Antara Salaf dan Wahabi ; (Antara Ibn Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab)

Oleh: Abdillah Mandar

 Latar belakang

Salaf secara bagasa artinya terdahulu.[1] Dan Salafy atau Ahlu Salaf adalah orang-orang yang mengamalkan hukum syarti sesuaiAl Quran dan Sunnah serta menolak selain keduanya.[2] Namun di kemudian hari juga dikenal sebagai sebuh sekte dalam kajian teologi Islam bisa juga dikatakan sebuah metode salafi.[3]

Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan.

Hal ini berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap manusia, baik berupa potensi biologis maupun psikologis dan terus berkembang untuk mencari nilai-nilai kebaikan. Ilmu kalam dengan perkembangannya menimbulkan permasalaan, kemudian berkembang menjadi beberapa aliran, hal ini disebabkan karena perbedaan-perbedaan yang dimulai oleh para ulama kalam.

Disini kita tidak akan mengklaim aliran yang mana benar, akan tetapi kita akan mengali lebih dalam tentang pemikiran-pemikiran yang mereka jalani, Aliran-aliran tersebut masing-masing mempunyai landasan yang dijadikan dasar mereka dalam ber-hujjah. Baik itu Al-Qur’an maupun Hadits.

Diantara aliran-aliran tersebut adalah aliran Salafiyah yang tokohnya Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Untuk lebih jelasnya kita akan mengkaji pemikiran-pemikiran ini dari awal. Sejarah, dan tokoh-tokoh serta pemikiran-pemikirannya, yang mereka yakini. dan tentunya kita harus bisa mengambil Ibrah dari berbagai hal yang positif darinya.

  1. Rumusan Masalah

Pada makalah ini, dapat dirumuskan  permasalahan sebagai berikut:

1)      Menjelaskan sejarah perkembangan aliran Salafiyah

2)      Menjelaskan pokok-pokok pemikirannya Salafiyyag

3)     Menjelaskan perbedaan kedua tokoh utamanya, antara Ibn Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.

  1. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam makalah ini terdiri dari 3 bab. Pertama adalah pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah serta sistematika penulisan.

Pada bab kedua berisikan pembahasan yang terbagi dalam 3 term. Sejarah berdiri dan perkembangan Salafiyah. Menjelaskan pemikiran-pemikiran Asy’ariyah, dan terakhir menjelaskan dua tokoh terbesar yang dianggap sebagai Salafiah. Dalam hal ini Ibn Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab.

Dalam pembahasan ini kami lebih menjelaskan tentang dua tokoh ini lebih banyak daripada pembahasan yang lainnya. Karena menurut kami, pengkajian tokoh ini akan mampu memberikan kita gambaran umum tentang inti dari pengamalan sesungguhnya aliran ini. Agar kita bisa menjadikannya acuan dalam menilai sisi positif negatif dari pemikiran salaf.

Terakhir pada bab ketiga merupakan kesimpulan atau konklusi dari makalah ini dan sebagai buah fikir dari penulis atas apa yang bisa disimpulkan setelah menelaah pemikiran salafiyah.

  1. SEJARAH PERKEMBANGAN ALIRAN SALAFIYAH

Pada awalnya ilmu kalam lahir banyak persoalan yang timbul dikalangan masyarakat, karena itulah muncul berbagai pendapat dan pemikiran, sehingga terbentuk aliran-aliaran pemikiran para ulama. termasuk aliran teologi yang untuk menyelesaikan masalah-masalah kalam tersebut.

Salafiyah merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.

Aliran Salaf merupakan aliran yang mempertahankan prinsip dan sikap para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in dalam memahami ajaran agama. Hal tersebut terlihat pada pokok-pokok pikirannya, baik dalam bidang aqidah, muamalat, maupun ilmu pengetahuan. Aliran ini kemudian dikembangkan oleh dua orang tokoh, yaitu Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Keduanya adalah murid dan guru, sehingga banyak kesamaan, khususnya terkait dengan masalah aqidah.

Bedanya terletak pada ruang lingkup bid’ah dan cara yang ditempuh dalam menyebarkan paham Salafiyah. Ibnu Taimiyah melalui dakwah dan tulisan, sementara Muhammad bin Abdul Wahab bekerjasama dengan pemerintah setempat. Maka dari itu, bahasan utama dalam materi ini adalah kedua tokoh tersebut, namun sebelumnya di uraikan sejarah aliran Salafiyah dan Wahabiyah serta pokok-pokok pikirannya secara umum.

Salafi juga ada yang menjelaskan bahwa maknanya adalah sebutan untuk Nabi dan golongan Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Sunnah Nabi. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT.

“Orang-orang yang terdahulu (Muhajirin dan Anshar yang pertama) dan mereka mengikuti orang-orang itu dalam segala kebaikannya, semua diridhai Allah dan mereka pun ridha kepada Allah, yang menyediakan bagi orang-orang itu surga, dengan sungai-sungai yang mengalir simpang siur, semua mereka akan abadi menempatinya. Itulah suatu kejayaan yang besar”.[4]

Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah yang hidup 300 tahun sejak masa Nabi, Sahabat dan Tabi’in. Hal ini disebabkan pada hadis Nabi :

 

خير القرون قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم

 

Artinya: “Sebaik-baik kamu adalah kurunku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya lagi”[5]

Tiga masa tersebut adalah masa sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Sedang penentuan seratus tahun sama dengan satu kurun (masa) didasarkan pada cerita bahwa Rasulullah pernah berkata : “Moga-moga hiduplah engkau selama satu kurun, (sambil mengusap kepala seorang anak)”. Ternyata dalam penyelidikan, anak tersebut hidup seratus tahun.

Pafa salafiyyin juga menggunakan hadits Rasulullah: ” Bahwa ummatku akan terpecah sebanyak 73 aliran. Dan yang selamat cuma satu yaitu aliran dimana Aku dan sahabatku ada disitu. Penjelasan ini juga mengidentifikasikan bahwa yang selamat kelak adalah orang orang yang menjalankan manhaj Rasulullah dan sahabatnya.[6]Meskipun demikian, tidak ada catatan sejarah yang menunjukkan secara pasti kapan istilah Salaf digunakan. Akan tetapi, istilah tersebut di hubungkan dengan golongan ulama yang ingin menghidupkan kembali sifat-sifat Nabi dan sahabat-sahabatnya serta mengamalkannya dengan harapan kejayaan dan kemurnian Islam kembali. Usaha tersebut terjadi abad ke IV H, yaitu masa Hanabilah. Pada masa ini kemajuan berpikir berkembang dangan pesat ditandai dengan munculnya berbagai aliran dan paham.

Kelompok Hanabilah terkadang bertentangan dengan kelompok lain seperti Asy’ariyah dan menamakan dirinya orang yang mewakili ulama salaf karena memperdulikan dirinya dengan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Pada abad ke VII H, aliran salaf tersebut mendapat kekuatan baru dengan munculnya Ibnu Taimiyah di Syiria pada abad ke XII H, dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabia.

 

B.POKOK-POKOK PIKIRAN ALIRAN SALAFY

  1. Masalah Aqidah

Aliran Salaf mengakui keesaan Tuhan. Dalam kajian tauhid mereka berusaha untuk mensucikan Tuhan dari segala sesuatu yang menyerupaiNya tanpa menhilangkan sifat-sifat yang dimilikiNya. Mereka menggunakan pendekatan nadzri dan dirayah.[7]Mereka lebih tahu dan faham tentang ushul agama.[8] Sedangkan Baijuri menanggapi Aqidah Salaf dengan mengatakan: Metodologi Khlaf lebih mengetahui. Namun Salaf lebih selamat.[9]

Bagi salafiyyin Tuhan tetap mempunyai beberapa sifat dan Nama tanpa mempermasalahkan lebih jauh. Begitu pula tentang keyakinan sepenuhnya terhadap kerasulan Muhammad saw dan syafa’atnya bagi orang-orang yang beriman dikemudian hari. Selanjutnya mereka juga meyakini adanya hari kebangkitan sebagaimana yang diberitahukan oleh Al Qur’an dan hadis-hadis Nabi tanpa mempertanyakan lebih jauh. Begitu pula terhadap rukun Iman yang lain, mereka yakini sepenuhnya.

  1. Masalah Muamalat

Hukum mengenai masyarakat yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw. berdasarkan pada : Al Qur’an dan Sunnah mewajibkan permusyawaratan dalam menetapkan hukum. Al Qur’an memerintahkan berbuat adil, kebajikan, menciptakan rasa persamaan dan persaudaraan dengan memperhatikan prikemanusiaan. Al Qur’an dan Sunnah mencegah peperangan yang bersifat permusuhan antara satu golongan dengan yang lain.  Al Qur’an dan Sunnah berusaha memperbaiki nasib kaum wanita dan orang-orang yang miskin. Al Qur’an dan Sunnah sudah menjelaskan perbedaan hak dalam masyarakat.Adapun praktek dasar tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat-sahabat dan tabi’in serta tabi’ tabi’in, dan dapat disesuaikan dengan perkembangan masyarakat tanpa menyalahi prinsip tersebut di atas.

  1. Masalah Ilmu

Orang-orang Salaf hanya mempelajari dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat.  Mereka menjauhkan diri dari ilmu pengetahuan yang memberi mudharat yang tidak ada sumbernya dari Al Qur’an dan Sunnah. Mereka hanya menunjukkan ilmu yang bersumber dari al Qur’an dan Hadis.  Mereka menghindari tentang hal mempersoalkan masalah qadar. Oleh karena itu, menurut mereka hanya ada tiga macam ilmu yaitu: Al Qur’an, hadis dan apa yang telah disepakati oleh orang-orang Islam.

 

  1. TOKOH TOKOH SALAFI
  2. Ibn Taimiyah

Nama lengkapnya Taqiyuddin Abu Abbas bin Syaikh Sahabuddin Abul Mahasin bin Abdul Halim Abul Barakat Abdussalam bin Abu Muhammad bin Abdullah bin Abil Qasim Al Hadarybin Ali bin Abdillah. Dan keluarga ini dikenal dengan Ibn Taimiyah.[10]Lahir pada tahun 661 H di Harran, sebuah kota di Iraq. Tampilnya Ibnu Taimiyah pada abad VII H merupakan kekuatan baru bagi aliran Salafiyah, karena selain menghidupkan prinsip pemikiran Salafiyah, juga mengembangkan ajaran-ajaran khususnya dalam hal keyakinan atau aqidah.

Munculnya ibnu Taimiyah itu pada masa akhir abad ke tujuh dan di awal abad ke delapan hijriah. Para orang orang terbagi dua dalam menilai Ibn Taimiyah. Bahkan sampai sekrang penilaian itu terus berkelanjutan. Satu menilai dan menganggap Ibn Taimiyah adalah seorang alim ulama yang sangat besar. Fakih. Dan tempat dikembalikannya semua fatwa-fatwa. Bahkan disetarakan dengan ulama ulama besar dalam kajian fiqhi seperti Imam Syfii. Ahmad Bin Hambal dan imam Malik.[11] Sebahagian yang lain menganggap Ibn Taimiyah belum sampai mencapai deraja Mujtahid.

 

Sistem pemikiran Ibn Taimiyah

Kita telah mengetahui bahwa aliran Mu’tazilah dalam memahami aqidah-aqidah Islam menggunakan metode filsafat dan banyak pula yang mengambil pikiran-pikiran filsafat, meskipun sikap itu timbul karena keinginan hendak mempertahankan Islam dari serangan-serangan lawannya yang bersifat pula. Aliran-aliran yang datang kemudian, yaitu aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah, juga tidak terhindar dari metode tersebut, meskipun tidak sama tingkatan pemakaiannya.

Ibnu Taimiyah membagi metode ulama-ulama Islam dalam lapangan aqidah menjadi empat :

  1. a) Aliran filsafat yang mengatakan bahwa al Qur’an berisi dalil “khatabi dan iqna’i” (dalil penenang dan pemuas hati, bukan pemuas pikiran) yag sesuai untuk orang banyak, sedang filosof-filosof menganggap dirinya ahli pembuktian rasionil (burhan) dan keyakinan suatu cara yang lazim dipakai dalam lapangan aqidah.
  2. b) Aliran Mu’tazilah terlebih dahulu memegangi dalil akal yang rasionil, sebelum mempelajari dalil-dalil al Qur’an. Mereka memang mengambil kedua macam dalil tersebut, akan tetapi mereka lebih mengutamakan dalil-dalil akal pikiran, sehingga mereka harus menakwilkan dalil-dalil Qur’an untuk disesuaikan dengan hasil pemikiran, apabila terjadi perlawanan, meskipun mereka tidak keluar dari aqidah-aqidah Qur’an.
  3. c) Golongan ulama yang percaya kepada aqidah-aqidah dan dalil-dalil yang disebutkan oleh Qur’an sebagai suatu berita yang harus dipercayai, tetapi tidak dijadikan pangkal penyelidikan akal pikiran. Boleh jadi yang dimaksud ialah bahwa pangkal penyelidikan akal oleh golongan tersebut bukan dari Qur’an, meskipun untuk maksud memperkuat isi Qur’an, dan boleh jadi pula yang dimaksud dengan golongan ini ialah aliran Maturidiyah
  4. d) Golongan yang mempercayai aqidah dan dalil-dalilnya yang disebut dalam Qur’an, tetapi mereka juga menggunakan dalil akal pikiran di samping dalil-dalil Qur’an. Boleh jadi yang dimaksud Ibnu Taimiyah disini ialah aliran Asy’ariyah.

Menurut ibnu Taimiyah, metode aliran Salaf berbeda sama sekali dengan metode keempat-empat golongan tersebut. Aliran salaf hanya percaya kepada aqidah-aqidah dan dalil-dalil yang ditunjukkan oleh nash, karena nash tersebut adalah wahyu yang diturunkan oleh Tuhan kepada Nabi Muhammad saw. Aliran salaf tidak percaya kepada metode logika rasionil yang asing bagi Islam, karena metode ini tidak terdapat pada masa sahabat dan tabi’in. Jadi, jalur untuk mengetahui aqidah-aqidah dan hukum-hukum dalam Islam dan segala sesuatu yang bertalian dengan itu, baik yang pokok ataupun bukan, baik aqidah itu sendiri, maupun dalil-dalil pembuktiannya, tidak lain sumbernya ialah Qur’an dan hadis Nabi sebagai penjelasnya.

Menurut Ibn Taimiyah, apa yang telah ditetapkan oleh Qur’an dan di jelaskan oleh Sunnah Nabi harus diterima dan tidak boleh ditolak. Akal pikiran tidak mempunyai kekuasaan untuk menakwilkan Qur’an atau menafsirkannya ataupun menguraikannya, kecuali dalam batas-batas yang di izinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan pula hadis-hadis. Kekuasaan akal pikiran sesudah itu tidak lain hanya membenarkan dan tunduk kepada nash, serta mendekatkannya kepada alam pikiran. Jadi fungsi akal pikiran tidak lain hanya menjadi saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil Qur’an, bukan menjadi hakim yang akal mengadili dan menolaknya. Demikianlah metode aliran Salaf yang meletakkan akal pikiran di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri.

Sikap tersebut bukan sikap apatis, skeptis dan pesimis, melainkan suatu kesadaran dan pengakuan akan adanya batas-batas kemampuan daya kerja akal manusia dan lapangannya dalam bidang metafisika dan alam gaib, yang apabila dilampauinya maka ia akan sesat.Pendapat ahli pikir barat yang datang beberapa ratus tahun kemudian ternyata sejalan dengan robot, misalnya menyangsikan kekuatan otak manusia dengan mengatakan sebagai berikut :

Apakah ilmu metafisika akan berhasil mencapai tujuannya? Ataukah akan tetap hina dina dan meminta-minta di hadapan arena besar kekuatan misterius yang tidak dapat diketahui, meskipun dengan rasa hina diri, kecuali dengan meraba-raba. Ataukah ilmu itu akan tetap bergumul dengan kesulitan-kesulitan yang merintanginya dalam usahanya untuk membuka (memecahkan) dilemma yang banyak sekali dari alam semesta ini. Apakah akal manusia dapat memecahkan dilemma-dilemma itu dengan memuaskan? Ataukah akan ternyata bahwa pembahasan dilemma-dilemma itu adalah suatu perbuatan yang mustahil dan tidak berguna?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dihadapi oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Ilmu metafisika dan ilmu kesusasteraan dapat berjumpa, bahkan berpadu. Bukankah seorang ahli metafisika sebenarnya adalah seorang yang hidup bukan disarangnya sendiri, karena ia mencari sesuatu yang terletak di atas alam nyata. Jadi ia menjadi penyair (yang selalu menghayal). Menurut Voltaira, ilmu metafisika merupakan taman pengembangan akal pikiran. Ilmu metafisika lebih lezat (menarik) daripada ilmu Teknik, karena di dalam metafisika kita tidak menjumpai kesulitan menghitung dan mengukur, melainkan melihat impian indah.

 

Ajaran-ajaran Ibn Taimiyah

Adapun ajaran yang ditanamkan oleh Ibnu Taimiyah adalah terkait dengan masalah aqidah, yakni:

  1. Keesaan Zat dan Sifat

Semua kaum muslimin sepakat pendapatnya tentang Keesaan  Tuhan, tidak ada yang menyerupaiNya. Akan tetapi menurut Ibn Taimiyah, konotasi (kandungan) perkataan ‘Keesaan’ (tauhid) dan perkataan-perkataan lainnya yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, yaitu ‘penyucian’ (tanzih), ‘penyerupaan’ (tasybih), dan ‘penjisiman’ (tajsim anthropomorph) dapat berbeda-beda menurut perbedaan orang yang memakainya, sebab tiap-tiap golongan mengartikannya dengan arti yang berlainan.

Arti ‘pengesaan’ dan ‘penyucian’ bagi aliran Mu’tazilah ialah meniadakan semua sifat-sifat dan arti ‘penyerupaan’ dan ‘penjisiman’ ialah menetapkan sebagian sifat-sifat itu, sehingga  orang yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat Kalam, dianggap telah menjisimkan Tuhan.Golongan lain mengartikan ‘pengesaan’ dan ‘penyucian’ dengan meniadakan semua atau sebagian sifat-sifat khabariah (yang diberitakan oleh Tuhan atau bukan Zat sifat-sifat ma’ani) seperti memberi rizqi, marah, kasih sayang dan sebagainya, sedang arti ‘penyerupaan’ dan ‘penjisiman’ ialah menetapkan semua atau sebagian sifat-sifat itu.

‘Pengesaan’ menurut golongan filosof, sama dengan yang diartikan oleh aliran Mu’tazilah, bahkan lebih lagi, karena mereka mengatakan, bahwa yang ada pada Tuhan hanya sifat-sifat salabi (negatif) atau ifadhah (seperti Rabbul Alamin) atau yang tersusun dari keduanya (seperti mukhalifah lil hawaditsi – berbeda dengan semua yang baru.

Perbedaan ulama tentang konotasi (kandungan arti) perkataan-perkataan tersebut seharusnya tidak boleh menjadi alasan untuk menuduh orang lain telah kafir, sebab perbedaan tersebut timbul karena perbedaan tinjauan, bukan perbedaan dalam arti yang sebenarnya. Aliran Salaf tidak pernah mengkafirkan lawan-lawannya, melainkan hanya memandang mereka telah sesat, seperti golongan filosof, aliran Mu’tazilah dan golongan Tasawuf  yang mempercayai persatuan diri dengan Tuhan (ittihad) atau peleburan diri pada ZatNya (fana’).

Bagaimanakah pendirian yang tidak mengandung kesesatan? Tidak lain hanyalah pendirian aliran Salaf, menurut pengakuan mereka sendiri. Aliran Salaf menetapkan sifat-sifat, nama-nama perbuatan-perbuatan dan keadaan (ahwal) yang termuat dalam Qur’an dan hadis-hadis, seperti :al Hayyu, al Qayyum, al Shamad, al ‘Alim, al Hakim, al Sami’, al Bashir, al Qadir, al Ghafur, al Rahim, Dzul ‘Arsyil Majid, Marah dan Suka (baca QS. al Maidah; 80, 119 dan QS. al Nisa; 93), Tuhan turun kepada manusia dalam gumpalan awan (baca QS. al Baqarah; 210) Bertempat di langit (baca QS. Fusshilat; 11), mempunyai muka (baca QS. al Baqarah; 115), dan mempunyai tangan (QS. Ali Imran; 73) berada di atas, di bawah dan sebagainya.

Sifat-sifat tersebut dipercaya oleh aliran Salaf dengan memegangi arti letterleknya, meskipun dengan perngertian bahwa sifat-sifat tersebut tidak sama dengan sifat-sifat makhluk.Jadi, tangan Tuhan tidak sama dengan tangan manusia, dan begitu seterusnya, karena Tuhan suci dari yang semacam itu. Dengan perkataan lain, ‘aqidah aliran Salaf terletak di antara ta’thil (peniadaan sifat) sama sekali dan tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhlukNya).

Penafsiran bukan inderawi terhadap sifat-sifat Tuhan yang sesuai dengan keagungan Tuhan tidak akan merugikan agama, dan lebih baik daripada penafsiran inderawi. Jadi ‘tangan’ ditafsirkan dengan kekuatan atau nikmat, ‘turun dari langit’ ditafsirkan dengan ‘dekat Tuhan kepada hambaNya’. Dari segi bahasa tafsiran-tafsiran itu masih dimungkinkan dan kata-kata itu sendiri masih bisa menerima pengertian-pengertian tersebut. Penakwilan tersebut juga dikerjakan oleh ulama Kalam lainnya seperti al Ghazali dalam bukunya ‘Iljamul Awwam’.

Keesaan Penciptaan

Dasar  Keesaan Penciptaan  ialah bahwa Tuhan menjadikan langit dan bumi, apa yang ada di dalamnya atau yang terletak di antara keduanya, tanpa sekutu dalam menciptakannya, dan tidak ada pula yang mempersengketakan kekuasaanNya, tidak ada kemauan makhluk yang mempersengketakan kemauan Tuhan, atau bersama-sama dengan Dia dalam menciptakan segala sesuatu, bahkan segala sesuatu dan semua pekerjaan datang dari Tuhan, dan kepadaNya pula kembali.Kelanjutan dari kepercayaan tersebut ialah persoalan ‘ Jabar dan Ikhtiar ’ dan ‘apakah perbuatan Tuhan terjadi karena untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu atau tidak’.[12]

Keesaan ibadah

‘Keesaan ibadah’ artinya seseorang manusia tidak mengarahkan ibadahnya selain kepada Tuhan, dan hal ini baru terwujud apabila dua hal berikut dipenuhi :Pertama, Hanya menyembah Tuhan semata-mata dan tidak mengetahui Ketuhanan selain bagi Allah, siapa yang mengikutsertakan seseorang makhluk untuk disembah bersama Tuhan, berarti ialah telah syirik. Siapa yang mempersamakan al Khalik dengan makhluk dalam sesuatu macam ibadah, berarti ia mengangkat Tuhan selain Allah, meskipun ia mempercayai keesaan Tuhan al Khalik.Kedua,Kita menyembah Tuhan dengan cara yang telah ditentukan (disyaratkan) oleh Tuhan melalui rasul-rasulNya. Baik ibadah yang wajib, atau sunah maupun mubah, harus dimaksudkan untuk ketaatan dan pernyataan syukur semata-mata kepada Tuhan. Hingga Ibn Taimiyah melarangan mengangkat manusia, hidup atau mati, sebagai perantara kepada Tuhan.

Ibnu Taimiyah mengakui ada manusia yang mempunyai keramat atau keluarbiasaan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa ia dapat terhindar dari kesalahan, melainkan ia tetap menjadi hamba Tuhan yang terkena perintah-perintahNya. Keramat bukanlah merupakan sifat yang terbaik, sebab istiqamah (keteguhan beribadat/kelurusan hidup) masih lebih baik daripada keramat. Oleh karena itu, orang-orang saleh minta kepada Tuhan untuk diberi istiqamah, bukan keramat. Akan tetapi dengan adanya keramat, seseorang saleh yang mempunyainya tidak boleh dijadikan perantara kepada Allah. Tuhan sendiri melarang nabi Muhammad untuk minta ampun kepada Tuhan bagi orang-orang musyrikin, meskipun mereka termasuk keluarganya sendiri (QS. Al Taubah ; 113).

Kalau manusia yang hidup tidak bisa dijadikan perantara, maka demikian pula halnya dengan orang yang telah mati. Dan berbagai larangan-larangan lainnya seperti meminta pertolongan (istighatsah) kepada selain Allah juga tidak boleh, sebab yang berhak dimintai pertolongan hanya Zat yang sanggup mengadakan perubahan dan hal ini hanya dimiliki oleh Tuhan semata-mata “Permintaan tolong seseorang makhluk kepada makhluk yang lain bagaikan permintaan tolong dari orang yang mau tenggelam kepada orang yang tenggelam pula”. Melarangan memberikan nazar kepada kuburan atau penghuni kuburan atau penjaga kuburan. Larangan ziarah ke kubur-kubur orang saleh dan nabi-nabi.

Kelanjutan yang logis dari kedua hal tersebut di atas ialah larangan ziarah kubur orang-orang saleh dengan maksud minta berkah atau mendekatkan diri kepada Allah. Sedang kalau untuk maksud mencari suri tauladan dan nasehat (al ‘izhah wa al I’tibar), maka dibolehkan, bahkan dianjurkan. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ziarah ke kubur Nabi untuk minta berkah juga tidak boleh karena :Pertama, Nabi melarang kuburnya dijadikan masjid, supaya jangan menjadi tempat ziarah orang. Karena itu kuburnya terletak di rumah isterinya, yaitu Siti Aisyah. Nabi sendiri pernah berkata ketika hendak meninggal dunia : “Tuhan mengutuki orang-orang Yahudi dan Masehi, karena menjadikan kubur nabi-nabinya sebagai masjid”. Dan kedua, sepeninggal Nabi, sahabat-sahabatnya apabila hendak memberi salam dan berdoa, mereka menghadap kiblat. Juga apabila mereka hendak bepergian atau datang dari bepergian, mereka hanya mengarahkan diri ke kubur Nabi.

 

  1. Muhammad bin Abdul Wahab

Riwayat hidup Muhammad bin Abdul Wahab

Muhammad Ibn Abdul-Wahhab (111-1206H/1703-1787M).[13] Laki-laki ini lahir di Najd, di sebuah dusun kecil Uyayna. Ibn Abdul-Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik, dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak.[14] Sebelum menjadi seorang mubaligh, Ibn Abdul-Wahhab secara ekstensif mengadakan perjalanan untuk keperluan bisnis, pelesiran, dan memperdalam agama ke Hijaz, Mesir, Siria, Irak, Iran, dan India.

Salah satu tempat belajarnya ialah kota Madinah, pada Sulaiman al Kurdi dan Muhammad al Khayyat al Sindi. Ia banyak mengadakan perlawatan, dan sebagian hidupnya digunakan untuk berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain. Empat tahun di Basrah, lima tahun di Baghdad, satu tahun di Kurdistan, dua tahun di Hamazan, kemudian pergi ke Isfahan. Kemudian lagi perqi ke Qumm dan Kairo, sebagai penganjur aliran Ahmad bin Hanbal. Akan tetapi ajarannya dikenal sebagai aliran Wahabiyah.

Setelah beberapa tahun mengadakan perlawatan, ia kemudian pulang ke negeri kelahirannya, dan selama beberapa bulan ia merenung dan mengadakan orientasi, untuk kemudian mengajarkan paham-pahamnya, seperti yang dicantumkan dalam bukunya “al Tauhid” (tebalnya 88 halaman, cetakan Makkah). Meskipun tidak sedikit orang yang menentangnya, antara lain dari kalangan keluarganya sendiri, namun ia mendapat pengikut yang banyak, bahkan banyak di antaranya yang di luar ‘Ujainah.

Karena ajaran-ajarannya telah menimbulkan keributan-keributan di negerinya, ia diusir oleh penguasa setempat, kemudian ia bersama keluarganya pindah ke Dar’iah, sebuah dusun tempat tinggal Muhammad bin Sa’ud (nenek raja Faisal yang berkuasa sekarang) yang telah memeluk ajaran-ajaran Wahabiyah, bahkan menjadi pelindung dan penyiarnya.

 

Ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahab

Masalah Tauhid

Beberapa faham ajaran Wahabiyah yang berkaitan dengan Tauhid dan pengesaan Allah SWT adalah sebagai beriku:

  1. Penyembahan kepada selainTuhan adalah salah, dan siapa yang berbuat demikian ia dibunuh.
  2. Orang yang mencari ampunan Tuhan dengan mengunjungi kuburan orang-orang saleh, termasuk golongan musyrikin.
  3. Termasuk dalam perbuatan musyrik memberikan pengantar kata dalam shalat terhadap nama Nabi-nabi atau wali atau malaikat (seperti sayyidina Muhammad).
  4. Termasuk kufur memberikan suatu ilmu yang tidak didasarkan atas Qur’an dan Sunnah, atau ilmu yang bersumber kepada akal pikiran semata-mata.
  5. Termasuk kufur dan Ilhad juga mengingkari ‘qadar’ dalam semua perbuatan dan penafsiran Qur’an dengan jalan takwil.
  6. Dilarang memakai buah tasbih dan dalam mengucapkan nama Tuhan dan doa-doa (wirid) cukup dengan menghitung keratan jari.
  7. Sumber syari’at Islam dalam soal halal haram hanya Qur’an semata-mata dan sumber lain sesudahnya ialah Sunnah Rasul. Perkataan ulama mutakallimin dan fuqaha tentang haram dan halal tidak menjadi pegangan, selama tidak didasarkan atas kedua sumber tersebut.
  8. Pintu Ijtihad tetap terbuka dan siapapun juga boleh melakukan ijtihad asal sudah memenuhi syarat-syaratnya.

 

Masalah Bid’ah

Bidah merupakan masalah yang serius dibahas oleh salafiyyin. Mereka  mendefenisikan bidah adalah setiap adat yang baru yang tidak pernah ada pada zaman rasul dan era sahabat.[15] dan itu merupakan kesesatan yang wajib di hilangkan.[16]Hal-hal yang dipandang bid’ah oleh mereka dan harus diberantas, ialah antara lain: Berkumpul bersama-sama dalam acara maulid, orang wanita mengiringi jenazah, mengadakan halakah (pertemuan) zikir, bahkan mereka merampas buku-buku yang berisi tawashullat, padahal tawassul jelas ada haditsnya.[17] Dan sebagainya. Mereka tidak cukup sampai di situ, bahkan kebiasaan sehari-hari juga dikatagorikan dalam bid’ah, seperti : rokok, minum kopi, memakai pakaian sutera bagi lelaki, begambar (foto), mencelup (memacari) jenggot, memakai cincin dan lain-lainnya yang termasuk dalam soal-soal yang kecil dan yang tidak mengandung atau mendatangkan paham keberhalaan.

 

Cara Penyiaran Aqidah Wahabiyah

Kalau Ibnu Taimiyah, sebagai pembangun aliran Salaf, mananamkan paham-pahamnya dengan cara menulis buku-buku dan mengadakan pertukaran pikiran serta perdebatan, maka aliran Wahabiyah dalam menyiarkan ajaran-ajarannya memakai kekerasan dan memandang orang yang tidak mengikuti ajaran-ajarannya sebagai orang bid’ah yang harus diperangi sesuai dengan prinsip ‘amar ma’ruf nahi munkar’.

Untuk melaksanakan maksud ini Muhammad Abdul Wahab sendiri bekerja sama dengan pangeran Muhammad bin Saud (wafat 1765 M dan menggantikan ayahnya pada tahun 1724 M), penguasa di Dar’iah pada waktu itu, yang telah memeluk ajaran-ajarannya dan yang juga mengawini anaknya. Sejak saat itu, kekuatan senjatalah yang dipakai oleh aliran Wahabiyah dalam menyiarkan ajaran-ajarannya. Setelah kedua tokoh tersebut, yaitu tokoh agama dan tokoh politik serta pemerintahan, meninggal dunia, keturunan-keturunannya meneruskan sikap dan kerjasama yang telah dirintis oleh keduanya itu, sehingga aliran Wahabiyah dapat merata di seluruh negeri Saudi Arabia. Muhammad bin Saud menyatakan bahwa tindakannya tersebut dimaksudkan untuk menegakkan Sunnah dan mematikan bid’ah.

Muhammad bin Abdul Wahab merasakan sendiri bahwa khurafat-khurafat yang menimpa kaum muslimin di negerinya, bukan hanya terbatas pada pemuja kuburan-kuburan sebagai tempat orang-orang saleh, dan memberikan nazar karenanya, tetapi juga menjalar kepada pemujaan benda-benda mati. Sebagian anak negeri tempat kelahirannya, yaitu Yamamah atau Riyadh sekarang, memuja pohon kurma karena dianggap oleh mereka dapat memberikan jodoh. Juga tidak sedikit dari penduduk kota Dar’iah, tempat ia mulai melancarkan dakwahnya, senang mengunjungi sebuah goa yang terletak di sana. Perbuatan tersebut dipandang syirik. Karena itu ia menyerukan untuk tidak menziarahi kuburan, kecuali untuk mencari tauladan, bukan untuk mencari syafaat dan tawasshulat.

Tindakan kekerasan yang pertama-tama dilakukannya ialah memotong pohon kurma yang dianggap keramat, kemudian setiap kali golongan Wahabiyah memasuki suatu tempat atau kota, mereka membongkar kuburan dan diratakan dengan tanah, bahkan masjid-masjid pun turut dibongkar, sehingga penulis-penulis Eropa menyebutkan mereka sebagai ‘pembongkar tempat-tempat ibadah’ (huddamul ma’abid). Sebutan ini menurut Syekh Abu Zahrah, tidak tepat, karena bukan masjid itu sendiri yang dirusak, melainkan masjid-masjid yang didirikan di atasnya/di samping kuburan, suatu tindakan yang didasarkan atas penginkaran Nabi terhadap perbuatan Bani Israil yang membuat kuburan Nabi-nabiNya sebagai tempat ibadah.

Tindakan mereka tidak hanya terbatas kepada pembongkaran kuburan wali-wali atau orang-orang saleh biasa, tetapi lebih jauh lagi. Ketika mereka dapat menguasai Makkah, banyak tempat-tempat yang bersejarah dimusnahkan, seperti tempat kelahiran Nabi Muhammad saw, Abu Bakar ra, Ali bin Abi Thalib ra. Ketika mereka sampai di Madinah, kuburan sahabat-sahabat Nabi di Baqi’ diratakan dengan tanah dan cukup diberi tanda-tanda. Kubur Nabi Muhammad saw. sendiri hampir mengalami nasib yang sama, kalau sekiranya mereka tidak takut akan kemarahan dunia Islam. Terhadap kubur Nabi Muhammad saw. mereka cukup menghilangkan hiasan-hiasan yang ada pada padanya dan melarang penggantian selubung yang baru.

Muhammad bin Abdul Wahab sebagai nadi utama dalam membangun gerakan Wahabiyah amat terpengaruh dengan pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim Al Jauzy. Bahkan bisa dikata begitu fanatik dengan pendapat Ibn Taimiyah.[18] Sehinggakan kemunculannya dikatakan hanya menghidupkan mazhab Ibn Taimiyah. Meski tidak bertaqlid sepenuhnya dalam keseluruhan masalah.[19]

Wahabiyah yang bercorak agama ini dan yang bertulang punggungkan kekuatan raja Muhammad bin Saud, dipandang oleh penguasa khalifah Usmaniah yang menguasai negeri Arabia pada waktu itu, sebagai perlawanan dan pemberontakan terhadap kekuasaannya. Oleh karena itu, penguasa tersebut mengirimkan tentaranya ke negeri Arabia untuk menumpas gerakan tersebut. Namun, maksud ini tidak berhasil, kemudian diserahkan penumpasannya kepada Muhammad Ali, Gubernur Turki di Mesir, dan ternyata tentaranya yang kuat dapat mengalahkan golongan Wahabiyah serta dapat melumpuhkan kekuatannya. Sesudah itu gerakan Wahabiyah terbatas di pedalaman suku-suku Arab dengan kota Riyadh sebagai pusatnya, yang kadang-kadang menunjukkan kegiatannya kalau ada kesempatan dan kadang-kadang menurun kalau mendapat perlawanan yang keras. Dengan kemunduran khilafat Turki, maka gerakan tersebut menjadi kuat, sehingga  menjadi aliran resmi negeri Saudi Arabia sampai sekarang ini.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Aliran Salaf merupakan orang-orang Hanabilah yang muncul pada abad ke IV H. dengan memperdulikan dirinya dengan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang dipandang oleh mereka telah menghidupkan dan mempertahankan kelompok sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, dalam aqidah, muamalat dan ilmu pengetahuan. Kemudian di abad VII H dikembang oleh Ibnu Taimiyah di Syiria, sedang di abad XII dikembang oleh  Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabia.

Pada dasarnya kedua tokoh tersebut memiliki persamaan dalam hal aqidah, kecuali dalam cara menyebarkan luaskan ajarannya. Muhammad bin Abdul Wahab menyebarkannya dengan cara kekerasan, sementara Ibnu Taimiyah dengan dakwah dan tulisan. Begitu pula dalam hal ruang lingkup bid’ah, Muhammad bin Abdul Wahab lebih luas karena segala perilaku dalam kehidupan yang tak sama dengan masa Rasulullah dianggap bid’ah  seperti merokok dan lain-lain.

Antara pengertian salaf untuk Ibn Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab pun selaras. Yakni menjadikan priode awal dari agama Islam sebagai tolak ukur atas semua inti ajaran Islam serta menolak semua hal yang tidak pernah ada pada zaman shalafuna shaleh. Upaya untuk kembali kepada orientasi ajaran pada zaman ke emasan Islam terus di gencarkan. Meski terkadang menggunakan cara yang radikal dan berlebihan dalam dakwahnya. Bahkan sampai pada pengkafiran.

Banyak perbedaan mendasar tentang apa yang di jalankan Rasul sendiri pada masa awal ke Islaman dengan apa yang ingin disampaikan oleh Salafiyah dan Wahabiyah. Mereka terlaku terperangkap dalam konteks nash dan tidak bisa memberikan ruang kepada interpretasi yang lain untuk sebuah nash. Padahal ketika kita kaji lebih jauh tentang nash tersebut dhahir yang dimaksud bukanlah esensi yang di inginkan oleh Rasulullah sendiri. Perlu pembelajaran mendalam tentang study asbab wurud dan penyesuaian dengan konteks kekinian untuk para salafiyyin masa sekarang.

Yang paling krusial dalam tatanan pemikiran wahabi dan salafi menurut kami adalah soal takfir. Pengkafiran sendiri tidak bisa kami benarkan. Karena permasalahan takfir seseorang bukanlah wewenang kita sebagai manusia, kecuali jika dia memang sudah jelas keluar dari ushuluddin. Namun jika masih menyangkut furu. Maka tidak ada wewenang bagi siapa pun untuk menghakimi seseorang menjadi Kafi. Yang menandakan dia keluar dari agama Islam.

Bagaimanapun segenap orang Islam pada akhirnya dituntut untuk terus belajar dan mengaplikasikan inti ajaran Islam yang tidak hanya terfojus pada masalah ibadah saja. Tapi perlu di implementasikan juga dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Bertoleransi dan mampu menanamkan nilai nailai luhur Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita menjadi orang yang selalu diberi hidayah untuk mampu menjadi orang yang faham islam secara ilmu dan amaly. Wallahu A’lam Bissawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

Al Quran dan Terjemah, Departemen Agama, Jakarta: Sygma:2009.

Abdul Karim, Muhammad, 2005, al-Milal wa an-Nihal,Beirut: Dar al-Fikr.

Abu Zahrah, Muhammad: Ibn Taimiyah Hayatuhu Wa Ashruhu, Kairo: Dar Al Fikri Araby.

Abu Zahra, Muhammad Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah Hal.210.

Alexei Vassiliev, Ta’reekh Al-Arabiya Al-Saudiya [History of Saudi Arabia], yang diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi al-Dhamin dan     Jalal al-Maashta Moscow: Dar Attagaddom, 1986.

Ibn Hajar Al Asqalani Fathul Bari Ala Syarhil Bukhari, Kairo: Darul Hadits

Ibn Mandur. Lisanul Arab.

Ibrahim Ashash. Salaf Wa Assalafiyyun Ru’yatun Mina Dahili Dar Bayraq.

Imarah, Muhammad. Prof. DR. Salafiyah,Tunisia: Darul Maarif.

Maktabah As Syamelah.

Mas’ud al-Nadwi. Muhamamd bin Abd Wahab, Kairo: Zamzamm: 1997.

Sulaiman Al Gafily, Abdullah, DR. Ibn Rajab Al Hambaly Fi Taudihi Aqidati Salaf, Saudi: Dar Al Musayyar.

Syaikh Al Baijury. Tukhfatul Murid Ala Jauhari Tauhid, Kairo: Darussalam.

Shaib Abdul Hamid, Wahabiyah Fi Suratiha Al Haqiqiyah, Lubnan: Beirut,1995.

Sayyid Ramadhan Al Buty. Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah

Umar dan Abdul Munim Salim. Ta’liqati Saniyah Sarhi Usuli Da’wati Salafiyah Taanta: Dar Diyai.

[1] Ibn Mandur. Lisanul Arab ( Maktabah Syamilah).

[2] Prof. DR. Muhammad Imarah. Salafiyah (Tunisia:Darul Maarif),Hal.7.

[3] Ibrahim Ashash. Salaf Wa Assalafiyyun Ru’yatun Mina Dahili (Dar Bayraq) Hal.15.

[4] QS. Al Taubah: 100

[5] Ibn Hajar Al Asqalani Fathul Bari Ala Syarhil Bukhari (Kairo: Darul Hadits) Maktabah As Syamelah.

[6] Umar dan Abdul Munim Salim. Ta’liqati Saniyah Sarhi Usuli Da’wati Salafiyah (Taanta: Dar Diyai), Hal: 17.

[7]Dr. Abdullah bin Sulaiman Al Gafily. Ibn Rajab Al Hambaly Fi Taudihi Aqidati Salaf(Saudi: Dar Al Musayyar),Hal.221.

[8] Ibid.,Hal.221.

[9] Syaikh Al Baijury. Tukhfatul Murid Ala Jauhari Tauhid (Kairo: Darussalam),Hal.34.

[10]Abu Zahrah: Ibn Taimiyah Hayatuhu Wa Ashruhu (Kairo: Dar Al Fikri Araby), Hal.17.

[11]Ibid.,Hal.7.

[12]Muhammad Abdul Karim Syahrastani, 2005, al-Milal wa an-Nihal,(Beirut: Dar al-Fikr).. Hal 69.

 

[13] Shaib Abdul Hamid, Wahabiyah Fi Suratiha Al Haqiqiyah (Lubnan: Beirut,1995), Hlm.13.

[14]Alexei Vassiliev, Ta’reekh Al-Arabiya Al-Saudiya [History of Saudi Arabia], yang diterjemahkan dari bahasa Russia ke bahasa Arab oleh Khairi al-Dhamin dan     Jalal al-Maashta (Moscow: Dar Attagaddom, 1986), Hlm. 108.

[15]Sayyid Ramadhan Al Buty. Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah () Hal., 147.

[16] Ibid., Hal.147.

[17] Ibid., Hal. 148.

[18] Muhammad Abu Zahra. Tarikh al-Mazahib al-Islamiyah Hal.210.

[19]Mas’ud al-Nadwi. Muhamamd bin Abd Wahab, (Kairo: Zamzamm: 1997), Hal. 181

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *