PLURALISME AGAMA: SEBUAH UPAYA IDEOLOGIS DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK AGAMA

Oleh: Mohammad Ali Mufi Lc,.M.H.I

  1. PENDAHULUAN

Masyarakat indonesia dikenal sebagai masyarakat pluralis, menurut Nurkholis Majid, Indonesia adalah salah satu bangsa yang paling pluralis di dunia. Indonesia terdiri atas berbagai macam suku, agama dan ras yang secara keseluruhan membentuk tatanan kebudayaan nasional bangsa, yaitu kebudayaan Indonesia. Keragaman dalam masyarakat Indonesia merupakan sebuah kekayaan budaya bangsa yang sangat tinggi nilainya. Tetapi, ada sebuah akses yang muncul dalam masyarakat yang sifatnya plural, yaitu acap kali menumbuhkan  fanatisme dan egoisme yang pada akhirnya  dapat menimbulkan potensi-potensi kearah pergesekan atau konflik.

Keragaman tersebut tidak dapat dikelola  masyarakat Indonesia dengan baik, padahal seyogyanya membawa kemajuan dan peningkatan rasa kerja sama yang tinggi, tapi yang terlihat justru sebaliknya. Seringkali potensi konflik menjadi kenyataan, yang semuanya dilatar belakangi oleh agama, terutama agama islam dan ini sungguh memalukan bagi bangsa Indonesia yang notabene terkenal dengan bangsa yang berbudi luhur.

Konflik Maluku, Poso dan sejumlah kasus diberbagai tempat dimana kaum muslim terlibat secara langsung dengan umat yang lain adalah sampel sejumlah konflik yang seringkali dipicu oleh perbedaan ideology diantara kedua agama ini. Perang Salib ( 1096-1271) antara umat Kristen Eropa dan Islam, pembantaian umat islam di Granada oleh Ratu Isabella ketika mengusir dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antar Islam dan Kristen yang terbesar sepanjang sejarah.

Sampai saat inipun perkembangan kehidupan agama masih saja diwarnai oleh banyak paradoks yang menjadi gambaran bahwa peran agama masih belum optimal  pada saat  masyarakat  berada di tingkat perkembahgan yang semakin kompleks secara kultural. Pertanyaan muncul, karena apa yang disebut kebangkitan itu bukan dari dalam artikulasi yang bersifat substantive, dalam pengertian lebih menampilkan wajah spiritual dan etika moral agama yang tampak dominan dalam kehidupan agama, justru sekarang adalah penonjolan identitas dan symbol dari masing-masing agama, sehingga acapkali kebangkitan agama tidak lebih dari kesemarakan simbolik. Dalam keadaan demikian, tidak mengherankan apabala agama selalu disibukkan dengan persoalan yang bersifat artifisial, seperti peneguhan peran agama melalui penegasan simbol atau identitas keagamaan yang justru mereduksi universalis misi kemanusiaan agama. Ini dapat dilihat pada makin maraknya kelompok keagamaan menjadi legimitasi, untuk sampai pada puncak kekuasaan. Keadaan semacam inilah yang menjadi sumber pemicu kekerasan dan konflik dalam kehidupan beragama yang belakangan ini terasa gaungnya serta berbagai akibat dalam kehidupan akibat dalam kehidupan ekonomi,politik, ideologi dan yang lain-lain.

Munculnya kekerasan dan konfilik dengan wajah agama tidak dapat dilihat dari sisi pluralis saja. Bagaimanpun semua agama-agama anti konflik dan kekerasan, agama dilahirkan untuk kedamain manusia secara universal, disinilah letak pentingnya secara parensial melihat kembali watak paling mendasar dari agama, guna mencari pembuktian konfilik dengan agama lain. Dengan demikian diperlukan penjelasan empirik dan kontektual dengan meliahat variable ekonomi, politik, ediologi, dan sebagainya. Sikap penuh toleran dan pengertian terhadap orang lain diperlukan dalam masyarakat majemuk, atau monolitik. Apalagi sesungguhnya kemajemukan masyarakat sudah menjadi dekrit tuhan dan designya untuk umat manusia. Jadi tidak ada masyarakat yang tunggal, monolitik, sama dan sebangun dalam segala segi, karena kemajmukan dan keragaman adalah sunnah Allah yang diciptakan sebagai warna warni dalam kehidupan di dunia ini,  dalam sebuah ayat menjelaskan korelasi positf antara rahmat allah dengan sikap penuh pengertian dalam masyarakat majemuk,

“Jika tuhanmu menhendki, tentualah dia jadikakan manusia ini umat yang tunggal ( monolitik). Namun tuhanmu menghendaki mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang yang mendapatkan rahmat tuhan. Dan memang untuk itulah Allah menciptakan mereka”

Perbedaan dalam masalah kepercayaan agama di dalam sebuah Negara, termasuk di Indonesia merupakan kenyataan historis yang tidak dibantah keberadaanya, terlebih islam adalah agama yang keberadaanya di Nusantara ini tidak sebegitu tua dengan agama Hindu dan Budha, apalagi Kristen yang datang paling akhir yang dibawa oleh para kolonial Belanda. Pada ranah inilah muncul tantangan bagaima sosok manusia beragama ( Homo Relegius ) mampu mendifinisikan agamanya di tengah komunitas yang beragam dalam bingkai plularalisme agama.

  1. PENGERTIAN PLURALISEME SECARA ETIMOLOGI

Pluralisme secara etimologis berasal dari dua kata, yaitu pluralisme dan agama, Pluraliseme  agama dalam bahasa Arab diterjemahkan “ al-taaddudiyah al-diniyan” dan dalam bahasa inggris “ religious pluralism “ oleh karena istilah pluralism agama berasal dari bahasa inggris, maka untuk mendifinisikannya secara akurat harus merujuk kepada kamus bahasa tersebut. Pluralisme berarti jama` atau lebih dari satu. Dalam kamus bahasa inggris mempunyai tiga pengertian.

Pertama, pengertian kegerejaan ; sebutan buat orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, memegang dua jabatan atau lebih secara bersamaan baik bersifat kegerejaan maupun non kegerejaan.

Kedua, pengertian filosofis ; berarti system pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasar yang lebih dari satu. Sedangkan

Ketiga, pengertian sosio-politis; adalah suatu system yang mengakui koekosistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat karakteristik diantara kelompok-kelompok tersebut. Ketiga pengertian tersebut sebenarnya bisa disederhanakan dalam satu makna, yaitu koekosistensinya berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristik masing-masing[1] sedangkan Nurkholis Madjid mamaknai: “ pluralism” sebagai suatu system nilai yang memandang secara positif-optimis terhadap kemajemukan, dengan menerima sebagai sebuah kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.[2]

Pengertian lain tentang pluralisme agama disampaikan oleh Alwi Shihab dalam bukunya” Islam Inklusif” beliau memaparkan pluralism Agama dalam tiga hal:

Pertama, Pluralism tidak semata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajmukan, namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajmukan tersebut. Pluralism agama dan budaya dapat kita jumpai di mana-mana, namun seseorang baru dapat dikatakan menyandang sifat tersebut apabila ia dapat berinterksi positif dalam lingkungan kemajemukan tersebut. Dengan kata lain pengertian pluralism agama adalah bahwa setiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan umat dalam kebhinnekaan.

Kedua, pluralism harus dibedakan dengan kosmopolitanisme. Kosmopolitanisme menunjuk pada suatu realita di mana aneka ragam agama, ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi. Sebagai contoh, di New York, kota ini adalah kota Kosmopolitan. Di kota ini terdapat banyak orang Yahudi, Kristen, Muslim, Hindu, bahkan tampa agama sekalipun. Namun interaksi positif antar penduduk ini khususnya dibidang agama sangat minim sekali kalaupun ada.

Ketiga, konsep pluralism tidak dapat disamakan dengan relativisme. Seorang relativis akan berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut kebenaran atau nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berfikir seseorang atau masyarakatnya. Sebagai konsekwensi dari paham relativisme agama, doktrin agama apapun harus dinyatakan benar, atau tegasnya semua agama adalah sama, kerena kebenaran agama-agama walaupun berbeda-beda dan bertentangan satu sama lain tetap harus diterima. Untuk itu seorng relativis tidak akan mengenal apalagi menerima suatu kebenaran universal yang berlaku untuk semua dan sepanjang masa.[3]

Pluralisme secara garis besar dapat diartiakan sebagai paham kemajemukan, baik dalam agama, etnis, suku, maupun budaya. Namun, karena di Indonesia sering terjadi konfik sosial yang dipicu oleh isu-isu agama, wacana pluralism juga sering lebih ditekankan pada masalah pluralism agama. Di era demokrasi dan globalisasi, pluralisme kemudian menjadi isu yang sangat penting dan gencar disosialisasikan. Hal ini dilakukan dengan harapan ketika semangat pluralisme dalam beragama dengan baik, maka ketegangan dan konfilk yang disebabkan oleh isu agama dapat diredam, atau paling tidak makin berkurang.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Hans Kung : “ tidak ada perdamaian dunia tampa perdamaian antar agama “. Pernyataan ini memiliki nuansa yang amat kaya, disatu pihak, kita melihat bahwa perdamaian antar agama menjadi prasyarat bagi perdamaian dunia. Namun, dipihak lain, pernyataan ini juga bias diartikan bahwa perdamaian dunia tersebut  sekaligus lingkungan yang kundusif bagi perdamaian antar agama, tidak bias disangakal bahwa agama dan aspek-aspek lain dalam kehidupan bermasyarakat saling bergantung, satu mempengaruhi yang lain; satu tidak dapat berdiri sendiri tanpa subyek yang lain.

Dikalangan cendikiawan muslim Indonesia, paham pluralism agama pertama digagas oleh Nurkholis Madjid, setelah sepeninggal beliau, ide-ide pluralism dikembangkan oleh Abrurrahman Wahid, Alwi shihab, Komaruddin Hidayat, Buddy Munawwar Rahman, Ulil Abshor Abdilla serta tokoh-tokoh muslim lain yang tergolong dalam Jamaah  Islam Liberal ( JIL).

Jika kita telusuri melalui perspektif Al-quran, tampak bahwa quran sangat apresiatif terhadap pluralisme, hal ini bias dilihat dalam beberapa ayat berikut ini: “ dan sekiranya Allah tidak menolak ( keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang  lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan majid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong ( agama)- Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ( Q.S.Al-Hajj (22): 40.”

Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa perbedaan agama sengaja dibiarkan oleh Allah untuk menjadi kekuatan penyeimbang dan masing-masing pihak harus berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebagian mufassir ada yang menafsirkan bahwa kata ganti pada kata fiha itu merujuk pada seluruh tempat ibadah (sawami` biya dan masaajid), yang penting di dalamnya disebut nama Allah (yudzkaru fiha ismullah).

Dalam ayat lain allah berfirman: “ dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi dia memasukan orang-orang yang dikehendikinya ke dalam rahmatnya. Dan orang-orang yang  zalim tidak ada lagi bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong”. (Q.S.Asy-Syura 42:8).

Al-Suyuti dalam tafsir al-jalalain mengatakan bahwa yang dimakasud umat wahidah adalah satu agama, yakni agama Islam. Jika penafsiran ini diterima, seolah-olah Allah berkata, seandainya aku menghendaki hal itu, niscaya manusia akan dijadikan semua berislam, namun, aku tidak menghendaki hal itu- sebab frasa wa-lau sya`a ( jika Allah menghendaki ) menunjukkan pengandaian yang tidak terjadi. Hal ini memberikan isyarat bahwa Allah menghargai pluralitas (kemajemukan) yang merupakan sunnatullah kerena kemanuggalan hanya milik Allah SWT.

Dalam ayat lain, Al-quran juga menegaskan tentang pluralitas suku dan bangsa sebagaimana dalam firman:

“ hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S.Al-Hujarat 49:13).

Pada hakikatnya pluralism agama yang muncul merupakan dampak dari adanya pluralitas agama yang diharapkan dapat menjadi solusi yang menjanjikan harapan dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur meskipun pada kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Anis Malik Toha dalam sebuah bukunya yang berjudul “ Tren Pluralisme Agama” (Thoha, 2005: 187). Diantara tren-tren pluralism agama antara lain adalah humanism, sinkretisme, dan hikmah abadi ( shopia perennis ) yang mana tujuan mereka bermuara pada kesetaraan kepada semua agama ( semua aliran dan ideology ) yang ada agar hidup berdampingan secara bersama secara damai, penuh tenggang rasa, toleransi dan saling menghargai tampa adanya perasaan superioritas dari salah satu agama di atas agama yang lain.[4]

 

  1. TEOLOGI PLURALISME

Pluralisme agama adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula, Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.

Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.

Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama.

Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun adenominasi yang berbeda-beda.

Bagian dari persoalan penting umat Islam adalah memahami dengan baik tentang gagasan (konsep) ‘pluralisme’ yang sejalur dengan totalitas pandangan dan keyakinan agama ini. Apa makna dan bagaimana Islam mendudukkan gagasan ini secara proporsional? Sehingga menerima pluralisme tidak bertabrakan dengan aqidah yang membentuk keyakinan Islam itu sendiri.

Istilah ‘pluralisme’ secara umum merujuk pada suatu cara pandang yang berorientasi kemajemukan (kejamakan). Gagasan ini dicangkokan pada berbagai ranah atau berbagai subjek pengetahuan, kemudian mengkristal sebagai suatu isme tersendiri. Namun tulisan ini hanya memfokuskan pada ranah kemungkinan Islam menerima dan memposisikan konsep tersebut terkait eksistensi agama-agama lainnya.

Mengingat ada perkembangan wacana pluralisme di Indonesia akhir-akhir ini dominan dengan gagasan teologi inklusif. Hal demikian sebenarnya bagian dari merespon arus globalisasi yang memaksa para intelektual agama-agama menyelesaikan berbagai perselisihan dan konflik berbasis keyakinan agama. Ini juga sepertinya agama terlanjur ditasbihkan sebagai sumber dan pemicu konflik sosial dan negara. Walaupun fakta dominin menunjukkan faktor kesewenangan kelas sosial, kesenjangan ekonomi dan penindasan yang terajut dalam ketidakadilan sosial adalah muara konflik. Sedikitnya ada tiga gagasan bentuk pluralisme agama yaitu:

  1. Pluralisme Atas Dasar Kesamaan Tujuan Puncak

Di atas basis pandangan pluralisme, beberapa kalangan meyakini keberagaman adalah kemestian. Hal ini tidak terkecuali terhadap kehadiran ragam agama ditengah-tengah manusia. Kehadiran berbagai agama adalah respon manusia yang beragam (saling berbeda) atas Tuhan sebagai Realitas Absolut. Keberbedaan ini muncul dikarenakan ketidaksamaan pengalaman dan rentang sejarah yang dijalani berbagai individu dan kelompok manusia. Atas dasar itu, wajar ada keberagaman perspektif  ditengah-tengah manusia dalam memahami dan memberi reaksi atas Wujud Mutlak, yang sesungguhnya semua agama berorientasi kepadanya.

Dengan demikian, tidak layak bagi suatu kelompok penganut agama tertentu menegasikan (menyalahkan) makna yang dikandung oleh agama-agama lain diluarnya. Ini termasuk persoalan nilai kebenaran dan keselamatan yang ada dalam seluruh ajaran agama-agama. Setiap persepsi dan penerapan dari berbagai agama tersebut memiliki nilai tersendiri yang dapat mengacu pada tujuan tunggalnya. Artinya, tidak ada monopoli, baik dalam tingkatan interpretasi maupun aplikasi praktisnya.

Orientasi pluralisme agama – dalam pengertian pertama ini – dapat dimaknai bahwa tidak ada klaim ekslusif  terhadap kebenaran yang dapat diterima. Bahwa suatu agama memandang hanya padanyalah  kebenaran dan selainnya adalah sesat dengan sendirinya tertolak. Karena masing-masing agama memiliki hakikat tertentu bersama nilai kebenarannya tersendiri. Masing-masing agama menyimpan keagungan yang layak bagi semua orang menjadikannya sebagai sandaran.

Jhon Hick melihat agama-agama besar – dalam jejak sejarahnya – adalah pembentuk keberagaman persepsi atas berbagai cabang dari masing-masing agama tersebut. Ini timbul karena adanya pengalaman-pengalaman keagamaan berbeda dialami masing-masing agama tersebut, yang membingkai ruang budaya khasnya satu sama lain. Keberagaman persepsi tersebut sesungguhnya menunjuk pada satu puncak hakikat misterius. Karenanya – menurut tokoh pluralisme agama kenamaan golongan Kristen ini – pencerapan berbagai pengalaman keagamaan dari masing-masing agama besar tersebut memperlihatkan adanya hasil-hasil moral dan spiritual yang dapat dikatakan sama. (Menggugat Pluralisme Agama, AR. Gulpaigani, terj. Muhammad Musa, hal. 14-15).

  1. Pluralisme Atas Dasar Realitas Sosial

Makna lain pluralisme agama terkait dengan orientasi kehidupan sosial, atau pada penghargaan atas berkeyakinan dan hak setiap orang dalam pengekspresian agamanya masing-masing. Realitas sosial menuntut setiap orang atau tiap-tiap agama membangun batasan-batasan ranah sosial untuk tidak berbenturan antara satu dengan yang lainnya. Makna dari pluralisme ini tidak mencakup kolektifitas kebenaran dan keselamatan sebagai suatu keyakinan umum dan mendasar bagi setiap agama. Karena dua hal tersebut (kebenaran puncak dan fakta sosial) berada pada posisi yang terpilah secara proporsional.

Islam – sebagai agama samawi terakhir untuk manusia – mesti menunjukkan ia adalah satu-satunya yang dapat diterima sebagai kebenaran. Ia juga mesti bisa memastikan keyakinan umat atas agama ini memiliki landasan kukuh sebagai jalan keselamatan. Jika tidak, bagaimana Islam bisa mendakwahkan dirinya sebagai kebenaran dan jalan keselamatan yang mesti ditempuh manusia? Padahal sudah ada agama-agama samawi lain yang hadir kedunia dengan tawaran yang sama. Apa artinya kehadiran Islam dan diperjuangkan eksistensinya dengan berbagai kemampuan yang ada, hingga mesti membayarkannya dengan nyawa dan darah?

Demikian juga Kristen dan Yahudi, dengan alasan apa agama ini mesti dipertahankan? Bagaimana mereka bisa menunjukkan ia senantiasa relefan diusung sebagai kebenaran dan jalan keselamatan? Mengapa pula agama-agama ini mesti menjaga umatnya agar tidak keluar darinya?. Bahkan lebih dari itu, Kristen mesti melihat bahwa umat diluarnya adalah “domba-domba tersesat”. Artinya, setiap agama mesti memiliki keyakinan atas kebenaran dan keselamatan secara ekslusif adalah miliknya. Tidak hanya sebatas perasaan dan mengkondisikan suasana psikologis semata. Namun ia mesti hadir ditingkat argumen-argumen rasional-niscaya dan dapat diterima manusia.

  1. Pluralisme dari Aspek Vertikal dan Horizontal

Sisi lain yang mesti dilihat dari makna pluralism agama adalah aspek vertikal dan horizontalnya. Ini terbatas pada agama-agama samawi belaka. Maksudnya. Seluruh bangunan teologi dan syariat yang berlaku diantara agama-agama samawi memiliki sumber yang sama dan diturunkan oleh realitas puncak yang sama pula. Tidak ada persoalan terkait dengan kebenaran dan jalan keselamatan yang dilalui para penganutnya. Karena tidak ada kontradiksi terkait bangunan teologi yang ada pada Islam, Kristen dan Yahudi, sebab bersumber pada Yang  Satu. Sedangkan syariat dari masing-masing agama tersebut berbeda satu sama lain, dimana dari segi penerapannya memiliki konteks waktu yang berbeda-beda.

Secara terpisah kita mesti melihat bahwa keberagaman syariat tersebut tidak dapat berlaku dalam kondisi bersamaan. Karena sumber yang menurunkan syariat, keputusannya adalah dalam posisi menggantikan antara satu dengan yang lain sesuai fase penurunannya. Keberlakuan yang satu dengan niscaya membatalkan yang lain. Namun dari sudut pandang teologis tidak ada perubahan atau pereduksian yang dapat diterima. Karena cara pandang dan kebenaranya senatiasa tunggal.

  1. HARMONI ISLAM DENGAN PLURALISME

Dari uraian tiga bentuk gagasan pluralisme diatas, Islam secara proporsional dapat menerima bentuk kedua dan ketiga. Dasar konsepsinya adalah ketiadaan kontradiksi antara realitas tunggal dan kebenaran absolut dengan fenomena keberagaman yang tak terhindarkan. Kaidah logis ini bersesuaian dengan ketidaknihilan peneguhan keyakinan Islam dan loyalitas total padanya.

Bentuk pengertian pluralisme mengungkapkan fakta bahwa sumber pokok agama-agama (samawi) adalah Realitas Mutlak, bukan sebaliknya (ekspresi beragam terhadap Realitas Absolut). Realitas teologis adalah tunggal, artinya Islam, Kristen dan Yahudi saat diturunkan berbasis pada pandangan ketuhanan, kenabian, keadilan dan kebangkitan dalam makna yang sama. Sedangkan keberagaman syariat diantara mereka sangat terkait dengan konteks waktu dan fase umatnya. Ketaatan masing-masing umat tersebut dalam syariat sama-sama melalui jalan keselamatan. Hal ini sama seperti terungkap dalam diktum filosofis adanya “keberagaman dalam ketunggalan”.

Jika kita dapat menerima pluralisme dalam pengertian pertama, maka mempertahankan pelembagaan masing-masing jalan kebenaran dan keselamatan yang saling berbeda tersebut hilang relefansinya. Ini hanya akan menumbuhkan sikap subjektif berlebihan atas berbagai pilihan yang tidak memiliki perbedaan esensial terhadap kebenaran dan jalan keselamatan itu sendiri. Menempatkan manusia sebagai pendasaran pokok (poros), bukan Tuhan, menunjukkan tendensi subjektif pelembagaan agama-agama dan ragam ekspresi terhadap Realitas Absolut. Intinya tidak ada sikap bijaksana (dalam pengertian sebenarnya) yang terungkap dengan pemahaman seperti itu.

Sikap moderat dalam menerima makna pluralisme kedua dan ketiga sejulur dengan mizan (keseimbangan) yang dituntut Islam atas umatnya, baik dalam cara pandang maupun aplikasi praktisnya. Bukan pula semacam ruang kompromi terhadap pluralisme arus populer, tetapi keniscayaan rasional dan proporsional Islam menerima gagasan pluralisme yang demikian.[5]

Indonesia dikenal sebagai sebuah Negara dengan kebudayaan yang sangat beragam. Hal ini sangat bias dimaklumi karena memang Indonesia dengan latar belakang yang paling beraneka ragam dengan sekitar 400 kelompok etnis dan bahasan yang ada di bawah naunangannya.

Demikan halnya dalam kontek agama, Indonesia juga menampakkan wajah keberagaman yang sangat plural. Hal ini tidak lain disebabkan hampir semua agama, khususnya agama-agama besar di dunia, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu, terwakili di kawasan ini, semua agama tersebut diakui keberadaannya dan diberi hak hidup di Negara  Indonesia.

Davis dalam “ Religion and the the making of society” menjelaskan bahwa agama bukanlah realitas yang melulu terkait dengan dimensi belief dan ritual keagamaan, tetapi juga sangat bertalian dengan dimensi sosio-politis. Dalam konteks sosio-politik inilah agama sangat rentan dengan potensi konflik yang memicu adanya perbedaan-perbedaan kepentingan.”Apabila kepercayaan yang berlawanan mengenai nilai-nilai tertinggi ( ultimate value) masuk ke dalam arena politik, mereka mulai bertikai dan makin jauh dari kompromi”, demikian penegasan Alford dalam salah satu tulisannaya.

Masayarakat dengan realitas keberagamannya yang sangat plural ini merupakan masyarakat dengan kondisi yang sangat riskan karena sangat rentan dengan potensi konflik. Menilik adanya implikasi negative pluralism tersebut, tindakan antisipatif menjadi sebuah keharusan. Namun, solusi terhadap adanya implikasi negative pluralism tidak harus melalui mekanisme yang mengarahkan penginkaran kenyataan pluralism itu sendiri.

Mekanisme demikian, misalnya , seringkali Nampak pada upaya menciptakan suatu hemogeni berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam konteks kehidupan modern di mana masalah pluralism merupakan agenda kemanusiaan yang penting, penciptaan mekanisme seperti itu bukan solusi yang arif dan konstruktif. Dikatakan demikian, karena bagaimanapun pluralism merupakan kenyataan sosiologis yang tidak dihindari. Pluralism merupakan bagian sunnatullah, sebagai kanyataan yang telah menjadi kehendak tuhan.

Terdapat beberapa opsi yang bias ditempuh dalam menjawab pluralism keagamaan. Pertama, sikap menerima kehadiran orang lain atas dasar sikap tidak saling mengganggu. Kedua, mengembangkan kerjasama social-keagamaan melalui berbagai kegiatan yang secara simbolik memperlihatkan dan fungsional mendorong proses pengembangan kehidupan beragama yang  rukun. Ketiga, mencari, mengembangkan dan merumuskan titik temu agama-agama untuk menjawab problem, tantangan dan keprihatinan umat manusia.

Hal utama yang perlu dilakukan untuk mencegah adanya implikasi negative pluralisme adalah pengembagan sikap kearifan dalam menerima pluralism. Sikap yang bersedia menerima perbedaan, bukan hanya sebagai realitas objektif akan tetapi juga sebagai potensi dinamis yang memberikan kemungkinan-kemungkinan dan harapan akan kemajuan di masa depan. Hal ini berarti penumbahan kesadaran akan adanya pluralitas kesegenap  masyarakat adalah sebuah keniscayaan sebagai langkah pengembangan pluralism menjadi kekuatan sinergis dalam kehidupan kemanusiaan.

Dalam upaya menumbuhkan kesadaran tersebut, kalam pluralism yang ditawarkan oleh beberapa pemikir seperti Farid Essack, Gusdur, Nuhcholish Madjid namapak  jelas menemukan titik signifikasinya. Hal ini tidak lain karena teologi pluralism telah menawarkan sebuah paradigma pemikiran yang menohok ke jantung realitas keagmaan, teologi, yang notabene, meminjam analisisnya Kuntowijoyo, sebagai sesuatu yang sangat dengan fenomena kesadaran manusia. Teologi yang merupakan suatu orientasi pemahaman keagamaan untuk menyikapi kenyataan-kenyataan aktual dan empiris menurut perspektif ketuhanan. Melalui konstruksi teologi plurlisme, di mana iman menjadi pijakan dasar, diharapkan umat islam sebagai komunitas terbesar dalam konteks masyarakat Indonesia akan mampu menunjukkan sikap yang toleran, terbuka, dan menjauhkan diri dari sikap absolustik dan klaim-klaim kebenaran.[6]

Jika pluralisme ini dianggap sebagai cara bertoleransi terhadap penganut agama lain, maka Diana L. Eck membantah pendapat tersebut dalam tulisannya What is Pluralisme,” Nieman Reports God in the Newsroom Issue” bahwa pluralisme tidak hanya bermakna toleransi, tetapi merupakan pencarian secara aktif guna memahami aneka perbedaan (the encounter of commitments) alias mengharapkan kesamaan dalam agama-agama. Hal ini juga senada dengan Syafi`i Anwar Direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) mengatakan bahwa : “Pluralisme itu mengakui keberagamaan orang lain, tanpa harus setuju” . Selain itu, yang terpenting, bukan sekadar menjadi toleran, melainkan menghormati ajaran agama orang lain. Dan sadar betul bahwa keberagamaan orang lain itu bagian yang sangat fundamental dan inheren dengan hak asasi manusia,” selain itu juga masih menurut Syafi`i Anwar, Konsep pluralisme yang tidak sekadar toleransi, tetapi lebih menuju kepada penghormatan (respect) kepada yang lain (the others), Dalam konsep Islam mengakui perbedaan dan identitas agama-agama, tetapi tidak sampai pada tingkat pembenaran terhadap teologinya. Islam tetap mengakui kesalahan teologi agama yang lain bahkan sampai tingkat mengoreksi, tetapi Islam juga tidak memaksakan mereka untuk untuk masuk Islam. Islam juga membiarkan agama selain Islam untuk melaksanakan ritual agamanya, selama tidak mengganggu agama Islam. Ini berarti Islam tidak mentolerir persamaan agama (lakum dinukum wa liyadin).[7]

  1. PLURALISME DI INDONESIA

Islam di Indonesia tidak menggantikan agama-agama yang telah ada dan tumbuh berkembang di Indonesia, secara kronologis, kedatangan agama di Indonesia dapat melalui fase dan rentang waktu sebagai berikut : Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Disamping itu kedatangan bangsa China yang membawa agama Kong Hu Chu ikut pula mewarnai dunia keberagamaan di Indonesia. Kedatangan agama-agama besar ini, terutama agama Hindu, Budha, Islam tidak hanya berpengaruh secara kerohanian, tetapi juga secara fisiks dan politis, sebagaimana terlihat dari wujud kerajaan Hindu, Budha, dan Islam. Sementara itu, Kristen datang bersamaan dengan datangnya penjajah barat ke kepulauan Nusantara. Kenyataan ini bagi masyarakat telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap perjalanan sejarah hubungan antara agama di Indonesia, terlebih lagi ditambah dengan klaim setiap  pemeluk terhadap ajarannya masing-masing.

Telepas dari perbedaan di atas, eksistensi agama-agama itu bagaimanapun telah diakui secara resmi dan berhak untuk tumbuh berkembang di wilayah tanah air kita. Persoalaannya kemudian adalah bahwa apakah pluralitas agama ini akan menjadi factor integrative bangsa atau justru akan menjadi sumber konflik dan disintegrasi nasional. Semua pihak baik pemerintah maupun rakyat Indonesia tentu menginginkan alternative yang pertama. Akan tetapi untuk mewujudkan hal ini tentu bukan hal yang mudah dan diperlukan upaya yang serius dari semua pihak, terutama para tokoh agama. Peran umat islam, sebagai golongan mayroritas, akan sangat menentukan tercapainya cita-cita bersama ini. Disinilah letak pentingnya pengembangan wacana pluralism di Indonesia. Untuk merespon persoaalan ini, para cendikiawan muslim Indonesia terlibat dalam sejumlah diskursus tentang islam dan pluralisme.

Bertolak dari pandangan bahwa islam merupakan agama kemanusiaan ( fitrah), yang berarti cita-citanya sejajar dengan cita-cita kemanusiaan universal, menurut Nurcholis Madjid bahwa cita-cita keislaman sejalan dengan cita-cita manusia Indonesia pada umumnya, yang mana hal ini bagian dari ajaran pokok  agama islam. Oleh karena itu system politik yang sebaiknya diterapkan di Indonesia adalah system yang tidak hanya baik untuk umat islam saja, tetapi juga membawa kebaikan untuk semua anggota masyarakat Indonesia. Dengan kata lain diperlukan system yang menguntungkan semua pihak, termasuk mereka yang non muslim, hal ini sangat sejalan dengan watak inklusif islam. Pandangan semacam ini, menurutnya telah memperoleh dukungan dalam sejarah islam. Nurkholis menyadari bahwa masyarakat Indonesia sangat pluralistic dari segi etnis, adat istiadat, dan agama. Dari segi agama selain Islam, realitas menunjukkan bahwa hampir semua agama sama, khususnya agama-agama yang besar dapat berkembang subur dan terwakili aspirasinya di Indonesia. Oleh sebab itu, masalah toleransi atau hubungan antar agama manjadi sangat penting. Nurcholis optimis bahwa dalam soal toleransi dan pluralism ini, Islam telah membuktikan kemampuannya dengan sangat meyankinkan.

Fakta bahwa islam memperkuat  toleransi dan memberikan aspirasi terhadap pluralisme, sangat cocok dengan nilai-nilai pancasila yang sejak semula mencerminkan tekad dari berbagai golongan dan agama untuk bertemu dalam titik kesamaan ( common platform). Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, aliran politik dan keagamaan, sejak zaman pra kemerdekaan hingga saat ini. Adapun tren-tren pluralism agama yang berkembang seperti yang diungkapkan oleh Anas Malik dalam sebuah bukunya yang berjudul “ Tren Pluralisme Agama” sebagai berikut :

  1. Humanisme

Humanisme adalah suatu system etika ( ethical system ) yang mengukuhkan dan mengungkan nilai-nilai humanis, seperti toleransi, kasih sayang, kehormatan tanpa adanya ketergantungan pada pada aqidah dan kaidah serta ajaran-ajaran agama. Ciri dari Humanisme sekuler ini adalah” antroposentris”, yakni menganggap manusia sebagai hakekat sentral kosmos atau menempatkannya di titik sentral. Pemikiran ini merupakan kebangkitan kembali secara sadar pemikiran relativisme Protagoras, yang ditafsirkan bahwa setiap manusia standar dari ukuran segala sesuatu. Apabila terjadi perbedaan opini di antara mereka dalam suatu masalah, maka tidak ada apa yang di sebut “ kebenaran obyektif “ sehingga tidak boleh dikatakan yang satu benar dan yang lain salah”. [8]

  1. Sinkretisme

Tren sinkretisme tampak sebagai fenomena yang begitu mengesankan dalam sejarah pemikiran agama, dulu maupun kini. Tren sinkretisme adalah suatu kecendrungan pemikiran yang berusaha mencampur dan merekonsiliasi berbagai unsur yang berbeda-beda ( bahkan mungkin bertolak-belakang ) yang diseleksi dari berbagai agama dan tradisi, dalam suatu wadah tertentu atau dalam salah satu agama yang ada (berwujud suatu aliran baru). Model suatu atau kecendrungan semacam ini sebetulnya memiliki akar yang kuat yang memanjang sampai pada masa kuno, dan merupakan tren yang sering terjadi hamapir semua agama dan tradisi dengan tingkat yang bervariasi. Hanya saja tabiat kajian ini tidak memungkinkan untuk menelusuri dan membicarakan lika-liku sejarah tren pemikiran yang cukup tua ini beserta pernik-perniknya kecuali ada kaitannaya dan relevansinya dengan topik utama dalam kajian pluralisme agama. Oleh karena itu, kajian ini penulis fokuskan secara lebih khusus pada pemikiran-pemikiran pembaharuan sosio-religius modern dalam tradisi Hindu, yang mana tren sinkretisme ini merupakan fenomena yang kuat bahkan dominan, serta mendapatkan lahan subur di dalamnya. Ini di satu sisi, dan di sisi yang lain, tren sinkretistik yang beraroma India ini memiliki pengaruh yang tidak bias dipandang sebelah mata dalam perkembangan teori atau hipotesis pluralism agama dan para pemikir pluralis secara umum. Eric J. Sharpe, dalam bukunya “ Comperative Religion: A History, “ menjelasksan kepada kita betapa kuat dan dominanya tren ini dalam pemikiran para tokoh ilmu perbandingan agama dan sejarah agama di barat. Argumen dan bukti empiris yang mereka gunakan, adalah fenomene yang lahir secara mencolok berupa kecendrungan kuat dikalangan sebagian tokoh perbandingan agama untuk mewujudkan tujuan-tujuan disiplin ini, yang selama ini sangat teoritis akademis murni, ke dalam tataran nyata, praktis dalam sejarah, suatu hal yang secara empiris telah menyulut kontroversi tajam dikalangan para spesialis dibidang ini.

Dalam sebuah konferensi Asosiasi Sejarah Agama International ( I.A.H.R- International Assocition for The History of Religion ) di Tokyo pada bulan September 1958, telah terjadi perkembangan baru ini, yaitu ketika Fredrich dari Marburg menyamapaikan makalahnya yang berjudul “  The History of Religions as s Way to Unity of unity of Religion” melontarkan gagasan bahwa “ mewujudkan persatuan seluruh agama” merupakan satu tugas penting ilmu perbandingan agama. Selanjutnya Arnold Toynbee menyatakan dalam salah satu bab bukunya : An Historian`s Approuch to Religion” misi agama-agama besar tidaklah kompetitif, melainkan komplementer atu saling melengkapi. Kita bias meyakini agama kita sendiri tampa harus mengaggapnya sebagi satu satunya wadah kebenaran ( truth ). Kita bias mencintainya tampa harus merasakan bahwa ia satu satunya jalan keselamatan.[9]

  1. KESIMPULAN

Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleransi kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan(Pluralitas). Namun bukan berarti beranggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme), artinya tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah. Namun demikian, paham pluralisme ini banyak dijalankan dan kian disebarkan oleh kalangan Muslim itu sendiri. Solusi Islam terhadap adanya pluralisme agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum diinukum wa liya diin). Tapi solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alwi Sihab, Islam Inklusif. Jakarta, 1999.

Budy Monawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman. Jakarta: Paramadina, 2001.

Departemen Agama RI, Al-quran & terjemahan. Jakarta : CV.Tohaa Putra, 1987.

Harold Coward, Pluralisme Tantangan Bagi Agama-agama, terjemah. Basco.         Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Esha, Mohammad In`am, Teologi Islam; Isu-isu Kontemporer. UIN Malang Press, 2008.

Madjid Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 1992.

            , Islam Inklusif, Kompas, Jakarta, 2001.

            , Dialog Agama-agama dalam Perspektif Universalisme Islam, dalam passing Over: Melintas Batas Agama.

Muslim, Abdurrahman, Islam Transformatif. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997.

Syafie, Anwar, Agama dan Pluralitas Masyarakat Bangsa.  Jakarta: P3M, 1994.

            , Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina, 1995.

Toha, Anis  Malik, Tren Pluralisme Agama, 2005.

http://www.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&view=article&id=541:islam-dan-konsep-pluralisme-agama&catid=74:paradigma-islam

http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=444:peta-paham-pluralisme-agama-di-indonesia-2-habis&catid=62:pemikiran-islam&Itemid=99

 

[1]  Anis Malik Toha, Tren Plularisme Agama,(2005:11-12).

[2]  Majdid Nurkholis, Islam Doktrin dan peradaban, ( Jakarta : Paramadina,1992:25).

[3]  Alwi Shihab, Islam Inklusif, ( Jakarta : Mizan, 1999),41-42

[4]  Anis Malik Toha, Tren Plularisme Agama,(2005: 05).

[5]  http://www.acehinstitute.org

[6] Mohammad In`am Esha, Teologi Islam; Isu-isu Kontemporer, hal : 20-23

[7] http://www.inpasonline.com

[8]  Anis Malik Toha, Tren Plularisme Agama,(2005: 05).

[9] Anis Malik Toha, Tren Plularisme Agama,(2005: 105).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *