KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

OLEH :YUSROL HANA,M.H.I

 

Pendahuluan.

Masalah kesetaraan gender dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, termasuk di Indonesia telah mencuat ke permukaan. Berbagai struktur dan kultur yang selama ini mengabaikan perempuan digugat, dan upaya dekonstruksi terhadap pemahaman dan pelaksanaannya dilakukan.

Sebagian ulama mengira bahwa Islam mengabaikan hak-hak wanita ketika memberikan kepadanya setengah dari jumlah warisan yang diberikan kepada pria, ketika memperbolehkan pria menikai lebih dari satu orang wanita, ketika menjadikan percerian hanya ada pada kekuasaan laki-laki, dan ketika memberikan kekuasaan politik pada pria. Islam dikesani menutup bagi wanita hak-hak yang dinikmati pria.

Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan gender adalah dikarenakan bermacam-macamnya penafsiran tentang pengertian gender itu sendiri. Seringkali gender dipersamakanb dengan sex (jenis kelamin laki-laki dan perempuan), dan pembagian jenis kelamin laki-laki dan perempuan ini serta peran dan tanggung-jawabnya masing-masing, telah dibuat sedemikian rupa dan berlalu dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad, sehingga lama kelamaan masyarakat tidak lagi mengenali mana yang  gender dan mana yang sex. Bahkan peran gender oleh masyarakat kemudian diyakini seolah-olah merupakan kodrat yang diberikan Tuhan.

Sebagai akibat dari pembagian peran dan kedudukan yang sudah melembaga antara laki-laki dan perempuan, baik secara langsung berupa perlakuan/sikap, maupun tidak langsung berupa dampak suatu peraturan perundang-undangan dan kebijakan, telah menimbulkan berbagai ketidak-adilan. Ketidak-adilan ini telah mengakar dalam sejarah, adat-istiadat, norma hukum ataupun struktur dalam masyarakat.

Ketidak-adilan ini boleh jadi timbul dikarenakan adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam berbagai bentuknya, yang tidak hanya menimpa kepada kaum perempuan, akan tetapi juga menimpa kaum laki-laki, walau secara menyeluruh ketidak-adilan gender dalam berbagai kehidupan ini lebih banyak menimpa kaum perempuan.

 

B.  PENGERTIAN GENDER

Kata gender berasal dari bahasa Inggris “gender”, dalam Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, berarti jenis kelamin.[2] Sedangkan dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”.[3]

Melalui pengertian dari kamus di atas, sebenarnya  kurang tepat, karena seolah-olah gender disamakan pengertiannya dengan sex (yang berarti jenis kelamin). Kalau dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gender memang belum masuk dalam perbendaharaannya, akan tetapi istilah gender ini lebih populer di lingkungan Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Dengan demikian untuk memudahkan pemahaman kita terhadap kata gender tersebut, ada baiknya merujuk pada penjelasan pemerintah melalui Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan sebagaimana juga yang tertuang dalam Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 2000, sebagai berikut:

Gender (asal kata gen); perbedaan peran, tugas, fungsi, dan tanggung-jawab serta kesempatan antara laki-laki dan perempuan karena dibentuk oleh tata nilai sosial budaya (konstruksi sosial) yang dapat diubah dan berubah sesuai kebutuhan atau perubahan zaman (menurut waktu dan ruang). Gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggung-jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat. Gender adalah pembagian peran dan tanggung jawab keluarga dan masyarakat, sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan zaman.[4] Gender bukanlah  kodrat dan ketentuan Tuhan. Oleh karena itu gender berkaitan dengan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur oleh ketentuan sosial dan budaya di tempat mereka berada. Dengan kata lain, gender adalah pembedaan peran dan tanggung-jawab antar perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat.

 

C.    GENDER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

  1. Ruang Lingkup Gender

Sebelum menguraikan bagaimana pandangan Islam terhadap gender, perlu dikemukakan terlebih dahulu pandangan masyarakat dunia secara umum terhadap perempuan, terutama sebelum turunnya kitab suci Alquran. Kemudian baru ditelaah bagaimana pandangan Alquran terhadap gender, serta bagaimana penafsiran ulama terdahulu dan kontemporer terhadap ayat-ayat Alquran tersebut.

Pada masa Jahiliyah, anak-anak perempuan kehadirannya tidak diterima sepenuh hati oleh masyarakat Arab. Pandangan mereka ini telah direkam oleh Alquran, mulai dari sikap yang paling ringan yaitu bermuka masam, sampai pada sikap yang paling parah yaitu membunuh bayi-bayi mereka yang perempuan.

#sŒÎ)ur tÏe±ç0 Nèd߉ymr& 4Ós\RW{$$Î/ ¨@sß ¼çmßgô_ur #tŠuqó¡ãB uqèdur ×LìÏàx.  

dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.[5]

Demikian secara ringkas kondisi geografis serta pola kehidupan bangsa Arab sebelum turunnya agama Islam, selanjutnya akan ditelaah ayat-ayat Alquran dan pemahamannya, terutama yang menyangkut masalah gender.

Bahwa agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. telah memperjuangkan dan berhasil meningkatkan derajat perempuan yang sebelumnya mereka  tertindas. Kaum perempuan yang sebelumnya tidak menerima warisan, malah termasuk barang yang diwariskan, oleh Islam diberikan porsi waris yang tetap (faraidh). Islam mendudukkan perempuan sebagai makhluk Allah sederajat dengan pria dengan hak dan tanggungjawabnya yang adil dan seimbang[6]. Tetapi, kenyataan bahwa perempuan Muslimah pada masa-masa berikutnya pernah dan sebagian masih mengalami perlakuan yang berbeda dan diskriminatif, juga telah menjadi  catatan historis dan kajian para ahli.

Al-Qur’an, sebagai sumber utama dalam ajaran Islam, telah menegaskan ketika Allah Yang Maha Pencipta menciptakan manusia termasuk di dalamnya, laki-laki dan perempuan. Paling tidak ada empat kata yang sering digunakan Alquran untuk menunjuk manusia, yaitu basyar, insan dan al-nas, serta bani adam[7].  Masing-masing kata ini merujuk makhluk ciptaan Allah yang terbaik (fi ahsan taqwim), meskipun memiliki potensi untuk jatuh ke titik yang serendah-rendahnya (asfala safilin), namun dalam penekanan yang berbeda. Keempat kata ini mencakup laki-laki dan perempuan. Salah satu diantara tanda-tanda kebesaran Tuhan bahwa Dia telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan sebagaimana firman-Nya:

dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah[8]

Demikian pula dalam hal penciptaan manusia dari dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, sekaliggus sebagai realisasi komplementaritas atas keduanya dapat dirujuk pada ayat dari al-Qur’an berikut:

dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan”[9]

Dengan demikian bahwa berpasangan atau dualisme menjadi karakteristik terpenting dalam penciptaan segala sesuatu.[10] Al-Qur’an tidak menghapus perbedaan antara laki-laki dan perempuan atau menghilangkan pentingnya perbedaan jenis kelamin, yang akan membantu masyarakat memenuhi kebutuhanya dengan cara yang mulus. Akan tetapi al-Qur’an tidak mendukung peran tunggal atau definisi tunggal mengenai seperangkat peran bagi setiap jenis kelamin dalam kebudayaan.

Al-Qur’an mengakui fungsi laki-laki dan perempuan baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, namun tidak terdapat aturan rinci yang mengikat bagaimana keduanya berfungsi secara kultural. Al-Qur’an menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan, kemudian memperkuat adanya kebutuhan saling melengkapi pasangan ini dengan mengambarkan bahwa hal itu menjadi tumpuan dari penciptaan. Meskipun Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia dibuat dalam pasangan laki-laki dan perempuan, namun ada dasar penegasan bahwa:

“dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)”[11]

Selanjutnya pada ayat lain juga disebutkan:

dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.”[12]

Feminitas dan maskulinitas hanyalah karakteristik terbatas yang diterapkan pada laki-laki atau perempuan, bukan sebagai hakikat fitrah, namun secara kultural merupakan faktor untuk menentukan bagaimana masing-masing jenis kelamin berfungsi. Meskipun laki-laki tidak serupa dengan perempuan, namun keterangan semacam ini tidak eksplisit menyebutkan karakteristik masing-masing secara khusus. Dalam al-Qur’an di gambarkan hubungan antara perempuan dengan kehamilan, kelahiran dan penyusuan, namun penyebutan itu bukan sebagai karakteristik esensial kaum perempuan. Rujukan al-Qur’an hanya terbatas pada fungsi biologis saja sebagai seorang ibu dan bukanya sebagai persepsi psikologis maupun budaya tentang keibuan.[13]

Meskipun laki-laki dan perempuan merupakan karakter penting yang saling melengkapi dalam penciptaan manusia, tidak terdapat fungsi kultural yang khusus atau peran yang dibatasi pada saat penciptaan. Pada saat itu Allah memberitahukan sifat-sifat Universal tertentu yang ada kepada seluruh manusia dan tidak khusus menunjukkan kepada jenis kelamin tertentu. Tidak juga orang tertentu dalam ruang dan waktu tertentu. Prinsip utama dari al-Qur’an dalam penciptaan fenomena pasanagan adalah tauhid keesaan Allah.

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.[14]

Berbicara mengenai prinsip-prinsip kesadaran gender dalam perspektif Islam, setidaknya kita dapat mengajukan 5 (lima) variable yang dapat digunakan sebagai ukuran untuk menguji bagaimana kitab suci Alquran memberitakan. Kelima variable tersebut masing-masing: laki-laki & perempuan sama-sama sebagai hamba Allah, sebagai khalifah di muka bumi, sebagai yang menerima perjanjian atau sama-sama berikrar akan keberadaan  Allah, sebagai hamba yang punya tanggung-jawab, dan sebagai yang berpotensi meraih prestasi.[15]

Pertama, Sebagai Hamba Allah.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa salah satu tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepadaTuhan.

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku[16].

Dalam kapasitas manusia sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam Alquran biasa diistilahkan dengan orang-orang yang bertaqwa (muttaqun), dan untuk mencapai derajat muttaqun  ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu yang di sebutkan dalam al-Qur’an.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”.[17]

Dalam kapasitas sebagai hamba, laki-laki dan perempuan masing-masing akan mendapatkan penghargaan dari Tuhan sesuai dengan kadar pengabdiannya, sebagaimana di sebutkan dalam firman-Nya:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.[18]

Kedua, sebagai khalifah di bumi.

Maksud dan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah, disamping untuk menjadi hamba (‘abid) yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah SWT. juga untuk menjadi khalifah di bumi (khalifah fi al-ard). Kapasitas manusia sebagai khalifah di bumi di tegaskan dalam Al-Qur’an.

dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[19]

Kata khalifah dalam kedua ayat di atas tidak menunjuk kepada salah satu jenis kelamin atau kelompok etnis tertentu. Laki-laki dan perempuan menpunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan mempertanggung-jawabkan tugas-tugas kekhalifah-annya di bumi, sebagaimana halnya mereka harus bertanggung-jawab sebagai hamba Tuhan.[20]

Ketiga, Sebagai Penerima Ikrar Ketuhanan Yang Sama.

Laki-laki dan perempuan sama-sama mengamban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan. Seperti diketahui, menjelang seorang anak manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlebih dahulu harus menerima perjanjian dengan Tuhan-Nya.

“ dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.[21]

Menurut penjelasan Fakhr ar-Razi, tidak seorang pun anak manusia yang lahir ke muka bumi ini yang tidak berikrar akan keberadaan Tuhan, dan ikrar mereka disaksikan oleh para Malaikat. Tidak ada seorang pun yang mengatakan tidak. Di dalam ajaran Islam, tanggung jawab individual dan kemandirian seseorang telah berlangsung sejak dini, yaitu semenjak dalam kandungan. Sejak awal sejarah kejadian manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama.

Keempat, sebagai hamba yang mempunyai tanggung jawab.

Semua ayat yang memuat cerita tentang keadaan Adam dan pasangannya di surga sampai keluar ke bumi, selalu menekankan kedua belah pihak secara aktif dengan menggunakan kata ganti untuk dua orang  هما(huma), yakni kata ganti untuk Adam dan Hawa, seperti dapat dilihat dalam beberapa kasus berikut: bahwa Adam dan Hawa diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga, disebutkan dalam al-Qur’an.

“ dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim”.[22]

Keduanya (Adam dan istrinya) sama-sama memakan buah khuldi dan mereka menerima akibat jatuh ke bumi, seperti tertulis dalam al-Qur’an sebagai berikut:

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”[23]

Kemudian keduanya sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan, yang kisahnya diabadikan dalam QS. Al-A’raf (7): 23. Pernyataan-pernyataan dalam Al-Qur’an di atas, agak berbeda dengan pernyataan-pernyataan dalam Alkitab yang membebankan kesalahan lebih berat kepada Hawa. Dalam ayat-ayat tersebut di atas, Adam dan Hawa disebutkan secara bersama-sama sebagai pelaku dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya tersebut.[24]

Kelima, sebagai hamba yang berpotensi meraih prestasi.

Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana ditegaskan secara khusus di dalam firman Allah.

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan”.[25]

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.[26]

Ke-lima variable beserta ayat-ayat yang dikemukakan di atas memberikan informasi bahwa penciptaan manusia sejak awal tidak menunjukkan adanya perbedaan substansi antara laki-laki dan perempuan. Kalaupun antara keduanya mempunyai perbedaan maka substansi perbedaannya tidak pernah ditonjolkan. Ini mengisyaratkan bahwa Alquran mempunyai pandangan yang cukup positif terhadap perempuan.

Alquran tidak menyebutkan secara terperinci asal-usul kejadian perempuan, yang ada hanya cerita tentang kesombongan Iblis yang menggoda pada Adam dan pasangannya sehingga harus meninggalkan surga. Beberapa riwayat yang menceritakan asal-usul keberadaan kejadian perempuan (isi beritanya maupun redaksinya mirip dengan cerita yang ada dalam kitab Kejadian), ditemukan dalam kitab-kitab Tafsir yang dihubungkan dengan ucapan Rasulullah Muhammad saw. yang dikenal dengan “hadis”.

  

  1. PANDANGAN ULAMA YANG PRO TERHADAP GENDER

 Agama dan Kedudukan Perempuan

Gender memang tidak bersifat universal, akan tetapi hierarki gender bisa dikatakan universal. Berbagai studi lintas budaya menunjukkan bahwa perempuan selalu berada dalam posisi tersubordinasi. Perlu pula di inggat bahwa kitab-kitab sucipun tidak luput dari sikap melemahkan perempuan. Sikap sosial ini sudah begitu meluas, sehingga norma-norma kitab suci yang bersifat progresif tadi menjadi terpengaruh dan ditafsirkan sesuai sikap mental yang berlaku. Oleh karena itu, masyarakat yang didominasi laki-laki itu sering memanfaatkan norma-norma yang egaliter terhadap perempuan didalam kitab-kitab suci justru untuk mengukuhkan kekuasaan mereka.[27]

Riffat Hassan juga sampai pada kesimpulan, bahwa pandangan dan ajaran keagamaan yang meremehkan perempuan berkembang dan menjadi pandangan yang dominan, disebabkan karena ajaran agama tersebut dirumuskan dan ditransformasikan dalam struktur masyarakat patriarki.

Bentuk subordinasi perempuan bermacam-macam, lintas region, periode sejarah dan kelas. Akar dari subordinasi ini ada di mana-mana, berurat dalam alam kesadaran laki-laki maupun perempuan dan diperkuat oleh kepercayaan agama, praktek-praktek budaya dan sistem pendidikan. Meskipun al-Qur’an telah menunjukkkan bahwa laki-laki dan perempuan sama semartabat sebagai manusia, terutama secara spiritual, namun penafsirannya yang tidak bisa dihindari adalah suatu yang relatif. Kalau pada awalnya Islam telah membuktikan dirinya mampu meretas belenggu yang menjerat perempuan, dalam perkembangan selanjutnya terdapat kesan terjadinya kemandegan kalau tidak dapat dikatakan kemunduran. Pada suatu kurun, kader intelektualitas menjadi dominan dan pada kurun lainya kadar emosional menjadi menonjol. Itulah sebabnya persepsi tentang wanita dikalangan umat Islam sendiri juga berubah-ubah.

Selanjutnya jika kita memasuki wacana lembaran kitab kuning maka secara tekstual akan kita temui beberapa nilai inforioritas perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal yang demikian ini paling tidak menurut pengamatan Masdar Farid.[28]merujuk kepada isyarat tingginya kesadaran jenis kelamin dalam kitab kuning minimalnya terdapat tiga pandangan terhadap peran dan kedudukan perempuan. Pertama, inferioritas perempuan yang digambarkan sebagai nilai setengah dibanding laki-laki semisal pada masalah-masalah diyat, kesaksian, poligami, pemenuhan seksual dan bepergian ke luar rumah. Kedua, ketinggian derajat perempuan terutama tampak pada perlakuan dan sikap hormat pada ibu, keridhaan orang tua. Ketiga, kesepadanan derajat laki-laki dan perempuan seringkali disebut dalam al-Qur’an terutama menyangkut persamaan bidang spiritual.

Bias negatif ini muncul, terutama jika dihadapkan pada obsesi kacamata modernisme dan penganjur emansipasi perempuan. Selain kitab-kitab tersebut ditulis kaum lelaki, juga merupakan produk budaya jaman mereka.

 

Penciptaan Manusia Dan Pasangannya

Rujukan yang dijadikan pembicaraan para ulama tentang penciptaan manusia dan pasangannya adalah ayat berikut:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”[29]

Bagaimanapun juga hal ini merupakan rujukan dalam kitab suci dan perluasanya oleh para mufassir secara lebih terperinci tentang penciptaan perempuan pertamayang di kenal sebagai Hawa.  Abbas Mahmud al-Aqqad mengatakan, bahwa perempuan itu menyukai apa-apa yang terlarang serta tidak sanggup bersasbr dalam menghadapi cobaan yang berupa godaan dan larangan[30]. Sebenarnya pasangan perempuan Adam tidak pernah disebutkan namanya dalam al-Qur’an, meskipun terdapat beberapa rujukan tentang istri. Di dalam masalah penciptaan Hawa terdapat perbedaan gambaran anatara Al-Qur’an dengan hadist yang menyebabkan perbedaan penafsiran yang dilakukan oleh para mufassir.

Diantara mufassir ada yang memahami kata nafs dengan Adam seperti al-Razi, Ibn Katsir, al-Qurthubi, Sayyid Quthub. Berbeda dari penafsir ini, Muhammad Abduh berpendapat bahwa nafs diartikan sebagai jenis.[31]

Dari pandangan bahwa yang di maksud dengan nafs adalah Adam, dipahami pula bahwa kata zawja dalam arti pasangan dimaksud adalah Hawa. Tampaknya karena berdasarkan pemahaman seperti ini para mufassir terdahulu memahami bahwa isteri Adam diciptakan dari Adam sendiri. Kelihantanya para mufassir terkemuka seperti Ibnu Katsir dan Al-Razi tidak terhindarkan dari donggeng yang ternyata bersumber pada hadis sahih. Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir sepakat dalam mengartikan penciptaan Hawa dari tulang rusuk  kiri yang bengkok.[32] Nabi bersabda yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

“berwasitalah kepada para perempuan, karena perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, bila kamu berusahameluruskanya, maka kamu harus mematahkanya, dan bila kamu membiarkanya maka akan tetap bengkok. Karena itu berwasitlah kepada perempuan”[33]

Hadits yang berkaitan dengan penciptaan ini dipahami oleh kebanyakan ulama terdahhulu secara harfiah. Akan tetapi idak sedikit ulama kontemporer yang memahaminya secara metaforis, bahkan menolak kebenaran tersebut. Ulama yang memahami secara metaforis berpendapat bahwa hadits tersebut sebagai peringatan agar lelalki menghadapi perempuan dengan bijaksana karena ada sifat, karakter dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki, yang sulit untuk diubah dan kalaupun ada usaha untuk itu, maka akibatnya bisa fatal sebagaimana sulitnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.[34]

Sebuah motif utama para penulis kontemporer adalah pernyataan keabsahan al-Qur’an dan sesuai dengan penolakan terhadap banyak perluasan tradisional materi haidts. Seperti telah kita amati bahwa gambaran al-Qur’an tentang Hawa agak berbeda dari gambaran hadits, tidaklah mengherankan untuk menemukan bahwa tema ini disuarakan secara khusus oleh mereka yang sangat berkeinginan untuk menegaskan permasamaan laki-laki dan perempuan.[35]

Sesungguhnya bahwa anak-anak Adam yang telah dimuliakan Tuhan adalah menyangkut persamaan penghormatan terhadap laki-laki maupun perempuan sebagaimana dinyatakan dalam firmanya:

dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”[36]

Persamaan ini selanjutnya dipertegas dengan tidak adanya pembedaan dari segia asal kejadian dan kemanusiaanya: “sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”[37]

 

D.    KESIMPULAN

Pertama, Syari’at Islam sejak kemunculannya telah berusaha mewujudkan keadilan gender dalam masyarakat Arab yang memiliki budaya dan tradisi patriarkhi yang sangat kuat. Upaya tersebut diwujudkan dengan adanya aturan dan doktrin-doktrin yang berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dari posisinya semula.

Kedua, Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab antar perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat, yang dapat berubah sesuai dengan tuntutan perubahan zaman. Sedangkan seks (jenis kelamin: laki-laki dan perempuan) tidak berubah dan merupakan kodrat Tuhan.

Ketiga, Dalam ajaran agama Islam tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki,  baik sebagai hamba Allah, sebagai khalifah di bumi, sebagai hamba yang mempunyai tanggung jawab, sebagai hamba yang terlibat dalam drama kosmis, dan sebagai hamba yang berpotensi meraih prestasi.

Ketiga, Perbedaan di dalam Al-Qur’an ditemukan dalam masalah waris, kesaksian dan kepemimpinan dalam keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya

Al-Aqqad, Abbas Mahmud. 1976. Wanita Dalam Al-Qur’an.. Jakarta: Bulan Bintang.

Al-Faruqi, Ismail. 1988. Tawhid: It’s Implication For Though and Live, terj. Rahmani Astuti. Bandung: Pustaka.

Ali Engineer, Asghar. 1994. Perempuan Dalam Syariah Perspektif Feminisme Dalam Penafsiran Islam. Jurnal Ulumul Qur’an, No. 3, vol. V.

  1. Mas’udi, Masdar . 1994. Perempuan di Antara Lembaran Kitab Kuning dalam INIS.

Hasan Qolay, A.Hamid. 1989. Kunci Indeks dan Klasifikasi Ayat-ayat Alquran. Jilid I. .Bandung: Pustaka.

Haq, Hamka. 2007. Islam Rahmah Untu Bangsa. Jakarta: RM Books

  1. Echols, John dan Hassan Shadily. 1983. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia. cet. XII.

Mu’ti Muhammad, Ali Abdul. 2010. Filsafat Politik Antara Barat dan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Neufeldt, Victoria. 1984. Webster’s New World Dictionary. New York: Webster’s New World Clevenland.

Quraish Shihab, Muhammad. 1993. Konsep Wanita Menurut Qur’an, Hadits dan Sumber-Sumber Ajaran Islam. Bandung: Mizan.

Rasyid Ridha, Muhammad. 1956. Tafsir Al-Qur’anul Karim. Kairo: Dar al-Manar.

Sayyid Quthub. 1978.  Fi Zilali al-Qur’an. Kairo: Dar al-Syuruq.

Setda Kota Medan. 2000. Buku Saku Pemberdayaan Perempuan. Medan: Media Ilmu.

Shahih Bukhari, kitab an-Nikah bab la Yunkih al-Abu wa Ghairuhu al-Bikr wa as sayyib.

Smith, Jane Yvone. Hadda. 1989. Ulumul Qur’an. Jurnal ilmu dan kebudayan Vol. 1.

Umar, Nasaruddin. 2001. Argumen Kesetaraan Jender Perspertif al-Quran. Jakarta: Paramadina..

Wadud Muhsin, Amina. 1994. Wanita Di Dalam Al-Qur’an. Bandung: Penerbit Pustaka.

www.wikipedia.org

 

[1] Makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Sejarah Pemikiran Hukum Islam yang diampu oleh DR. H. Abu Yasid, LLM. Pada Program S2 Kader Ulama Konsentrasi Aqidah dan Filsafat Hukum Islam Institut Agama Islam Ibrahimy, Situbondo, Jawa Timur.

[2] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, cet. XII, 1983), hal. 265.

[3] Victoria Neufeldt (Ed.), Webster’s New World Dictionary (New York: Webster’s New World Clevenland, 1984), hal. 561.

[4] Setda Kota Medan, Buku Saku Pemberdayaan Perempuan (Medan: Media Ilmu, 2000), hal. 1.

[5] Q.S. An-Nahl: 58

[6] Ali Abdul Mu’ti Muhammad, Filsafat Politik Antara Barat dan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2010),  hal. 265

[7] A.Hamid Hasan Qolay, Kunci Indeks dan Klasifikasi Ayat-ayat Alquran (Bandung: Pustaka, Jilid I, 1989),  hal. 51-52

[8]  Q.S. az-Zariat: 49

[9] Q.S. An-Naba’: 8

[10] Sayyid Quthub, Fi Zilali al-Qur’an (Kairo: Dar al-Syuruq), hal. 648

[11] Q.S. Fathir: 11

[12] Q.S. An-Najm: 45

[13] Amina Wadud Muhsin, Wanita Di Dalam Al-Qur’an (Bandung: Penerbit Pustaka, 1994), hal. 29

[14] Q.S. Asy-Syuraa: 11

[15] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender Perspertif al-Quran (Jakarta: Paramadina, 2001),  hal. 248-265.

[16] Q.S. Az-Zariyat: 56

[17] Q.S. Al-Hujurat: 13

[18] Q.S. An-Nahl: 97

[19] Q.S. Al-An’am: 165

[20] Ismail al-Faruqi, Tawhid: It’s Implication For Though and Live, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 1988, cet. Ke-11), Hal. 147

[21] Q.S.Al-A’raf : 172.

[22] Q.S. Al-Baqarah: 35

[23] Q.S. Al-A’raf: 22,

[24] Hamka Haq, Islam Rahmah Untuk Bangsa (Jakarta: RM Books, 2007), hal.277-279

[25] Q.S. Ali Imran: 195

[26] Q.S. An-Nisa’: 124

[27] Asghar Ali Engineer, Perempuan Dalam Syariah Perspektif Feminisme Dalam Penafsiran Islam (Jurnal Ulumul Qur’an, No. 3, vol V, 1994)

[28] Masdar F. Mas’udi, Perempuan di Antara Lembaran Kitab Kuning dalam INIS, 1994

[29] Q.S. An-Nisa’: 1

[30] Abbas Mahmud Al-Aqqad, Wanita Dalam Al-Qur’an  (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 37

[31] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir Al-Qur’anul Karim (Kairo: Dar al-Manar, 1956), hal. 129

[32] Muhammad Quraish Shihab, Konsep Wanita Menurut Qur’an, Hadits dan Sumber-Sumber Ajaran Islam (INIS, 1993), hal. 5

[33] Shahih Bukhari, kitab an-Nikah bab la Yunkih al-Abu wa Ghairuhu al-Bikr wa as sayyib.

[34] Muhammad Quraish Shihab, Konsep wanita… hal. 7

[35] Jane I. Smith, Yvone. Haddad, Ulumul Qur’an Ijurnal ilmu dan kebudayan Vol. 1, 1989),  hal. 33

[36] Q.S. Al-Isra’: 70

[37] Q.S. Ali Imran: 195

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *