yang digariskan oleh hadhratus syaikh Hasyim asy’ari, tertulis secara lengkap dan rinci dalam kitab “Hasyiyah as-showi ala khoridatil bahiyyah” lid Dardir. Dan kami menduga kuat, beliau menjadikan kitab monumental dalam aqidah itu sebagai referensi utama saat mendirikan NU. Silahkan merujuk ke kitab tersebut, pembahasan “Man hum ahlussunnah wal jamaah?” Nah, itu sekilas ahlussunnah wal jamaah, soal pemikiran lebih detail, filsafatnya, adalah bab lain yang menyendiri. NU adalah ahlussunnah wal jamaah, bukan ahlussunnah wal jamaah itu NU,mesti difahami dengan baik hal ini.

DEKONSTRUKSI ASWAJA

Sejauh penelisikan saya, para pendiri NU hanya menjadikan Imam Junaid sebagai satu-satunya sandaran Aswaja NU dalam tasawuf, bersama-sama dengan empat imam mazhab dalam ber-fiqh, berserta Imam Asy’ari dan Imam Maturidi dalam aqidah. Selama ini saya belum pernah menemukan tasawuf Aswaja NU disandarkan pada Imam Ghazali, kecuali pada beberapa buku saja. (Tapi saya gagal mendapati rujukan dan sumber yang mereka pakai). Kenapa? Karena Imam Ghazali bukanlah seorang teoritis pertama, tetapi hanya sebagai seorang penegas posisi syariah dalam tasawuf.

Kendati begitu, Louis Massignon dalam bukunya ‘Passion of al-Hallaj’ mengkritik Imam Junaid sebagai seorang teoritis tasawuf belaka yang tidak memiliki pengalaman mistik. Apa alasannya? Karena ia menemukan Junaid di jarak yang berlawanan dari pengalaman dzauq al-Hallaj. Massignon, sebagai pakar al-Hallaj, terlampau kagum pada tokoh yang dikajinya, bukan pada kecerdasan Imam Junaid yang bisa memadukan dzouq tasawuf dengan syariah. Tetapi, menariknya, ketika kemudian Massignon menulis dalam ‘Essai sur les origines du lexique technique de la mystique musulmane’, ia mencatat bahwa banyak doktrin bagus Junaid diambil oleh al-Hallaj. Sebuah apologi Massignon atas kritikan sebelumnya. Akhirnya, Massignon pun mengakui kehebatan Junaid sebagai seorang teoritis yang mampu membedakan secara tajam antara Tuhan dan manusia.

Di samping itu, pilihan pada Imam Junaid oleh para pendiri NU, saya lihat, berangkat dari perdebatan wacana keislaman masa itu. Di Semenanjung Arabia, Wahabi getol menghapuskan tasawuf dari khasanah keislaman. Karena itu NU membentengi Aswaja dengan Tasawuf. Sementara itu, pada saat yang sama, dunia Islam juga sedang mencari sebab-sebab kemunduran yang diderita dunia Islam. Abduh, sebagai pelopor pembaharuan gerakan ini, menuduh: Tasawuflah biang kerok kemunduran dunia Islam, terutama ajaran zuhudnya. Lalu kesimpulan saya, para pendiri NU menetapkan Imam Junaid, karena Imam Junaid memiliki teori zuhud paling manusiawi. Imam Junaid menegaskan: “Zuhud bukan dengan meninggalkan dunia, tetapi dengan menempatkannya hanya di tangan, bukan di hati.” (lihat `Risalah al-Qusyairiyah’, Imam Qusyairi). Imam Junaid sendiri, selain dikenal sebagai seorang guru tasawuf, juga dikenal sebagai seorang pedagang. Setiap pagi Imam Junaid akan datang ke pasar, membuka kedai. Setelah itu sisa waktunya dilanjutkan untuk mengajar santri-santrinya, dan untuk beribadah.

REKONSTRUKSI MADZHAB ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIKR

          Dalam memaknai nilai keagamaan munculnya asumsi ketidakmampuan akan setting paradigma pemaknaan Aswaja yang selama ini dikembangkan tidak lagi mampu menjawab arus transformasi era Modern. Ketidakmampuan setting yang dikembangkan NU disebabkan formulasi pemaknaan yang sangat sederhana, dan bahkan terkesan sangat manipulatif. Hal ini disadari, karena pemaknaan Aswaja  muncul dalam kondisi yang disesuaikan dengan latar belakang sosio-antropologis yang melatari pengungkapan makna tersebut. 

Asumsi yang muncul ditengah publik NU tak urung melahirkan gugatan kelompok-kelompok pemikiran untuk melakukan dekonstruksi-rekonstruksi terhadap seluruh dimensi yang terkait dengan ke-Aswajaan. Bagaimanapun, Aswaja adalah merupakan dokumen historis atau sebuah teks yang baik secara ontologism maupun epistemologis menjadi sebuah diskursus yang layak diperdebatkan di ruang publik.

Pergeseran makna Aswaja di tubuh NU yang secara otomatis mengalami keterbukaan diruang public setelah kemunculan Said Aqil Sirad. Aswaja diformulasikan oleh Asy’ari terkesan amat sederhana dan parsial bahkan manipulatif, sehingga redefinisi sebagai suatu keniscayaan. Aswaja tidak lebih sebagai bentuk identifikasi terhadap komunitas muslim yang mengikuti jalannya Nabi, para sahabat dan pengikut sesudahnya, yang dalam bersikap dan bertindak selalu mengedepankan sikap tawassuth (moderat), tawazun (penuh pertimbangan), ta’adul (keadilan) dan tasamuh (toleransi) serta amar ma’ruf nahi munkar.

KRITIK HISTORIS FILOSOFIS ASWAJA DI KALANGAN NU  

Proses doktrinisasi Aswaja NU yang pada akhirnya dikembangkan oleh berbagai kalangan yang punya kepentingan, dapat dirunut akar sejarahnya semenjak kelahiran NU sebagai organisasi social-keagamaan di Indonesia. Dalam sejarah peradaban Islam ke-Indonesian, kelahiran NU merupakan bagian integral dari proses gambaran Islam Ke-Indonesiaan pada khususnya dan perkembangan Islam di dunia pada umumnya. Berdirinya NU dengan Aswajanya, dapat dirunut pada keanekaragaman aktifitas-aktifitas yang terjadi sebelum berdirinya NU. Aktifitas tersebut, dapat diklasifikasikan sebagai aktifitas kultural  untuk bangsa dan keprihatinan keagamaan yang terjadi pada dunia muslim. Keprihatinan muncul setelah banyaknya cendekiawan muslim yang terpengaruh dengan pemikiran modernisasi dan fundamentalisme Islam, yang menyebabkan terjadinya persinggungan dengan kaum muslim kultural. Masyarakat Indonesia khususnya Jawa dan Sumatera yang bersinggungan dengan masyarakat Timur Tengah, terlebih Makkah sejak abad 16 dan 17 M. Pada awalnya mereka datang hanya untuk keperluan Haji dan sebagian kecil dari mereka dari kelas berpendidikan dan cendikiawan-cendikiawan hokum, terlebih lagi Timur Tengah yang pada saat itu sedang terjadi konflik keagamaan cukup tajam, antara kelompok tradisional dan puritan.

Berbagai ilustrasi historiografi Islam mengungkap bahwa KH. Wahab Hasbullah sepulang dari Mekkah, bermaksud mempersatukan umat Islam ke dalam satu wadah organisasi keagamaan. Karena meskipun saat itu berdiri Sarekat Dagang Islam (SDI)[5] yang kemudian menjadi Serikat Islam (SI) bahklan Wahab Hasbullah sebelum kepulangan beliau dari Mekkah ia dikenal sebagai aktifis SI cabang Mekkah, dan menjadi ketua umumnya. Ia meyakini SDI tidak mungkin diperhatikan dengan banyaknya tokoh-tokoh SI yang didirikan HOS Cokro Aminoto ditangkap oleh Belanda akibat munculnya pemberontakan Hasan Lele di Garut, dan berimplikasi banyaknya umat Islam yang meninggalkan SI.

Obsesi Wahab dilatari oleh munculnya kebingungan umat Muslim untuk menyalurkan aspirasi religiustiknya kedalam satu wadah di satu sisi, dan penggalangan solidaritas untuk mengusir imperium Barat di sisi lain. Dimana tanpa organisasi sulit untuk merealisasikan obsesi tersebut. Pengalangan solidaritas bagi Wahab bukan berarti harus ditempuh dengan cara-cara penolakan radikal terhadap tradisi religius yang telah menyatu didalam jiwa masyarakat muslim saat itu, misalnya anti Madzhab, taqlid dan menolak praktik-praktik yang diyakini mengundang khurafat maupun bid’ah. Dari sinilah dapat dimengerti bahwa ASWAJA yang dilahirkan dengan pemaknaan yang sempit sebagai akibat dari kondisi yang ada saat itu.

Formulasi ASWAJA tidak lebih untuk membentengi reduksi pemikiran muslim terhadap penerimaan kehidupan bermadzhab dalam menempuh penyelesaian hukum yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

Melalui alasan-alasan diatas, lahirlah formulasi ASWAJA sebagai ideologi NU dari hasil olahan KH. Hasyim Asy’ari. Namun dalam perkembangan selanjutnya, NU telah keluar dari pembentukan awalnya. NU tidak lagi hanya mengurusi masalah keagamaan tetapi juga mengurusi persoalan politik, sosial, dan budaya. Karenanya determinasi makna justru akan membuat NU semakin sulit menjawab tantangan yang dihadapi oleh pengikutnya atau masalah kebangsaan.

Determinasi makna yang secara esensial berubah menjadi ideologi di NU, melahirkan corak pemikiran fiqh-sentris dan menegaskan aspek-aspek Islam lainnya. Titik akhirnya, fiqh diakui sebagai keutuhan Islam bukan malah menjadi salah satu dari dimensi Islam yang harus direspon secara dogmatis, literalis dan tanpa kritik. Implikasinya akan memunculkan satu pemahaman eksklusif dan dogmatis terhadap kelompok-kelompok dibawah naungan NU.

 REPOSISI ASWAJA DALAM PARADIGMA GERAKAN NU    

Secara garis besar dalam setiap devinisi ASWAJA harus memenuhi persyaratan jami’ dan mani’, dzahir yang tidak ab’ad, tidak musawwiyan, dan tidak tajawwuz dengan tanpa qarinat mutaharruz. Berdasarkan kaidah-kaidah tersebut maka niscaya mengajukan redevinisi terhadap ASWAJA untuk kemudian mereposisikannya kedalam institusi NU. Dari kritik nalar sejarah diatas, maka dapat dinyatakan bahwa ASWAJA sebagai komunitas pemikiran Muslim yang mengedepankan prinsip moderat yang selalu mengambil jalan tengan dalam menyelesaikan konflik-konflik teologis yang muncul ditengah-tengah masyarakat Asy’ari pada saat itu dan masyarakat Neo-Liberalisme pada saat ini, meski juga harus menyentuh dimensi filosofis, politik dan budaya sera dimensi-dimensi pemikiran Islam lainnya[6].

Ketika ditarik kedalam wilayah epistemologi, maka ASWAJA bagi NU lebih tepat dinyatakan sebagai Minhajul Fikr dalam pertimbangan-pertimbangan diatas yang selalu mencoba menyelesaikan seluruh persoalan yang diahadapinya melalui penggalian tradisis intelektual klasik sebagai referensi dalam menemukan autentisitas makna ASWAJA secara holistik dan komprehensif.

  KESIMPULAN

Kecenderungan manusia yang ingin berubah dan maju akan sadar mengunakan tradisi sebagai titik tolak. Tetapi ada yang menolak tradisi dan berpegang kepada kemodernan. Tentu saja dua sikap itu sulit dipadukan dan cenderung berlawanan dan saling menafikan. Padahal dalam perkembangan kebudayaan yang sehat tak ada satupun realitas yang boleh dinafikan, justru diharapkan mampu mengolah berbagai potensi yang ada.

Jalan tengah adalah jalan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang ada di NU dan itu yang dipraktekkan oleh kaum Nahdliyin selama ini. Dengan cara itu kehadiran kaum Nahdliyyin di berbagai tempat tidak pernah mengusik ketenteraman komunitas yang dihadapi. Dengan cara itu NU berkembang menjadi jamaah yang diterima hampir seluruh masyarakat Nusantara.

Tetapi belakangan banyak kalangan Nahdliyin bahkan dari kalangan pesantren sendiri karena telah mendapatkan keilmuan keislaman di Timur tengah lalu ketika pulang melakukan berbagai gerakan purifikasi sehingga menggoncangkan dunia pesantren yang tetap memelihara eksistensi tradisi, sesuai dengan konsep al muhafadzah ‘ala al-qodim as-sholih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah. Di saat yang sama banyak juga kalangan pesantren yang telah mendapatkan pendidikan modern di Barat lalu datang ke lingkungan Nahdliyin dengan melakukan dekonstruksi dan perombakan, sehingga membuat kegaduhan.

Kedua kecenderungan itu memang lagi populer saat ini dengan militansi masing-masing kelompok. Tetapi, cara bersikap yang tidak menghargai tradisi itu ibarat menanamkan pohon tanpa menumbuhkan akar. Ide itu hanya bisa ditegakkan melalui kekerasan atau paksaan, setelah tidak ada paksaan akan tumbang. Dan ide semacam itu juga tidak bisa berkembang, karena penggeraknya sendiri memang tidak kreatif tetapi dogmatis. Sebaliknya pendekatan Nahdliyin adalah dengan proses akulturasi, dengan cara mengolah kebudayaan secara kreatif.

Padahal NU selalu melihat bahwa tradisi adalah sebagai modal yang harus dibangkitkan dan digerakkan agar sesuai dengan modernitas. Dengan demikian orang bisa menjadi modern tetapi tetap memiliki identias dan karakter, artinya memiliki identitas dan harga diri.

Di situlah bahwa tradisi mesti dihadapi secara kreatif, bukan secara konsumtif ataupun apriori. Pendekatan itu tidak akan mengetahui makna tradisi dan tidak bisa membangkitkan kekuatan strategis yang dimilikinya. Karena itu gerakan mereka selalu gagal karena mengabaikan faktor ini. Sementara banyak gagasan yang tidak terlalu cemerlang ataupun konseptual, tetapi berhasil menggerakkan masyarakat, karena gagasan tersebut ditempatkan di ranah tradisi. Karena itulah NU mampu mengembangkan pemikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya berkembangan ketika ditempatkan di ranah tradisi, sehingga menjadi bagian utuh dari kehidupan masyarakat.

Namun tradisi harus disikapi secara kreatif oleh NU, kalau tidak masyarakat akan mengalami kemandekan. Tradisi bukan sesuatu yang sekali jadi tetapi perlu terus dikembangkan. Ketika tradisi dihidupkan dan dikembangkan, maka tradisi akan tumbuh dewasa dan akan mampu mensikapi setiap perkembangan kebudayaan dengan cara dewasa. Kedewasaan berkebudayaan itulah yang diharapkan muncul sehingga nahdliyyin proporsional menghadapi setiap persoalan yang dihadapi.

Sebagai benang merah dari permasalahan desakralisasi yang ada di tubuh NU, maka penulis mengambil bebrapa kesimpulan:

  1. Pada dasarnya tradisi NU adalah tradisi pesantren yang mengutamakan kezuhudan (kesederhanaan), muruah, andap-asor dan sopan-santun dan tatakrama kepesantrenan yang sudah lazim berlaku. Oleh karena itulah seburuk apapun dalam berorganisasi, social maupun politik, warga NU masih mengikuti tradisi tersebut, walaupun sering kalah dalam permaianan taktis, tetapi menang dalam perspektif pelembagaan politik demokratis. Dengan adanya potensi tradisi semacam itu maka kita optimis ketegangan yang terjadi di kalangan para elite pimpinan NU saat ini bisa diatasi.
  2. Pengertian Khittah Nahdlatul Ulama (NU) 1926 buka hanya mencakup masalah hubungan NU dengan politik praktis. Tapi  juga memiliki pengertian yang sangat luas, yakni meliputi landasan berpikir, bersikap dan bertindak bagi NU, baik sebagai organisasi maupun para jamaahnya. Hal tersebut pernah diungkapkan Mustasyar (Penasihat) Pengurus Besar NU KH Muchith Muzadi
  3. “Fungsi Khittah adalah sebagai landasan berpikir, bersikap dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perorangan maupun organisasi serta setiap proses pengambilan keputusan dalam setiap waktu dan kesempatan. Maka, pandangan yang selama ini berkembang bahwa konsep itu hanya meliputi politik praktis adalah salah besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *