Aliran IBADHIYYAH, siapakah mereka?

Oleh: Ahmad Mahili[1]

LATAR BELAKANG SEJARAH

Ibadhiyyah adalah madzhab yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Ibadh At-Tamimi[2], sekalipun dia bukanlah pemimpin madzhab yang sebenarnya.

Tokoh pertama yang dianggap pengikut Ibadhiyyah sebagai pemimpin madzhab adalah Jabir bin Zaid, yang dijuluki “Abu Sya’tsa”. Para penulis riwayat hidupnya – bahkan yang bukan pengikut Ibadhiyyah – mengakui bahwa ia seseorang yang sangat alim, wara’, dan zuhud. Abu Nu’aim Al-Ashfahani menyebutkan: “Dia adalah seorang yang sangat cinta dan memperhatikan keilmuan, tekun dalam beribadah, dekat kepada Allah swt, dan menjauhkan diri dari manusia. Dia tergolong generasi Tabi’in yang pertama” [3].

Jabir bin Zaid Al-Azdi Al-‘Ummani, tinggal di Bashrah, Irak, termasuk seorang ahli fikih dan ahli hadits di sana[4],.

Ibnu Abbas sendiri mengenal, sekaligus mengakui kedudukannya. Suatu ketika penduduk Bashrah menanyakan suatu pertanyaan, beliau berkata: “Kenapa kalian bertanya kepada ku, bukankah ada Jabir bin Zaid di tengah-tengah kalian”? [5].

Jabir bin Zaid lahir di kota “Nizwa”, Oman, tahun 21 H/642 M, Ada perbedaan pendapat tentang tahun wafatnya[6], namun menurut riwayat yang lebih kuat ia wafat tahun 96 H/715 M.

Beliau adalah guru Abdullah bin Ibadh, yang mendakwahkan pemikiran-pemikiran dan manhajnya; Jadi, sebenarnya tidaklah penting apakah Jabir berafiliasi kepada Ibadhiyyah atau bukan, walaupun pengikut Ibadhiyyah setelahnya mendasari da’wah mereka kepada pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajarannya.

Lebih tepat apabila Jabir bin Zaid dianggap sebagai bapak spiritual Ibadhiyyah, sekalipun namanya tidak dijadikan penisbatan madzhab ini.

Melalui majelis-majelis kajian ilmiahnya di Bashrah, Jabir mengajak mengamalkan Kitabullah dan Sunnah Rasul saw, dan mengkritik para penguasa yang menyimpang dari jalan ini. Akan tetapi ia menghindari adanya konflik langsung atau provokasi, kerena beliau menyakini bahwa da’wah dengan jalan damai lebih berpengaruh daripada kekerasan. Dalam hal ini Ia lebih sejalan dengan Hasan Al-Basri yang hidup semasa dengannya, bahkan tinggal di daerah yang sama. Keduanya memiliki hubungan sangat kuat. Ketika hendak meninggal dunia, orang-orang bertanya kepadanya: “Apakah yang tuan inginkan?”. Ia menjawab: “Aku ingin bertemu Hasan”! ketika Hasan sudah masuk, ia berkata kepada keluarganya: “Baringkanlah aku…dan terus-menerus mengucapkan: Aku berlindung kepada Allah dari api Neraka dan hisab yang buruk” [7].

Tokoh yang tidak kalah pentingnya setelah Jabir bin Zaid dalam munculnya madzhab Ibadhiyyah adalah Abu ‘Ubaidah Muslim bin Abu Karimah, yang disepakati menjadi rujukan pengikut Ibadhiyyah setelah Jabir[8].

Abu ‘Ubaidah menggantikan posisi gurunya, Jabir, mengajar di Bashrah, dan mengambil jalan yang sama dalam menghadapi kelaliman para penguasa. Ia berusaha menjalankan aktifitas da’wahnya secara tertutup, namun walaupun demikian tetap juga mengalami penindasan Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi, penguasa Iraq. Ia dipenjara dan disiksa, dan baru dilepaskan setelah Hajjaj wafat tahun 95 H/714 M, selepas dari penjara ia tambah kuat dan bersikeras melanjutkan dakwah, maka disusunlah gerakan Ibadhiyyah yang berasas pada sistem “Taqiyyah” dan tidak menampakkan permusuhan, agar aman dari penindasan pemerintah Bani Umayyah[9].

Sepeninggal Hajjaj, situasi politik sangat mendukung untuk mewujudkan keberhasilan-keberhasilan demi mengusung tugas pokonya; hal itu karena pengganti Hajjaj untuk wilayah Iraq dan Khurasan adalah Yazid bin Al-Mihlab bin Abu Shofrah[10], yang berafiliasi kepada suku Azd, yang merupakan unsur utama terbentuknya madzhab Ibadhiyyah, karena banyak dari suku ini yang menganut pemikiran gerakan ini. Semenjak itu Ibadhiyyah tidak mengalami penindasan ataupun pengejaran, tepat pada masa pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/715-717 M) dan berlangsung hingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/117-720 M). Situasi berubah pada masa pemerintahan Yazid bin abdul Malik (101-105 H/720-724 M) dan saudaranya Hisyam (105-125 H/724-742 M); Terjadi konflik hebat antara Bani Umayyah dengan Arab Selatan, terutama suku Azd, yang menyebabkan terbunuhnya Yazid bin Al-Mihlab (102 H/720 M) [11], maka kembali terjadi pengusiran terhadap ahli dakwah yang dianggap Bani Umayyah sebagai ancaman terhadap kekuasaan mereka. Dari sini Abu ‘Ubaidah memilih cara “Kitman/sembunyi” dan menghindari kontak senjata, dan menyerukan hal itu kepada pengikut-pengikutnya di Bashrah, terutama ketika ada sebagian mereka yang ingin memberontak terhadap Bani Umayyah setelah terbunuhnya Yazid bin Al-Mihlab dan diusirnya pendukung-pendukurnya yang terdiri dari Azd dan lainnya, yang diantaranya banyak dari unsur Ibadhiyyah[12].

Abu ‘Ubaidah Muslim bin Abu Karimah telah mengambil suatu jalan yang sangat strategis demi mengokohkan dan memperluas pengaruh Ibadhiyyah, ia melakukan gerakan di luar basis utamanya, Bashrah, yaitu dengan menyebarkan ajaran-ajarannya di tempat lain, di dalam ataupun di luar Iraq, dan mendapat keberhasilan yang signifikan di Kufah, Maushil, dan daerah-daerah Iraq lainnya; juga di Makkah dan Madinah untuk daerah Hijaz. Akan tetapi keberhasilan yang sangat besar adalah di selatan semenanjung Arab, terutama Oman. Demikianlah – dan berkat usaha kerasnya – Oman menjadi pusat utama gerakan Ibadhiyyah. Kemudian berdatanganlah sejumlah besar ahli dakwah Ibadhiyyah dari Iraq. Di Oman mereka melakukan aktifitas dakwah yang luas hingga mencapai daerah lain, terutama negara-negara sekitar Maroko[13].

Tokoh ketiga dalam sejarah munculnya Ibadhiyyah adalah Abdullah bin Ibadh At-Tamimi. Mengapa Abdullah bin Ibadh yang menjadi penisbatan Ibadhiyyah bukan tokoh terpenting dalam munculnya gerakan ini? Dan mengapa Ibadhiyyah dinisbatkan kepadanya?

Sebelumnya, Abdullah bin Ibadh adalah pengikut Nafi bin Azraq (wafat tahun 65 H/658 M), pemimpin “Azariqah”, yang dianggap sebagai kelompok Khawarij paling ekstrim dalam pendapat dan sikap-sikapnya[14].

Nafi menghalalkan harta dan darah orang Islam yang tidak sependapat dengannya, dan menganggap mereka Musyrik, alis Kafir!. Ia juga membolehkan membunuh anak-anak mereka, berdalil dengan ayat dalam Surah Nuh:

tA$s%ur ÓyqçR Éb>§‘ Ÿw ö‘x‹s? ’n?tã ÇÚö‘F{$# z`ÏB tûï͍Ïÿ»s3ø9$# #·‘$­ƒyŠ ÇËÏÈ   y7¨RÎ) bÎ) öNèdö‘x‹s? (#q=ÅÒムš‚yŠ$t6Ï㠟wur (#ÿrà$Î#tƒ žwÎ) #\Å_$sù #Y‘$¤ÿŸ2 ÇËÐÈ

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.

Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir.

 

Sebagai komentar atas ayat ini, ia mengatakan: “Allah menyebut mereka Kafir, padahal masih anak-anak, dan belum dilahirkan, jika itu terjadi pada kaum Nuh, kenapa tidak kita katakan juga pada kaum kita?, padahal Allah swt berfirman:

ö/ä.â‘$¤ÿä.r& ׎öyz ô`ÏiB ö/ä3Í´¯»s9’ré& ôQr& /ä3s9 ×ouä!#tt/ ’Îû ̍ç/–“9$# ÇÍÌÈ

Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau Apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-Kitab yang dahulu”.(Al-Qamar:43)

 

Mereka ini sama dengan Musyrikin Arab, kita tidak boleh menerima jizyah dari mereka, antara kita dengan mereka hanya ada dua pilihan, perang, atau masuk Islam!” [15].

Abdullah bin Ibadh menentang logika yang salah itu, ia berkata: “Semoga Allah membinasakannya!, pendapat macam apa ini? Kalau mereka itu Musyrik, tentulah dia (Nafi) orang yang pendapat dan hukumnya paling benar, dan tindakannya meniru tindakan Nabi saw terhadap orang-orang Musyrik, akan tetapi ia telah berbohong, dan membohongi kita; Mereka hanyalah kufur nikmat dan hukum, mereka bukan Musyrik…” [16].

Al-Mubarrid meriwayatkan bahwa seorang sahabat Nafi, Abu Baihas, Haishom bin Jabir, juga menentang sikapnya yang ekstrim, tapi juga menentang pendapat Abdullah bin Ibadh yang moderat; katanya kepada Ibnu Ibadh: “Nafi melampaui batas, dan mengkafirkan, sedangkan anda tidak tegas, sehingga anda juga kafir, anda berpendapat bahwa mereka yang menentang kita bukan Musyrik, tetapi kafir nikmat, sebab masih berpegang kepada Kitabullah dan mengakui Rasul, anda juga berpendapat bahwa menikah dengan golongan mereka, mewarisi, dan tinggal bersama mereka boleh” [17]. Perkataan Abu Baihas memberi sedikit kejelasan bagi Madzhab Abdullah bin Ibadh. Dan meskipun Abu Baihas mengingkari pendapatnya, namun apa yang dikatakan Ibnu Ibadh – menurut Al-Mubarrid – lebih dekat kepada pendapat-pendapat ahli Sunnah” [18].

Demikianlah, Abdullah bin Ibadh memisahkan diri dari Khawarij Azariqah dan berhenti membela mereka. Dia lalu digolongkan dalam kelompok “Qa’adah” (orang-orang yang tidak ikut berperang, sekalipun mampu melakukannya) [19].

Bagaimana sebenarnya hubungan antara Abdullah bin Ibadh dan Jabir bin Zaid? Hubungan keduanya didasari oleh pandangan Abdullah bin Ibadh terhadap sosok Jabir bin Zaid sebagai seorang guru sekaligus imam yang dapat diikuti pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikirannya, menggali kedalaman ilmunya, menjiwai kezuhudan dan ketakwaannya, maka bermula dari inilah ia menjadi salah seorang dari pengikut dan muridnya. Seorang tokoh Ibadhiyyah[20] menggambarkan hubungan keduanya sebagai berikut: “Imam Jabir bin Zaid adalah pendiri dan pelindung madzhab, rujukan dalam penulisan dan pengokohan dasar-dasarnya, sedangkan Abdullah bin Ibadh hanyalah pengikutnya, yang dalam setiap permasalahan selalu merujuk pada pendapat dan pandangannya-pandangannya” [21].

Ada baiknya kita mengingat kembali bahwa Jabir bin Zaid – sekalipun mengkritik pemimpin yang lalim di kajian-kajian ilmiahnya – ternyata memilih tidak melakukan  perlawanan langsung agar tak terjadi fitnah, karena ia juga yakin bahwa da’wah secara damai lebih berpengaruh dari cara lain; sebab itu ia tidak pernah mengalami penganiayaan Bani Umayyah, sebaliknya ia malah bersahabat baik dengan Gubernur Iraq, Hajjaj bin Yusuf As-Tsaqafi, yang terkenal kejam dan bengis[22].

Sedangkan Abdullah bin Ibadh terkenal sangat loyal dan bersemangat membela pendapat-pendapat dan konsep-konsep pemikiran yang didapat dari gurunya, Jabir bin Zaid; karena itulah pendapat-pendapat itu lebih banyak dihubungkan kepada dirinya daripada Jabir, terutama bagi mereka yang tidak mengerti posisi Jabir sebagai Imam madzhab. Lebih daripada itu, pengikut-pengikut Jabir sangat menginginkan agar gerakan mereka tetap bersifat tertutup dan pimpinannya tidak dikenal, agar terhindar dari penindasan Bani Umayyah yang dapat merugikan gerakan mereka sendiri, bila harus kehilangan pemimpin dan pembimbing, yang sulit dicarikan gantinya[23]. Demikianlah,  gerakan ini lalu dinisbatkan kepada Ibnu Ibadh sebagai pembela utama dasar-dasarnya, serta penyebar pemikiran pendirinya, maka dikenal lah dengan sebutan “Ibadhiyyah”, dan tidak dinisbatkan kepada Jabir, walaupun ia adalah guru dan pemimpinnya. Perlu ditambahkan, pengikut-pengikut Jabir bin Zaid tidak menyebut mereka sebagai “Ibadhiyyah”, ini hanyalah istilah yang dipakai lawan-lawan mereka. Mereka lebih suka disebut “Ahlul Istiqamah wal Haq, atau “Ahludda’wah”, atau “Jama’atul Muslimin” [24], walau pada akhirnya mereka tidak keberatan dengan sebutan “Ibadhiyyah”, karena sama sekali tidak mengurangi kedudukan dan dakwah mereka.

 

 

POKOK-POKOK PANDANGAN IBADHIYYAH

  1. PANDANGAN POLITIK
  1. Telah disebutkan bahwa Ibadhiyyah tidak menganggap kelompok Islam yang menentang mereka sebagai Kafir dengan arti Kafir yang sebenarnya, mereka hanya dianggap Kafir nikmat atau Kafir hukum, dan bukan Musyrik. Ini bisa difahami dari jawaban Abdullah bin Ibadh terhadap pernyataan Nafi’ bin Azraq yang sangat ekstrim itu. Pandangan ini merupakan inti persoalan dalam sikap politik mereka. Mereka menghindari kekerasan atau memulai peperangan, kecuali apabila terlebih dahulu diserang oleh kelompok lain.

Mereka juga tidak membolehkan menawan wanita-wanita atau membunuh anak-anak, lebih daripada itu membunuh semata-mata untuk membela diri, sebagaimana saling mewarisi atau menikah dengan pihak lawan juga boleh. Ini lah sebenarnya hakikat yang membedakan Ibadhiyyah dari Khawarij.

  1. Ibadhiyyah menerapkan dasar “Taqiyyah Ad-diniyyah” untuk menghindari penindasan penguasa atau gerakan-gerakan lain yang menentang[25]. Mereka menyampaikan pemikiran-pemikiran dan prinsip-prinsip secara damai tanpa melakukan provokasi atau perlawanan terbuka. Ini adalah prinsip mereka sejak kepemimpinan Jabir bin Zaid yang berekonsiliasi dengan Bani Umayyah dan menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan kemarahan mereka, sebab itu, ia dapat hidup damai bersama mereka, ia sangat dihormati, bahkan oleh segenap masyarakat Islam. Berbeda dengan murid dan penggantinya, Abu ‘Ubaidah Muslim bin abu Karimah yang mengalami siksaan Hajjaj bin Yusuf yang kekejamannya semakin meluas, menangkapi orang-orang tak bersalah, atau menghukum hanya berdasarkan kecurigaan; oleh sebab itu, Abu ‘Ubaidah memilih dakwah tertutup setelah mengalami penganiayaan, ia menjalankan pengajian-pengajian ilmiahnya jauh dari pengawasan, ia berpura-pura sebagai pengrajin “Qifaf/keranjang”, karena itu, ia terkenal dengan julukan “Al-Qaffaf” [26].
  2. Masih dalam konteks prinsip “Taqiyyah”, dalam sejarah pemikiran Ibadhiyyah muncul istilah “Imamah Al-kitman (imamah tersembunyi). Imamah al-kitman berkaitan dengan dakwah rahasia; suatu masa dalam mana segala aktifitas dijalankan jauh dari pengawasan orang-orang yang tidak berafiliasi kepada gerakan Ibadhiyyah; hal itu dilakukan apabila dakwah secara terbuka membahayakan keselamatan mereka. Dalam kondisi ini, Ibadhiyyah memilih seorang Imam yang tidak dikenali pihak lain. Kepemimpinan Imam ini disebut dengan “Imamah Al-Kitman”, seperti Jabir bin Zaid, dan penggantinya Abu ‘Ubaidah. Apabila suasana sudah berubah, dan mereka mampu mendirikan sebuah kekuasaan yang mampu menerapkan prinsip-prinsip dan pemikiran-pemikiran mereka, mereka memproklamirkan istilah “Imamah Zhuhur”; yaitu suatu kepemimpinan yang Imamnya jelas dan dikenal seluruh pengikut Ibadhiyyah atau pihak lain. Ada beberapa contoh Imamah Zhuhur dalam sejarah Ibadhiyyah, diantaranya Imamah di Oman yang berdiri tahun 177 H/794 M, dan berlangsung lebih dari dua abad; berakhir pada penghujung abad ke-4 Hijriyyah oleh pemerintahan Bani Abbasiyah[27]. Imam Zhuhur pertama adalah Muhammad bin Abdullah bin Abu ‘Affan Al-Yahmadi (wafat tahun 179 H/796 M), pada masanya, kota “Nizwa” menjadi pusat kekuasaan Ibadhiyyah yang menjadi saksi kemajuan politik dan budaya yang pesat[28]. Contoh lainnya adalah berdirinya negara Ibadhiyyah Rustumiyyah di “Tihart” (Al-Jazair sekarang) di bawah kekuasaan Abdurrahman bin Rustum, tahun 160 H/777 M, dan berlangsung hingga tahun 296 H/909 M, ketika dihancurkan oleh seorang penguasa Bani Fatimiyyah, Abdullah As-Syi’i[29]. Negara ini mengalami kemajuan ekonomi dan budaya yang sangat pesat, dan memiliki peranan penting dalam penyiaran Islam di Afrika Barat[30]. Apabila Imamah zhuhur berakhir karena suatu sebab atau hal lain, maka kembali kepada Imamah Al-Kitman, dan terus demikian hingga kondisi memungkinkan kembali kepada Imamah Zhuhur.
  3. Ada beberapa pendapat Ibadhiyyah yang perlu dicatat mengenai Imamah atau pemerintahan dalam Islam: Mereka sepakat dengan mayoritas umat Islam bahwa mengangkat seorang Imam adalah wajib agar syariat Allah dapat diterapkan di muka bumi, dan peraturan-peraturan sesuai dengan syariat[31].

Ibadhiyyah tidak mengharuskan menentang pemerintah yang lalim sebagaimana pendapat Khawarij. Pandangan umum mereka adalah menyatakan “Baraah/lepas tangan” darinya. Mengenai hal ini, seorang ulama Ibadhiyyah, Ali Yahya Mu’ammar[32] mengatakan: “Apabila umat diuji dengan pemimpin yang lalim, Ibadhiyyah tidak berpendapat wajib untuk menentangnya, apalagi jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah dan kekacauan, atau bahaya yang lebih besar” [33].

Yang juga perlu dicatat mengenai Imamah, Ibadhiyyah sepakat tidak mensyaratkan seorang Imam atau pemerintah negara Islam harus dari suku Quraisy[34].

  1. Mengenai sikap Ibadhiyyah terhadap para shahabat ada anggapan yang mesti diluruskan. Abu Al-Rabi’ Sulaiman Al-Hillati yang wafat tahun 1099 H/1688 M, dalam bantahan atas tuduhan bahwa Ibadhiyyah mengingkari sebagian shahabat; mengatakan: “Tuduhan pengingkaran terhadap sebagian shahabat adalah bohong dan dusta atas kami, tata cara shalawat kami kepada Nabi saw. Adalah:

(اللهم صل وسلم على سيدنا محمد النبي الأمي، وعلى آله وأصحابه وأزواجه أمهات المؤمنين، وذريته وآل بيته أجمعين، كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم في العالمين، إنك حميد مجيد)

Jadi barang siapa yang sifatnya baik, dan di hatinya tidak ada penyakit dengki atau  kebencian dan ghibah, bila merenungkan pernyataan ini serta memahami maknanya akan mengerti bahwa shalawat itu mencakup semua shahabat, ahlul Bait, istri, dan keturunan Nabi saw, yang dekat atau yang jauh…” [35].

Syekh Muhammad bin Abul Qasim Al-Mush’abi yang wafat tahun 1129 H/1716 M, menambahkan: “Dalam beragama kami mengikuti Kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, dan para shahabat – Radhiyallah ‘anhum – dari Muhajirin, Al-Anshor, Taabi’in, dan Taabi’ Taabi’in dalam kebaikan hingga hari kiamat. Akidah kami terhadap para shahabat adalah: mereka adil, wali-wali Allah dan pembela-NYA, Allah swt berfirman:

Iwr& ¨bÎ) z>÷“Ïm «!$# ãNèd tbqßsÎ=øÿçRùQ$# ÇËËÈ

…bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.(Al-Mujadilah:22)

 

Ini lah akidah yang menjadi sandaran kami; Allah Tuhan kami, Muhammad saw Nabi kami, Al-Qur’an Imam kami, Ka’bah kiblat kami, dan Shahabat – radhiyallah ‘anhum – adalah teladan kami, Allah swt banyak memuji mereka dalam Al-Qur’an[36].

Tulisan-tulisan ini dan lainnya, menjelaskan sikap Ibadhiyyah secara umum terhadap shahabat – Radhiyallah ‘Anhum -, yang pada intinya hampir tidak berbeda dengan pendapat mayoritas umat Islam. Memang ada sebagian kecil tulisan Ibadhiyyah yang keluar dari pendapat umum mereka, menyikapi sebagian shahabat seperti Utsman dan Ali – Radhiyallah ‘Anhuma – dengan gaya bahasa yang menimbulkan kontroversi bagi banyak umat Islam. Penulis-penulisnya umpamanya membahas tentang istilah “kekeliruan” Utsman, atau “kekeliruan” Ali, meskipun pada waktu yang sama juga tidak melupakan keutamaan-keutamaan mereka berdua[37]. Akan tetapi pandangan Ibadhiyah secara umum adalah memposisikan shahabat pada kedudukan mulia yang layak bagi mereka. Inilah prinsip yang ditanamkan oleh guru Ibadhiyyah, Jabir bin Zaid yang juga diikuti muridnya Abu ‘Ubaidah Muslim bin Abu Karimah. Apabila tidak jelas sisi kebenaran pada fitnah yang terjadi di permulaan Islam, maka seorang Muslim – sesuai dengan prinsip ini – hendaklah bersikap “Tawaqquf (tidak berkomentar)” mengenai hukumnya[38]. Sikap Ibadhiyah tentang hal ini sudah ditegaskan oleh salah seorang ulama Oman dari generasi muta’akkhirin[39], ia mengatakan: “Allah telah membersihkan tangan-tangan kita dari darah yang tumpah akibat fitnah, maka sucikanlah juga lidah-lidah kita” [40].

 

  1. PANDANGAN AKIDAH
  2. Konsep Tauhid menurut Ibadhiyyah adalah mengesakan Allah swt dalam beribadah serta membenarkan keesaan-Nya dalam Zat-Nya, Sifat-Nya, dan perbuatan-Nya: “Tidak ada zat yang menyerupai Zat Allah swt, dan ia tak dapat dibagi, tidak ada sifat yang menyerupai sifat-Nya, dan tidak ada sekutu dalam perbuatan-Nya; perbuatan adalah ciptaan Allah semata, sekalipun mengusahakannya dinisbatkan kepada selain-Nya[41].

Menurut Ibadhiyyah sifat-sifat Allah yang zaatiyah seperti ilmu, qudrat, dan iradat adalah Zat itu sendiri, bukan sesuatu yang lebih dari Zat, jadi Allah swt Maha Mengetahui dengan Zat-Nya, Maha Kuasa dengan Zat-Nya, Maha Berkehendak dengan Zat-Nya, dalam hal ini mereka sependapat dengan Mu’tazilah[42], sebab mengatakan bahwa sifat-sifat Allah swt sesuatu yang lebih dari Zat berarti banyak sesuatu yang Qadim, ini bertentangan dengan konsep Tauhid yang murni.

Berangkat dari konsep ini, Ibadhiyah manakwil ayat-ayat Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang secara tekstual mengandung unsur penyerupaan terhadap Allah swt. Satu contoh, tentang orang Mukmin akan melihat Allah swt pada hari kiamat menurut Ibadhiyyah dapat ditakwil; karena penglihatan mata yang melazimkan tempat dan arah berakibat menyerupakan Allah swt dengan makhluk-Nya, padahal Allah swt Maha Suci dari segala bentuk penyerupaan. Ayat Al-Qur’an tentang hal ini di antaranya:

×nqã_ãr 7‹Í´tBöqtƒ îouŽÅÑ$¯R ÇËËÈ   4’n<Î) $pkÍh5u‘ ×otÏß$tR ÇËÌÈ

 Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. kepada Tuhannyalah mereka melihat.(Al-Qiyamah:22-23)

 

Menurut Ibadhiyyah ada beberapa pentakwilan, diantaranya bahwa wajah-wajah itu menunggu rahmat Tuhannya dan memasuki Syurga[43].

Sedangkan hadits, Rasulullah saw bersabda:

“سترون ربكم عيانا كما ترون القمر ليلة البدر”.(رواه الشيخان)

“Kamu akan melihat Tuhan dengan kasat mata, seperti melihat rembulan di malam purnama”.(HR. Bukhari Muslim)

 

Penglihatan dalam hadits ini harus diarahkan kepada makrifat dan ilmu [44].

Masih tentang konsep Tauhid menurut Ibadhiyyah adalah perdebatan tentang Al-Qur’an apakah makhluk atau bukan?

Ibadhiyyah sependapat dengan Mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, karena mengatakan Al-Qur’an bukan makhluk berarti banyak sesuatu yang Qadim (Ta’addudul Qudama), ini bertentangan dengan sifat “wahdaniyyat” yang tertentu bagi Allah swt. , teori ini memungkinkan banyak Tuhan, karena Allah swt patut memiliki sifat ketuhanan lantaran Dia Maha dahulu dari segala sesuatu yang maujud(ada), jikalau ada yang menyertai-Nya di dalam azaliyah, tentu yang menyertai-Nya itu mensekutui-Nya dalam ketuhanan[45].

Tokoh Ibadhiyyah yang masyhur, Ali Yahya Mu’ammar dalam mengomentari persoalan ini menyatakan bahwa para ulama Ibadhiyyah dan Ahlussunnah sama-sama menetapkan sifat kalam bagi Allah swt dan menganggapnya sebagai sifat Zat, seperti sama’(mendengar), bashar (melihat), dan ilmu (mengetahui), sebagian mereka menyebutnya Kalam Nafsi, dan selainnya adalah haadits (baharu). Dari sini jelas bahwa perbedaan mereka hanya pada segi bahasa, cukuplah umat Islam sepakat pada dua hakikat persoalan ini, pertama: Allah swt Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha berkata-kata (Mutakallim). Kedua: Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw[46].

Ibadhiyyah meyakini tidak ada tempat antara iman dan kufur; karena umat sepakat bahwa siapa yang tak Mukmin adalah Kafir; Allah swt berfirman:

uqèd “Ï%©!$# ö/ä3s)n=s{ ö/ä3ZÏJsù ֍Ïù%Ÿ2 /ä3ZÏBur Ö`ÏB÷s•B 4 ÇËÈ

Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin.(At-Taghabun:2)

Allah swt juga berfirman:

$¯RÎ) çm»uZ÷ƒy‰yd Ÿ@‹Î6¡¡9$# $¨BÎ) #[Ï.$x© $¨BÎ)ur #·‘qàÿx. ÇÌÈ

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.(Al-Insan: 3).

 

Dan ayat-ayat lainnya[47]. Dengan demikian, orang-orang Islam yang melakukan dosa besar menurut Ibadhiyyah bukan Musyrik, karena masih mengakui Tauhid, bukan juga Mukmin, karena mereka tidak mematuhi tuntutan iman, mereka dihukumi Muslim di dunia, karena Tauhid, tetapi Musyrik di akhirat karena tidak memenuhi iman dan menentang tuntutan Tauhid dalam perintah dan larangan[48], mereka inilah yang disebut dalam Al-Qur’an orang-orang Munafik. Atas dasar ini, Ibadhiyyah berpendapat bahwa orang-orang yang melakukan dosa besar dan mati sebelum bertaubat kekal di Neraka. Pendapat ini diperkuat dengan beberapa Ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Diantara Ayat Al-Qur’an adalah firman Allah swt :

4’n?t/ `tB |=|¡x. Zpy¥ÍhŠy™ ôMsÜ»ymr&ur ¾ÏmÎ/ ¼çmçGt«ÿ‹ÏÜyz šÍ´¯»s9’ré’sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $ygŠÏù tbrà$Î#»yz ÇÑÊÈ

(Bukan demikian), yang benar: Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(Al-Baqarah: 81)

 

 

Firman Allah swt:

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9’ré’sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

Orang-orang yang Makan (mengambil) ribatidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(Al-Baqarah: 275)

 

Firman Allah swt:

ÆtBur ÄÈ÷ètƒ ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur £‰yètGtƒur ¼çnyŠr߉ãn ã&ù#Åzô‰ãƒ #·‘$tR #V$Î#»yz $yg‹Ïù ¼ã&s!ur ÑU#x‹tã ÑúüÎg•B ÇÊÍÈ

Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(An-Nisa:14)

 

Sedangkan dari hadits-hadits Nabi saw:

“من استرعاه الله رعية ثم لم يحطها بنصحه إلا حرم الله عليه الجنة”.(رواه الشيخان)

“Barang siapa diberitanggung jawab oleh Allah mengatur rakyat, kemudian ia tidak memeliharanya dengan baik, Allah haramkankan baginya Syurga” (HR. Bukhari Muslim)

 

Dan hadits:

“من اقتطع حق مسلم بيمينه حرم الله عليه الجنة، وأوجب له النار، فقال رجل: وإن كان شيئا قليلا يسيرا يا رسول الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وإن كان قضيبا من أراك”.(رواه الإمام مالك في الموطأ ومسلم في صحيحه والنسائي في سننه من حديث أبي أمامة رضي الله عنه).

“Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, Allah haramkan baginya Syurga, dan mewajibkan Neraka, Seorang sahabat bertanya: Sekalipun sedikit sekali, wahai Rasulullah?, Beliau menjawab: walaupun hanya sepotong kayu Arak”. (HR. Malik, Muslim, dan An-Nasai, dari Abu Umamah Ra) [49]

 

Dalam membela pendapat ini, sebagian ulama Ibadhiyyah menyatakan bahwa keyakinan tentang pelaku dosa besar tidak kekal di Neraka membuat orang berani melanggar larangan agama, dan tunduk kepada keinginan-keinginan hawa nafsu[50]. Itu adalah kerugian yang nyata di dunia dan akhirat.

 

APAKAH IBADHIYYAH TERMASUK KHAWARIJ?

Persepsi yang ditulis pada sumber-sumber sejarah sekte-sekte dan aliran-aliran dalam Islam menyebutkan bahwa Ibadhiyyah salah satu sekte Khawarij. Abu Hasan Al-Asy’ari contohnya, dalam pembahasan tentang sekte-sekte Khawarij serta pendapat-pendapat mereka, ketika sampai pada pembahasan Ibadhiyyah, ia mengatakan: “Termasuk Khawarij adalah Ibadhiyyah…” [51], lalu ia berbicara tentang Ibadhiyyah dan pemikiran-pemikirannya.

Begitu juga dilakukan Abdul Qahir Al-Baghdadi yang membagi Khawarij dua puluh sekte, dan Ibadhiyyah adalah sekte yang keenambelas[52]. Sedangkan As-Syahrastani berbicara tentang sekte-sekte Khawarij yang terbesar, menurutnya ada tujuh, dan Ibadhiyyah adalah yang ketujuh[53]. Ketiga kitab ini –  yang merupakan sumber-sumber utama  tentang sekte-sekte dalam sejarah Islam – menjadi model sumber-sumber lain yang mengupas tema ini.

Sebenarnya tidak lah terlalu penting menegaskan bahwa Ibadhiyyah sekte  yang berdiri sendiri, tidak ada hubungannya dengan Khawarij. Semua Khawarij menganggap tempat orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagai tanah kafir. Darah, harta, dan wanita-wanita mereka adalah halal, mereka juga membunuh anak-anak. Sedangkan Ibadhiyyah berperang semata-mata untuk membela diri, mereka tidak membunuh anak-anak, tidak menawan wanita, tidak menganggap tempat lawan sebagai tanah kafir. Mereka tidak mewajibkan menentang pemimpin yang lalim, pendapat-pendapat mereka tentang Imamah juga tidak berbeda dengan pendapat mayoritas umat Islam. Ketika tidak mensyaratkan Imam dari suku Quraisy, mereka ingin menyampaikan semangat keislaman, dan dalam hal ini sebagian ulama ahli Sunnah juga sepakat, seperti Ibnu Khaldun, dan kebanyakan dari Mu’tazilah. Mayoritas Ibadhiyyah menghormati dan memuliakan para shahabat, kalaupun ada yang  mencela sebagian shahabat jumlahnya sedikit, tidak dapat mewakili pandangan mayoritas mereka.

Dalam akidah, sebagian pendapat mereka sama dengan Ahlussunnah, sebagian lagi dengan Mu’tazilah, ini semua menguatkan bahwa Ibadhiyyah tidak berafiliasi kepada Khawarij; Kenapa sumber-sumber yang membahas tentang sekte-sekte Islam menyebut mereka termasuk Khawarij? Kenapa banyak peneliti mengulangi hal yang sama, tanpa penelitian mendalam?

Mungkin saja sebab itu karena dahulu Abdullah bin Ibadh adalah salah satu pengikut Nafi bin Azraq, kemudian memisahkan diri. Mereka yang mengaitkan Ibadhiyyah dengan Khawarij beranggapan bahwa lepasnya Ibnu Ibadh dari Nafi bin Azraq mendorongnya mendirikan sekte baru dalam Khawarij yang lebih moderat daripada Azariqah, yang konsep-konsep utama pemikirannya diambil dari Khawarij.

Namun yang patut kita perhatikan di sini adalah bahwa Abdullah bin Ibadh bukan pendiri Ibadhiyyah yang sebenarnya, tetapi Jabir bin Zaid. Ibnu Ibadh hanyalah seorang pengikut dan muridnya, penisbatan nama kelompok kepadanya hanya kerena ketenaran aktifitasnya. Jadi, terpisahnya Ibnu Ibadh dari Nafi bin Al-Azraq bukan berarti permulaan munculnya aliran ini. Anggap kita setuju bahwa Abdullah bin Ibadh adalah pendiri madzhab yang sebenarnya, tapi terpisahnya dia tidak mesti berarti bahwa madzhabnya yang baru adalah bagian dari Khawarij. Dahulu Abu Hasan Al-Asy’ari pengikut Mu’tazilah, kemudian ia memisahkan diri dari gurunya Abu Ali Al-Jibai, lalu membentuk sebuah madzhab yang dinisbatkan kepadanya dengan nama “Asy’ariyyah”, dan tak seorangpun mengatakan bahwa Asy’ariyyah adalah cabang Mu’tazilah. Mengatakan Ibadhiyyah sekte Khawarij sama sekali tidak mendasar kepada sejarah atau logika yang benar.

 

KEBERADAAN IBADHIYYAH SAAT INI

Negara Oman yang terletak di selatan semenanjung Jazirah Arab merupakan pusat terpenting Ibadhiyyah. Mayoritas penduduknya bermadzhab Ibadhi. Mulai dari berdirinya Imamah Dzuhur Ibadhiyyah, Oman mencapai kemajuan dalam bidang keilmuan, ekonomi, dan sosial yang mengagumkan.

Dari Oman pengaruh Ibadhiyyah sampai ke Zinjibar (Tanzania sekarang). Orang-orang Ibadhi di Zinjibar memiliki andil besar menyiarkan Islam di Afrika Timur dan Afrika tengah melalui aktifitas perdagangan yang luas.

Terdapat juga Komunitas Ibadhiyyah di Afrika Utara. Di Libya (di Jabal Nafusa), di Tunisia (di Jazirah Jirbah), dan Al-Jazair yang menjadi saksi kejayaan Daulah Ibadhiyyah, yaitu Daulah Rustumiyyah dari tahun 160 sampai tahun 296 H. Dan sampai sekarang masih ada komunitas Ibadhiyah di sana.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Ashfahani, Abu Nu’aim, Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya, Jilid 3 (Beirut: Daarul Kutub Al-Ilmiyyah)

 

Al-Asy’ari , Abu Hasan, Maqaalaat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaful Mushallin, juz 1,Tahkik: Muhammad Muhyiddin  Abdul Hamid (Beirut: Al-Maktabah Al-Ashriyyah, 1990)

 

Al-Khalili, Ahmad bin Hamad,  Al-Haqq Ad-Daamigh (Muscat: Maktabah Muscat, 1409)

 

Al-Mubarrid, Abul Abbas Muhammad bin Yazid, Al-Kamil fil Lughah wal Adab, Juz 3, Tahkik: Muhammad Abul Fadhal Ibrahim (Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah, 2002)

 

Amin, Ahmad, Dhuhal Islam, juz 3 (Kairo: Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriyyah, Cet. ke-10)

 

As-Suhail , Naif  ‘Ied Jabir , Al-Ibadhiyyah fil Khalij Al-Arabi fil Qarnainitstsalis wal Rabi’ Al-Hijriyyaini (Muscat: Maktabah Al-Istiqamah, 1998)

 

As-Syahrastani , Muhammad bin Abdul Karim, Al-Milal wan Nihal, Juz 1, Tahkik: Muhammad Sayyid Kailani (Kairo: Maktabah Mushtafa Al-Baba Al-Halabi, 1967)

 

At-Thobari , Abu Ja’far Muhammad bin Jarir, Tarikhurrusul wal Muluk, Tahkik: Muhammad Abul Fadhal Ibrahim, Juz 6 (Kairo: Daarul Ma’arif, 1979)

 

Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, Tahkik Tsarwat ‘Ukasyah (Kairo: Al-Hai’ah Mishriyyah Al-‘Aammah lil Kutub, 1992), hlm.622; Abdul Qahir Al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, Tahkik: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid (Kairo: Maktabah Muhammad Ali Shabih)

 

Jahlan, Adnan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah (Asseb: Oman: Maktabah Ad-Dhomiri linnasyri wattauzi’)

 

Mu’ammar , Ali Yahya, Al-Ibadhiyyah fi Maukibit Tarikh (Muscat: Maktabah Al-Istiqamah, 1989)

 

Mu’ammar, Ali Yahya, Al-Ibadhiyyah Bainal firaq Al-Islamiyyah (Seeb: Oman: Maktabah Ad-Dhomiri, 2003)

[1] Mahasiswa S-2 Kader Ulama IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo, Jawa Timur

[2] Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, Tahkik Tsarwat ‘Ukasyah (Kairo: Al-Hai’ah Mishriyyah Al-‘Aammah lil Kutub, 1992), hlm.622; Abdul Qahir Al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, Tahkik: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid (Kairo: Maktabah Muhammad Ali Shabih), 103

[3] Abu Nu’aim Al-Ashfahani, Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya, Jilid 3 (Beirut: Daarul Kutub Al-Ilmiyyah), hlm.85

[4] Ibid.,86

[5] Ibid.,86

[6] Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif,hlm.453

[7] Abu Nu’aim Al-Ashfahani, Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya,hlm.89

[8] Ali Yahya Mu’ammar, Al-Ibadhiyyah fi Maukibit Tarikh (Muscat: Maktabah Al-Istiqamah, 1989), hlm.153

[9] Ibid.,hlm.153-154

[10] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thobari, Tarikhurrusul wal Muluk, Tahkik: Muhammad Abul Fadhal Ibrahim, Juz 6 (Kairo: Daarul Ma’arif, 1979), hlm.523

[11] Ibid., hlm.590

[12] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah (Asseb: Oman: Maktabah Ad-Dhomiri linnasyri wattauzi’), hlm.40

[13] Ibid.,hlm.40-41

[14] Muhammad bin Abdul Karim As-Syahrastani, Al-Milal wan Nihal, Juz 1, Tahkik: Muhammad Sayyid Kailani (Kairo: Maktabah Mushtafa Al-Baba Al-Halabi, 1967), hlm.120-122

[15] Abul Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrid, Al-Kamil fil Lughah wal Adab, Juz 3, Tahkik: Muhammad Abul Fadhal Ibrahim (Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah, 2002), hlm.202

[16] At-Thabari, Tarikhurrusul wal Muluk, Juz 5, hlm. 568

[17] Abul Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrid, Al-Kamil fil Lughah wal Adab, Juz 3, hlm.204

[18] Ibid.,

[19] Ahmad Amin, Dhuhal Islam, juz 3 (Kairo: Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriyyah, Cet. ke-10), hlm.333

[20] Dia adalah Qasim bin Sa’id Asy-Syimakhi

[21] Ali Yahya Mu’ammar, Al-Ibadhiyyah fi Maukibit Tarikh, hlm.151

[22] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah, hlm.33

[23] Naif ‘Ied Jabir As-Suhail, Al-Ibadhiyyah fil Khalij Al-Arabi fil Qarnainitstsalis wal Rabi’ Al-Hijriyyaini (Muscat: Maktabah Al-Istiqamah, 1998), hlm.15

[24] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah, hlm.36

[25] Naif ‘Ied Jabir As-Suhail, Al-Ibadhiyyah fil Khalij Al-Arabi fil Qarnainitstsalis wal Rabi’ Al-Hijriyyaini, hlm.54

[26] Ibid., hlm.59

[27] Ibid., hlm.64-65

[28] Ibid., hlm.65-67

[29] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah, hlm.42-46

[30] Ibid., hlm.46-48

[31] Ibid., hlm.138

[32] Ali Yahya Mu’ammar adalah seorang tokoh Ibadhiyyah yang terkemuka di Afrika Utara (Libya). Lahir di Libya tahun 1919 M, dan belajar di sana. Banyak mengunjungi Negara-negara Utara Afrika, ia sangat aktif di bidang keilmuan dan pendidikan. Pada masanya, ia ikut andil dalam gerakan pemikiran di Dunia Arab. Tulisan-tulisannya banyak di muat di beberapa majalah Ilmiah, seperti Majalah Al-Azhar dan Majalah Ar-risalah yang terkemuka di Mesir. Ia juga menulis beberapa buku tentang pemikiran Ibadhiyah, di antaranya: Al-Ibadhiyyah bainal Firaq Al-Islamiyyah, dan Al-Ibadhiyyah fi Maukibittarikh. Wafat di Tripoli, Libya, pada tanggal 15 Januari tahun 1980.  Lihat sejarah singkatnya yang ditulis oleh Bakir bin Muhammad As-Syekh Balhaj di pengantar kitab: Al-Ibadhiyyah Bainal firaq Al-Islamiyyah (Seeb: Oman: Maktabah Ad-Dhomiri, 2003)

[33] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah, hlm.200

[34] Naif ‘Ied Jabir As-Suhail, Al-Ibadhiyyah fil Khalij Al-Arabi fil Qarnainitstsalis wal Rabi’ Al-Hijriyyaini, hlm.39

[35] Ali Yahya Mu’ammar, Al-Ibadhiyyah Bainal firaq Al-Islamiyyah (Seeb: Oman: Maktabah Ad-Dhomiri, 2003), hlm.248-249

[36] Ibid., hlm.250-251

[37] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah, hlm.75

[38] Ibid.,hlm.76

[39] Ia adalah Khalfan bin Jamil As-Siyabi, wafat tahun 1392 H.

[40] Adnan Jahlan, Al-Fikrussiyasi ‘indal Ibadhiyyah, hlm.75

[41] Ibid.,hlm.52

[42] Ibid.,hlm.53-54

[43] Penjelasan lengkapnya dapat di lihat : Ahmad bin Hamad Al-Khalili (Mufti Kesultanan Oman Sekarang), Al-Haqq Ad-Daamigh (Muscat: Maktabah Muscat, 1409),hlm. 42 dan setelahnya.

[44] Ibid.,hlm.55 dan setelahnya

[45] Ibid.,hlm.163

[46] Ali Yahya Mu’ammar, Al-Ibadhiyyah Bainal firaq Al-Islamiyyah,hlm.216-217

[47] Ibid.,hlm.286

[48] Ibid.,hlm.288

[49] Lebih lengkap dapat di lihat pada: Ahmad bin Hamad Al-Khalili, Al-Haqq Ad-Daamigh, hlm.202-225

[50] Ibid.,hlm.226-277

[51] Abu Hasan Al-Asy’ari, Maqaalaat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaful Mushallin, juz 1,Tahkik: Muhammad Muhyiddin  Abdul Hamid (Beirut: Al-Maktabah Al-Ashriyyah, 1990), hlm.183

[52] Abdul Qahir Al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, hlm. 103

[53] Muhammad bin Abdul Karim As-Syahrastani, Al-Milal wan Nihal, juz 1, hlm.134

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *