IJTIHAD RASUL SAW (Sebuah telaah kritis atas dasar dan komponen-komponennya)

Oleh: Ali Ashghor Ridwani

 Diterjemahkan oleh: Ahmad Mahili, L.C.,M.H.I

 

Berbicara tentang apakah Rasul saw berijtihad atau tidak sangat berkaitan dengan pembahasan tentang hukum perkataan, perbuatan, dan taqrir (ketetapan) Rasul saw;  sebab jika kita katakan bahwa semua urusan Rasul saw didasarkan oleh wahyu, dan beliau adalah maksum dalam menjalankannya maka sunnah Rasul saw adalah hujjah dan menjadi sumber hukum syariat. Dan sudah jelas bahwa sumber hukum syariat harus terpelihara dari kesalahan dan kesamaran, sehingga memungkinkan untuk dijadikan dasar hukum.

Bahwa apa yang bersumber dari Rasul saw baik perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan adalah hujjah sudah sangat jelas, tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebab jika tidak demikian, tentu ajaran-ajaran Islam menjadi tidak jelas, syariat tidak efektif, dan hukum tidak dapat digali secara maksimal, karena hukum-hukum Al-Qur’an umumnya  tidak disebutkan secara terperinci, hanya menjelaskan pokok-pokok syariat, Bahkan boleh jadi tak satupun kita dapati suatu hukum dalam Al-Qur’an yang dijelaskan dengan sangat mendetail.

Jika demikian, mesti dikatakan bahwa sunnah Rasul saw adalah hujjah dan syariat harus terpelihara dari kesalahan dan kekeliruan, agar dapat menjadi rujukan hukum syariat, dan disandarkan kepada Allah swt.

Akan tetapi jika kita mengatakan ada ijtihad Rasul saw dan meyakini sifatnya yang dzonny (tidak pasti kebenarannya), maka sunnah itu belum tentu dapat dijadikan dalil hukum, sekalipun Al-Qur’an menjelaskan bahwa beliau adalah teladan di semua urusan kehidupan.

  1. Muhammad Hasan Hito dalam kitabnya: al-Wajiz fi Ushuli at-tasyri’ al-Islami mengatakan:” Sunnah adalah apa-apa yang muncul dari Nabi saw berupa perkataan, perbuatan, atau taqrir (ketetapan). Sebagian ahli ushul melupakan taqrir, karena pengertiannya adalah “tidak mengingkari” yang dapat dikategorikan bagian dari fi’il (perbuatan), jadi mereka memasukkan taqrir dalam fi’il. Definisi ini hanya tertentu bagi ahli ushul. Sunnah yang dimaksud di sini adalah apa-apa yang muncul dari Rasul saw tanpa melihat pada sifatnya; mutawatir atau ahad. Sunnah adalah sumber kedua dari sumber-sumber syariat setelah Al-Qur’an secara ijma’. Orang yang mengingkari pengamalan sunnah dihukum kafir juga menurut ijma’. Karena mengingkari perintah Allah swt serta berpaling darinya. Allah swt berfirman:

 Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (An-nisa:80)

 Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(An-nisa: 65)

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya.(An-nisa: 13)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang ini[1].

Patut disebutkan di sini, diantara konsekwensi pendapat yang mengatakan Rasul saw berijtihad adalah tidak adanya kewajiban mengikuti pendapat Nabi saw. Mujtahid mana saja berhak membuat ijtihad yang menyalahi ijtihad Rasul saw. Bahkan ia mendapat pahala, salah atau benar. Kesimpulannya, mengatakan Rasul saw berijtihad akan memunculkan banyak ijtihad yang bertentangan dengan nash-nash.

 

DEFINISI IJTIHAD

Ijtihad menurut bahasa diambil dari akar kata “Jahada” yang berarti: mengerahkan daya upaya, atau menanggung kesulitan. Bentuk wazan ifti’al menunjukkan pengertian bersungguh-sungguh dalam berbuat. Karena itulah bentuk kata: “iktasaba” (berusaha keras), lebih kuat artinya dari kata: “kasaba” (berusaha,mencari).

Jadi, menurut bahasa ijtihad adalah mengerahkan seluruh kemampuan dalam melakukan apa saja, dan hanya dipakai pada melakukan sesuatu yang berat dan sulit. Dikatakan: “ijtahada fi hamli hajarirraha” (bersungguh-sungguh mengangkat batu besar), tidak tepat mengatakan: “ijtahada fi hamli khardal” (bersungguh-sungguh mengangkat biji sawi)[2].

Sedangkan menurut istilah para ahli ushul terdapat beberapa definisi yang berbeda:

Asy-syaukani dalam kitab Irsyad al-fuhul[3] mendefinisikannya sebagai “mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencapai sebuah  hukum syariat yang bersifat amali melalui cara istimbat”. Ini juga definisi yang dikemukakan Imam Az-Zarkasyi di kitab Al-bahrul Muhith, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Ijtihad[4] karangan Sayyid Muhammad Musa Tuwana.

 

Sebagian ahli ushul menggunakan kata “istifragh al-wus’i”(menghabiskan daya upaya” sebagai ganti kalimat “bazdlul wus’i”. Bahkan Imam Al-Amidi menambahkan dalam definisinya: Ijtihad adalah menghabiskan seluruh daya upaya untuk mendapatkan sebuah dzon(dugaan) tentang suatu hukum syariat dengan cara yang sangat maksimal[5]. Menurut Ibnu Al-Hajib: Ijtihad adalah menghabiskan seluruh daya upaya untuk  menghasilkan hukum syariat yang berfifat dzonni[6]. Ibnu As-Subki mendefinisikan ijtihad sebagai usaha seorang ahli fiqih yang sungguh-sungguh untuk menghasilkan sebuah hukum yang dzonni[7]. Ibnul Hammam mengatakan: Ijtihad adalah usaha seorang ahli fiqih mengerahkan potensinya dalam menghasilkan suatu hukum syariat yang dzonni[8].

 

PENDAPAT PARA AHLI USHUL TENTANG IJTIHAD RASUL SAW

Ahli ushul berbeda pendapat tentang apakah Rasul saw boleh berijtihad atau tidak. Ada beberapa pendapat:

Pertama: Boleh menurut akal

Ini adalah pendapat mayoritas ahli ushul dari ahli sunnah, diantaranya Ibnul Hajib, Al-Amidi, dan seluruh pengikut Imam Hanafi[9]. Begitu juga semua pengikut Imam Hanbali, dan sebagian pengikut Imam Syafii seperti Al-Baidhowi. Bahkan Al-Asnawi menisbatkan pendapat ini kepada Asy-Syafii, katanya: Jumhur ulama berpendapat boleh, demikian dinukil oleh Imam Al-Razi dari Asy-Syafii. Al-Amidi juga menisbatkan pendapat ini ke Asy-Syafii. Ia mengatakan: As-Syafii di dalam Al-Risalahnya membolehkan hal itu tanpa memastikan. Dan pendapat ini lah yang diikuti sebagian pengikut As-Syafii, Qadhi Abdul Jabbar, dan Abul Husain Al-Bashri dari Mu’tazilah.

Ibnu Taymiyyah di dalam kitab Al-Muswaddah berkata: Boleh Nabi kita menghukum dengan ijtihadnya dalam perkara yang bukan wahyu. Demikian disebutkan Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Uqail, dan Abul Khottab. Secara implisit Imam Ahmad berpendapat sama[10].

Kedua: Mutlak tidak boleh

Imam Ibnu Hazm berpendapat tidak boleh secara mutlak. Beliau mengatakan: Orang yang menyangka bahwa ijtihad boleh bagi para nabi di dalam syariat yang bukan wahyu adalah kekafiran yang besar. Pendapat itu dapat dibantah dengan perintaah Allah swt kepada Nabi-NYA saw untuk mengatakan: “Aku semata-mata mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku” [11].

As-Syaikani menisbatkannya kepada golongan Al-Asy’ari[12] sebagaimana dikutip dari Abu mansur Al-Maturidi[13]. Ini juga adalah pendapat mayoritas Mu’tazilah; karena telah disebutkan bahwa Abul Husain Al-Bashri berpendapat boleh. Ada dikatakan, pengikut-pengikut Al-Jibai – seperti Abu Ali dan anaknya Abu Hasyim – mempunyai dua pendapat: Pertama, Mutlak tidak boleh. Dan kedua, boleh dalam hal yang berhubungan dengan peperangan saja[14].

Mereka yang berpendapat boleh berbeda pada dua persoalan: Pertama, dalam hal tempat ijtihad. Kedua, dalam hal terjadinya ijtihad.

Mengenai tempat ijtihad, dalam arti apakah boleh Rasul saw berijtihad di dalam urusan-urusan agama dan urusan-urusan dunia? Masalah ini menjadi perdebatan di antara ulama yang berpendapat boleh. Al-Qarrafi mensinyalir adanya kesepakatan boleh dalam perkara-perkara pengadilan. Ia mengatakan: Pokok perbedaan pendapat ada dalam masalah fatwa. Dalam perkara-perkara pengadilan boleh ijtihad menurut ijma’[15]. Al-Asnawi sepakat dengannya dalam hal ini. Beliau mengatakan: Mereka (yang membolehkan), sepakat terjadinya ijtihad dari Rasul saw dalam perkara-perkara pengadilan dan memutuskan persengketaan[16].

  1. Nadiah Syarif Al-‘Amri menyatakan: Sebenarnya ulama berbeda pendapat dalam bolehnya para Nabi berijtihad mengenai hukum-hukum syariat, dan fatwa agama[17], boleh jadi orang yang mengatakan ijma’ atas masalah ini belum menemukan adanya pendapat yang menentang, atau mungkin tidak menganggapnya; karena jelasnya kebenaran jaiz aqli[18].

Adapun mengenai adakah terjadi ijtihad Rasul saw atau tidak, ulama yang berpendapat boleh terbagi kepada tiga pendapat:

Pertama: Terjadi ijtihad dari Rasul saw secara mutlak, dengan pengertian beliau memberikan jawaban dengan hanya munculnya peristiwa tanpa menunggu wahyu. Ini adalah pendapat mayoritas ahli sunnah, diantaranya Imam Malik, As-Syafii, Ahmad, dan ahli hadits pada umumnya, sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Amin, pengarang kitab Taisir At-Tahrir dan lainnya dari pengikut  Imam Abu Hanifah, seperti Al-Bukhari; pensyarah kitab Ushul Al-Bazdawi, dan Al-Bahari; pengarang kitab Muslam As-Tsubut[19].

Pendapat kedua: Ijtihad terjadi setelah Rasul saw menunggu wahyu, ini adalah madzhab Abu Hanifah, demikian dijelaskan Al-Kamal bin Al-Hammam, ia berkata: Pendapat yang dipilih oleh pengikut Imam Abu Hanifah Rasul saw diperintahkan menunggu wahyu terlebih dahulu, selama masih diharapkan turun sampai dikuwatirkan peristiwanya lewat, maka barulah berijtihad[20].

Dalam hal ini Al-Sarkhasi mengatakan: Pendapat yang paling benar menurut kami, Rasul saw mengenai perkara yang wahyu tidak diturunkan tentangnya adalah menunggu sampai masanya habis, kemudian beliau berijtihad dan menjelaskan hukum berdasarkan dengannya[21].

Al-Bahari menambahkan: “Menurut pengikut Imam Abu Hanifah, Nabi saw bertindak dengan ijtihadnya setelah menunggu wahyu hingga peristiwanya berlalu; karena keyakinan tidak ditinggalkan selama masih memungkinkan” [22]. Pendapat ini dikuatkan oleh Abdul ‘Ula, ia mengatakan: “ Ini perkara yang logis dan penting, mengingkarinya merupakan suatu kesombongan, keyakinan tidak ditinggalkan hanya karena suatu dugaan, kecuali setelah menunggu” [23] .

Pendapat ketiga: Tawaqquf, tidak memutuskan apa-apa. Ini adalah pendapat Al-Ghazali. Ia mengatakan: “Ulama berbeda pendapat mengenai apakah boleh Nabi saw berijtihad dalam perkara yang tidak ada nashnya. Yang dilihat adalah mengenai boleh dan terjadinya. Pendapat yang dipilih mengatakan boleh Rasul saw bertindak dengan itu. Mengenai terjadinya, sebagian ulama mengiyakannya, sedangkan sebagian yang lain mengingkarinya, kelompok ketiga memilih tawaqquf, ini lah yang lebih benar, karena secara qathi hal itu tidak dapat ditetapkan[24]. Di dalam kitab AlMunkhul beliau mengatakan: “Pendapat yang dipilih adalah boleh Rasul saw berijtihad, ini boleh menurut akal, adapun realitasnya, dalam anggapan umum beliau tidak berijtihad dalam masalah-masalah  yang bersifat perinsip, tetapi di dalam masalah furu’ saja[25].

Mengenai sikaf tawqquf ini, As-Syaukani berkomentar: “As-Shairofi di dalam syarah kitab Al-Risalah menganggap bahwa ini adalah pendapat As-Syafii, karena beliau hanya menyampaikan pendapat-pendapat ulama tanpa memilih salah satunya. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Qadhi Al-Baqillani dan Al-Ghazali” [26].

PERNYATAAN-PERNYATAAN AHLI SUNNAH SEPUTAR IJTIHAD RASUL SAW

  1. Berkata Al-Amidi: “Ulama berbeda pendapat dalam hal apakah Nabi saw bertindak dengan ijtihad mengenai perkara yang tidak ada nash Al-Qur’annya? Imam Ahmad bin Hambal, Qadhi Abu Yusuf berpendapat: Rasul saw melakukannya, hal ini boleh saja menurut As-Syafii di dalam Al-Risalahnya. Demikian juga pendapat pengikut-pengikutnya, Qadhi Abdul Jabbar, dan Abul Husain Al-Bashri. Memang, Nabi saw bribadah dengan ijtihadnya dalam perkara yang tidak ada kejelasan nash Al-Qur’an tentangnya. Kemudian Al-Amidi menyatakan: “pendapat yang dipilih menurut kami adalah boleh secara akal, dan terjadi berdasarkan riwayat” [27].

Kemudian ia menambahkan: “Mereka yang berpendapat bolehnya Nabi saw berijtihad berbeda dalam hal apakah mungkin Nabi saw salah dalam ijtihadnya? Sebagian pengikut kami mengatakan tidak mungkin ada kesalahan dalam ijtihat-ijtihad Nabi saw, namun mayoritas mengatakan boleh, termasuk pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, ahli hadits, Al-Jibai, dan segolongan dari Mu’tazilah” [28].

  1. Musa Tuwana berkata dalam kitabnya: Al-ijtihad wa Mada Hajatuna Ilaihi fii Hadzal Ashri; “Dalam Islam, Ijtihad sudah ada sejak masa Rasul saw. Beliau berijtihad mengenai perkara-perkara yang tidak ada hubungannya dengan kerasulan”. Kemudian ia menyebutkan kasus pengawinsilangan korma sebagai dalil atas pendapat ini[29].
  2. Berkata Syekh Muhammad Abduh: “Izin boleh tidak berperang bagi sekelompok orang yang menyebabkan Nabi saw mendapat tegoran merupakan ijtihad dari beliau dalam perkara yang tidak ada nash wahyunya, hal itu boleh terjadi dari para Nabi, karena mereka tidak maksum dari kesalahan dalam masalah seperti ini. Sifat maksum yang disepakati tertentu pada menyampaikan wahyu, menerangkan, dan mengamalkannya…ini dikuatkan hadits Thalhah mengenai kasus mengawinsilangkan korma; ketika Nabi saw melihat mereka melakukannya” [30].
  3. Seorang Qadhil Qudhat pengikut Mu’tazilah mengatakan dalam kitab Al-Mughni: “Rasul saw hanya berijtihad dalam perkara yang menyangkut kemaslahatan duniawi seperti peperangan dan semacamnya, dan tak mesti berdasarkan wahyu, bukan dalam hukum-hukum syariat. Dan ijtihadnya itu boleh ditentang setelah beliau wafat, sekalipun dilarang ketika masih hidup; sebab ijtihad beliau ketika hidup lebih utama dari ijtihad orang lain” [31].
  4. Muhammad Faruq An-Nabhan berkata: “Terjadi perdebatan sangat hebat antara ulama dalam masalah ijtihad Nabi saw. Sebagaimana diketahui, Allah swt menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi-NYA serta memerintahkan agar menjelaskan kepada manusia, dan menjadikannya pedoman hukum dalam menyelesaikan permasalahan mereka, oleh karena itu, tidak ada ruang ijtihad dalam hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an, karena adanya nash. Sedangkan mengenai hukum-hukum yang tak ada nashnya, apakah boleh Rasul saw berijtihad?

Ia melanjutkan: “berkenaan dengan ini, saya dapati ulama terbagi pada dua pendapat:

  1. Kelompok Asya’irah dan mayoritas mu’tazilah berpendapat bahwa Rasul saw tidak boleh berijtihad; karena apa yang muncul dari beliau berupa perbuatan, dan perkataan tak bisa salah; berdasarkan firman Allah swt:

dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).An-Najm; 3-4)

Kemudian,  ijtihad  itu bisa salah, bisa benar, tidak boleh Nabi mengacu padanya. Karena beliau sudah bersandar pada wahyu yang tak mungkin salah. Tambahan lagi, Rasul saw  menunggu wahyu dalam banyak masalah yang dihadapi, di antaranya kasus warisan dua anak permempuan Sa’ad bin Rabi’, ketika ibu mereka mengeluhkan paman mereka yang menghabiskan semua harta peninggalan, beliau berkata: “Allah telah memberikan keputusan”, lalu turunlah ayat:

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. …(An-Nisa:11)

  1. Mayoritas ahli ushul berpendapat Rasul saw boleh berijtihad, berdasarkan keumuman ayat tentang wajibnya menghukum antara manusia dengan kebenaran yang dikehendaki Allah swt. Dan ijtihad, apabila boleh bagi seorang mujtahid yang tidak maksum, tentu akan lebih boleh lagi bagi Rasul saw” [32].

6.An-Nabhan mengatakan juga di bagian lain dari kitabnya: “Ijtihad sudah ada sejak masa Rasul saw, dan mujtahid pertama adalah Rasul yang mulia. Bila ada sahabat yang berijtihad mereka mengemukakannya kepada beliau, lalu ditetapkan atau dibatalkan…Kita dapat membagi ijtihad-ijtihad Rasul saw kepada dua macam: Pertama: Ijtihad tasyri’i yang bersifat wajib. Seperti menjelaskan hukum-hukum Al-Qur’an yang mujmal, muqayyad, dan ‘aam. Menjelaskan halal dan haram, sah dan batal. Semua ijtihad-ijtihad ini wajib, sama kedudukannya dengan hukum syariat, dan tidak boleh ada kemungkinan salah di dalamnya.

Kedua, ijtihad yang muncul dari Nabi yang mulia dengan kedudukan beliau sebagai hakim dan pemimpin, yang demikian ada pada perkara-perkara yang beliau menggunakan akal dan upaya keras untuk sampai pada suatu pendapat, oleh karena itulah beliau bermusyawarah dengan para sahabat dan menerima pendapat mereka, seperti musyawarah tentang tawanan perang Badar” [33].

Persis dengan konteks ini perkataan Syekh Badr Al-Mutawalli ‘Abdul Basith, Dekan Fakultas Syariat Dan Hukum, di Universitas Al-Azhar, dalam artikelnya di Majallah Al-Araby, Kuwait tentang ijtihad di masa Rasul saw” [34].

7.DR. Muhammad Salam Madkur menyatakan: “Pendapat akhir saya, Rasul saw dibolehkan berijtihad, dan memang beliau berijtihad dalam urusan perang dan pengadilan, dan hukum-hukumm syariat. Beliau juga mengizinkan para sahabat berijtihad sebagaimana telah disebutkan, ini lah pendapat mayoritas ahli usul” [35].

 

Ia menambahkan: “Jadi mayoritas ahli fiqih dan usul berpendapat bahwa Rasul saw berijtihad, dan beliau bisa salah, sekalipun tidak mengakuinya” [36].

8.Dr. Nadiah Syarif dalam kitabnya: Ijtihadurrasul[37]: “Nabi saw bertindak dengan ijtihad. Para ahli usul sepakat atas hal itu dalam perkara-perkara dunia. Mereka berbeda pendapat dalam tindakan Nabi saw dalam urusan syariat. Saya menguatkan bahwa beliau berijtihad juga. Saya akan coba jelaskan secara detail tentang ini di halaman-halaman berikutnya, melalui analisis terhadap empat topik berikut: 1. Ijtihad Nabi saw dalam urusan dunia murni. 2. Ijtihad beliau dalam perang. 3. Hukum-hukum yang diputuskan Nabi saw. 4. Ijtihad-ijtihad Nabi saw dalam bab ibadah.

Dalam kitab: Al-Ijtihad fil Ahkam As-Syar’iyyah Syekh Al-Azhar, DR. Muhammad Sayyid Thanthawy mengatakan: “Mayoritas ulama berpendapat Rasul saw boleh berijtihad dalam urusan dunia dan hukum-hukum syariat” [38].

TEORI KEMUNGKINAN SALAH DALAM IJTIHAD RASUL SAW

  1. Nadiah Syarif Al-‘Amri berkata: “Pendapat kedua: Ijtihad Rasul saw mungkin salah, tetapi beliau tidak mengakuinya. Ini pendapat mayoritas pengikut Imam Abu Hanifah[39]. Dan dikutip oleh Al-Amidy dari mayoritas pengikut Imam Syafii, Ahmad bin Hanbal, ahli hadits, dan sekelompok dari Mu’tazilah. Inilah pendapat yang dipilih menurutnya[40]. Al-Kamal bin Al-Hammam mengatakan: “Sudah jelas bahwa pendapat yang dipilih adalah mungkinnya salah dalam ijtihad Rasul saw, hanya saja beliau tidak mengakuinya, berbeda dengan selain beliau…” [41].

Al-Khithobi dalam kitab Ma’alimul hadits mengatakan: “Mayoritas ulama sepakat bahwa Nabi saw boleh salah dalam perkara yang tidah ada wahyunya, namun mereka juga sepakat bahwa mengakui kesalahan itu bagi Nabi saw tidak mungkin” [42].

Al-Amidi berkata: “Ulama yang berpendapat bolehnya ijtihad Rasul saw berbeda mengenai apakah mungkin salah dalam ijtihad beliau?, sebagian ulama kami – pengikut Syafii – tidak membolehkan itu. Tetapi mayoritas kami, pengikut Imam Ahmad bin Hambal, ahli hadits, Al-Jibai, dan segolongan dari Mu’tazilah mengatakan boleh, dengan syarat Rasul saw tidak mengakuinya, inilah pendapat yang dipilih…” [43].

 

PENDAPAT RASUL SAW TIDAK BERIJTIHAD; SIKAP-SIKAP, DAN DALIL

Mereka yang menolak ijtihad Rasul saw beralasan sebagai berikut:

Ayat-ayat al-qur’an:

Ada sejumlah ayat, diantaranya firman Allah ta’ala:

dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).An-Najm; 3-4)

 Dan ayat:

dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini[675] atau gantilah dia[676]”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)”.(Yunus: 15)

Imam Al-Fakhrurrazi dalam tafsir ayat ini menyatakan: “Ini menunjukkan bahwa Rasul saw tidak menghukum kecuali dengan wahyu, dan juga menunjukkan bahwa beliau tidak pernah menghukum berdasarkan ijtihad sama sekali” [44].

Ayat yag lain adalah:

tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (al-an’am: 50)

Dan firman Allah swt:

Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku Termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”.(Al-An’am: 59)

Firman Allah swt juga:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.(Al-A’raf: 203)

Dalam ayat yang lain:

Katakanlah: “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.(Al-Ahqaf: 9)

Al-Imam Al-Fakhrurrazi mengatakan dalam tafsirnya[45]: “Nash ini menunjukkan bahwa Rasul saw tidak pernah menghukum berdasarkan pendapatnya sendiri dalam suatu hukum, dan beliau tidak pernah berijtihad. Semua keputusan-keputusannya berdasarkan wahyu, dan ini dikuatkan oleh ayat:

dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)(.An-Najm; 3-4)

Segi dalil ayat ini adalah kekhususannya dengan Al-Qur’an, qarinah takhsisnya ada, yaitu Nabi saw banyak menggunakan pendapatnya dalam perang dan masalah lain, jadi harus ada takhsis.

Menurut saya, kekhususan ayat ini dengan Al-Qur’an dibantah dengan kesepakatan ulama bahwa kekhususan tema bahasan tidak mengkhususkan dalil yang datang. Sedang apa yang mereka sebut sebagai qarinah tidak dapat menjadi hujjah sebagai takhsis, karena tak bisa diterima bahwa hal itu berdasarkan pendapat semata, sebab boleh jadi juga dari ilham.

Di antara dalil juga, firman Allah swt:

seandainya Dia (Muhammad) Mengadakan sebagian Perkataan atas (nama) Kami,

niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya

 kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.(Al-Haaqah: 44-46)

Segi dalilnya adalah, ijtihad yang salah termasuk mengadakan perkataan atas nama Allah, sedangkan Nabi saw jauh dari kekurangan. Dengan kata lain: Allah swt tidak memegangnya pada tangan kanannya, jadi beliau tidak pernah  mengadakan sebagian perkataan atas nama Allah swt, walau dengan ijtihad yang salah sekalipun.

Anda kemudian katakan: “Jika hukuman perkataan atas nama Allah swt seperti itu, kenapa ijtihad-ijtihad disyariatkan?

Jawabnya: Khitob ayat itu jelas adalah Nabi saw, dan ketika beliau sudah didukung dengan ilham dan wahyu, maka berkata mengatasnamakan Allah swt haram baginya dan semua orang jika hal itu disengaja.

Termasuk dalil adalah firman Allah swt:

Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu “.(Al-Anbiya: 45)

Mengenai ayat ini, Al-Muhami Al-Syawwaf  mengatakan: “Maksudnya, katakanlah wahai Muhammad, aku hanya memberi peringatan kepada kalian berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadaku, jadi sumbernya terbatas pada wahyu…, dan tidak boleh ditakhsis bahwa yang diucapkan dari Al-Qur’an saja, tapi tetap pada keumumannya yang mencakup Al-Qur’an dan Hadits…” [46].

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

(dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

 kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.(Al-Jin: 26-27)

IJTIHAD BERFAIDAH DZONNI

Ijtihad berfaidah dzonni, sedangkan Rasul saw menerima hukum syariat dari wahyu atau dengan perantara ilham yang merupakan hujjah atas dirinya  dan orang lain. Orang yang mampu memperoleh yakin, tak boleh mengikuti dzon (dugaan).

Pengikut Imam Abu Hanifah berpendapat: Anggapan bahwa Rasul saw tak diberi kekuasaan atas wahyu ditolak, karena wahyu sekalipun tidak dikuasakan atasnya kecuali dengan kehendak Allah swt, namun Nabi saw dengan statusnya sebagai utusan Allah swt, dan banyaknya peristiwa membutuhkan adanya hukum, jadilah turunnya wahyu sebagai kasih sayang bagi orang mukallaf dikarenakan keterbatasan pengetahuannya tentang yang ghaib, kasih sayang seperti ini adalah wajib, sebagaimana telah ditetapkan pada pembahasnnya tersendiri.

FENOMENA TERLAMBATNYA JAWABAN RASUL SAW DALAM SEBAGIAN PERMASALAHAN BARU

Jika Rasul saw berijtihad, tentu beliau tak menunda jawaban mengenai banyak pertanyaan. Padahal diriwayatkan bahwa beliau sering tidak memberi jawaban dalam banyak kasus hukum hingga turun wahyu, seperti masalah dzihar dan li’an, dan tentang warisan bibi, hingga turunnya wahyu[47] .

As-Syawwaf mengatakan: “Rasul saw menunggu wahyu dalam banyak kasus hukum, seperti zhihar, li’an, dan lainnya, tidak pernah beliau menetapkan hukum suatu masalah, atau melakukan perbuatan syariat, atau hanya diam, kalau bukan karena wahyu dari Allah swt…” [48].

As-Syaukani berkata: “Mereka beralasan juga bahwa Nabi saw apabila ditanya,  terlebih dahulu menunggu wahyu, lalu menjawab: “Tidak ada wahyu kepada saya tentang hal ini, seperti ketika ditanya tentang zakat keledai, beliau menjawab: tak ada wahyu yang saya terima dalam hal itu selain ayat yang umum ini:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.

 dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.(az-zalzalah:7-8)

 

Beliau menunggu wahyu dalam banyak masalah yang ditanyakan, seperti kasus dzihar Khaulah binti Tsa’labah, hingga kemudian turunlah ayat-ayat yang pertama dari Surat Al-Mujadilah” [49].

 Ibnu Majah meriwayatkan dari Aisyah: Segala puji bagi Allah yang pendengarannya mencakup semua suara, telah datang seorang wanita mengadu kepada Nabi saw tentang suaminya, sedang aku berada di sudut rumah. Aku sendiri tidak mendengar apa yang ia katakan, ketika Allah swt menurunkan ayat[50] :

Sesungguhnya Allah telah mendengar Perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat .(Al-Mujadilah: 1)

AGAMA DAN ATURAN-ATURAN MANUSIA

Bila agama tunduk pada aturan manusia, apa yang dapat membedakan antara agama dan aturan-aturan manusia? Dan apa dampak yang mungkin muncul terhadap hukum dan undang-undang yang dicetuskan dari pemikiran manusia yang selalu berubah dalam integrasi sosial, Allah swt berfirman:

 (dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

 kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

supaya Dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.(Al-jin: 26-28)

 ALLAH SWT TIDAK MENYURUH MENGIKUTI YANG SALAH

As-Syawwaf mengatakan: “Ijtihad artinya  ada kemungkinan terjadinya kesalahan, dan oleh karena Rasul saw wajib diikuti, maka itu berarti jika beliau berijtihad, kemudian salah, kita wajib mengikuti kesalahan, ini tidak benar, karena Allah swt tidak mungkin menyuruh mengikuti kesalahan” [51].

Kalau dikatakan: “Jika hukumnya seperti itu, mengapa ijtihad diperbolehkan?

Jawabannya: “Pernyataan Al-Syawwaf berkaitan dengan Nabi saw, Ketika beliau dikuatkan dengan ilham dan wahyu, maka ijtihad tidak boleh baginya dan juga setiap orang, jika hal itu disengaja, sebagaimana telah dijelaskan.

RASUL SAW MAKSUM DARI KESALAHAN

Al-Muhami As-Syawwaf mengatakan: “Lebih daripada itu, Rasul saw maksum dari kesalahan dalam menyampaikan wahyu, tidak boleh ada kemungkinan salah dalam menyampaikan sama sekali; karena tidak sesuai dengan kerasulan dan kenabian. Jadi, mengakui kerasulan Nabi saw mengharuskan keyakinan bahwa beliau tidak boleh salah dalam penyampaian sekaligus maksum. Oleh karena itu secara mutlak tidak ada ruang ijtihad baginya dalam hukum-hukum yang disampaikan” [52].

LARANGAN MENENTANG RASUL SAW

Apabila secara akal Rasul saw boleh berijtihad, maka ijtihadnya itu tentu tanpa nash, sehingga statusnya adalah dzonni, mungkin salah, dan bisa ditentang seperti ijtihad lainnya. Akan tetapi menentang Rasul saw tidak dibenarkan; sebab berlawanan dengan tujuan diutusnya beliau kepada manusia, ini jelas batal, dan Allah swt berfirman:

“Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”.(Annisa:14). Kesimpulannya, ijtihad tidak boleh bagi Rasul saw.

KATEGORI ILMU NABI ADALAH HUDHURI(in presence)

Pengetahuan Nabi saw terhadap objek-objek luar yang partial dan murni, begitu juga terhadap objek-objek hukum kulli, terutama hukum ketuhanan bersifat hudhuri; karena ketidaktahuan terhadap objek-objek itu adalah kekurangan dan merendahkan kedudukan beliau, dalam hal yang menjadi kewenangan dan tugas beliau untuk menjelaskannya. Jika demikian, beliau tidak bisa menjadi hujjah atas hamba, bahkan kenabian dan keimamannya batal.

Dengan kata lain: akal melihat bahwa Allah Yang Maha Lembut wajib membuat Hujjah antara Dia dan hamba-hamba-Nya, yang bertugas menyampaikan hukum-hukum-Nya, dan menerangkan aturan-aturan-Nya. Sang Hujjah tentulah menghimpun segala sifat kesempurnaan, bebas dari semua sifat kekurangan, tak ada sesuatu dalam dirinya yang dapat menjadikannya sasaran penghinaan , pelecehan, dan objek kritikan. Ia harus jauh dari kekurangan, baik dalam bentuk fisik atau tingkah laku agar layak menjadi seorang Hujjah, dan tak seorangpun yang melebihi keutamaan dan keilmuannya.

Pendapat mereka sungguh aneh, disebabkan ketidaktahuan terhadap konsekuensi-konsekuensi negatif dan reaksi-reaksi tak menyenangkan yang akan kembali kepada mereka sendiri? Bagaimana kekeliruan yang lazim itu bisa sejalan dengan tujuan Allah yang Maha Bijaksana, Lagi Maha Lemah Lembut.  Bagaimana mungkin Allah swt menyuruh mengikuti orang yang bisa salah, tetapi melarang menentang orang yang berbahaya? Bagaimana Dia mewajibkan taat dan tunduk kepada seseorang yang mungkin lupa atau gagal akibat kebodohannya, sementara melarang melawan orang dikhawatirkan berbuat kekeliruan fatal? Apakah boleh bagi Zat Yang Maha Bijaksana mengangkat pemimpin umat yang tingkah dan sifat-sifatnya seperti itu?

Nabi saw diutus kepada sekalian alam, dan untuk menguasainya serta  membumikan syariat di dalamnya dituntut kecakapan dan kemampuan yang tidak terdapat dalam diri manusia. Bagaimanapun keilmuan dan kekuasaannya, kekuatan fikiran dan suasana hatinya,  serta kestabilan wataknya, pemangku dakwah dan pemegang kekuasaan ini harus memiliki pengetahuan khusus yang hudhuri dari Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha Agung, agar mampu meliputi setiap perkara. kalau tak ada itu, tentulah risalahnya kurang, kesejahteraan dan keadilan tak akan merata. Oleh karena itu pengetahuan Rasul saw yang hudhuri terhadap berbagai urusan adalah bagian dari dasar-dasar risalah yang umum, serta menjadi pondasi yang lazim untuk menerapkan syariat secara menyeluruh.

Pentingnya Ilmu Hudhuri ini diperkuat oleh hal-hal berikut:

  1. Yang paling sempurna dalam kerasulan seorang Rasul adalah memiliki sifat paling sempurna, sifat itu tidak sempurna selagi ilmunya tidak hudhuri atau masih tergantung dengan kehendak; karena ilmu yang tergantung pada kehendak hanyalah sempurna, bukan yang paling sempurna. Keutamaan, bukan yang paling utama.
  2. Diutusnya para Nabi dan Rasul adalah nikmat yang dianugerahkan Allah swt atas hamba-hamba-Nya, selamanya wajib disyukuri, dan diakui sebagai karunia yang teramat banyak. Apakah tidak pantas nikmat ini dalam kondisi yang paling sempurna, bentuk yang paling lengkap, dan model yang paling baik, sedangkan Allah swt kuasa melakukannya tanpa ada halangan yang berarti?

Akal tidak meragukan bahwa termasuk kesempurnaan anugerah adalah nikmat itu paling baik, sifat itu paling utama, dan model itu paling baik, sebagaimana tidak diragukan bahwa ilmu hudhuri adalah nikmat yang paling sempurna, ciptaan yang paling lengkap, dan sifat yang paling baik sesuai dengan kapasitas tempat dan kebutuhan kepadanya.

  1. Diutusnya para Rasul dan dijadikannya mereka sebagai Hujjah serta jelasnya bukti-bukti, adalah kebaikan dari Allah swt. Kebaikan yang paling sempurna haruslah dalam bentuk paling indah, paling lengkap, paling rapi, atau paling tidak sampai pada tingkat sempurna.

Akal tidak meragukan bahwa Allah Yang Maha Baik hanya akan memperlakukan nikmat-Nya, kebaikan-kebaikan-Nya, hujjah-hujjah-Nya, dan ayat-ayat-Nya atas seseorang yang paling sempurna, paling tinggi, paling indah, dan menawan.

  1. Sifat-sifat Rasul saw adalah percontohan dari sifat-sifat Allah swt Yang Maha Agung. Sangat jelas, bahwa percontohan yang paling ideal hendaklah memiliki sifat paling sempurna, tingkah laku paling utama; jadi ilmu hudhuri adalah paling utama, karena paling ideal dijadikan percontohan.

 

Hal ini dibuktikan bahwa dunia fisik ini ada yang membuatnya, dan dengan tanda-tanda, Sang Pembuat yang Maha Kreatif itu ditemukan. Yang paling mudah dijangkau adalah Dia memiliki contoh yang merepresentasikan ketinggian sifat-sifatnya, setelah tak mungkin mencapai Zat-Nya Yang Maha Suci secara langsung.

Apabila kita sudah mengetahui berdasarkan atsar-atsar bahwa Rasul saw adalah alam yang paling sempurna sifatnya, dan paling baik amalnya, tahu lah kita bahwa percontohan dalam dirinya paling sempurna, apakah tidak layak beliau merupakan model tertinggi? Atau kah masih ada kekurangannya?

  1. Rasul saw adalah dalil atas Zat Yang Maha Membuat, lagi Maha Suci, Yang menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya yang tiada terhingga. Seorang dalil – secara hukum akal – wajib mampu menjalankan tugasnya. Bukankah wilayah yang paling tinggi, dan isyarat yang paling ideal, bahwa seorang dalil harus paling baik tingkah lakunya, paling utama sifatnya, atau paling tidak berperangai baik, walaupun masih ada yang lebih tinggi kedudukannya daripadanya?

Akal tidak meragukan bahwa yang paling pantas bagi seorang dalil adalah yang paling tinggi kedudukannya, agar dapat lebih mudah menunjukkan esensi dan sifat Sang Madlul yang tak bisa dideskripsikan  dan dicapai hakikat-Nya secara konkrit.

  1. Nabi saw adalah duta Allah swt kepada manusia, kepercayaan-Nya atas makhluk, dan saksi-Nya atas mereka. Bagaimana mungkin seorang saksi, duta, dan kepercayaan atas manusia adalah seseorang yang tidak mengetahui tentang urusan mereka, tidak tau apa yang mereka kerjakan, dan tidak merasakan apa isi hati mereka?

Jikalau ilmunya bersifat hudhuri, tentulah ia berhak menjadi saksi ummat, ia mengetahui pekerjaan mereka, dapat dipercaya, menyampaikan nasehat, menjadi duta, perantara antara Allah dan hamba-Nya, menyampaikan hukum-hukum dan ajaran-ajaran-Nya, menyuruh berbuat taat, serta mencegah berbuat maksiat.

  1. Terdapat di beberapa ayat Al-Qur’an mengenai ilmunya yang hudhuri, di antaranya firman Allah swt:

Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya (ali-Iimran:7)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi saw termasuk orang-orang yang rasikh ilmunya, ilmu mereka Allah sertakan dengan ilmu-Nya dalam menta’wil. Jadi, ilmu ta’wil mereka bersejajar dengan ilmu-Nya. Bagaimana mereka bisa menta’wil kalau ilmunya tidak ada? Bagaimana Allah swt menyertakan ilmu mereka dengan ilmu-Nya jika ilmu mereka tidak ada?

Ayat yang lain adalah:

(dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

 kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.(Al-Jin:26-27)

 Jelaslah, Rasul saw adalah orang yang diridhoi Allah swt mengetahui ghaib, bahkan hadits-hadits mengenai tafsir ayat ini sangan jelas. Bukankah ilmu hudhuri itu ilmu terhadap ghaib? Bukankah ilmu hudhuri itu sulit dicapai dan berat karena keghaibannya? Ghaib hanya Allah swt yang tau. Jadi di manakah keberadaannya sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini?

Allah swt juga berfirman:

 Maka Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu.(Annisa;41).

Dan juga firman-NYA:

 dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan Dia seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi.(Qaff:21)

 Dan ayat-ayat lainnya, yang dengan jelas menunjukkan adanya saksi atas umat di hari kebangkitan dan penghimpunan. Saksi yang dimaksud adalah Nabi saw dan orang-orang kepercayaannya. Bagaimana mereka bisa menjadi saksi manusia, jika tidak memiliki ilmu hudhuri? Bukankah seorang saksi harus ada dan mengetahui?

Allah swt juga berfirman:

dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu (annahl:89)

 Dengan ini kita fahami bahwa Nabi saw mengetahui segala sesuatu, dengan ilmunya yang hudhury.

RIWAYAT-RIWAYAT TENTANG TERPELIHARANYA RASUL SAW DARI LUPA DAN SALAH

Banyak riwayat tentang wajibnya Nabi saw terjaga dari kesalahan dan lupa, diantaranya:

  1. Muslim meriwayat dari shofiyyah binti Syaibah, katanya: Aisyah berkata: Suatu pagi Nabi saw keluar memakai baju dari bulu hitam yang ada gambar-gambarnya. Kemudian datang Hasan bin Ali, lalu beliau menyuruhnya masuk, kemudian datang Husain, lalu disuruh masuk, kemudian datang Fatimah, lalu disuruh masuk, kemudian datang Ali, lalu disuruh masuk juga, Rasulullah saw kemudian membaca ayat:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(Al-Ahzab:33) [53]

  1. Atturmudzi meriwayatkan dari ‘Amr bin Abu Salamah, anak tiri Nabi saw. Ia berkata: Ketika turun ayat (Al-Ahzab:33) di rumah Ummu Salamah, beliau langsung memanggil Fatimah, Hasan, dan Husein, lalu menutupi mereka dengan pakaian, sedangkan Ali ada di belakangnya, beliau berdoa: Ya Allah, mereka ini adalah ahli bait ku, maka hilangkanlah dosa dari mereka, dan bersihkanlah mereka. Ummu Salamah: Wahai Nabi Allah, apakah aku termasuk dari mereka? Beliau menjawab: tetaplah kamu pada statusmu dan dalam kebaikan” [54].
  2. Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul saw bersabda: “Aku hanyalah mengatakan yang benar, berkata sebagian sahabat: Apakah anda sedang bercanda, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Aku hanya mengatakan yang benar” [55].
  3. Ahmad juga meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Aku menulis apa saja yang kudengar dari Rasul saw untuk dihafalkan, orang-orang Quraisy melarangku, kata mereka: Kamu menulis apa saja dari Rasul saw, padahal ia hanya manusia yang berbicara ketika marah dan ridho. Aku pun berhenti menulis, dan menceritakannya kepada Rasul saw, beliau berkata: “Tulislah, demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-NYA, tidak ada yang datang dari ku selain kebenaran” [56].
  4. As-Suyuthy meriwayatkan dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang ayat: ( Wa maa yanthiqu ‘anil Hawaa), ia berkata: Ibnu Mardawiyyah meriwayatkan dari Abul Hamra dan Habbah, mereka berdua mengatakan: Rasul saw pernah memerintahkan menutup pintu-pintu mesjid; para sahabat merasa keberatan. Habbah berkata: Aku melihat Hamzah bin Abdul Muttholib, memakai baju qatifah berwarna merah, air matanya bercucuran, dan berkata: Engkau mengusir paman mu, abu Bakar, Umar, dan Abbas, tapi malah menerima anak paman mu? Berkata seorang laki-laki ketika itu yang tiada henti-hentinya menyanjung anak pamannya. Habbah berkata: Rasul saw mengetahui keberatan mereka, maka dalam kesempatan sholat jama’ah, beliau naik ke minbar. Tidak pernah beliau berkhutbah yang begitu sangat mengagungkan dan mengesakan Allah swt. Setelah selesai beliau berkata: Wahai manusia, aku tidak menutupnya, tidak juga membukanya, aku tidak mengusir kalian, dan menerimanya, lalu beliau membaca:

“Demi bintang ketika terbenam.

kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

 ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya[57]).

  1. Ad-Darimi meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, ia mengatakan: “Jibril menurunkan Sunnah sebagaimana menurunkan Al-Qur’an” [58].

BOLEHNYA IJTIHAD RASUL SAW, KRITIK ATAS DALIL

Mereka yang menetapkan ijtihad Nabi saw beralasan dengan:

Nash-nash Al-Qur’an yang membolehkan Ijtihad Nabi Saw

  1. Firman Allah swt:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (An-nisa:105)

Bentuk dalil: Yang dimaksud “Iroo” adalah “ar-ra’yu” (pendapat). Artinya: “Putuskanlah dengan pendapat mu”.

Perlu diperhatikan: Yang dimaksud “Iroah” di dalam ayat adalah menjadikan pendapat dan mengenalkan hukum, jadi isi ayat – sesuai dengan konteksnya – bahwasanya Allah swt menurunkan kitab kepadamu, mengajarkan hukum-hukum-NYA, syariat-syariat beserta hikmah-hikmah-NYA, untuk mendukung pendapatmu, mengajarkan hukum kepadamu agar dapat memutuskan di antara mereka[59].

Imam Fakhrurrazi mengatakan: “Ketahuilah, telah tetap sebagaimana yang telah saya kemukakan bahwa ayat ( Litahkuma bainannas bimaa arookallah) artinya: “dengan ilmu yang diajarkan Allah kepadamu” yang dinamakan “ilmu birru’yah”, karena ilmu yaqini yang tidak mengandung keraguan berlaku seperti ru’yah dalam kekuatan dan kejelasannya..kemudian beliau mengatakan: Apabila sudah anda ketahui hal ini, maka saya katakan: Para muhaqqik mengatakan bahwa Rasul saw tidak pernah memutuskan hukum kecuali dengan wahyu dan nash, dan ijtihad tidak boleh baginya” [60].

  1. Allah swt berfirman:

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 kalau Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.(Al-Anfaal:67)

Mereka mengatakan bahwa Nabi saw cenderung kepada pendapat Abu Bakar, bahkan agak terganggu dengan usulan Umar, maka turunlah al-Qur’an menentangnya, dan setuju dengan pendapat Umar. Keesokan harinya, Umar medatangi Rasul saw, ia dapati Rasul saw dan Abu Bakar sedang menangis. Umar menanyakan sebabnya, Rasul saw menjawab: Hampir kita mendapat azab yang besar karena menentang Ibnu Khottab, kalau saja turun azab, hanya dia yang akan selamat[61].

Berkata Al-Juaini: “ Mereka yang mengatakan bahwa syara’ membolehkan Rasul saw berijtihad dengan dalil musyawarah beliau tentang tawanan perang Badar, Nabi saw menerima tebusan mereka berdasarkan ijtihad dan pendapatnya, bukan dengan wahyu, oleh karena itulah Allah swt menegurnya dengan firman-NYA:

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Al-anfal:67)

Umar sebelumnya mengusulkan agar mereka dibunuh, Rasul  saw berkata ketika turun ayat ini: “ Sungguh azab lebih dekat kepada kita daripada pohon ini, kalau saja turun, hanya Umar yang selamat[62], kata mereka: Ayat ini dengan asbab nuzulnya adalah dalil yang jelas atas ijtihad Rasul saw’.

Ini perlu dikomentari:

Pertama: Tidak mungkin firman Allah swt:

(تريدون عرضَ الحياة الدنيا)

dan ayat:

(لمسّكم فيما أخذتم عذاب عظيم)

ditujukan kepada Nabi saw, sebab Nabi saw tidak pernah menginginkan harta benda dunia, dan tidak berhak mendapat siksa, sebab itu berarti Allah swt menyuruh beliau melakukan sesuatu dan menjelaskannya, kemudian beliau menentangnya?! Menyetujui pendapat ini adalah kekeliruan yang sangat besar.

Ini dapat dibuktikan, bahwa pada sebagian teks disebutkan bahwa Jibril turun menemui Nabi saw ketika perang Badar seraya berkata: Sungguh Allah swt telah menyebutkan apa yang diperbuat kaum mu, yaitu mengambil tebusan, padahal Dia telah menyuruhmu untuk memberikan pilihan antara membunuh mereka atau mengambil tebusan dengan catatan, mereka yang merupakan musuh besar tetap dibunuh. Nabi saw menyampaikan hal itu kepada para sahabat. Mereka berkata: Wahai Rasulullah, mereka itu keluarga dan saudara-saudara kami, kami akan mengambil tebusan mereka agar mampu menghadapi musuh..dan dibunuh dedengkot mereka[63].

Ini menunjukkan bahwa menawarkan pilihan kepada mereka dilakukan setelah mereka bersikukuh mengambil tebusan, dan terkesan memaksa, sehingga Rasul saw membolehkannya.

Setelah pemaparan di atas saya katakan: Sebagian menyebutkan bahwa Nabi saw sebenarnya cenderung berpendapat agar mereka dibunuh[64]. Al-Waqidi menuturkan, para tawanan itu berkata: Andai kita diserahkan kepada abu Bakar, karena dia lebih menyambung tali silaturrahim, tidak ada seorang pun yang lebih dipentingkan Rasul daripadanya, mereka mengirim utusan kepadanya. Abu Bakar datang dan berdialog dengan mereka serta berjanji akan berbuat baik, kemudian ia mendatangi Rasul saw, memberikan pengertian hingga tiga kali. Namun Nabi saw tetap tidak memberi jawaban[65].

Jadi, Apakah benar perkataan mereka:  Nabi saw duduk menangis menyesali dirinya bersama Abu Bakar, dan bahwa jikalau azab turun, hanya Umar yang selamat?!

Kedua: Menyetujui apa yang mereka sebutkan artinya mendustakan firman Allah swt :

(وما ينطق عن الهوى إن هو إلاّ وحيٌ يُوحى)

Dan juga,  jika memang seperti itu, tidak ada artinya perintah Allah swt kepada manusia untuk mentaati Rasul saw, sehingga bila mereka mematuhi perintahnya, Dia malah akan mencela dan mengancam mereka. Konsekuensinya, yang patut dicela dan diancam adalah Rasul saw sendiri, sedangkan yang dipuji dan disanjung adalah mereka sebab telah menjalankan perintah Allah swt.

Ketiga: Sebatas mengusulkan tebusan kepada Rasul saw tidaklah menyebabkan azab. Intinya, mereka memilih sesuatu yang kurang tepat, jadi mesti ada sebab lain yang mengundang azab jika ditentang. Itu tiada lain adalah karena mereka ngotot mengambil tebusan, mereka ngotot menentang Rasul saw secara tegas; sebab tidak ada hukuman sebelum ada penjelasan dan perentangan.

Akan tetapi Allah swt memberikan karunia-NYA kepada mereka, dan memberikan ampunan, dan membolehkan mengambil tebusan untuk menenangkan suasana hati mereka, dengan berbagai konsekuensinya. Bahkan karena  kecintaan yang sangat terhadap benda dunia, mereka juga sanggup menerima konsekuensi-konsekuensi itu.

Mungkin saja kengototan sebagian kaum muhajirin mengambil tebusan lantaran sulitnya membunuh pemuka-pemuka Quraisy, sebab adanya faktor kepentingan. Ketidaktegasan terhadap kaum musyrik dari sebagian sahabat, dan kecintaan terhadap harta benda dunia inilah yang menyebabkan mereka berhak mendapat azab yang boleh jadi akibat niat jelek, ngotot menentang Rasul saw, kemunafikan dalam sikap, perkataan, dan tingkah laku, terlebih-lebih adanya tuntutan untuk membunuh Bani Hasyim yang diusir paksa oleh Quraisy dan larangan Nabi saw membunuh mereka. Dengan memperhatikan bahwa tidak seorangpun yang ikut perang Badar mengikuti pendapat sekelompok orang ini, kalau hanya salah dalam pendapat – tidak ada hubungannya dengan yang saya sebutkan – tidaklah menyebabkan azab.

Keempat: Ketika perang Badar sebagian kaum muslimin bergegas mengambil harta rampasan perang, maka bersabda lah Rasul saw: Harta Ghanimah tidak halal bagi kaum sebelum kalian, apabila mereka mengumpulkan ghanimah, turunlah api dari langit melahap semuanya, maka turunlah ayat:

 kalau Sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.(Al-anfal:68)

 Riwayat ini didukung oleh At-Thahawi berkenaan dengan sebab turunnya ayat[66].

Kelima: At-Thobari meriwayatkan dari Muhammad bin Ishak, ia berkata: ketika turun ayat ini:

tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan.(Al-anfal:67)

Rasul saw bersabda: Jikalau turun azab dari langit, hanya sa’ad bin Muadz yang selamat, karena ia berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, melumpuhkan musuh dengan membunuhnya lebih aku sukai daripada membiarkan mereka hidup”.

Boleh jadi inilah pendapat yang lebih benar, karena sesuai dengan kehendak Nabi saw.

Al-Muhami Munir Muhammad Thohir Syawwaf mengatakan: “Ayat-ayat yang disampaikan oleh mereka yang mengatakan Nabi saw telah benar-benar berijtihad, tidak ada satu ayat pun yang menguatkannya secara mutlak” [67].

Ia juga mengatakan: “Pendapat bahwa Nabi saw berijtihad di sebagian keputusan hukum, dan salah di beberapa ijtihadnya, kemudian Allah swt luruskan, berarti bahwa Nabi saw menyampaikan syariat kepada manusia dari ijtihad pribadinya, bukan dari wahyu Allah swt, ini semua tidak benar secara akal; karena Nabi Muhammad saw – sebagaimana para Nabi dan Rasul lainnya – maksum dari kesalahan dalam apa yang disampaikan dari Allah swt secara mutlak, sesuai dengan dalil akal.

Lebih daripada itu, terdapat dalil syara’ yang qathi dari segi ketetapan dan dilalahnya bahwa apa yang disampaikan Nabi saw tentang risalah baik yang bersifat kulli ataupu juz’i adalah berdasarkan wahyu. Allah swt berfirman:

 Katakanlah (hai Muhammad): “Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu .( Al-Anbiya:45)

artinya: Katakanlah wahai Muhammad, Aku hanyalah memperingatkan kalian dengan wahyu yang diwahyukan kepada ku. Ini berarti sumbernya terbatas pada wahyu. Allah juga berfirman:

(وما ينطق عن الهوى، إن هو إلاّ وحيٌ يوحى)

Kalimat “ Maa Yantiqu” adalah umum, mencakup Al-Qur’an dan Sunnah, dan tidak ada ayat atau hadits yang mentakhsisnya dengan Al-Qur’an saja. Jadi tetaplah pada keumumannya, dan semua yang ia ucapkan tentang syariat adalah wahyu Allah swt, tidak boleh ditakhsis dengan perkataan yang dari Al-Qur’an saja. Akan tetapi tetaplah pada keumumannya, yang mencakup Al-Qur’an dan hadits[68].

Dalam kesempatan lain ia mengatakan: “Wahyu mencakup perkataan, perbuatan, dan diamnya Rasul saw. Kita diperintah mengikutinya. Allah swt berfirman:

“. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah(Al-Hasyar:7)

Dalam ayat yang lain:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik (Al-ahzab:21)

Jadi, perkataan Rasul, perbuatan, dan diamnya adalah dalil syariat. Karena merupakan wahyu Allah swt. Rasul saw menerima wahyu, lalu menyampaikannya. Memecahkan permasalahan berdasarkan wahyu, tidak ada yang lepas dari wahyu. Allah berfirman:

(إن أتّبع إلا ما يُوحى إليّ) (يونس: 15)

“Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”

 Firman-Nya lagi:

(إنّما أتبع ما يوحي إليّ من ربي) (الأعراف: 203)

“Aku hanya mengikuti wahyu Tuhan ku”

 Artinya: Aku hanya mengikuti wahyu Tuhan. Kemudian Rasul saw menganjurkan sahabatnya dengan apa yang diwahyukan Allah kepadanya, ini sudah sangat jelas sekali keumumannya[69].

Ia menambahkan: perkara apakah Nabi saw berijtihad atau tidak adalah masalah keyakinan, bukan termasuk hukum syariat, sehingga dalilnya harus aqli dan syar’i. Jika sudah tetap dalil aqli dan dalil syarinya bahwa Nabi saw tidak boleh berijtihad, jadilah suatu keyakinan/akidah yang wajib diyakini dan dipercayai dengan mantap” [70].

  1. Firman Allah swt:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.  kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(Ali Imran:159)

  1. Nadiah Syarif mengatakan: “ Ulama sepakat bahwa setiap apa yang diturunkan wahyu karenanya, tidak boleh bagi Rasul saw meminta pendapat umat tentangnya; karena, apabila sudah ada nash wahyu, batal lah pendapat dan qias…” [71].

Kita lihat bahwa ayat ini terdapat pada rentetan ayat dari 139 sampai 166 dalam surat Ali Imran, semuanya tentang peperangan Rasul saw, dan bagaimana pertolongan Allah swt di dalamnya, sebagiannya ditujukan kepada kaum muslimin, khususnya para prajurit serta menasehati mereka, sebagian lagi ditujukan khusus bagi Rasul saw, di antaranya adalah ayat ini:

(وشاورهم في الأمر…)

“Dan ajaklah mereka bermusyawarat…”

Jadi tampak jelas bahwa perintah bermusyawarah dalam ayat ini maksudnya adalah berlemah lembut dan menunjukkan kasih sayang kepada mereka. Bukan perintah mengamalkan pendapat mereka.

Ibnu Abbas meriwayatkan, ketika turun ayat:

(وشاورهم في الأمر)

Rasulullah saw bersabda: “ Ketahuilah, sesungguhnya Allah dan Rasulnya tidak membutuhkannya, akan tetapi Allah swt menjadikannya sebagai rahmat atas umat ku” [72].

NASH SUNNAH TENTANG IJTIHAD NABI SAW

Untuk menetapkan adanya ijtihad Nabi saw, DR. Nadiah Syarif beralasan juga dengan riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar, ia berkata; Ketika kaum muslimin datang ke Madinah, mereka berkumpul, dan bila tiba waktu sholat, tak ada yang menyeru. Mereka memperbincangkan hal itu, sebagian berpendapat: buat saja seperti lonceng kaum Nasrani. Sebagian lagi berpendapat: Terompet seperti milik umat Yahudi. Umar bertanya: “Mengapa kalian tidak menyuruh seseorang untuk menyerukan sholat? Rasul saw berkata: Hai Bilal, berdiri lah, dan seru lah untuk sholat” [73].

Perlu diperhatikan:

Pertama, hadis ini tidak sesuai dengan maqam kenabian; karena Allah swt mengutus Rasul-Nya untuk mendirikan sholat bersama kaum mukminin di waktu yang berbeda-beda, bentuk masalah ini menuntut agar Allah swt mengajarkan Nabi saw bagaimana mewujudkan keinginan ini, maka tidak ada artinya Nabi saw sampai bingung berhari-hari atau dikatakan 20 hari – sebagaimana riwayat Abu Daud – sedangkan beliau tidak tahu  bagaimana mewujudkan tugas yang dibebankan kepadanya, terkadang dengan cara ini, terkadang dengan cara itu; untuk sampai pada sebab-sebab dapat mewujudkan maksudnya, padahal Allah swt telah berfirman tentang diri beliau:

>وكان فضل الله عليك عظيماً< (النساء: 113)

“Sungguh keutamaan Allah kepadamu sangat besar”

Dan yang dimaksud keutamaan di sini adalah ilmu, sesuai dengan konteks ayat sebelumnya:

>وعلّمك ما لم تكن تعلم<.

“Ia mengajarimu apa-apa yang belum kamu ketahui”

Kedua, terdapat hadits lain disamping hadits-hadits tersebut yang juga menunjukkan bahwa yang mensyariatkan azan adalah Allah swt, Jibril turun, dan mengajari Rasulullah saw, lalu beliau mengajarkannya kepada Bilal. Tidak ada yang ikut campur dalam syariatnya.

1ـ روى الحاكم عن سفيان بن الليل قال: «لمّا كان الحسن بن علي ما كان قدمت عليه المدينة قال: فقد ذكروا عنده الأذان فقال بعضنا: إنّما كان بدء الأذان برؤيا عبدالله بن زيد، فقال له الحسن بن علي: إنّ شأن الأذان أعظم من ذلك، أذن جبرئيل في السماء مثنّى، وعلّمه رسول الله وأقام مرّة مرّة، فعلمه رسول الله(ص)».

  1. Al-Hakim meriwayatkan dari Sufyan bin al-Lail, ia berkata: “Ketika ada Hasan bin Ali, yang tak pernah datang ke Madinah. Orang-orang membicarakan tentang azan di dekatnya. Sebagian mengatakan: “Permulaan azan melalui mimpi Abdullah bin Zaid”, maka Hasan bin Ali berkata kepadanya: Perkara azan lebih besar daripada itu, Jibril adzan di langit dua kali-dua kali, lalu mengajarkannya kepada Rasulullah saw, sedangkan Iqamah sekali-sekali. Lalu Rasulullah saw mengajarkannya kepada Bilal[74].

2ـ روى المتقي الهندي، عن هارون بن سعد، عن الشهيد زيد بن الإمام عليّ بن الحسين، عن آبائه عن عليّ إنّه قال: «إنّ رسول الله(ص) علم الأذان ليلة أسرى به وفرضت عليه الصلاة».

  1. Al-Muttaqi al-Hindi meriwayatkan dari Harun bin Sa’ad, dari as-Syahid Zaid bin Imam Ali bin Al-Husein, dari kakek-kakeknya, dari Ali ia berkata: “Rasulullah saw diajarkan azan di malam Isra, begitu juga diwajibkannya sholat” [75].

3ـ روى الحلبي عن أبي العلاء قال: «قلت لمحمّد بن الحنفية: إنّا لنتحدّث أنّ بدء الأذان كان من رويا رآها رجل من الأنصار في منامه، قال: ففزع لذلك محمد بن الحنفية فزعاً شديداً وقال: عمدتم إلى ما هو الأصل في شرائع الإسلام ومعالم دينكم، فزعمتم أنّه كان من رويا رآها رجل من الأنصار في منامه، يحتمل الصدق والكذب، وقد تكون أضغاث أحلام، قال: فقلت له: هذا الحديث قد استفاض في الناس، قال: هذا والله الباطل..».

  1. Al-Halabi meriwayatkan dari Abul ‘Ala, ia berkata: Aku berbicara dengan Muhammad bin Hanafiyah: Kami mengatakan bahwa permulaan azan adalah mimpi yang dialami seorang sahabat Anshor. Abul ‘Ala berkata: Muhammad bin Hanafiyah sangat terkejut seraya berkata: kalian berbicara tentang suatu pokok syariat Islam dan syiar agama, lalu mengira bahwa awalnya adalah mimpi seorang sahabat Anshor yang mungkin benar, mungkin salah, atau sekedar bunga tidur, Abul ‘Ala berkata: Aku katakan padanya: Pembicaraan ini sudah santer di masyarakat, ia (Muhammad bin Hanafiyah) menjawab: Demi Allah, ini tidak benar sama sekali…” [76].

4ـ وروى المتقي الهندي أيضاً أنه لمّا سرى برسول الله(ص) إلى السماء أوحي إليه بالأذان، فنزل به فعلّمه جبرئيل.

  1. Al-Muttaqi Al-Hindi juga meriwayatkan bahwa ketika Rasul saw diisra’kan ke langit, diwahyukan kepadanya adzan, lalu beliau turun, dan Jibril kemudian mengajarkannya’’[77].

RASUL SAW SEBAGAI MANUSIA BIASA DAN MASALAH IJTIHAD

  1. Muhammad Salam Madkur mengatakan: “…sering disebut-sebut bahwa Rasul saw hanyalah manusia biasa; sehingga perkataan dan perbuatannya tidaklah maksum., dalam pandangan orang, perkaranya sama saja dengan Nabi Isa sebelumnya, akan tetapi Rasul saw dalam hal yang bukan risalah adalah manusia biasa, sedangkan dalam hal yang datang dari Allah swt baik berupa wahyu yang dibaca atau yang tidak terbaca,beliau maksum ketika menyampaikannya kepada manusia, beliau sama saja dengan mujtahid biasa dalam apa yang difatwakan, berupa perkataan ataupun perbuatan, selain masalah-masalah tadi…” [78].

Ia menambahkan: “Selama Rasul saw adalah manusia, yang memiliki akal matang, pemikiran yang sehat, beliau mampu berijtihad, dan seorang mujtahid mungkin benar, mungkin salah…” [79].

Kita perhatikan, pernyataan ini berbeda dengan kenyataan, dan apa yang  terdapat pada ayat-ayat, hadits-hadits, dan sejarah yang benar; karena bisa disimpulkan bahwa para penyembah berhala juga meyakini bahwa Nabi saw tidak boleh dari manusia; sebab tidak bisa berhubungan dengan ghaib, ia hanya materi yang tenggelam dalam kegelapan materi, ternoda dalam kotorannya, oleh karena itulah allah swt berfirman tentang mereka:

>وقالوا ما لهذا الرّسول يأكُل الطعامَ ويمشي في الأسواق..< (الفرقان: 7)

“Mereka berkata: Apa-apaan Rasul ini, memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar”.

 Sebab itulah, untuk menghadap Allah mereka mengambil Malaikat sebagai perantara. Lalu mereka dijadikan sesembahan, agar mau memberi syafaat di sisi Allah swt. Mereka mendekatkan para malaikat kepada Allah, sebab mereka dekat dengan Allah, dan dapat berhubungan dengan ghaib, yang diangkat menjadi Rasul kalau kerasulan itu ada,  sedangkan manusia tidak punya hak apa-apa. Allah berfirman:

dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?,

atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang Dia dapat Makan dari (hasil)nya?” (Al-furqan:7-8)

من هنا، يظهر معنى قولهم: >ما لهذا الرّسول يأكُل الطعامَ ويمشي في الأسواق<، وأنّ المراد أن الرسالة لا تتّفق مع أكل الطعام والمشي في الأسواق لاكتساب المعاش، فإنها اتصالٌ غيبي لا يُجامع التعلّقات المادية، وليست إلاّ من شؤون المادية؛ ولذا قالوا في غير موضعٍ – على ما حكاه الله تعالى – : >لو شاء الله لأنزلَ ملائكةً< (المؤمنون: 24)، وقال الله تعالى في الجواب عنهم: >قل إنّما أنا بشرٌ مثلُكم يوحَى إليّ أنّما إلهُكُم إلهٌ واحدٌ<، أي إنّما تميّزت عنكم بالوحي، >فمن كان يرجوا لقاءَ ربّه فليعمل عملاً صالحاً ولا يُشرك بعبادة ربّه أحداً< (الكهف: 110).

Dari sini jelas arti perkataan mereka:

>ما لهذا الرّسول يأكُل الطعامَ ويمشي في الأسواق<

Bahwa yang dimaksud kerasulan tidak sesuai dengan makan makanan dan berjalan di pasar-pasar untuk mencari penghidupan, karena kerasulan adalah hubungan ghaib yang tak dapat bersatu dengan hubungan-hubungan materi, sehingga di lain tempat Allah menceritakan tentang mereka dalam ayat:

  1. dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat.(Al-mu’minun:24)

Dan ketika menjawab mereka, Allah swt berfirman:

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.(Al-kahfi:110)

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku” . Maksudnya, aku berbeda dengan kalian karena wahyu.

As-Syuyuthy meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ayat ini turun pada kaum musyrikin yang menyembah Tuhan selain Allah, bukan pada orang-orang mukmin” [80].

Di dalam kitab Al-Ihtijaj, At-Thobrosi meriwayatkan dari Abu Muhammad Al-Hasan Al-‘Askari, ia berkata: Aku berkata kepada Abu Ali bin Muhammad: Apakah Rasul saw mendebat kaum Yahudi dan Musyrikin apabila mereka mencela dan menentangnya?  “Ya”, jawabnya, “bahkan sering sekali”. Suatu hari Rasul saw duduk di depan Ka’bah, sekonyong-konyong berkumpul lah sejumlah pemuka Quraisy, diantaranya Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, Abul Khatari bin Hisyam, Abu Jahal, Al-‘Ash bin Wail al-Sahmi, Abdullah bin Abu Umayyah; seketika Abdullah bin Abu Umayyah membuka pembicaraan: “Hai, Muhammad, kamu telah mengaku-ngaku tentang sesuatu yang besar, dan mengatakan ucapan yang hebat, kamu mengaku utusan Tuhan semesta alam, padahal tidak semestinya Tuhan semesta alam, dan Pencipta seluruh makhluk mengutus manusia seperti mu, kamu makan seperti kami, minum seperti kami, dan berjalan di pasar juga.

Rasulullah saw berkata: “ Ya, Allah, Engkau Maha Mendengar segala suara, Maha Mengetahui segala sesuatu, Engkau mengetahui apa yang dikatakan hamba-hamba-MU. Maka Allah swt ayat:

dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?,

 atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang Dia dapat Makan dari (hasil)nya?” dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”.(Al-Furqan:7-8)

 Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. (Al-Kahfi:110)

 Maksudnya, sebagai manusia aku sama dengan kamu, akan tetapi Tuhanku mengistimewakanku dengan kenabian, sebagaimana Dia mengistemewakan sebagian kamu dengan kekayaan, kesehatan, dan ketampanan. Jadi, janganlah kamu mengingkari ku, hanya karena aku diberi kenabian dan kamu tidak…” [81]. Hadits ini sangat panjang, hanya dikutip sedikit.

Dari yang disebutkan, jelaslah jawaban dari riwayat-riwayat yang dijadikan dalil oleh DR. Muhammad Salam Madkur tentang ijtihad Rasul saw, ketika mengatakan: “Diriwayatkan bahwa suatu hari seorang laki-laki menemui Rasul  saw dalam keadaan ketakutan, dan hendak bersujud di hadapan beliau. Rasul saw berkata – sebagaimana riwayat Ibnu Majah di Bab Ath’imah – : “Tenang, Saudara, aku hanya manusia biasa, anak seorang wanita Arab yang memakan Qadyi. Al-Bukhary meriwayatkan dari Umar bin Khottab, ia mendengar Nabi saw bersabda: “ Janganlah kamu mengagungkan aku seperti kaum Nasrani mengagungkan Isa bin Maryam, aku hanya hamba-Nya. Para sahabat berkata: “Engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya” [82]. Dan riwayat-riwayat lainnya.

Karena riwayat-riwayat ini muncul menyikapi sangkaan ketuhanan bagi Nabi saw, atau perbuatan semacam ini hanya tertentu pada perbuatan Allah swt, dan ini tidak menafikan adanya kekhususan Nabi saw yang tak diberikan kepada semua manusia, walau demikian, beliau bukanlah Tuhan.

  1. Muhammad Salam Madkur menambahkan: “Selama Rasul saw adalah manusia yang memiliki akal yang matang, dan pemikiran yang sehat, beliau bisa berijtihad, dan seorang mujtahid mungkin benar, mungkin salah. dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim disebutkan riwayat dari Abu Musa Al-asy’ari bahwa Nabi saw berkata: “Ya, Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku, dan apa-apa yang Engkau lebih ketahui daripada ku. Ya, Allah, ampunilah kesalahanku, baik disengaja, bergurau, atau yang serius, semua itu dari diriku. Ya, Allah, ampunilah apa yang telah aku lakukan dan yang belum ku lakukan, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan, Engkau Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” [83].

Ini perlu disangkal, karena orang-orang besar, dapat dihukum hanya dengan sedikit kesalahan yang samar, dalam perkataan, atau terlambat sedikit dalam bergerak, atau melewatkan waktu yang tak terasa, atau menoleh, atau mengedipkan mata, dan semacamnya, lalu semua itu dianggap dosa bagi mereka, padahal bukan dosa dalam arti melanggar hukum agama atau dunia, sebagaimana sering disebutkan: “Kebaikan orang baik, adalah kejelekan bagi orang yang dekat dengan Allah swt”.

Semakin jalannya halus, dan kedudukannya tinggi, akan tampak dosa-dosa yang tak terlihat, yang sebelum mencapai keadaan seperti ini, tidaklah diindahkan, seorang mukallaf tidak merasakannya sebagai taklif, dan seorang wali tidak dihukum dan dipintai pertanggung jawaban karenanya.

Berdasarkan penelitian yang cermat, hal itu akhirnya sampai kepada hukum-hukum yang timbul dalam keadaan cinta dan benci, sehingga melihat dari sudut kebencian umumnya – terutama ketika marah – terhadap pekerjaan baik, akan menganggapnya sebagai kejelekan, sebaliknya seorang yang dimabuk cinta, dan tenggelam dalam cinta buta, baginya sedikit saja lalai akan kekasihnya, akan menganggap kelalaian itu sebagai dosa besar, ini tidak lain karena ia memandang nilai perbuatannya dalam mencinta sesuai dengan ukuran dirinya sendiri, dan ketertarikan hatinya kepada sang kekasih, yang apabila terputus sedikit saja sebab kelalaian, berarti ia telah berpaling dari kekasihnya, dan putus dari mengingatnya, sehingga menjadi batal lah kesucian hatinya.

Bahkan sibuk dengan kebutuhan-kebutuhan hidup seperti makan, minum, dan lainnya, baginya bisa dianggap maksiat; melihat pada asal bahwa suatu perbuatan, sekalipun termasuk kemestian yang harus dilakukan, akan tetapi setiap perbuatan-perbuatan yang mesti ini – dari segi asalnya – bersifat pilihan bagi dirinya, dan menyibukkan diri dengannya berarti melalaikan dan berpaling dari sang kekasih atas kemauan sendiri, dan ini termasuk dosa, karena itu kita dapat melihat orang yang dimabuk cinta kepayang dan semacamnya enggan menyibukkan diri dengan urusan makan, minum dan lainnya.

Apa yang barangkali dirwayatkan dari Rasul saw seperti perkataan beliau:

“Terkadang aku terlintas berbuat kurang baik, maka aku bertaubat kepada Allah swt setiap hari sebanyak tujuh pulh kali” (HR. Muslim)

Dan ayat:

dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.(Ghafir:55)

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Seyogyanya dimasukkan dalam kategori ini.

Begitu juga riwayat tentang para Nabi yang mulia, seperti perkataan Nuh as :

Ya Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahKu dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. (Nuh:28)

Perkataan Nabi Ibrahim as:

Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

Perkataan Nabi Musa as:

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah Kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang”.

Ucapan yang diceritakan dari Nabi saw dan orang-orang beriman:

 “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”(Al-Baqarah:285)

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,

 kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun”.(Maryam: 58-60)

Allah swt menyebutkan adab mereka secara umum dalam kehidupan, bahwa mereka hidup dalam ketundukan dari segi perbuatan, khusyu kepada Allah swt di dalam hati, sebab sujud mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah swt seperti tunduk, menangisnya mereka karena kelembutan hati dan kerendahan diri adalah kekhusyuan, kedua keadaan ini adalah kiasan dari tertanamnya sifat penghambaan dalam diri mereka, yaitu ketika disebutkan suatu ayat Allah swt kepada mereka, dengan mempengaruhinya di dalam zahir, sebagaimana sifat itu menguasai batin mereka, saat itu mereka dalam adab ketuhanan, yaitu sifat penghambaan ketika menghadap Tuhan mereka, dan ketika berjumpa manusia, mereka tetap hidup dengan adab ketuhanan, di hadapan Allah, dan manusia semua.

Diantara dalil bahwa yang dimaksud adalah adab secara umum yaitu firman Allah swt pada ayat kedua:

Sholat- menghadap Allah – adalah keadaan mereka bersama Tuhan, Sedangkan mengikuti syahwat adalah keadaan mereka bersama manusia, dan tatkala golongan ini dibandingkan dengan golongan itu, maka pernyataannya menunjukkan bahwa adab umum para Nabi adalah menghadap Tuhan dengan sifat penghambaan, sebagaimana ketika berinteraksi dengan manusia. Artinya, hidup mereka didasari bahwa mereka memiliki Tuhan yang menguasai dan mengatur urusan mereka, dari-Nya mereka bermula, dan kepada-Nya mereka kembali, jadi, ini lah asal dalam semua keadaan dan perbuatan mereka.

 

IBNU HAZM DAN KISAH PERKAWINAN NABI SAW DENGAN ZAINAB BINTI JAHSYI

Berkata Ibnu Hazm: “Terkadang timbul dari para Nabi melakukan sesuatu dengan niat karena Allah swt, ternyata tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah, dan Allah swt tidak mengakui mereka melakukan sesuatu itu sama sekali, boleh jadi Dia menegor mereka sebab hal itu dengan ucapan, sebagaimana yang terjadi kepada Nabi kita saw dalam perkara Zainab Binti Jahsy…” [84].

 

Ini perlu disangkal:

Tentang perkataannya: “Terkadang timbul dari para Nabi melakukan sesuatu dengan niat…, ini telah saya bantah berdasarkan dalil aqli dan naqli.

Sedangkan argumentasinya dengan kisah Zainab binti Jahsy, karena allah swt berfirman:

>وإذ تقولُ للذي أنعم الله عليه وأنعمتَ عليه.. < (الأحزاب: 37 – 38)

Mereka mengatakan: ayat ini turun sebagai tegoran kepada Nabi saw karena menyimpan cinta terhadap Zainab binti Jahsyi, yang ketika itu masih menjadi istri Zaid bin Haritsah, bekas anak angkat beliau. Ceritanya, Nabi saw masuk ke rumah Zainab, ia (Zainab) terkejut ketika mencium bau harum dan segera membuka tirai, dalam keadaan tidak memakai tutup kepala. Nabi saw kagum dengan kecantikannya, dan timbul lah rasa cinta di dalam hatinya yang mulia, ketika Allah swt mengetahui hal itu, Dia jadikan Zaid membencinya supaya menceraikan Zainab, lalu dikawini oleh Rasul saw, ketika Zaid datang hendak menceraikannya, Nabi saw berkata: “Pertahankan lah dahulu istrimu”, beliau mengatakan itu, sementara menginginkan Zainab dicerai, agar bisa menikahinya. Maka Allah swt menampakkan apa yang disembunyikan hati beliau yang mulia” [85].

Inilah penafsiran mayoritas Ahlussunnah tentang ayat ini, yang tentunya merupakan penghinaan dan pencemaran terhadap kepribadian Rasul saw yang mulia dengan menisbatkan sesuatu yang tidak pantas terhadap beliau, yaitu mencintai istri anak angkatnya, dan memandangnya dengan penuh birahi.

Sebab penafsiran ini, para orientalis dapat menyerang Nabi saw, bahwa beliau seorang yang suka seks – kita berlindung kepada Allah swt – bahkan mereka banyak menulis tentang hal itu, untuk mendistorsi sejarah Rasul saw, sebagai pemimpin agama yang lurus.

Sebenarnya – menurut madzhab Ahli Bait – ayat-ayat ini turun untuk menghapus adat Jahiliyah, di mana orang Arab tidak membolehkan kawin dengan mantan istri anak angkat, karena disamakan dengan anak kandung. Memerangi adat semacam ini membutuhkan pengorbanan dari seseorang yang siap didiskreditkan. Oleh karena itulah Rasul saw menanggungnya sendiri demi menghancurkan kekuatan mereka.

Maka Allah swt mewahyukan kepada Rasul saw bahwa Zaid akan menceraikan istrinya, dan mesti beliau yang menikahinya untuk menghapus adat Jahiliah. Ketika terjadi pertengkaran dan ketidakcocokan antara Zaid dan istrinya, Zainab, Rasul saw menasehatinya: “Pertahankanlah dahulu istrimu, dan takutlah kepada Allah swt!”. Ini adalah kewajiban agama untuk mendamaikan antara suami istri, bagaimanapun keadaannya.

Sedangkan firman allah swt:

>وتُخفى في نفسك ما الله مُبديه<

Artinya: Engkau sudah mengetahui bahwa di balik itu ada sesuatu yang hampir terjadi, dan ia (Zaid) akan menceraikannya, lalu kamu menikahinya, sebagaimana yang dikabarkan, “Dan kamu takut kepada manusia” maksudnya takut mereka cela. “Dan Allah lebih berhak ditakuti” maksudnya: lebih berhak dipelihara dalam menerapkan syariat-NYA dan memerangi hukum-hukum Jahiliyah[86].

 

[1] Muhammah Hasan Hito, Al-Wajiz fi Ushul al-Tasyri’ al-Islami (Muassasah Ar-Risalah, 1983)

[2] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Al-Mustashfa min ‘ilmil Ushul (Madinah Al-Munawwarah: Jamiah Islamiyah Kulliyyatussyariah),juz: 4, hlm. 4.

[3] Muhammad bin Ali bin Muhammad As-Syaukani, Irsyadul Fuhul ila tahqiqil haq min ilmil Ushul (Riyadh: Daarul Fadhilah, 2000), juz 2, hlm.1025

[4] Muhammad Musa Tuwana, Al-ijtihad wa mada hajatuna ilaihi fii hadzal ashri, hlm.99

[5] Al-amidi, al-Ihkam fii Ushulil Ahkam (Beirut, Daarul Kutub al-Ilmiah), juz:4, hlm.218

[6] Ibnu al-Hajib, Mukhtashar al-Muntaha, juz:2, hlm.289

[7] Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali As-Subki, Jam’ul Jawami’ (Beirut: Daarul Kutub Al-Ilmiyyah, 2003),Hlm. 118

[8] Ibnu al-Hammam, At-Tahrir wa Syarhuhu, juz:4, hlm.179

[9]Ali bin Muhammad al-Amidi, Al-Ihkam fii Ushulil Ahkam, juz 4 ( Riyadh: Daarussomayyi, 2003), hlm. 200, Ushul Sarkhasi, juz 2 (Beirut: Daarul Kutub Al-Ilmiyyah, 1993), hlm. 91

[10] Ibnu Taymiyyah, Almuswaddah fi Ushul Fiqih, Juz 1 (Darul Kutub Al-Arabi), hlm. 507

[11] Ibnu Hazm, Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Juz 5 (Cairo: Mathba’ah Al-Ashimah), hlm. 699

[12] Al-Syaukani, Irsyad ulfuhul. Juz 2 Hlm. 1047

[13] Abdul ‘Ali Muhammad bin Nidzomuddin al-Anshori, Fawatihurrahamut, hlm.366

[14] al-amidi, Al-Ihkam, juz 4, hlm.165

[15] Al-Asnawi, Syarh al-Asnawi ‘ala al-Minhaj, juz 3, hlm.194

[16] Ibid,.

[17] Ibid,.

[18] Nadiah Syarif al-Amri, Ijtihad Rasul, hlm.43

[19]Abdul ‘Ali Muhammad bin Nidzomuddin al-Anshori, Muslamussubut, juz 2, hlm.366

[20] Ibnu al-Hammam, At-tahrir wa Syarhuhu, hlm.525

[21] Al-Sarkhasi, Ushulussarkhasi, juz 2, hlm.91

[22] Abdul ‘Ali Muhammad bin Nidzomuddin al-Anshori, Muslamussubut, hlm.366

[23] Abdul ‘Ali Muhammad bin Nidzomuddin al-Anshori, Fawatihurrahamut, juz 2, hlm.366

[24] Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Al-mushtashfa, juz 2, hlm.355

[25] Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Al-munkhul, hlm.468

[26] Irsyadul fuhul, hlm.256

[27]Al-Amidi, Al-ihkam fii ushulil ahkam, juz 4, hlm.398

[28] Ibid., hlm.440

[29] Muhammad Musa Tuwana, Al-ijtihad wa mada hajatuna ilaihi fii hadzal ashri

 [30] Muhammad Abduh, Tafsirul al-manar, juz 10, hlm.465-466

[31] Syarh ibnu Abil Hadid, juz 17, hlm.176

[32] Muhammad Faruq Nabhan, Nidhomul Hukmi Fil Islam,  hlm.356-358

[33] Ibid., hlm.420-421

[34] Majallatul arabi al-kuwaitiyyah, edisi:160, hlm.23

[35] Manahijul Ijtihad Fil Islam, hlm.354-355

[36] Ibid., hlm.350

[37] Nadiah Syarif Al-‘Amri, Ijtihad Rasul, hlm.83

[38] Al-ijtihad fil Ahkam al-Syar’iyyah, hlm.36

[39] Syarhuttahrir, juz 3, hlm.300

[40] al-Amidi, Al-Ihkam fii Ushulil Ahkam, , juz 4, hlm.216

[41] Kamal bin al-Hammam, at-Tahrir, hlm.527

[42] Nadiah Syarif Al-‘Amri, Ijtihad Rasul, hlm.124

[43] al-Amidi, Al-Ihkam Fi Ushulil  Ahkam, juz 4, hlm.290-297

[44] At-Tafsir al-Kabir, juz 17, hlm.56

[45] Ibid., juz 12, hlm.231

[46] Munir Muhammad Thohir Al-Syawwaf, Tahafut al-Qira’ah al-Mu’ashirah, hlm.462

[47] HR. Abu Daud, an-Nasai, al-Hakim, dan al-Thobrani

[48] Munir Muhammad Thohir al-Syawwaf, Tahafut al-Qira’ah al-Mu’ashirah, hlm.463

[49] Al-Syaukani, Irsyadul Fuhu, juz 2, hlm.730

[50] Sunan Ibnu Majah, juz 1, hlm.37

[51] Munir Muhammad Thohir as-Syawwaf, Tahafut al-Qira’ah al-Mu’ashirah, hlm.464

[52] Ibid.,

[53] HR. Muslim

[54] HR. At-Tirmidzi

[55] HR. Ahmad

[56] HR. Ahmad

[57] As-Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, juz 6, hlm.122

[58] Ibid., juz 7, hlm.643

[59] At-Thobthobai, al-Mizan, juz 5, hlm.71

[60] Al-Rozy, At-Tafsir al-Kabir

[61] Al-Ghazali, al-Mustashfa, juz 2, hlm.356

[62] HR. Muslim, Ahmad, dan al-Hakim

[63] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, juz 3, hlm.294, Mushannaf Abdurrazzaq, juz 5, hlm.210

[64] Ibnul Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, juz 2, hlm.136

[65] Al-Waqidi, al-Maghazi, juz 1, hlm.107-108

[66] Musykilul Atsar, juz 4, hlm.292-293

[67] Munir Muhammad Thohir Syawwaf,Tahafut al-Qira’ah al-Mu’ashirah, hlm.465

[68] Ibid., hlm.462

[69] Ibid., hlm.363

[70] Ibid., hlm.465

[71] Nadiah Syarif, Ijtihad Rasul, hlm.55

[72] As-Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, juz 2, hlm.359

[73] Ibnu Hajar al-asqalani, Fathul Bari, juz 2, hlm.77-82

[74] HR. Al-Hakim

[75] Al-Muttaqi al-Hindi, Kanzul ‘Ummal, juz 6, hlm.277

[76] Al-Halabi, As-Sirah al-Halabiyyah, juz 2, hlm.297

[77] Al-Muttaqi al-Hindi , Kanzul ‘Ummal, juz 8, hlm.329

[78] Muhammad Salam Madkur, Manahij al-Ijtihad fi al-Islam

[79] Ibid.,

[80] As-Suyuthi, ad-Durrul Mantsur, juz 5, hlm.469

[81] At-Thobrosi, Al-Ihtijaj, hlm.29

[82] Muhammad Salam Madkur, Minhaj al-Ijtihad fi al-Islam, hlm.348

[83] Ibid., hlm.349

[84] Ibnu Hazm, Al-Fashlu fil Milal wa al-Ahwa wa an-Nihal, juz 4, hlm.2

[85] At-Thobari, Jamiul Bayan, juz 22, hlm.10

[86] Tafsir Mujmaul Bayan, juz 8, hlm.360

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *