Muncul dan berkembangnya Kelompok SALAFIYAH

Dwi Aprilianto, M.H.I

 

1.Latar belakang

Salafiyah merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.

Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan.

Hal ini berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap manusia, baik berupa potensi biologis maupun psikologis dan terus berkembang untuk mencari nilai-nilai kebaikan. Ilmu kalam dengan perkembangannya menimbulkan permasalaan, kemudian berkembang menjadi beberapa aliran, hal ini disebabkan karena perbedaan-perbedaan yang dimulai oleh para ulama kalam.

Disini kita tidak akan mengklaim aliran yang mana benar, akan tetapi kita akan mengali lebih dalam tentang pemikiran-pemikiran yang mereka jalani, Aliran-aliran tersebut masing-masing mempunyai landasan yang dijadikan dasar mereka dalam ber-hujjah. Baik itu Al-Qur’an maupun Hadits.

Diantara aliran-aliran tersebut adalah aliran Salafiyah yang tokohnya Ibnu Hanbal dan Ibnu Taimiyah untuk lebih jelasnya kita akan mengkaji pemikiran-pemikiran ini dari awal. Sejarah, dan tokoh-tokoh serta pemikiran-pemikirannya, yang mereka yakini. dan tentunya kita harus bisa mengambil Ibrah dari berbagai hal yang positif darinya.

 

2.Pembahasan

Dari segi bahasa salafiyah bermakna lampau dalam kamus bahsa arab salafa yaslafu bermakna yang telah lampau kaum salaf berarti  kaum yang telah lampau masanya., salafu rojulu berarti leluhur jamak dari kata salaf adalah aslaf [1]

Makna  As Salafi dalam istilah ulama . adalah orang orang yang menjaga atas dzohir nash dan mencegah atas adanya takwil, dan berserah penuh pada apa yang terdapat Dalam Al Quran dan sunnah, dan menetapkan segala sesuatu  sifat pada Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan sendiri oleh Allah dan yang di tetapkan oleh rosul. tanpa menyerupakan pada sesuatu,atau pentakwilan pada sesuatu yang lain.

Banyak beragam definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli mengenai definisi salaf dan khalaf. berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang telah kami pilih berdasarkan para ahli.Menurut Thablawi Mahmud Sa’ad, Salaf artinya adalah ulama yang terdahulu. Salaf terkadang dimaksudkan untuk merujuk pada generasi para sahabat, tabi’i, tabi’i tabi’in, yakni para pemuka pada abad ke-3 H. dan para pengikutnya pada abad ke-4 yang terdiri atas para muhaditsin dan lainnya. Salaf berarti pula ulama-ulama saleh yang hidup pada tiga abad pertama Islam.[2] Sedangkan menurut Mahmud Al-Bishbisyi dalam kitabnya yang bernama al-Firaq Al- Islamiyyah mendefinisikan salaf sebagai sahabat, Tabi;i, Tabi’i tabi’in yang dapat diketahui sikapnya dengan menampik penafsiran yang mendalam mengenai sifat-sifat Allah yang menyerupai segala sesuatu yang baru untuk mensucikan dan mengagungkan-Nya.[3]

Kalau kita membahas Salafiyah maka kita kan menemukan kesusahan dalam memahami kata ini karana tidak ada batasan dan tidak ada kerangka fikiran dan politik  dalam masa kita sekarang.

Sebagaian dari mereka  mengatakan salafiyah dan salafiyin adalah aliran yang jumud yang mengembalikan sesuatu pada asalnya .dan dalam pemikiran agama dalam hal khusus. bahwasanya salfiyah adalah aliran yang paling bebas adari pemikiran khurafat dan bidah.

Kerancauan dan tidak adanya batas tentang istilah salafiyah ini bukan tanpa alasan karana perbedaan pendapat dalam penisbahan mana salafiyah dan setiap golongan salafiyah sebenarnya apakah golongan yang menjaga kemurnian agama, yang tidak kukuh terhadap pendapatnya, bahkan memurnikan dan mengembalikan kembali islam hanya pada Al Quran dan sunnah sebagian juga mengistilahkan kata salafi pada  golongan yang memprakarsai pembaharuan dalam agama dan menganggap penting ntuk menghilangkan budaya  khurofat, bidah dan taqlid, dan dari sebagian juga menamkan dengan istilah salafu as sholih yaitu golongan yan di ikuti jejaknya dan di ikuti landasan berfikirnya pada zaman kemunduran umat islam pada waktu zaman  mamalik dan usmaniy.

Dan sebagian dari salafiyah yang mengingkari akal sebagai salah satu potensi manusia dan mengingkari adanya kekuasan akal untuk  memutuskan antara yang baik dan buruk dan membatasi hanya pada nusus saja disisi lain salafiyin juga mengagungkan kecerdasan akal dan menyanjung kekuasanya sehingga sesbagai kekuatan yang diberikan hanya kepada manusia dalam mengurusi masalah duniawi dan menjadikan nusus sebagai pedoman memahami alam ghoib yang tidak mungkin bisa di tembus oleh akal keberadaanya walaupun akal adalah sebagai alat untuk  memahami apa yang diturunkan allah  dari nusus.

Dalam kamus kamus bahsa arab tidak jauh berbeda tentang arti dri kalimat ini dari kamus lisan arab(ibnu mandzur) salaf: sesuatu yang lampau, dalam mu’jam wasith salaf :segala sesuatu yang mendahului  dari leluhur kamu baik dari segi umur atau keutamaan. Salafi : adalh sesorang yang mengembalikan hukum hukum pada Al Quran Dan Sunnah dan menjauhi selain keduanya.

Kalau kita merenungkan tentang definisai dari istilah salafi kita akan menyimpulakan  bahwasanya salafi tidak terkait dengan zaman tapi pada hubungan yang kuat tentang makna dzohir dari  dua sumber agung  yaitu Al Quran dan sunnah ,dan kita bisa menemukan tipikal golongan seperti ini sejak masa kenabian samapai pada masa kita sekarang dalam agama islam. Begitu juga yang ada dalam agama dulu seperti yahudi, nasroni,.nassiyun ,aqliyun seperti yang diulis oleh ahli sejarah.[4] Tetapi golongan ini fokus pada nusus, karana nusus  adalah sumber yang terpercaya yang kita tidak membutuhlan selain Al Quran dan sunnah,dan mencukupkan dengan hanya pengetahuan ini.

A.Timbulnya Aliran Salafiyah

 

  1. Suasana Menjelang Lahirnya Aliran Salafiyah

 

Semenjak kedaulatan Bani Umayyah di Suriah (41-133 H / 661-750) dan di Spanyol (139-423 H / 756-1031 M),[5] umat Islam mulai kemasukkan kebudayaan asing yang datang dari Persia, Yunani, India dan sebagainya, yang mana mereka mempunyai pengetahuan dan kebudayaan yang agak maju, mereka ikut membina kebudayaan Islam yang ada.[6]

Menurut Prof. Dr. Hasbi Ash-Shiddieqy, umat Islam pada masa bani Umayah sudah mulai membuka pikiran hukum-hukum agama dan dasar-dasar aqidah, serta banyaknya masuk pemeluk-pemeluk agama lain kedalam Islam yang jiwanya tetap terpengaruh oleh unsur-unsur agama mereka yang terdahulu. Dari sinilah lahirnya kebebasan berpikir dan berbicara tentang masalah-masalah agama yang selama ini didiamkan oleh ulama-ulama salaf. Timbulnya golongan yang membicarakan masalah qadar oleh tokoh-tokh qadariyah seperti Ma’bad al- Juhaini, Ghilan ad- Dimasqi dan Ya’ad ibn Dirham. Para sahabat yang semasa dengan mereka seperti Abdullah Ibnu ‘Umar, Jabir ibn Abdullah, Anas bin Malik, Ibnu Abbas, Abu Hurairah menyalahkan pendapat mereka serta menganjurkan kepada masyarakat untuk tidak mengikuti mereka.[7]

Demikian pula muncul pada masa ini orang-orang yang meniadakan qudrat dan iradat dari manusia, agar Allah tidak mempunyai sekutu dalam suatu perbuatan-Nya, dan meniadakan sifat dari Allah, golongan ini dipimpin oleh Jaham bin Sofwan , oleh para ahli dipandang sebagi tokoh pendiri aliran jabariyah, aliran ini sering pula dinisbahkan pada namanya dengan sebutan aliran jahmiyah.[8]

Menurut Thahir Abd. Muin, pada masa Mu’awiyah mulai timbul gejala-gejala yang menyimpang dari tuntunan aqidah Islam , berkembanglah di zaman ini aliran-aliran, dan faham sebagai akibat bertambah luasnya perkembangan dan pergaulan kaum muslimin , dengan bangsa-bangsa yang berkebudayaan lebih maju, seperti Mesir, India dan Persia. Nampaklah disini orang-orang Islam sudah agak longgar dan tidak begitu kokoh lagi berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadis, mereka lebih mengutamakan pendapat akal pikiran mereka, walaupun mereka menggunakan Al Quran dan al-Hadis hanya untuk memperkuat ideologinya saja, dan tidak dijadikan sumber keyakinan yang sebenarnya. Timbullah kemudian golongan yang mengingkari iman terhadap qadar.[9]

Setelah berakhirnya bani Umayyah, kedaulatan dipegang oleh dinasti Abbasiyah (132-656 H / 750-1258 M). Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah inilah puncak zaman keemasan Islam,[10]perkembangan ilmiyah dan kebudayaan sangat pesat, gerakan menterjemah buku-buku filsafat Yunani kebahasa Arab oleh orang-orang Persia yang telah memeluk agama Islam. Bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani dijadikan pegawai negeri dan mereka diminta untuk menterjemahkan buku-buku yang ditulis mereka kedalam bahasa Arab . Dari sinilah terwujudnya gerakan-gerakan yang menggunakan filsafat untuk memantapkan aqidah Islamiyah dan berwarnalah ilmu aqidah dengan warna baru yang tidak terdapat dimasa Rasulullah, sahabat dan mulailah ilmu ini dituangkan dalam tulisan yang disebut dengan ilmu kalam.[11]

Pada masa ini juga timbulnya cara bermazhab, dimana terdapat ulama-ulama yang menetapkan hukum yang diperlukan ketika itu, oleh karena berlainan cara memahami al-Qur’an dan al-Hadis yang digunakan, bahkan ada yang bertentangan satu sama lain, sehingga hasilnya pun berlain-lainan, maka timbullah mazhab fiqih dengan imam-imamnya yang diberi gelar sesuai dengan ilmunya “mujtahid mutlak”, seperti: Abu Hanifah, Malik Ibn Annas, Asy-Syafi’i, Ahmad ibn Hanbal, Auza’i, Daud Az-Zhahiri, Thaberi, Imam Ja’far Ash-Shiddieqi. Walaupun demikian para imam-imam tersebut tidak pernah memerintahkan untuk memegang pendapatnya saja dan menganjurkan untuk mencari dasar-dasar hukum yang lebih kuat serta berfikir lebih sempurna.[12]

Tatkala Bagdad diserbu oleh tentara Hulagu Khan pada pertengahan abat ke VII H atau ke XII M, suatu penyerbuan yang kejam dan merusak binasakan seluruh kebudayaan Islam yang dibangun selama berabad-abad lamanya. Mungkin pada waktu itu Hulagu Khan menggunakan ulama-ulama Islam memberikan fatwa-fatwa yang merugikan Islam , mungkin juga karena alasan-alasan lain sehingga ada ulama yang menyatakan pintu ijtihad tertutup sejak waktu itu, dan menganggap umat Islam cukup beramal dengan aturan dan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh imam-imam mazhab empat dalam urusan ibadah dan muamalat.[13] Dengan tertutupnya pintu ijtihad tertutup pulalah kemerdekaan berpikir dikalangan umat Islam, sehingga membekukan akal pikiran kaum muslimin berabad abad . Keadaan inilah yang yang menimbulkan banyak taklid, bid’ah dan tersiarlah khurafat dari zaman kezaman , yang berakibat umat Islam menjadi mundur dan tidak dapat lagi mengikuti zaman peradaban baru waktu itu. Dalam suasana diatas lahirlah gerakan yang berusaha untuk memperbaiki kembali cara berfikir dalam kehidupan umat Islam, maka lahirlah yang dinamakan orang aliran salaf yang menyatakan dirinya untuk tidak berpegang pada salah satu mazhab tertentu, dan menyerukan kepada umat Islam untuk mepersatukan mazhab-mazhabnya dan kembali kepada pokok-pokok hukum syariat Islam.[14] Dan aliran salaf ini menyerukan agar kembali kepada metode pemahaman aqidah yang digunakan oleh generasi salaf, para shahabat dan tabi’in. Mereka menyandarkan masalah aqidah hanya kepada Al Quran dan al-Hadis,dan melarang para ulama memikirkan lebih jauh dalil-dalil Al Quran.[15]

  1. As Salafiyah dalam madzhab imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal (781 – 855 M, 164 – 241 AH) adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utara Iran) di kota Baghdad, Irak. Kunyahnya Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali.

Pada waktu dimana faham muktazilah berkembang pesat kita pada masa basiyha yang dipimpin oleh Al Mutawakil karena banyak dilangsungaknya pembahsan tentang akal yang berpedoman apada akal mantiq dan perdebatan. bahkan Muktazilah dipercaya sebagai madzhab resmi Negara dan yang menyebabkan tidak harmosnisnya hubungan ketika  pembahasan tentang sifat penciptaan Al Quran, yang menguji Imam Ahmad bin Hanbal dan para pengikutnya.dan

Imam Ahmad bin Hanbal  adalah orang  yang tidak menyukai mempatkan porsi pikiran dalam memahami agama, dan perdebatan yang tidak menghasilkan sesuatu sama sekali dan bahwasanya hakikat  hanya ada pada  Al Quran lalu di tegaskan dalam sunnah dan seorang muslim harus patuh dan tunduk, dan mengamalkan apa yang telah diwajibkan, dan beliau berpendapat bahwasanya perbedaan dalam agama hanya akan menimbulkan pertikaian Dan memperlemah  amal dan mematikan sinar iman  yang ada pada hati.

  1. Imam Ahmad bin Hanbal tentang Iman

Kita ketahui bahwanya iman kadan bertambah kadang juga berkuarang iman, sesorang akan keluar dari iman ke islam apabila meklakukan suatu dosa,apabila seorang itu telah tobat maka dia kan kembali pada derajat iman dan tidak akan keluar dari islam kecualai sudah syirik atau mengingkari kewajiban yanag telah ditetapkan oleh allah.dan apabila meninggalkanya hanya karna mals dsn meremehkanya maka tergantung kehendak allah apbila berkehendak men adzabnya atau mengampuninya.[16]

Tidak diragukan bahwaanya pendapat Imam Ahmad bin Hanbal tentang  hakikat iman ini adalah bantahan  yang jelas bagi semua golongan semasanya menjelaskan iman dengan konsep yang berbeda beda. Ini membantah golongan Jahmiyah bahwasanya iman adalah hanya sebagai sebuah makrifah walaupun tanpa bersamaan dengan amal, begitu juga bantahan atas teori yang menyatakan bahwasanya amal adalah bagian dari hakikat iman, dan orang yang melakukan dosa besar  maka dia keluar dari iman itu sendiri tapi tidak dianggap kafir tapi bertempat antara manzilah diantara iman dan kufur seperti pemahaman yang di usung oleh golongan muktazilah begitu juga suatu bantahan bagi golongan yang mengatakan orang yang berdosa besar tidak disebut sebagai orang mukmin tetapi munafiq atau disebut kafir seperti yang dikatakan oleh orang Khowarij

Kita bisa mengetahui disinilah Nampak jelas bagaimana Salafiyah  berada di tangan Imam Ahmad bin Hanbal, adalah suatu gambaran tentang metode asli  yang berlandaskan apa yang ada dalam Al Quran dan sunnah, dengan pemahamn yang detail untuk menghadapai pendapat pendapat keyakinan yang yang berlandaskan atas ijtihad ijtihad yang bukan berasal dari sumber asli Al Quran dan Sunnah

  1. Imam Ahmad bin Hanbal dalam hal kekuasaan dan pekerjaan manusia

Qodar : ridho dan menerima atas segala ketentuan yang dating dari Allah baik atau buruk adanya ketentuan itu dan pasrah terhadap perintahnya, sabar atas hukum hukumnya berlandaskan atas perkataan Allah dalam Al Quran

@è% `©9 !$uZu;‹ÅÁムžwÎ) $tB |=tFŸ2 ª!$# $uZs9 uqèd $uZ9s9öqtB 4 ’n?tãur «!$# È@ž2uqtGuŠù=sù šcqãZÏB÷sßJø9$# ÇÎÊÈ

 

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami. dialah pelindung kami, dan Hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Apabila penyerahan mutlak atas kehendak Allah yang menimpa pada seorang mukmin maka seperti itulah adalah sebagai jalan yang benar, dan permasalahan tentang Qodar adalah hal yang rahasia yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, orang yang ingin melihat Qodar Allah sama seperti dia melihat pada sorotan matahari ketika dia memaksakan diri untuk melihat maka dia akan mendapatkan sorotan yang lebih tajam dan keburaman dalam penglihatanya, seperti yang dikatakan oleh Abu Hanifah”masalah tentang Qodar adalah masalah yang sangat sulit difahami oleh manusia, ada yang mengatakan bahwasanya masalah ini adalah terkunci yang hilang kuncinya barang siap ayang mendapatkan kuncinya maka dia dapat mengetahui apa yang ada didalamnya. Dan tidak akan dapat terbuka kecuali mendapatkan petunjuk dari Allah tentang hal hal apa yang terkandung di dalamnya”.[17]

Tentang amal perbuatan manusia Imam Ahmad bin Hanbal berkeyakinan bahwasanya sesuatu yang keluar dari manusia dari segi iktiyari adalah merupakan kehendak dan kekuasaan  allah dengan ini Imam Ahmad bin Hanbal berbeda dengan Qodariyah yang berpendapat bahwasanya manusia bebas dalam menentukan perbuatanya, Allah menyuruh untuk berbuat kebaikan dan meridhoinya dan menlarang untuk berbuat jelek dan membencinya dan Allah menghukumnya, dan ilmu Allah meliputi semua hal dan kekuasaan Allah berkuasa atas segalanya begitu juga kehendak allah tak terbatas, apabila dikatakan menyalahi dari sifat umum diatas seperti allah tidak mengetahui, tidak  berkuasa. tidak berkehendak, maka akan bertentangan dengan sifat allah ini adalah cacat yang tidak patut bagi Allah.pendapat Qodariyah adalah kurang fahamnya tentang kehendak dan perintah sehingga berpendapat bahwasanya Allah tidak berkehendak pada maksiat dan tidak mentakdirkanya karena Allah tidak menyuruh untuk berbauat maksiat maka dari itu kehendaak dan perintah menurut Qodariyah harus bersamanan.

Ini adalah pemahaman yang salah menurut pandangan imam Ahmad bin Hanbal karena  segala sesuatu yang ada ketetapanya dalam Al Quran  dan sunah tidak membutuhkan atas dalil tambahan, Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwasanya memperpanjang pembahsan adalah bid’ah yang dibuat oleh ahli kalam dan Imam Ahmad bin Hanbal menulis buat sahabatnya”saya bukan ahli kalam dan saya tidak tahu menahu tentang kalam ,kecuali yang ada dalam Al Quran dan sunnah dan yang selain itu adalah ucapan yang tidak baik.[18]

  1. E. Imam Ahmad bin Hanbal tentang sifat Allah

Secara sederhana Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwasanya nama nama Allah adalah sesuatu yang khusus, bersifat azaliyah sebelum segala sesuatu diciptakan seperti maha pencipta maha menghidupkan dan maha mematikan dan tidak membedakan antara sifat dzat dan sifat fi’il  Imam Ahmad bin Hanbal berkata”barang siapa yang berkata bahwasanya Allah belum mempunyai sifat sehingga ada sesuatu yang mensifatinya maka dengan itu dia telah keluar dari agamanya seperti perkataan bahwa tidak satu sehingga ada yang menamainya dengan satu ini adalah perkataan yang rusak.[19]

  1. Imam Ahmad bin Hanbal tentang Takwil dan Qiyas

Aliran salafiyah menolak tentang adanya takwil yang berarti mengalihkan makna dzohir ayat, pada makna yang terkandung didalamnya mereka berpendapat bahwasanya metode takwil lah inilah yang merusak agama dan meubah dari keistikqomahan suatu agama.

Salafiyah juga menolak akan adanya istilah”dzauq” dari kaum shufi  karna ini berbeda karna perbedaan antar seorang shufi dengan shufi lainya tentang sesuatu yang di cintai dan di inginkanya dan mengingkari konsep shufi tentang pembagian antara syariat bagi orang lain dan hakikat  bagi mereka dan untuk menggapainya dengan adalah dengan teori riyadhoh dan suluk, tidak terikat dengan aturan syariat dan mencukupkan diri dengan intuisi”karana nusus adalah sumber dari perintah dan larangan dari allah.[20]

Tentang pendapat seputar Qiyas salafiyah menerima sisi sisi dari metode Qiyas tetapi mereka mengeruarkan konsep Qiyas ini dari faham mereka, seperti mereka menerapakan syarat syarat yang mempersempit makna Qiyas itu sendiri, mereka menganggap bahwa Qiyas, sebagaimana merka tidak menganggangap fungsi akal dalam tataran nash.

Tetapi apabila maksud dari Qiyas itu”mengembalikan sesuatu pada teori dasarnya”maka mereka menerima Qiyas itu. Persamaan tentang kedua masalah yang diqiyaskan harus sempurna dari berbagai hal seperti yang dikatakan oleh imam Ahmad bin Hanbal, “qiyas ialah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang harus  sama dalam segala hal dan apabila sama disatu sisi dan berbeda di sisi lain dan ingin mengqiyaskanya maka Qiyas tersebut adalah salah”.[21]

Imam Ahmad bin Hanbal adalah pencetus metode salafiyah nususi yang menjadi landasan umat islam baik dalam segi ushuliyah ataupun furuiyah dan sebagai bantahan terhandap metode ilmu kalam dari golongan Muktazilah yang menjadikan akal dan takwil sebagai tolak ukur untuk memahami nash, banyak terdapat ayat yang saling bertentangan dan akal dan qiyas tidak dapat menyelesaikan karena perbedaan riwayat tentang kedua ayat  tersebut seperti tyang di ibaratkan oleh Ibnu Qoyim” apabila shohabat berbeda pendapat tentang dua qoul yang berbeda maka shohabat akan datang pada Ibnu Hanbal tentang riwayat dua qoul tersebut.[22]

Ajaran pokok pada manhaj nususi yang di usung oleh Imam Ahmad bin Hanbal adalah lima hal seperti yang di ceritakan oleh imam Ibnu Qoyim berikut ini

1.Nusus : apabila ditemukan nash maka harus mengambil fatwa dari nash tersebut.dan tidak boleh berpaling pada orang yang berbeda dari nash ataupun sesuatu yang berbeda dari nash tersebu,t maka harus mengambil nash ini sebagai hukum

  1. Fatwa Shohabat : apabila diantara shohabat mengeluarkan fatwa, dan tidak ada yang berbeda pendapat tentang fatwa itu maka harus didahulukan dari hasil pemikiran atau qiyas.
  2. Perbedaan dari Shohabat :apabila ditemukan perbedaan antara Shohabat maka dipilih yang lebih mendekati Al Quran dan sunnah dan apabila tidak ditemukan titik temu diantara perbedaan maka dianggap khilaf, tidak wajib mengambil salah satu qoul tersebut
  3. Hadis Mursal dan Hadis Dhoif: diambil sebagai hokum apabila tidak ada sesuatu yang menolak dan mencegah dari hukum yang diambil dari hadis Dhoif tersebut maka lebih diutamakan dari qiyas

5.Qiyas : apabila permasalahan  tidak terdapat dari nash,perkataan shohabatatau salah satu shohabat atau dari Hadis Mursal atau Dhoif maka boleh menggunakan Qiyas karena dhoruroh.[23]

Tetapi tidak ada penjelasan yang pasti tentang nahs yang terpercaya yang di sandarkan pada imam Ahmad bin Hanbal dalm pembahasan ini.dan banyak perbedaan diantara ulama tentang ini maka disini akan menyebutkan takwil yang disandarkan pada Imam Ahmad bin Hanbal, dan kita akan mengambil dari segi umum prinsip imam ahmad tentang hal ini

  1. Ibnu Hazm mnagatakan yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam mentakwilakn ayat “وجاء ربك ” bermakna datangnya perintah dzat bukan datangnya dzat,[24] dengan ini bahwasanya Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan takwil
  2. Imam Ibnu Taimiyah menceritakan bahwasanya imam Ahmad bin Hanbal berkata tentang sesuatu yang mempunyai banyak arti di dalamnya.dan imam ahmad mertarjihkan antara satu dengan yang lainya dengan menggunakan dalil dalil yang ada dalam semua masalah ilmu ilmu ushuliyah atau furuiyah.[25] Dan maklum bahwasanya tarjih tidak digunakan kecuali ada nash yang muskil dan ada pemaknaan lain dibaliknya, dan kita tidak mungkin membebaskan teori akal untuk memahaminya, karna akan diurutkan sesuai dengan dalil yang bertentangan imam Rozi mennuturkan hikayah dari Imam Ghozali bahwasasanya imam Ahmad mentakwilkan sebagian dari hadis [26]

Dari periwayatan diatas kiata mengetahui metode yang dipakai oleh imam Ahmad bin Hanbal adalah metode yang berpegang teguh pada nash, apabila tidak ada dalam  dzohir nash sesuatu yang muskil. apabila terdapat kemuskilan maka butuh pada takwil yang membutuhkan peran akal untuk itu tapi dengan batasan yang dibolehkan bahasa dan diketahui oleh akal sehat.

Di pihak lain golongan lain yang menisbahkan pada imam Ahmad bin Hanbal ahmad bahwasanya imam Ahmad tidak mengatakan tentang takwil tetapi terlihatt dari sikap mereka yang ingin menutupi metode yang mereka gunakan bahwasanya mereka menolak tentang takwil.tetapi Ibnu Hazm menyebut mereka dengan seahabat yang bodoh atau mereka tidak faham tentang metode yang digeunakan imam mereka.[27]

  1. Tentang Penciptaan Al Quran

Permasalahan tentang  perbedaan pendapat tentang Qodimya Al Quran atau Hudusuhu? akan diterangkan singkat dari pendapatya Imam Ahmad bin Hanbal tentang hal ini seperti di ucapkan lafadz Al Quran tetapi terkandung  dua makna di dalamnya

  1. Kalamullah yang qodim yang ada bersama dengan dzat Allah sifat nafsiyah yang tetap ada pada Allah yang patut dengan kesempurnaanya dan meniadakan sesuatu yang berkebalikan denganya.
  2. Bacaan dan tulisan atau suara dan huruf yang di ibaratkan oleh Imam Bukhori”faal al abdu bi Al Quran” yaitu dengan menggunakan makna yang pertama Al Quan Qodim bagi yang berpendapat qodimnya sifat dan tetapnya dzat adapun makna yan kedua terdapat khilaf , yang akan kami jelaskan pendapat imam Ahmad bin Hanbal tentang ini. kita tidak akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang sikap imam Ahmad bin Hanbal tentang hal  ni sebelum kita mengetahui pendapat orang orang yang berseberangan dengan imam Ahmad. Kholifah Makmun berkata di dalam risalahnya “mayoritas dari pemimpin dan orang umum yang tidak punya analisis atau periwayatan dan mereka bodoh atas hakikat agama dan tentang Qowaid tauhid maka dari itu mereka bersepakat bahwasanya Al Quran adalah bukan makhluk, dan menyamakanya dengan  Allah dalam sifat

Dan pendapat Imam Ahmad tentang hal ini jelas ketika ditanyakan kepadanya tentang Al Quran,dia menjwab dikala terus ditanya lagi apakah Al Quran itu makhluk, dia menjawab  bahwasanya Al Quran adalah kalam Allah dan saya tidak menambah pengertian lain selain itu terus di tanyai lagi apa makna dari kalam Allah Samiun Bashir, Dia seperti dia mensifati diriNya sendiri, apa maknaya? dia menjawab saya tidak tahu.Dia yang mensifati diriNya.[28]

  1. Imam Ahmad tentang Masalah rukyah

Permasalahan tentang hukum melihat Allah dengan mata di akhirat yang di tolak oleh golongan Muktazilah karna melihat allah adalah penggambaran dari jismaniyah mereka berpendapat dengan idroku qolbi yang tanpa menggunakan perantara material mereka mentakwilakan nusus yang berbeda dengan pendapat mereka agar sesuai dengan metode umum, mereka menggunakan takwil daripada memahami secara dzohir apabila dalam nash dzohir besebrangan dengan akal

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal bahwa rukyah adalah sesuatu yang terjadi dan benar  tanpa menjelaskan tentang cara rukyah karna ini masuk dalam ranah sesuatu yang ghoib yang mana akal tidak bisa untuk menjangkaunya ini adalah inti dari metode salafi yang di contohkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

  1. Ibnu Taimiyah dan konsep teologinya

Ahmad Taqiyuddin Abu Abbas bin Syihabuddin Abi Mahasin Abdul Halim bin Mujiddin Abi Barakat Abdus Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Qasim al- Khudri bin Ali bin Abdullah.

Dalam konsep teologi, Ibnu Taimiyah membagi menjadi tiga bagian:

  1. Tauhîd al-Rububiyah

Adalah bentuk pengesaan kepada Allah SWT. dalam tiga hal yang meliputi penciptaan(al-khalq) , kepemilikan (al-mulk), dan pengaturan (al-tadbîr). Dalam hal ini hanya Allah yang menciptakan alam semesta dan semua perlengkapannya dan hanya Dialah yangmemiliki semua isi alam ini, tidak ada ciptaan sekecil apapun kecuali Dialah yang memilikinya. Lebih dari itu, Dia juga yang mengatur semua keharmonisan, keserasian, dan keselarasan alam semesta ini.

  1. Tauhîd al-Ûlûhiyah

Tauhid ini merupakan bentuk pengesaan terhadap Allah SWT. dalam bentuk ibadah, dengan seorang hamba tidak akan melakukan penyembahan kepada selain Allah SWT. dengan membersihkan segala sekutu dari-Nya. Dialah Dzat yang berhak untuk disembah, diagungkan dan dibesarkan nama-Nya.

Dalam dua tauhid yang pertama ini, Ibnu Taimiyah membedakan antara kalimat “al-Rab” dan “al-Ilah” yang sebenarnya mempunyai kesamaan arti, yaitu Tuhan. Menurut beliau kedua kalimat yang bersinonim ini mempunyai arti yang sangat beda; “al- Rab”bermakna Dialah dzat yang menciptakan hamba-Nya dan memberikan semua ciptaan-Nya kepadanya serta mengatur dan menunjukannya pada jalan-Nya yang lurus (al-Shirâth al-Mustaqîm). Sedangkan kalimat “al-Ilah” bermakna Dialah dzat yang berhak untuk dituhankan dan disembah dengan rasa cinta, pasrah, penghormatan dan pengagungan, tiada sekutu bagi-Nya[29]

3.Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat

Para ulama sepakat, baik salaf maupun khalaf tentang dua tauhid yang pertama, walaupun mereka berbeda pada istilah yang dipakainya. Berbeda sekali dengan jenis tauhid yang ketiga, yang telah dirumuskan oleh Ibnu Taimiyah tentang nama-nama Allah . dan sifat-sifat-Nya. Beliau sangat berbeda dengan kebanyakan ulama kalam dan filosof (ulama khalaf) dalam memberikan dan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Menurut beliau, nama-nama dan sifat-sifat Allah telah ditetapkan-Nya dalam Al Quran sebagaimana Dia menamai dan mensifati diri-Nya sendiri dengan tanpa penta’wilan, penyamaan dengan ciptaan-Nya, dan tanpa harus dihitung dengan bilangan

yang sangat terbatas, delapan, sepuluh, dua puluh, atau bahkan menafikannya. Hal tersebut sangat bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan Allah , dengan manafikan atau mambatasi nama atau sifat-Nya tersebut berarti mengurangi kebesaran dan kesempurnaan-Nya. Dialah Tuhan yang maha sampurna dan disucikan dari segala kekurangan. Imamibnu taimaiyah mengatakan ,bahwa penjelasan tentang sifat allah sama dengan penjelasan tentang dzat Allah,sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang meyerupai Allah, tidak dalam dzat atau sifatnya.atau af’al Nya apabila Allah mempunyai dzat haqiqi maka tidak ada dzat yang menyerupainya ,dan dzat yang di sifati dengan sifat makta tidak ada sifat yang menyerupai sifat Allah.[30]

 

Ibnu Taimiyah mengklasifikasikan ulama khalaf dalam memahami dan menetapkan sifat

Allah menjadi 4 golongan, yaitu:

  1. pertama, yaitu golongan yang tidak mau mensifati Allah dengan ada (wujud) atau tidak ada (‘adam), karena dalam keyakinan mereka, jika Allah disifati dengan ada,maka itu menyerupakan dengan sesuatu yang ada (maujud). Golongan Begitu pula sabaliknya,maka menyerupakan-Nya dengan sesuatu yang tidak ada (ma‛dum), itu adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi Allah, karena Dia dinafikan dari segala persamaan.
  2. Golongan kedua, adalah golongan yang mensifati Allah dengan nafi, tetapi tidak mensifati dengan antonimnya (itsbat); Dalam pengertian mereka mencabut atau menafikan sifat Allah, tatapi mereka tidak menetapkan sifat untuk-Nya. Mereka berkata: “Kami tidak berkata Allah ada, tetapi Dia, bukan tidak ada. Kami tidak berkata Allah hidup, tetapi Dia tidak mati, dan seterusnya”. Hal ini terjadi, karena dalam asumsi mereka, jika ditetapkan nama atau sifat bagi-Nya, maka terjadi penyerupaan dengan ciptaan-Nya.
  3. Golongan ketiga, adalah golongan yang menetapkan nama-nama Allah tanpa menetapkan sifat-sifat-Nya. Mereka berkata: “Allah Maha Melihat, Mendengar, Mengetahui, dan seterusnya, tetapi Dia melihat tanpa penglihatan, Dia mendengar tanpa pendengaran, Dia mengetahui tanpa pengetahuan, dan seterusnya”.Mereka adalah golongan Mu’tazilah.
  4. Golongan keempat, adalah golongan yang menetapkan sembilan puluh Sembilan nama Allah, tetapi mensifatinya dengan sifat yang sangat terbatas, yang sesuai dengan akal dan mengingkari yang lain yang tidak sesuai dengan akal. Mereka adalah golongan Asya’irah yang menetapkan sifat Allah dengan delapan sifat, yaitu: hidup (hayat), bicara (kalam), melihat (bashar), mendengar (sam’), berkehendak (iradah), mengetahui (‛ilm), dan mampu (qadar).

Keempat golongan ini, menurut Ibnu Taimiyah adalah golongan ahli bid’ah[31] yang sangat berlebih-lebihan (Ahl al-Zaigh) dalam mengesakan Allah, yang mengakibatkan penafian terhadap hak-hak-Nya. Mereka tidak mencapai derajat kekufuran, karena mereka hanya terperangkap dalam perdebatan filosofis dan logik dalam masalah-masalah teologik.[32]

3.Kesimpulan

Kebenaran tidak diukur dengan orang, tetapi oranglah yang harus di imbangi dengan kebenaran. Inilah timbangan yang benar. Meskipun kedudukan dan derajat seseorang dapat berpengaruh bagi diterimanya perkataannya, akan tetapi itu bukan tolak ukur kebenaran sama sekali.

Untuk memahami latar belakang perkembangan, pemikiran dalam masyarakat islam, tentu salah satu cara yang bias kita gunakan adalah dengan melihat materi-materi agama yang menjadi konsern umat islam. terutama semua materi yang menjadi konsern umat islam dinyatakan merujuk pada Al Quran dan hadis.

Salaf bukanlah suatu “harakah”, bukan pula manhaj hizbi (fanatisme golongan), dan bukan pula manhaj yang mengajarkan taklid, kekerasan. Tetapi manhaj Salaf adalah ajaran Islam sesungguhnya yang dibawa oleh Nabi SAW dan difahami serta dijalankan oleh para salafush-shalih-radhiyalahu ‘anhum, yang ditokohi oleh para sahabat, kemudian oleh para Tabi’in dan selanjutnya Tabi’i Tabi’in.

Periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf Ash-Shalih. Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Zahrah, Muhammad, Ibnu Tamiyah; hayatuhu wa asruhu, ara’uhu wa fiqhuhu Kairo: Dar al- Fikr al- Araby, 2000

Abu Zahroh , Muhammad, Ahmad Bin Ibn Hanbal cairo darAl Fikr Arobi, tt.

Abdul Muin, Thahir, Ilmu Kalam. Jakarta: Wijaya. 1973.

Ar Rozi.Fakhruddin, Asasu At Taqdis. Cairo: tt.

Al Jauziyah .Ibnu Qoyim. i’lam muwaqiin, Beirut 1973

Al Jauziyah, Ibnu Qoyim, Manaqib Imam Ahmad Cairo tahun 1349 H

Ash-Shiddieqy, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973

Ashohah Fi Al Lughoh Wa Al Ulum Beirut, Dar Hadoroh Arobiyah 1974

As Syahrostani, Muhammad Abdul Karim Bin Abi Bakar Ahmad, milal wa la nihal     (cairo ,1956 M )

At Tamimi, Abu Fadhol ,Aqidah Imam Ahmad vol II Tobaqoh Hanabilah

At Thobari, Tarikh Imam Wa Al Muluk cairo  1326 H

Baker Aceh , Abu , salaf: Islam dalam masa murni, Ramadhani, Solo,1986,

Ensiklopedi Islam, Jakarta, PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997

Ibnu Hazm , Ahmad,  Al Fasl ,cairo 1321 H

Ibnu Taimiyah,Taqiyuddin Ahmad al-Harrany. Risalah Ubudiyah Beirut ,Dar Fikr tt

Ibnu taimiyah, tafsir surat al ikhlas Cairo Dar Tobaah Muhamadiyah 1395

Ibn Taimiyah, Taqiyuddin Ahmad al-Harrany, Majmu‛ah Fatawa, vol. 1, diedit oleh آmir al-Jazzar dan Anwâr al-Bâz, Dar al-Wafa’, Manshûrah cet. II, 2001

Jamrah , A.Suryan, Sejarah Pemikiran Dalam Islam. Teologi/Ilmu Kalam, Jakarta, Pustaka Antara, 1996

Muhyiddin, Abdul.Muthalib, Risalah Ushuluddin, Pengantar dan Sejarah Ilmu Kalam, Amuntai, Warga Rakha, 1967

 

[1]  Ashohah Fi Al Lughoh Wa Al Ulum  (Beirut, Dar Hadoroh Arobiyah 1974 Cet I) Vol I Hal 603 – 604,

[2]  Thablawy Mahmud Sa’ad, At-tashawuf ibn Taimiyah.( Mesir, Al hai Al hadits Al mishriyah Al Ammah li Al kitab,1984),Hal.11-38.

[3] Abu Bakar Aceh, salaf: Islam dalam masa murni,(Solo, Ramadhani, 1986), Hal.25.

[4]  Muhammad Abdul Karim Bin Abi Bakar Ahmad As Syahrostani, milal wa la nihal (cairo 1956 M ) vol I hal 215

[5]  Ensiklopedi Islam, , (Jakarta, PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), Vol. 5  h. 133

[6]  Abd.Muthalib Muhyiddin, Risalah Ushuluddin, Pengantar dan Sejarah Ilmu Kalam,( Amuntai, Warga Rakha, 1967), hal 35.

[7] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam,( Jakarta, Bulan Bintang, 1973). Hal. 15

[8]  Ensiklopedi Islam, Vol.2, h.293.

[9]  Thahir Abd. Muin, Ilmu Kalam,( Jakarta, Wijaya, 1973), hal 205

[10] Ensiklopedi Islam, Vol.1, ,hal15

[11] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam, hal 18

[12] Abu Bakar Aceh, Salaf Muhji Atsaris Salaf Gerakan Salafijah di Indonesia, (Permata, Jakarta, 1970). hal.7

[13] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973. h. 18

[14]  Abu Bakar Aceh, Salaf Muhji Atsaris Salaf Gerakan Salafijah di Indonesia. h.7

[15] A.Suryan Jamrah, Sejarah Pemikiran Dalam Islam. Teologi/Ilmu Kalam, (Jakarta, Pustaka Antara, 1996) hal. 39.

[16] Ibnu Jauzi,Manaqib Imam Ahmad ( kairo 1349 H) hal 168

[17] Abu Zahroh, Ahmad Bin Ibn Hanbal (kairo dar fikr arobi, tanpa tahun), hal 129

[18] Ibnu Jauzi,Manaqib Imam Ahmad ( kairo tahun 1349 H ) hal 168

[19] Abu Fadhol At Tamimi, Aqidah Imam Ahmad ,vol II hal 293

[20] Ibnu Taimiyah, Risalah Ubudiyah hal 567.568 (Beirut Dar Fikr)

[21] Ibnu Qoyim. i’lam muwaqiin, beirut 1973 vol I hal 269

[22] Ibid hal 137

[23] Ibnu Qoyim. i’lam muwaqiin vol I hal 29

[24] Ibnu Hazm , Al Fasl .( cairo 1321 H) vol II hal 122

[25] Ibnu taimiyah, tafsir surat al ikhlas (Cairo Dar Tobaah Muhamadiyah 1395) hal 137

[26] Fakruddin Ar Rozi. Asasu At Taqdis ( cairo 1935 M )hal 81

[27] Ibnu Hazm , Al Fasl ,vol II hal 125

[28]  At tobari, Tarikh Imam  Wa Al Muluk ( cairo  1326 H )vol 10 hal 288

[29] Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah al-Harrany, Majmu‛ah Fatawa, vol. 1, diedit oleh آmir al-Jazzar dan Anwâr al-Bâz, Dar al-Wafa’, Manshûrah cet. II, 2001, hal.  21

 

[30] Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah al-Harrany ,Risalah Tadmiriyah  hal 27

[31] Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah al-Harrany, Majmu‛ah Fatawa, vol. 1, hal 16

[32] M. Abu Zahrah, Ibnu Tamiyah; hayatuhu wa asruhu, ara’uhu wa fiqhuhu (Kairo: Dar al- Fikr al-Araby, 2000 )hal 209

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *