IMAM SYAFI’I DAN PEMIKIRAN FIQIH MODERAT

Oleh: M.A. Heryanto Alfudholli, S.Th.I.

 

  1. Latar Belakang

Sebetulnya, syari’ah Islam sangatlah indah apabila berhasil dipahami dengan benar. Keindahan itu antara lain terletak pada elastisitasnya dan keadilannya. Elastisitas syari’ah Islam  dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang menuntutnya, sehingga akan benar-benar tampak oleh mata betapa tinggi keadilan Islam.

Selama ini, kekakuan dan kejumudan dalam memahami syari’ah antara lain disebabkan oleh  pola pikir yang salah. Beberapa kalangan memahami fiqih hanya dengan cara taqlid semata. Mereka secara membabibuta berpegang dengan kuatnya pada salah satu madzhab tanpa pernah meneliti pada situasi dan kondisi seperti apa para imam madzhab tersebut mengeluarkan pendapat-pendapatnya. Hal ini penting karena para imam tersebut tidaklah terlepas dari situasi dan kondisi tertentu dalam berfatwa. Karenanya, yang harus kita pegang teguh dari para imam tersebut adalah pola (kerangka) berpikir mereka dan bukan hasil pemikiran mereka, karena hasil pemikiran dipengaruhi oleh situasi dan kondisi, padahal situasi dan koindisi yang kita alami belum tentu sama dengan  yang dialami oleh para imam tersebut.

Hal tersebut dengan jelas terbukti pada diri Imam Syafi’i. Pendapat-pendapatnya ketika  berada di Mesir tidaklah sama dengan pendapat-pendapat sebelumnya (ketika di Irak). Pendapat-pendapatnya selama di Irak kini dikenal dengan qaul qadim sedangkan  selama di Mesir dikenal denga qaul jadid. Dengan demikian  pola pikir kita adalah berdasarkan paradigma para imam tersebut (taqlid al-manhaj) dan bukan berdasarkan hasil pikir para imam tersebut (taqlid  al-qaul).

Untuk bisa  memiliki pemahaman seperti itu maka kita harus mengetahui  seperti apa pola pikir mereka. Dalam hal ini, kita harus mengetahui kaidah-kaidah yang mereka pergunakan dalam meng-istimbath hukum. Kaidah-kaidah ini meliputi  kaidah ushuliyyah (kaidah lughowiyyah) dan kaidah fiqhiyyah. Topik tentang kaidah-kaidah ini masuk dalam kajian ushul fiqih dan fiqih itu sendiri. Inilah yang kemudian memberikan inspirasi berpikir penulis untuk mengungkapkan tentang sejauh mana berpikir moderatnya Imam Syafi’i dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun sebenarnya dari awal diakui bahwa fenomena keragaman agama dan budaya di kalangan umat manusia dari zaman dahulu sampai hari ini adalah fakta yang tidak mungkin diingkari. Mengingkari fakta ini sama saja dengan sikap tidak mengakui adanya cahaya matahari di kala siang bolong.[1]

 

  1. Imam Syafi’i dan Madzhabnya

Madzhab Syafi’i, merupakan satu dari sekian banyak madzhab fiqih yang sampai saat ini masih mendapat apresiasi luar biasa dari mayoritas kaum muslimin di dunia. Keunggulan utama Madzhab Syafi’i terletak pada sifatnya yang sangat moderat. Di awal pertumbuhannya, pendiri madzhab ini, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (150-204 H), mengakomodasi dua aliran hukum Islam yang berkembang saat itu, yaitu aliran tekstualis (madrasatul hadits) dan aliran rasionalis (madrasatur ra’yi). Hasil kolaborasi keduanya dapat dilihat dari produk hukum Imam Syafi’i yang selalu mengacu pada substansi nash (al-Qur’an dan as-Sunnah), dan dalam teks tertentu dipadukan dengan dalil analogi (qiyas)[2]. Yang kemudian di era sekarang lebih dikenal dengan istilah moderat.

Dalam hal ini bahkan M. Quraish Shihab pernah mengatakan: “Keanekaragaman dalam kehidupan merupakan keniscayaan yang dikehendaki Allah. Termasuk dalam hal ini perbedaan dan keanekaragaman dalam bidang ilmiah, bahkan keanekaragaman tanggapan  manusia menyangkut kebenaran kitab-kitab suci, penafsiran kandungannya serta bentuk pengamalannya.” [3]

Sebagai Bapak Ushul Fiqih, Imam Syafi’i mewariskan metode istimbath hukum yang berfungsi untuk menganalisa beragam teks hukum baru yang terjadi di kemudian hari. Dari tangan Imam Syafi’i lahir ribuan ulama yang terus-menerus berkesinambungan menafsirkan, menyebarkan, dan mengembangkan pemikiran beliau dalam ribuan halaman karya ilmiah di bidang hukum Islam. Tidak heran jika kemudian dinamika perkembangan Madzhab Syafi’i bisa mengatasi madzhab yang lainnya.

Dalam pembahasan di bawah ini penulis mencoba menyelami lebih dalam fiqih Imam Syafi’i yang dipaparkan oleh para mujtahid madzhab dan mujtahid Madzhab Syafi’i. Ribuan teks yang dimuat di dalamnya dapat memperkaya wawasan akan khazanah hukum Islam dan membimbing anda mengarungi horizon keilmuan yang baru sehingga terciptalah harmonisasi kehidupan yang sangat akurat dipadukan dengan kondisi kekinian.

 

  1. PEMBAHASAN
  2. Metode Pemahamaan Fiqih

Menurut Yusuf al-Qardhawi, kecenderungan pemahaman fiqih  dapat dibedakan menjadi tiga:

  1. Pemahaman yang ekstrim dan cenderung menyulitkan (ghuluw, tasyaddud).
  2. Pemahaman yang moderat (i’tidal).
  3. Pemahaman yang cenderung memudah-mudahkan dan jahil (tasahhul, tarakhkhush)[4].

Pemahaman yang pertama ini biasanya timbul dari seseorang  yang belum begitu memahami secara mendalam syari’ah Islam. Akibatnya, dalam memandang syari’ah, dia bagaikan seekor kuda bendi yang ditutup samping mata kanan kirinyanya sehingga hanya bisa melihat pada satu sisi saja.

Corak pemahaman yang ketiga biasanya terjadi pada seseorang yang sudah mempelajari seluk-beluk syari’ah, namun didalam hatinya ada penyakit. Hal ini antara lain karena pemahaman aqidahnya belum benar, belum datangnya hidayah Allah, ataupun ada berbagai sebab yang lain. Tipe orang ini sangat membahayakan ummat sebab dia biasanya pandai berbicara dan mengemukakan argumentasi tetapi dibalik itu terbersit sesuatu yang sangat jahat.

Pemahaman yang paling tepat adalah yang kedua. Moderat disini hendaknya diartikan pada tempatnya dan jangan diartikan sebagaaimana  kesalahkaprahan sebagian orang sekarang ini. Dalam corak pemahaman ini, syari’ah ditempatkan dalam posisi yang luwes, tergantung pada masa, situasi, dan kondisi namun tetap tidak akan pernah melampaui pokok-pokok syari’ah itu sendiri. Berpijak pada ungkapan ini kemudian penulis mencoba mengungkapkan apa dan bagaimana pemikiran fiqih moderat yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i dengan tetap mengacu kepada pondasi-pondasi keilmuan yang beliau miliki disesuaikan dengan madzhab yang sekarang menjadi rujukan mayoritas umat islam.

Sebagaimana dikatakan, ketika sudah memasuki wacana dialog peradaban, toleransi dan kerukunan, sebenarnya ajaran yang yang memegang dan mau menerima hal tersebut lebih disebut sebagai moderat. Karena gerakannya menekan sikap menghargai dan menghormati keberadaan yang lain. Term moderat adalah sebuah penekanan bahwa Islam sangat membenci kekerasan, karena berdasarkan catatan sejarah,tindak kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Padahal, Islam diturunkan Allah SWT adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh masyarakat dunia).[5]

Demikian pula dikatakan, bahwa proses pergumulan Islam dengan kebudayaan yang ada di Imdonesia juga yang paling intensif terlihat pada zaman Walisongo. Masa ini merupakan masa peralihan besar dari Hindu-Jawa yang mulai pudar menuju fajar zaman Islam. Keramahan terhadap tradisi dan budaya setempat itu diramu menjadi watak dasar budaya Islam pesantren. Wajah seperti itulah yang menjadikan Islam begitu mudah diterima oleh berbagai etnis yang ada di Nusantara. Hal ini terjadi karena ada kesesuaian anatara agama baru (Islam) dan kepercayaan lama. Setidaknya, kehadiran Islam tidak mengusik kepercayaan lama, tetapi sebaliknya kepercayaan tersebut diapresiasi  dan kemudian diintegrasi ke dalam doktrin dan budaya Islam.[6]

 

  1. Dasar-dasar Fiqih Moderat

Imam Syafi’i selalu membandingkan antara dua metode pemahaman fiqih yang ada dalam pemikiran metode fiqih.  Ia sampai pada kesimpulan bahwa tidak baik untuk bersikap melampaui batas atau sembrono. Sikap yang terbaik adalah pertengahan atau moderat. Atas dasar inilah Imam Syafi’i menetapkan dasar-dasar madzhabnya dengan pemikiran moderat sebagai berikut:

  1. Ia menyetujui metode warga Irak yang menetapkan qiyas sebagai pedoman beramal, dengan beberapa syarat tertentu. Karena qiyas berarti menyamakan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dengan sesuatu yang telah ditetapkan nashnya. Dalam hal ini, mengemukakan pendapat berarti mengarahkan makna nash bukan bid’ah dalam syari’at.
  2. Ia tidak sepakat dengan ahli fiqih Irak yang mendasarkan amalanpada metode istihsan, karena dianggap jauh dari tuntunan al qur’an dan hadits, dan dikhawatirkan terjebak pada kekliruan. Karena itu, ia berkata, “Barangsiapa yang menggunakan istihsan, berarti telah membuat syari’at baru”.
  3. Ia tidak setuju dengan ahli fiqih Irak yang terlalu selektif dalam menerima hadits, karena hadits adalah sumber rujukan syari;at yang utama setelah alQur’an. Untuk menerima hadits, cukup dengan syarat hadits tersebut muttashil (bersambung sanadnya) dan sahih sanadnya.[7]

 

  1. Islam Moderat

          Moderat dalam bahasa indonesia berarti pertengahan atau mudah diterima di semua kalangan. Kata moderat yang dimaksud dalam istilah ini di-claim sebagai penafsiran dari kata ‘al washatiyah’. Kata ini terdapat dalam hadits yang mengatakan bahwa islam itu adalah al washatiyah atau islam itu adalah pertengahan. Namun, ternyata makna pertengahan antara kedua bahasa ini sebenarnya sangat berbeda. Tidak seperti yang dimaknai secara biasa, yaitu pertengahan.

          Memaknai kata pertengahan dari kata moderat dan makna kata pertengahan dari bahasa agama sangatlah berbeda. Al Washatiyah atau petengahan dalam bahasa agama berarti mengambil jalan tengah yaitu mempertimbangkan segala sesuatunya tanpa ada kehendak mengikuti hawa nafsu disana. Jadi, Islam adalah agama pertengahan yaitu agama yang terbebas daripada mengikuti kehendak hawa nafsu lawwamah, tetapi Islam adalah agama yang dituntun oleh ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

          Salah satu contoh pandangan Islam moderat ialah dalam hal berpakaian. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pakaian muslim itu adalah baju koko, songkok, bahkan jas, kemeja, celana bahan, atau sekedar berpakaian rapi dan sopan saja. Ini adalah pendapat islam moderat. Padahal seperti yang disepakati jumhur ulama yang telah dicontohkan langsung oleh para salafussalih, pakaian muslim itu adalah pakaian sunnah yakni contohnya: gamis, jubah, peci, sorban, ridah, serta dominan berwarna putih.

          Begitu juga dengan pakaian muslimah. Pendapat sebagian besar ulama mewajibkan muslimah agar menutup seluruh tubuhnya, sehingga cadar dan niqab menjadi wajib. Ini adalah pendapat yang paling hati-hati. Dengan begini, tidak akan ada lagi fitnah kaum perempuan bagi laki-laki karena para muslimah sudah tidak lagi memperlihat kecantikan wajahnya. Karena wajah adalah inti kecantikan seorang wanita[8].

          Sebenarnya, masih banyak lagi pendapat yang ‘nyeleneh’ Islam moderat terkait dengan berbagai hal. Jika tidak berhati-hati betul, seseorang yang mengaku-ngaku muslim moderat bisa terjatuh kepada talfiq dan berbuat fasik. Padahal Islam benar-benar menuntun kehiduapan kita, yang bersifat jauh daripada mengikuti hawa nafsu belaka.

Dengan demikian, Islam akan mampu terus memperbaharui diri dan dinamis dalam merespon perubahan zaman. Selain itu, Islam dengan lentur mampu berdialog dengan kondisi masyarakat yang berbeda-beda dari sudut dunia yang satu ke sudut yang lain. Kemampuan beradaptasi serta kritis ilmiah yang sesungguhnya akan menjadikan Islam dapat benar-benar shalih li kulli zama wal makan[9]

  1. Pemikiran Fiqih Moderat Imam Syafi’i

          Pada masa Imam Syafi’i, faktor kuat yang mendorong maraknya perdebatan fiqih pada masa itu adalah adanya persaingan sengit antara madrasah ahli hadits yang dipimpin oleh Imam Malik berikut apara pengikutnya di Hijaz, dan madrasah kaum rasionalis yang diketuai oleh Imam Abu Hanifah berikut para pendukungnya di Irak, serta madrasah kalangan moderat yang dikomandoi oleh Imam Syafi’i berikut para pembelanya di Irak dan Mesiar.

Dalam hal ini, Imam Syafi’i adalah sosok yang pandai beradu argumentasi. Syekh Muhammad Al Khudhari Bik mengatakan, kemampuan Syafi’i menguasai fiqih tradisional dan rasional, serta kefasihannya dalam berbahasa Arab menjadikannya sosok yang pandai berorasi dan lihai menulis. Kualitas tulisannya setara dengan goresan pena para pakar menulis seperti al Jahiz dan sebagainya.[10] Yunus Bin Abdul a’la bercerita, kalau Syafi’i sudah terlibat dalam perdebatan, maka ia terus mendebat lawannya sampai dapat membungkamnya. Syafi’i sering menguji argumen lawannya, dan mempersyaratkan siapa yang argumennya lemah, maka harus mengikuti argumen yang kuat. Ia tidak pernah bosan berdebat sampai lawannya tunduk dengan argumen yang dilontarkan.

Prof. Ahmad Amin mengatakan, Imam Syafi’i bersikap moderat dalam penggunaan qiyas, tidak antipati seperti Imam Malik dan tidak terlalu bebas seperti Abu Hanifah. Syafi’i sendiri pernah menegaskan, sumer ilmu itu Al qur’an, Hadits, Ijma dan Atsar, lalu melakukan terhadap sumber tersebut. Orang yang tidak mengerti instrumen qiyas, tidak diperkenankan  melakukan analogi. Instrumen itu berupa penguasaan terhadap kitabullah yang meliputi hokum-hukum, kewajiban-kewajiban, kesusastraan, nasikh mansukh, am, dan khas. Orang tersebut belum dibolehkan melakukan qiyas, sampai ia paham betul terhadap hadits-hadits,  pendapat-pendapat ulama salaf, ijma’ manusia berikut pendapatnya, dan bahasa Arab. Ia juga belum berhak melakukan qiyas,sampai dipastikan akalnya sehat dan dapat membedakan hal-hal yang musytabih (serupa), dan tidak boleh buru-buru melakukan qiyas, dan penelitian yang mendalam.

Kerja keras Imam Syafi’i ternyata menghasilkan kesuksesan yang gemilang. Pemikiran-pemikirannya dituangkan dalam karya yang terkenal, yaitu ar-Risalah (buku Tentang Ushul Fiqih) dan al Hujjah (buku fiqih). Bukan hanya itu, ia pun mampu memunculkan gagasan baru dalam pemikiraqn fiqih serta membawa mazhab dan pemikiran baru yang belum dikenal saat itu. Pemikiran-pemikirannya merupakan gagasan yang sangat orisinil yang belum pernah disampaikan oleh para ulama sebelumnya.

  1. Fase Kelahiran Fiqih Imam Syafi’i

Kerja kerasnya itu menghasilkan kesuksesan yang gemilang. Pemikiran-pemikirannya dituangkan dalam karya yang terkenal, yaitu ar-Risalah (buku Tentang Ushul Fiqih) dan al Hujjah (buku fiqih). Bukan hanya itu, ia pun mampu memunculkan gagasan baru dalam pemikiraqn fiqih serta membawa mazhab dan pemikiran baru yang belum dikenal saat itu. Pemikiran-pemikirannya merupakan gagasan yang sangat orisinil yang belum pernah disampaikan oleh para ulama sebelumnya. Berdasarkan penjelasan ini, perkembangan fiqih Syafi’i dapat dipetakan dalam empat fase, yaitu, (1) Fase persiapan dan pembentukan (2) Fase peluncuran dan pengenalan mazhab qadim (3) Fase penyempurnaan dan mazhab jadid (4) Fase verifikasi dan otentifikasi.

 

  1. Tokoh-tokoh Mazhab Imam Syafi’i

Imam Syafi’i terkenal sebagai tokoh yang paling banyak diikuti orang dan mazhabnya disebarkan oleh para ulama sesudahnya. Para ulama yang mengikuti mazhab syafi’i bukanlah ulama sembarangan, tetapi ulama besar yang banyak menghasilkan karya-karya ilmiah. Bahkan sebagiannya adalah para ulama yang berkedudukan sebagai mujtahid mutlak. Diantara para pengikut mazhab Syafi’i diantaranya adalah:

  1. Ahmad Bin Hanbal (w. 241 H.), imam besar yang merupakan salah satu imam dari 4 imam mazhab fiqih yang terkenal. Ia adalah murid utama Imam Syafi’i yang senantiasa mengikuti gurunya sampai sang guru pindah ke Mesir. Gurunya pernah berkata, “saya keluar dari Baghdad dan meninggalkan seorang murid yang paling alim, yaitu Ibnu Hanbal.”
  2. Abu Bakar al-Humaidi (w. 129 H. Di Mekah). Ia banyak meriwayatkan hadits dan belajar fiqih kepada Imam Syafi’i. Ia menemani perjalanan Imam Syafi’i ke Baghdad dan Mesir. Imam Ahmad berkomentar, “Al-khumaidi adalah imam besar di kalangan kami.”
  3. Abu al-Walid al-Makki, ia termasuk ulama ahli fiqih yang sangat disegani, tinggal di Mekah dan berfatwa sesuai dengan mazhab Syafi’i.
  4. Al-Buwaithi w. 231 H.), adalah murid senior Imam Syafi’i sewaktu di Mesir, yang termasuk imam besar, rajin beribadah, zahid dan ahli fiqih kenamaan.
  5. Al-Muzani (lahir 175 H., dan wafat pada akhir Ramdhan 264 H.). Ia sangat alim pandai berdebat dan berargumentasi. Imam Syafi’i pernah berkata, “Seandainya al-Muzani terlibat perdebatan dengan setan, pasti ia akan mengalahkannya.”.

Dan masih banyak pengikut-pengikut Imam Syafi’i yang sangat terkenal dan konsisten dalam berpegangteguh terhadap mazhabnya.

 PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pembahasan tentang fiqih Syafii sebenarnya adalah kajian fiqih yang pengaruhnya  sudah mulai nyata pada awal masa kekuasan Bani abbas, tepatnya pada seperempat Akhir abad ke-2 Hijriyah. Fiqih itu terus berkembang, tersebar ke berbagai penjuru dunia, dan masih berjaya sampai zaman sekarang ini, dan akan terus hidup sampai masa yang ditetapkan oleh Allah SWT. Fiqih Syafi’i menempati poros tengah, antara fiqih tradisional yang bermarkas di Madinah dan fiqih rasional yang pusatnya di Baghdad sebagai Ibukota pemerintah Bani Abbas.

            Ciri Fiqih tradisional adalah berpegang teguh pada tuntutan al-Qur’an dan hadits, serta tidak melampaui keduanya kecuali dalam kedaan darurat. Alasannya, karena mereka mempunyai perbendaharaan hadits dan tokoh-tokoh hadits yang bisa dijadikan sumber referensi sehingga tidak perlu menggunakan qiyas, kecuali apabila benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, fiqih rasional cenderung melampaui al-Qur’an dan hadits, karena mereka mwenghadapi masalah-masalah yang memang harus dipecahkan dengan nalar, dan tidak mempunyai banyak perbendaharaan hadits dan tokoh-tokoh hadits.

            Adapun fiqih Syafi’ai berkarakter moderat dan penuh ketelitian, tidak sembrono dan gegabah. Fiqih ini mengadopsi sebagai metode fiqih tradisional dan sebagian metode fiqih rasional. Hal ini didukung dengan penguasaan Imam Syafi’i yang mendalam terhadap dua aliran fiqih tersebut, karena sebelumnya ia telah belajar dari sang tokoh utamanya. Di usia yang muda, ia giat belajar pada Imam Malik, inilah modal utama dalam fiqih tradisional. Sementara fiqih rasional, dipelajarinya dari pengikut dan penyebar mazhab Abu Hanifah, yaitu Imam Muhammad bin al Hasan asy Syaiban. Kemudian ia menyaring pemikiran terbaik dari kedua aliran fiqih ini sebagai acuan dalam berijtihad dan mengembangkan mazhab fiqih baru.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mun’im DZ, “Pergumulan Pesantren dengan Kebudayaan”, dalam           Badrus Sholeh (ed), (2007),  Budaya Damai Komunitas Pesantren,          Jakarta: LP3ES.

Abdurrahman Mas’ud, (2006), Dari Haramain ke Nusatara: Jejak Intelektual      Arsitek Pesantren, Jakarta: Kencana.

Abdur Rosyid, Pemahaman Fiqih yang Moderat , 03-08-2008 11:07:48 tersedia dalam http://menaraislam.com.

Ahmad Nahrawi Abdus sal Indunisi, Ensklopedi Imam Syafi’i, (Hikmah, Mizan   Publika,ctk.: 1 Desember 2008).

Ahmad Syafi’i Maarif, (2009), Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan   Kemanusiaan; Sebuah Refleksi Sejarah, Bandung: Mizan.

  1. Hilaly Basya, “Menelusuri Artikulasi Islam Moderat di Indonesia”, http://www.madina-sk.com/index.php?option=com. Diakses tanggal 23 Juli 2009
  2. Imdadun Rahmat, “Islam Pribumi, Islam Indonesa” dalam M. Imdadun Rahmat (et.al), (2003), Islam Pribumi: Mendialogkan Agama Membaca   Realitas, Jakarta: Erlangga.
  3. Quraish Shihab, (2007), Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, Bandung: Mizan.

Sunnatul Huda, Kitab Fiqih Imam Shafi’i, This entry was posted on April 8,         2011, 3:47 pm and is filed under Kitab fiqh tersedia dalam         http://sunnatulhuda.com/2011/04/08/kitab-fiqih-imam-shafii/

  1. Quraish Shihab, (2007), Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, Bandung: Mizan.

                 [1]Ahmad Ayafi’I Maarif, (2009), Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan; Sebuah Refleksi Sejarah, Bandung: Mizan, hlm. 166

         [2] Sunnatul Huda, Kitab Fiqih Imam Shafi’i,This entry was posted on April 8, 2011, 3:47 pm and is filed under Kitab fiqh tersedia dalam http://sunnatulhuda.com/2011/04/08/kitab-fiqih-imam-shafii/

                 [3]M. Quraish Shihab, (2007), Secercah cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, Bnadung: Mizan, hlm. 52

                [4] Abdur Rosyid, Pemahaman Fiqih yang Moderat , 03-08-2008 11:07:48 tersedia dalam http://menaraislam.com.

                [5]Lihat M. Hilaly Basya, “Menelusuri Artikulasi Islam Moderat di Indonesia”, http://www.madina-sk.com/index.php?option=com. Diakses tanggal 23 Juli 2009

                [6]Abdul Mun’im DZ, “Pergumulan Pesantren dengan Kebudayaan”, dalam Badrus Sholeh (ed), (2007),  Budaya Damai Komunitas Pesantren, Jakarta: LP3ES, hlm. 41

                [7]Ahmad Nahrawi Abdus sal Indunisi, Ensklopedi Imam Syafi’i, (Hikmah, Mizan Publika,ctk.: 1 Desember 2008),hlm.161

                [8]Ahmad Nahrawi Abdus sal Indunisi, (2008), op. cit. hlm. 171

                [9]M. Imdadun Rahmat, “Islam Pribumi, Islam Indonesa” dalam M. Imdadun Rahmat (et.al), (2003), Islam Pribumi: Mendialogkan Agama  Membaca Realitas, Jakarta: Erlangga, hlm. xx-xxi

                [10] Ahmad Nahrawi Abdus sal Indunisi, (2008), op. cit.. hlm. 254

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *