Al-Fiqh Al-Akbar sebagai Paradigma Fiqh Imam Abu Hanifah

Oleh; Alwi Bani Rakhman, M.H.I

 

Pendahuluan

Amat banyak keterangan yang menunjukkan pada masa Nabi Saw belum ada suatu ilmu yang secara spesifik membahas tentang fiqh dengan segala permasalahannya. Nabi saw sendiri tidak mengkategorikan ajaran-ajaran Islam pada pengelompokkan tertentu seperti wajib, sunnah, haram, makru>h dan muba>h} sebagaimana disebutkan dalam teori fiqih belakangan. Klasifikasi tersebut merupakan hasil kerja fuqaha>  yang secara sungguh-sungguh mempelajari ayat-ayat al-Qur’an, sunnah Nabi Saw, a’ma>l para sahabat dan kaum Muslimin pada masa awal Islam.[1]

Berdasarkan fragmentasi sejarah, bahwa munculnya mazhab-mazhab fiqih merupakan puncak dari perjalanan kesejarahan tasyr>i’. Bahwa munculnya mazhab-mazhab fiqih itu lahir dari perkembangan sejarah sendiri, bukan karena pengaruh hukum romawi sebagaimana yang dituduhkan oleh para orientalis. Fenomena perkembangan tasyri’ pada periode ini, seperti tumbuh suburnya kajian-kajian ilmiah, kebebasan berpendapat, banyaknya fatwa-fatwa dan kodifikasi ilmu, bahwa tasyri’ memiliki keterkaitan sejarah yang panjangdan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.[2]

Munculnya mazhab dalam sejarah terlihat adanya pemikiran fiqih dari zaman sahabat, tabi’in hingga muncul mazhab-mazhab fiqih pada periode ini. Seperti contoh hukum yang dipertentangkan oleh Umar bin Khattab dengan Ali bin Abi Thalib ialah masa ‘iddah wanita hamil yang ditinggal mati oleh suaminya. Golongan sahabat berbeda pendapat dan mengikuti salah satu pendapat tersebut, sehingga munculnya mazhab-mazhab yang dianut.[3]

Di samping itu, adanya pengaruh turun temurun dari ulama-ulama yang hidup sebelumnya tentang timbulnya mazhab tasyr>i’, ada beberapa faktor yang mendorong,  diantaranya:

  1. Karena semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam sehingga hukum islampun menghadapi berbagai macam masyarakat yang berbeda-beda tradisinya.
  2. Muncunya ulama-ulama besar pendiri mazhab-mazhab fiqih berusaha menyebarluaskan pemahamannya dengan mendirikanpusat-pusat study tentang fiqih, yang diberi nama Al-Maz\hab atau Al-Madrasah yang diterjemahkan oleh bangsa barat menjadi school, kemudian usaha tersebut dijadikan oleh murid-muridnya.
  3. Adanya kecenderungan masyarakat islam ketika memilih salah satu pendapat dari ulama-ulama mazhab ketika menghadapi masalah hukum. Sehingga pemerintah merasa perlu menegakkan hokum islam dalam pemerintahannya.
  4. Permasalahan politik, perbedaan pendapat di kalangan muslim awal trntang masalah politik seperti pengangkatan kholifah-kholifah dari suku apa, ikut memberikan saham bagi munculnya berbagai mazhab hukum Islam.[4]

Berkembangnya dua aliran ijtihad rasionalisme dan tradisinalisme telah melahirkan mazhab-mazhab fiqih Islam yang mempunyai metodologi kajian hukum serta fatwa-fatwa fiqih tersendiri, dan mempunyai pengikut dari berbagai laposan masyarakat. Dalam sejarah pengkajian hukum Islam dikenal beberapa mazhab fiqih yang secara umum terbagi dua, yaitu mazhab sunni dan mazhab syi’i. Di kalangan Sunni terdapat beberapa mazhab, yaitu H{anafi, Maliki, Syafi’i dan H{anbali. Sedangkan di kalangan syi’ah terdapat dua mazhab fiqih, yaitu Zaidiyah dan Ja’fariyah. Namun yang masih berkembang kini hanyalah mazhab Ja’fariyyah dan Syi’ah Ima>miyyah.[5]

Menurut Abdul Wahhab Khallaf, lahirnya mazhab-mazhab fiqh dipengaruhi oleh tiga faktor berikut ini:

  1. Perbedaan dalam penentuan sumber-sumber tasyri’
  2. Perbedaan dalam pengambilan hukum dari perundang-udangan hukum Islam
  3. Perbedaan dalam sebagian prinsip-prinsip bahasa yang diterapkan dalam memahami nash-nash.[6]

Kemudian dalam catatan selanjutnya ia melanjutkan penjelasan mengenai perbedaan dalam penentuan sumber-sumber tasyri’ yang terlihat dalam beberapa hal:

  1. Perbedaan dalam kes\iqahan terhadap suatu hadis dan perbedaan pertimbangan yang digunakan dalam mentarji>h (menguatkan) suatu riwayat atas riwayat yang lain.

Ke-siqah-an para ulama terhadap hadis didasarkan pada:

(a) Kepercayaan pada rawi-rawinya (periwayat hadis) dan,

(b) Kepercayaan pada teknis (kaifiyyah) periwayatannya.

Contoh: Mujtahid Iraq, yakni Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya, berhujjah dengan hadis-hadis mutawatir dan masyhur, serta merajihkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi-perawi terpercaya dari kalangan ahli-ahli fiqh.

Mujtahid Madinah, yakni Imam Malik dan sahabat-sahabatnya merajihkan apa yang menjadi pendapat penduduk Madinah dan meninggalkan semua hadis ahad yang berbeda dengannya. Sementara mujtahid yang lain berhujjah dengan segala macam hadis yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang adil dan terpercaya, baik dari kalangan ahli fiqh atau yang lainnya.

  1. Perbedaan dalam menilai fatwa-fatwa sahabat.

Abu Hanifah dan para pengikutnya berpedoman pada fatwa-fatwa sahabat tersebut secara keseluruhan. Sedangkan Asy-Syafi’i berpedoman bahwa fatwa-fatwa sahabat tersebut adalah produk ijtihad yang tidak ma’shum (terpelihara dari kekeliruan). Maka boleh mengambilnya atau berbeda dengan fatwa-fatwa mereka.

  1. Perbedaan dalam masalah qiyas sebagai tasyri’.

Kalangan Syi’ah dan Dhohiriyah tidak membenarkan berhujjah dengan qiyas, dan tidak mengganggap qiyas sebagai sumber tasyri’. Sedangkan mayoritas mujtahid berpendapat sebaliknya.[7]

Para mujtahid dalam pembentukan hukum terbagi menjadi 2 kelompok. Pertama, Ahli Hadis yaitu ulama-ulama Hijaz, mereka mencurahkan diri untuk menghafal hadis-hadis dan fatwa-fatwa sahabat, kemudian mengarahkan pembentukan hukum atas dasar pemahaman terhadap hadis-hadis dan fatwa-fatwa tersebut. Mereka cenderung menjauhi berijtihad dengan ‘pendapat’ dan tidak menggunakannya kecuali dalam keadaan sangat darurat. Kedua, Ahli Ra’yi, mereka adalah mujtahid-mujtahid Irak. Mereka memiliki pandangan yang jauh tentang maksud-maksud syariat. Mereka tidak mau menjauhi ‘pendapat’ karena pertimbangan keluasan ijtihad, dan mereka menjadikan ‘pendapat’ sebagai lapangan luas dalam sebagian besar pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan pembentukan hukum.

Akan tetapi pembagian ini tidak berarti bahwa fuqaha Irak tidak menggunakan hadis dalam pembentukan hukum, dan juga tidak berarti bahwa fuqaha Hijaz tidak berijtihad dan menggunakan ra’yu. Karena kedua kelompok ini—rahimahumullah—pada dasarnya sepakat bahwa hadis adalah hujjah syar’iyyah yang menentukan dan ijtihad dengan ra’yu, yakni dengan qiyas, adalah juga hujjah syar’iyyah bagi hal-hal yang tidak ada nashnya.[8]

Telah diketahui secara historis bahwa sejak abad kedua hijriah, atau abad kedelapan masehi, dunia Islam khususnya bagi kelompok mayoritas, Sunni, telah mengenal 4 mazhab fiqih yang hingga saat ini masih eksis (4 metodologi memahami sumber-sumber hukum Islam). Keempat mazhab tersebut adalah mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Namun bukan kepentingan penulis saat ini untuk membahas seluruh mazhab fiqih tersebut, baik mengenai sejarah perkembangan, metodologi, keberpengaruhan dan lain-lain melainkan secara khusus akan dihadirkan diskusi singkat mengenai satu karya besar salah satu dari keempat Imam mazhab tersebut, al-Fiqh al-Akbar karya Imam tertua, Abu Hanifah, yaitu mengenai gagasan prinsipil beliau sebagaimana tertuang di dalam kitab tersebut dalam memandang dan mengeksplorasi fiqih Islam.

 

Imam Abu Hanifah

  1. Biografi dan Napak Tilas Akademik

Nama asli beliau adalah Al-Nu’man bin Tsabit bin Nu’man Zuwatho (80-150). Beliau lahir di Kufah, Iraq, pada tahun 80 hijriyah, 70 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW.Atau bertepatan dengan tahun 699 masehi. Beliau berasal dari keturunan bangsa Persia dan mengalami dua masa khilafah, Daulah Umaiyah dan Daulah Abbasiyah. Ayahnya, Tsabit dilahirkan sebagai seorang muslim. Sempat bertemu Ali bin Tholib ra di masa kecilnya. Kelahiran Abu Hanifah bertepatan dengan permulaan perkembangan daulah Bani Umayyah, pada masa raja Abdul Malik bin Marwan. Diawal hidupnya, Abu Hanifah sempat mengalami hidup pada kekuasaan Al Hajjaj ats Tsaqofi atas Iraq. Dia ikut menyaksikan kekejamannya atas setiap lawan politik dinasti Umayyah.[9]

Beliau termasuk ulama dalam kategori ta>bi’ al-ta>bi’i>n, meskipun sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa beliau sebenarnya termasuk tabi’in. Karena dipercaya pernah bertemu dengan Anas bin Malik, seorang yang berkedudukan sebagai sahabat Nabi Saw. Beliau adalah ahli fiqih dari penduduk Irak. Meskipun demikian ulama sepakat bahwa dia hidup dalam satu masa dengan 4 sahabat Rasulullah. Mereka adalah Anas bin Basrah, Abdullah bin Abi Aufa di Kufah, Sahal bin Saat as Saidi di Madinah dan Abu Tufail ‘Amir bin Wailah di Makkah. Akan tetapi, dia tidak pernah dengan mereka. Di samping sebagai ulama fiqih, Abu Hanifah berprofesi sebagai saudagar, pedagang kain di Kufah.[10]

Pada masa mudanya, Abu Hanifah seorang pedagang di kota Kufah, yang dihuni oleh banyak ulama dan ahli fiqih. Sehingga dia pun tertarik untuk belajar dari mereka khususnya dari Khammad bin Abi Sulaiman, seorang ulama besar terkemuka di Iraq. Ketika Khammad bin Abi Sulaiman wafat, Abu Hanifah menggantikannya sebagai pemimpin kaum muslimin di Iraq. Sebagaimana beliau mengalami pada masa mudanya, pemerintah Umar bin Abdul Aziz, yang dikenal sebagai seorang penguasa yang adil lagi soleh, Abu Hanifah juga sempat menyaksikan masa-masa kemunduran kekuasaan dinasti Umayyah dan kehancurannya. Lalu muncullah dinasti Abasiyyah sebagai penggantinya, sehingga wafat pada masa pemerintahan khalifah al-Mansur tahun 150 H.[11]

Pada masa Abu Hanifah, kekhalifahan Islam mencapai puncak kejayaannya. Kekuasaannya mencapai samudra atlantik ke arah barat. Sedang ke arah timur mencapai daratan Cina. Bahkan sebagian daratan Eropa sempat berada di bawah kekuasaan Islam. Karena luasnya daerah kekuasaan Islam, jauhnya jarak antar daerah-daerah kekuasaan tersebut, perbedaan suku dan bangsa, perbedaan kebudayaan, keanekaragaman kebutuhannya, maka dibutuhkannya pondasi yang kokoh untuk membangun sebuah kekuasaan dan undang-undang yang mengatur hubungan luar negeri, baik pada masa damai atau masa perang. Dari keadaan yang seperti itu, pada masa abu Hanifah muncul-muncul kelompok-kelompok keagamaan yang bekerja keras untuk menyebarkan pendapatnya. Sehingga sering timbul perselisihan dan perdebatan. Lalu mulailah penulisan ilmu pengetahuan. Penerjemahan berbagai macam ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa juga mulai dilakukan sehingga pemikiran Yunani dan Persia masuk ke dunia Islam. Saat itu Iraq menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Dinasti Abasiyyah memilihnya sebagai pusat pemerintahan.[12]

Imam Abu Hanifah dikenal sebagai ulama terdepan dalam “ahlu al-ra’yi”, ulama yang cukup menonjol dalam penggunaan nalar dan logika. Boleh dibilang beliau memang lebih banyak menggunakan pendekatan qiya>s. Sebagian analis menyebutkan latar belakang mengapa beliau melakukan itu. Di antara analisa itu, sebagaimana diketahui bahwa di masa itu Irak merupakan sumber hadis palsu. Sementara perkembangan metodologi kritik hadis belum lagi dimulai.

Al-Bukhari dengan metodologi kritik hadis yang banyak dipuji pun belum lahir. Karena angka tahun kehidupan Al-Bukhari adalah 194-256 Hijriyah. Padahal Imam Abu Hanifah lahir tahun 80 hijriyah, artinya hanya terpaut 70 tahun sepeninggal Rasulullah SAW. Sehingga beliau sangat sedikit memiliki koleksi hadis yang shahih. Bukan karena tidak percaya atau tidak mau menggunakan hadis, tetapi justru karena beliau termasuk orang yang paling mutasyaddid dalam menyeleksi hadis. Tidak sembarangan hadis bisa beliau terima sebagai dalil, yaitu yang telah diketahui secara pasti kemutawatiran dan kemasyhurannya.[13] Dan semua ini memang ada pengaruh dari bermunculannya hadis palsu di masanya, terutama di Iraq. Oleh karena hadis shahih yang beliau loloskan dalam seleksi sangat sedikit, maka secara alami beliau menemukan metode pengembangan dari nash yang sudah ada untuk bisa diterapkan di berbagai persoalan. Yaitu dengan mengambil ‘illat, atau titik persamaan antara masalah yang ada nashnya dengan masalah yang tidak ada nashnya. Inilah yang disebut dengan qiyas.[14]

Sebagai contoh dari pentingnya qiyas di kemudian hari adalah dalam masalah zakat fithr. Kita tahu bahwa semua hadis dari Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa membayar zakat fithr itu hanya dengan kurma atau gandum. Tidak ada diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah membayar zakat fitrah dengan beras. Lewat qiyas seperti yang dilakukan oleh Abu Hanifah, maka dicari ‘illat dari zakat ini, bukan realitasnya. Kesimpulannya, yang perlu dikeluarkan dari zakat fithr ini adalah quuth baladih, yaitu makanan pokok yang dimakan oleh suatu bangsa. Sehingga di mana pun di dunia ini, orang boleh membayar zakat fitrh dengan makanan pokok yang berlaku di masyarakat masing-masing. Walaupun tidak ada satu pun hadis dan teladan dari Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa beliau berzakat dengan beras. Kalau seandainya kita tidak mau menggunakan qiyas, maka bangsa Indonesia tidak sah ketika membayar zakat dengan beras.

Abu Hanifah pernah berkata tentang dasar mazhabnya, “Aku mengambil dari kitabullah bila aku dapati ada. Bila tidak ada maka aku mengambil dari sunnah Rasulillah SAW. Bila tidak aku dapati, aku ambil perkataan shahabat yang aku kehendaki dan aku tinggalkan yang tidak aku kehendaki. Aku tidak keluar dari perkataan sebagain mereka kepada perkataan sebagian yang lain.” Namun bila masalah sudah sampai kepada pendapat Ibrahim (Al-Nakha’i), As-Sya’bi, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Saad bin Musayyab, maka aku pun akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad.”[15]

Mazhab Hanafi tersebar sangat luas di dunia Islam. penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan seperti Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa. Mazhab ini juga tersebar di Mesir terutama di bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi’i dan Hanafi). Mazhab ini juga sampai keKaukasia, yaitu Chechnya dan Dagestan.

Salah satu faktor tersebarnya mazhab ini adalah karena para khalifah Utsmaniyah di Istanbul sebagai pusat kepemimpinan tertinggi umat Islam sedunia bermazhab Hanafi. Bukan hanya itu, bahkan mazhab ini mengalami proses qanunisasi, sehingga format Undang-undang khilafah itu didasarkan pada mazhab Hanafi. Qanun itu kemudian diterapkan di seluruh negeri Islam. Sehingga meski grassroot masyarakat suatu negeri bermazhab lain seperti Syafi’i misalnya, namun dalam hukum tata negara, mazhab negara itu adalah Hanafi. Setidaknya banyak mengadaptasi mazhab hanafi.[16]

 

  1. Kedudukan dan Keutamaan

Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Abu Hanifah yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, iaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.

Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Abu Hanifah. Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab:

  1. Kerana ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.
  2. Kerana semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Itulah sebabnya ia masyhur dengan gelaran Abu Hanifah.
  3. Menurut bahasa Persia, Hanifah bererti tinta. Imam Abu Hanifah sangat rajin menulis hadith-hadith, ke mana, ia pergi selalu membawa tinta. Kerana itu ia dinamakan Abu Hanifah.[17]

Beliau dilahirkan pada saat pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. Kepandaian Imam Abu Hanifah tidak diragukan lagi, beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadith. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.

Imam Abu Hanifah adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keredhaan Allah SWT. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau.

Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar, kerana menurut Imam Abu Hanifah kalau kemungkaran itu tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya, melainkan semuanya, termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut.

Sifat Imam Abu Hanifah yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Ia menolak pangkat dan menolak wang yang dibelikan kepadanya. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara ia diseksa, dipukul dan sebagainya.

Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. Pernah pada suatu ketika Imam Abu Hanifah akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal), tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Ia tidak mahu menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

Pada waktu yang lain Gubernur Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Abu Hanifah tersebut. Seolah-olah Imam Abu Hanifah memusuhi pemerintah, kerana itu timbul rasa curiganya. Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. Ketika Imam Abu Hanifah mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Abu Hanifah menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Abu Hanifah dalam menegakkan pendirian hidupnya.

Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi kedudukan rasmi oleh Gubernur.

Ketika itu Gubernur menetapkan Imam Abu Hanifah menjadi Pengetua jawatan Sekretari Gubernur. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk wang negara. Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu nescaya ia akan dihukum dengan pukulan.” Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Abu Hanifah tetap menolak jawatan itu, bahkan ia tetap tegas, bahawa ia tidak mahu menjadi pegawai kerajaan dan tidak mahu campur tangan dalam urusan negara.

Kerana sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh Gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, dengan tidak dipukul. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan. Beberapa hari sesudah itu Gubernur menawarkan menjadi kadi, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Abu Hanifah tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Abu Hanifah. Walaupun demikian ketika Imam Abu Hanifah diseksa ia sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun, ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Imam Abu Hanifah juga menerima ujian. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara, dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah, ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah.

Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur, saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.

Suatu hari Imam Abu Hanifah mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad, supaya ia datang mengadap ke istana. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Abu Hanifah “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.”

Kerana ia masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Kerana sikap Imam Abu Hanifah itu, Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa.

Pada suatu hari Imam Abu Hanifah dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al-Mansur, tetapi ia tetap menolak. Baginda bertanya, “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?”  Dijawab oleh Imam Abu Hanifah: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin.

Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang, maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah, sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu.”

Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta, kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu.” Dijawab oleh Imam Abu Hanifah: “Amirul Mukminin, sungguh baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahawa saya tidak patut memegang jawatan itu. Jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.”

Pernah juga terjadi, baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya, iaitu Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. Setelah mereka hadir di istana, maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan, masing-masing diberi surat pelantikan tersebut. Imam Sufyan al-S|auri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah, lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota. Adapun Imam Abu Hanifah tidak mahu menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahawa siapa saja yang tidak mahu menerima jawatan itu akan didera sebanyak l00 kali deraan. Imam Syarik menerima jawatan itu, tetapi Imam Sufyan tidak menerimanya, kemudian ia hijrah ke Yaman. Imam Abu Hanifah juga tidak menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri. Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara di leher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat.

Suatu kali Imam Abu Hanifah dipanggil baginda untuk mengadapnya. Setelah tiba di depan baginda, lalu diberinya segelas air yang berisi racun. Ia dipaksa meminumnya. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Abu Hanifah kembali dimasukkan ke dalam penjara. Imam Abu Hanifah wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.

Imam Abu Hanifah menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah kerana beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Abu Hanifah untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka, dan akhirnya mereka seksa hingga meninggal, kerana Imam Abu Hanifah menolak semua tawaran yang mereka berikan.

Berikut ini beberapa penilaian para ulama tentang Abu Hanifah, diantaranya:

  1. Yahya bin Ma’in berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang tsiqoh, dia tidak membicarakan hadits kecuali yang dia hafal dan tidak membicarakan apa-apa yang tidak hafal”. Dan dalam waktu yang lain beliau berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang s\iqah di dalam hadits”. Dan dia juga berkata, “Abu hanifah la> ba’sa bih, dia tidak berdusta, orang yang jujur, tidak tertuduh dengan berdusta, …”.
  2. Abdullah ibnul Mubarok berkata, “Kalaulah Allah subhanahu wa ta’ala tidak menolong saya melalui Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri maka saya hanya akan seperti orang biasa”. Dan beliau juga berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling faqih”. Dan beliau juga pernah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah, orang yang paling jauh dari perbuatan ghibah adalah Abu Hanifah, saya tidak pernah mendengar beliau berbuat ghibah meskipun kepada musuhnya’ kemudian beliau menimpali ‘Demi Allah, dia adalah orang yang paling berakal, dia tidak menghilangkan kebaikannya dengan perbuatan ghibah’.” Beliau juga berkata, “Aku datang ke kota Kufah, aku bertanya siapakah orang yang paling wara’ di kota Kufah? Maka mereka penduduk Kufah menjawab Abu Hanifah”. Beliau juga berkata, “Apabila atsar telah diketahui, dan masih membutuhkan pendapat, kemudian imam Malik berpendapat, Sufyan berpendapat dan Abu Hanifah berpendapat maka yang paling bagus pendapatnya adalah Abu Hanifah … dan dia orang yang paling faqih dari ketiganya”.
  3. Al-Qadhi Abu Yusuf berkata, “Abu Hanifah berkata, tidak selayaknya bagi seseorang berbicara tentang hadits kecuali apa-apa yang dia hafal sebagaimana dia mendengarnya”. Beliau juga berkata, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih tahu tentang tafsir hadits dan tempat-tempat pengambilan fiqih hadits dari Abu Hanifah”
  4. Imam Syafii berkata, “Barangsiapa ingin mutabahir (memiliki keahlian/spesialisasi) dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah”
  5. Fudhail bin Iyadh berkata, “Abu Hanifah adalah seorang yang faqih, terkenal dengan wara’-nya, termasuk salah seorang hartawan, sabar dalam belajar dan mengajarkan ilmu, sedikit bicara, menunjukkan kebenaran dengan cara yang baik, menghindari dari harta penguasa”. Qois bin Rabi’ juga mengatakan hal serupa dengan perkataan Fudhail bin Iyadh.
  6. Yahya bin Sa’id al-Qothan berkata, “Kami tidak mendustakan Allah swt, tidaklah kami mendengar pendapat yang lebih baik dari pendapat Abu Hanifah, dan sungguh banyak mengambil pendapatnya”.
  7. Hafsh bin Ghiyats berkata, “Pendapat Abu Hanifah di dalam masalah fiqih lebih mendalam dari pada syair, dan tidaklah mencelanya melainkan dia itu orang yang jahil tentangnya”.
  8. Al-Khuroibi berkata, “Tidaklah orang itu mensela Abu Hanifah melainkan dia itu orang yang pendengki atau orang yang jahil”.
  9. Sufyan bin Uyainah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah karena dia adalah termasuk orang yang menjaga shalatnya (banyak melakukan shalat)”.[18]

 

Al-Fiqh Al-Akbar sebagai Paradigma Fiqh Imam Abu Hanifah

  1. Metodologi Pemikiran Fiqh Imam Abu Hanifah

Sebagaimana telah diuraikan secara singkat sebelumnya bahwa Imam Abu Hanifah merupakan seorang mujtahid yang sangat selektif terhadap hadis Nabi Saw sehingga karenanya beliau memiliki kecenderungan untuk melakukan ijtihad. Metode – metode ijtihad Abu Hanifah tersebut penulis uraikan sebagai berikut :

  1. Qiyas

Qiyas menurut bahasa adalah penjelasan tentang cara pengukuran, dikatakan orang:  Aku telah mengukur sandal dengan sandal.[19] Sedangkan pengertian qiyas secara terminologi banyak sekali yang dapat dijumpai. Untuk kepentingan tulisan ini, penulis mengutip definisi qiyas dari salah seorang tokoh ushul fiqih Hanafi yaitu Sadr Asy – Syari’ah (w.747 H/1346 M.) sebagai berikut :

Qiyas adalah memberlakukan hukum asal kepada hukum furu’ disebabkan kesatuan ‘illat yang tidak dapat dicapai hanya melalui pendekatan bahasa saja.”[20]

Legalitas qiyas sebagai metode ijtihad Abu Hanifah sebagaimana jumhur  ushul fiqih yang lain mendasari kepada QS. Al–Nisa’: 59, yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu. Sekiranya ada perbedaan pendapat di antaramu tentang sesuatu (yang tidak ada ketegasan dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul), maka kembalilah kepada Allah dan Rasul”.

Dan mendasari kepada hadis diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Umar r.a. yang artinya : “Ya Rasulullah! Aku telah melakukan perbuatan yang sangat mengusik jiwaku, aku menciumi istri ketika sedang berpuasa. Rasulullah berkata kepada Umar r.a. : Bagaimana pendapat kamu jika berkumur – kumur air dan kamu sedang berpuasa? Umar r.a. menjawab? Tidak apa–apa dengan hal itu, Rasulullah berkata : Lanjutkan puasa kamu!.[21]

Abu Hanifah berpegang kepada qiyas dalam berijtihad, apabila perkara yang sedang dihadapi tidak terdapat dalam Al-Quran, Hadis dan perkataan Sahabat. Beliau menghubungkan perkara yang dihadapi kepada nash yang ada setelah memperhatikan ‘illat yang sama antara keduanya. Metode ijtihad ini dalam mazhab Hanafi dinamakan dengan qiya>s jali>y yaitu kebalikan dari qiya>s khafi>y yang dinamakan dalam mazhab Hanafi sebagai istihsan.

  1. Istihsan

Secara bahasa, istihsan adalah menggolongkan sesuatu serta meyakininya  sebagai sebuah kebaikan. Sedangkan istihsan menurut ulama ushul fiqih adalah berpalingnya seseorang mujtahid dari tuntutan qiyas jali>y (nyata) untuk menerapkan qiyas yang khafi>y (samar) atau dari hukum kulli>y (umum) kepada hukum istis\na’i>y (pengeculian) karena ada dalil yang memperkuatnya.[22] Abu Zahrah melaporkan, Abu Hanifah menyatakan:” Istihsan itu sembilan sepersepuluh ilmu”. Oleh sebab itulah istihsan mendominasi dalam ijtihad mazhab Hanafi.[23] Istihsan sebenarnya merupakan pengembangan dari qiyas. Karena peran ra’yu lebih dominan dibandingkan qiyas. Hal demikian teridentifikasi dari pembagian istihsan oleh Abu Hanifah.

  1. ‘Uruf

Pengertian uruf dalam perspektif ulama ushul fiqih adalah apa yang dikenal manusia dan berlaku pada mereka, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun meninggalkan sesuatu. Dan ini juga dinamakan adat. Dan dikalangan ulama syari’at tidak ada perbedaan antara ‘uruf dan adat.

Dasar hukum uruf sebagai rujukan dalam penetapan hukum adalah hadis Rasulullah SAW. yang artinya : “Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka bagi Tuhan juga baik”. (Hadis Mauquf dari Ibnu Abbas). Sedangkan ‘uruf yang bisa dijadikan sebagai sumber hukum, para ulama  merujuk kepada firman Allah SWT. yang artinya : “Allah tidak menurunkan agama kepada kamu untuk berbuat dosa”. Ayat tersebut menjadi instrumen bagi fuqaha bahwa ‘uruf yang menjadi sumber hukum adalah ‘uruf yang baik bukan ‘uruf fasid yang keluar dari tujuan syari’at.

Berangkat dari hadis dan firman Allah di atas, ulama Hanafiyah melaporkan, menetapkan hukum berdasarkan ‘uruf adalah sah tidak fasid yang ditetapkan berdasarkan petunjuk syari’ah. Perspektif ini juga senada dengan ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan jumhur fuqaha yang lain.

Tentang ‘uruf, pensyarah kitab al-Asyba>h wa al-Naz}a>’ir melaporkan, “Ketetapan ‘uruf menjadi dalil syari’at”. Sedangkan As-Sarkhasy dalam kitab al–Mabsu>t} mengatakan bahwa, ketetapan ‘uruf sama seperti ketetapan nash. Abu Hanifah menetapkan hukum berdasarkan ‘uruf manusia jika dalam Al-Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas dan Istihsan tidak ditemukan. Bagi Abu Hanifah, ‘uruf yang dijadikan hukum adalah ‘uruf manusia yang tidak bertentangan dengan syari’at yakni ‘uruf yang menyebabkan kemaslahatan bagi mereka. Jika ta’arudh dengan syari’at, ‘uruf yang demikian harus ditinggalkan dan dihilangkan.[24]

Berdasarkan uraian di atas, yang menjadi dasar bagi Imam Hanafi dalam menetapkan hukum dapat penulis susunkan secara hirarki sebagai berikut:

  1. Al – Quran
  2. Hadis
  3. Perkataan sahabat
  4. Qiyas
  5. Istihsan
  6. ‘Uruf.

 

  1. Nalar Tauhid; Relasi Internal Ilmu Kalam dan Fiqh Islam

Imam Abu Hanifah pada dasarnya tidak pernah menyusun dan atau mengarang suatu kitab apapun. Dan memang pada masa itu pemikiran-pemikiran, wasiat-wasiat dan ijtihad para ulama belum terbukukan secara sistematis. Aktivitas utama beliau dalam mensyi’arkan Islam hanyalah melalui al-Ta’allum wa al-Ta’li>m. Berbagai karangan dan tulisan yang dinisbatkan kepada beliau tidak lain hanyalah susunan dari para murid (As}h}a>b) beliau. Kecuali sebuah catatan singkat beliau yang berisi pokok-pokok aqidah dan ilmu kalam yang tertuang dalam al-Fiqh al-Akbar.[25]

Tidak disebutkan secara konkret motivasi penulisan karya ini oleh sang pengarang. Namun jikalau ditelusuri secara historis dimana Abu Hanifah hidup pada masa Tabi’in dan Tabi’ al-Tabi’in dan mengalami dua periode kekhilafahan, Daulah Bani Umayah dan Abbasiyyah yang sarat akan kepentingan politik dan rawan perbedaan bahkan perpecahan di antara umat Islam, maka akan sangat wajar seorang Imam besar mengeksplorasikan keyakinan berdasar keilmuannya melalui sebuah karya sebagai bentuk ketegasan sikap dan atau wasiat yang hendak disampaikan dan supaya dipegangi oleh khususnya para muridnya.

Al-Fiqh al-Akbar ini memuat pokok-pokok keyakinan keagamann Islam yang dipegangi oleh sang Imam. Sebagai pembuka dan terutama dalam karya tersebut, Imam Abu Hanifah menguraikan bahwa prinsip ketauhidan dan unsur yang dengan itu aqidah seorang Muslim bisa dinyatakan sah adalah apabila dengan tegas ia menyatakan: “Aku beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kebangkitan sesudah mati, ketentuan baik dan buruk hanya dari Allah Ta’ala, h}isa>b, mi>za>n, surga dan neraka, sebagai sesuatu yang memang benar adanya”. [26]

Perihal prinsipil mengenai ilmu kalam yang berkembang pada masa itu nampak memenuhi ruang-ruang tulisan sang Imam dalam karya ini. Hemat penulis, setidaknya terdapat enam tema pokok yang disinggung oleh Imam Abu Hanifah dalam al-Fiqh al-Akbar, yaitu mengenai (1) Allah Swt, (2) Al-Qur’an, (3) Khalik-Makhluk, (4) Hidayah Iman, (5) Perbuatan manusia, (6) Hal-hal Ghaib.

Pertama, Abu Hanifah menyatakan bahwa Allah Swt. Esa dilihat bukan dari jumlahnya -yang tunggal- melainkan karena tidak ada sekutu baginya. Dia selamanya ada dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang z\a>tiyyah dan fi’liyyah. Dia berfirman dengan firman-Nya dan firman-Nya bersifat azali.[27] Allah melebihkan hamba-hamba-Nya satu sama lain dan Mahaadil dengan terkadang memberikan pahala yang berlipat terhadap amal yang dilakukan oleh hamba-Nya sebagai anugerah dari-Nya dan terkadang memberikan siksa atas dosa sebagai suatu keadilan dari-Nya serta terkadang pula memaafkan dosa-dosa tersebut sebagai anugerah dari sisi-Nya.

Kedua, al-Qur’an adalah Kalamullah yang ditulis dalam mushhaf, dihapal dalam hati, diucapkan oleh lisan, dan diturunkan kepada Muhammad Saw. Pelafalan, pembacaan, dan penulisan yang kita lakukan terhadap al-Qur’an adalah makhluk, sedangkan al-Qur’an itu sendiri bukanlah makhluk.[28]

Ketiga, Allah menciptakan sesuatu tidak dari sesuatu dan Allah Maha Mengetahui sejak azali segala sesuatu tersebut sebelum adanya sesuatu itu.Dia yang menakdirkan dan memastikan segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun di dunia dan di akhirat yang tanpa kehendak-Nya. Pengetahuan-Nya, takdir-Nya dan ketentuan-Nya.[29]

Keempat, Allah Swt menciptakan makhluk dalam keadaan bebas dari keimanan dan kekafiran. Kemudian Dia berfirman, memerintah dan melarang mereka. Maka kafirlah orang yang kafir dan berimanlah orang yang beriman melalui perbuatan dan pengingkaran mereka terhadap kebenaran karena adanya tipu daya yang Allah berikan. Sedang yang berimanpun beriman karena perbuatan dan pengakuannya terhadap kebenaran karena adanya taufiq dan pertolongan yang diberikan Allah kepada mereka.[30] Tidak boleh dikatakan bahwa syetan itu merampas keimanan dari seorang hamba yang mukmin secara paksa. Melainkan bahwa hamba tersebutlah yang meninggalkan keimanannya sehingga sat itu syetan berhasil melenyapkan keimanan itu dari dirinya.[31]

Kelima, seluruh perbuatan hamba, baik itu berupa gerak dan diam, secara hakiki merupakan kasab (tindakan) mereka dan Allah lah yang menciptakan kasab tersebut. Semuanya terjadi melalui kehendak, ilmu, qadha dan qadar-Nya. Semua bentuk ketaatan adalah suatu kewajiban yang didasarkan atas perintah Allah, karena cinta dan ridha-Nya, dan karena ilmu, kehendak, qadha dan qadar-Nya. Sedangkan seluruh bentuk kemaksiatan juga terjadi di bawah pengetahuan, ilmu, qada dan qadar-Nya, namun bukan atas dasar kecintaan, ridha dan perintah-Nya.[32] Kebaikan-kebaikan manusia tidaklah mesti serta merta diterima dan kejahata-kejahatan tidaklah mesti akan diampuni. Akan tetapi barang siapa yang melakukan kebaikan dengan memenuhi segala persyaratan dan tidak ada hal-hal yang membatalkannya, serta orang tersebut tidak menghapuskan kebaikannya itu dengan kekafiran atau kemurtadan sampai ia mati dalam keadaan mukmin, niscaya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikannya. Bahkan pasti menerimanya dan memberinya pahala. Adapun perbuatan-perbuatan jahat selain syirik dan kufur dan tidak ditaubati oleh pelakunya hingga mati dalam keadaan beriman, persoalannya terserah pada kehendak Allah. Apakah Dia akan menyiksanya dalam neraka atau akan mengampuninya dan memasukannya ke dalam surga.[33] Tidak mungkin bagi seseorang untuk beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ibadah berdasarkan kehendaknya sendiri, melainkan harus berdasar perintah-Nya sebagaimana disampaikan dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.[34]

Keenam,  syafa’at para Nabi dan Rasul, timbangan amal pada hari kiamat, surga dan neraka serta siksa dan pahala yang abadi dan tidak pernah fana, pertanyaan Munkar dan Nakir, kisah Isara’ dan Mi’raj, keluanya Dajjal, Ya’juj Ma’juj, munculnya matahari dari tempat terbenamnya, turun kembalinya Isa as dari langit dan tanda-tanda datangnya hari kiamat lainnya berdasarkan hadis Nabi Saw adalah benar adanya dan betul-betul terjadi.[35]

Fiqih dalam istilah syara’ berarti ilmu mengenai hukum-hukum perbuatan mukallaf yang diambil dari dalil-dalil syar’i yang terperinci yang jalan mengetahuinya adalah ijtihad. Dalam perkembangannya, nampak di sini bahwa fiqh Islam sejak masa Abu Hanifah hingga sekarang mengalami penyempitan makna. Makna fiqh yang disajikan oleh Abu Hanifah ternyata tidak hanya terkait dengan permasalahan hukum, namun juga tentang ketauhidan. Melihat cakupan makna fiqih belakangan sebagaimana tergambarkan tersebut. Setidaknya terdapat dua hal yang terkait antara gagasan kalamiyah yang diterangkan oleh Imam Abu Hanifah dalam karya al-Fiqh al-Akbar ini dengan fiqh sebagai disiplin ilmu tersendiri, yaitu mengenai hakikat al-Qur’an selaku kitab pedoman tertinggi dan perbuatan manusia sebagai objek terpenting dalam kajian fiqh.

Oleh karena perbuatan manusia merupakan hal yang bersifat kasbi, maka perbuatan manusia telah tergantung pertimbangan kebaikan dan keburukannya berdasarkan apa yang disampaikan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Artinya, beliau bukanlah seorang Jabariy yang menggaungkan pemahaman bahwa segala perbuatan manusia adalah sepenuhnya berdasar ‘gerakan-Nya’ layaknya wayang yang digerakkan oleh dalang. Namun demikian, Abu Hanifah dalam hal menghukumi seseorang tidak serta merta akibatnya bersumber sepenuhnya dari perbuatannya.[36] Abu Hanifah memang menyatakan dengan jelas bahwa perbuatan baik atau buruk mesti terdapat balasannya yang wajar. Namun keberhendakan Allah Swt pada akhirnya menjadi unggulan terutama. Beliau sebutkan bahwa kebaikan-kebaikan manusia tidaklah mesti serta merta diterima dan kejahatan-kejahatan tidaklah mesti akan diampuni. Akan tetapi barang siapa yang melakukan kebaikan dengan memenuhi segala persyaratan dan tidak ada hal-hal yang membatalkannya, serta orang tersebut tidak menghapuskan kebaikannya itu dengan kekafiran atau kemurtadan sampai ia mati dalam keadaan mukmin, niscaya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikannya. Bahkan pasti menerimanya dan memberinya pahala. Adapun perbuatan-perbuatan jahat selain syirik dan kufur dan tidak ditaubati oleh pelakunya hingga mati dalam keadaan beriman, persoalannya terserah pada kehendak Allah. Apakah Dia akan menyiksanya dalam neraka atau akan mengampuninya dan memasukannya ke dalam surga.[37] Hal ini menunjukkan bahwa dalam memutuskan hukum mengenai suatu perkara,, yang ini identik dengan fiqh,  Imam Abu Hanifah kurang tertarik dengan penghakiman kafir atau mukmin seseorang. Bahkan hingga seseorang telah jelas melakukan kekufuran, akibat akhirat beliau serahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

            Abu Hanifah sebagai salah seorang ulama terkemuka yang tinggal jauh dari pusat penyebaran hadis (sebagai penjelas dari al-Qur’an yang paling shahih), karenanya mengoptimalkan kekuatan analisa akalnya untuk memahami persoalan perbuatan manusia berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah. Meskipun demikian, ketika ditemukan sebuah hadis yang diangap tepat dan shahih menurut pandangannya dalam memutuskan suatu perkara hukmiyyah, maka beliau menghukuminya dengan hadis tersebut.

Kedudukan al-Qur’an sebagai pedoman tertinggi dalam memahami perihal keagamaan serta keyakinan bahwa sejatinya al-Qur’an adalah bukanlah makhluk mendorong Imam Abu Hanifah menerapkan prinsip Qur’aniy dalam memutuskan suatu perkara. Prinsip Qur’aniy yang dimaksud adalah ketika suatu perkara umum yang terdapat dalam al-Qur’an jikalau penjelasan rincinya tidak ditemukan di dalam hadis, sebab keterbatasan perolehan hadis dibandingkan Imam Madzhab yang lain, maka kekuatan kemampuan akal lah yang menjadi pertimbangan.

Demikian konsep ketauhidan Imam besar Abu Hanifah yang diantaranya mewarnai dan mempengaruhi pola berijtiha>d dan beristinba>t} mengenai hukum. Sehingga pada masa selanjutnya oleh para muridnya, pola tersebut dikembangkan dan menjadi salah satu kubu besar dalam sejarah Tasyri’ Islamiy , dikenal dengan Ahl al-Ara>’.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

al-Jundiy, Abdul Halim. Aimmat al-Fiqh al-Isla>miy. Kairo: al-Majlis al-A’la li al-Syu’u>n al- Islamiyyah. Tt.

al-Naqib, Ahmad bin Muhammad Nasiruddin. al-Maz\hab al-H{anafi>y al-Mujallad al-Awwal. Riyadh: Maktabah al-Rusyd. 2001.

al-Nu’man, Abu Hanifah. al-Fiqh al-Akbar terjemah Afif Muhammad. Bandung: Pustaka. 1988.

Al-Syilbiy, Muhammad Mushtofa. al-Madkhal fi Fiqh al-Isla>mi>y. Beirut: al-Dar al-Jami’ah. Tt.

‘Ashrah, Farid dan Al-Jarjani, Wahid Dahrah Asyarif Ali bin Muhammad. Kitab Al-Ta’rifat. Jakarta: Darul Hikmah. Tt.

Basya, A. Taymur. al-Maz\a>hib al-Fiqhiyyah al-Arba’ah wa Intisya>ruha> ‘inda Jumhu>r al-Muslimi>n. Kairo: Da>r al-A<fa>q al-‘Arabiyyah. 2001.

Fathurrahman, Djamail. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997.

Hasan, M. Ali. Perbandingan Mazhab. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, Cetakan ketiga. 1998.

H{awwa, Ahmad Sa’id. al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n . Jeddah: Dar al-Andalus al-Khad}ra>’. 2002.

Jumantoro, Totok dkk. Kamus Ilmu Ushul Fikih. Amzah, Cetakan pertama. 2005.

Khalaf, Abdul Wahab. Ringkasan Sejarah Perundang-Undangan Islam terjemah Aziz Masyhuri. Solo: Ramadhani. 1991.

Kolson, N.C.  Fi> Ta>ri>kh al-Tasyri>’ al-Isla>mi>y  terjemah bahasa Arab Muammad Ahmad Siraj. Beirut: al-Muassasah al-Ja>mi’iyyah. 1992.

Muslehuddin, Muhammad. Filsafat Hukum Islam dan Pemikiran Orientalis; Studi Perbandingan Sistem Hukum Islam terjemah Yudian Wahyudi Amin dkk.. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 1997.

Sirry, Mun’im A. Sejarah Fiqih Islam; Sebuah Pengantar . Surabaya: Risalah Gusti. 1995.

Zahrah, Muhammad Abu. Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah. Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi. 2009.

____________________. Muh}a>d}ara>t fi> Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah . Jam’iyyah al-Dirasah al-Islamiyyah. Tt.

[1] Mun’im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam; Sebuah Pengantar  (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), hlm. 9.

[2] Lihat Muhammad Muslehuddin, Filsafat Hukum Islam dan Pemikiran Orientalis; Studi Perbandingan Sistem Hukum Islam terjemah Yudian Wahyudi Amin dkk. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1997), hlm. 55-59.

[3] N.C. Kolson, Fi> Ta>ri>kh al-Tasyri>’ al-Isla>mi>y terjemah bahasa Arab Muammad Ahmad Siraj (Beirut: al-Muassasah al-Ja>mi’iyyah, 1992), hlm. 46-50.

[4] Djamail Fathurrahman, Filsafat Hukum Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 9.

[5] Muhammad Mushtofa Syilbiy, al-Madkhal fi Fiqh al-Isla>mi>y (Beirut: al-Dar al-Jami’ah), hlm. 164.

[6] Abdul Wahab Khalaf, Ringkasan Sejarah Perundang-Undangan Islam terjemah Aziz Masyhuri (Solo: Ramadhani, 1991), hlm. 72

[7] Abdul Wahab Khalaf, Ringkasan Sejarah Perundang-Undangan Islam…, hlm. 72-75.

[8] A. Taymur Basya, al-Maz\a>hib al-Fiqhiyyah al-Arba’ah wa Intisya>ruha> ‘inda Jumhu>r al-Muslimi>n (Kairo: Da>r al-A<fa>q al-‘Arabiyyah, 2001), hlm. 51.

[9] Muhammad Abu Zahrah, Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 2009), hlm. 350. Lihat juga Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n (Jeddah: Dar al-Andalus al-Khad}ra>’, 2002), hlm. 31.

[10] Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n…, hlm. 34. Muhammad Abu Zahrah, Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah …, hlm. 365.

[11] Muhammad Abu Zahrah, Muh}a>d}ara>t fi> Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah (Jam’iyyah al-Dirasah al-Islamiyyah, tt.), hlm. 144.

[12] Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n…, hlm. 46-54.

[13] Abdul Halim al-Jundiy, Aimmat al-Fiqh al-Isla>miy (Kairo: al-Majlis al-A’la li al-Syu’u>n al- Islamiyyah, tt.), hlm. 31.

[14] Abdul Halim al-Jundiy, Aimmat al-Fiqh al-Isla>miy…, hlm. 30. Lihat juga Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n…, hlm. 64. Muhammad Mushtofa Syilbiy, al-Madkhal fi Fiqh al-Isla>mi>y …, hlm. 172.

[15] Muhammad Mushtofa Syilbiy, al-Madkhal fi Fiqh al-Isla>mi>y …, hlm. 172.

[16] Muhammad Abu Zahrah, Muh}a>d}ara>t fi> Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah …, hlm. 187.

[17] Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n …, hlm. 32-34.

[18] Ahmad bin Muhammad Nasiruddin al-Naqib, al-Maz\hab al-H{anafi>y al-Mujallad al-Awwal (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2001), hlm. 71., Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n …, hlm. 74. Muhammad Abu Zahrah, Muh}a>d}ara>t fi> Ta>ri>kh al-Maz\a>hib al-Isla>miyyah…, hlm. 157-162.

 

[19] Farid ‘Ashrah dan Wahid Dahrah Asyarif Ali bin Muhammad Al Jarjani, Kitab Al-Ta’rifat (Jakarta : Darul Hikmah, t.t.), hlm. 181.

[20] Totok Jumantoro dkk., Kamus Ilmu Ushul Fikih, (Amzah, Cetakan pertama, 2005), hlm. 270.

[21] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh (Kairo: Dar Al Fikri ‘Irabi, t.t.), hlm. 221.

[22] Totok Jumantoro dkk., Kamus Ilmu Ushul Fikih…, hlm. 134.

[23] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh…., hlm. 262.

[24] M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, Cetakan ketiga, November 1998, hlm. 193.

[25] Ahmad Sa’id H{awwa, al-Madkhal ila Maz\hab al-Ima>m Abi> H{ani>fah al-Nu’ma>n…, hlm. 77. Ahmad bin Muhammad Nasiruddin al-Naqib, al-Maz\hab al-H{anafi>y …, hlm. 69.

[26] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar terjemah Afif Muhammad (Bandung: Pustaka, 1988), hlm. 1

[27] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 2.

[28] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 2-3.

[29] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 4.

[30] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 5.

[31] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 12.

[32] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 6-7.

[33] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 8.

[34] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 10.

[35] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 11-14.

[36] Penghakiman di sini terkait keimanan atau kekufuran seseorang yang mengakibatkannya dijatuhkan  ke dalam neraka atau surga.

[37] Abu Hanifah al-Nu’man, al-Fiqh al-Akbar…, hlm. 8.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *