ALIRAN QADARIYAH; Membaca Islam Via Potret Qadariyah

OLEH :Ahmad Fadholi, Lc., M.H.I

 Pendahuluan

Pemikiran-pemikiran filsafat menggoreskan warna terhadap munculnya aliran-aliran teologi Islam, salah satunya adalah aliran Qadariyah.Peristiwa ini berangkat dari pergulatan politik pada masa pemerintahan Bani Umayah.Hiruk pikuk politik yang terjadi pada masa pemerintahan Bani Umayah mengakibatkanterjadinya perdebatan sengit dikancah politik, tetapi peristiwa ini menjadikan suasana dunia perpolitikan menjadi hidup bahkan menjadi sumber kekuatan yang melahirkan pemikiran-pemikiran bernuansa filsafat.Pemikiran filsafat pada masa itu sudah mulaiberkembang dikalangan orang Islam,karena percampuran mereka denganorang-orang Persia, Yunani dan Romania.Masing-masing kalangan menganggap bahwa ilmu filsafat mempunyai peranan yang sangat penting.Di Negara Iraq telah terdapat skolastik-skolastik filsafat, begitu juga di Persia sebelum Islam. Sebagian orang arab ikut belajar di skolastik tersebut seperti: Harist bin Kalidah dan anaknya, An Nadzr.Ketika Islam telah masuk, ternyata dikalangan penduduk wilayah tersebut terdapat orang-orang yang telah mendalami bahkan mengindahkan ilmu-ilmu filsafat, sebagian mereka mengenalkan dasar-dasar ilmu filsafat dikalangan orang Islam, bahkan diwilayah suryan aktifitas tersebut telah nampak.

Beragamnya filsafat yang masuk, melahirkan pembahasan-pembahasan  filsafat seputar aqidah. Sebagian ulama membahas keberadaan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Qur’an, apakah sifat-sifat tersebut bagian dari dzat atau sesuatu yang sama? Apakah kalam merupakan sifat Allah?, Apakah al-Qur’an itu makhluk?,dan seterusnya, sehingga semakin banyak pokok pembahasan yang kemudian menjadi ajang perselisihan dikala itu. Selanjutnya, pembahasan mengarah kepada pembahasan qadar yang membahas seputar “Iradah al Insan” (kehendak manusia), apakah manusia dianggap sebagai pelaku yang memiliki pilihan serta kemampuan terhadap apa yang ia lakukan atau apa yang ia lakukan dianggap seperti bulu yang terhembus angin, tidak memiliki kehendak yang menggerakanya dan mengarah sesuai kemana angin berhembus.Pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran kian bermunculan, sehingga masing-masing dari kelompok ulama memiliki sekumpulan pendapat ilmiah yang kemudian membentuk suatu madzhab keilmuan yang layak untuk pembelajaran dan pembahasan, bahkanterus menarik untuk dijadikan ajang  perbincangan. Dari situ,mulailah aliran-aliran aqidahterbentuk.Adapun perselisihan dikalangan aliran aqidah pada masa itu, bukan pada inti aqidah melainkan berkutat seputar teori jabar dan ikhtiyar, pelaku dosa besar dan hukumnya, eksistensi al-Qur’an merupakan makhluk atau bukan makhluk.[1]

Adapun aliran-aliran aqidah yang muncul pada masa itu, yaitu:Jabariyah dan Mu’tazilah, Murji’ah, Asa’iroh, Maturidiyah dan Hanabilah. Dan disini penulis hanya akan membahas secara spesifik tentang aliranQadariyah.

 

  1. Proses Menjadi Aliran Qadariyah

Pada masa Khulafa al-Rosyidin dan Umayah, para ulama sudah mulai menyelami bahtera qhada’ dan qadar. Disitu terdapat sekelompok ghuluw (berlebih-lebihan) yang menafikan bahwa manusia tidak memiliki kehendak terhadap apa yang ia lakukan, mereka adalah kelompok Jabariyah, juga ada kelompok ghuluw yang mengatakan bahwa pekerjaan manusia adalah kehendaknya sendiri lepas dari kehendak Allah, sebagian dari kelompok-kelompok ituadalah dari kalangan Mu’tazilah.Akhirnya kelompok tersebut memiliki inisiatif untuk lepas dari Madzhab Mu’tazilah, karena bersikeras menafikan takdir Allah dimana mereka menginterpretasikan “al-qadar’ dengan ma’na Ilmu dan Taqdir(bebas menentukan pilihan), dan mencetuskan sebuah statemen “al-Amru Unufun”.Pemahaman ini diusung oleh Ma’bad bin Kholid al-Juhani, yang mana iamencela kepada orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat sebab takdir, dengan jawaban: “La Qodara wa al-Amru Unufun”, Tidak ada takdir (bagi manusia) dan suatu perkara itu mendahului iradah dan pengetahuan Allah.Persoalan-persoalan bermula dari ilmu dan kemudian iradah, persoalan ini berorientasi terhadap penafian ilmu dan iradah yang bersifat azali. Oleh karena itu, perbuatan manusia dianggap keluar dari area taqdir sang pencipta. Atas dasar sikap-sikap tersebut,selanjutnya kelompok ini dikenal dengan nama aliran Qadariyah.

Nama Qadariyah sempat menjadi gunjingan, dimana pemeluk aliran qadariyah menafikan qadar tetapi kenapa nama itu dinisbatkan kepadanya?.Sebagian kelompok mengatakan, sebab mereka menafikan qadar Alah dan menetapkanya pada seorang hamba sehingga dinamakan Qadariyah.Aliran  ini menjadikan segala sesuatu diserahkan sepenunya kepada kehendak dan kemampuan manusia, sehingga dikatakan oleh para penentangnya sebagai majusinya umat, “al-Qodariyah majusu hadzihi al-ummah”, dengan alasan karenamasing-masing manusia menciptakan perbuatanya sendiri, mereka menetapkan adanya pencipta-pencipta selain Allah sebagaimana kaum majusi yang mengatakan: “Sesungguhnya alam mempunyai dua pencipta, cahaya dan kegelapan, cahaya menciptakan kebaikan dan kegelapan menciptakan kejelekan.” Bahkan ada qaul Nabi yang mengatakan: “al Qadariyah Khushomaullahi fi al-Qadr.”(Qadariyah adalah musuh-musuh Allah dalam persoalan qadar)[2]

Pada dasarnya, timbulnya aliran Qadariyah tidak terlepas dari bentuk penentangan terhadap kebijaksanaan politik Bani Umayah yang dianggap kejam dan dzalim.

 

  1. AlurPerjalananAliran Qodariah

Pada masa akhir sahabat terjadi perselisihan seputar pembahasan “qadar” yang bersumber dari Ma’bad bin Kholid al-Bashri al-Juhani. MenurutAbu Hatim, ia datang ke Madinah dan merusak manusia disana. Dalam kitab Syarh al-Uyun karya Ibnu Nabatah, sebelum orang-orang berbicara tentang qadar ada seorang dari negara Iraq yang beragama nasrani masuk Islam kemudian kembali lagi ke nasrani, berdasarkan informasi yang diperoleh Muhammad Ibnu Syu’aib dari Al-Auza’i, orang nasrani Iraq itu bernama“Susan”. Kemudian Ma’bad Juhani mengambil konsep qadar darinya dan Ghailan bin Muslim mengambil konsep dari Ma’bad.[3]Dalam kitab al-Farqu baina al-Firaq, selain keduanya ada satu tokoh lagi bernama Ja’d bin Dirham, tetapi peranannya dalam aliran ini tidak terlalu dibahas sebagaimana keduanya, bahkan Ja’d bin Dirham dikatakan sebagai tokoh yang tampak mengusung aliran Jabariyah.Selanjutnya, Ma’bad Juhani menyebarkan da’wahnya di Iraq Sementara Ghailan menyebarkan da’wahnya di Damskus.

Dalam penyebaran da’wahnya di Iraq, Ma’bad Juhani berlangsung cukup lama sehingga saat terjadi fitnah yang menimpa Abdurrahman bin Asy’ast,  Ma’bad Juhani ikut terlibat di dalamnya, ketika Ibnu Asy’ast diserang, Ma’bad Juhani merupakan salah satu orang yang tebunuh oleh pasukan Hajjaj karena ajaran tersebut dianggap berbahaya (menyesatkan).Hajjaj adalah seorang jagal manusia yang diangkat sebagai orang kepercayaan dan tangan kanan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dimana keberadaan Hajjaj dianggap akan menguatkan sendi-sendi kekuasaannya dan tonggak kekhalifahanya.[4]Ada riwayat lain yang mengatakan bahwa Ma’bad Juhani di salib oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Berdasarkan sejarah peristiwa itu terjadi pada tahun 80H/699M.

Begitupun di Damaskus,Ghailan tidak henti-hentinya menyebarkan da’wahnya hingga tersebar diNegeri Syam.Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz Ghailan pernah mendatanginya, bahkan dalam Tarikh Madzahib Islamiyah karya Abu Zahra disitu dijelaskan lebih rinci, dimana Ghailan sempat mengirim surat kepada Umar bin Abdul Aziz yang isinya mengajak untuk berpegang teguh kepada keadilan, dan sempat terjadi perdebatan yang akhirnya pendapat-pendapat Ghailan dipatahkan oleh Umar bin Abdul Aziz, dalam kitab al Farqu baina al Firaq, Ghailan diminta untuk segera bertaubat. Setelah Umar bin Abdul Aziz wafat, Ghailan kembali mengajarkan ajarannya, hingga menemui pemerintahan Hisyam bin Abdul malik, ajaranya kian merajalela sehingga ia dipanggil oleh khalifah Hisyam bin Abdul Malik dan dimintai kebenaran ajaranya, akhirnya ia disuruh untuk menemui al-Auza’i yang disaksikan langsung oleh khalifah Hisyam, dalam perdebatanya dengan al-Auza’i ia tidak bisa berkutik, setiap persoalan yang dilontarkan oleh al Auza’i ia tidak mampu menjawab, yang pada akhirnya Khalifah Hisyam bin Abdul Malik memerintah supaya Ghailan dipenggal.

Aliran Qadariyah termasuk aliran yang cukup cepat berkembang dan mendapat dukungancukup luas di kalangan masyarakat, sebelum akhirnya para pemimpinnyameninggalkan ajaran yang dibawa. Sejak terbunuhnya para pentolan Qadariyahtersebut, aliran Qadariyah mulai pudar, sehingga akhirnya sirna dimakan zaman dan kinitinggal sebuah nama yang tertulis di dalam buku. Namun, tidak menutup kemungkin ajaranya masih dianutoleh sebagian orang.Tetapi para ulama menyebutkan bahwa sesungguhnya aliran Qadariyah telah musnah, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dari Imam Qurthubi, dia berkata: ”Madzhab ini sungguh telah musnah, kami tidak mengetahui seseorang pada generasi akhir yang menasabkan kepadanya (madzhab Qadariyah).

 

  1. Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Menjadi Dasar Pemikiran Aliran Qadariyah

Aliran Qadariyah dalam mengemukakan dasar pemikirannya tidak dengan kata-kata kosong, melainkan disertai dengan dalil-dalil yang dapat menguatkan dasar pemikiran mereka. Ada beberapa ayat al-Qur’an yang digunakan sebagai dasar pemikiran aliran Qadariyah, yaitu:

وقل الحق من ربِكم فمن شآء فليؤمن ومن شاء فليكفر إِنَا أعتدنا للظالمين نارا أحاط بهم سرادقها وإِن يستغيثوا يُغاثوا بمآء كالمهل يشوِي الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا(سورة الكهف/۱۸:۲۹)

Artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

 

أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم إن الله على كل شيء قدير. (سورة آل عمران/٠۳: ١٦٥)

Artinya: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?”Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

 

له معقبات من بين يديه ومن خلفه يحفظونه من أمر الله إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم وإذا أراد الله بقوم سوءا فلا مردّ له وما لهم من دونه من وال.(سورةالرعد/١٣:١١)

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.[5]Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

 

ومن يكسب إثما فإنَما يكسبه على نفسه وكان الله عليما حكيما. (سورة النساء/٠٤:١١)

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari ayat-ayat diatas, aliran qadariyah mencerna pemahaman tentang takdir manusia, dimana manusia memilki kebebasan bertindak dengan akalnya tanpa intervensi Tuhan, kemudian pemahaman-pemahaman itu dijadikan sebagai landasan doktrin aliran mereka.

 

  1. Doktrin-Doktrin Qadariah

Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukandengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara keduaaliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebihluas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab pembahasan ini juga menjadikan salah satu doktrinMu’tazilah.Bahkan dari segi yang lain mmempunyai kesamaan ajaran dengan Murji’ah sehingga disebut Murji’atul Qadariyah. Orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliranini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkantindakan tanpa intervensi Tuhan.Pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan- perbuatannya, manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan atau dengan kemampuandan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka Qadariyah yang lain ialah An-Nazzam yangmengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.Mereka mengatakan bahwa kalau Allah SWT itu adil, maka Allah akan menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Jika Allah SWT telah menentukan terlebih dahulu nasib manusia, maka Allah SWT itu dzalim.[6]

Dari beberapa penjelasan diatas,dapat di pahami bahwa segala tingkah laku manusiadilakukan atas kehendaknya sendiri.Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakukansegala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Olehkarena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memprolehhukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.Dalam pandangan Qadariyah manusia adalah sebagai “khaliqul af’al”.

 

Pemahaman takdir dalam pandangan Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdiryangumum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu pemahaman yang mengatakan bahwa nasib manusiatelah di tentukan terlebih dahulu.Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya. Dalam AliranQadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta besertaseluruh isinya sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaransiksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri,bukan takdir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salahyang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.

Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah.Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam.Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan, seperti gajah yang mampu mambawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkanmempunyai daya pikir yang kreatif, demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu ,dengan daya pikir yang kreatif dananggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan, sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia dapat membuat benda lain yang dapat membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah.Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimilikimanusia. Suatu hal yang benar-benar tidak sanggup diketahui adalah sejauh manakebebasan yang dimiliki manusia?, siapa yang membatasi daya imajinasi manusia?, Ataudengan pertanyaan lain, dimana batas akhir kreativitas manusia?.

Dengan pemahaman seperti ini, kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan.Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin Islam sendiri.Banyak ayat Al-Qur’anyang mendukung pendapat ini.

 

ومنيكسبإثما فإنَما يكسبهعلى نفسهوكانالله عليما حكيما.(سورةالنساء/٠٤:١١)

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dari ayat-ayat diatas, aliran qadariyah mencerna pemahaman tentang takdir manusia, dimana manusia memilki kebebasan bertindak dengan akalnya tanpa intervensi Tuhan, kemudian pemahaman-pemahaman itu dijadikan sebagai landasan doktrin aliran mereka.

 

  1. Sinkronisasi Pemahaman Qadariyah dengan Pemahaman Lain Tentang

Pelaku Maksiat dengan  alasan Qadar

Aliran Qadariyah yang dikenal sebagai pengingkar qadar tetap mencela ketika ada orang yang berbuat maksiat dengan alasan takdir, sebagaimana yang telah diutarakan Ma’bad Juhani diatas, dimana ia mencela kepada orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat sebab takdir, dengan jawaban, “La Qodara wa al-Amru Unufun”.

Ibnu Taimiyyah berkata, tidak boleh seseorang berdalih dengan takdir atas dosa (yang dilakukannya) berdasarkan kesepakatan (ulama) kaum muslimin, seluruh pemeluk agama, dan semua orang yang berakal. Seandainya hal ini diterima (dibolehkan), niscaya hal ini dapat memberikan peluang kepada setiap orang untuk melakukan perbuatan yang merugikannya, seperti membunuh jiwa, merampas harta, dan seluruh jenis kerusakan di muka bumi, kemudian ia pun beralasan dengan takdir. Ketika orang yang beralasan dengan takdir di dzalimi dan orang yang mendzaliminya beralasan yang sama dengan takdir, maka hal ini tidak bisa diterima, bahkan kontradiksi. Pernyataan yang kontradiksi menunjukkan kerusakan pernyataan tersebut.Jadi, beralasan dengan qadar itu sudah dimaklumi kerusakannya di permulaan akal”.

Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki dalam kitabnya Qul Hadzihi Sabili mengatakan bahwa tidak ada kebaikan (sama sekali) di dunia dan akhirat kecuali dengan sebab taqwa, begitu juga tidak ada keburukan di dunia dan diakhirat, tidak ada wabah dan bencana melainkan disebabkan oleh maksiat-maksiat.

Aliran-aliran yang lainpun mencela terhadap pelaku maksiat dengan alasan qadar, sebagaimana aliran Jabariyah mengatakan: “Barang siapa yang menanggungkan dosanya kepada Allah, maka ia telah kafir”. Karena bagaimanapun maksiat adalah perbuatan madlaratdantercela, bahkan maksiat merupakan sebab dari segala kerusakan.Adapun akibat-akibat yang merupakan sebab maksiat sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an diantaranya:

  1. Maksiat merupakan penyebab kerusakan baik di darat maupun di dilaut

ظهر الفساد في البرّ والبحر بما كسبت أيدي النَّاس ليذيقهم بعض الّذي عملوا لعلّهم يرجعون. (سورة الروم /۳٠: ٤١)

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

  1. Maksiatmenyebabkan hilangnya nikmat,datangnya kesusahan dan penyesalan yang tiada guna

له معقبات من بين يديه ومن خلفه يحفظونه من أمر الله إنّ الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم وإذا أراد الله بقوم سوءا فلا مردّ له وما لهم من دونه من وال.(سورةالرعد/١٣:١١)

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

  1. Maksiatmenyebabkan hilangnyaiman, datangnya la’nat dan kemarahan Allah SWT, serta mengakibatkan kerendahan dan kehinaan.

وضربت عليهم الذّلّة والمسكنة وباءوا بغضب من الله ذلك بأنّهم كانوا يكفرون بآيات الله ويقتلون النَّبيّين بغير الحقّ ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون. (سورةالبقرة/٠٢:٦١)

Artinya: “Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”

 

  1. Pengaruh Aliran Qadariyah Terhadap Pendidikan Islam

Di dunia modern dewasa ini muncullah teori-teori kebebasan, sehingga muncul pertanyaan,apakah pendidikan Islam menganut teori kebebasan berpikir?Misalnya kebebasan berpolitik, berteologi, berpakaian, berpendidikan, dan lain-lain.Ketika Dianalisa dengan pemikirancerdas, sebenarnya kebebasan itu adalah sifat yang dimiliki manusia yang perlu ditumbuh kembangkan.Sebab dengan kebebasan itu manusia menjadi kreatif dan inovatif.Hanya saja kebebasan itu jangan kebablasan atau berlebih-lebihan.Di dunia Barat kebebasan menjadi suatu hal yang biasa, padahal sesungguhnya kebebasan dalam Islam ditopang oleh akal yang sehat dan didukung oleh wahyu.

Kreasi-kreasi keilmuan dalam pendidikan Islam adalah suatu kewajaran yang ditopang oleh pandangan aliran teologis, salah satunya aliran Qadariyah.Aliran ini memberikan kemerdekaan atau kebebasan manusia untuk berbuat oleh adanya potensi akal yang menjadi pemacu dalam membuat ide-ide pemikiran yang positif.Tetapi harus diyakini bahwa kebebasan yang dianutnya tetap berada dalam koridor wahyu.Karena aliran Qadariyah memiliki alas berpijak sesuai ayat-ayat al-Quran.

Sekiranya ulama Islam dan umat Islam pada zaman klasik itu hanya berorientasi pada akhirat saja, tanpa berorientasi kepada dunia, dan memakai filsafat fatalisme (Jabariyah), bukan filsafat qadariyah dan dengan pemahamannya tentang manusia yang bebas, kemajuan yang begitu pesat dalam bidang politik tidak akan tercapai. Negara yang berasal di Madinah itu hanya merupakan Negara padang pasir tak ada artinya dan tidak menjadi Negara adikuasa yang besar pengaruhnya di dunia zaman ini.

Kebangkitan pendidikan Islam tidak terlepas dari munculnya pakar-pakar teologi dengan wajah keilmuan kalamnya.Menurut Harun Nasution ilmu kalam lebih tepat dinamakan ilmu keislaman.[7] Telah dimaklumi bahwa aliran Qadariyah berpegang teguh pada anggapan bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan kekuasaan penuh dalam menentukan perjalanan hidupnya, manusia mempunyai kekuasaan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya atau yang biasa disebut dengan free will dan free act. Dalam perkembangan selanjutnya aliran ini diperkuat oleh aliran Mu’tazilah.Yang muncul kemudian, yang sangat mendukung argumen-argumen Qadariyah bahwa manusia dalam menentukan hidupnya, segala hal dapat diperoleh melalui kebenaran akal, sehingga aliran ini biasa disebut dengan aliran rasionalisme, yakni aliran yang mengkultuskan kemampuan akal dalam menetapkan kebenaran.

Sifat rasional pada manusia ini melahirkan konsep dasar tentang kebebasan.Bahwa dengan rasionya manusia dapat memiliki dan mencapai kebebasan dari berbagai belenggu yang dapat menurunkan derajat atau martabatnya seperti kebodohan, keragu-raguan.Dengan senjata rasional, manusia dapat menghilangkan belenggu atau rintangan yang dihadapi, lalu manusia menjadi merdeka.Kemerdekaan itu haruslah menjadi tujuan dan dilaksanakan dalam pendidikan, supaya anak didik mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan sengaja.[8]

Pengaruh aliran Qadariyah terhadap pendidikan Islam, bila dilihat dari pemikiran tokoh-tokoh yang dianggap berhaluan Qadariyah, misalnya Ibnu Sina, al-Muwardi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan sebagainya, menunjukkan bahwa pendidikan Islam itu harus diadakan reorientasi dalam berbagai faktor atau unsur-unsurnya. Pendidikan Islam harus berbenah diri untuk tetap mengadakan penyesuaian-penyesuaian dengan tuntutan zaman terutama pada era globalisasi sekarang ini.Pendidikan Islam sangat diharapkan menjadi bidang strategis pendamping IPTEK dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusian di bumi ini.

Pemahaman qadariyah yang mewarnai pendidikan menurut Ibnu Sina misalnya dalam hal perumusan tujuan pendidikan yang mengarah pada pengembangan potensi dalam upaya pencapaian kesempurnaannya.[9]Pendidikan yang ditawarkan Ibnu Sina, antara lain berkisar tentang guru yang baik yakni berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari olok-olok dan bermain-main di hadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, bersih, dan suci murni.[10]

Dalam hal ini, Aliran empirisme adalah suatu aliran pendidikan yang menonjolkan faktor lingkungan yang paling dominan dampaknya terhadap proses perkembangan manusia yang diilhami oleh pandangan  Qadariyah. Sebab secara kronologisnya jauh sebelum aliran empirisme telah muncul aliran Qadariyah.Salah satu kesalahan dalam pendidikan yaitu peserta didik diibaratkan belanga kosong yang senantiasa siap diisi sesuka hati pendidik, sehingga terjadi kefakuman dalam pembelajaran, yang akhirnya akan melahirkan robot-robot yang siap menunggu instruksi dari majikan yang tidak kreatif dan mandiri. Padahal yang berhaluan Qadariyah sangat tidak sepaham dengan suasana demikian. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam Ghozali yang mengatakan: Orang yang meletakkan benih di atas batu dan sesudah itu ia tunggu taqdir agar benih itu tumbuh dan berbuah dengan sendirinya, maka orang itu termasuk orang dungu dan sangat bodoh”.

Berdasarkan uraian-uraian di atas melahirkan pandangan bahwa aliran Qadaryiah telah memberikan peluang yang sangat bermakna dalam dunia pendidikan Islam, karena adanya menjadikannya tergerak untuk menciptakankreasi dan inovasi.Kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam berbuat dalam dunia pendidikan Islam melahirkan ideology pendidikan yang liberal, empiris, optimis. Pendidikan Islam secara positif diharapkan mengadopsi pemikiran yang demikian, sehingga dapat survive, eksis dan tetap up to date. Pendidikan Islam harus selalu berbenah diri untuk tetap mengadakan penyesuaian-penyesuaian dengan tuntutan zaman terutama pada era globalisasi sekarang ini.

 

  1. Apakah Doktrin Qadariyah Memberikan Kontribusi dalam Kehidupan Manusia pada Masa Kini?

Pemahaman qadar yang berkembang dalam pikiran Qadariyah, pada dasarnya meletakkan kebebasan manusia untuk melakukan sesuatu, karena ia mempunyai qudrah untuk itu. Ini berarti meletakkan posisi manusia secara proporsional lantaran manusia memiliki akal, yang dengannya (akal) manusia dapat melakukan yang baik maupun yang buruk.Dengan demikian manusia bertanggungjawab atas perbuatannya.

Disamping manusia memiliki akal, manusia juga memiliki kesadaran diri, dan memiliki imajinasi, yang karena hal-hal demikian inilah membedakannya dengan alam semesta lainnya, sehingga ia memiliki otoritas untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kekhalifahannya di bumi ini. Otoritas tersebut dibenarkan oleh al-Qur’an )Q., ar-Ra’d, 11).

Dengan kecakapan intelektualnya, manusia dapat menentukan perjalanan hidupnya, dan dengan kata lain manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan, serta mempunyai kekuatan atau qudrah untuk melaksanakan kehendak dan perbuatan-perbuatannya.

Karena itulah pengertian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan. Dalam istilah Inggris aliran Qadariyah dikenal dengan sebutan free will dan free act.

Ketika aliran Qadariyah timbul pertama kali yang dibawa oleh orang-orang Islam non-Arab, menimbulkan kegoncangan pikiran masyarakat Islam Arab yang semula berpaham fatalisme yang karena kondisi alamnya yang demikian keras. Untuk itu mereka menentang paham Qadariyah dengan ungkapan :“Al-Qadariyah Majusu Hadzihi al-Ummah.”

Dalam kaitannya dengan kondisi alam tersebut, sebagaimana dipaparkan oleh Ghazali Munir bahwa paradigma Qadariyah ini justru menguntungkan untuk mengadakan perubahan sosial dan kondisi lingkungannya, untuk membangun sebagai sumber moral dan kekuatan untuk dapat melaksanakan sesuatu yang lebih baik dari kondisi semula, yang dikarenakan manusia memiliki qudrah atau kekuatan untuk itu.[11]

Sekarang bagaimana dengan kehidupan manusia pada masa kini? Sebagai suatu analisis bahwa pada masa kini yang ditandai dengan teknologi yang serba canggih, arus globalisasi dan informasi, yang membikin segala sesuatu serba transparan, sehingga menuntut manusia lebih mendayagunakan kehendak, kekuatan dan kemampuannya untuk melaksanakan perbuatan-perbuatannya yang tepat, cepat dan berdayaguna demi tersingkapnya eksistensi manusia selaku khalifahtullah fi al-ardl, sebab al-masyi’ah, al-istitha’ah, dan fi’lu al-insan semua ada pada manusia.

Karena manusia memiliki qudrah untuk melaksanakan atau meninggalkan suatu perbuatan, atau dengan kata lain manusia memiliki daya ikhtiyariyah itulah, maka manusia bertanggungjawab atas semua perbuatan-perbuatannya itu, dan karena itu pula berkaitan dengan keadilan Tuhan. Jika manusia tidak merdeka, yang karena perbuatan buruknya ia mendapat siksa, memberi kesan bahwa Tuhan tidak adil.

Sikap free will Qadariyah ini juga mengilhami dibidang lain, seperti tentang imamah, mereka cenderung mengembangkan demokrasi, yang dengan cara demikian manusia memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri. Di sini tampak bahwa hak asasinya mendapatkan kehormatan dan terlindungi.

 

  1. Pandangan Penulis menyikapiFenomena Post- Qadariyah

Fenomena yang terjadi pada aliran Qadariyah tidak menutup kemungkinan karena pengaruh tekanan-tekanan dari pemerintahan Bani Umayah yang pada saat itu dianggap dzalim dan bertujuan untuk mencari kebebasan.Karena background mereka adalah Islam, maka mereka mengambil dalil-dalil dasar Islam (al-Qur’an) yang layak sebagai landasan pemahaman mereka,kemudian menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an dengan sudut pandang mereka.Dalam memperkuat pemahamannya, mereka harus yakin terhadap sikap yang mereka ambil, keyakinan tersebut menjadikan keyakinannya sebagai doktrin landasan pemahaman mereka. Tidak cukup dengan itu, merekapun memerlukan dukungan-dukungan  umat Islamyang dapat menerima dan sepaham dengan pemahaman mereka, sehinggabanyaknya penganut menjadikan mereka terbentuk sebuah kelompok, yang kemudian dikenal dengan sebutan aliran Qadariyah. Fenomena  yang  terjadi, tentunya akan memberi pengaruh pada masa setelahnya, setidaknya menjadi sejarah bahkan menjadi sebuah contoh ataupun pelajaran demi terus membangun peradaban Islam. Sangatlah wajar ketika terjadi perselisihan pemahaman diantara para pemuka Islam dalam berbagai macam interpretasi, karena hal itu telah di isyaratkan oleh Nabi SAW sebagaimana dalam beberapa hadistnya:

 

فإنّه من يعش منكم بعدى فسيرى إختلافا كثيرا فعليكم بسنّتى وسنّة الخلفاء المهديّين الرّاشدين تمسّكوا بها وعضّوا عليها بالنّواجذ وإياكم ومحدثات الأُمور فإنّ كلّ محدثة بدعة وكلّ بدعة ضلالة.[12]

“Sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dansunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk  setelahku. Genggamlah sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan (di dalam agama) itu ada bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”

 

إنّبنى إسرائيلافترقت على إحدى وسبعين فرقة وإنّ أُمّتى ستفترق على ثنتين وسبعين فرقة كلُّها فى النّار إلاَّ واحدة وهى الجماعة.[13]

“Dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok, semuanya masuk neraka kecuali (kelompok) yang satu.”

Begitu juga perkataan Ibnu Taimiyah yang mengatakan:

جماعالفرقانبينالحقوالباطل،والهدىوالضلال،والرشادوالغي،وطريقالسعادةوالنجاة،وطريقالشقاوةوالهلاك : أنيجعلمابعثاللّهبهرسلهوأنزلبهكتبههوالحقالذييجباتباعه،وبهيحصلالفرقانوالهدىوالعلموالإيمان،فيصدقبأنهحقوصدق،وماسواهمنكلامسائرالناسيعرضعليه،فإنوافقهفهوحق،وإنخالفهفهوباطل،وإنلميعلمهلوافقهأوخالفهلكونذلكالكلاممجملالايعرفمرادصاحبه،أوقدعرفمرادهولكنلميعرفهلجاءالرسولبتصديقه،أوتكذيبه،فإنهيمسكفلايتكلمإلابعلم .والعلمماقامعليهالدليل،والنافعمنهماجاءبهالرسول. (مجموع فتاوى إبن تيمية، ۱۳/ ۱۳۵- ۱۳٦).[14]

“Al-Furqôn (pembeda) yang terhimpun (untuk membedakan) antara kebenaran dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, bimbingan lurus dengan penyelewengan, jalan kebahagiaan dan kesuksesan dengan jalan kesengsaraan dan kebinasaan, adalah untuk menjadikan risalah yang Allôh mengutus Nabi-Nya dengannya dan kitab-kitab yang Ia turunkan adalah sebagai kebenaran yang wajib diikuti. Dengannya akan diperoleh al-Furqôn, petunjuk, ilmu dan keimanan, sehingga dapat dibenarkanbahwa wahyu-Nya adalah haq dan benar (lurus) sedangkanselainnya baik itu perkataan semua manusia perlu ditimbang.Apabila selaras dengan wahyu Allah maka ia adalah kebenarandan apabila menyelisihi maka ia adalah kebatilan.Apabila tidak diketahui apakah ucapan tersebut sesuai ataumenyelisihi wahyu, bisa jadi karena ucapan tersebut adalah ucapan yang global sehingga tidak diketahui maksud orang yangmengucapkannya, atau diketahui maksud ucapannya namuntidak diketahui apakah Rasūlullâh membenarkan ataumendustakannya, maka ucapan tersebut ditahan (didiamkan) dantidaklah dikomentari melainkan dengan ilmu. Ilmu adalah yangditegakkan di atasnya dalil dan ilmu yang bermanfaat adalah yangdatang dari Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.”

Melihat konteks hadist diatas,  fenomena perselisihan pemahaman akan terjadi dari masa ke masa, Rasulallah SAW pun mema’luminya, hanya saja Rasulullah SAW berpesan agar senantiasa berpegang teguh pada sunnah-sunnahnya dan sunnah para pengemban amanatnya yang terpercaya. Berdasarkan fatwa yang dituangkan oleh Ibnu Taimiyah, mengandung indikasi bahwa problematika keagamaan akan terus terjadi, dalam menyikapi problematika keagamaan tersebut tidak dengan perkataan kosong, melainkan harus dengan ilmu yang ditegakkan diatasnya dalil dan ilmu yang bermanfaat adalah yang datang dari Rasulallah SAW.

Saya kira aliran Qadariyahpun dalam mengkultuskan pemahamannya berlandaskan  ilmu dan dalil-dalil keagamaan, hanya saja interpretasi-interpretasi mereka yang berbeda.Dari perbedaan pemahaman tersebut yang kemudian memunculkan bentuk protes dan penentangan serta dimintai pertanggung jawaban yang semuanya dikembalikan kepada teks-teks suci ajaran Islam.Pada dasarnya, mereka berusaha menciptakan kebebasan dengan akalnya. Dalam kitab Mafhum al-Hurriyah, teori kebebasan dilihat dari sudut pandang akhlak dan Tauhid terdapat dua sisi yaitu:

  1. Hubungan akal dengan jiwa atau ruh dengan tabi’at, yang dari situ timbul pertanyaan: apakah akal dapat mengalahkan jiwa sehingga jiwa condong kepada tabi’at?
  2. Hubungan kehendak individu dengan kehendak Tuhan, pertanyan yang muncul: apakah kehendak pertama bententangan dengan kehendak kedua?

Dua pertanyaan diatas melahirkan berbagai macam pendapat dengan banyak berdirinya skolastik-skolastik dan beragam paradigma, hanya saja umumnya umat Islam pada akhirnya mengambil garis tengah yang dipaparkan secara gamblang oleh skolastik Asa’iroh.[15]

 

Kesimpulan

Merupakan hal yang wajar ketika dalam suatu pemerintahan terjadi tindakan-tindakan kekerasan yang dianggap sebagai kedzaliman kemudian para tokoh-tokoh umat menggagas gerakan-gerakan sebagai bentuk protes terhadap sikap pemerintah.Dan Tidak ada salahnya melakukan interpretasi-interpretasi terhadap teks-teks suci ajaran Islam sebagai landasan untuk menggapai sebuah keyakinan yang kemudian di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, meski ada dari beberapa pihak tidak sesuai dengan pemahaman tersebut atau di anggap kurang tepat bahkan dipandang sesat. Demikianlah hal yang terjadi pada aliran Qadariyah ketika menghadapi pemerintahan Bani Umayah, begitu juga dalam menginterpretasikan ayat-ayat al-Qur’an.Saya yakin tanpa munculnya aliran Qadariyah dan Jabariyah tidak akan muncul aliran Asa’iroh, yang mana aliran Asa’iroh ini dianggap lebih menyelamatkan bahkan banyak diminati oleh umat Islam karena aliran ini mengambil garis tengah antara dua aliran tersebut atau bisa kita sebut dengan aliran moderat.

Problematika-problematika keagamaan akan terus muncul, baik yang berhubungan dengan aqidah, hukum atau lainya melihat zaman yang selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa, dan itu menjadi tugas umat Islam selanjutnya demi meluruskam aqidah-aqidah yang dianggap kurang tepat dalam memahami Islam. Tetapi dari sejarah masa lalu setidaknyabisa menjadi cermin dan dapat dipetik hikmahnya untuk menghadapi masa sekarang dan masa selanjutnya.

Ada beberapa point yang bisa saya ambil dari pemaparan diatas, yaitu:

  • Munculnya aliran Qadariyah dipengaruhi oleh dunia perpolitikan Bani Umayah yang kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran filsafat
  • Aliran Qadariyah diusung oleh Ma’bad bin Kholid al-Bashri al-Juhani, kemudian diteruskan oleh Ghailan bin Muslim sebelum akhirnya sirna seiring berjalannya masa
  • Aliran Qadariyah merupakan aliran yang menafikan qadar Tuhan dan merupakan aliran yang berseberangan dengan aliran Jabariyah
  • Aliran Qadariyah menjadikan akal sebagai penentu perbuatan manusia tanpa intervensi Tuhan
  • Aliran Qadariyah memiliki pemahaman bahwa amal perbuatan tidak mempengaruhi iman, karena menginterpretasikan iman sebagai ilmu dan taqdir (bebas menentukan pilihan)
  • Allah dikatakan adil apabila Allah menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik.
  • Jika Allah SWT telah menentukan terlebih dahulu nasib manusia, maka Allah SWT itu dzalim
  • Pemahamannya mendapat berbagai macam pertentangan baik dari kalangan pemerintahan maupun aliran-aliran lain
  • Aliran Qadariyah berkembang dan berlangsung cukup lama dan telah memberikan pengaruh kepada umat Islam.

[1] Abu Zahra, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi), hal. 98.

[2] Abu al-Fath Muhammad Abdul Karim as-Syahrstani, Al-Milal wa An-Nihal (Beirut: Dar al-Fikr, 2005), hal. 34.

[3] Abdul Qohir bin Thahir bin Muhammad, Al-Farqu baina al-Firoq (Beirut: al-Maktabah al-‘Asyriyah), hal. 18.

[4] Farag Fouda, Al-Haqiqah Al-Ghoibiyah, Edisi terjemah Oleh: Novriantoni, Kebenaran yang Hilang (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 2008), hal. 97.

[5] Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

[6] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Jakarta: Kharisma Putra Utama Offset, 2010), h. 139.

[7] Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Islam Analisa Perbandingan  ( Jakarta: UI Press, 2002), hal. 33.

[8] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Islam dan Metode (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta, 1976), hal. 76.

[9] Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hal. 67.

[10]ibid., hal. 77.

[11] Ghazali Munir, Paham Qadariyah dalam Kehidupan Manusia Masa Kini, 14 Oktober 2011, tersedia dalam: http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/08/paham-qadariyah-dalam-kehidupan-manusia.html

[12] Abu Daud, Sunan Abu Daud (Mesir: Mauqi’ Wizaroh al-Auqof al-Mishriyyah, tt), J. 13, h. 327, No. Hadist 4609.

[13] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Mesir: Mesir: Mauqi’ Wizaroh al-Auqof al-Mishriyyah, tt), J. 12, h. 143, No. Hadist 4128.

[14]Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, Maktabah Syamilah, tt, J. 2, h. 116

[15]Abdullah al-‘Arawi, Mafhum al-Huriyah (Beirut: Al-Markaz Al-Tsaqofi Al-‘Arabi, 1993), h. 16.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *