Ijtihad pada masa sahabat

Oleh. Miskari, M.H.I,.Lc

Abstrak

Dalam perjuangan dan penyebaran agama Islam, Rasulullah saw. didampingi oleh para pengikutnya yang setia. Mereka adalah para sahabat yang secara intens mengikuti jejak langkah Rasulullah saw. sejak beliau masih hidup hingga Islam terus menyebar di muka bumi. Sahabat Rasulullah saw. terdiri dari berbagai tingkatan, status sosialnya maupun intelektualnya. Sahabat rasul terdiri dari kalangan laki-laki dan perempuan.

Keberadaan dan peran sahabat sangat besar dalam penyebaran agama islam. Atas jasa dan keberanian para sahabat pula islam telah sampai ke berbagai penjuru dunia. Demikian pula, peran sahabat sangat besar dalam mengembangkan ajaran islam serta penetapan hukum Islam yang berkembang setelah wafat Rasulullah saw. Dalam literature hukum Islam masalah peran sahabat dalam penetapan hukum Islam dibahas dalam kajian dengan istilah fatwa sahabat atau qaul shahabi.

Kata kunci: Ijtihad, ijtihad Sahabat, metode ijtihad.

 

  1. Pendahuluan

Islam adalah sebuah peradaban yang terbangun diatas untaian untaian teks teks suci. Dari sebuah teks, (al kitab dan al sunnah) islam mampu menciptakan berbagai macam khazanah keilmuan yang beraneka ragam. Berbagai macam khazanah keilmuan yang ada adalah merupakan hasil nyata dari sebuah metode yang telah menghegemoni pada masa lalu hinga sekarang yang selalu siap menantang dan ditantang zaman. Metode metode tersebut, diciptakan untuk mengatasi berbagai macam permasalahan realitas yang mulai mengembang pada masa itu. Mulai muncul pada masa itu berbagai macam permasalahan baru yang belum pernah ada sebelumnya pada masa Rasullullah SAW. Lalu, setelah wafatnya Rasulullah SAW, banyak hal dan wacana baru yang dihadapi oleh para sahabatnya, kemudian muncullah hukum dari mereka (hasil ijtihad mereka-red). Wacana mengenai ijtihad memang menarik. Ijtihad salah satu sumber inspirasi guna memacu Islam menyesuaikan dirinya dengan percepatan dan perubahan zaman. Tanpa ijtihad sama artinya mengembalikan kehidupan era millenium ini sesuai dengan seribu empat ratus tahun lalu. Mungkin umat Islam perlu memikirkan unta (lagi) sebagai ganti mobil dan kereta api selain sebagai alat transport yang ramah lingkungan juga sesuai dengan sunnah nabi yang senantiasa hilir mudik dengannya. Ijtihad juga merupakan satu kata kunci guna dapat memahami Islam. Mengingat proses ijtihad membutuhkan kemampuan komprehensif seorang pemikir Islam (mujtahid-red) atas ilmu-ilmu Islam dan tentunya ilmu-ilmu lain dan metodologi yang memiliki kaitan erat dalam proses penyimpulan sebuah hukum syariat.

Pada masa sahabat, ijtihad mulai banyak dipakai karena dengan wafatnya Rasulullah saw. wahyu dengan sendirinya tidak lagi diturunkan dan hadits juga tidak lagi bertambah. Sementara itu, masalah-masalah yang dihadapi umat Islam terus dan memerlukan ketentuan hukum. Pada masa Abu Bakar jika menghadapi persoalan dan tidak menemukan nashnya di dalam Alquran dan hadis, ia mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan menentukan hukum dari masalah-masalah itu. Demikian pula pada masa Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Mereka menggunakan ijtihad terhadap masalah-masalah yang tidak didapati nasnya di dalam Alquran dan sunah Rasulullah saw. akan tetapi, diantara keempat sahabat besar itu, hanya Umar yang banyak diketahui memakai ijtihad. Walaupun demikian keempat sahabat itu sangat berhati-hati dalam mengeluarkan suatau pendapat yang merupakan hasil ijtihad. Abu Bakar apabila berijtihad dengan pendapatnya, selalu berkata: “Ini adalah pendapatku. Jika benar, itu dari Allah dan jika salah itu dari saya. Saya memohon ampun atas kesalah itu.” Umar pernah mengatakan: “Ini pendapat Umar. Jika benar, itu dari Allah dan jika salah, itu dari Umar.” Selain dari keempat sahabat itu, adapula beberapa sahabat yang terkenal ijtihadnya, seperti Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asyari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’b dan Zaid bin Sabit.

Dewasa ini, alih-alih ijtihad membuka cakrawala baru bahkan menambah pekerjaan rumah yang telah menumpuk. Kenyataan ini menuntut sebuah langkah serius untuk membenahi dan menata kembali pranata ijtihad. Banyak sekali pertanyaan yang berkaitan dengan ijtihad yang selama ini jangankan dikaji dilirik pun tidak pernah. Sebagai contoh, apakah Allah memiliki hukum-hukum selain yang termaktub di Al-Qur’an dan hadits? Bila jawabannya adalah “tidak” maka ketika seorang pemikir Islam menyampaikan sebuah hukum sebagai hasil dari ijtihadnya, apa esensi hukum yang dihasilkannya? Apakah setara dengan Al-Qur’an dan hadits ataukah tidak? Seberapa besar kebenaran yang dikandungnya? Dengan kata lain, proses ijtihad dan hasilnya lebih memiliki sosok manusiawi dari pada Ilahi, hukum yang dihasilkan memang tidak punya kaitan dengan Allah, dan lain-lain. Bila jawabannya adalah ‘iya’ proses yang dilakukan dalam ijtihad adalah menyingkap hukum Allah. Pertanyaannya adalah seberapa jauh urgensi seorang pemikir Islam harus melakukan ijtihad? Hukum yang dihasilkannya, karena tidak termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits, disebut apa? Apa esensinya? Di sini proses ijtihad tidak murni manusiawi karena kesimpulan akhir yang ingin diraih adalah menyingkap hukum Allah. Dan masih banyak lagi pertanyaan seputar ijtihad yang belum digali.

  1. Definisi Ijtihad

Ijtihad sendiri dalam perkembangan maknanya tidaklah sesederhana yang dibayangkan selama ini. Kata ijtihad sendiri pernah menjadi biang sengketa yang sempat membuat Syiah tidak memakai kata ini. Hal itu karena Ahlus Sunnah menggunakannya dengan sebuah pemaknaan khusus. Para Imam Syiah dalam banyak hadits mengisyaratkan bahwa ijtihad yang dilakukan oleh ulama Ahlus Sunah adalah batil. Hal itu diikuti oleh ulama Syiah dengan menulis buku-buku yang intinya menolak ijtihad. Artinya, ijtihad sempat mendapat penilaian miring. Ijtihad untuk kedua kalinya dalam Syiah, mendapat kritikan-kritikan tajam oleh ulama yang mengatasnamakan dirinya Akhbariyun berhadap-hadapan dengan Ushuliyun.

Sebagaimana kata-kata kunci lainnya dalam islam, ijtihad adalah bahasa Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Sekalipun kamus-kamus bahasa Indonesia telah memaknainya namun hal itu tidak cukup untuk menjelaskan hakikat ijtihad itu sendiri. Perlu kajian khusus berkenaan dengannya guna menemukan arti yang sesungguhnya yang pada gilirannya kajian seputar ijtihad tidak lagi mengambang. Mengapa? Hal itu tidak lain dikarenakan beberapa pertanyaan berkaitan dengan ijtihad dengan sendirinya akan ditemukan jawabannya setelah maknanya menjadi jelas.

Kata ijtihad dalam bahasa Arab mengambil bentuk masdar tsulatsi mazid. Bila dikembalikan ke bentuk aslinya yang hanya memiliki tiga huruf ia menjadi jahada dan bentuk masdarnya ada dua; jahdun dan juhdun. Para ahli bahasa terbagi dalam pemaknaan dua kata ini. Ada yang menganggap keduanya memiliki satu arti sedangkan yang lainya meyakini masing-masing memiliki arti sendiri-sendiri.

Jauhari menuliskan: “Al-Jahdu dan al-Juhdu kedua-duanya memiliki arti kemampuan, oleh karenanya pada surat Taubah ayat 79 dapat dibaca kedua-duanya, Walladzina laa yajiduna illa jahdahum atau juhdahum.

Menurut Muhammad Abu Zahrah[1], secara bahasa ijtihâd berasal dari akar kata “jahada” (جـهـد) yang berarti mencurahkan segala kemampuan untuk mencapai sesuatu atau melakukan sesuatu, atau berarti pula bersungguh-sungguh. Adapun menurut istilah Muhammad Abu Zahrah[2] menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ijtihad adalah berikut ;

بـذ ل الـفـقـيه وســعـه فى اســتـنـباط الا حـكام الـعـمـلـيـة من ادلـتهـاالـتـفـصـيـليـة

Artinya ; Pengerahan kemampuan seorang faqih dalam menggali hukum-hukum yang bersifat amali dari dalil-dalinya secara rinci.

 

Kata ”al-Juhdu” tersebut tidak dapat digunakan kecuali dalam hal-hal yang mengandung unsur-unsur yang memberatkan atau menyulitkan. Misalnya kalimat ”ia berusaha keras untuk membawa batu besar”, dan tidak tepat juga kata itu dipakai dalam kalimat ”ia berusaha keras untuk membawa biji-bijian[3].

 

Imam al-Amidi mendefinisikan ijtihad sebagai berikut :

إستفراغ الوسع فى طلب الظنّ يشى  من الأ حكام الشرعيّة على وجه يحس العجزيذ عليه

“Mencurahkan semua kemampuan untuk mencari hukum syara’ yang bersifat dhanni, sampai merasa dirinya tidak mampu.

Ijtihad menurut istilah ushul fiqh sebagaimana dikemukakan Imam As Syaukani adalah: “Mencurahkan kemampuan untuk memperoleh hukum syara’ yang bersifat ‘amali/ praktis dengan jalan istinbath (mengeluarkan/ menyimpulkan hukum).” [4]

Definisi diatas kemudian dijelaskan oleh As-Syaukani

  1. Badzlul wus’i  (mencurahkan kemampuan), ini mengecualikan hukum-hukum yang didapat tanpa pencurahan kemampuan. Sedangkan arti badzlul wus’i adalah sampai dirinya merasa sudah tidak mampu lagi untuk menambah usahanya.
  2. Hukum syara’ itu mengecualikan hukum bahasa, akal, dan hukum indera. Oleh karenanya orang yang mencurahkan kemampuannya dalam bidang hukum (bahasa, akal, dan indera) tadi tidak disebut mujtahid menurut istilah ushul fiqh.
  3. Demikian pula pencurahan kemampuan untuk mendapatkan hukum ilmiah tidak disebut ijtihad menurut fuqoha’, walaupun menurut mutakallimin dinamakan ijtihad.
  4. Dengan jalan istinbath itu mengecualikan pengambilan hukum dari nash yang dhahir atau menghafal masalah-masalah, atau menanyakan kepada mufti atau dengan cara menyingkap masalah-masalahnya dari buku-buku ilmu. Karena hal-hal tersebut walaupun benar mencurahkan kemampuan menurut segi bahasa, namun tidak benar berijtihad menurut istilah.

Sebagian ahli ushul menambah definisi itu dengan kata-kata faqih (seorang ahli fiqh), maka jadinya “pencurahan kemampuan oleh seorang faqih”. Dalam hal ini karena pencurahan kemampuan oleh yang bukan faqih (ahli fiqh) itu bukan dinamakan ijtihad menurut istilah.[5]

  1. Fungsi Ijtihad

Walaupun al-qur’an sudah selama kurang lebih 23 tahun diturunkan secara berangsur-angsur, secara  sempurna dan lengkap, akan tetapi tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detil oleh al-qur’an maupun Al-Hadits. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya al-qur’an dengan kehidupan moderen. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan ajaran islam dalam kehidupan beragama sehari-hari tak terlepas ketika masa sahabat. Apa yang dikatakan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah dalam sebuah kaidah, sebagaimana dikutip oleh A. Djazuli, bahwa: “Hukum Islam itu berubah karena perubahan waktu, keadaan, adat dan niyat[6].

Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu, maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dan jelas ketentuannya dalam al-qur’an atau al-hadist. Seandainya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam al-qur’an atau al-Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam al-qur’an dan al-hadits, pada saat itulah maka umat islam memerlukan ketetapan ijtihad. Maka, hasil ijtihad kedudukannya sebagai tasyri’. Hasil ijtihad adalah untuk menjawab tantangan zaman yang tak pernah lekang oleh waktu dan kejadian baru.

  1. Definisi sahabat

Sering kita temukan istilah qaul shahabi dalam literatur ushul fikih ada beberapa istillah yaitu madzhab shahabi atau  fatwa shahabi. Sementara itu istilah sahabat biasa diartikan sebagai orang yang secara terus menerus menyertai seseorang, sehingga mengetahui seluk beluk pribadinya. Adapun arti shahabat Rasul menurut ulama ushul fiqih sebagaimana dikemukakan Jalaluddin al-Suyuthi bahwa shahabat Rasul adalah orang yang selalu berada dalam majlis Rasulullah dan selalu mengikuti jejaknya dan meriwayatkan hadis dari beliau[7]. Selain itu ada juga  pengertian sahabat seperti dikemukakan oleh Musthafa Sa’id al-Khinn bahwa sahabat Rasul adalah orang yang bertemu Nabi, beriman, percaya dan meyakini atas segala apa yang dibawanya (Risalahnya), hidup bersama dengan beliau dalam waktu lama sehingga dikatakan sahabat menurut adat kebiasaan (‘urf)[8]. Menurut imam Bukhori, “Barang siapa yang berteman dengan Rasulullah dan dia seorang yang mukmin, maka dia adalah sahabat Nabi SAW”. Sedangkan menurut Ali bin al-Mudzaini, sahabat ialah orang yang bersahabat dengan Rasulullah SAW, atau melihat Rasulullah SAW dalam satu hari walau hanya satu jam saja dalam sehari, dia adalah sahabat. Sedangkan menurut Sa’id bin Musayyab, tidak dikatakan sebagai seorang sahabat terkecuali telah berkumpul dalam satu majlis dengan Rasulullah SAW paling sedikit satu tahun atau dua tahun, juga telah ikut berperang dengannya walau hanya satu kali atau dua kali saja. Beda lagi menurut imam Ibnu Hajar, beliau memaknai sahabat dengan makan yang literlek, yaitu, orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, dan beriman kepadanya, serta mati dalam keadaan islam[9].

Pengertian sahabat yang dikemukakan ulama ushul memberikan indikasi terhadap sahabat atau orang yang dapat diterima beritanya dalam penetapan hukum. Karena tidak mungkin seseorang yang hanya bertemu sebentar dapat mengetahui dan memahami begaimana sepak terjang Rasulullah SAW selama proses tasyri’ berlangsung. Selain itu, banyak penetapan hukum yang didahului oleh peristiwa yang telah terjadi di masyarakat atau yang bersifat pertanyaan. Sehingga orang yang menyaksikan langsung dapat memahami status hukum suatu peristiwa tersebut. Di antara sahabat Rasul yang secara terus menerus menyertainya adalah: Khulafaur Rasyidin, Abdullah bin Mas’ud, Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, ‘Aisyah, Ummu Salamah dan isteri-isteri Rasul, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Muadz bin Jabal, dan Abu Musa al-Asy’ari.

  1. Sahabat Terbagi Menjadi Dua Golongan
  2. Golongan para pembesar sahabat Rasul SAW ialah mereka yang lama duduk bermajlis dengan Rasulullah SAW ( Kibarus Shahabah), atau mereka yang masuk islam duluan (beradsarkan lamanya bersama Nabi), misalnya, Abu Bakar as-shiddi, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, Abdullah ibnu Mas’ud, Said al-khudri, dll. Jika suatu hukum islam, ijtihad atau ketepan, bahkan hasil ijma’ dari golongan ini, maka tidak perlu diragukan lagi kebenaran dan wajib diikuti, karena mereka yang lebih tahu dan paling faham dengan turunnya alquran serta mengetahui langsung hadits dari Rasulullah SAW. Dan mereka dijamin keadilannya (al-adalah) dalam fatwa-fatwanya.
  3. Golongan sahabat yang ini adalah sahabat yang duduk bermajlis, bermu’asyiroh dengan Rasulullah SAW dalam rentang waktu yang tidak begitu lama( Shigharus Shahabah) atau masuk islamnya yang paling terkahir (masa menjadi sahabat Rasul hanya sebentar). Masa ini bermula sekitar tahun 41 H. salah satu dari sahabat yang termasuk shigharus shahabah adalah Mu’awiyah bin Abi Sofyan dan Abdullah ibnu Umar[10].
  4. Ijtihad Sahabat

Setelah Nabi wafat kegiatan ijtihâd dan penetapan tasyri’ berpindah ke tangan para sahabat[11]. Para sahabat melakukan kegiatan ijtihad sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, dan kecerdasan mereka masing-masing yang didukung dengan integritas, kecintaan dan kesetiaan mereka kepada agama yang dibawa oleh Nabi. Usaha yang dilakukan oleh para sahabat Nabi dalam rangka menggali hukum dalam permasalahan yang timbul kemudian dan tidak dijumpai dalam al-Qur’an dan sunnah. Dengan dipelopori oleh sahabat-sahabat besar seperti Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, dan sahabat terkemuka seperti Zaid bin Stabit, ‘Abdullah bin Mas’ud, dan lain sebagainya, mereka berijtihad ria.

Karena hukum Islam dapat dipahami melalui proses penalaran atau ijtihad. Dalam perkembangannya masing-masing periode memiliki corak dan dinamika tertentu (walau di masa para sahabat mereka tidak mempunyai metode khusus dalam berijtihad), sehingga hukum Islam beserta konsep-konsepnya akan semakin kokoh dan mantap dalam mengikuti perkembangan zaman dan evolusi manusia[12].

Ijtihad Sahabat adalah hasil buah pemikiran mereka yang kemudian menjadi hukum, ‘Tasyri”. Sejarah islam tidak akan pernah melupakan andilnya para sahabat dalam menanggapi segala urusana agama islam selepas wafatnya Rasulullah SAW. Sejarah islam mencatat bahwa tanggapan sahabat-sahabat terhadap berbagai permasalahan yang timbul menunjukkan adanya keragaman dan perbedaan ketika masa (Fatrah) sahabat. Bagi ulama-ulama yang berpandangan luas adanya perbedaan-perbedaan sahabat itu dinilai sebagai suatu rahmat bagi umat. Imam al-Syaukani dalam al-i’tisham sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahra, mengatakan bahwa “keragaman pendapat sahabat-sahabat adalah menjadi rahmat bagi umat”. Senada dengan itu diriwayatkan bahwa Umar Ibn Abd al-Azis berkata: “sama sekali aku tidak suka seandainya para sahabat Rasulullah tidak berbeda pendapat. Karena sekiranya hanya ada satu pendapat, sesungguhnya manusia akan berbeda dalam kesulitan.”

  1. Sumber-sumber Ijtihad Sahabat

Sumber-sumber landasan pengambilan hukum para sahabat berdasarkan Alquran, Sunnah Nabi SAW, dan Ijma’. Sunnah pada masa Nabi SAW belum tertulis sedemikian komplitnya, sehingga belum tertata rapi semuanya, dikarenakan Rasulullah SAW tidak mengijinkan para sahabatnya untuk menulis al-hadits, supaya tidak bercampur dengan alquran. Oleh sebab itu, walaupun dimasa Rasulullah SAW ada salah satu sahabat yang menulis hadits, yaitu Abdullah ibnu Umar (Rasulullah SAW memberi ijin untuk menulis hadits), akan tetapi apa yang ditulis oleh beliau hanya berbentuk mudzakarot (Ringakasan/catatan) saja tidak berbentuk seperti buku yang sekarang[13].

Disamping itu, sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Hasan[14], bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat tersebar diberbagai pelosok daerah dan pelosok Islam. Umumnya mereka menduduki posisi kepemimpinan keagamaan dan intelektual. Mereka menjadi tempat bertanya orang-orang di daerahnya untuk dimintai keputusan berkaitan dengan berbagai persoalan, sehingga pastinya para sahabat dituntut untuk berijtihad dengan landasan alquran, sunnah, dan ijma’.

  1. Metode Ijtihad Sahabat

Sudah pastinya sebagai langkah pertama, para sahabat akan merujuk kepada al-Quran dan sekiranya jelas hukum yang terdapat di dalam al-Quran maka mereka akan menerimanya tanpa ada bantahan. Sekiranya tidak ada nash di dalam al-Quran,  maka mereka akan kembalikan kepada al-hadits, bila tidak ditemukan juga maka sahabat konfirmasikan dan berkonsultasi dengan sesama sahabat untuk menetapkan hukum[15]. Menurut Abu Zahrah ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat, beliau menulis: “Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah, dan tidak melewatinya; ada pula yang berijtihad dengan ra’yu (akal, atau landasan pendapat dari akal) bila tidak ada nash, dan bentuk ra’yu-nya bermacam-macam; ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas’ud; dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat, bila tidak ada nash.”

Dengan demikian, zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum  dalam mengambil keputusan hukum (istinbath al-hukm) yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fikih.[16]. Sementara sahabat Umar Al-Khattab merupakan shahabat yang begitu masyhur dalam menggunakan metode “maslahah”. Terdapat juga dikalangan para sahabat yang memilih untuk tidak meriwayatkan hadits. Mereka lebih cenderung menggunakan pandangan mereka sendiri(ro’yu).

Terkadang ijtihad sahabat menyentuh mengenai masalah perseorangan. Terkadang juga menyentuh persoalan umum yang memerlukan kepada pertemuan dan perbincangan para fuqaha sahabat. Dalam perbincangan tersebut, para sahabat akan bertukar pandangan sehingga mereka mencapai kata sepakat. Namun, para sahabat dalam sebagian masalah yang dimusyawarahkan oleh mereka tidak mencapai kata sepakat, mereka akan terus ikhtilaf di antara sesama mereka. Namun, apapun hakikatnya perbedaan yang terhadi antara para sahabat telah meninggalkan khazanah keilmuan yang amat bernilai untuk diwarisi oleh zaman berikutnya.

Kegiatan ijtihad pada masa sahabat ini semakin meningkat, karena berhadapan dengan berbagai persoalan baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Islam semakin meluas ke berbagai Negara, bahkan ke berbagai benua ketika pembukaan islam (Futuhul islam). Menurut Amir Syarifuddin[17], kegiatan ijtihad pada masa sahabat ini dilandasi dengan dua bentuk ;

  1. Ijtihad dalam bentuk memberikan penjelasan terhadap nash yang telah ada, baik nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Sebagai contoh ijtihad shahabat dalam memahami firman Allah SWT dalam surat An-Nisa[18] ayat 11 yang berbunyi sebagai berikut ;

ولا بـويـه لـكل واحـد مـنـهـمـا الـسـد س مـمـا تـرك ان كان لـه ولـد فان لـم يـكـن لـه ولـدوورثــه ابــواه فــلأ مـه الـثـلـث …” (ا لنســـاء /٤ : ١۱ )

Artinya : ”Dan bagi kedua orang tuanya – ibu bapaknya — masing-masing mendapat seperenam bila pewaris meninggalkan anak, bila pewaris tidak meninggalkan anak yang mewarisinya adalah dua orang ibu bapaknya, maka ibunya mendapat sepertiga …”

 

Dalam memahami ayat ini, Zaid bin Tsabit[19] menafsirkan hak ibu sepertiga dalam keadaan tidak ada anak adalah bila yang menjadi ahli warisnya hanyalah ibu dan bapaknya saja. Bila bersama mereka ada suami atau isteri, maka hak ibu bukan sepertiga dari harta, tetapi sepertiga dari sisa harta setelah diberikan kepada ahli waris lain yaitu suami atau isteri. Sementara itu Ibnu Abbas[20] menafsirkan ayat di atas berbeda dengan Zaid bin Tsabit, dimana Ibnu Abbas memahami hak ibu sepertiga itu dalam keadaan ada ahli waris atau tidak. Ibnu Abbas tidak merasa perlu menta’wilkan dari sepertiga menjadi sepertiga sisa harta.

Disini terlihat bahwa suatu ketentuan hukum yang sudah ada dalam nash masih memerlukan ijtihad dan menimbulkan penafsiran yang berbeda di kalangan sahabat.

  1. Ijithad untuk menetapkan hukum yang baru bagi kasus-kasus yang muncul melalui cara-cara perbandingan atau mencari persamaannya dengan ketentuan hukum yang telah ada penjelasannya dalam nash.[21] Cara-cara seperti ini bisa dilakukan oleh para sahabat dalam menghadapi kasus-kasus baru yang tidak ditemukan jawabannya secara tekstual di dalam nash. Cara inilah yang kemudian dikenal dengan konsep qiyas. Beberapa contoh dapat dikemukakan seperti menetapkan jabatan khalifah (pemimpin urusan dunia) diqiyaskan kepada jabatan imam shalat-shalat berjama’ah yang pernah diserahkan kepada Abu Bakar. Jalan pikiran para sahabat ketika ini menetapkan jabatan khalifah itu adalah melalui qiyas. Banyak kasus-kasus baru yang muncul pada masa sahabat ini yang menuntut mereka untuk melakukan ijtihad bahkan Umar Ibnu Khatab[22], dalam menghadapi kasus-kasus baru ini pernah mengatakan kepada Abu Musa al-Asy’ari ketika menjadi Hakim di Basrah, “Pahamilah dengan seksama berdasarkan ilmu yang engkau miliki tentang apa yang tidak engkau temui jawabannya dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan carilah persamaan-persamaannya dan analogikan dengan sesuatu yang telah ada di dalam nash al-Qur’an dan As-Sunnah”.

 

  1. Ijtihad Sahabat Dimasa Nabi
  2. Ketika tidak bersama Nabi

Suatu ketika beliau menginstruksikan kepada kaum muslimin untuk berangkat ke perkampungan Bani Quraidhah. Beliau bersabda, “Jangan ada seorang pun di antara kalian yang shalat Ashar, kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para sahabat sama-sama mendengar sabda Nabi SAW ini. Sebagian memahaminya secara tekstual, bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah. Namun, sebagian sahabat memahami bahwa sabda Nabi SAWini merupakan instruksi untuk mempercepat perjalanan ke perkampungan Bani Quraidhah, sehingga mereka bisa sampai di sana pada waktu Ashar dan bisa melaksanakan shalat Ashar pada waktunya. Kenyataannya, waktu Ashar hampir habis, sementara mereka belum tiba di perkampungan Bani Quraidhah. Maka, sebagian sahabat segera melaksanakan shalat Ashar, karena mengikuti dalil-dalil yang mengharuskan pelaksanaan shalat pada waktunya. Sementara sebagian lain menunda shalat hingga tiba di perkampungan Bani Quraidhah berdasarkan makna tekstual sabda Nabi saw. yang baru mereka dengar. Serta hadits Nabi yang menerangkan ketika Nabi Muhammad SAW mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman.

  1. Ketika bersama Nabi

Ketika itu umat Islam memenangkan pertempuran Badar dan banyak tentara musuh yang tertawan. Rasulullah saw. bertanya kepada sahabat-sahabatnya mengenai tawanan perang tersebut, lalu Umar bin Khatab menjawab: “Tawanan perang itu hendaknya dibunuh.” Sedengkan Abu Bakar as-Siddiq, menyatakan, agar tawanan itu dibebaskan dengan syarat membayar fidyah (denda). Rasulullah SAW mengambil keputusan agar tawanan itu dibebaskan dengan membayar fidyah. Keputusan yang diambil Rasul adalah hasil dari ijtihad sahabat meskipun keputusan ini adalah merupakan ijtihad Rasulullah SAW.

  1. Ijtihad Sahabat Setelah Wafatnya Nabi

Ahmad Hasan[23] mengemukakan suatu kasus yaitu sekali waktu Ibnu Mas’ud dikabarkan pernah ditanya apakah seorang wanita sepatutnya diberikan mahar jika suaminya meninggal sebelum menetapkan besar maharnya itu dan sebelum keduanya bercampur. Ibnu Mas’ud pada kali pertama menjawab bahwa ia belum pernah mendengar sesuatu dari Rasulullah mengenai masalah tersebut. Akan tetapi ketika ia dimintai saran, ia berpendapat bahwa perempuan itu harus diberi mahar sebanyak rata-rata mahar perempuan pada tingkat sosial yang sama.

Lebih jauh Ibnu Mas’ud menyarankan bahwa perempuan tersebut berhak menerima hak waris penuh dari harta warisan suaminya dan baginya ada ‘iddah. Dikabarkan bahwa Ma’qil bin Sinan (w.63 H) ketika itu hadir dalam kejadian itu dan mengatakan bahwa Rasulullah dahulu telah memberikan keputusan yang serupa. Akan tetapi, Ibnu Umar (w.73 H), dan Zaid bin Tsabit (w.45 H) telah memberikan keputusan yang berbeda dalam kasus yang sama. Menurut mereka janda seperti tersebut di atas tidak akan memperoleh mahar sedikitpun, tetapi  hanya memperoleh bagiannya dalam warisan[24]. Orang-orang Irak mengikuti pendapat Ibnu Mas’ud dan menolak pendapat keputusan Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit.

 

Penulis akan mencoba mengemukakan sebab perbedaan yang muncul di kalangan sahabat. Tulisan ini berusaha dikemas dalam bentuk toleransi yang tinggi, sehingga menghindari pemikiran yang mengkrucut kepada keberpihakan prinsip, apakah sahabat itu ‘adl atau gairu ‘adl (sahabat adil atau tidak adil).

  1. Sebab-sebab Perbedaan Ijtihad Sahabat:
  2. Sudah mafhum bahwa Alquran melarang seorang wanita yang bercerai, menikah dengan pria lain sebelum habis masa iddah (menunggu)nya. Di masa Umar r.a. terdapat kasus, seorang janda melanggar aturan ini, menikah dengan pria lain ketika masa iddahnya belum habis. Sebagai pemegang otoritas, Umar ibnul Khattab r.a. menjatuhkan hukuman terhadap kedua orang ini dan memutuskan tali perkawinan mereka berdua ini. Kemudian Umar r.a. berkata: “Perempuan manapun yang dinikahkan pada masa iddahnya, jika suami yang memperistrikannya sempat dukhul maka keduanya diceraikannya dan perempuan itu beriddah dengan sisa iddahnya dari suami yang pertama kemudian laki-laki itu melamar seperti pelamar-pelamar lain. Bila terlanjur dukhul maka keduanya diceraikan kemudian perempuan itu beriddah dengan sisa iddah suami kedua, kemudian laki-laki itu tidak boleh mengawininya selama-lamanya.” Ali berkata “jika isteri telah habis iddahnya dari suami yang pertama, maka orang lain jika mau boleh memperistrikannya”. Keduanya berbeda pendapat dalam mengekalkan haramnya nikah atas suami yang kedua setelah dukhul dengan perempuan yang sedang beriddah. Tentang kasus semacam ini tidak terdapat di dalam Alquran maupun as-Sunnah. Ali r.a. dalam menjawab masalah ini berpegang pada prinsip umum, tidak ada larangan abadi. Maka cukuplah diberikan hukuman fisik dari perceraian, serta iddah ganda. Sementara Umar r.a. dalam mengambil sikap keras itu karena menutup pintu kesalahan yang sama bagi orang lain.
  3. Abu Bakar tidak memberikan warisan kepada saudara-saudara kakek. Adapun Umar memberikan bagian mereka. Abu Bakar menjadikan kakek sebagai ayah dan saudara tidak mewaris bersama ayah, berdasarkan nash dan Umar tidak menjadikannya demikian, dan Zaid bin Tsabit sependapat dengan ini.
  4. Ibnu Mas’ud berfatwa dan Umar bin Khattab menyetujuinya bahwa: wanita yang dicerai, tidak haidnya yang ketiga. Zaid bin Tsabit berfatwa, bahwa: wanita itu keluar dari iddahnya kapan saja ia masuk dalam haid yang ketiga. Tempat timbulnya perbedaan adalah perbedaan mereka dalam kata quru’, apakah quru’ itu berarti suci sebagaimana dipahamkan oleh Zaid bin Tsabit dan orang lain apakah quru’ itu haid, sebagaimana dipahamkan oleh Ibnu Mas’ud.
  5. Umar bin Khattab berfatwa bahwa: wanita yang dicerai putus (Thalak Bain) itu, mendapat nafkah dan tempat tinggal. Ketika sampai pada hadits Fathimah binti Qais bahwasanya Rasulullah tidak memberikan nafkah dan tidak pula tempat tinggal baginya setelah perceraian yang ketiga, maka ia berkata: kita tidak meninggalkan kitab Tuhan dan Sunnah Nabi kita karena perkataan seorang perempuan yang barangkali ia hafal atau lupa.
  6. Umar dan Ibnu Mas’ud menetapkan bahwa: iddah perempuan hamil yang kematian suaminya ialah sampai ia melahirkan kandungannya. Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa: ketentuan iddah hamil adalah pengecualian (Mukhashshis) dari iddah wafat, karena surah al-Thalak diturunkan sesudah al-Baqarah. Berbeda dengan itu, Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abbas berpendapat bahwa: terhadap perempuan tersebut diberi iddah yang panjang dari iddah hamil dan wafat.
  7. Abu Musa al-Asy’ari berfatwa bahwa: cucu perempuan (anak perempuan dari anak laki-laki) tidak mendapat warisan bila ia mewarisi bersama anak perempuan dan saudara perempuan, akan tetapi setelah kasus yang sama diajukan kepada Ibnu Mas’ud, ia menetapkan sesuai dengan keputusan Rasulullah yaitu bagi anak perempuan seperdua, cucu perempuan seperenam dan sisanya untuk saudara perempuan.

Menurut penelaahan para ahli faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat para sahabat secara garis besarnya berkaitan dengan tiga hal. Yaitu Alquran, Sunnah Rasul. Dan ijtihad itu sendiri.

  1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Alquran antara lain:
  2. Adanya kosa kata yang mengandung arti ganda seperti kata quru’ (قرْء) dalam firman QS. 2:228. والمطلقات يتربّصْن بانْفسهنّ ثلاثة قروْءٍ”Wanita-wanita yang dithalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru”.

Karena kosakata tersebut mengandung arti haid dan suci sekaligus, maka berdasarkan alasan penguatan masing-masing dikabarkan bahwa Umar Ibn Khatab dan Ibn Mas’ud memfatwakan bahwa: iddah wanita yang dithalak berakhir setelah selesai siklus haid yang ketiga. Akan tetapi Zaid bin Tsabit, karena ia mengartikan kosakata quru’ itu dengan suci, maka setelah masuk pada siklus haid yang ketiga.

  1. Adanya kosakata yang dapat diartikan secara denotatif (al-haqiqah) dan konotatif (majaz), seperti kosakata Abb ( أب ) bisa diartikan “ ayah “ secara donotatif dan bisa diartikan “ kakek “ secara konotatif. Dalam hal ini terjadi perbedaaan pendapat dalam menempatkan kakek. Bagi yang menempatkan kakek sebagai arti konotatif dari ayah, maka ia bisa menghambat ( hijab ) saudara dari menerima waris. Inilah pendapat Ibnu Khattab, Zaid bin Tsabit, Ali Ibn Abi Thalib memandang bahwa kepada saudara laki-laki dari si mayit hendaklah diberikan warisan bersama-sama kakek dengan cara berbagi, karena mereka mempunyai kedudukan yang sama dalam hubungan dengan si mayit, yaitu sama- sama dihubungkan melalui ayah.
  2. Terdapat dua hukum yang berbeda dalam dua persoalan, yang diduga salah satunya mencakup sebagian yang terkandung dalam bagian itu terdapat perlawanan. Contoh adalah ayat tentang wanita yang ber iddah wafat. Ayat itu mewajibkan untuk menanti selama empat bulan sepuluh hari, dan diduga ini mencakup orang yang hamil. Dan ayat thalak menjadikan iddah wanita yang ditinggal mati dan hamil adalah ragu-ragu antara yang terkandung oleh ayat pertama sehingga atas wanita itu wajib menanti empat bulan sepuluh hari meskipun ia melahirkan sebelum itu (empat bulan sepuluh hari) pengamalan terhadap ayat cerai.
  3. Adapun faktor-faktor yang berkaitan dengan sunnah antara lain sebagai berikut:
  4. Karena sunnah terhimpun dan belum ada kesepakatan yang menghimpunnya, guna disebarluaskan dikalangan kaum muslimin, sebagai tempat kembali mereka secara serentak tetapi sunnah pada waktu itu dipindah-pindahkan dengan hafalan dan riwayat, yang kadang-kadang diketahui oleh seorang mufti yang lain di Damaskus. Dan banyak mufti-mufti yang menarik kembali fatwanya setelah mengetahui suatu hadis yang selama ini belum diketahui.
  5. Terjadi perbedaan penilaian hadits yang mengakibatkan timbulnya perbedaan pendapat. Seperti yang diriwayatkan bahwa Umar Ibn Khattab menolak riwayat Fathimah Binti Qais karena dianggap kontradiktif dengan Alquran, juga kecuruigaannya terhadap kemampuan hafalan perempuan itu. Umar berpendapat atas dasar Alquran surah al-Thalaq ayat 6 bahwa : perempuan yang ditalak tiga wajib diberi nafkah dan tempat tinggal selama dalam iddah, akan tetapi karena penilaiannya berbeda, Ibnu Abbas menerima riwayat Fathimah, sehingga perempuan yang ditalak tiga tidak wajib diberi nafkah dan tempat tinggal.
  6. Adanya kehati-hatian sahabat dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Seperti keengganan Abu Bakar pada mulanya untuk menerima riwayat al-Mughirah Ibnu Syu’bah yang mengatakan bahwa : Rasulullah saw memberikan seperenam harta warisan untuk nenek. Setelah Muhammad Ibnu Maslamah tampil sebagai periwayat kedua, barulah Abu Bakar melaksanakan ketentuan tersebut sesuai dengan tuntutan seorang nenek yang datang kepadanya.
  7. Adanya sunnah Rasul yang bersifat kondisional dan temporal. Seperti yang diriwayatkan bahwa Umar berpendapat, talak tiga diucapkan sekaligus pada masa kekhalifahannya dihitung jatuh tiga. Untuk itu Umar beralasan bahwa kondisi ummat pada masa Rasulullah saw dan Abu bakar, dan dua tahun awal pemerintahannya tidak sama dengan masa-masa sesudahnya.

Mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan ijtihad, perbedaan pendapat umumnya disebabkan perbedaan sahabat dalam menggunakan ra’yu dalam memecahkan persoalan-persolan yang tidak terdapat ketentuannya baik di dalam Alquran maupun sunnah. Perbedaan-perbedaan yang disebabkan olah perbedaan pendapat pribadi ini erat kaitannya dengan kepekaan intelektual sahabat-sahabat itu sendiri. Sahabat yang paling menonjol dalam menggunakan pendapat pribadi ( ra’yi ) menurut Ahmadin ialah Al-Khathab.

Bahwa perbedaan-perbedaan pendapat masa ini tidak banyak, karena keputusan mereka sekedar peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu tidak dikukuhkan. Dan sedikit fatwa-fatwa itu yang berasal dari pendapat mereka setelah mereka berijtihad dan membahasnya. Orang-orang yang terkenal mengeluarkan fatwa pada masa ini ialah para khalifah empat ( khulafur- al-rasyidun ), Abdullah Ibn Mas’ud, Abu Musa al-asy’ari, Muaz Ibn Jabal , Ubay Ibn Kaab dan Zaid bin Tsabit. Diantara mereka yang banyak berfatwa adalah Umar Ibn al-Khathab, Ali Ibn Abi Thalib, Abdullah Ibn Mas’ud, dan Zaid Ibn Tsabit.

  1. Kekuatan hujjah Madzhab Sahabat

Mayoritas ulama ushul sepakat, bahwa madzhab sahabat dalam masalah ijtihad bukanlah dalil bagi sahabat mujtahid yang lain, bagi khalifah, hakim,atau mufti. Namun, mereka berselisih mengenai status qaul shahabat sebagai hujjah bagi para tabi’in dan mujtahid setelah mereka. Madzhab Asy’ariyah, Mu’tazilah, Syafi’I, Ahmad dalam satu qaulnya dan al-Karkhi pengikut Hanafi menyatakan bahwa qaul sahabat bukanlah dalil. Sementara, Malik bin Anas, al-Razi, al-Bazdawi, al-Syafi’i dalam satu qaulnya dan Ahmad dalam satu riwayat menyetakan bahwa qaul sahabat adalah dalil yang harsu dikedepankan dari pada qiyas.

Alasan pendapat yang  menjadikan qaul sahabat sebagai dalil dasarnya adalah al-Kitab dan  al-Sunnah.

  1. Dalil-dalil dari Alquran

                كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله(ال عمران:110)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.”

              يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا(النساء: 59)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Ayat di atas menyuruh mengembalikan semua permasalahan kepada al-Quran dan sunnah. Sedangkan yang lain bukan sebagai rujukan manakala ada perselisihan. Qaul sahabat bukan al-Quran atau sunnah sehingga tidak dapat dijadikan dalil. Selain itu, qaul sahabat itu merupakan hasil ijtihad sahabat yang mungkin benar atau salah. Sesuatu yang mungkin benar atau salah tidak dapat dijadikan hujjah. Akan tetapi hujjahnya diutamakan dari pada hujjah yang lainnya.

وَمَنْ يُشَاقِقْ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا: النساء:115

Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu [Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Dan yang dimaksud dengan orang-orang iman disini adalah para sahabat, karena merekalah yang dimaksud dengan ayat ini di saat ayat ini diturunkan (dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin ) mereka adalah para sahabat Rasulullah SAW.

  1. Dalil-dalil dari Hadits Nabi

عن بُسْرِ بن سَعِيدٍ عن أبي قَيْسٍ مولى عَمْرِو بن الْعَاصِ عن عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قال إذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وإذا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ قال فَحَدَّثْتُ بهذا الحديث أَبَا بَكْرِ بن حَزْمٍ فقال هَكَذَا حدثني أبو سَلَمَةَ

Jika seorang hakim berijtihad dan tepat, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika seorang hakim berijtihad dan tidak tepat, maka dia mendapatkan satu pahala[25].

Selanjutnya, Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud[26], yang popular dikenal di kalangan ulama dengan hadis Muaz Ibnu Jabal berikut ini juga merupakan landasan dalam melakukan ijtihâd.

قـال كـيـف تـقـضي اذا عـرض لك قـضاء. قـال اقـضى بـكـتـاب الله ، قـال فـاء ن لـم تـجـد فى كـتاب الله قـال فــبـسـنـة رسـول الله صلى الله عـلـيه وســـلم قـال فـاءن لـم تـجـد فى ســنـة  رسـول الله صلى الله عـلـيه وســـلم ولا فـى كــتـاب الله  قــال اجـتـهـد رأيـي ولا الـوا. فـضـرب رسـول الله صلى الله عـلـيه وســـلم صـدره. وقـال الحـمـد الـذي وفـق رســول الله. (ابو داود)

Artinya : Nabi bertanya kepada Muaz Ibnu Jabal, Bagaimana engkau memutuskan perkara apabila diajukan perkara itu kepada engkau ? Muaz menjawab Aku akan putuskan dengan kitab Allah (Al-Qur’an). Nabi bertanya kembali, bagaimana jika engkau tidak mendapatkannya didalam kitab Allah ? Muaz menjawab, aku akan putuskan dengan sunnah (Hadis) Rasulullah. Nabi bertanya lagi, bagaimana jika engkau tidak mendapatkannya baik dalam kitab Allah maupun dalam Sunnah.

اصحابى كالنجوم فبأيهم اقتديتم اهتديتم

(Sahabatku adalah bagaikan bintang, maka siapa pun di antara mereka yang kalian jadikan panutan, maka kalian akan mendapatkan petunjuk).

 

Walaupun ada kelompok yang tidak mengakui kehujjahan fatwa sahabat dalam masalah-masalah yang tidak ditetapkan oleh al-Quran dan Sunnah, namun nampaknya tidak dapat dibantah bahwa keberadaan sahabat sangat berjasa dalam hal penyampaian hukum islam. Para sahabat pula yang mengetahui bagaimana proses tasyri‘ serta metode Rasulullah dalam menetapkan hukum.

 

  1. Penutup

Ijtihad pasca Rasulullah, secara langsung melàlui tangan para sahabatnya, para sahabat ini telah mampu menjawab tantangan zaman setelah wafatnya Raulullah SAW. Dan rumusan ijtihad yang berbeda antara mereka itu terlihat ada kesamaan di antara mereka dalam memandang dua titik pada seorang mujtahid, yaitu tentang kepribadiannya dan kemampuannya sebagai kreteria tertentu yang tanpa syarat dan kriteria itu seseorang tidak akan dapat melakukan Ijtihad. Sesungguhnya Ijtihad merupakan kunci untuk menyelesaikan problema yang dihadapi oleh umat Islam sekarang dan yang akan datang, ia merupakan sumber ketiga ajaran Islam setelah alquran dan Hadits, inilah yang membuat Islam sesuai dengan tempat dan zaman (shalihun likulli zaman wa makan). Hal inilah yang dibuktikan oleh para Sahabat Nabi dan Ulama dari berbagai bidang keilmuan pada zaman keemasan

Sekilas untuk akhirnya, serba sedikit yang mampu penulis rincikan tentang ijtihad pada zaman sahabat. Semoga ketulusan hati para sahabat dalam mewariskan khazanah ilmu yang tiada tandingnya menjadi panutan bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu. Biar jasad kosong tanpa perhiasan emas, perak mau pun batu permata, namun sehendaknya penuhilah jasad kita dengan ilmu. Sekian, wallahu a’alam.

Daftar Pustaka

Abu Muhammad Zahro’ Tarikhul Madzahib, Al-Qahirah, Darul Fikri Al-‘Araby. 2009,

Bin Naif al-syuhud, Ali, Mausu’ah al-buhuts wel maqolah al-‘ilmiyah, Maktabah Syamilah

Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, (Madinah: al-‘Ilmiyyah, 1972), Cet II., H. 212.

Sa’id al-Khinn,  Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Ushuliyyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha, (Ttp: Muassasah al-Risalah, t.t.),   h. 530

Zakariya Al-Biri. 1975, Mashadir al-Ahkam al-Islamiyah. Kairo ; Dar al-Ijtihad

Amir Syarifuddin, 2001, Ushul Fiqh. Jilid II, Jakarta ; PT. Logos Wacana Ilmu, Cet. 2, halaman 241.

Ahmad Hasan; 1984. Pintu Ijtihâd sebelum Tertutup. Terjemahan Agah Garmadi, Bandung ; Pustaka, Cet. I, halaman 14.

As-Syaukani, Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haqq min ‘Ilmil Ushul, Darul Fikr, Beirut, tt, hal 250.

A.Djauli, et.al. Hukum Islam di Indonesia Pemikiran dan Praktek, Cet.I, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h.256.

 

Abdul Wahhab Khallaf, Khulashah Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, Terj.Wajidi Sayadi, Cet.I, (Jakarta: Grafindo Persada, 2001), h.55-56.

 

Abu Husain Muslim Hujjaj al-Qusyairy an-Naisabury, Sahih Muslim, Juz.5, (Kairo: Dar Ali Al-Kutub, 1996), h.131.

 

Muhammad Abu Zahrah, 1965, Ushul al-Fiqh, Mesr ; Dar al-Fikr al-Arabi

 

Sya’ban Muhammad Ismail. 1985, Al-Tasyrî’ al-Isâmî, Mashâdiruh wa Athwâruh, Kairo ; Maktabah al-Nakslah al-Misriyah, Cet.   Halaman 237-238

 

 

[1] Muhammad Abu Zahrah, 1965, Ushul al-Fiqh, Mesr ; Dar al-Fikr al-Arabi, halaman 379

[2] Ibid.

[3] Wahbah al-Zuhaily, Ushul al-Fiqh al-Islami Juz II (t.tp. : Dâr al-Fikr, t. th. ), h. 1037

[4] As-Syaukani, Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haqq min ‘Ilmil Ushul, Darul Fikr, Beirut, tt, hal 250.

[5] Ibid.

[6] A.Djauli, et.al. Hukum Islam di Indonesia Pemikiran dan Praktek, Cet.I, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h.256.

 

             [7]  Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi, (Madinah: al-‘Ilmiyyah, 1972), Cet II., H. 212.

  [8]  Sa’id al-Khinn,  Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Ushuliyyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha, (Ttp: Muassasah al-Risalah, t.t.),   h. 530

  [9]  Bin Naif, Ali, Mausu’ah al-buhuts wel maqolah al-‘ilmiyah, Maktabah Syamilah

[10] Abu Muhammad Zahro’ Tarikhul Madzahib al-islamiyah, Al-Qahirah, Darul Fikri Al-‘Araby. 2009.hal.262

[11] Sya’ban Muhammad Ismail. 1985, Al-Tasyrî’ al-Isâmî, Mashâdiruh wa Athwâruh, Kairo ; Maktabah al-Nakslah al-Misriyah, Cet.   Halaman 237-238

[12]  Muhammad Ali Al-Sayis, Nasy’at Al-Fiqhi li Ijtihadi wa-Atwaruhu, Cet.I, Terj.M.Ali

Hasan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), h.20.

[13] Abu Muhammad Zahro’ Tarikhul Madzahib al-islamiyah, Al-Qahirah, Darul Fikri Al-‘Araby. 2009.hal.262

[14] Ahmad Hasan; 1984. Pintu Ijtihâd sebelum Tertutup. Terjemahan Agah Garmadi, Bandung ; Pustaka, Cet. I, halaman 14.

[15] Abdul Wahhab Khallaf, Khulashah Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, Terj.Wajidi Sayadi, Cet.I,

(Jakarta: Grafindo Persada, 2001), h.55-56.

 

 

[16] Abu Muhammad Zahro’ Tarikhul Madzahib al-islamiyah, Al-Qahirah, Darul Fikri Al-‘Araby. 2009.hal.262

[17] Amir Syarifuddin, 2001, Ushul Fiqh. Jilid II, Jakarta ; PT. Logos Wacana Ilmu, Cet. 2, halaman 241.

[18] Al-qur’an surat An-Nisa’ / 4, ayat 11.

[19] Amir Syarifuddin, op.cit, halaman 242

[20] Ibid.

[21] Ibid.

[22] Zakariya Al-Biri. 1975, Mashadir al-Ahkam al-Islamiyah. Kairo ; Dar al-Ijtihad, halaman ….

[23] Ibid.

[24] Ibid.

[25] Abu Husain Muslim Hujjaj al-Qusyairy an-Naisabury, Sahih Muslim, Juz.5, (Kairo: Dar Ali Al-Kutub, 1996), h.131.

[26] Abu Dawud, t.t, Sunan Abu Daud, Juz III, Bandung ; Maktabah Dahlan, halaman 303

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *