SEJARAH PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM. AQIDAH; ANTARA PEMIKIRAN DAN KEIMANAN

OLEH : Khoirul Arifin

 

  1. Pendahuluan

Persoalan aqidah di antara umat umat Islam merupakan permasalahan yang bisa dikatakan paling pokok dalam ajaran Islam. Menilik kepada penjelasan Gutierrez (1996) bahwa teologi adalah sesuatu yang di dalamnya mengandung nilai-nilai, etos-etos dan ajaran yang dapat digunakan sebagai paradigm bagi seseorang dalam berfikir dan berperilaku. Teologi mengandung ethical force bagi manusia. Di samping mengandung nilai teoritis, teologi juga mengandung dimensi praksis teologi merupakan wahana strategis di dalalm kita memberikan dan menanamkan nilai-nilai dalam diri manusia.[1]

Manusia dalam perilakunya sangat diipengaruhi oleh dimensi terdalam yang ada dalam dirinya, yang disebut internal cognition. Internal cognition dalam diri manusia ini sangat dipengaruhi oleh inputan-inputan baik yang berasal dari capaian ideologis, teologis, maupun kepercayaan dan faham lainnya. Internal cognition ini dapat bertambah seiring dengan kematangan , kebijaksanaan manusia akibat adanya inputan-inputan. Ia dapat dipengaruhi dan berubah.[2]

Aspek teologis memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Hal ini tidak lain karena teologi dipandang sebagai hal yang sangat lekat dengan dimensi keyakinan yang merupakan dimensi terdlam dalam diri manusia. Menurut Syari’ati, teologi-yang lekat dengan keimanan-merupakan satu dari sekian pengetahuan manusia yang sangat fundamental dalam mempengaruhi pola perilaku manusia.[3] Lebih lanjut al-Faruqi juga menegaskan bahwa pandangan teologislah yang akan menjadi penentu terhadap world view (pandangan dunia) indvidu dan masyarakat.[4]

Banyak ulama menjelaskan bahwasanya mempelajari ilmu aqidah adalah kewajiban yang paling utama bagi stiap muslim. Menurut DR. Muhammad Sayyid Ahmad al-masir, titik tolak pertama dalam sebuah kebudayaan adalah berangkat dari aqidah. Dari sana ditetapkan arah dan tujuan umat. Setidaknya ada beberapa hal yang diharapkan dari mempelajari ilmu aqidah ini. Di antaranya: Menaikkan seseorang dari tingkatan taqlid kepada tingkat keyakinan; member petunjuk bagibagi orang yang ingin tahu dengan menjelaskan dalil-dalilnya, dan sekaligus membantah orang orang yang menolak hujjah petunjuk tersebut; dan tercapainya niat dan aqidah yang benar. Karena dari sana diharapkan amal ibadah seseorang dapat diterima. Dan semua itu adalah demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.[5]

  1. Pemicu Perbedaan Dalam Aqidah

Muhammad Abu zahroh, dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiah, menerangkan bahwa terkait hal perbedaan umat Islam, ada dua hal yang pelu digaris-bawahi: Pertama, bahwasanya perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam  tidaklah sampai pada ajaran Islam yang paling urgen. Umat Islam tidak berbeda pendapat tentang keesaan Allah; kesaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah; dan bahwa al-Qur’an adalah wahyu dari Allah yang merupakan mu’jizat Nabi yang paling agung, dan bahwa al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi; dan tidak berbeda dalam kewajiban-kewajiban pokok agama seperti sholat lima waktu, zakat, haji, puasa. Dan sekaligus tidak memperselisihkan tata-cara menjalankan perintah-perintah tersebut. Dengan kata lain, perbedaan umat tidak sampai pada rukun-rukun Islam, tidak pula dalamajaran-ajaran yang maklum dikalangan semua umat seperti haramnya minum arak, makan daging babi, makan bangaki. Dan mereka tidak berbeda dalam kaidah-kaidah umum tentang hokum warisan. Adapun perbesaan hanya menyentuh pada hal-hal yang tidak sampai menyinggung rukun-rukun dan pokok-pokok umum. Kedua, bahwasanya perbedaan di kalangan umat Islam yang terkait dengan sebgian aqidah dan politik, tidak diragukan lagi adalah tidak baik, lain halnya ddengan perbedaan dalam masalah fiqih.[6]

Selanjutnya, Abu Zahrah menjelaskan bahwa perbedaan ada dua, yaitu: pebedaan yang tidak menyebabkan perpecahan umat; dan perbedaan yang yang menyebabkan perpecahan. Adapun sebab-sebab perbedaan, lebih lanjut, menyebutkan di antaranya:

  1. Fanatisme kebabangsaan Arab

Menurut Abu Zahroh, fanatisme inilah sebab utama dalam perselisihan umat Islam. Pada masa nabi fanatisme tersebut sudah mulai menyurut dikarenakan ajaran-ajaran Islam yang menyeru untuk kesatuan umat. Bahkan hal ini berlanjut hingga masa Kholifah Utsman ibn Affan. Namun perselisihan mulai muncul kembali di akhir-akhir kepemimpinannya. Perselisihan ini pada mulanya merupakan pemicu antara golongan bani Umayah dan Hasyimiyah. Kemudian muncul kaum khowarij dan lain-lainnya.[7]

  1. Persengketaan kekhalifahan

Di antara sebab utama perpecahan adalah perbedaan politik yang diawali dari permasalahan “siapa yang paling berhak untuk menggantikan Nabi dalam memimpin umat. Permasalahan ini muncul seketika pasca wafatnya nabi Muhamad. Golongan Anshor dan Muhajirun sama-sama merasa berhak dengan argument masing-masing. Namun keteguhan Iman kaum Anshor bisa meredakan konflik tersebut sehingga tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam perpecahan umat.  Namun permasalahan muncul kembali ketika mempermasalahkan apakah yang lebih berhak adalah khusus dari keturunan Ali ataukah untuk seluruh umat muslim. Demmikian perselisihan hingga memunculkan golongan Syi’ah dan Khowarij.[8]

  1. Kedekatan kaum Muslim dengan pemeluk-pemeluk agama-agama terdahulu, dan pindahnya sebagian dari mereka ke dalam agama Islam

Ada para pemeluk agama-agama sebelunya yang kemudian masuk Islam, yaitu yang sebelumnya beragama Yahudi, Nasraani, dan Majusi. Sedangkan pemikiran-pemikiran keagamaan mereka yang lama masih terbawa ketika sudah masuk Islam. Dan itu masih menguasai perasaan dan sensasi beragama mereka. Kemudian mereka memahami ajaran-ajaran Islam menggunakan aqidah-aqidah terdahulu mereka tersebut. Maka hal itu menjadi pengaruh di antara umat Islam.

Memang, meskipun tidak ada keraguan tentang ketulusan mereka dalam memeluk agama Islam, namun pemikiran-pemikiran mereka tetap terpengaruh dari agama-agama sebelumnya, apalagi orang-orang yang memang dengan sengaja masuk Islam untuk tujuan merusaknya dari dalam.[9]

  1. Penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab

Menurut Abu Zahroh, gerakan penerjemahan buku-buku filsafat ini mempunyai pengaruh yang sangat jelas dalam timbulnya perselisihan. Karena pemikiran Islam banyak yang menentang tema-tema filsafat, seperti pembahasan-pembahasan tentang hal-hal di luar jangkauan indra manusia. Namun demikian dalam perkembangannya banyak umat Islam yang bahkan mengadopsi pemikiran-pemikiran filsafat tersebut.[10]

  1. Pembahasan tentang permasalahan-permasalahan yang rancu

Seseungguhnya penyebaran pemikiran filsafat di kalangan ulama umat Islam dalam memutuskan permasalahan aqidah telah menyeret mereka ke dalam pembahasan-pembahasan yang sesungguhnya di luar jangkauan akal manusia, seperti pembahasan tentang penetapan dan peniadaan sifat-sifat Allah. Hal ini membuka pintu bagi timbulnya perpecahan karena perbedaan pandangan dan teori.[11]

  1. Para Pendongeng

Dalam tarikh al-Madzahib al-Islamiyah”, Abu Zahroh mengatakan bahwa timbul maraknya para pendongeng ini adalah pada masa khalifah Utsman ibn Affan. Sedemikian tidak senangnya terhadap para pendongeng, sampai sahabat Ali mengusir mereka dari masjid-masjid. Karena para pendongeng tersebut dianggap menceritakan mitos-mitos kepada umat, yang mana mitos tersebut adalah bersumber dari agama-agama terdahulu yang telah mengandung banyak pengrubahan. Para pendongeng ini banyak pula dijumpai pada masa Umayah. Sebagian di antaranya ada yang memang baik, namun kebanyakan adalah buruk atau menyimpang. Disinyalir bahwasanya dari mereka-lah munculnya penafsiran-penafsiran isra’iliyat dalam kitab-kitab tafsir, sejarah Islam. bagaimanapun juga cerita-cerita tersebut dipandang dari segala sisi pada waktu itu tetaplah hanya pemikiran-pemikiran yang tidak matang yang disampaikan di dalam berbagai majlis yang berbeda. Maklum saja jika dari sini timbul potensi-potensi perbedaan, apalagi jika si pendongeng sudah condong terhadap salah satu madzhab tertentu.[12]

  1. Adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an

Ayat-ayat mutasyabihat di dalam al-Qur’an, kendati pun adalah sebuah ujian untuk keteguhan iman umat islam, adanya ayat-ayat mutashaihat tersebut menjadi sumber pertikaian dikalangan ulama dalam mengartikan ayat-ayat tersebut.[13]

  1. Pemutusan hukum syara’

Perbedaan dalam penetapan hukum syara’ memang salah satu penyebab perbedaan umat, terutama dalam hukum permasalahan-permasalahan yang beum ada ketetapannya di dalam al-Qur’an maupun sunnah nabi. Namun Abu Zahroh menjelaskan bahwa perbedaan yang semacam ini tidak perlu dikhawatirkan, bahkan perbedaan ini justru adalah sesuatu yang baik.[14]

  1. Artikulasi Makna Aqidah

Pada mulanya, istilah aqidah dan iman adalah dalam esensi yang sama, yakni aqidah adalah iman itu sendiri-sebagaimana dijelaskan oleh al-Sayyid Sabiq dalam “al-Aqa’id al-islamiyah”, bahwasanya iman adalah aqidah yang diturunkan Allah di dalam kitab-kitab sucinya, dan diwahyukan kepada seluruh Nabi-nabinya, dan diwasiatkan kepada seluruh generasi umat dari awal hingga yang paling akhir. Aqidah dalam pengertian Iman ini memuat enam hal: pertama, mengenal Allah beserta nama-nama-Nya yang Indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, sekaligus mengetahui dalil-dalil keberadaan (wujud) dan penampakan keagungan-Nya di Alam semesta ini; kedua, mengetahui alam atau ciptaan-ciptaan Allah yang di luar jangkauan indera manusia, yang mana di dalamnya meliputi kekuatan kebaikan yang diwakili oleh malaikat, dan kekuatan keburukan yang diwakili oleh Iblis dan tentaranya, yaitu syaithan. Kemudian termasuk juga tuntutan untuk mengenal jinn dan arwah; ketiga, mengetahui kitab-kitab Allah kepada manusia untuk menyampaikan batas-batas kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan, halal dan haram, serta baik-dan buruk; keempat adalah mengetahui para Nabi dan Rasul Allah yang dipilih untuk menjadi tonggak-tonggak petunjuk dan pemimpin bagi manusia menuju kebenaran; kelima, mengetahui akan datangnya hari akhir, dan hal-hal yang terkait dengannya seperti pembangkitan kembali manusia dan pembalasan terhadap amal perbuatan, pahala dan siksa, serta adanya surge dan neraka; keenam adalah mengetahui kekuasaan (qadar) Allah yang dituangkan dalam hokum-hukum alam bagi semua ciptaan-Nya, sekaligus pemeliharaan alam semesta.[15] Demikian itu-lah-menurut Sayyid Sabiq adalah kesatuan dalam aqidah yang tidak tergantikan karena pergantian zaman maupun lingkungan, dan tidak akan berubah karena perubahan individu dan golongan.

Kemudian penguasaan politik yang berinteraksi dengan madzhab-madzhab pemikiran dan golongan-golongan agama lain, serta menjadikan akal sebagai tolak ukur untuk kebenaran yang sebenarnya diluar jangkauannya, itulah yang menjadi sebab pergeseran dari metoda-metoda yang diwariskan oleh para Nabi. Kemudian di dalam perkembangannya, aqidah mengalami perubahan makna dengan berbagai penamaan.[16]

Imam Abu Ja’far Ath-Thohawil-lah yang pertama kali menggunakan istilah aqidah, ketika ia menulis satu kitab yang secara khusus membahas masalah yang berhubungan dengan masalah-masalah keimanan.[17] Beliau hidup antara tahun 239 s\d 321 H,[18] salah satu gurunya adalah Imam An-Nasa’i.[19]

Dan pada waktu itu, terjadi perbedaan diantara para ulama tentang definisi aqidah dan dalil yang digunakan untuk membangun masalah aqidah. Lalu Para Ulama mulai memberi beragam definisi atas aqidah, diantaranya :

  1. Sampainya perasaan pada sesuatu, sehingga menggerakkan hati kita serta mengarahkan gerak kita.[20]
  2. Pembenaran yang sempurna, yang tidak berkurang, dan menerima semua rukun iman dengan penuh keyakinan.[21]
  3. Aqidah Adalah Iman. Iman adalah pembenaran (keyakinan) yang bulat (jazm), sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil yang qath’I.[22]

Walhasil, pembahasan tentang definisi masalah aqidah dan dalil yang ’layak’ digunakan untuk membangun masalah aqidah telah melibatkan para ulama dari berbagai cabang disiplin ilmu dien seperti ulama ahli ushul, ulama ahlut tafsir, ulama ahul lughah, ulama ahlul hadis dll. Oleh karena itu, pembahasan masalah ini tidak boleh dibatasi hanya dari sudut pandang ulama dalam disiplin ilmu tertentu, seperti sudut pandang ulama ahlul hadis saja atau yang semisalnya. Tapi harus pula memperhatikan pendapat dari para ulama lain yang memberi perhatian ‘khusus’ tentang kajian yang berkaitan dengan masalah ini. Walaupun itu harus melibatkan ulama dari berbagai disiplin ilmu dengan perspektif yang mereka miliki. Baru setelah itu diambil satu kesimpulan tentang aqidah dan dalil yang digunakan untuk membangun masalah aqidah menurut pendapat dengan argumentasi yang terkuat.[23]

Di antara sebutan bagi ilmu aqidah adalah sebagai berikut: Ilm at-Tauhid, disebutddemikian karena di dalamnya banyak membahas tentang peng-esaan (tauhid) Allah; Ilm al-Kalam, disebut demikian salah satu alasannya karena dihadapkan dengan ilmu mantiq dalam filsafat, atau karena biasanya didahului dengan kalimat “perkataan (kalam) tentang hal ini..”, atau karena perselisihan yang paling terkemuka di dalamnya adalah tentang “kalam”; Ilm Ushul ad-Diin, disebut demikian karena dianggap sebagai pokok dalam ajaran agama, karena tidak ada amal tanpa iman, dan tidak ada akhlak tanpa aqidah; Ilm al-Fiqh al-Akbar, al-fiqh artinya adalah kefahaman, dan kefahaman yang paling utama dan mendalam adalah kefahaman yang dihadapkan dengan Dzat yang paling agung dan paling suci, serta dihadapkan dengan wahyu ilahi yang paling tertinggi; Ilm al-Aqidah, yaitu hal-hal yang dipercayai (tu’taqadu) dan dibenarkan dalam hati, sehingga hati menjadi tenang.[24]

 

  1. Kemunculan Ilmu Aqidah

Sebagaimana dijelaskan di atas, asal aqidah adalah tauhid itu sendiri dengan seluruh aspeknya, dalam arti aqidah umat Islam masih utuh dalam keseragaman. Bahkan para Sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in tidak pernah menggunakan istilah aqidah ketika membahas masalah-masalah keimanan, mereka cukup menyebutnya dengan istilah al-Iman atau at-Tauhid. Pun demikian, para Ahli hadis ‘Senior’ seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, Imam Ibn Khuzaimah cukup dengan menggunakan istilah Al-Iman dan At-Tauhid ketika membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah keimanan sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang mereka tulis, tidak menggunakan istilah aqidah.[25] Namun kebanyakan adalah lahir dari golongan-golongan dalam politik.

Abu Zahroh menegaskan bahwa semua aliran-aliran politik adalah berkisar antara khilafah, yaitu permasalahan siapa Imam tertinggi itu? Adapun dinamakan khilafah karena seorang yang menjadi penguasa berarti juga menjadi hakim tertinggi bagi umat Islam. disebut Imamah karena seorang khalifah juga sekaligus menjadi Imam, yang notabenenya adalah wajib ditaati, dan semua orang mengikutinya sebagaimana mereka mengikuti imam dalam hal sholat. Dari latar belakang inilah Abu Zahrah mengelompokkan Syi’ah dan Khowarij kedalam kelompok madzhab politik, karena memang kedua madzhab ini bermula dari permasalahan politik. Kemudian baru mengelompokkan sekte-sekte lain seperti Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah, dan Mu’tazilah kedalam aliran-aliran aqidah.

 

  1. Adakah Aqidah yang Paling Benar?

Berdasarkan hasil kajian Syeikh Fathi Salim dalam bukunya Al-Istidhlal bi dzonii fi aqidah (Yang sudah diterjemahkan oleh penerbit Al-Izzah – Bangil, dengan judul ‘’Hadis Ahad dalam Masalah Aqidah’’), dimana beliau melakukan kajiannya dengan melibatkan pembahasan para ulama dari berbagai perspektif (sudut pandang). Dan salah satu definisi yang muncul adalah yang dirumuskan oleh Imam Haramain Al-Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifat bahwa definisi aqidah adalah ‘’Tashdiq Al-Jazm Al-Mutahabiq lil waqi’ ‘an dalilin qath’iyin’’ (pembenaran yang pasti, sesuai dengan realitas, dan dibangun dengan dalil yang qath’I) (sebagai catatan kitab At-Tari’fat adalah salah satu kitab terbaik dalam bidangnya dan menjadi rujukan para ulama, karena ia memuat definisi dari berbagai cabang ilmu dien mulai istilah yang khas dalam masalah ilmu aqidah, ulum al-qur’an, musthalah hadis, ushul fiqh, fiqh dan lain-lain).

Walhasil, aqidah adalah imam. Iman adalah pembenaran (keyakinan) yang bulat (jazm), sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil yang qath’I (Kitab At-Ta’rifat, Imam Al-Jurjani). Definisi ini dipilih karena ia memenuhi 2 syarat, sebagai definisi yang shahih yaitu :

  1. Aspek Jami : aspek yang meliputi semua unsur yang dibahas dalam masalah aqidah.
  2. Aspek Mani’ : aspek yang mecegah unsur yang tidak menjadi bagian dari pada aqidah.

Berdasarkan definisi aqidah ini, maka aqidah yang shahih harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Bersifat pasti (tashdiq al-jazm), karena aqidah tidak boleh diambil kecuali berdasar keyakinan. Dan Allah mengharamkan seorang muslim membangun keyakinannya dengan dzan (dugaan). Sebab Allah mencela orang-orang yang membangun keimanannya dari sumber yang dzan (dugaan). Allah SWT berfirman :

‘’Mereka hanya mengikuti prasangka, padahal psasangka itu tidak akan memberikan kebenaran apapun’’ (Surat An-Najm – 28).

Allah mencela orang-orang yang mengikuti dzan dalam masalah aqidah, dan menganggap dzan sebagai kesesatan. Allah SWT berfirman :‘’Bila kamu muhammad mengikuti kebanyakan manusia yang berada di muka bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Karena mereka hanya mengikuti prasangka ‘’ (Surat Al-An’am – 116). Bahkan Allah tidak menganggap dzan sebagai ilmu (pengetahuan yang pasti). Allah SWT berfirman ;

“Mereka sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Mereka hanya mengikuti prasangka, padahal psasangka itu tidak akan memberikan kebenaran apapun’’ (Surat An-Najm – 28).

  1. Sesuai dengan realitas (al-mutahbiq al-waqi’). Apatah obyek aqidah yang realitasnya ditunjukan secara aqli (metode berfikir rasional) dan yang ditunjukkan secara naqli (ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur’an dan Hadis Mutawatir).

Contoh obyek aqidah yang realitasnya ditunjukan secara aqli (metode berfikir rasional), seperti proses untuk menetapkan wujud Allah (berkaitan dengan ada – tidaknya Allah); kebutuhan akan nabi dan Rasul (sebagai penyampai risalah pada umat manusia); Al-Qur’an adalah kalamullah (Al-Qur’an adalah firman Allah SWT); dan qadha-qadar.

Contoh obyek aqidah yang realitasnya ditunjukan secara secara naqli (ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadis muatawatir), seperti keimanan akan sifat dan nama Allah (Ar-Rahman, Al-Hayy, Al-Qayyum, Al-Ghani, Al-Awwal, Al-Akhir dll), Para Malaikat, Nabi dan Rasul (sebelum Nabi Muhammad SAW), Kitab Suci (sebelum al-Qur’an), seputar Hari Kiamat.

  1. Dibangun dengan dalil (sumber) yang memberi kepastian (an dalil al-qath’ii), yaitu Al-Qur’an dan hadis mutawatir.

Konsekuensi dari definisi ini adalah dalil dalam masalah aqidah harus dibangun dan dibatasi pada dalil yang terbukti qath’i. Dalil qath’I harus memenuhi dua kriteria : yaitu qoth’I tsubut dan qath’I dilalah (lihat lampiran trasnparasi ‘definisi aqidah’). Sehingga sekalipun ia adalah ayat Al-Qur’an atau hadis Mutawatir sekalipun, jika ia dzoni dilalah (memiliki lebih dari 1 makna – menurut pendapat terkuat), maka ia tidak dapat dijadilkan dalil dalam masalah aqidah. Akan tetapi materi yang terkandung didalamnya tidak boleh dingkari, tapi wajib untuk dibenarkan sesuai dengan penunjukan dalil, kalau dalil itu memberi faedah ilmu nadzari\dzan\ ghulabatudz dzon (dugaan keras) maka wajib bagi kaum muslimin untuk membenarkannya sesuai dengan apa yang ditunjukan oleh dalil tersebut, sekalipun masalah itu tidak termasuk dalam salah satu pembahasan masalah aqidah. Maka akan sulit unutk membangun dialog dengan kelompok yang ‘memaksakan’ membahas masalah aqidah hanya dari satu sudut pandang saja, apalagi kalau sudah dibumbui dengan penilaian sesat bahkan mengkafirkan terhadap para Ulama yang berbeda pendapat dengannya dalam masalah ini. Ini adalah hal yang berbahaya dan dapat mengarahkan umat pada perpecahan.

Perlu ditegaskan bahwa semua aliran teologi ini dalam memperkuat pendapat mereka masing-masing, di samping membawa argument-argumen rasional, juga membawa ayat-ayat Al-Qur’an. Argumen rasional tanpa ditopang oleh ayat-ayat Al-Qur’an dianggapbelum cukup kuat. Demikian juga semua aliran itu, termasuk Mu’tazilah, dalam pemikiran teologis mereka, tidak menentang teks atau ayat Al-Qur’an; hanya nas itu diberi interpretasi yang sesuai dengan pendapat akal. Perbedaannya hanyalah bahwa golongan Mu’tazilah memberikan interpretasi yang lebih liberal dari golongan Asy’ariah. Dengan kata lain, penafsiran Asy’ariah lebih dekat kepada arti lafzi sedang penafsiran Mu’tazilah jauh dari arti lafzi. Tetapi, bagaimanapun semua aliran itu, termasuk Asy’ariah, mempergunakan akal dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.[26]

“Perlu kiranya dipertimbangkan suatu kajian oleh Nurcholish Madjid dalam sebuah artikelnya “Aktualisasi ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah”. Dalam artikel ini Madjid menegaskan bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah suatu kekuatan pemersatu yang telah mempersatukan seluruh umat Islam. Dia merujuk kepada salah seorang khalifah Bani Umayah, Abd al-Malik ibn Marwan (65-86/685-705), yang mencoba mengakhiri perpecahan yang telah menceraiberaikan umat Islam sejak Wafatnya Utsman ibn Affan (35/656). Guna mengakhiri perang saudara yang berlangsung cukup lama tersebut,  dia berusaha mendamaikan seluruh umat dan menciptakan sebuah konsep jama’ah atau komunitas. Konsep ini, menurut Madjid, menandakan adanya semangat inklusifisme dengan mengakui adanya plurallitas paham di antara umat Islam. Sebuah semboyan yang terkenal diperkenalkan untuk memperkokoh persatuan umat: nahnu jama’at wahidah tahta rayat din Allah, “kita adalah satu jamaah yang tinggal di bawah panji-panji agama Allah.” Selain itu Abd al-Malik juga memperkenalkan konsep tarbi’ yaitu pengakuan bahwa empat orang khalifah pertama adalah pemimpin yang sah bagi umat Islam setelah Nabi: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Bagi keturunan Bani Umayah adalah sulit untuk mengakui Ali sebagai khalifah yang sah, disebabkan oleh permusuhan antara kedua keluarga tersebut. Oleh karena itu, mereka hanya mau mengakui, pendiri dinasti Umayah, sebagai pemimpin mereka. Namun, dengan upaya keras Abd al-Malik ibn Marwan untuk mempertahankan kesatuan umat, mereka akhirnya mau mengakui posisi Ali sebagai khalifah keempat, dengan mengorbankan hak-hak istimewa, tetapi dengan syarat  bahwa Ali ditempatkan pada urutan keempat, yaitu setelah Utsman, sesuai dengan kronologi historisnya.[27]

  1. Kesimpulan

Imam al-Ghazali. Di dalam pembukaan kitab al-Mustashfa menerangkan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang kedudukannya paling tinggi di antara ilmu-ilmu agama yang lain. Karena ilmu kalam adalah ilmu kulli.[28] Tujuan utama dari ilmu Kalam, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Ghazali, adalah untuk membentengi doktrin-doktrin pokok dalam Islam-Sunni.[29]

Di zaman Nabi Muhammad umat Islam dapat kompak dalam lapangan agama, termasuk di bidang aqidah. Kalau ada hal-hal yang tidak jelas atau hal-hal yang diperselisihkan di antara para sahabat, mereka mengembalikan persoalannya kepada nabi. Maka penjelasan beliau itulah yang menjadi peganga dan ditaatinya. Keadaan umat zaman khalifah-khalifah Abu Bakar dan Umar itu cukup mengerti akan isyarat-isyarat Al-Qur’an dna nash-nashnya. Terhadap ayat-ayat mutasabihat mereka serahkan kepada Allah, dan sama sekali tidak mau mentakwilkannya. Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang samar pengertiannya. Pendirian para sahabat tentang ayat-ayat mutasyabihat itulah yang kemudian diikuti oleh kaum salaf, yang mengambil pengertian tentang sifat-sifat Allah dengan makna-makna lafad menurut logat, serta mensucikan Allah daripada menyerupainya dengan sesuatu diantara makhluknya.[30]

Ditinjau dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa Ilmu Aqidah adalah merupakan hasil pemikiran umat Islam dari penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu Aqidah yang patut kita pertahankan tanpa perselisihan adalah aqidah dalam arti al-iman al-ashli, yang tidak mengalami perubahan karena perubahan waktu dan tempat. Adapun ilmu aqidah yang mengandung banyak pertentangan, bila ditinjau dari latar belakang historisnya, maka sebaiknya sikap kita adalah at-tasamuh, dalam arti tidak menyalahkan satu sama lain. Karena pada dasarnya ilmu-ilmu aqidah tersebut adalah pula didasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah, hanya saja pembacaan dan penafsirannya yang berbeda. Wallahu a’lam bisshawab.
DAFTAR PUSTAKA

Brill, Kroninklijke, 2001, Modern Trends in Islamic Theological Discourse in Twentieth Century Indonesia: A Critical survey, Terj. Fauzan Saleh, 2004, Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni Abad XX. Jakarta: PT serambi Ilmu Semesta.

Nasution, Harun, Prof. DR. 1986, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: UI-Press, Cet. 2.

Nasir, Sahilun A., Prof. DR. 1996, Pengantar Ilmu Kalam, Cet. 3, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Al-Ghazali, ibn Muhammad, Muhammad, Abu Hamid, al-Mustashfa min Ilm al-Ushul, Beirut: Dar al-Fikr.

Esha, Muhammad In’am, 2008, Teologi Islam: Isu-isu Kontemporer, Malang: UIN-Malang Press.

Abu Zahroh, al-Imam Muhammad, 2009, Tarikh al-madzahib al-Islamiah, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi.

Frank, R. M., 1994, Al-Ghazali and The Asy’arite School (USA: Duke University Press.

Al-Masir, Muhammad Ahmad, 1998, Al-Tamhid fi dirasat al-Aqidah al-Islamiah, Kairo: Dar al-Thiba’ah al-Muhammadiyah.

Sabiq, as-Sayyid, Al-Aqa’id al-Islamiyah, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.

Al-Jawi, Muhammad Lazuardi, Studi Kritis Tentang Istilah Aqidah, dari http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/07/09/studi-kritis-tentang-istilah-‘aqidah’/.

Al-Buthi, Said Ramadhan, DR., 1997, Kubra Al-Yaqiniyat Al-Kauniyah, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir.

[1] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam: Isu-isu Kontemporer (Malang: UIN-Malang Press, 2008), h. 42

[2] Teologi Islam, h.62

[3] Muhammad Nafis, Dari Cengkeraman Penjara Ego Memburu Revolusi: Memahami Kemelut Tokoh Pemberontak, dalam Deden Ridwan (ed.), Melawan Hegemoni Barat: Ali Syari’ati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia, dikutip oleh Muhammad In’am Esha, teologi Islam…., h. 63

[4] Ismail Raji al-Faruqi, tauhid, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 1982), dikutip oleh Muhammad In’am Esha, Teologi Islam, h.63

[5] Muhammad Ahmad al-Masir, Al-Tamhid fi dirasat al-Aqidah al-Islamiah (Kairo: Dar al-Thiba’ah al-Muhammadiyah, 1998), h. 11

[6] al-Imam Muhammad, Abu Zahroh, Tarikh al-madzahib al-Islamiah (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 2009), h. 13

[7] Ibid., h. 15

[8] Ibid.,

[9] Ibid., h. 16

[10] Ibid., h. 18

[11] Ibid.,

[12] Ibid., h. 18-19

[13] Ibid., h. 19-20

[14] Ibid., h. 20

[15] As-Sayyid Sabiq, Al-Aqa’id al-Islamiyah (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi), h. 8

[16] Muhammad Ahmad al-Masir,…, h. 25

[17]  Lihat Kitab ‘Manhaj al-Imam ath-Thahawi fi Daf’i at-Ta’arudl’ fi kitabihi ‘Syarhi Musykil Atsari’ dalam bab ‘’Tarjamah Abi Ja’far Ath-Thahawi’’ yang merupakan tesis Ustadz Muhammad Munir Ibn Abdul Majid, MA untuk meraih gelas Master dalam bidang Ilmu Hadis, dibawah bimbingan DR. Husain Al-Juburi. di Universitas Al-Islamiyah Internasional Islamabad – Pakistan. Ibid.,

[18] Ibid.,

[19] Ibid.,

[20] Imam Ibn Mandzur, Lisan Al-Arab, dikutip oleh Muhammad Lazuardi al-jawi, dalam Studi Kritis Tentang Istilah Aqidah, dari http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/07/09/studi-kritis-tentang-istilah-‘aqidah’/, diakses pada 03.15WIB/19-10-2011

[21] Said ramadhan Al-Buthi, Kubra Al-Yaqiniyat Al-Kauniyah (Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1997), h. 70

[22] Imam Al-Jurjani, Kitab At-Ta’rifat, dikutip oleh Muhammad Lazuardi al-jawi, Ibid.,

[23] Muhammad Lazuardi al-jawi, Ibid.,

[24] Muhammad Ahmad al-Masir,…, h. 25-28

[25] Muhammad Lazuardi al-jawi, Studi Kritis Tentang Istilah Aqidah, dari http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/07/09/studi-kritis-tentang-istilah-‘aqidah’/, diakses pada 03.15WIB/19-10-2011

[26] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Cet. 2 (Jakarta: UI-Press, 1986), h. 81.

[27] Kroninklijke Brill, Modern Trends in Islamic Theological Discourse in Twentieth Century Indonesia: A Critical survey, Terj. Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni Abad XX (Jakarta: PT serambi Ilmu Semesta, 2004), h. 133-134.

[28] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-ghazali, al-Mustashfa min Ilm al-Ushul (Beirut: Dar al-Fikr, Juz 1), h. 6

[29] R. M. Frank, Al-Ghazali and The Asy’arite School (USA: Duke University Press, 1994), h. 8

[30] Sahilun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, Cet. 3 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 61-62

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *