Ijtihad Pada Masa Tabi’in (Penghubung Dua Generasi; Sahabat dan Imam Madzhab)

Oleh: Abdillah, Lc.

 

PENDAHULUAN

Ijtihad pada masa tabi’in adalah sebuah fase yang sangat urgen diketahui. Tidak sekedar untuk orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan hukum islam, namun juga sebenarnya penting untuk khalayak umum pada zaman sekarang ini. Karena ini menyangkut sejarah umat islam itu sendiri.

Ijtihad pada masa tabi’in bisa diartikan adalah usaha maksimal untuk istimbath hukum sekitar mulai pertengahan abad kedua dalam perkembangan sejarah Islam, dilakukan oleh mujtahid generasi setalah sahabat rasul yang dikenal dengan sebutan tabi’in. Masa tabi’in ditinjau dari sejarah perkembangan hukum syar’i, merupakan sebuah titik perantara antara era sahabat dan era imam madzhab. Dan dengan demikian akan bertambah penting untuk mengetahui apa saja yang terjadi dalam masa ini yang berkaitan dengan perkembangan ilmu hukum syar’i, dalam secara terperinci mengetahui pembahasan ijtihad pada masa tersebut.

Berbeda dengan Aqidah, hukum syar’i dalam agama islam berkembang. Tidak saja dimulai dari zaman rasul kemudian masa setelahya tapi juga sebelum datangnya islam yang dibawa oleh nabi terakhir Muhammad saw. seperti hukum syar’i mengalami perkembangan pada masa nabi Adam as., Musa as., samapai nabi yang nabi Isa as. Dalam sirah nabawi rasulullah saw. Yang ditulis oleh Ramadhan Al-Buty juga dijelaskan bahwa tidak ada perbedaan dakwah para nabi tentang masalah aqidah, karena aqidah merupakan kabar yang diyakini dan tidak mungkin berbeda antara para pembawa risalah.[1] Berbeda dengan syariat berkembang seiring berkembang dan bergantinya zaman dan waktu.

1

Sesuai dengan tujuannya maka sangat luwes ketika hukum syar’i itu berkembang. Tujuan hukum syar’i tidak ada lain kecuali untuk membangun tatanan hidup bermasyarakan dan individu.[2] Menuju tatanan yang lebih baik selaras dengan apa yang di perintahkan Allah dan rasulnya dalam al Qur’an dan Hadits. Dengan perkembangan zaman dan perbedaan umat yang hidup di zaman tersebut menjadikan hukum syar’i juga ikut berkembang. Karena memang asas syariat adalah untuk kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat yang dibawah oleh tiap tiap rasul yang diutus pada zamannya.

Sampai juga pada masa setelah wafatnya Rasulullah saw. Maka Sahabat, Tabi’in dan generasi setelahnya akan mengembang dakwah aqidah dan syariat. Aqidah tidak berkembang, sedangkan syariat berkembang seiring berkembangnya zaman tempat dan bergantinya umat. Perkembangan hukum syar’i yang berkembang dan bisa bertahan dengan metode ijtihad.

Ijtihad sebagai metode pengambilan hukum syari dari dalil dan sumber terperinci secara nash atau kaidah umum dalam al Quran dan Hadits yang menjadi ruh syariat secara. Ijtihad merupakan sebuah olah fikir yang bergerak maju berkembang dan senantiasa ikut terhadap baru perkembangan zaman. Di butuhkan oleh umat islam dalam setiap era tidak terkecuali masa tabi’in.

Dalam makalah berikut kami akan menjelaskan tentang ijtihad pada masa tabi’in, periode ketiga setelah rasul  dan sahabat. Yang mana akan menjelaskan bagiaman perkembangan ijtihad pada masa ini, bagaimana para tabi’in berijtihad dan mengetahui sebab ijthad pada masa tabi’in serta dampaknya dalam hukum syar’i bagi generasi selanjutnya. Ketika berijtihad, metode apa yang digunakan oleh mujtahid pada masa tabi’in. Apa kekhususan ijtihad pada masa tabi’in.

 

PEMBAHASAN

  1. Ijtihad Pada Masa Tabi’in

Hukum dalam Islam berkembang sesuai dan bisa diterapkan disetiap zaman dan tempat. Perkembangan zaman dan peralihan tempat tidak menjadi sebuah penghalang dalam penerapan syar’i. Hukum syar’i selalu sesuai dengan realitas kekinian yang berkembang. Dan ini bisa kita lihat dari eksistensi hukum syar’i yang sampai sekarang masih dikaji perkembangannya. Sedangkan ijtihad adalah jalan penyelarasan atas hukum dan peristiwa yang terjadi. Ijtihad bukan sebuah upaya penghancuran atas hukum islam karena dia selalu berada dalam naungan syar’i. dan adalah Allah SWT sumber syariat yang hakiki.[3]

Pada masa tabi’in, hukum syar’i terus berkembang  berlandaskan sumber hukum islam yang asli, Al Quran dan Hadits. Segala permasalahan yang baru, maka para tabi’in mengikuti metode para sahabat akan melihat  hadits rasul dan menambahkan sumber pengambilan hukum atas ijtihad para sahabat namun ketika mereka tidak menemukan dalam ijtihad sahabat maka mareka akan menggunakan ijtihadnya sendiri dengan tetap mengambil asal dari alquran sunnah dan atsar sahabat tadi. Menimbang mana yang sesuai dengan permasalahan kekinian dengan tetap pada sumber awal, Al Quran dan Hadits.

Secara luas ketika kita berbicara tentang ijtihad pada masa tabi’in maka kita tidak akan terlepas dari sejarah bagaimana ijtihad sebelumnya. Yang kami maksud adalah, bagaimana perkembangan ijtihad pada dua masa sebelum tabi’in. yaitu masa rasul dan masa sahabat rasul. Mengetahui dan faham dengan benar bagaimana perkembangan hukum syar’i dan ijtihad pada dua fase ini akan sangat membantu kita untuk memahami ijtihad pada masa tabi’in. karena ini merupakan sejarah yang saling berhubungan dan tak terpisahkan. Barulah setelah itu kita akan mudah menjelaskan ijtihad tabi’in secara khusus.

Hukum tasyri dan ijtihad pada masa rasulullah belum begitu luas dan hanya terpaku pada hal yang sendang dihadapi oleh umat islam. Bisa dikatakan relatif singkat. Hanya 22 tahun beberapa bulan[4] terhitung sejak resmi Muhammad saw. diangkat menjadi rasul. Sampai beliau wafat 11H/632M. Kekuasaan tasyri’ yakni pembentukan undang undang pada masa ini ada ditangan Rasulullah saw. Sendiri.[5] Tidak ada satupun dari orang lain baik itu berupa kumpulan orang atau individu yang menjadi rujukan kembali masa hukum selain rasul. Semua permasalahan yang ditemukan oleh sahabat dikembalikan seutuhnya kepada rasul. Sumber hukum hanya Al Quran dan Ijtihad rasul sendiri.

Adapun ijtihad pada masa itu juga masih sebatas ijtihad rasul. Rasulullah ketika mendapati permasalan hukum maka beliau akan menunggu wahyu dari Allah SWT. Dan kalau tidak ada wahyu yang turun rasul akan berijtihad. Dalam ijtihadnya rasulullah kadang meminta pendapat daripada sahabat. Dan terkadang tidak. Setelah berijtihad, rasul ketika benar terkadang turun wahyu untuk menguatkan namun ketika beliau salah wahyu Allah SWT turun untuk membenarkan. Dan rasul tidaklah berkata kecuali merupakan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dalam beberapa riwayat, kita temui para sahabat pada masa rasul berijtihad dengan pemahaman mereka dan bahkan diberi wewenang oleh rasul seperti Muadz Bin Jabal ketika dia diutus ke Yaman. Namun ini tidak tetap tidak menafikan bahwa rasul tetap menjadi seorang diri yang memutuskan Hukum. Karena hal ini hanya pada waktu-waktu tertentu saja serta ada berbagai dzuruf  yang menhalagi seperti jarak yang jauh untuk bertemu rasul. Dijelaskan dalam Tarikh Tasyri Abdul Wahhab Khallaf bahwa situasi ini bukanlah sebagai suatu tasyri tapi merupakan penerapan hukum[6]. Kecuali ada pengakuan dari Rasulullah saw..

Begitupun pada masa sahabat. Bermula pada masa wafatnya Rasulullah saw. Sampai pada akhir abad I yang mana perundang undangan atau hukum syar’i di motori oleh tokoh sahabat. Diantara sahabat ada yang hidup sampai tahun 93 H seperti Anas bin Malik.[7] Masa ini tidak semua sahabat berijtihad. Selain materi hukum syar’i belum tersebar luar para sahabat juga kebanyakan adalah orang awam yang tidak bisa memahami nash nash Al quran dan Hadits secara baik dan benar. Maka adalah tokoh sahabat yang menjadi rujukan. Mereka sebagai penjelas atas suatu hukum kemudian menyebarluaskan dan menfatwakannya kepada masyarakat tentang peristiwa hukum dan urusan peradilan yang belum ada ketetapan hukumnya.

Pengambilan sumber hukum pada masa ini dari al Quran Hadits dan ijtihad untuk hal yang tidak ada dalam al Quran dan Hadits. Mereka menjadikan ijtihad yang semula merupakan penerapan hukum pada masa nabi menjadi sebuah sumber hukum baru pada masa setelah wafatnya Rasulullah saw. Dengan dalil sahabat menyaksikan langsung tindakan dan sikap rasul terhadap suatu problematika. Begitupun rasul telah mengutus Muaz bin Jabal dan setuju dengan metodenya untuk berijtihad dan terakhir adalah adanya illat pada sebagian ayat dan hadits yang berkaitan dengan hukum serta tujuan hukum itu sendiri untuk kemaslahatan umat.[8]

Dan datanglah setelah periode sahabat masa tabi’in. Ini bisa kita katakan tangga terakhir menuju masa keemasan hukum tasyri. Berlangsung singkat sejak awal abad II sampai  pertengahan abad II. Yang di tandai periode permulaan  tadwim hukum Islam 150 H.[9] Pada akhir abad pertama hijriah para sahabat telah banyak mengeluarkan fatrwa dan menyebarkannya di berbagai kota, kemudian di ikuti oleh tabi’in. Tabi’in sebagai generasi pelanjut setelah sahabat tidaklah serta merta langsung berijtihad dengan pemahamannya atas suatu hukum melainkan generasi ini adalah pengikut khulafa ar-rasyidin serta sahabat yang lain.[10] Mereka berpegang teguh terhadap metode sahabat yang telah menyaksikan wahyu dan hidup bersama rasulullah saw. Sebagai asas ijtihad mereka bersandarkan kepada al Quran, Hadits dan Atsar Shahabah dulu –selanjutnya akan di bahas di bagian Metode Ijtihad Tabi’in- sebelum mereka berijtihad atas hukum yang baru. Sehingga sangat pantas ketika tabi’in juga diabadikan dalam al Quran.

 

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

Artinya: “Dan orang orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang orang Muhajirin dan Ansar dan  orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridha kepada mereka dan merekapun rindha kepada Allah. Allah menyediakan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.[11]

Semua apa fase dari Rasul, Sahabat dan Tabiin adalah dasar fase pembentukan tasyri hukum islam yang semua bertujuan untuk maslahah umat islam. Sesuai misi dari syariat islam sebagai rahmatan lil alamin pembawa rahmat bagi seluruh alam dan menegakkan keadilan buat semua umat manusia.[12] Yang akan selalu selaras dengan setiap keadaan dan jalan terbaik untuk perbaikan umat disetiap generasi.

 

  1. Sebab Sebab Ijtihad Masa Tabi’in

Sebagai generasi pelanjut risalah setelah sahabat tabiin mempunyai tugas yang berat dalam menghadapi permasalahan yang berkembang. Baru dan tidak pernah dihadapi oleh generasi sebelumnya. Ijtihad seiring sejalan dengan kehidupan dan dengan sendirinya gerakan ijtihad tumbuh dan berkembang dikalangan tabi’in. demi menuntaskan dan memberi jalan keluar atas permasalahan yang timbul baik dari masalah sosial, ekonomi, politik maupun masalah individu yang menuntut pemecahannya dengan segera dikalangan umat islam.

Namun ketika kita mengamati dengan saksama tumbuh ber-kembangnya ijtihad dalam lingkup tabi’in sangat banyak sebab yang melatarbelakangi perkembangan ijtihad tabi’in. Beberapa yang penting diantaranya:

  1. Meluasnya Wilayah Kekuasaan Islam.

Masa tabi’in adalah masa yang ada pada pemerintahan Bani Umayyah. Pada Daulah Bani Umayyah penaklukan dan perluasan wilayah Islam sampai pada puncaknya. Tersebar luas hampi di seluruh dunia.  Dimulai Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan Tunisia, kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai Kabul.  Angkatan lautnya  melakukan ekspansi hingga sampai ke Ibu kota Bizantium, Konstantinopel.

Ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkanabad, Bukhara, Kwarizm, Ferghana dan Samarkand. Bahkan tetaranya sampai ke indian menguasai Punjab sampai ke Maltan.[13] Menjadikan batas kekuasaan Islam pada masa ini  terbentang dari Sungai Sanad dan Timur China sampai atlantik Barat. Dari laut Arab dan Gurun Afrika selatan sampai gunung Turus bagian utara.[14]

Dengan perluasan daerah ini sudah menjadi keharusan mutlak adanya pemikiran dan ijtihad atas segala hal yang baru. Ijithad yang menjadi patokan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, terutama menjadi landasan para mujtahid dan pemimpin pada masa tersebut yang mana penetapan ijtihad itu masih bersumber dari sumber-sumber syariat.

Oleh karena itu, mujtahid berusaha mencurahkan dengan segenap kemapuan yang mereka miliki untuk mengembalikan segala persoalan yang terjadi kepada sumber hukum Islam. Mereka berpedoman kepada nash-nash syariah (alquran-hadits) dan semangat dan jiwa yang dikehendaki nas itu dan dalil-dalil yang lain yang dibenarkan oleh syariat serta hukum-hukum yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan pertimbangan dan kemaslahatan tertentu.[15]

Hal ini menunjukkan bahwa perundang –undangan dalam Islam tidak mempersempit kebutuhan hidup dan tidak mengurangi kemaslahatan. Termasuk dalam bisang politik yang mengatur seluruh urusan kehidupan negara.

  1. Adanya Perpecahan dalam Bidang Politik dan Pemikiran.

Problematika mendasar yang menunjukkan adanya perbedaan dan sekte yang berkembang pada masa tabi’in ini adalah implikasi dari masalah yang timbul sejak zaman sahabat. Yaitu munculnya dua aliran karena terjadi fitnah kubra. Terutama pasca khalifah ke empat.[16] Maka muncul aliran Khawarij dan Syiah serta kemudian setelahnya Jumhur dengan nama Sunni. Pengikut sunnah Rasulullah saw. Kedua aliran Syiah dan Khawajid pada awalnya adalah merupakan aliran politik karena sumber Ikhtilaf  mereka adalah tentang kepemimpinan umat islam. Namun kemudian juga merembet ke perpecahan dalam bentuk pemikiran dan keyakinan.

Komflik politik antara Ali dan Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan diakhiri dengan tahkim. Dari pihak Ali Ibn Abi Thalib diutus seorang sahabat yang terkenal jujur tapi tidak “cerdik” dalam politik yaitu Abu Musa Al Asya’ari sedangakn dari pihak Mu’awiyah mengutus Amr bin Ash yang terkenal cerdik.[17]

Dalam tahkim tersebut pihak Ali Ibn Abi Thalib dirugikan oleh pihak Muawiyah karena kecerdikan Amr bin Ash yang dapat mengalahkan Abu Musa Al As’ary. Pendukung Ali, paling tidak, terpecah menjadi dua kelompok. Pertama ada yang terpaksa menerima hasil tahkim. Dan kelompok yang kedua adalah kelompok yang menolak hasil tahkim dan kecewa terhadap kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang kemudian melakukan gerakan perlawanan terjadap semua pihak yang terlibat dalam tahkim termasuk Ali bin Abi Thalib.

Sebagai gerakan oposisi terhadap kekuasaan yang ada, Kawarij mengeluarkan bebrapa statemen, menuduh orang orang yang terlibat dalam tahkim adalah orang kafir. Usman bin Affan menyeleweng dari ajaran Islam. Ali bin Abi Thalib juga demikian dan dalam pandangan Khawarij telah keluar dari islam. Murtad dan Kafir. Termasuk juga pemerintahan yang ada yaitu Muawiyah dan beberapa sahabat yang menerima tahkim.[18]

Dalam pergerakan statemennya kemudian Khawarij keluar dai jalur politik menuju jalur pemikiran dan teologi. dalam suasana pertentangan itulah, muncul ulama yang berusaha netral politik berada di jalur yang tengah, yang tidak berpihak pada Syiah dan Khawarij. Kelompok ini tidak menghendaki adanya sahabat yang kafir dan keluar dalam ajaran Islam.[19]

Secara ringkas perbedaan ini sampai kepada masa tabi’in orang islam telah terbagi dalam tiga golongan Syiah, Khawarij dan Jamaah. Ruh perbedaanpun dangat kental dalam masa ini sehingga sangat sering didapati suatu golongan dengan mudahnya  memponis golongan yang lain dengan sebutan pendosa, fasik bahkan kafir.[20] Gagasan yang ada terpengaruh oleh perpecahan ini. Hingga dikalangan tokoh tabi’in bangkit dengan berijtihad untuk menjadi penegah dan pemberi solusi atas permasalahan yang ada dengan Ijtihadnya.

  1. Perbedaan Corak Kehidupan

Pebedaan corak kehidupan pada saat ini sangat berbeda utamanya dalam kehidupan bermasyarakat dan politik pada masa ini dengan periode sahabat dan Khulafa ar Rasyidin.

Dalam bidang kehidupan bermasyarakat tidak didapati corak umum pada masa tabi’in seperti apa yang bisa kita dapati pada masa sahabat dan khulafa ar rasyidin. Seperti sifat Iffah, toleransi, hidup sederhana dan berbagai macam corak yang lain sangat berbeda. Yang didapati adalah kebalikan dari yang disebutkan diatas. Bahkan sampai pada pelarian yang jauh dari hukum Islam.

Sedangakan dari sisi politik yang berkembang juga sangat jauh. Pengalihan pemerintahan dari sistem kekhalifaan menjadi sistem kerajaan misalnya sudah sangat menjadi corak perbedaan pesar antara masa tabi’in dan masa sahabat. Selanjunya dari pembahagian negara dan wilayah yang sudah ditaklukkan muncul indikasi adanya kecenderungan pembahagian wilayah kekuasaan antara keturunan khlaifah. Serta dalam pengambilan kebijaksanaan dan keputusan atas suatu permasalahan tidak dalam pengangkatan menjadi khalifat atau baiat misalnya tidak lagi dilakukan dengan asas musyawarah.

  1. Perang Internal antara kaum muslimin

Perang internal yang terjadi antara kaum muslimin yang mengakibatkan meninggalnya ribuan jiwa kamu orang mu’min. Terasa sampai ke ibukota islam. Tidak ada tontonan yang paling heboh yang terjadi di Madinah setelah kematian Usman bin Affan hingga terjadi lagi kejadian yang sangat menyakitkan yang terjadi pada tahun 62 H ketika penduduk madinah secara paksa menurunkan Yazid bin Muawiah dari puncak ke Khilafaannya karena dianggap telah berlebihan dalam berbuat maksiat. Maka diutus tentara dan prajurit untuk membnuhnya. Kemudian lanjut ke Makkah untuk membunuh ibn Zubair. Semuanya dilakukan oleh tentara Yazid dari penduduk Madinah.

Hal yang demikian inilah yang terjadi pasca periode khulafau ar rasyidin berimbas kepada tabi’in. Hal ini juga yang menjadikan ijtihad pada masa setelahnya tumbuh dengan subur dan berkembang dengan pesat. Dengan sebab ini ijtihad muncul dengan tujuan untuk mencari penyelesaian dari problematika yang ada dan menghindarkan generasi selanjutnya dari fitnah yang telah berkobar dalam Islam dengan mengharapkan pahala dari Allah swt. seperti apa yang telah dilakukan oelah Said bin Musayyab. Pemuka para tabi’in.

  1. Pemegang Kekuasaan Tasyri Pada Masa Tabi’in

Akhir abad pertama hijriah setelah ekspansi yang dilakukan oleh khalifah Umar dan Usman muncul berbagai persoalan di berbagai kota-kota Islam. Para sahabat telah banyak mengeluarkan fatwa di berbagai kota-kota tersebut. Setelah sahabat generasi tabi’in mengambil dan menerima pelajaran dari para sahabat mengenai tafsir al Quran, hadits, fatwa-fatwa dan pengetahuan-pengetahuan yang lain tentang penetapan hukum.

Pada masa ini tabi’in berperan penuh sebagai pemegang tasyri’ pada periode ini. Bermula dari penguasaan mereka terhadap hukum yang diambil dan dipelajari langsung dari para sahabat sahabat sebelumnya. Ibn Qayyim mencatat bahwa, fikih –termasuk juga ijtihad- periode tabi’in disebarkan oleh pengikut empat fuqaha sahabat terkemuka, yaitu pengikut Ibn Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas.[21] Orang orang madinah misalnya banyak mendapat fiqih dari pengikut Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar. Orang-orang Mekah mewarisi dari Abdullah bin Abbas dan Irak oleh Ibnu Mas’ud. Yang dari sini cikal bakal dua kubu  pemikiran zaman tabiin yang dikenal dengan Madrasah al- Hadits yang berada di Makkah dan Madinah dan Madrasah ar Ra’yi yang berada di Kufa muncul dan menjadi basis penting pertumbuhan ijtihad pada masa tabi’in. Kedua madrasah ini juga sering disebut dengan madrasah Iraq dan madrasah Al Kufa.[22]

Mujtahid yang berada di dua kota, Madinah dan Kufa terkenal dengan sebutan ahlul hadits dan ahlu ra’yi. Penjelasan  menarik tentang hal ini di berikan oleh Syaikh Ali Al Khafif:

“Pada zaman tabi’in dalam pemberian fatwa ada dua aliran, yaitu aliran, yaiu aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar aas penalaran, qias, penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasan, sebagai dasar Ijtihad. Tempatnya ialah Irak. Dan aliran yang cenderung idak pada kelonggaran dalam hal ersebu dan hanya bersandar pada bukti-bukti atsar dan nash-nash. Tempatnya ialah Hijaz. Adanya dua aliran itu merupakan akiba yang wajar dari situasi masing-masing di Hijaz dan Irak.

Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. Disitu rasul menetap, menyampaikan seruannya, kemudian para sahabat beliau menyambut, mendengarkan, memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. Kemudian, mereka mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk berikutnya, yaitu kaum tabi’in yang bersemangat untuk tinggal disana….

Adapun Irak telah mempunyai peradaban sendiri, sistem pemerintahannya, kompleksitas kehidupannya dan tidak mendapatkan bagian dari sunnah kecuali melalui para sahabat dan tabi’in yang pindah kesana dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada apa yang ada di Hijaz. Padahal peristiwa-peristiwa hukum yang ada di Irak itu, disebabkan masa lampaunya, adalah lebih banyak daripada apa yang ada di Hijaz; begitu pula kebudayaan penduduknya dan telatihnya mereka pada penalaran, adalah lebih luas dan lebih banyak. Oleh karena itulah, keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa, dan penggunaannya juga lebih banyak. Penyandaran diri kepadanya juga tampak lebih jelas, mengingat sedikitnya sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. Ini juga ditambah dengan kecenderungan mereka membuat asumsi-asumsi dan perincian karena ingin mendapatkan tambahan pengetahuan, penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak.”[23]

Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl Ar-Riwayah karena mereka berpegang kepada penuturan masa lampau. Sedangkan  orang Irak adalah Ahl Ra’y dengan alasan mereka tidak mementingkan riwayat, maka kami katakan bahwa itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu saja. Adapun peringkat individu, cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. Dikalangan orang-orang Hijaz ada orang-orang seperti Rabi’ah yang tergolong kelompok yang banyak menggunakan ra’yi dan di kalangan para sarjana Irak, tampil orang yang membela riwayah yang sangat tegar yaitu Ahmad ibn Hanbal. Disamping itu, membuat generalisasi bahwa suatu kelompok hanya melakukan suatu metode berupa riwayah atau ra’yi saja adalah tidak tepat. Terdapat persilangan antara keduanya, meskipun masing-masing tetap dapat  dikenali ciri utamanya dari kedua kategori tersebut. Mujtahid kufa terkenal dengan kecenderungannya kepada akal karena mereka memang tidak mendapatkan hadits dari rasul kecuali dari jalur sahabat yang datang ke kufa. Sendangkan Madinah begitu banyak sahabat yang bisa di mintai keterangan tentang hadits rasul atas suatu permasalahan. Dan disinilah kita bisa melihat betapa kayanya khazanah ijtihad tabi’in.

Banyak tabi’in di kota-kota Islam telah berani untuk melakukan ijtihad. Seperti juga pada madrasah ar riwayah di imami oleh Said bin Musayyab ( w 95 H) dan madrasah ar ra’yi yang di imami oleh Ibrahim an Nakha’I (w 94 H) [24]

Mujtahid pada masa ini mempunyai wewenang untuk berijtihad menghasilkan fatwa bukanlah jabatan yang ditunjuk oleh khilafah atau pilihan rakyat, akan tetapi umat Islamlah yang mengokohkan dan memberi kepercayaan kepada mereka sebagaimana halnya mereka mempercayai sahabat sebagai tokoh tasyri’. Umat Islam membercayai mereka atas dasar kredibilitasnya yang tidak diragukan dari segi ilmu, keadilan dan kedabitannya dalam berbagai hal.

  1. Tokoh-Tokoh Mujtahid Masa Tabi’in

Setelah ekspansi dan berkembangnya daerah kekuasaan Islam menyusul berkembangnya permasalahan yang dihadapi ummat Islam di tiap tempat dan zaman, maka muncul pula para mujtahid yang menjadi rujukan tempat kembali dalam problematikan kekinian umat islam.  Seperti di Madinah, Mekah, Mesir, Kufa, Basrah dan Syam/ Syiriah. Diantara tokoh mujtahid yang masyhur di zaman tabi’in adalah sebagai berikut.

  1. Di Madinah
  2. Zaid bin Musayyab al Makhzumi (94 H/654M
  3. Urwah bin Zubair (94 H/713 M)
  4. Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits (94 H/713 M)
  5. Kharijah bin Zaid bin Tsabit (94 H/713 M)
  6. Ubaidullah bin Abdullah (99 H/718 M)
  7. Sulaiman bin Yasar (104 H/718 M)
  8. Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (106 H/725 H)

Mereka inilah yang disebut dengan “tujuh fuqaha Madinah”[25] yang dari generasinya lahir Muhammad bin Muslim az Zuhry, Abu Bakar bin Hazm dan kemudian lahir  imam Malik bin Anas pendirri madzhab Malikiyah di Madinah.

  1. Di Mekkah
  2. Ikrimah Maula ibn Abbas (107H/726 M)
  3. Mujahid bin Jabir Maula Bani Mahzum (103 H/722 H)
  4. Atha bin Abi Rabah (114 H/733 M)
  5. Thaus bin Kausan (106 H/733 M)[26]

Generasi ini mengambil dari sabat Abdullah bin Abbas (68 H/687 M).  Kemudian mewariskan ilmunya pada generasi selanjutnya seperti Sufyan bin Uyainah (198H/ 807 M) Ibn Juraij (150 H/767 M).  Dan lahir setelahnya Muhammad bin Idris al Syafi’iy (204H/820 M) ulama pendiri madzhab Syafi’iyah. Hal ini pada periode pertama dengan qaul qadimnya di Bagdad.

  1. Di Mesir
  2. Yazid bin Abu Habib Mufti Mesir (128 H/746M)
  3. Abu Al Khaer Martsad bin Abdullah Yaziniy Mufti Mesir (90 H/709 M).

Muridnya kemudian adalah Al Lais bin Sa’ad (175 H/794 M) pendiri madzhab Laitsiy di Mesir. Namun pada akhirnya lenyap dari tengah masyarakat Islam. Dan setelahnya adalah Imam Syafi’iy dengan qaul jadidnya di periode akhir hidupnya setelah dia pindah dari Bagdad ke Mesir.

  1. Di Kufah
  2. Al Qamah bin Qais an Nakha’I (62 H/681 M)
  3. Syuraih bin Harits al Kindi (78 H/ 697 M)
  4. Masruq bin Ajda’Alhamdani (63 H/682 M)
  5. Ubaidah bin Amr al Silmani (92 H/711 M)
  6. Al Aswad bin Yazid an Nakha’I (95 H/ 714M)
  7. Said bin Jubair Maula Walibah (95 H/714 M)
  8. Amir bin Syarahil al Sya’biy (104 H/ 723 M)[27]

Mengambil dari Abdullah bin Mas’ud  (32 H/653 M) kemudian mengajarkannya ke generasi selanjutnya. Murid mereka yang populer Ibrahin bin Yazid an Nakha’I (95 H/714 M) dan Sufyan al Tsauri (161 H/ 778 M) dan murid atau kader Ibrahim an Nakha’i yang terkenal adalah Hammad bin Abu Sulaiman (120 H/767 M)  guru dari Abu Hanifa, pendiri madzhab Hanafi.

  1. Di Basrah
  2. Al Hasan Al Basri (111 H/730 M)
  3. Muhammad bin Sirin (110 H/729 M)
  4. Qatada bin Diamah (118 H/737 M)
  5. Muslim bin Yasar (108 H/ 727 M)

Mereka mengambil dari dua sahabat rasul yang datang di Basrah yaitu Anas bin Malik dan Abu Musa al Asyari. Dan kemudian mereka juga mengajarka kepada generasi selanjutnya.

  1. Di Syam/Syiriah
  2. Abd Rahman bin Gunmin (78H)
  3. Abu Idris al Khulani (80 H)
  4. Qabisah bin Dzu’aib (113 H)
  5. Umar bin Ab al Aziz bin Marwan (101 H)[28]

Para mujtahid di kota Syam mengambil hukum islam yang dikembangkan oleh sahabat rasul: Muaz bin Jabal (18 H). Abu Darda (38 H) dan Ubaidah bin Samit (34H).

  1. Metode Ijtihad Masa Tabi’in

Sebagaimana yang kami jelaskan sebelumnya, bahwa periode masa tabi’in, pemegang  kekusaan tasyri’ adalah tokoh tabi’in sendiri. Arah dan sasaran tasyri’ mereka  menggunakan metode ijtihad. Mengikuti apa yang pernah dilakukan dan ditempuh oleh guru-guru mereka dari generasi sahabat. Dengan prinsip tetap merujuk kepada sumber- sumber tasyri’ dan memperhatikan prinsip-prinsip dalam penetapan hukum. Dalam skala pengambilan hukum mereka menjadikan apa yang dijadikan sahabat sebagai sumber hukum yaitu Al Quran, Hadits, Ijma’ dan Qiyas sebagai rujukan. Bisa dikatakan bahwa fatwa-fatwa tabi’in kebanyakan diskursus peristiwa hukum yang pernah ada saja, tidak banyak yang meluas sampai ke perbedaan pendapat di kalangan mereka.

Meski demikian diskursus pemahaman dan perbedaan tetap ada dan bisa dikatakan merupakan cikal bakal perbedaan pemahaman teks yang nanti di kembangkan oleh para imam-imam madzhab. Di Madinah misalnya, telah terjadi diskursus anrara Rabi’ah bin Abd Rahman (134H) dengan Muhammad bin Syihab al-Zuhry (124 H) dimana mengakibatkan pandangan-pandangan mereka mengakibatkan banyak ahli fikih Madinah memisahkan diri dari majelis ta’lim Rabi’ah yang mereka memberi gelar kepadanya Rabi’ah ahl al ra’yi. Demikian juga halnya di Kufa terjadi diskursus diantara Ibrahim al Nakha’I (95 H) dengan al Sya’bi (104 H)

Namun dengan adanya perbedaan ini, generasi tabi’in dan dalam hal ini juga tabi’tabiin hanya sebatas perbedaan penakwilan yang tepat tepat dan menurut mereka sesuai dengan sumber hukum yang disepakati dan sejalan dengan konteks kekinian zaman serta tempat yang ada. Mereke tetap sepakat bahwa adalah Al Quran, Hadits dan Pendapat sahabat sebagai sumber hukum. Nanti setelah menelaah dan mencari solusi dai ketiga sumber tersebut barulah para tabi’in menempuh jalur ijtihad yang mereka tetap sandarkan kepada sumber tasyri sebelumnya dengan memperhatikan kontek-konteks kekinian di masanya.

Dalam kitab ijtihad at tabiin oleh Prof DR. Wahbah Zuhaily dijelaskan bahwa, sahabat dalam mengambil sebuah keputusan dengan ijtihad mereka adalah dengan melihat nash al Qura’an, Sunnah dan Ijma. [29] Imam Syafi’I dalam ar risalah mengatakan bahwa Allah tidak menjadikan atas seseorang setelah masa Rasulullah saw. Untuk berkata atas suatu  kecuali mengambil dari ilmu yang telah lalu. Yang dimaksud adalah Al Quran Hadits Ijma dan Qias.[30] Dan tidak mempergunakan Qias kecual dengan terkumpul semua komponen Qiyas.[31]Dan ketika tidak didapati barulah mereka melihat dan memilih terhadap perkataan sahabat. Kemudian mengukutinya dengan dalil serta pemikiran yang membuatnya yakin dan puas atas perkataan mereka (sahabat) tidak serta merta taklid dan hanya mengikuti tanpa tahu dalil dan pegangan atas apa yang telah dikeluarkan oleh sahabat berupa perkataan dalam arti ijtihad. Mereke mengikuti sahabat dengan baik dan benar, dan mereka  juga adalah ahli dan mendalam dari segi keilmuan. Mereka  tetap mengedepankan Al Quran dan Hadits rasul daripada perkataan tabi’in  dan qias akal.

Tabi’in ketika tidak penyelesaian atas suatu hukum dai sumber tiga tadi maka mereka akan berijtihad atas hukum tersebut dengan menggunakan Qias, Maslahah al Mursalah dan lain sebagainya dengan melihat adat serta pertimbangan akal yang lain.

Dari sini jelaslah dan bisa disimpulkan bahwa ijtihad tabi’in itu terbangun atas tiga pondasi yang kokoh.

  1. Bersandar kepada al Quran dan Sunnah

Kewajiban untuk mengikuti al Quran dan Sunnah sendiri adalah hal mutlak bagi kita sebagai orang Islam. Dan dalil tentang hal mengikuti al Quran tersebut juga sangat banyak. Baik dari ­naqly pemaparan Al Quran itu sendiri, maupun secara rasio. Beberapa contoh dalil aqli dalam dalam Al Qura’an Al Hujurat ayat 1 dan Al Imran ayat 132.

Artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasulnya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui[32]

Artinya: “Taatilah Allah dan Rasul agar kalian mendapat rahmat”[33]

Sedangkan dalam Hadits, Rasulullah saw bersabda:

 

تركت فيكم امرين لن تظلوا ان تمسكتم بهما : كتاب الله و سنة رسوله

 

Artinya: “Aku tinggalkan dua hal yang mana kalian  tidak akan tersesat jika berpegang teguh terhadap keduanya. Yaitu al Quran dan Hadits rasul. [34]

Sedangkan dari segi pendalilalan akal bisa disimpulkan kewajiban untuk mengikuti al Quran dan Hadits rasul karena keduanya merupakan sumber asli dari wahyu ilahi dalam penetapan hukum. Wajib dipelajari dan diikuti serta tidak boleh menyalahinya.

  1. Mengikuti Sahabat

Mengikuti sahabat adalah pondasi kedua dari manhaj ijtihad tabi’in. Para tabi’in mencintai sahabat dan mengambil pelajaran banyak dari sahabat. Dan menjadikan kemestian atas apa yang telah disepakati oleh sahabat. Namun ikut serta atas manhaj ini tidak serta merta, tapi mereka melakukan kajian mendalam atas hal tersebut.

Dalil tentang mengikuti sahabat ini disandarkan atas  firman Allah swt.

 

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

Artinya: “Dan orang orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang orang Muhajirin dan Ansar dan  orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridha kepada mereka dan merekapun rindha kepada Allah. Allah menyediakan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”.[35]

Sedangkan Rasulullah saw bersabda tentang keutamaan masa sahabat ini dalam haditsnya:

 

خير قرون قرني ثم الذ يلونهم ثم الذي يلونهم ثم الذي يلونهم

ه

Artinya: “ Sebaik-baik-baik baik abad adalah abadku. Kemudian setelahnya. Kemudian setelahnya.”[36]

Asas pengambilan dalil ini tidak bisa dipngkiri logika akal sehat akan mengatakan bahwa keagungan posisi sahabat itu di abadikan dalam al Quran hadits menunjukkan generasi sahabat bukan generasi sembaarangan. Tidak salah kalau dia dijadikan sandaran dan pondasi pengambilan hukum. Sedangkan ibn Qayyim menjelaskan ada lebih dari 40 wajhul istidlal dan dalil kenapa kita harus mengikuti sahabat.

  1. Menyesuaikan Dengan Kondisi Zaman dan Tempat

Kehidupan tabi’in tidaklah ibarat orang yang hidup dalam gua yang gelap dan tertutup. Namun kehidupan tabi’in adalah kehidupan yang berkembang dan mengalami perobahan seiring dengan kemestian hidup yang menuntut perobahan tersebut. Dan dalam menghadapi perobahan itu tabi’in tidak berpangku tangan dengan tidak berbuat apa-apa. Tetapi mereka seiring sejalan dengan perkembangan zaman dan tempat mereka berdiam. Menerima hukum pergantian dan melakukan ijtihadnya dengan sebuah pendalilan syar’i yang sesuai konteks kekinian pada zamannya.

Ketika kita mencermati perkembangan ijtihad dari masa ke masa maka kita akan mendapati bahwa ijtihad tabi’in tidak stagnan dan serta merta mengikut kepada sahabat. Tapi ijtihadnya hidup dan berobah. Seperti ijtihad tabiin yang melarang perempuan untuk shalat di mesjid setelah masa sahabat membolehkan para perempuan shalat di mesjid dengan dalil pada zaman tabi’in orang-orang fasik berkeliaran dan tidak lagi memperdulikan untuk menundukkan pandangan bagi kaum wanita.[37]

  1. Corak Ijtihad Tabi’in sebagai Warisan Generasi Setelahnya

Telah bisa disimpulkan bahwa ijtihad pada masa tabi’in itu mempunyai banyak nuansa berbeda yang menjadikan ciri khas atau corak ijtihad tabi’in dengan ijtihad sebelumnya. Setidaknya, dalam kitab Murtaqa al Usul il Tarikh Ilmil Usul DR. Musa Muhammad bin Yahya al Qarny ada tiga ciri khas periode tabi’in.

Pertama : Bertambahnya sumber pengambilan tasyri’ setelah Al Quran dan Hadits, yaitu hasil Ijtihad sahabat atau yang disebut dengan qaul as shahabah (perkataan Sahabat). Kedua: adanya dua madrasah. Madrasah ra’yi di Kufa. Dan madrasah al Hadits/ar riwayah di Madinah. Ketiga :  Tidak adanya kaidah yang jelas yang dapat kita ketahui dari tiap-tiap mujtahid akan tetapi mereka secara global mengikuti salah satu sahabat dan mengambil perkataan mereka, menjadikannya fatwa.[38] Dan inilah kemudian menjadi warisan yang sangat berharga untuk generasi berikutnya.

Sedangkan dalam buku ijtihad tabi’in oleh DR Wahbah Zuhaili memaparkan enam corak dan warisan penting dari ijtihad masa tabi’in. Di mana masa tabi’in merupakan potongan sejarah yang penting yang menghubungkan sahabat dengan imam mujtahid setelahnya.

  1. Lahirnya Madrasah Fiqh

Seperti yang dijelaskan oleh DR Musa al Qarni, DR Wahba Zuhaili juga menyertakan diantara peninggalan ijtihad masa tabi’in itu adalah tumbuh berkembangnya dua corak pemikiran dalam islam yang disebut dengan madrasah ar riwaya dan madrasah arra’yi.[39]

  1. Adanya Fiqh Fardi atau Ihtimaly

Tentang fiqhi fardy atay fiqh ihtimaly  ini tidak ditemukan pada masa shahabat tapi ada pada masa tabi’in. Yaitu perkiraan hukum atas kejadian yang belum terjadi pada masa tersebut. Pada masa sahabat tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Tidak menanyakan kecuali hal yang berkaitan dengan kejadian pada zamannya.

Tapi pada masa tabi’in telah dikembangkan cabang fikhi baru yaitu fikhi tentang perkiraan hukum yang belum terjadi. Ini berbasi di madrasah ahl ra’yi yang ada di Kufa.[40]

  1. Pengakuan Terhadap Akal Sebagai Sumber Fiqh

Pada masa tabi’in sudah ada legitimasi bahwa akal itu menjadi sumber hukum. Karena sudah menjadi hal yang darurat dan mesti dilakukan. Banyak permasalahan yang muncul dan pemecahannya harus dari pemahaman kontekstual nash. Bukan dari teks dahir.

  1. Pembahasan Tentang Ijma dan Pengakuannya Sebagai Sumber Hukum

Juga menjadi penting pada masa ini adalah pengamalan atas apa yang telah dikaji oleh sahabat dari persoalan fikhi dan fatwa.  Dan adalah ijma pada masa sahabat itu berdiri kokoh atas dasar musyawarah pada suatu permasalahan. Begitupun yang dilakukan oleh tokoh mujtahid tabi’in disetiap kota-kota islam.

  1. Madzhab Shahabah dan Kehujjahannya

Posisi ke hujjahan madzhab sahabat menjadi kajian mendalam pada masa ini. Sebagai mana di jelaskan tentan dijadikannya perkataan atau ijtihad sahabat sebagai sumber hukum, kemudian timbul permasalahan, sumber hukum disini apakah dia lebih diutamakan daripada Qias atau sebaliknya.[41]

  1. Kristalisasi Ijtihad dan Ilmu Fiqhi Independent

Dan adalah pada masa ini bisa dikatakan ijtihad itu pembuka pintu menuju puncak kesempurnaan hukum islam yang ada pada fase setelahnya yang dikenal dengan fase imam-imam madzhab. Menjadikan ilmu fiqhi itu ilmu yang independent dan berdiri sendiri. Tidak lagi bercampur dengan ilmu yang lain seperti tafsir hadits dan sebagainya.

 

Sangat jelas sekarang bagi kita bagaimana ijtihad pada zaman tabi’in menjadi sebuah mata rantai dalam sistem penegakan hukum Islam. Yang pada akhrinya kedekatan tentang sumber hukum dalam agama Islam bisa kita ketahui dan sangat terasa dekat juga tidak lepas dari peranan tabi’in. generasi penghubung antara dua masa yang sangat besar dalam Islam. Masa sahabat dan masa imam  Mazhab. Sebagai penghubung dua generasi raksasa, maka tidak disangkal juga kalau masa tabi’in dan khususnya ijtihad pada masa tabi’in juga merupakan masa yang luar biasa.

 

PENUTUP

Telah bisa disimpulkan bahwa ijtihad pada masa tabiin itu bisa dikatakan ijtihad kolaborasi antara mengikuti masa sahabat dengan pembaharuan yang terjadi pada masa tabi’in sendiri. Apa yang tidak mereka dapati dari teks Al quran, Sunnah dan Pendapat Sahabat tentang suatu perkara maka Mereka menggunakan kemampuan akal para tabi’in dengan tetap menjadikan Al-quran dan Sunnah sebagai sandaran.

Dengan ini kita juga bisa mengatakan bahwa ijtihad pada masa tabiin adalah ijtihad yang berkembang dan jauh dari stagnanisasi serta kemandegan. Hidup dan tidak mati. Sesuai dengan masa tabi’in. menjawab tantangan zaman kekinian.

Ijtihad pada masa tabi’in juga kompleks dalam beberapa hal yang bisa menjadi pembeda dengan masa sebelum dan sesudahnya. Merupakan titik hubung antara masa sahabat dengan para imam-imam madzhab. Dengan kata lain, mempunyai andil besar dalam perkembangan Islam secara umum, keilmuan Islam secara khusus dan lebih khusus lagi perkembangan ilmu fiqh dan Ushul Fiqh.

Diantara kelebihan ijtihad pada masa tabi’in adalah penerapan mereka dalam memahami suatu teks al-Quran dan Hadits secara luas dan tidak secara tekstual. Melalui pemahaman yang mendalam serta keluasan ilmu setelah ekspansi dan meluasnya wilayah islam mampu memberikan kontribusi pertimbangan yang baru untuk hukum islam. Menjadikan syariat islam selaras dengan perkembangan zaman. Menerima perubahan hukum furu dengan berubahnya zaman dan adat serta perbaharuan mashlahah ummat serta mencegah dari mashlahah ke mafsadah dengan tetap menjaga otentik syariah sebagai qawaid kulli.

[1] DR. Muhammad Said Ramadhan Al Buty. Fiqh Sirah Muhammad saw. (Beirut, Lubnan: Dar Al Fikr: 1993), Hal.24.

[2] Ibid., Hal.25.

[3] Prof. DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad At Tabi’in. (Suriah: Damasks: Dar Al Maktaby:2000), Hal. 8

[4] Prof. DR. Abdul Wahhab Khallaf. Sejarah Pembentukan & Perkembangan Hukum Islam. Penyadur Wajidi Sayadi. (jakarta: Raja Grapindo Persada: 2002) Hal.8

[5] Ibid., Hal.10

[6] Ibid.,Hal.12

[7] Ibid.,Hal.43

[8] Ibid.,Hal.49

[9] Josep Schacht, An Itroduction to Islamic Law (Oxford: University Press: 1965) Terj: Joko Supomo, Pengantar Hukum Islam (Bandung: Nusantara:2010), Hal.77.

[10] DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad fi Asri Tabi’in. (Damakus: Dar Al Maktaby:2000), Hal.8

[11] QS Attaubah: 100.

[12] Muhammad Abu Zahrah. Muhadarat fi Tarikh Al Madzahib Fiqhiyyah (Kairo: Dar Al Muduny:tt), Hal.89

[13] Sumber diambil dari Wikipedia Indonesia, 16 Nopember 2011, http://id.wikipedia.org/ wiki/Bani_Umayyah.

[14] Prof. DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad At Tabi’in. .., Hal.9

[15]  [15] Prof. DR. Abdul Wahhab Khallaf. Sejarah Pembentukan & Perkembangan Hukum Islam. Penyadur Wajidi Sayadi. (jakarta: Raja Grapindo Persada: 2002) Hal.72

[16] Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Hukum islam.(Bandung:Pustaka Setia:2007), Hal.91

[17] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari berbagai Aspek,(Jakarta:UI Press:1986), Hal:32.

[18] Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Hukum islam…, Hal.92

[19] Ibid,.Hal.20

[20] Muhammad Abu Zahra. Tarikh Al Madzahib Islamiya. (Kairo:Dar Fikr Arabi:Juz2 Fi Tarikh Madzahib Fiqhiyah:tt),Hal. 31

[21] Ibn Qayyim Al Jauziyah. I’lamu Al Muqi’ien, Jilid I (Beirut: Dar Fikr) Hlm 255-256.

[22] Dedi Supriyadi, M. Ag. Sejarah Hukum Islam. (Bandung:Pustaka Setia:2007), Hal. 84

[23] As Syaikh Ali Al Khafifi,  Al Ijtihad fi Ashr at Tabi’in wa Tabi’I Tabi’in dalam Al Ijtihad fi Asy-Syariat Al islamiyyah, (Riyadh: Jami’ah Al Imam Muhammad ibn Su’ud Al-Islamiyyah:1984), Hal 224-225. Dalam Sejarah Hukum Islam, Dedi Supriady M.Ag, Hal.90.

[24] Prof. DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad At Tabi’in. .., Hal.11

[25] Prof. DR. Abdul Wahhab Khallaf. Sejarah Pembentukan & Perkembangan Hukum Islam…, Hal. 76.

[26] Ibid.,77

[27] Ibid., Hal. 79.

[28] Ibid.,Hal.80

[29] Prof. DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad At Tabi’in. .., Hal.14

[30] Al Imam Muhammad bin Idris as Syafi’iy. Ar Risalah (Beirut:Lubnan: Dar al Kutub al Ilmiyah:tt),Hal.508.

[31] Ibid.,Hal 509.

[32] QS Al Hujurat. 1.

[33] QS Ali Imran. 132.

[34]  HR Imam Malik dalam Kitab al Muwatta’

[35] QS Attaubah: 100.

[36] HR. Bukhari Muslim

[37] Prof. DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad At Tabi’in. .., Hal.21.

[38] DR. Musa bin Muhammad bin Yahya al Qarni. Mutaqa al Usul Ila Tarikh Ilm al ushul (Madinah: Kulliah Syariah Univ Islamiah), Hal. 20.

[39] Prof. DR. Wahbah Zuhaili. Ijtihad At Tabi’in. .., Hal.36.

[40] Ibid., Hal. 36.

[41] Ibid., Hal 39.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *