Peranan Tashawuf dalam Periode Kemunduran Fiqh

Oleh : IBNU, M.H.I,.ST

  1. PENDAHULUAN

Agama Islam mempunyai sejarah yang panjang dalam pembuatan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia. Di mulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Masa yang paling panjang adalah cara pengambilan hukum lewat jalan ijtihad. Ijtihad mengalami fase naik-turun hingga saat ini. Menurut sejarawan hukum Islam, kegiatan ijtihad mulai mengalami penurunan semenjak meninggalnya para mujtahid terkenal. Hal ini terjadi pada masa-masa akhir kejayaan imperium Islam, yaitu ketika daulah Abbasiyah sudah di ambang pintu kehancuran. Sebagian ulama memandang cukup merujuk pendapat imam mahzabnya tanpa harus melakukan ijtihad lagi. Fase ini merupakan fase pergeseran orientasi.

Kalau masa-masa sebelumnya fiqh merujuk pada Alquran dan Sunnah, maka pada masa ini yang dirujuk adalah kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh imam-imam yang dipandang lebih berkompeten. Untuk menjaga kesucian kitab-kitab fiqh disamping Alquran dan Sunnah, ulama melakukan kegiatan yang bersifat internal, yaitu membangun madzhab yang dianutnya sehingga dapat berkembang. Terdapat dua ciri yang menandai kemunduran fiqh Islam, yaitu munculnya taqlid dan tertutupnya pintu ijtihad.

Berbagai faktor, baik politik, mental sosial dan sebagainya disinyalir telah mempengaruhi kegiatan para ulama dalam bidang hukum, sehingga muaranya, para pemikir zaman ini merasa tidak sanggup lagi mempunyai kepribadian fikiran sendiri, melainkan harus selalu bertaqlid.

Terkait dengan periodisasi perkembangan fiqh, Muhammad Khudari Bek (ahli fiqh dari Mesir) membagi periodisasi fiqh menjadi beberapa periode[1], yakni: Periode risalah; Periode ini dimulai sejak kerasulan Muhammad SAW sampai wafatnya Nabi SAW (11 H./632 M.). Periode al-Khulafaur Rasyidun; Periode ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW sampai Mu’awiyah bin Abu Sufyan memegang tampuk pemerintahan Islam pada tahun 41 H./661 M. Periode awal pertumbuhan fiqh; Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 H. Periode keemasan; Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai pada pertengahan abad ke-4 H. Periode tahrîr, takhrîj dan tarjîh dalam madzhab fiqh. Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H dan dilanjutkan dengan Peride kemunduran yang berakhir hingga munculnya Majalah al-Ahkam al- ’Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada 26 Sya’ban l293.

Dalam periode kemunduran, untuk pertama kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Paling tidak menurut Khudlori Bik, ada tiga faktor yang mendorong munculnya pernyataan tersebut:

  1. Dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk menyelesaikan perkara di pengadilan dengan merujuk pada salah satu madzhab fiqh yang disetujui khalifah saja.
  2. Munculnya sikap at-taassub al-madzhabi yang berakibat pada sikap kejumudan (kebekuan berpikir) dan taqlid (mengikuti pendapat imam tanpa analisis) di kalangan murid imam madzhab.
  3. Munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing madzhab yang memudahkan orang untuk memilih pendapat madzhabnya dan menjadikan buku itu sebagai rujukan bagi masing-masing madzhab, sehinga aktivitas ijtihad terhenti. Ulama madzhab tidak perlu lagi melakukan ijtihad, sebagaimana yang dilakukan oleh para imam mereka, tetapi mencukupkan diri dalam menjawab berbagai persoalan dengan merujuk pada kitab madzhab masing-masing. Dari sini muncul sikap taqlid pada madzhab tertentu yang diyakini sebagai yang benar, dan lebih jauh muncul pula pernyataan haram melakukan talfiq.

Persaingan antar pengikut madzhab semakin tajam, sehingga subjektivitas madzhab lebih menonjol dibandingkan sikap ilmiah dalam menyelesaikan suatu persoalan. Sikap ini amat jauh berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh masing-masing imam madzhab, karena sebagaimana yang tercatat dalam sejarah para imam madzhab tidak menginginkan seorang pun mentaqlidkan mereka. Sekalipun ada upaya ijtihad yang dilakukan ketika itu, namun lebih banyak berbentuk tarjih (menguatkan) pendapat yang ada dalam madzhab masing-masing. Akibat lain dari perkembangan ini adalah semakin banyak buku yang bersifat sebagai komentar, penjelasan dan ulasan terhadap buku yang ditulis sebelumnya dalam masing-masing madzhab.

Pada masa ini, ulama fiqh lebih banyak memberikan penjelasan terhadap kandungan kitab fiqh yang telah disusun dalam madzhab masing-masing. Penjelasan yang dibuat bisa berbentuk mukhtasar (ringkasan) dari buku-buku yang muktabar (terpandang) dalam madzhab atau hasyiah dan tahrir (memperluas dan mempertegas pengertian lafal yang di kandung buku madzhab), tanpa menguraikan tujuan ilmiah dari kerja hasyiah dan tahrir tersebut.

Setiap ulama berusaha untuk menyebarluaskan tulisan yang ada dalam madzhab mereka. Hal ini berakibat pada semakin lemahnya kreativitas ilmiah secara mandiri untuk mengantisipasi perkembangan dan tuntutan zaman. Tujuan satu-satunya yang bisa ditangkap dari gerakan hasyiah dan takrir adalah untuk mempermudah pemahaman terhadap berbagai persoalan yang dimuat kitab-kitab madzhab.

Selain faktor-faktor diatas yang bisa kita katakan sebagai faktor internal, ada juga beberapa sebab yang mengakibatkan mundurnya khazanah fiqh di kalangan ummat Islam pada saat itu, yakni faktor politik seiring dengan melemahnya wibawa (kekuasaan) kekhalifahan Abbasyiyah pada saat itu, dan satu faktor lagi yakni maraknya perkembangan ilmu tashawwuf pada saat itu yang ditandai dengan banyak munculnya lembaga-lembaga tarekat yang disinyalir mengajarkan pengikutnya untuk hanya mengurusi urusannya sendiri dengan Tuhannya tanpa mempedulikan kerja akal maupun kondisi masyarakat sosial.

Dalam makalah kali ini, penulis akan mencoba membahas tentang pengaruh Tashawuf dalam periode kemunduran fiqh tersebut dengan membagi pembahasan pada tinjauan sosial politik ummat islam pada Abad VII hingga XII Hijriyyah, pembahasan tashawwuf sebagai sebuah kajian ilmu, dan pengaruh tashawwuf bagi pola pikir masyarakat pada saat itu. Diharapkan dengan pembahasan ini, akan ditemukan jawaban apakah tashawuf memang menjadi faktor pemicu kemunduran fiqh atau tidak.

  1. PEMBAHASAN
  2. Tinjauan Sosial dan Politik

Dilihat dari segi sejarah pemikiran hukum Islam dan gerakan ijtihad, maka masa ini merupakan masa yang dipandang sebagai situasi yang tidak menguntungkan bagi umat Islam. Dikatakan demikian, karena pada masa ini kegiatan ijtihad sudah mulai menurun dan mengendur, dan bahkan statis. Kemunduran gerakan ijtihad pada masa ini lebih disebabkan oleh tiga faktor penting:

  1. Lahirnya Madzhab-madzhab fiqh, dimana pada awalnya memang menunjukkan semaraknya gerakan ijtihad,[2] tetapi pada akhirnya menimbulkan suasana atau citra yang tidak kondusif, sehingga terjadi perbedaan-perbedaan antar madzhab yang cenderung kontra produktif. Tidak jarang terjadi pertentangan antar madzhab, yang kadang-kadang membawa dampak negatif dalam masyarakat (pengikut madzhab). Masyarakat terkotak-kotak ke dalam berbagai madzhab dan masing-masing mengkalaim madzhab merekalah yang benar dan menyalahkan yang lainnya.
  2. Menurunnya semangat ijtihad dan kuatnya pengaruh ajaran madzhab, sehingga para ulama tidak mau dan tidak sanggup melampaui ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh madzhab yang mereka anut. Parahnya lagi, di kalangan pengikut madzhab muncul sikap ta’asub madzhab dan taqlid. Akibatnya, para ualam yang ada disetiap madzhab menjadi tidak kreatif dan mandul. Suasana seperti inilah yang menyebabkan mundurnya gerakan ijtihad dan pemikiran dalam Islam. Pada waktu ini, kalaupun ada ijtihad yang dilakukan oleh ulama, namun tidak lebih dari sekedar mensyarahi pemikiran-pemikiran imam-imam madzhab mereka dan mengintrodusir ajaran madzhab kepada masyarakat. Kemandirian ulama untuk melakukan ijtihad menjadi hilang, mereka hanya mengikuti apa yang ada dalam madzhab mereka. Disamping itu, di kalangan madzhab sendiri telah membuat berbagai macam persyaratan untuk dijadikan acuan dalam melakukan ijtihad. Persyaratan-persyaratan ijtihad itu, pada umumnya ditetapkan sangat ketat, sehingga dalam operasionalnya tidak gampang untuk dilakukan. Ketatnya persyaratan ijtihad ini, semula tujuannya adalah agar tidak muncul orang-orang yang tidak memiliki otoritas dalam melakukan ijtihad dan menganggap gampang ijtihad itu. Diakui bahwa ketika ini, memang ada semacam kecenderungan dari sebagian orang yang menggampangkan persoalan ijtihad ini, dan dapat dilakukan oleh semua orang. Melihat kecenderungan ini, ulama-ulama madzhab merasa khawatir jika ijtihad dilakukan oleh orang-orang jahil yang tidak memiliki persyaratan, maka akan menimbulkan malapetaka bagi umat Islam, sehingga akhirnya pintu ijtihad ditutup.
  3. Disintegrasi dan dominasi bangsa asing faktor yang paling parah yang menyebabkan kemunduran umat Islam ialah terjadinya disintegrasi dan perpecahan umat Islam. Seperti dijelaskan oleh Harun Nasution,[3] bahwa pada fase ini keutuhan umat Islam dibidang politik mulai pecah, kekuasaan khalifah mulai menurun dan bahkan khilafah sebagai symbol dan lambing kesatuan Politik umat Islam menjadi hilang. Di zaman ini desentralisasi dan disintegrasi semakin meningkat. Perbedaan antara Sunni dan Syi’ah dan demikian juga antara Arab dan Persia bertambah nyata kelihatan.

Harun Nasution,[4] menjelaskan bahwa pada saat itu Dunia Islam terbagi kepada dua bagian, yaitu Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suriah, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan Mesir sebagai pusatnya dan bagian Persia yang terdiri atas Balkan, Asia Kecil, Persia dan Asia Tengah dengan Iran sebagai pusatnya. Pada waktu ini kebudayaan Persia mengambil bentuk Internasional dan mendesak kebudayaan lapangan kebudayaan Arab. Pendapat bahwa pintu ijtihad tertutup semakin meluas dikalangan umat Islam.

Harun Nasution[5] menegaskan bahwa ketika ini ajaran tarekat semakin merajalela dengan pengaruh negatifnya. Perhatian pada ilmu pengetahuan sangat kurang sekali. Umat Islam di Spanyol -yang tadinya merupakan satu kekuatan tersendiri- dipaksa masuk Kristen dan atau keluar dari darah itu. Di samping itu, kondisi dunia Islam semakin mengalami kemunduran, meskipun pada masa ini -tahun 1500 – 1700 H- muncul tiga kerajaan besar Islam dengan kemanjuannya masing-masing, yaitu Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India.[6]

Bersamaan dengan kenyataan ini penetrasi bangsa Barat dengan kekuatannya semakin meningkat dan meluas ke dunai Islam. Pada tahun 1798 M, Mesir sebagai pusat Islam terpenting berada di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte, seorang jenderal Perancis yang memimpin pasukuannya menaklukan Mesir. Demikian pula, Inggris telah mulai menanamkan kekuasaannya di India.[7] Sampai pada tingkat ini, umat Islam mengalami kemunduran yang paling buruk dalam sejarah perjalanannya.

Paham keagamaan terpecah belah kepada beberapa madzhab dimana antara satu dengan yang lainnya saling mengklaim merekalah yang benar dan saling menyalahkan. Demikian juga kekuatan politik umat Islam semakin melemah dan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sudah jauh menurun. Akibatnya masyarakat menjadi jumud dan statis yang hanya menyerah kepada nasib.

Berkelebihannya ajaran sufistis yang dimasukan oleh Al-Ghazali dalam alam islami di timur, dan berkelebihannya pula Ibnu Rusyd dalam memasukan filsafat islamnya (yang bercorak rasionalistis) ke dalam dunia islam di barat. Al-Ghazali dengan filsafat islamnya menuju ke arah bidang rohani hingga menghilang ke dalam alam tasawuf, sedangkan Ibnu Rusyd dengan filsafatnya mengarah pada pertentangan tak berkesudahan dengan Al-Ghazali hingga Ibnu Rusyd dengan filsafatnya menuju ke jurang materialisme. Al-Ghazali mendapat sukses di timur, hingga pendapat-pendapatnya merupakan suatu aliran yang terpenting, Ibnu Rusyd mendapatkan sukses di barat hingga pikiran-pikirannya menjadi pimpinan yang penting bagi alam pikiran barat.

Suasana gelap dan mencekam yang dialami oleh dunia Islam benar-benar memprihatinkan. Pada saat yang bersamaan, bangsa Eropa justru sedang mencapai kejayaan sebagai pengaruh dari berkembangnya paham Renaissance, dan sibuk melakukan misi penjajahan  ke negara-negara Islam. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang frustasi dan akhirnya berusaha menjauhi kehidupan duniawi, termasuk meninggalkan kehidupan  intelektual. Mereka lebih memilih menutup diri dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi. Akhirnya perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya fiqh menjadi mandeg .

Kehidupan sufi selanjutnya berkembang pesat. Madrasah-madrasah yang ada berkembang menjadi Zawiyatzawiyat untuk mengadakan  riyadhah di bawah bimbingan dan otoritas seorang Syaikh yang akhirnya berkembang menjadi lembaga tarekat. Di madrasah-madrasah  yang masih tersisa itu, hampir seluruh kurikulum diisi dengan karya-karya sufistik. Hal itu diperparah pula dengan semakin banyaknya umat  Islam yang mengkultuskan posisi seorang Syaikh  dalam suatu tarekat, sampai-sampai ada yang berdoa minta di kuburan bersama dengan seorang syaikh.

Dalam bidang fiqh sendiri, yang terjadi adalah berkembangnya taklid buta di kalangan umat. Dengan sikap hidup yang statis itu, tidak ada penemuan-penemuan baru dalam bidang fiqh. Apa yang sudah ada dalam kitab-kitab lama dianggap sebagai sesuatu yang baku, mantap, benar, dan harus diikuti  serta dilaksanakan sebagaimana adanya. Ujungnya, hal ini memunculkan pendapat bahwa “pintu ijtihad sudah tertutup”.

Disebabkan oleh kondisi itu, banyak umat Islam yang frustasi hingga akibatnya mereka memilih menjalani kehidupan sebagai seorang sufi, dan berusaha meninggalkan kehidupan intelektual. Mereka yang semula bersifat kritis dan dinamis, kontras berubah menjadi statis. Dari sikap itu, berkembang menjadi taklid buta kepada ulama, karena bagi mereka pintu ijtihad telah tertutup.

Berbeda di belahan bumi yang lain, ternyata bangsa Eropa justru sedang mengalami kemajuan yang pesat diakibatkan oleh berkembangnya paham Renaissance. Mereka telah berhasil keluar dari dominasi doktrin gereja yang terjadi pada masa Scholastik (Abad Pertengahan).

Kondisi yang lain yang semakin memperparah adalah jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M. bukan saja pertanda yang awal dari berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah dalam dominasi politiknya, tetapi berdampak sangat luas bagi perjalanan sejarah umat Islam. Karena ini merupakan titik awal kemunduran umat Islam di bidang politik dan peradaban Islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi kebanggaan umat.

  1. Tashawwuf Sebagai Sebuah Disiplin Ilmu

Dari pemaparan diatas, tashawuf disinyalir merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kemunduran peradaban intelektual Islam, khusunya bidang fiqh. Hal ini bisa dipahami karena tashawuf menurut Philip K. Hitti merupakan bentuk mistisisme dalam Islam. Tashawuf bukanlah suatu tatanan ajaran, tetapi lebih sebagai modus pemikiran dan perasaan dalam kerangka agama.[8]

Pada awal kemunculannya, mistisisme Islam menampilkan suatu reaksi perlawanan terhadap upaya intelektualisme dan formalisme ajaran Islam dan Alquran yang berkembang sebagai suatu konsekuensi. Secara psikologis, landasannya harus dicari dalam hasrat besar manusia untuk menyingkapkan kebenaran Tuhan dan kebenaran agama, upaya untuk mendekati Tuhan secara langsung, serta pengalaman yang lebih personal dan lebih mendalam tentang kedua kebenaran itu.

  • Definisi Tasawuf

Pengertian tasawuf secara etimologis berasal dari bahasa Arab tashawwuf (تصوّف), yang mengikuti wazan تفعّل, yakni isim mashdar dari kata kerja تصوّف – يتصوّف – تصوّفأ. Mengenai asal-usul dan akar kata tashawwuf sendiri terdapat perbedaan pendapat, antara lain berasal dari kata:[9]

  1. صفاء, artinya bersih atau jernih, karena seseorang yang mengamalkan tasawuf berusaha membersihkan dan menjernihkan hatinya atau jiwanya agar is berada sedekat mungkin dengan Allah SWT, sebab Allah Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh orang yang telah suci pula.
  2. صفّ, artinya barisan, karena seseorang yang mengamalkan tasawuf berusaha agar ia berada pada barisan terdepan di sisi Allah SWT. Ia juga berusaha agar selalu menempati barisan pertama dalam shalat berjama’ah sebagai barisan yang utama. Hal ini menunjukkan ketekunannya dalam beribadah.
  3. صفة, artinya serambi masjid, karena pada masa Nabi Muhammad SAW ada sekelompok sahabat yang kehidupannya ditumpahkan untuk menuntut ilmu, beribadah, dan membela agama. Mereka hidup sederhana dan tinggal di serambi masjid Nabawi. Karenanya mereka disebut sebagai: أهل الصفة
  4. صوفنة, artinya nama pohon yang kurus dan hidup di padang pasir, atau pohon yang buahnya berbulu, karena seseorang yang mengamalkan tasawuf ialah mereka yang tahan menderita, tahan lapar, dan kurang tidur I malam hari. Mereka banyak berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari, sehingga badannya menjadi kurus seperti pohon shaufanah, atau pohon yang buahnya berbulu sebagai lambang pakaian yang sederhana.
  5. Sophos, bahasa Yunani, artinya hikmah, karena tasawuf sangat erat hubungannya dengan hikmah.
  6. صوْف, artinya bulu domba, karena seseorang yang mengamalkan tasawuf berpakaian sederhana, seperti wol kasar yang terbuat dari bulu domba sebagai simbol kesederhanaan dalam kehidupan mereka.

Asal-usul kata tasawuf diatas, jika dilihat dari pengertiannya, maka semuanya ada hubungannya dengan perilaku kehidupan seseorang yang mengamalkan tasawuf (sufi). Tetapi, jika ditinjau dari aspek kebahasaan, kata shuf (صوف), yaitu kata yang terakhir dari asal-usul kata tasawuf diatas adalah kata yang lebih dekat dan tepat dengan kata shûfî (صوفى) sebagai istilah bagi seseorang yang mengamalkan tasawuf. Sehingga ketika ada ungkapan تصوّف الرجل dapat diartikan dengan “seorang lelaki telah mengenakan pakaian wol kasar yang terbuat dari bulu domba” atau “seorang lelaki telah berpindah dari kehidupan biasa kepada kehidupan seorang sufi”. Kata sufi sendiri baru muncul pada pertengahan abad kedua Hijriyyah berdasarkan penggunaan istilah al-Shûfi yang disandangkan di belakang nama Abu Hasyim al-Kufi (w. 150 H).

Sebagaimana perbedaan pendapat mengenai asal-usul kata tasawuf diatas, pengertian tasawuf menurut istilah terminologis juga terdapat perbedaan pendapat. Hal itu disebabkan karena perbedaan sudut pandang dan pengalaman kerohanian mereka. Untuk itu, dapat peneliti kemukakan beberapa pengertian tasawuf secara terminologis menurut para ahli sebagai berikut[10]:

  1. Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H) berkata: “Tashawuf adalah mengambil hakikat dan tidak mengharapkan apa yang ada di tangan manusia”.
  2. Bisyr ibn al-Haris al-Hafi (w. 227 H) berkata: “Seorang sufi ialah orang yang telah menyucikan hatinya semata-mata demi Allah”.
  3. Abu Turab al-Nakhasyi (w. 245 H) berkata: “Seorang sufi tidak bisa dicemari oleh apapun dan dengannya, bersihlah segala sesuatu”.
  4. Abu Qasim al-Junaidi al-Baghdadi (w. 297 H) berkata: “tashawuf ialah ketika antara dirimu dengan Allah tanpa ikatan (dengan yang lain)”.
  5. Ahmad al-Jariri (w. 311 H) berkata: “Tashawuf adalah masuk ke dalam semua akhlak yang tinggi (terpuji) dan keluar dari semua akhlak yang rendah (tercela)”.

Dari beberapa pengertian tashawuf menurut definisi terminologis diatas, sungguhpun kelihatannya terdapat perbedaan, tetapi intinya sama. Inti tasawuf ialah adanya komunikasi antara seorang sufi dengan Allah SWT sedekat-dekatnya setelah ia membersihkan hatinya dari segala sesuatu yang mengotorinya dengan jalan melakukan akhlak yang terpuji dan meninggalkan akhlak tercela melalui tahapan-tahapan maqâmât sehingga tercapai hakikat. Hakikat yang dicapainya mungkin berupa ma’rifah (pengetahuan sepenuhnya akan Allah), mungkin mahabbah (cinta), mungkin ittihâd (penyatuan antara diri dengan Allah), mungkin hulûl (terlepas dari belenggu duniawi, menuju Allah), dan lain sebagainya tergantung pengalaman rohani mereka.

  • Hakikat dan Tujuan Tasawuf

Tashawuf merupakan bentuk pengamalan dari syari’at Islam, yakni perwujudan dari kata ihsân. Ihsân sebagaimana sabda Rasulullah SAW berarti “Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, tetapi apabila kamu tidak dapat melihat-Nya, maka harus disadari bahwa Dia melihatmu”.[11]

Dari pengertian ihsân tersebut terkandung ajaran tashawuf tentang ma’rifah dan murâqabah. Ma’rifah berarti mengenal atau Allah SWT dengan hati sanubari, sedangkan murâqabah berarti perasaan akan selalu dilihat atau diawasi oleh Allah SWT. Baik ma’rifah maupun murâqabah adalah bentuk penghayatan batin seseorang terhadap Allah dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, ihsân yang didalamnya mengandung ma’rifah dan murâqabah, berarti juga bentuk penghayatan batin dari keberagamaan seseorang terhadap Allah. Oleh karena tasawuf merupakan perwujudan dari ihsân, maka tashawuf pada hakikatnya berarti rasa penghayatan batin seseorang terhadap Allah dalam kehidupan beragama.

Dengan kata lain tashawuf lebih menekankan pada aspek esoteris (batin) dalam beragama. Lebih spesifik lagi hakikat tashawuf adalah perasaan akan selalu hadirnya Allah dalam diri seseorang kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan bagaimanapun. Untuk merasakan kehadiran Allah dalam diri seseorang itu diperlukan latihan rohani (riyâdhah) dan kesungguhan dalam mengandalikan hawa nafsu (mujâhadah) melalui tahapan-tahapan yang disebut dengan maqâmât.

Dengan demikian, hakikat tashawuf ialah rasa penghayatan batin seseorang akan kedekatannya dengan Tuhan setelah ia membersihkan hatinya dari segala sesuatu yang mengotori hatinya dengan jalan melakukan riyâdhah dan mujâhadah sehingga tercapai hakikat.

Sebagaimana hakikat tashawuf diatas, maka tujuan tashawuf adalah untuk tazkiyyah an-nafs (membersihkan jiwa) dengan melakukan akhlak terpuji dan meninggalkan akhlak tercela melalui tahapan-tahapan maqâmât agar dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga tercapailah hakikat.

Rasa akan kedekatan sufi dengan Allah itulah sebenarnya tujuan tashawuf, dan sebagai tujuan akhir dari tashawuf adalah pencapaian hakikat. Para sufi berbeda pengalaman rohaniah mereka dalam pencapaian hakaikat, ada yang mencapai ma’rifah, ada yang mencapai mahabbah, dan ada yang mencapai ittihad, hulûl dan sebagainya.

  • Perkembangan Tashawuf

Philip menyebutkan bahwa pada mulanya, tashawuf berkembang sebagai gaya hidup asketis, lebih khusus lagi kontemplatif, sebagaimana dipraktikkan oleh pendeta-pendeta Kristen. Pada abad kedua Hijriah dan seterusnya tashawuf berkembang menjadi gerakan sinkretis, menyerap berbagai elemen dari Kristen, Neo-Platonik, Gnostisisme, dan Buddhisme, serta berkembang melalui tahap-tahap mistis, teosofis dan panteistis. Pakaian wol diadopsi sebagai pakaian khas mereka, meniru para pendeta Kristen yang juga menjadi model penerapan gaya hidup selibat yang tidak pernah diterapkan sebelumnya oleh kalangan muslim ortodoks. Praktik meditasi di tempat sunyi, dan Kebiasaan berjaga malam atau yang semisalnya menunjukkan adanya pengaruh monastik Suriah. Kelompok sufi tarekat, yang berkembang pada abad ketiga belas mengembangkan konsep relasi antara guru (syaikh) dengan muridnya (salik). Konsep relasi ini erat hubungannya dengan model relasi antara pendeta dan murid pemula dalam tradisi Kristen, juga serupa dengan aliran-aliran monastik lainnya, meskipun ada hadis kondang yang berbunyi: “tidak ada kependetaan (rahbaniyyah) dalam Islam”. Ritual keagamaan dalam tarekat, yang disebut dzikr merupakan satu-satunya ritual dalam Islam yang rumit dan berbeda dengan praktik litani dalam Kristen. Tradisi-tradisi eskatologis sufi dengan ajaran Anti-kristusnya menganjurkan bahwa setiap tarekat mesti mendapatkan pengikut-pengikut baru di antara orang – orang yang baru masuk Islam. Fenomena semacam itu merupakan sambaran dari bentuk-bentuk monoteisme yang lebih tua.[12]

Istilah sufi pertama kali muncul dalam literatur Arab pada pertengahan abad kesembilan yang merujuk pada golongan asketis tertentu. Orang pertama yang mendapat sebutan sufi adalah seorang ahli klenik ternama; Jabir ibn Hayyan (w. ± 776) yang mengembangkan ajaran asketiknya sendiri. Sufi yang sezaman dengannya, Ibrahim ibn Adham (w. ± 776) dari Balkh bisa dijadikan sebagai model gerakan asketisme diam yang muncul paling awal. Dalam legenda-legenda sufi yang mengisahkan proses peralihan diri menjadi seorang sufi -yang nyata-nyata meniru kisah Buddha-, Ibrahim muncul sebagai seorang putra raja yang ketika berburu mendengar satu suara misterius memperingatkannya bahwa ia diciptakan untuk tujuan seperti itu. Kisah lain menyebutkan bahwa Ibrahim adalah seorang bangsawan yang meninggalkan kehidupan duniawi material untuk menjalani kesalehan dan kehidupan asketik. Menurut legenda lain, peralihan Ibrahim menjadi sufi disebabkan oleh pengalamannya melihat seorang pengemis dari kaca jendela istana. Pengemis itu sedang menikmati bongkahan roti keras yang dilembutkan dengan air dan dibumbui garam kasar. Ketika si pengemis meyakinkannya bahwa ia merasa puas, Ibrahim melepaskan pakaian bangsawannya dan mulai hidup berkelana. Se­telah menjadi sufi, Ibrahim pindah ke Suriah, tempat paling awal tumbuhnya sufi yang terlembagakan. Ia hidup di sana dengan upah dari pekerjaan yang ia lakukan sendiri.

Berkat rangsangan dari ajaran-ajaran Kristen dan gagasan-gagasan Yunani, asketisme Islam berkembang menjadi ajaran mistik mulai abad kedua Hijriah; ia mulai dianggap oleh para pengikutnya sebagai manajemen emosi untuk memurnikan jiwa manusia, sehingga asketisme memungkinkan manusia untuk dicintai, mengetahui, dan bersatu dengan Tuhan.

Lebih lanjut, dalam perkembangannya, An-Nasyar (Prof Ali Sami) membagi perkembangan Tashawuf menjadi tiga jalur[13]:

  • Tashawuf Sunni, dari sikap dan perilaku zuhud kemudian tashawuf dan berakhir pada akhlak. Di antara tokohnya adalah Junaid al-Bagdadi, Al-Qusyairi dan Al-Ghozali.
  • Tashawuf Falsafi, dari sikap dan perilaku zuhud kemudian tashawuf dan berakhir pada filsafat. Di antara tokohnya adalah Ibnu al-Arabi, Ibnul Farid.
  • Tashawuf Salafi, dari sikap dan perilaku zuhud dan berkembang menjadi teori dan amaliyah akhlak / moral. Tokohnya antara lain Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayim.
  1. Pengaruh Tashawuf Pada Pola Pikir Masyarakat

Selama lima abad hijriah pertama, bentuk pengalaman religius yang disebut tashawuf hampir seluruhnya berdiri atas dasar kepentingan-kepentingan individual. Kemudian gerakan itu berkembang menjadi gerakan komunal ketika muncul lingkaran-lingkaran kecil para murid-murid atau para pengikut yang mengitari satu atau beberapa orang guru, sebagaimana yang terjadi pada al-Hallaj dan murid-muridnya. Hanya saja, lingkaran-lingkaran mistik semacam ini bersifat lokal dan tidak memiliki ciri permanen. Baru pada akhir abad kedua belas Masehi lembaga-lembaga tashawuf yang lebih terorganisir mulai bermunculan.

Tarekat pertama yang dibangun atas prinsip semacam ini adalah Tarekat Qadiriyah, yang namanya diambil dari nama sang pendiri yang berasal dari Persia, ‘Abdul Qadir al-Jailani atau al-Jilli (1077-1166), yang berkem­bang di Baghdad. Saat ini, Tarekat Qadiriyah -termasuk salah satu tarekat yang paling toleran dan paling diterima masyarakat- mengklaim bahwa para pengikutnya tersebar di seluruh dunia muslim, termasuk Aljazair, Jawa, dan Guinea.[14]

Tarekat kedua adalah Tarekat Rifaiyah, didirikan oleh seorang keturunan Irak, Ahmad al-Rifai (w. 1183), yang anggota-anggotanya, seperti tarekat-tarekat lain, bisa mempertontonkan atraksi-atraksi aneh, seperti menelan kobaran api, mencandai ular berbisa, memakan pecahan kaca, atau melewati hamparan paku maupun pisau tanpa memakai alas kaki. Tarekat Maulawiyah, umumnya dikenal sebagai para darwisy yang menjadikan tarian sebagai salah satu media penting untuk mencapai tahapan ekstase. Tarian mereka dikenal dengan tarian berputar. Tarekat ini didirikan oleh penyair besar Persia, Jalaluddin Rumi yang meninggal di Koniyeh (Iconium klasik) tahun 1273. Berbeda dengan praktik umat Islam pada umumnya, Rumi mem­berikan peran yang besar pada musik dalam ritual-ritual tarekatnya. Pada perkembangan berikutnya tarekat ini dipimpin oleh seorang imam yang masih keturunan Rumi dan tinggal di Koniyeh. Pe­mimpin tarekat menikmati hak-hak istimewa untuk melantik Sultan-Khalifah di Turki dengan pedangnya.

Sejumlah tarekat independen lain berkembang di berbagai negara dan pada masa-masa yang berbeda, dengan jenis dan ke­cenderungan yang berbeda-beda mulai dari asketisme hingga antinomianisme-panteistik. Dalam banyak kasus, pendiri tarekat -yang sering kali menjadi pusat pengultusan kelompoknya- dianggap memiliki kekuatan-kekuatan Ilahi atau semi-Ilahi. Dan pusat-pusat perkumpulan tarekatnya berkembang menjadi tempat pemujaan orang suci.

Di Afrika, khususnya di Maroko dan Tunisia, per­saudaraan religius (tarekat) yang paling besar adalah Tarekat Syadziliyah, didirikan oleh Ali al-Syadzili (w. 1258). Tarekat ini me­miliki sejumlah anak tarekat dengan nama-nama tertentu. Umat Islam di Maroko sangat mengagungkan dan memuja orang-orang suci dibanding umat Islam di negara-negara lain.

Tarekat modern Sanusiyyah, yang didirikan pada 1837 oleh seorang Syaikh dari Aljazair yaitu al-Sanusi memiliki perbedaan besar dengan tarekat- tarekat terdahulu karena menjadi tarekat-kenegaraan yang bertujuan politik dan militer selain tujuan religius. Tarekat ini bermarkas di Kuffah dan sebelumnya di Jaghbub.

Tarekat asli Mesir yang paling penting adalah Ahmadiyyah yang didirikan oleh Ahmad al-Badawi (w. 1276). Tarekat ini berpusat di Thantha. Sedangkan di Turki, tarekat yang paling kuat adalah Bekhtasyi. Tarekat ini penting dikemukakan karena hubungannya yang kuat dengan Janissaris -tentara elite Bani Saljuk-. Tarekat ini, yang berkembang pesat sekitar 1500, menganjurkan gaya hidup selibat, memuja Ali dan menampilkan jejak-jejak pengaruh Kristen dalam bidang teo­logi. Mereka lebih tampak sebagai sekte ketimbang persaudaraan sufi. Selain mewarisi tradisi agama-agama kuno di Asia Minor, tarekat-tarekat darwisy di negara itu pun memiliki ciri-ciri Syamanisme, yang dibawa oleh orang Turki terdahulu dari Asia Te­ngah. Tarekat-tarekat sufi di sana menampilkan organisasi akle-siastik satu-satunya dalam Islam. Para anggota yang biasanya di­sebut para darwisy, hidup dalam markas-markas khusus, disebut taqiyah, zawiyah atau ribath, yang kadang-kadang berfungsi sebagai pusat-pusat kegiatan sosial, sebuah fungsi yang gagal dimainkan oleh masjid. Setiap tarekat bisa memiliki anggota tambahan selain para guru dan murid-murid. Mereka adalah anggota-anggota kelas tiga yang ingin bergabung dan mendapatkan bimbingan dari murid-murid senior tarekat itu.

Selain memperkenalkan satu bentuk monastisisme dan ritual, para sufi juga memberikan kontribusi lain kepada Islam. Merekalah yang menyebarkan penggunaan tasbih di kalangan umat Islam. Saat ini, hanya golongan Wahabi Puritan yang melarang penggunaan tasbih karena menganggapnya bidah. Tasbih, yang berasal dan Hindu, digunakan oleh para sufi sebagai alat untuk berzikir. Sangat dimungkinkan bahwa mereka mengenal tasbih melalui gereja-geraja Kristen, tidak langsung dari India. Selama berlangsungnya Perang Salib, penggunaan rosario menyebar ke wilayah-wilayah Katolik Roma di Barat. Penyebutan kata rosario pertama kali ditemukan dalam karya penyair Abu Nuwas (w. ± 810), Sufi kondang al-Junaid (w. 910) dan Baghdad mengguna­kannya sebagai media untuk mencapai tahapan ekstase. Ketika seseorang mengkritiknya karena menggunakan perangkat bidah se­dangkan ia dikenal dengan kesuciannya, Junaid menjawab: “Aku tidak akan menyingkirkan jalan yang telah mengantarkanku kepada Tuhan.”.

Lebih dari itu, para sufi membangun dan memopulerkan tra­disi kultus pada orang suci. Mereka membangun tradisi itu dengan alasan bahwa di dalam Alquran tidak terdapat larangan untuk mengagungkan orang suci. Pada tahap berikutnya, kebiasaan itu menyebar -mengikuti tradisi Kristen- sebagai respon penting dan panggilan spiritual, serta untuk menjembatani jurang antara manusia dengan Tuhan dalam teologi Islam. Karena tidak ada hukum formal dalam Islam yang mengatur hal semacam itu, pengakuan-pengakuan umum terhadap seseorang biasanya didasarkan atas keistimewaan-keistimewaan (karomah) yang ditampilkan oleh orang suci (wali, kekasih Tuhan). Pada abad kedua belas, kalangan Sunni dan Syiah secara umum beranggapan bahwa permohonan atau doa yang disampaikan kepada orang suci merupakan suatu bentuk ibadah yang maknanya telah dikaburkan oleh rekonsiliasi antara ajaran-ajaran filsafat tentang kesantoan dengan prinsip-prinsip ortodoks, yang terutama dipengaruhi oleh ajaran tashawuf.

Ke­tika sampai pada pertanyaan tentang tingkatan “para wali Allah”, para sufi besar mengusung prinsip kesamaan mutlak antara laki- laki dan perempuan. Mereka misalnya, menempatkan Rabi’ah al-Adawiyyah (717-801) dari Bashrah -seorang mistikus wanita yang memiliki kehidupan mulia serta sifat yang menyenangkan- pada tingkatan pertama orang-orang suci. Sejak saat itu Rabi’ah menjadi “orang suci utama dalam hagiologi Sunni”. Pada usia belianya ia dijual sebagai budak, tetapi ketika tuannya melihat cahaya yang mengitari tubuh Rabi’ah saat ia sedang mendirikan salat, ia membebaskannya. Rabi’ah tidak mau menikah dan men­jalani kehidupan asketis ekstrim serta menjauhi hal-hal keduniawian lainnya. Karena itulah ia segera menjadi pemandu utama sepanjang jalan mistik, yang memiliki sifat lembut, sabar, syukur, rasa takut, menjalani kemiskinan dan tawakal kepada Tuhan. Saat ditanya apakah ia membenci setan, Rabi’ah menjawab, “Cintaku pada Tuhan tidak menyisakan ruang untuk kebencian pada setan.” Dan saat dalam mimpi Nabi Muhammad bertanya apakah ia mencintainya, Rabi’ah menjawab, “Cintaku pada Tuhan telah merampas keseluruhan diriku sehingga tidak ada ruang, baik untuk mencinta ataupun membenci selain Dia.” Dalam kesempatan lain ia me­nyatakan, “Aku tidak beribadah kepada Allah karena takut kepada-Nya … atau karena mencintai surga… tetapi karena cintaku kepada-Nya dan hasratku kepada-Nya”.

  1. KESIMPULAN

Dari pemaparan diatas, ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan, diantaranya ialah:

  1. Lepas dari adanya perkembangan gerakan tashawuf pada akhir abad ke VI Hijriyah, perkembangan khazanah fiqh memang telah mengalami kemundurannya pada saat itu.
  2. Tashawuf secara konsep sebenarnya merupakan kepanjangan dari fiqh, dimana fiqh merupakan kerja akal untuk merumuskan hukum-hukum keagamaan, sedangkan tashawuf merupakan kerja amaliyah khususnya ibadah yang merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat hingga Imam Malik, salah seorang pendiri madzhab fiqh pernah menyatakan bahwa: “Barangsiapa yang mengamalkan fiqh tanpa tashawuf, maka ia mendekati kefasikan, barangsiapa yang mengamalkan tashawuf tanpa fiqh, maka ia menyerupai kaum zindiq, dan barangsiapa yang menggabungkan keduanya, maka ia telah mendapatkan kebenaran”.
  3. Pada perkembangan pembagian tashawuf, yang paling mendekati pada pola yang erat dengan fiqh ialah tashawuf sunni yang menjadikan tashawuf sebagai kepanjangan tangan dari kerja fiqh.
  4. Dalam perkembangannya, tashawuf kemudian dimasyhurkan dengan pendirian tarekat-tarekat yang banyak diisi dengan kegiatan mengucilkan diri dari kehidupan sehingga menurut sebagian orang dapat mematikan akal yang merupakan alat utama kajian fiqh, sekaligus dalam tarekat juga ada kecenderungan untuk menaati apapun yang diajarkan oleh sang Mursyid dan menganggapnya sebagai orang suci, suatu hal yang menunjukkan sikap taqlid buta yang dapat mengakibatkan mandeknya kajian fiqh.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abu al-Qasim al-Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, Dar al-Khair, Beirut, tt.

Ahmad Daudy, Kuliah Ilmu Tasawuf, Bulan Bintang, Jakarta, 1998.

Ali Sami Nashir, Nasy`ah al-Fikr al-Islamy, Kairo: Dar al-Ma’arif, tt.

Hamka, Prof. Dr, Tasauf, Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984

Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.

_____________, Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan). Jakarta ; Bulan Bintang, 1982.

  1. Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.
  2. Khudlori Bik, Târîkh al-Tasyrî’ al-Islâmy, Maktabah Muhammad bin Ahmad bin Nabhan, Surabaya, tt.

Masyharuddin, Dr. H. M.Ag, Pemberontakan Tasawuf; Kritik Ibn Taimiyah atas rancang Bangun Tasawuf, Surabaya: JP Books, 2007.

Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman, dkk, PT Serambi Ilmu, Jakarta, 2006.

Sofi Hasan Abu Thalib, Tatbîq al-Syarî’ah Al-Islâmiyah Fi Bilâd Al-Arabiyah. Kairo ; Dar al-Nahdah Al-arabiyah, 1990.

[1] M. Khudlori Bik, Târîkh al-Tasyrî’ al-Islâmy, Maktabah Muhammad bin Ahmad bin Nabhan, Surabaya, tt, hal.334.

[2] Sofi Hasan Abu Thalib, 1990, Tatbîq al-Syarî’ah Al-Islâmiyah Fi Bilâd Al-Arabiyah. Kairo ; Dar al-Nahdah Al-arabiyah, Cet. III, halaman 152-163

[3] Lihat Harun Nasution. 1982. Pembaharuan Dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan). Jakarta ; Bulan Bintang, Cet. II, halaman 13

[4] Ibid.

[5] Ibid. halaman 14

[6] Ibid.

[7] Ibid, halaman

[8] Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman, dkk, PT Serambi Ilmu, Jakarta, 2006, cet. II, hal. 546.

[9] Lihat; Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal.57. Bandingkan: M. Amin Syukur, Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, hal. 8-11.

[10] Lihat Abu al-Qasim al-Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, Dar al-Khair, Beirut, t.th., hal. 280-283. Bandingkan: Ahmad Daudy, Kuliah Ilmu Tasawuf, Bulan Bintang, Jakarta, 1998, hal. 21-26.

[11] Lihat: Muslim, Shahih Muslim, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th., hal. 157.

[12] Philip, Histori of the Arabs

[13] Ali Sami Nashir, Nasy`ah al-Fikr al-Islamy, Kairo: Dar al-Ma’arif, tt. Vol. III, hal. 43

[14] Adz-Dzahabi, Tarîkh al-Islam adz-Dzahabi, dalam Philip, History…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *