MENEMUKAN KEBERADAAN TUHAN DALAM PENGAMALAN KONSEP ISIM GHOIB TAREKAT SYATHTHARIYAH

OLEH : Enda Arova Rohmatuka, S.Pd.I, M.H.I

 

 Latar Belakang

Dalam sejarah peradabannya, manusia telah memiliki keyakinan tentang adanya “Tuhan” yang memiliki kekuasaan di atas manusia. Seperti orang-orang Yunani kuno yang menganut paham politeisme, menganggap bintang sebagai dewa (tuhan), Venus Dewa Kecantikan, Mars Dewa Peperangan, Minerva Dewa Kekayaan, dan Apollo sang Dewa Matahari sebagai pemimpin para dewa tersebut. Orang-orang Hindu juga memiliki Dewa Brahma, Syiwa dan Wisnu, seperti yang tertulis dalam hikayat mahabarata milik orang Hindu. Sedangkan masyarakat Mesir kuno memiliki Dewa Isis, Dewi Oziris, dan Ra sang Dewa Matahari sebagai pemimpinnya.  Begitu pula di masyarakat Persia kuno, dikenal ada Tuhan Gelap dan Tuhan Terang. Masyarakat Arab sebelum kedatangan Muhammad juga tak ketinggalan ikut memiliki banyak tuhan lain untuk mendampingi Allah-nya, seperti berhala-berhala lata, uzza, manata, dll.[1]

Di Negara Indonesia sebelum kedatangan para wali penyebar agama Islam juga terdapat banyak kepercayaan tentang dewa-dewa atau tuhan, di samping agama Hindu dan Budha yang telah lebih dulu masuk di Indonesia. Baik itu dinamisme maupun animisme, yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang masyarakat yang ada pada masa itu.

Sedangkan Islam dengan konsep monoteisme yang diusungnya mengajarkan adanya Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, yakni Allah swt. Monoteisme atau tauhid ini bisa jadi merupakan doktrin yang paling penting dalam Islam (Schimmel 1975: 146).

1

Konsep tauhid tersebut menjadi subjek wacana teologi yang luas dan salah satu cabang ilmu keagamaan yang paling penting. Beberapa persoalan yang sering disinggung dalam wacana tersebut adalah persoalan nama-nama, sifat-sifat, dan esensi Allah, serta bagaimana keesaan-Nya dipahami dan diterapkan oleh umat manusia. Di samping itu sebagian ulama juga ada yang mengaitkan konsep tauhid ini dengan kesalehan yang tampak pada ketaatan menjalankan syari’at.[2]

Makalah ini mencoba mengungkap suatu bentuk pencarian Tuhan yang dilakukan oleh salah satu kelompok tarekat, yakni tarekat Syaththariyah. Sebagaimana tareket pada umumnya, tarekat ini juga mengajarkan dzikir-dzikir yang dilakukan dalam rangka perjalanan untuk menemukan Tuhannya, Allah Sang Maha Esa. Salah satu bentuk dzikirnya adalah dzikir isim ghoib, inilah nanti yang akan menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana Islam menjelaskan tentang konsep ketuhanan?
  3. Bagaimana bentuk pencarian Tuhan yang dilakukan oleh seorang muslim?
  4. Bagaimana sejarah dan perkembangan tarekat Syaththariyah?
  5. Bagaimana ajaran tarekat Syaththariyah dapat menjelaskan tentang konsep keberadaan Tuhan?

 

  1. Konsep Ketuhanan dalam Islam

Membahas konsep ketuhanan dalam agama Islam, maka diawali dengan memberikan pengertian tentang definisi tauhid. Makna tauhid dilihat dari segi etimologi adalah “Keesaan Allah”, mentauhidkan berarti mengakui keesaan Allah, mengesakan Allah, meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta. Tauhid adalah keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada satupun yang menyamai-Nya dalam zat, sifat maupun perbuatan.

Salah satu logika yang dapat digunakan untuk dapat memahami ke-Mahaesaan Tuhan ini adalah kemutlakan, yang Maha Esa dengan sendiri menjadi Yang Mutlak, tak tertandingi atau tak berpadanan. Sebab yang memiliki padanan hanyalah yang nisbi, sehingga bisa dipadankan dengan sesuatu. Ayat-ayat di bawah ini mengandung makna bahwa Tuhan itu mustahil dapat terjangkau dan terpahami esensi dan zat-Nya.[3]

öNs9ur ö@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ  ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS. Al Ikhlas: 1-4).[4]

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS. al Syura: 11)[5]

Tauhid juga memiliki beberapa dimensi isi tauhid, sebagai dalam keterangan berikut ini:

  1. Tauhid sebagai prinsip pertama metafisika

Dalam prinsip ini tauhid atau kesaksian tidak ada Tuhan selain Allah ini bermakna bahwa Dialah Pencipta yang mewujudkan segalanya. Dialah sebab utama setiap kejadian, dan tujuan akhir segala yang ada, bahwa Dialah Yang Pertama dan Yang Terakhir.

Bersaksi dengan kebebasan dan keyakinan, serta secara sadar memahami isinya. Maksudnya menyadari bahwa segala yang ada di sekitar manusia, baik benda atau kejadian, semua yang terjadi di bidang alam, sosial, atau psikis, semuanya adalah tindakan Tuhan, pelaksanaan dari satu atau lebih tujuan-Nya. Begitu tercipta, realisasi seperti itu menjadi hakikat kedua manusia, yang tak dapat dipisahkan darinya selama terjaga. Sehingga manusia akan hidup di bawah bayang-bayangnya. Dan di mana manusia mengetahui perintah dan tindakan Tuhan dalam setiap objek dan peristiwa, maka dia mengikuti inisiatif Tuhan karena ini semua perintah Tuhan.

Mengamati inisiatif Tuhan dalam alam berarti melaksanakan ilmu alam. Karena inisiatif Ilahiah dalam alam tak lain merupakan hukum-hukum yang tak berubah yang diaugerahkan Tuhan kepada alam. Mengamati inisiatif Ilahiah dalam diri seseorang atau dalam masyarakat berarti mempelajari ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu sosial. Dan jika seluruh alam semesta sendiri benar-benar menyingkapkan atau memenuhi hukum alam in, yang adalah perintah dan kehendak Tuhan, maka alam semesta, menurut orang Muslim merupakan teater hidup yang digerakkan oleh perintah Tuhan. Teater itu sendiri, dan segala isinya, dapat dijelaskan dengan istilah-istilah ini. Keesaan Tuhan berarti bahwa Dialah Sebab segalanya.

 

  1. Tauhid sebagai prinsip pertama etika

Tauhid menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk terbaik, untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Ini berarti bahwa seluruh keberadaan manusia di muka bumi bertujuan mematuhi Tuhan, menjalankan perintah-Nya. Tauhid juga menegaskan bahwa tujuan ini termasuk kekhalifahan manusia di muka bumi.

Karena, menurut Al-Qur’an, Tuhan telah memberikan amanat-Nya kepada manusia, amanat yang tak mampu dipikul langit dan bumi, dan yang mereka hindari dengan ketakutan. Amanat tuhan adalah pelaksanaan bagian etika dari kehendak Tuhan. Hakikatnya menuntut bahwa amanat itu diwujudkan dalam kebebasan dan manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu melakukannya. Di manapun kehendak Tuhan diwujudkan sesuai kebutuhan hukum alam, perwujudannya bukan moral, tetapi mendasar (elemental) atau bermanfaat (utilitarian).

Hanya manusia yang mampu mewujudkannya dengan kemungkinan melakukan atau tidak melakukannya sama sekali, atau melakukan sebaliknya atau sebagian. Kemerdekaan manusia untuk mematuhi perintah Tuhanlah yang menjadikan pelaksanaan perintah moral.
Tauhid menegaskan bahwa Tuhan, yang pemurah dan bertujuan, tidak menciptakanmanusia secara main-main, atau sia-sia. Dia menganugerahkan manusia dengan panca indera, akal dan pemahaman, menjadikannya sempurna – dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya- untuk mempersiapkannya menunaikan tugas besar ini.

 

  1. Tauhid sebagai prinsip pertama aksiologi

Tauhid menegaskan bahwa Tuhan telah menciptakan umat manusia agar manusia dapat membuktikan diri bernilai secara moral melalui perbuatannya. Sebagai Hakim, Dia memperingatkan bahwa semua perbuatan manusia akan diperhitungkan; bahwa perbuatan baik mereka akan diberi pahala, dan perbuatan buruk mereka akan diberi hukuman. Tauhid selanjutnya menegaskan bahwa Tuhan menempatkan manusia di muka bumi agar manusia mendiaminya. Agar manusia dapat bekerja di atas bumi, memakan buah-buahnya, menikmati kebaikan dan keindahannya, dan memakmurkan bumi dan dirinya.

Inilah penegasan dunia: menerima dunia karena dunia tidak berdosa dan baik, diciptakan oleh Tuhan dan diatur oleh-Nya untuk dimanfaatkan manusia. Segala yang ada di dunia ini, termasuk matahari dan bulan, tunduk kepada manusia. Semua ciptaan merupakan teater bagi manusia untuk melakukan perbuatan etikanya sehingga mewujudkan bagian yang lebih tinggi dari kehendak Ilahi. Manusia bertanggung jawab untuk memuaskan naluri dan kebutuhannya, dan setiap orang bertanggung jawab satu sama lain.

Manusia berkewajiban mengembangkan sumber daya manusia ke tingkat yang tertinggi yang mungkin, sehingga semua karunia alam dapat sepenuhnya dimanfaatkan. Dia berkewajiban mengubah bumi menjadi kebun buah yang produktif dan taman indah. Dalam proses ini dia dapat mengeksplorasi matahari dan bulan jika perlu. Tentu saja manusia harus menemukan dan mempelajari pola-pola alam, jiwa manusia, masyarakat. Dia harus mengindustrikan dan mengembangkan dunia agar dunia menjadi taman dimana Firman Allah diagungkan.

 

  1. Tauhid sebagai prinsip pertama masyarakat

Tauhid menegaskan bahwa “umatmu ini umat yang satu, yang Tuhannya adalah Allah. Karena itu sembah dan mengabdilah pada-Nya” Tauhid berarti bahwa orang orang-orang beriman adalah bersaudara , yang anggotanya saling mencintai dalam Tuhan, mereka saling menasihati untuk berlaku adil dan sabar. Mereka semua berpegang pada tali Allah, dan tidak berpisah satu sama lain, mereka saling berurusan, menganjurkan kebaikan dan melarang kejahatan; mereka menaati Allah dan Nabi-Nya.

 

  1. Tauhid sebagai prinsip pertama estetika

Tauhid berarti menyingkirkan Tuhan dari segenap bidang alam. Segala yang diciptakan adalah makhluk, nontrasenden, tunduk kepada hukum ruang dan waktu. Semuanya ini tak mungkin Tuhan dalam arti apapun, khususnya arti ontologis yang dinafikan tauhid, sebagai intisari monoteisme. Tuhan sama sekali bukan ciptaan, sama sekali bukan alam, dan karena itu Tuhan transenden.

Dialah satu-satunya wujud yang trasenden. Tauhid selanjutnya menegaskan bahwa tak ada yang menyerupai-Nya, sehingga tidak ada ciptaan yang menyerupai atau melambangkan Tuhan, tak ada yang dapat mewakili-Nya. Jelas secara definisi Dia tak tergambarkan. Tuhan adalah Dia yang tak ada lembaga estetis apapun yang mungkin

 

Bertauhid dalam agama Islam tidak sekedar mempercayai akan adanya satu Tuhan, tetapi lebih dari itu. Pengesaan ini juga harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia beragama setidaknya harus dapat menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya. Ada juga dalam sebuah masyarakat yang makna dan tujuan ketauhidan lebih condong ke arah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya, hal seperti inilah yang lebih menonjol dalam masyarakat Jawa. Sehingga tak ayal muncullah konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya. [6]

Bertauhid juga memiliki implikasi lain, yakni keimanan, atau keyakinan-keyakinan terhadap keberadaan Tuhan, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, dan takdir. Dengan keimanan ini maka sudah sempurnalah setiap individu menjadi Muslim.[7]

Mengenai konsep keberadaan Allah dapat dijelaskan dalam keterangan berikut ini. Ketika seorang murid di sebuah kelas yang sedang diajarkan tentang pelajaran tauhid bertanya pada gurunya, “Di manakah Allah itu berada?”. Bisa dipastikan sang guru akan sangat hati-hati menjawabnya, karena pertanyaan ini termasuk pertanyaan yang peka. Manusia memang tidak akan mampu menjelaskan di manakah wujud Allah itu berada, namun manusia dengan akalnya dapat merangkum beberapa konsep untuk menjelaskan “letak koordinat” tempat Allah berada. Konsep-konsep tersebut ada dalam uraian berikut ini:

  1. Allah bersemayam di ‘arsy
  2. Allahu Akbar
  3. Allahu Ahad al Shamad
  4. Nur atau Cahaya Allah[8]

 

  1. Pencarian terhadap Tuhan

Kepercayaan terhadap “Tuhan” bersifat imani, sehingga kalau di dalam hati seseorang belum ada “iman” maka sejelas apapun penjelasan yang diberikan tentang “hakikat Tuhan” tidak akan ada artinya. Karena itulah banyak kisah manusia yang ngotot menginginkan bukti akan adanya Tuhan (Allah). Golongan pencari bukti seperti ini menginginkan Tuhan benar-benar tampak nyata di hadapannya atau dapat dirasakan, sehingga dapat meyakini keberadaan Tuhan. Ada pula yang menjadikan pencarian Tuhan ini sebagai sebuah bentuk penghambaan.

Al Qur’an telah mengisyaratkan kehadiran Tuhan di dalam diri setiap manusia dan menjadi fitrah (bawaan) manusia sejak awal diciptakan. [9] Dalam surat al Rum 30 disebutkan:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.[10]

Juga di dalam surat al A’raf: 172 disebutkan sebagai berikut:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).[11]

 

Fitrah Allah yang dimaksud di sini adalah manusia diciptakan mempunyai naluri untuk beragama tauhid. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah sewajarnya namun mungkin terjadi karena pengaruh lingkungan.  Fitrah bawaan ini juga mencakup kesaksian manusia mengakui keberadaan Tuhan. Jadi ketika diceritakan ada kaum Nabi Musa yang meminta bukti keberadaan Tuhan dengan perwujudan atau penampakan yang nyata, maka itu pun termasuk dalam mengingkari fitrah ini.

Namun ada juga yang menjadikan pencarian Tuhan ini sebagai bentuk penghambaan diri sebagai makhluk Tuhan. Seperti yang dilakukan oleh kaum sufi. Sehingga ketauhidan yang dipegang cenderung lebih condong ke arah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya. Bahkan sampai ada yang memunculkan konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya. [12]

 

  1. Sejarah dan Perkembangan Tarekat Syaththariyah

Tarekat Syaththariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15. Tarekat ini dinisbahkan kepada tokoh yang mempopulerkan dan berjasa mengembangkannya, Syah Abdullah al Syaththar.

Hanya sedikit yang dapat diketahui mengenai Syah Abdullah al Syaththar. Ia adalah keturunan Syihabuddin Suhrawardi. Kemungkinan besar ia dilahirkan di salah satu tempat di sekitar Bukhara. Di sini pula ia ditahbiskan secara resmi menjadi anggota Tarekat Isyqiyah oleh gurunya, Muhammad Arif.

Syaththariyah menggali inspirasi dari karya-karya tafsir mistis tentang ketuhanan yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far al Shadiq, sang Imam syi’ah yang keenam. Di samping itu juga terpengaruh oleh kisah-kisah mistis dalam kehidupan Abu Yazid al Basthami. Awalnya tarekat ini dikenal dengan nama Basthamiyah sedangkan di Persia dan Turki dikenal dengan Isyqiyah. Kemudian tarekat ini dibawa oleh Syah Abdullah ke India, setelah menyelesaikan latihan mistisnya di Bukhara pada awal abad ke 9 H/15 M. Cepatnya orang mempelajari hingga memahami paradoks Keesaan dalam kemajemukan membuat Abdullah menyebut tarekat ini dengan Syaththar (yang bergerak cepat), dari sinilah munculnya sebutan Syaththariyah. [13]

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa nisbah syaththariyah ini berasal dari kata syathara, artinya membelah dua. Dan yang dibelah dalam hal ini adalah kalimah tauhid yang dihayati di dalam dzikir nafi itsbat, la ilaha (nafi) dan illallah (itsbat), juga nampaknya merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapainya yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai guru washitah (Mursyid).

Syah Abdullah ini diceritakan sering melakukan perjalanan dengan disertai para muridnya, untuk dapat menemukan lebih banyak lagi rahasia wahdah al wujud dari siapa saja yang lebih sempurna dari dirinya. Selain itu sepanjang perjalanan itu Syah juga mengajarkan ajarannya pada orang-orang yang ditemui. [14]

Sepeninggal Syah Abdullah al Syaththar, Tarekat Syaththariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A’la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syaththari. Dan muridnya yang paling berperan dalam mengembangkan dan menjadikan Tarekat Syaththariyah sebagai tarekat yang berdiri sendiri adalah Muhammad Ghauts dari Gwalior (w.1562), keturunan keempat dari sang pendiri. Muhammad Ghauts mendirikan Ghaustiyyah, cabang Syaththariyah, dengan mempergunakan praktik-praktik yoga. Salah seorang penerusnya Syah Wajihuddin (w.1609), wali besar yang sangat dihormati di Gujarat, adalah seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai akhir abad ke-16, tarekat ini telah memiliki pengaruh yang luas di India. Dari wilayah ini Tarekat Syaththariyah terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.

Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah (1606), salah seorang murid Wajihuddin, dan mendirikan zawiyah di Madinah. Syekh ini tidak saja mengajarkan Tarekat Syaththariah, tetapi juga sejumlah tarekat lainnya, sebutlah misalnya Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Tarekat ini disebarluaskan dan dipopulerkan ke dunia berbahasa Arab lainnya oleh murid utamanya, Ahmad Syimnawi (w.1619). Begitu juga oleh salah seorang khalifahnya, yang kemudian tampil memegang pucuk pimpinan tarekat tersebut, seorang guru asal Palestina, Ahmad al Qusyasyi (w.1661).

Setelah Ahmad al Qusyasyi meninggal, Ibrahim al Kurani (w. 1689), asal Turki, tampil menggantikannya sebagai pimpinan tertinggi dan penganjur Tarekat Syaththariyah yang cukup terkenal di wilayah Madinah.

Dua orang yang disebut terakhir di atas, Ahmad al Qusyasyi dan Ibrahim al Kurani, adalah guru dari Abdul Rauf Singkel yang kemudian berhasil mengembangkan Tarekat Syattttariyah di Indonesia. Namun sebelum Abdul Rauf. Telah ada seorang tokoh sufi yang dinyatakan bertanggung jawab terhadap ajaran Syaththariyah yang berkembang di Nusantara lewat bukunya Tuhfat al Mursalat ila ar Ruh al Nabi, sebuah karya yang relatif pendek tentang wahdat al wujud. Ia adalah Muhammad bin Fadlullah al Bunhanpuri (w. 1620), juga salah seorang murid Wajihuddin. Bukunya, Tuhfat al Mursalat, yang menguraikan metafisika martabat tujuh ini lebih populer di Nusantara ketimbang karya Ibnu Arabi sendiri. Martin van Bruinessen menduga bahwa kemungkinan karena berbagai gagasan menarik dari kitab ini yang menyatu dengan Tarekat Syaththariyah, sehingga kemudian murid-murid asal Indonesia yang berguru kepada al Qusyasyi dan Al Kurani lebih menyukai tarekat ini ketimbang tarekat-tarekat lainnya yang diajarkan oleh kedua guru tersebut. Buku ini kemudian dikutip juga oleh Syamsuddin Sumatrani (w. 1630) dalam ulasannya tentang martabat tujuh, meskipun tidak ada petunjuk atau sumber yang menjelaskan mengenai apakah Syamsuddin menganut tarekat ini. Namun yang jelas, tidak lama setelah kematiannya, Tarekat Syattariyah sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia yang kembali dari Tanah Arab.

Abdul Rauf sendiri yang kemudian turut mewarnai sejarah mistik Islam di Indonesia pada abad ke-17 ini, menggunakan kesempatan untuk menuntut ilmu, terutama tasawuf ketika melaksanakan haji pada tahun 1643. Ia menetap di Arab Saudi selama 19 tahun dan berguru kepada berbagai tokoh agama dan ahli tarekat ternama. Sesudah Ahmad Qusyasyi meninggal, ia kembali ke Aceh dan mengembangkan tarekatnya. Kemasyhurannya dengan cepat merambah ke luar wilayah Aceh, melalui murid-muridnya yang menyebarkan tarekat yang dibawanya. Antara lain, misalnya, di Sumatera Barat dikembangkan oleh muridnya Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, oleh Abdul Muhyi. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulewasi Selatan disebarkan oleh salah seorang tokoh Tarekat Syattariyah yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

Martin menyebutkan bahwa sejumlah cabang tarekat ini kita temukan di Jawa dan Sumatera, yang satu dengan lainnya tidak saling berhubungan. Tarekat ini, lanjut Martin, relatif dapat dengan gampang berpadu dengan berbagai tradisi setempat; ia menjadi tarekat yang paling “mempribumi” di antara berbagai tarekat yang ada. Pada sisi lain, melalui Syattariyah-lah berbagai gagasan metafisis sufi dan berbagai klasifikasi simbolik yang didasarkan atas ajaran martabat tujuh menjadi bagian dari kepercayaan populer orang Jawa.

Berikut ini adalah salah satu contoh sanad milik seorang mursyid atau dalam tarekat ini lebih sering disebut sebagai guru washithah, berikut sanadnya: Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kepada Sayyidina Hasan bin Ali asy-Syahid, kepada Imam Zainal Abidin, kepada Imam Muhammad Baqir, kepada Imam Ja’far Syidiq, kepada Abu Yazid al-Busthami, kepada Syekh Muhammad Maghrib, kepada Syekh Arabi al-Asyiqi, kepada Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, kepada Qutb Abu Hasan al-Hirqani, kepada Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, kepada Syekh Muhammad Asyiq, kepada Syekh Muhammad Arif, kepada Syekh Abdullah asy-Syattar, kepada Syekh Hidayatullah Saramat, kepada Syekh al-Haj al-Hudhuri, kepada Syekh Muhammad Ghauts, kepada Syekh Wajihudin, kepada Syekh Sibghatullah bin Ruhullah, kepada Syekh Ibnu Mawahib Abdullah Ahmad bin Ali, kepada Syekh Muhammad Ibnu Muhammad, Syekh Abdul Rauf Singkel, kepada Syekh Abdul Muhyi (Safarwadi, Tasikmalaya), kepada Kiai Mas Bagus (Kiai Abdullah) di Safarwadi, kepada Kiai Mas Bagus Nida’ (Kiai Mas Bagus Muhyiddin) di Safarwadi, kepada Kiai Muhammad Sulaiman (Bagelan, Jateng), kepada Kiai Mas Bagus Nur Iman (Bagelan), kepada Kiai Mas Bagus Hasan Kun Nawi (Bagelan) kepada Kiai Mas Bagus Ahmadi (Kalangbret, Tulungagung), kepada Raden Margono (Kincang, Maospati), kepada Kiai Ageng Aliman (Pacitan), kepada Kiai Ageng Ahmadiya (Pacitan), kepada Kiai Haji Abdurrahman (Tegalreja, Magetan), kepada Raden Ngabehi Wigyowinoto Palang Kayo Caruban, kepada Nyai Ageng Hardjo Besari, kepada Kiai Hasan Ulama (Takeran, Magetan), kepada Kiai Imam Mursyid Muttaqin (Takeran), kepada Kiai Muhammad Kusnun Malibari (Tanjunganom, Nganjuk) dan kepada KH Muhammad Munawar Affandi (Nganjuk).

 

  1. Konsep Keberadaan Tuhan dalam Ajaran Tarekat Syaththariyah

Dalam Latha’if Ghaibiyah yang ditulis oleh Syah Abdullah terdapat kerangka ajaran-ajaran tarekat ini, selain itu juga terdapat pembagian hamba-hamba spiritual muslim yang tekun menjadi tiga ketegori:

  1. Akhyar (orang-orang yang terpilih)
  2. Abrar (orang-orang yang patuh)
  3. Syaththar (orang-orang yang bergerak cepat)

Dari ketiga kategori tersebut, syaththar merupakan golongan yang paling unggul menurut Syah Abdullah. Karena golongan yang ketiga ini mendapatkan latihan langsung dari arwah para wali besar di masa lalu, sehingga dapat mencapai jalan sufi dengan cepat.[15]

Pengikut Tarikat Syaththariyah percaya bahwa jalan menuju Allah itu sebanyak gerak nafas makhluk. Akan tetapi, jalan yang paling utama menurut tarekat ini adalah jalan yang ditempuh oleh kaum akhyar, abrar, dan syaththar. Seorang salik sebelum sampai pada tahap syaththar, terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar dan abrar, serta menguasai rahasia-rahasia dzikir. Di samping itu syaththar dalam tarekat ini adalah para sufi yang telah mampu meniadakan zat, sifat, dan af’al diri (wujud jiwa raga). Untuk itu ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat ini, yaitu taubat, zuhud, tawakkal, qana’ah, uzlah, muraqabah, sabar, rela, dzikir, dan musyahadah.[16]

Seperti juga tarekat-tarekat lain, Tarekat Syattariyah juga menonjolkan aspek dzikir di dalam ajarannya. Tiga kelompok yang disebut di atas, masing-masing memiliki cara berdzikir dan bermeditasi untuk mencapai intuisi ketuhanan, penghayatan, dan kedekatan kepada Allah SWT. Kelompok akhyar melakukannya dengan menjalani shalat dan puasa, membaca al-Qur’an, melaksanakan haji, dan berjihad. Kelompok abrar menyibukkan diri dengan latihan-latihan kehidupan asketisme atau zuhud yang keras, latihan ketahanan menderita, menghindari kejahatan, dan berusaha selalu mensucikan hati. Sedang kelompok syaththar memperolehnya dengan bimbingan langsung dari ruh-ruh para wali. Hal inilah yang menjadikan dzikir tarekat ini dianggap sebagai jalan yang tercepat dalam menempuh jalan sufi menuju kemakrifatan Tuhan.[17]

Di dalam tarekat ini, terdapat tujuh jenis dzikir muqaddimah, sebagai tangga untuk masuk ke dalam Tarikat Syattariyah, yang disesuaikan dengan tujuh macam nafsu pada manusia. Ketujuh macam dzikir ini diajarkan agar cita-cita manusia untuk kembali dan sampai ke Allah dapat selamat dengan mengenderai atau memandu tujuh nafsu itu. Ketujuh macam dzikir itu sebagai berikut:[18]

  1. Dzikir thawaf, yaitu dzikir dengan memutar kepala, mulai dari bahu kiri menuju bahu kanan, dengan mengucapkan laa ilaha sambil menahan nafas. Setelah sampai di bahu kanan, nafas ditarik lalu mengucapkan illallah yang dipukulkan ke dalam hati sanubari yang letaknya kira-kira dua jari di bawah susu kiri, tempat bersarangnya nafsu lawwamah.
  2. Dzikir nafi itsbat, yaitu dzikir dengan laa ilaha illallah, dengan lebih mengeraskan suara nafi-nya, laa ilaha, berbanding itsbat-nya, illallah, yang diucapkan seperti memasukkan suara ke dalam yang Empu-Nya Asma Allah.
  3. Dzikir itsbat faqat, yaitu berdzikir dengan Illallah, Illallah, Illallah, yang dihunjamkan ke dalam hati sanubari.
  4. Dzikir Ismu Dzat, dzikir dengan Allah, Allah, Allah, yang dihunjamkan ke tengah-tengah dada, tempat bersemayamnya ruh yang menandai adanya hidup dan kehidupan manusia.
  5. Dzikir Taraqqi, yaitu dzikir Allah-Hu, Allah-Hu. Dzikir Allah diambil dari dalam dada dan Hu dimasukkan ke dalam bait al makmur (otak, tempat akal). Dzikir ini dilakukan agar fikiran selalu tersinari oleh cahaya ilahi.
  6. Dzikir Tanazul, yaitu dzikir Hu-Allah, Hu-Allah. Dzikir Hu diambil dari bait al makmur, dan Allah dimasukkan ke dalam dada. Dzikir ini bertujuan agar seorang salik sentiasa memiliki kesedaran yang tinggi sebagai insan cahaya ilahi.
  7. Dzikir Isim Ghaib, yaitu dzikir Hu, Hu, Hu dengan mata dipejamkan dan mulut ditutupkan kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah dada menuju ke arah kedalaman rasa.

Ketujuh macam dzikir di atas didasarkan kepada firman Allah SWT di dalam surat al Mukminun ayat 17:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu semua tujuh buah jalan, dan Kami sama sekali tidak akan lengah terhadap ciptaan Kami (terhadap adanya tujuh buah jalan tersebut).[19]

Adapun tujuh jenis nafsu yang harus dipandu tersebut, adalah sebagai berikut:[20]

  1. Nafsu ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut: Senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.
  2. Nafsu lawwamah, letaknya dua jari di dada bawah sebelah kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, suka menunjuk, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
  3. Nafsu mulhamah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadhu’, taubat, sabar, dan tahan menghadapi segala kesulitan.
  4. Nafsu muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang beribadah, syukur, ridha, dan takut kepada Allah SWT.
  5. Nafsu radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadhah, dan menepati janji
  6. Nafsu mardhiyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk
  7. Nafsu kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Khusus untuk dzikir dengan nama-nama Allah (asma’ul husna), tarikat ini membahagi dzikir jenis ini ke dalam tiga jenis, yaitu:[21]

  1. a) Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti al Qahhar, al Jabbar, al Mutakabbir, dll.
  2. b) Menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, al Malik, al Quddus, al ’Alim, dll.
  3. c) Menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti al Mu’min, al Muhaimin, dll.

Ketiga-tiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebutkan di atas. Dzikir ini dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang, sampai hati menjadi bersih dan semakin teguh dalam berdzikir. Jika hati telah mencapai tahap seperti itu, ia akan dapat merasakan kebenaran segala sesuatu, baik yang bersifat jasmani mahu pun ruhani.

Satu hal yang harus diingat, sebagaimana juga di dalam tarikat-tarikat lainnya, dzikir-dzikir hanya dapat diamalkan melalui bimbingan seorang pembimbing ruhani, guru atau syaikh yang mursyid. Pembimbing ruhani ini adalah seseorang yang telah mencapai pandangan yang membangkitkan semua kebenaran, tidak bersikap sombong, dan tidak membukakan rahsaia-rahasia pandangan batinnya kepada orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Di dalam tarikat ini, guru atau yang biasa diistilahkan dengan guru wasithah dianggap berhak dan sah apabila memiliki sanad tarekat ini yang tidak putus hingga Nabi Muhammad SAW, kuat memimpin mujahadah Puji Wali Kutub, dan memiliki empat martabat yakni mursyidun (memberi petunjuk), murabiyyun (mendidik), nashihun (memberi nasehat), dan kamilun (sempurna dan menyempurnakan).

Secara terperinci, syarat-syarat penting untuk dapat menjalani dzikir di dalam Tarekat Syaththariyah adalah sebagai berikut: makanan yang dimakan haruslah berasal dari jalan yang halal, jujur, rendah hati, sedikit makan dan sedikit bicara, setia terhadap guru atau syaikhnya, selalu berpuasa, memisahkan diri dari kehidupan ramai, berdiam diri di suatu ruangan yang gelap tetapi bersih, menundukkan ego dengan penuh kerelaan, menjaga mata, telinga, dan hidung dari melihat, mendengar, dan mencium segala sesuatu yang haram, membersihkan hati dari rasa dendam, cemburu, dan sombong, mematuhi aturan-aturan yang terlarang bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, seperti berhias dan memakai pakaian berjahit.

 

PENUTUP

  1. Simpulan
  2. Tauhid adalah keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada satupun yang menyamai-Nya dalam zat, sifat maupun perbuatan. Bertauhid juga memiliki implikasi lain, yakni keimanan atau keyakinan terhadap keberadaan Tuhan, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari kiamat, dan takdir.
  3. Pencarian akan keberadaan Tuhan dilakukan oleh kaum sufi sebagai bentuk penghambaan diri sebagai makhluk Tuhan. Sehingga ketauhidan yang dipegang cenderung lebih condong ke arah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya.
  4. Tarekat Syaththariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke 15, yang dinisbahkan pada Syah Abdullah al Syaththar.

Terinspirasi dari karya-karya tafsir mistis tentang ketuhanan yang dinisbatkan kepada Imam Ja’far al Shadiq, serta kisah-kisah mistis dalam kehidupan Abu Yazid al Basthami.

  1. Salah satu ajaran yang terdapat pada tarekat Syaththariyah adalah dzikir-dzikir, yang terdiri dari dzikir thawaf, dzikir nafi itsbat, dzikir itsbat faqat, dzikir ismu Dzat, dzikir taraqqi, dzikir tanazul, dan dzikir isim ghaib.
19

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Dabbana, A H. Beo Berceloteh; Tuhan Seperti Aku, Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2003.

Departemen Agama RI. al Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: Sygma Examedia Arkanleema, 2009.

Heru Kurniawan, Tauhid sebagai Esensi Estetika Sastra Sufi dalam http://herudian.blogspot.com/2008/07/tauhid-sebagai-esensi-estetika-sastra-sufi/ diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Khoirul Anwar, Berguru Tauhid pada Semar Bodroyono dalam http://media.kompasiana.com/2011/06/17/berguru-tauhid-pada-semar-bodroyono/ diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Munawar-Rahman, Budhy (ed). Ensiklopedi Nurcholish Madjid; Pemikiran Islam di Kanvas Kebudayaan, Jakarta: Mizan, 2006.

  1. Ajaran, Dzikir dan Contoh Sanad Tarikat Syattariah dalam http://mencariilahi.blogspot.com/2009/01/ajaran-dzikir-dan-contoh-sanad-tarikat/ diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Seyyed Hossein Nasr (ed), Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam; Manifestasi, Bandung: Mizan, 2003.

Shihab, M. Quraish. Wawasan al Qur’an, Bandung: Mizan, 2000.

Woodward, Mark R. Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, terj: Hairus Salim HS, Yogyakarta: LKiS, 2008.

 

[1] M. Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an (Bandung: Mizan, 2000), h. 14.

[2] Mark R. Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, terj: Hairus Salim HS. (Yogyakarta: LKiS, 2008), h. 107

[3] Budhy Mynawar-Rahman (ed), Ensiklopedi Nurcholish Madjid; Pemikiran Islam di Kanvas Kebudayaan, (Jakarta: Mizan, 2006), h. 1739.

[4] Departemen Agama RI, al Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: Sygma Examedia Arkanleema, 2009), h. 604.

[5] Ibid., h. 484.

[6] Khoirul Anwar, Berguru Tauhid pada Semar Bodroyono dalam http://media.kompasiana.com/2011/06/17/berguru-tauhid-pada-semar-bodroyono/ diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[7] Heru Kurniawan, Tauhid sebagai Esensi Estetika Sastra Sufi dalam http://herudian.blogspot.com/2008/07/tauhid-sebagai-esensi-estetika-sastra-sufi/ diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[8] A H. Dabbana, Beo Berceloteh; Tuhan Seperti Aku (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2003), h. 28-31.

[9] M. Quraish Shihab, Wawasan al Qur’an (Bandung: Mizan, 2000), h. 14.

[10] Departemen Agama RI, al Qur’an, h. 407.

[11] Ibid., h. 173.

[12] Khoirul Anwar, Berguru Tauhid, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[13] Seyyed Hossein Nasr (ed), Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam; Manifestasi (Bandung: Mizan, 2003), h. 326.

[14] Ibid.

[15] Ibid., h. 328.

[16] Ajaran, Dzikir dan Contoh Sanad Tarikat Syattariah dalam http://mencariilahi.blogspot.com/2009/01/ajaran-dzikir-dan-contoh-sanad-tarikat/  diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Departemen Agama RI, al Qur’an, h. 342.

[20] Ajaran, Dzikir dan Contoh Sanad Tarikat Syattariah, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[21] Ajaran, Dzikir dan Contoh Sanad Tarikat Syattariah, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *