Teologi Sosial; Sebuah Keniscayaan Keberagamaan Islamis Berbasis Kemanusiaan

Oleh: Alwi Bani Rakhman, M.H.I.,S.Th.I[1]

 

Abstrak

Islam merupakan agama yang membawa kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam. Kehadirannya bak peta bagi para pelancong yang digunakan untuk dapat menemukan tujuan akhir yang hendak dicapai. Perkembangan pemahaman Islam, tidak dapat dipungkiri, secara historis terurai ke dalam berbagai warna. Islam yang sejatinya ‘murni’ untuk mengEsakan Tuhan, Allah Swt, mengalami berbagai tahap ke’bumi’an yang konsekuensinya tercampur dengan persoalan kemanusiaan. Teologi dalam hal ini yang notabene sebagai pelopor wacana ketuhanan menjadi salah satu terma pokok dalam diskusi keagamaan Islam juga ikut mencuat pengaruhnya. Fenomena historis mengenai perdebatan teologis yang cukup sengit dalam diskursus agama Islam diantara Mutakallimin dalam diskusi kali ini mendapat sorotan tajam bagi kalangan cerdik cendekia Muslim modernis karena dipandang tidak mampu lagi menampung jawaban permasalahan yang bersifat antroposentris. Alasannya konkret, teologi yag selama ini dipelajari hanya berbicara mengenai masalah ‘langit’ (teosentris) dan hampir tidak pernah ‘turun ke bumi’. Karenanya dimunculkan wacana baru yang menggagas konsep teologi yang selain berpijak pada nilai-nilai ketuhanan, namun juga mampu diaktualisasikan ke dalam ranah kemanusiaan, yaitu Teologi Sosial. Sehingga diharapkan ia mampu menjadi solusi atas problem kemanusiaan yang marak saat ini, semisal ketidakadilan, kekeraasan, terorisme dan sebagainya.

Kata kunci: teologi, teologi sosial, teosentris, antroposentris

 

Pendahuluan

Secara keseluruhan prinsip Islam bertumpu pada tauhid. Hal inilah yang merupakan inti atau ruh Islam. Dengan kata lain tauhid merupakan konsep sentral dan sangat fundamental dalam Islam. Tauhid secara kebahasaan berarti keesaan atau kesatuan. Dimaksud keesaan di sini adalah keesaan Tuhan. Ulama menyebutkan bahwa pengertian tiada Tuhan selain Allah adalah tiada yang layak disembah selain-Nya, ketundukan hanya tertuju pada-Nya. [2]

Selama ini konsep tauhid dan aqidah Islam dipahami hanya dalam kisaran ranah ketuhanan, teosentris. Ia tidak pernah dilihat dalam perspektif kemanusiaan, antroposentris. Sehingga kerap bersifat metafisis-spekulatif. Artinya tidak pernah menyentuh dimensi realitas, dalam pengertian empirik. Pemahaman seperti ini perlu dikoreksi kembali. Melihat banyaknya pemahaman ketuhanan yang dipahami, namun pada saat yang sama tidak dapat merubah perilaku kaum Muslim.

Menilik sejarah, secara umum memang disyariatkannya agama Islam adalah untuk menegakkan keadilan sosial sebagai prasyarat terwujudnya kemaslahatan.[3] Muhammad Saw sebagai pembawa risalah, dilaporkan, merupakan sosok yang menentang penindasan. Muhammad saw, sekaligus konteks kali pertama Islam diturunkan, hidup dalam keadaan sosial kemanusiaan yang carut-marut. Tidak heran faktor inilah yang menjadi salah satu agenda utama Muhammad saw atau Islam, yaitu untuk memperbaiki akhlak manusia, antara ain dengan melawan penindasan dan menentang ketidakadilan serta menciptakan tatanan masyarakat egalitarian. Karena hanya ketakwaanlah yang membedakan derajatnya di hadapan Sang Khaliq, Allah Swt.

Kemudian memperhatikan sejarah dan perkembangan ilmu kalam sebagai pelopor pengkajian terma-terma ketuhanan, maka tidak dapat disangkal bahwa hal ini antara lain muncul pada masa saat menggemanya filsafat Yunani sebagai salah satu manifestasi pengejahwantahan akal dan atau rasio nomor wahid. Di satu sisi, meskipun pengaruh Yunani dalam memperkaya khazanah budaya dan peradaban Islam cukup signifikan. Namun di sisi yang lain baik secara implisit maupun eksplisit, telah menjauhkan umat dari semangat membela dan mengaktualisasikan al-Qur’an secara utuh. Ironisnya, ia hanya dijadikan tidak lebih dari sekedar alat legitimasi, pembelaan diri terhadap kebenaran kelompok masing-masing.[4]

Jika generasi awal Islam telah mewariskan problema teologis yang diangkat dari kehidupan praksis, kaum Mutakallimun selanjutnya melulu tertarik dengan tema-tema yang kurang memiliki implikasi-implikasi praksis.[5] Diskursun teologi Islam saat itu masih sangat kental dengan hal-hal yang bercorak ‘melangit’, bersifat teologis-filosofis, dan terlalu sibuk dengan perdebatan dan wacana yang bersifat teosentris; Apakah Tuhan itu sifat atau zat? Apakah Tuhan berkehendak mutlak atau terbatas? Apakah al-Qur’an Qadim atau Hadis dan sebagainya. Sebab objek kajian Islam tidak hanya terhenti pada amaliah bidang aqidah, tetapi bagaimana mereka berperilaku dalam tatanan praktis. Hal ini berarti bahwa ilmu tentang aqidah Islam juga menjangkau fakta empiris yang dimunculkan berdasarkan kesadaran bertuhan dalam diri pengamalnya.

Lebih jauh lagi, Islam sebagai media pembebas dalam menentang ketidakadilan sosial merupakan hal yang tidak ahistoris. Konsekuensi dari konsep teologi model ini, Islam tidak semata pemahaman yang mengawang, melainkan suatu suatu konsep praktis yang menyangkut seluruh institusi-institusi yang dilahirkannya. Dari perspektif ini, memahami konsep Islam sebagai agama monoteis serta fungsinya, seperti sosial, spiritual, moral, politik menjadi membumi.[6].

Hanya saja semangat pembebasan tersebut seakan kehilangan maknanya, ketika Islam dijadikan sekadar urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan keadilan sosial. Konsekuensi logisnya, Islam hanya merupakan menjadi obat mujarab bagi  keselamatan pribadi. Sehingga Islam dewasa ini ditangan pemeluknya menjadi apatis, ahistoris, dan apolitis. Semua ketimpangan di dunia ini merupakan kehendak Tuhan., dengan jargon ‘Tuhan sudah mengatur segalanya’. Yang tersisa bagaimana caranya agar mendapatkan keselamatan di akhirat; melulu bersifat eskatologis—dalam arti terlepas dalam kehidupan duniawi. Kemiskinan yang melanda disebabkan kemalasan seseorang berusaha, ‘ini takdir Tuhan, tidak ada yang bisa diperbuat oleh manusia’, fatalistik.

Bias-bias tersebut sangat banyak bersumber dari pemahaman keberislaman bersifat metafisis-spekulatif. Segala syariat yang ada bertujuan untuk kebaikan Tuhan, bukan kebaikan manusia. Dengan kata lain ritual keberislaman jauh dari dimensi kehidupan sosial. Pemahaman keberislaman seperti ini patut dipertanyakan. Pada tingkat ekstrimnya, lebih baik kubur saja Islam bila tidak membawa manfaat dalam ranah kehidupan sosial.

Pembacaan pemikiran teologis seperti ini yang menjadi problem utama kita kali ini. Konsep penerapan teologi tidak pernah termanifestasikan dalam tataran praksis. Persoalan yang diangkat Mutakallimun hampir tidak menyentuh aspek kehidupan nyata manusia sehari-hari, seperti masalah demokrasi, Hak-hak Asasi Manusia, ketidakadilan, konflik agama dan pluralitas, teririsme dan sebagainya. Menyadari kondisi objektif ini, sudah saatnya diskursus teologi Islam beralih pada paradigma baru yang memaknai Tuhan dengan berbagai atributnya dalam konteks ke-‘Bumi’-an.

 

Melacak Antroposentrisitas dalam Teologi Islam

Teologi, sebagaimana diketahui, membahas mengenai ajaran-ajaran pokok suatu agama. Secara etimologis, ia berasal dari kata Theos (Tuhan) dan Logos (ilmu), sehingga berarti ilmu tentang Tuhan. Sedangkan secara terminologis, teologi berarti disiplin ilmu yang membahas tentang Tuhan (atau realitas Tuhan) dan hubungan Tuhan dengan dunia. Teologi juga kerap dimasukkan sebagai salah satu cabang dari filsafat, yaitu bidang khusus yang mengkaji tentang Tuhan secara filosofis.[7]

Dalam Islam, teologi kerap disebut juga dengan Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid, yaitu ilmu yang membahas masalah ketuhanan sebagai pondasi dari agama dan keyakinan berdasarkan argumentasi-argumentasi rasional. Ilmu ini, sebagaimana penjelasan sebelumnya, memang banyak sekali dpengaruhi oleh penggunaan akal atau rasio dari filsafat Yunani, terutama setelah penerjemahan ke dalam bahasa Arab besar-besaran dan pengadaan observatoriun guna penelaahan mendalam terhadap karya-karya Yunani. Sesuai dengan perjalanan sejarahnya, teologi menjadi populer melalui mujadalah para ahli kalam yang melulu membahas permasalahan ketuhanan. Oleh karenanya dalam skala yang lebih luas, teologi sangat berkaitan erat dengan diskusi tentang pemahaman konsep keimanan seorang Muslim.

Perlu diketahui bahwa perilaku sosial sudah sejak lama dikaji oleh para antropolog dan sosiolog. Kaum sosiolog memang mengesampingkan orientasi subjektif sebagai salah satu faktor yang membentuk perilaku manusia. Akan tetapi perkembangan terakhir menunjukkan bahwa perilaku sosial juga dipengaruhi oleh arti, nilai dan norma. Iman sebagai salah pondasi keberagamaan terpenting bagi umat Muslim dalam hal ini merupakan suatu model susunan dari arti, nilai, dan simbol yang dirumuskan dari ajaran aqidah Islam.[8]

Dalam konteks keislaman, pengalaman keagamaan menunjuk kepada iman seseorang kerena merupakan tanggapan terhadap Tuhan yang berisikan pembenaran dalam hati, pernyataan lisan dan perilaku praktis. Perilaku keimanan seseorang merupakan suatu proses peralihan dari konsepsi dan proposisi metafisik sebagaimana dalam al-Qur’an dan sunnah menjadi proposisi empirik dalam kehidupan praktis di masyarakat. Bentuk dan macam perilaku ini menjangkau semua segi kehidupannya, baik yang bersifat individual maupun sosial.

 

Problem 1: Universalitas Islam yang Asing

Universalitas Islam atau keberlakuan ajaran Islam untuk semua orang dan bahkan untuk seluruh dunia, merupakan suatu ajaran yang diterima oleh umat Islam sebagai aqidah atau keyakinan.[9] Dalam konteks keindonesiaan misalnya, realitas kebhinekaan yang telah mengilhami semangat ideologi nasionalisme, yaitu Negara kebangsaan yang telah diperjuangkan oleh para politisi, ulama, dan pejuang Muslim angkatan 45 inilah yang antara lain sebagai pengamalan ajaran Islam yang universal dalam konteks kehidupan bangsa yang plural.[10]

Namun ironisnya, Islam yang selama ini kerap diperlihatkan hanya terbatas dalam persoalan haram dan halal. Al-Quran dan Sunnah, sebagai sumber primer normatif, jelas menyinggung dan menyentuh banyak aspek kehidupan. Ia menyinggung berbagai aspek kehidupan manusia; sosial, ekonomi, politik, pendidikan, moral, hukum, mistis, ritual, pemikiran, dan sebagainya.

Meskipun demikian bukan berarti al-Quran dan Sunnah merupakan gudang jawaban dan melulu solusi dan bersifat detail. Al-Quran sebagai petunjuk (hudan) dan Sunnah sebagai referensi masih tergolong bersifat global. Pandangan bahwa al-Quran memuat dan membahas serta menjawab segala hal perlu dipikrkan ulang. Betapa pun, al-Quran dan Sunnah ketika diturunkan bersentuhan dengan realitas sosial yang ada. Tidak heran bila konteks ke-Arab-an tidak terelakkan dalam al-Quran dan Sunnah. Dan tentu saja ia ketika menghadapi persoalan yang ada turut dipengaruhi waktu dan tempat. Dengan kata lain Islam tidak jatuh dari langit begitu saja. Islam tidak hadir dalam ruang vakum sosial dan kultural. Agaknya inilah yang luput dari perhatian dari kaum Muslim.

Sebagai sumber ajaran Islam, tentu saja al-Quran dan Sunnah memuat banyak aspek. Namun demikian dalam sejarah dengan gamblang terlihat bahwa keberagamaan, dalam hal ini Islam, merupakan agama melulu urusan hukum, dalam hal ini ibadah mahdhah (ritual-ritual seperti shalat, puasa, haji, dll.). Dalam pengertian lain, Islam hanya dipahami sebatas tataran eksoterik atau kulit saja. Sedangkan inti atau sisi esoteriknya diabaikan.

Dalam tataran praksis masih sering ditemukan perdebatan, yang kadang tidak sedikit diakhiri dengan sikap kafir-mengkafirkan bahkan saling membunuh, soal tata-cara shalat, tahlil, ziarah kubur dan sebagainya. Hal ini bisa menjawab kenapa Islam tidak mampu menjadikan pemeluknya menjadi lebih baik, bahkan mereduksi serta mengkerdilkan kemanusiaan itu sendiri. Selama Islam hanya dilihat dari kulitnya saja, kaum Muslim tidak akan pernah tahu esensi dari Islam itu sendiri. Bisa dimengerti jika orang menganggap bahwa agama turut mengalienasikan manusia (Ludwig Feurbach), atau agama merupakan candu (Karl Marx). Pemahaman Islam hanya tertumpu dari segi eksoteriknya saja, sangat berpotensi menciptakan dikotomis dalam interaksi sosial, Muslim-non-Muslim. Terlebih pemahaman eksoterik bersifat eksklusif bahwa tidak ada keselamatan di luar agama selain agama yang dianutnya. Tentu ini masalah bila pemahaman ini terjadi dalam ranah sosial. Islam sebagai pandangan dunia bagi pemeluknya tidak bisa begitu saja ditanggalkan ketika berinteraksi sosial.[11]

Selama ini Islam dipahami, setidaknya dalam konteks keindonesiaan, telah mengalami pereduksiaan habis-habisan. Islam merupakan sekumpulan peraturan mengenai halal-haram. Lebih jauh lagi, fikih yang dikaji melulu soal wudhu; thaharah (bersuci); kriteria air bagaimana yang sah dipakai untuk cebok; batu, sebagai ganti air, bagaimana yang sah untuk cebok; dan hal lainnya yang terkait dengan bersuci. Tentu saja bukan berarti bab al-thaharah tidak penting. Namun demikian akan tampak simplistik bila bertahun-tahun majelis taklim mengadakan pengajian hanya sebatas soal ini.

Islam adalah kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya harus diterjemahkan dalam konteks tertentu yang dipengaruhi oleh zaman dan waktu. Islam diturunkan kali pertama 14 abad yang lalu. Tentu keadaan sekarang dengan zaman Muhammad saw mempunyai konteks berbeda. Faktanya masih banyak ditemukan pemahaman Islam produk masa lalu yang berbeda keadaannya dengan zaman kekinian. Kendati demikian tetap saja zaman kekinian diterjemahkan ke dalam zaman masa lalu.

 

Problem 2: ‘Pribumisasi Islam’ vis a vis ‘Arabisasi’

            Pada dasarnya Islam tidak menghendaki pemeluknya untuk ‘berberat diri’ dalam beragama (la dharar wala dhirar), khususnya yang berkaitan dengan keterbatasan manusia yang memang masih dalam koridor fitrah basyariyah, yaitu sebagai makhluk lemah, senang berkeluh kesah, tempat kesalahan dan sebagainya. Karenanya, meski syari’at berisikan tuntutan-tuntutan untuk dikerjakan dan ditinggalkan baik secara tegas maupun tidak, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kapasitas kemampuan Muslim itu sendiri (la tukallafu nafsun illa wus’aha).

Prinsip-prinsip dinamitas dan fleksibilitas sebagaimana terdeskripsikan dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw tersebut yang dalam kaidah bahasa  Arab disebut al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah oleh Hamka Haq setidaknya dapat diaktualisasikan sebagai berikut:

  • Formality (mentolerir formalitas sebuah tradisi yang telah dibersihkan dari sifat-sifat politeisnya [syirik])
  • Innovative (memodifikasi tradisi sedemikian rupa sehingga bentuknya berubah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan semakin bersih dari sifat-sifat politeistik)
  • Reformative (mencari tradisi baru yang bersifat alternatif positif dan meninggalkan sama sekali tradisi lama yang negatif dalam segala bentuk dan sifatnya)[12]

Agama dan budaya meski mempunyai independensi masing-masing, namun keduanya juga memiliki wilayah yang ‘tumpang-tindih’. Analoginya adalah bahwa antara ilmu pengetahuan dan filsafat memiliki independensi sesuai dengan wilayahnya masing-masing. Seseorang tidak dapat berfilsafat tanpa menggunakan ilmu pengetahuan, namun tidak dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah filsafat. Jadi diantara keduanya terjadi tumpang-tindih sekaligus perbedaan-perbedaan.

Agama (Islam) bersumberkan wahyu dan memiliki aturan-aturan tersendiri. Karena bersifat normatif, maka ia cenderung bersifat permanen. Sedangkan kebalikannya, budaya adalah buatan manusia yang cenderung untuk selalu berubah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa perbedaan tersebut tidak menutup kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya. Percampuran antara agama dan budaya akan terus menerus berkembang sebagai suatu proses yang akan memperkaya kehidupan dan membuatnya tidak gersang. Upaya rekonsiliasi antara budaya dan agama terjadi bukan karena kekhawatiran terjadinya ketegangan antara keduanya. Sebab jikalau manusia dibiarkan pada fitrah rasionalnya, ketegangan seperti itu akan reda dengan sendirinya.[13] Dialog Islam dengan kehidupan dengan kehidupan tersebut sejatinya merupakan realitas yang terus menerus menyertai agama ini sepanjang sejarahnya. Sejak awal kelahiranya, Islam tumbuh dalam suatu dunia yang tidak hampa budaya. Relitas kehidupan ini, diakui atau tidak, memiliki peran cukup signifikan dalam mengantarkan Islam menuju perkembangan aktual sehingga dapat memunculkan peradaban yang diperhitungkan masyarakat dunia.

Aktualisasi Islam dalam sejarah itu menjadikan Islam tidak dapat dilepaskan dari aspek lokalitas, mulai dari Arab, Persia, Turki, India, sampai Melayu. Masing-masing dengan karakteristiknya sendiri, tapi sekaligus mencerminkan nilai-nilai ketauhidan sebagai suatu kesatuan yang menjadi benang merah yang mengikat satu dengan yang lannya.[14] Dalam hal ini, dengan mengutip Khurshid Ahmad, Alwi Shihab menyatakan bahwa “Islam has been an absorbing religion rather than converting religion” (Islam lebih merupakan agama yang menampung bukan yang mengkonversikannya).[15] Saat ini kita dapat melihat, orang Islam Iran tetap dengan bahasa Persia, Pakistan tetap Urdu, dan Nusantara tetap dalam rumpun bahasa melayu. Tetapi masing-masing bahasa yang telah diIslamkan itu mampu membahasakan ajaran Islam dengan baik. Kita juga bisa melihat bagaimana varian bentuk busana muslim yang sangat beragam, mulai dari sarung dan peci khas melayu, baju koko yang beraroma Tionghoa, jubah dan kafayeh ala Timur Tengah, juga untuk busana muslimahnya. Meski demikian semua mengerucut dalam satu konsepsi Islam tentang menutup aurat. Karenanya gagasan penyeragaman norma-norma agama yang masih bersifat ‘kulit’ dan sangat kental dengan budaya Arab secara massif bahkan totalitas ke berbagai wilayah sosial-kemanusiaan (dalam istilah lain disebut ‘arabisasi’) terkesan memaksa dan tidak patut untuk mendapatkan apresiasi. Sebab, bagi penulis, membawa budaya Arab secara ‘paksa’ sama halnya dengan menghadirkan permasalahan sosial masrarakat Arab ke tanah negeri yang kembali akan memutar banyak pemikiran dan memicu berbagai perdebatan sehingga akan lebih berpeluang terjadinya konflik kemanusiaan.

 

Problem Sosial 3: Kekerasan Dalam Rangka Membela Tuhan

Baru-baru ini kita telah menyaksikan berbagai kejadian anarkis yang menimpa sebagian warga Indonesia yang notabene telah terjamin keamanan dan keselamatannya atas dasar pembelaan Hak-hak Asasi Manusia, antara lain dalam beragama dan perolehan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.[16] Hemat kata, keberhakan untuk memperoleh kehidupan yang aman dan tenteram selama tidak melanggar ketentuan publik serta menjaga keharmonisan umat secara eksplisit telah tertuang dalam Undang-undang 1945 sebagai salah satu manifestasi bangsa yang layak untuk diberi gelar ‘merdeka’. Namun ironis, dengan tanpa alasan yang matang dan tanpa menghadirkan bukti konkret dan diakui validitasnya, sekelompok orang telah ‘berani’ merampas hak kelompok lain dengan antara lain merusak asset dan inventaris milik mereka (yang dirampas).

Adalah salah satu kelompok umat -Muslim- warga Republik Indonesia, yaitu Jamaah Ahmadiyah, baik yang disebut sebagai Lahore (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) maupun Qadian (Jamaah Ahmadiyah Indonesia), secara tragis telah menjadi bulan-bulanan massa yang mengaku paling Islam. Berbagai bangunan; masjid, mushola, tempat kediaman para penganut Ahmadiyah dihancurkan secara paksa. Mereka yang mengaku Islam namun dalam keberagamaannya dianggap telah menghina dan mengotori ajaran Islam sendiri yang murni.[17] Realita ini jelas tidak dibenarkan, baik secara naluriah akal sehat manusia, konstitusi dalam hal pembelaan dan pemeliharaan hak-hak sipil bangsa, serta agama yang jelas tidak meenganjurkan sedikitpun untuk mengadakan perusakan karena termasuk dalam perbuatan dzalim.

Pemahaman keagamaan Islam yang sekalipun telah menjadi disalahpahami oleh sebagian ‘Muslim’ dan kemudian disosialisasikan kepada masyarakat sekaligus memiliki banyak pengikut, sungguh tidak menjadikan Muslim yang lain  memiliki hak untuk mengeksekusi secara frontal terlebih menggunakan cara kekerasan. Sebab hal ini pun jikalau dilakukan tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Keduanya sama telah keluar dan tidak taat terhadap prinsip moral Islam itu sendiri., nilai-nilai kemurnian dan kebaikan ajaran Islam. Memang tidak dapat dipungkiri fenomena historis tentang pengkufuran dan pembunuhan sesama Muslim pada abad awal Islam yang tentunya tidak murni bersifat agamis. Nuansa politis dan ego pribadi serta kelompok menjadi salah satu alasan yang mewarnai salah satu sejarah kelam umat Islam tersebut. Namun demikian, pantaskah bagi kita menghadirkan peristiwa tersebut untuk dijadikan alasan pembelaan atau pembenaran akan tindak anarkis dan perusakan yang terjadi pada masa saat ini. Jikalau iya, kemanakah Islam yang rahmat, Islam yang membawa misi keselamatan untuk umat manusia. Layakkah kita membela Tuhan yang senantiasa kita sebut sebagai Mahalembut, Mahakasih, Mahabaik dengan ekspresi keras, kasar, dan beringas.[18]

 

Teologi Sosial; Tawaran Solusi Berbagai Permasalahan Sosial-Kemanusiaan

Teologi merupakan ilmu yang meperbincangkan tentang Tuhan dan hubungannya dengan alam dan manusia. Teologi Islam, dengan demikian, merupakan refleksi filosofis berkenaan dengan pokok-pokok keimanan umat Islam. Diskusi teologi Islam, menilik sejarahnya, berfungsi secara teoritis untuk memberikan gambaran mengenai perihal aspek filosofis pemikiran ketuhanan dalam ajaran Islam, sebab pengaruh pemikiran dan metode filsafat yang cukup signifikan di dalamnya. Oleh karena mula-mula perbincangan yang berproses dalam diskusi ini adalah mengenai kalam atau firman ketuhanan, maka ia lazim disebut sebagai ilmu kalam.[19]

Teologi sosial merupakan diskusi pemikiran teologis yang cukup kental keterkaitannya dengan realitas kehidupan manusia seiring dengan perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat. Adalah sebuah pemikiran kalam yang menjadikan manusia sebagai pusat dan muara orientasinya, yaitu untuk memberikan solusi atas problem yang dihadapi masyarakat semisal ketidakadilan, penindasan Hak Asasi Manusia, pluralisme agama, terorisme dan lain-lain. Tuntutan sosiologis dari aktualisasi teologi praksis adalah menciptakan suatu struktur masyarakat yang berusaha agar terbebas dari kesenjangan, keterbelakangan, diskriminasi, ketidakadilan, serta mengedepankan etos egalitarianisme dan toleransi.[20]

Teologi Islam berperan melalui keyakinan Islam sebagai pembangkit dan penggugah kesadaran umat beraqidah akan realitas kehidupan mereka. Bukan sekedar melumat aqidah tersebut dalam pikirannya kemudian berhenti di dunia ‘langit’ melainkan juga harus ‘mendaratkannya’ ke bumi dan mendialogkan aktivitas ketuhanan tersebut dengan realitas supaya diperoleh kemaslahatan secara horizontal. Bukan tidak berfaedah perbincangan mengenai apakah sifat-Nya adalah Dzat-Nya, apakah Tuhan berkalam, atau apakah manusia memiliki af’al sedang adanya hal ini mengisyaratkan kebesaran-Nya. Namun apakah ia masih pantas untuk dihadirkan di hadapan kepungan berbagai persoalan kemanusiaan yang, mohon maaf, tidak mampu terobati oleh puluhan bahkan ratusan diskusi mengenai perbincangan tersebut.

Kita memiliki al-Qur’an yang secara tegas menyatakan agar mengenal dan meminta kepada Allah Swt. dengan Asma-Nya dan selain itu kita juga mempunyai Sunnah Nabi Saw yang menyerukan agar mampu berakhlak dengan Asma’ yang indah tersebut sesuai dengan kemampuan kita sebagai makhluk. Maka tidak heran jikalau seorang ulama menasihati dengan ungkapan “Berakhlaklah dengan akhlak Allah“. Karena keberhasilan meneladani Tuhan melalui Asma-Nya adalah cermin dari keberhasilan keberagamaan seseorang, sebab hal ini sesuai dengan salah satu definisi tertua dari agama/keberagamaan yaitu “upaya meneladani Tuhan dalam sifat-sifat-Nya” tentunya selain sifat-sifat Ketuhanan/Uluhiyyah.[21]

Teologi sosial pada dasarnya mencoba untuk menciptakan paradigma yang memposisikan dimensi transenden dan antroposentris, dimensi kehambaan dan dimensi kekhalifahan manusia dalam proporsinya yang saling terkait. Tugas kehambaan manusia secara niscaya tidak dapat menafikan realita yang ada di sekitarnya. Sedang martabat kekhalifahannya menuntut aktualisasi ide-ide ketuhanannya dalam praktek kehidupan sehari-hari.[22] Upaya ini diharapkan akan dapat menjadikan manusia sebagai pusat kesadaran di bawah sinar keilahian. Teologi sosial berusaha mentransformasikan dimensi ketuhanan sebagai upaya untuk mengukuhkan eksistensi manusia dalam realita antroposentrisitasnya. Nilai-nilai kemanusiaan diderivasi dari sifat-sifat Tuhan menuju kemampuan berfikir manusia, dari keabadian Tuhan menuju gerakan kesejarahan manusia, dari eskatologis menuju masa depan kemanusiaan. Karena bagaimanapun pemahaman keagamanan umat mengenai ketuhanan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu membentuk watak dan tabiat manusia yang memiliki sikap mental dan perilaku yang baik (akhlaq al-karimah), manusia yang bermoral, dan memiliki etika serta sopan santun, baik terhadap diri pribadi, orang lain, lingkungan, dan tentu terhadap Tuhan.[23] Teologi sosial dalam realitasnya telah mewarnai wajah kalam yang selama ini cenderung sibuk ‘membela Tuhan’ dengan wajah barunya bergeser menjadi teologi yang ‘membela manusia’ dalam kilauan sinar Ilahi.

Umat Muslim seyogyanya merubah pandangan teologi yang masih bercorak transendental-metafisis-spekulatif. Pemahaman teologi harus dilihat dari sudut perspektif empirik-sosial untk menemukan maknanya dalam kehidupan sosial. Karena Islam mengutamakan kehidupan sosial, maka kesalehan sosial sebagai falsumeter kesalehan keberagamaan perlu dibangun. Pada sisi lain, konsep tauhid serta ibadah tidak akan bermakna bila tidak dipahami dalam perspektif sosial. Karenanya merupakan suatu keniscayaan mengukur kesalehan seseorang dalam perspektif sosial.

Atas dasar prinsip keterlibatan agama dengan realita sosial, maka menjadi keniscayaan aktualisasi iman dan takwa seorang Muslim dalam arti horizontal. Jelasnya bahwa sikap taat dan ketakutan kepada Tuhan mesti dimanifestasikan dalam bentuk yang lebih relevan terhadap kebutuhan masyarakat, “Kesadaran Ketuhanan” (God Conciousness). Yaitu Kesadaran Tuhan Yang Mahahadir dalam kehidupan sehari-hari. KH. Ahmad Dahlan menguraikan dengan indah dalam hal ini. Ia menyatakan bahwa iman harus mampu membangkitkan emosi, pandangan, keinginan, sikap baik, dan nilai-nilai luhur lainnya yang mendorong orang beriman untuk senang berbuat kebajikan.[24] Hal itu berarti keimanan kepada Allah Swt harus termanifestasikan dalam bentuk-bentuk kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kepedulian terhadap keadilan sosial.

Fenomena kekerasan, fanatisme dan eksklusifisme dalam kehidupan beragama tidaklah lahir dalam kondisi hampa sebab. Dimungkinkan terjadinya hal tersebut akibat pemahaman teologi yang sempit, seakan merasa perlu membela Tuhan. Namun disayangkan jikalau pembelaan tersebut justeru berbalik melawan sebab cara yang dilakukan bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan yang menghendaki agar tercipta ketenteraman, keharmonisan dan keselamatan.

Teologi Sosial yang Islami dengan berbagai perangkatnya mengharuskan penganutnya untuk berpegang pada akhlak dan budi pekerti ketuhanan. Kesadaran akan eksistensi Tuhan sebagai Pencipta, Pengatur, sekaligus Penyeimbang kehidupan semestinya menjadi termanifestasikan dalam perilaku hidup sehari-hari manusia. Ketimpangan-ketimpangan serta kesalahpahaman sebagian kelompok dalam suatu agama semestinya tidak memancing untuk berlaku beringas seakan keberhakan justifikasi kebenaran hanya di tangan satu kelompok.

Prinsip dinamitas dan fleksibilitas keberagamaan dalam Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt menjadi salah satu kunci keterbukaan dan kelapangan pemahaman dan praktek keagamaan. Sebaliknya pendekatan sempit dan kaku terhadap agama yang mengatasnamakan purifikasi al-Qur’an dan hadis dari berbagai khurafat dan bid’ah nampaknya perlu ditinjau kembali sebab meski dibenarkan -menurut versi pendukungnya- namun tampak dari karakter pembawaannya termasuk dalam kategori pemaksaan yang berakibat pada munculnya kesenjangan baru yang mungkin akan jauh lebih ekstrem. Teologi sosial, yang notabene dekat dengan alam manusia, diupayakan mampu menjembatani kepayahan tersebut dengan menghadirkan suasana keberagamaan yang ramah dan harmonis tanpa harus meninggalkan nilai-nilai pokok ketauhidan.

 

Penutup

Tidak dapat disangkal bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan yang dinikmati tidak hanya oleh pribadi melainkan juga kelompok atau sosial. Perannya sebagai petunjuk (Hudan) bagi setiap pemeluknya menjadi satu modal utama atas eksistensinya yang dibutuhkan ini. Islam bagi pemeluknya dianggap telah sempurna sejak turunya wahyu terakhir kepada Nabi Saw dan mengatur berbagai macam aktivitas kehidupan, baik secara umum maupun detail, supaya umat tidak salah menempuh jalan.

Meski Islam telah sempurna, namun bukan berarti perkembangan pemikiran keislaman berhenti pada saat setelah wahyu itu turun. Ia berkembang seiring perkembangan zaman dan selaras dengan fitrah keberakalan manusia. Berbagai diskusi dan wacana keislaman, yang memang sejak masa Nabi telah ada, mencuat. Puncaknya yang sekaligus menjadi salah satu pengalaman keberislaman yang kelam bagi umat Muslim yaitu menggemanya konflik bertema sentral ketuhanan (teologi) yang terangkum dalam frasa zaman al-fitan. Shahabat saling mengkafirkan, adu argumen mengenai hakikat sifat dan atau dzat Tuhan dan sebagainya. Perdebatan ini yang kemudian menggema dan menjadi persoalan yang pelik dalam sejarah pemikiran Islam. Sehingga memunculkan berbagai macam sekte-sekte pemikiran yang saling beradu argumen membela kayakinannya.

Oleh karena wacana teologi Islam merupakan bagian penting dalam dunia pemikiran Islam sebab menyangkut pokok-pokok keimanan Muslim. Maka keberadaannya menjadi terpandang. Namun ironisnya, disengaja ataupun tidak, dunia pemikiran dan pengejahwantahan teologi Islam sejak saat itu hingga sekarang belum ada perubahan yang signifikan, stagnan. Diskusi dan wacana yang dihadirkan selalu dengan hal-hal yang bersifat teologis dan hampir tidak pernah menyentuh ranah ke-‘bumi’-an yang jelas ia memiliki bagiannya dalam hal ini. Manusia ‘dipaksa untuk’ melakukan sesuatu ‘untuk’ Tuhan sedang sejatinya Tuhan tidak membutuhkan hal tersebut.

Berbagai kasus kemanusiaan yang sementara ini tampak di hadapan kita merupakan salah satu fenomena gejala minimnya aktualisasi kesadaran akan akhlak ketuhanan yang selama ini melulu diperbincangkan secara panjang lebar di atas langit dan sangat sedikit sekali berhubungan dengan hal-hal yang bersifat antroposentris. Teologi sosial yang membawa misi membumikan kalam sebagai manifestasi akhlak ketuhanan muncul sebagai salah satu tawaran apik akan problematika tersebut.

Teologi sosial pada dasarnya mencoba untuk menciptakan paradigma yang memposisikan dimensi transenden dan antroposentris, dimensi kehambaan dan dimensi kekhalifahan manusia dalam proporsinya yang saling terkait. Tugas kehambaan manusia secara niscaya tidak dapat menafikan realita yang ada di sekitarnya. Sedang martabat kekhalifahannya menuntut aktualisasi ide-ide ketuhanannya dalam praktek kehidupan sehari-hari. Karena bagaimanapun pemahaman keagamanan umat mengenai ketuhanan akan bermuara pada satu tujuan, yaitu membentuk watak dan tabiat manusia yang memiliki sikap mental dan perilaku yang baik (akhlaq al-karimah), manusia yang bermoral, dan memiliki etika serta sopan santun, baik terhadap diri pribadi, orang lain, lingkungan, dan tentu terhadap Tuhan. Teologi sosial dalam realitasnya telah mewarnai wajah kalam yang selama ini cenderung sibuk ‘membela Tuhan’ dengan wajah barunya bergeser menjadi teologi yang ‘membela manusia’ dalam kilauan sinar Ilahi.

Fenomena kekerasan, fanatisme dan eksklusifisme dalam kehidupan beragama tidaklah lahir dalam kondisi hampa sebab. Dimungkinkan terjadinya hal tersebut akibat pemahaman teologi yang sempit, seakan merasa perlu membela Tuhan. Namun disayangkan jikalau pembelaan tersebut justeru berbalik melawan sebab cara yang dilakukan bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan yang menghendaki agar tercipta ketenteraman, keharmonisan dan keselamatan. Teologi sosial, yang notabene dekat dengan alam manusia, diupayakan juga mampu menjembatani kebuntuan pemikiran Islam yang kaku dan cenderung fanatis sempit dengan menghadirkan suasana keberagamaan yang ramah dan harmonis tanpa harus meninggalkan nilai-nilai pokok ketauhidan. Hal ini tidak lain supaya keimanan kepada Allah Swt sebagai pondasi keberagamaan termanifestasikan dalam bentuk-bentuk kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kepedulian terhadap keadilan sosial.

 

 

 

.

 

Daftar Pustaka

 

Al-Ittihad Al-Islamiy li Ulama al-Muslimin. Al-Misaq Al-Islamiy terj. Bukhari Yusuf dkk., “25 Prinsip Islam Moderat”. Jakarta: Al-Markaz Al-Istisyar li Al-Syari’ah, 2008.

A’la, Abd. Pembaruan Pesantren.Bantul: Pustaka Pesantren. 2006.

Budiardjo, Mirian. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1999.

Esha, Muhammad In’am. Teologi Islam; Isu-isu Kontemporer (Malang: UIN Malang Press. 2008.

Haq, Hamka. Islam; Rahmah untuk Bangsa. Jakarta: Rakyat Merdeka Books. 2009.

Nasution, Harun. Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran. Bandung: Mizan. 2000.

Nn, Teologi Sosial: Kesalehan Sosial sebagai Parameter Keberislaman Seseorang http://www.yousaytoo.com /teologi-sosial-kesalehan-sosial-sebagai-parameter-kesalehan keberislaman 362868

Said, Imam Ghazali Membela Ahmadiyah yang Dizalimi. http://www.gusdur.net/Berita/Detail/?id=590/hl=id/membela-ahmadiyah-yang-dizalimi

Saleh, Fauzan. Teologi Pembaruan; Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 2004.

Shihab, Alwi. Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristendi Indonesia. Mizan: Bandung, 1998.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. 1994.

________________. Menyingkap Tabir Ilahi; Al-Asma’ al-Husna dalam Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2006.

Syakur, M. Amin dkk., Teologi Islam Terapan (Upaya Antisipatif terhadap Hedonisme Kehidupan Modern). Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2003.

Syam, Nur. Radikalisme dan Masa Depan Hubungan Agama-agama: Rekonstruksi Tafsir Sosial Agama dalam “Dialektika Islam dengan Problem Kontemporer” editor Ridlwan Nasir. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, Tt.

Syukur, Muhammad Amin. Tasawwuf Kontekstual; Solusi Problem Manusia Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.

Thahir, Lukman S. Studi Islam Interdisipilner; Aplikasi Pendekatan Filsafat, Sosiologi, dan Sejarah. Yogyakarta: Qirtas. 2004.

Wahid, Abdurrahman. Pergulatan Negara Agama dan Kebudayaan. Depok: Desantara, 2001.

Wahid, Mushtofa dan Abdul. Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: Sinar Grafika. 2009.

[1] Mahasiswa Program Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Institut Agama Islam Ibrahimy Situbondo 2011.

[2] Al-Ittihad Al-Islamiy li Ulama al-Muslimin, Al-Misaq Al-Islamiy, terj. Bukhari Yusuf dkk., “25 Prinsip Islam Moderat” (Jakarta: Al-Markaz Al-Istisyar li Al-Syari’ah, 2008), hlm. 7.

[3] Hamka Haq, Islam; Rahmah untuk Bangsa (Jakarta: Rakyat Merdeka Books, 2009), hlm. 53.

[4]  M. Amin Syakur dkk., Teologi Islam Terapan (Upaya Antisipatif terhadap Hedonisme Kehidupan Modern) (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003), 15.

[5] Berbeda halnya dengan pemahaman Prof. DR. Harun Nasution dengan gagasan Teologi Rasionalnya yang menyatakan bahwa ulama Islam zaman klasik bukan saja mendudukkan akal pada tempat yang tinggi dari peradaban Yunani, melainkan juga mengambil dan mengembangkan banyak teori sains, filsafat, dan lainnya untuk diterapkan dalam kehidupan. Sehingga karenanya kondisi perekonomian dan perpolitikan saat itu mengalami masa keemasannya, Namun sekali lagi, bagi penulis, kemajuan ini tidak diimbangi dengan peningkatan moral dan keshalihan sosial yang antara lain banyak terjadi tarik menarik kepentingan pribadi dan atau kelompok sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan. Lihat Harun Nasution, Islam Rasional; Gagasan dan Pemikiran (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 112-113.

[6] Nn, Teologi Sosial: Kesalehan Sosial sebagai Parameter Keberislaman Seseorang http://www.yousaytoo.com /teologi-sosial-kesalehan-sosial-sebagai-parameter-kesalehan keberislaman 362868, diakses pada tanggal 10 Oktober 2011, pukul 22.15 WIB

[7]  Lukman S. Thahir, Studi Islam Interdisipilner; Aplikasi Pendekatan Filsafat, Sosiologi, dan Sejarah (Yogyakarta: Qirtas, 2004), hlm. 104.

[8] M. Amin Syakur dkk., Teologi Islam Terapan…, hlm. 19.

[9] Prof. DR. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa ulama kontemporer memperkenalkan istilah Iqlimiyyat al-Islam dalam arti terdapat ajaran-ajaran Islam yang berbeda antara satu iklim (wilayah) dengan wilayah yang lain akibat perbedaan kondisi, situasi, sejarah dan penalaran ulama setempat. Jika demikian halnya, maka kita tidak dapat menghindar dari pengakuan tentang adanya ajaran Islam yang bersifat partikular, sebagaimana ada juga yang universal. Kesepakatan umat dalam satu bidang tertentu juga dapat menunjuk pada universalisme Islam. Sedangkan perbedaan interpretasi adalah bagian dari partikularisme. Lihat M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 213. Nampaknya apa yang dipahami Quraish Shihab diamini oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Hanya saja ia memiliki frasa khusus untuk mengungkapkan pemahaman ini. Islam yang universal, yang mementingkan masa depan Islam secara umum serta membawa kepentingan bersama kaum Muslimin, ia sebut sebagai “Islam Kita”. Sedangkan Islam partikular yang hanya membawai watak perorangan, berisi pengalaman pribadi, serta boleh diketahui oleh orang lain namun tanpa meiliki kekuatan paksaan disebut dengan “Islamku” dan Islam Anda”. Lihat Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita; Agama Masyarakat Negara Demokrasi (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), hlm. 66-69.

[10] Hamka Haq, Islam; Rahmah untuk Bangsa…, hlm. 29.

[11] Nn, Teologi Sosial: Kesalehan Sosial…

[12]  Hamka Haq, Islam;Rahmah Untuk Bangsa…, hlm. 122. Lihat juga Mushtofa dan Abdul Wahid, Hukum Islam Kontemporer (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 49.

[13]  Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara Agama dan Kebudayaan (Depok: Desantara, 2001), hlm. 117.

[14]  Abd A’la, Pembaruan Pesantren (Bantul: Pustaka Pesantren, 2006), hlm. 103

[15] Alwi Shihab, Membendung Arus, Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristendi Indonesia, (Mizan: Bandung,, 1998), hlm. 25.

[16] Mirian Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm. 133.

[17] Imam Ghazali Said, Membela Ahmadiyah yang Dizalimi. http://www.gusdur.net/Berita/Detail/?id=590/hl=id/membela-ahmadiyah-yang-dizalimi. Diakses pada tanggal 9 Oktober 2011, pukul 20.30 WIB

[18] Meski demikian pada dasarnya kami, penulis, juga cukup tertarik dan apresiatif dengan wacana ‘aksi teror’ yang ditanggapi dalam berbagai pandangan. Diantaranya adalah sebagaimana yang digaungkan oleh Prof. DR H. Nur Syam, M. Si yang menyatakan bahwa pada dasarnya munculnya gerakan-gerakan Islam model seperti ini adalah sebagai respon sosial atas berbagai kebijakan Barat (AS) yang lebih bermuatan politis ketimbang persoalan kemanusiaan. Hanya sayangnya tindakan tersebut ternyata berimplikasi lain. Stigma yang lahir antara lain munculnya anggapan bahwa Islam memiliki relevansi dengan tindakan terror. Sedangkan tindak kekerasan atau terorisme sejatinya tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam yang murni. Kenyataan bahwa hampir setiap agama memiliki tradisi ‘kekerasan’ (perang dansebagainya) namun apa yang terjadi di negeri ini tidaklah dapat dikatakan mewakili arus utama tradisi agama-agama sebagaimana boleh diwakili oleh kelompok Muslim moderat semisal NU, Muhamadiyah, NahdhatulWathan dan lain-lain. Selain itu, semestinya media massa juga ikut terlibat dalam upaya stigmatisasi agama ini. Lihat Nur Syam, Radikalisme dan Masa Depan Hubungan Agama-agama: Rekonstruksi Tafsir Sosial Agama dalam “Dialektika Islam dengan Problem Kontemporer” editor Ridlwan Nasir (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, Tt.),hlm. 247-254.

[19] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam; Isu-isu Kontemporer (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 12.

[20] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam…, hlm. 12.

[21] M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi; Al-Asma’ al-Husna dalam Perspektif al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2006), hlm. xxxix

[22] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam…, hlm. 15.

[23] Muhammad Amin Syukur, Tasawwuf Kontekstual; Solusi Problem Manusia Modern (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 2

[24]  Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan; Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad xx (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2004), hlm. 238

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *