ISLAM DAN DEMOKRASI (SEBUAH KAJIAN PEMIKIRAN K.H. ABDURRAHMAN WAHID)

Oleh; Muhammad Zubad, M.H.I

  1. Latar Belakang

Islam sebagai agama baru yang diturunkan untuk menyempurnakan ajaran-ajaran para Nabi sebelumnya dan juga sebagai ajaran yang bersifat universal memiliki perngertian, bahwa Islam adalah agama yang memiliki prinsip dasar menjaga nilai-nilai universal dalam kehidupan masyarakat. Islam walau diturunkan dalam sebuah negeri yang tandus dan gersang, dan dalam sebuah masyarakat yang jahiliyah, sehingga kandungan sumber hukumnya banyak dipengaruhi oleh budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat ketika itu, namun hal ini, tidak menjadikan Islam menjadi ajaran yang terbatas pada zaman, dan tempat ketika Islam itu lahir, lebih dari itu, Islam adalah agama yang membawa rahmatan lil ‘alamin yang diperuntukkan sebagai petunjuk bagi semua manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Setiap orang mendambakan dan mengidealkan hidup dalam sebuah payung keselamatan, kedamaian, dan ketenangan. Semua itu sudah ada dalam payung Islam. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bahwa payung itu dibawah oleh kepentingan sepihak untuk dipahami, diamalkan sesuai dengan cita-cita dan kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Payung yang seharusnya melindungi semua kepentingan dan dipegang erat-erat oleh semua pihak, mudah lepas ditiup angin zaman yang selalu berubah. Termasuk angin modernisasi dan globalisasi.

Seiring dengan kompleksitas kebutuhan zaman akan hukum-hukum atau sistem yang memiliki nilai-nilai universal, banyak pemikir-pemikir dunia yang menawarkan gagasan dan idenya, baik tawaran itu bersifat praktis lewat gerakan lapangan, maupun secara teoris lewat konsep yang ditulis dalam buku-bukunya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa setiap kita membangun sebuah sistem yang baik, selalu menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks, karena sistem yang dibangun belum dapat membaca dan memahami kebutuhan zaman. Di samping itu setiap gagasan baru yang briliat dianggap virus yang akan merusak sistem yang ada.

Dalam konteks pembaharuan pemikiran keagamaan muslim di Indonesia, Abdurrhman Wahid atau sering disapa Gus Dur muncul dengan gagasannya tentang Islam sebagai faktor komplementer kehidupan sosial-budaya, dan politik Indonesia. Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur adalah intelektual muslim yang memiliki multi kemampuan, terlahir dari lingkungan pesantren yang agamis, dididik dalam keluarga yang shaleh, namun dalam perkembangannya ia lahir sebagai sosok politikus yang banyak menyuaran konsep Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Abdurrahman sering menggembor-gemborkan tentang pluralisme Agama, Pluralsime social, kebebasan beragama (aliran-aliran), dalam hal ini Gus Dur sangat membela eksistensi aliran Ahmadiyah sebagai aktualisasi paham Pancasila. Baginya semangat kebhinekaan di Indonesia harus dijadikan dasar membina kerukunan umat beragama, dan Agama dalam hal ini Islam hendaknya mengatualisasikan nilai-nilai universal dengan membina toleransi terhadap perbedaan yang ada, Islam haruslah dipahami dalam kontesk budaya tanpa mencabut akar nilai-nilai prinsipnya.

Menarik untuk mengkaji pemikiran sosok yang satu ini, mengingat ide-ide segarnya selalu menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, dia adalah sosok yang mandiri dalam berfikir, tidak suka diintervensi oleh orang, kelompok, atau organisasi lain. Salah satu contoh ide yang kontroversial adalah gagasan tentang pribumisasi Islam seperti mengganti assalamu’alaikum dengan selamat pagi. Baginya dalam memahami ajaran Islam kita perlu mempertimbangkan situasi lolal, dengan demikian Islam Indonesia tidak akan tercabut dari akar budaya dan tradisi masyarakatnya sendiri.[1]

Dalam makalah ini, saya akan mencoba menggali pemikiran sosok K.H Abdurrahman Wahid dalam masalah Islam dan demokrasi. Islam adalah agama dan demokrasi adalah negara. Apakah agama dan Negara dapat didekatkan?. Banyak perdebatan tentang masalah apakah demokrasi adalah ssstem ideal dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara?. Setidaknya ada dua pendapat. pertama, bahwa demokrasi tidak sesuai dengan ajaran Islam, di sisi lain mengatakan bahwa Islam mengajarkan demokrasi. Bagaimana pandangan K.H. Abdurrahman Wahid tentang Islam dan Demokrasi? Bagaimana Pandangannya tentang Isu Pluralisme, Islam Kultural?. Lalu Bagaimana konsep Islam dan demokrasinya?.

 

  1. Setting Historis (Biografi, Pendidika, dan karir)
    1. Biografi

Abdurrahman “Addakhil”, demikian nama lengkapnya. Secara leksikal, “Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, sebuah nama yang diambil Wahid Hasyim, orang tuanya, dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol. Belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada seorang anak kiai yang berati “abang” atau “mas”.[2]

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Agustus 1940. Secara genetik Gus Dur adalah keturunan “darah biru”. Ayahnya, K.H. Wahid Hasyim adalah putra K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU)-organisasi massa Islam terbesar di Indonesia-dan pendiri Pesantren Tebu Ireng Jombang. Ibundanya, Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Kakek dari pihak ibunya ini juga merupakan tokoh NU, yang menjadi Rais ‘Aam PBNU setelah K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan demikian, Gus Dur merupakan cucu dari dua ulama NU sekaligus, dan dua tokoh bangsa Indonesia.

Pada tahun 1949, ketika clash dengan pemerintahan Belanda telah berakhir, ayahnya diangkat sebagai Menteri Agama pertama, sehingga keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Dengan demikian suasana baru telah dimasukinya. Tamu-tamu, yang terdiri dari para tokoh-dengan berbagai bidang profesi-yang sebelumnya telah dijumpai di rumah kakeknya, terus berlanjut ketika ayahnya menjadi Menteri agama. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi seorang anak bernama Abdurrahman Wahid. Secara tidak langsung, Gus Dur juga mulai berkenalan dengan dunia politik yang didengar dari kolega ayahnya yang sering mangkal di rumahnya.

Sejak masa kanak-kanak, ibunya telah ditandai berbagai isyarat bahwa Gus Dur akan mengalami garis hidup yang berbeda dan memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab terhadap NU. Pada bulan April 1953, Gus Dur pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobilnya mengalami kecelakaan. Gus Dur bisa diselamatkan, akan tetapi ayahnya meninggal. Kematian ayahnya membawa pengaruh tersendiri dalam kehidupannya.

Dalam kesehariannya, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu ia juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku yang agak serius. Karya-karya yang dibaca oleh Gus Dur tidak hanya cerita-cerita, utamanya cerita silat dan fiksi, akan tetapi wacana tentang filsafat dan dokumen-dokumen manca negara tidak luput dari perhatianya.

Di samping membaca, tokoh satu ini senang pula bermain bola, catur dan musik. Dengan demikian, tidak heran jika Gus Dur pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika ia berada di Mesir.

 

  1. Pengalaman Pendidikan

Pertama kali belajar, Gus Dur kecil belajar pada sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari. Saat serumah dengan kakeknya, ia diajari mengaji dan membaca al-Qur’an. Dalam usia lima tahun ia telah lancar membaca al-Qur’an. Pada saat sang ayah pindah ke Jakarta, di samping belajar formal di sekolah, Gus Dur masuk juga mengikuti les privat Bahasa Belanda. Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam, yang mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran Bahasa Belanda tersebut, Buhl selalu menyajikan musik klasik yang biasa dinikmati oleh orang dewasa. Inilah pertama kali persentuhan Gus Dur dengan dunia Barat dan dari sini pula Gus Dur mulai tertarik dan mencintai musik klasik.

Menjelang kelulusannya di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan lomba karya tulis (mengarang) se-wilayah kota Jakarta dan menerima hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menuangkan gagasan/ide-idenya dalam sebuah tulisan. Karenanya wajar jika pada masa kemudian tulisan-tulisan Gus Dur menghiasai berbagai media massa.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Gus Dur dikirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) Gowongan, sambil mondok di pesantren Krapyak. Sekolah ini meskipun dikelola oleh Gereja Katolik Roma, akan tetapi sepenuhnya menggunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini pula pertama kali Gus Dur belajar Bahasa Inggris. Karena merasa terkekang hidup dalam dunia pesantren, akhirnya ia minta pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah dan orang yang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah shalat subuh mengaji pada K.H. Ma’sum Krapyak, siang hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari ia ikut berdiskusi bersama dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya.

Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris.

Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Selain belajar dengan membaca buku-buku berbahasa Inggris, untuk meningkatan kemampuan bahasa Ingrisnya sekaligus untuk menggali informasi, Gus Dur aktif mendengarkan siaran lewat radio Voice of America dan BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur pandai dalam bahasa Inggis, Pak Sumatri-seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis-memberi buku karya Lenin ‘What is To Be Done’ . Pada saat yang sama, anak yang memasuki masa remaja ini telah mengenal Das Kapital-nya Karl Marx, filsafat Plato,Thales, dan sebagainya. Dari paparan ini tergambar dengan jelas kekayaan informasi dan keluasan wawasan Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicintai. Kyai Chudhari inilah yang memperkenalkan Gus Dur dengan ritus-ritus sufi dan menanamkan praktek-praktek ritual mistik. Di bawah bimbingan kyai ini pula, Gus Dur mulai mengadakan ziarah ke kuburan-kuburan keramat para wali di Jawa. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran. Pada saat ini pula Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam berhumor dan berbicara.

Dalam kaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah kisah menarik yang patut diungkap dalam paparan ini adalah pada acara imtihan-pesta akbar yang diselenggarakan sebelum puasa pada saat perpisahan santri yang selesai menamatkan belajar-dengan menyediakan makanan dan minuman dan mendatangkan semua hiburan rakyat, seperti: Gamelan, tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Jelas, hiburan-hiburan seperti tersebut di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Akan tetapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo.

Setelah menghabiskan dua tahun di pesantren Tegalrejo, Gus Dur pindah kembali ke Jombang, dan tinggal di Pesantren Tambak Beras. Saat itu usianya mendekati 20 tahun, sehingga di pesantren milik pamannya, K.H. Abdul Fatah, ia menjadi seorang ustadz, dan menjadi ketua keamanan. Pada usia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk menunaikan ibadah haji, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar. Pertama kali sampai di Mesir, ia merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas al-Azhar, akan tetapi harus masuk Aliyah (semacam sekolah persiapan). Di sekolah ia merasa bosan, karena harus mengulang mata pelajaran yang telah ditempuhnya di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, Gus Dur sering mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika (USIS) dan toko-toko buku dimana ia dapat memperoleh buku-buku yang dikehendaki.

Terdapat kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi era keemasan kaum intelektual. Kebebasan untuk mengeluarkkan pendapat mendapat perlindungan yang cukup. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di Irak ia masuk dalam Departement of Religion di Universitas Bagdad samapi tahun 1970. Selama di Baghdad Gus Dur mempunyai pengalaman hidup yang berbeda dengan di Mesir. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur pada saat itu. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Selepas belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud melanjutkan studinya ke Eropa. Akan tetapi persyaratan yang ketat, utamanya dalam bahasa-misalnya untuk masuk dalam kajian klasik di Kohln, harus menguasai bahasa Hebraw, Yunani atau Latin dengan baik di samping bahasa Jerman-tidak dapat dipenuhinya, akhirnya yang dilakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi pelajar keliling, dari satu universitas ke universitas lainnya. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga sempat pergi ke McGill University di Kanada untuk mempelajari kajian-lkajian keislaman secara mendalam. Namun, akhirnya ia kembali ke Indoneisa setelah terilhami berita-berita yang menarik sekitar perkembangan dunia pesantren. Perjalanan keliling studi Gus Dur berakhir pada tahun 1971, ketika ia kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang sekaligus sebagai perjalanan awal kariernya.

Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar ke sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar tersebut. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik.

 

 

  1. Perjalanan Karir

Sepulang dari pegembaraanya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, tokoh muda ini bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Ia kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak. Djohan Efendi, seorang intelektual terkemuka pada masanya, menilai bahwa Gus Dur adalah seorang pencerna, mencerna semua pemikiran yang dibacanya, kemudian diserap menjadi pemikirannya tersendiri. Sehingga tidak heran jika tulisan-tulisannya jarang menggunakan foot note.

Gus Dur kembali ke Jakarta dan mengharapkan ia akan pergi ke luar negeri lagi untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Hal itu membuat dirinya sibuk dengan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yg terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.
LP3ES kemudian mendirikan majalah yang disebut Prisma, dan Wahid menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Wahid juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.
Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Wahid merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini.

Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Wahid memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid kemudian meneruskan karirnya sebagai jurnalis, dan menulis untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Artikelnya diterima dengan baik, dan ia mulai mengembangkan reputasinya sebagai komentator sosial.
Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar, membuat dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Wahid tinggal bersama keluarganya.

Meskipun memiliki karir yang sukses pada saat itu, Gus Dur masih merasa sulit hidup hanya dari satu sumber pencaharian, dan ia bekerja untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan pada bisnis Es Lilin istrinya.

Pada tahun 1974 Wahid mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas, dan segera mengembangkan reputasi pribadinya. Satu tahun kemudian, Wahid menambah pekerjaannya dengan menjadi guru Kitab Al Hikam.

Pada tahun 1977, Wahid bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Praktek dan Kepercayaan Islam. Sekali lagi, Wahid mengungguli pekerjaannya dan universitas itu ingin agar Wahid mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi.

Namun kelebihannya menimbulkan ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas, dan Wahid mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban tersebut, Wahid juga berpidato selama ramadhan di depan komunitas muslim di Jombang.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula ia merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap ‘menyimpang’-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo.[3] Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid.

Catatan perjalanan karier Gus Dur yang patut dituangkan dalam pembahasan ini adalah menjadi ketua Forum Demokrasi untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non muslim. Anehnya lagi, Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sectarian dan Islam fundamentaslis.[4]

Dari paparan tersebut di atas memberikan gambaran betapa kompleks dan rumitnya perjalanan Gus Dur dalam meniti kehidupannya, bertemu dengan berbagai macam orang yang hidup dengan latar belakang ideologi, budaya, kepentingan, strata sosial dan pemikiran yang berbeda. Dari segi pemahaman keagamaan dan ideologi, Gus Dur melintasi jalan hidup yang lebih kompleks, mulai dari yang tradisional, ideologis, fundamentalis, sampai moderrnis dan sekuler. Dari segi kultural, Gus Dur mengalami hidup di tengah budaya Timur yang santun, tertutup, penuh basa-basi, sampai denga budaya Barat yang terbuka, modern dan liberal. Demikian juga persentuhannya dengan para pemikir, mulai dari yang konservatif, ortodoks sampai yang liberal dan radikal semua dialami.

Pemikiran Gus Dur mengenai agama diperoleh dari dunia pesantren. Lembaga inilah yang membentuk karakter keagamaan yang penuh etik, formal, dan struktural. Sementara pengembaraannya ke Timur Tengah telah mempertemukan Gus Dur dengan berbagai corak pemikirann Agama, dari yang konservatif, simbolik-fundamentalis sampai yang liberal-radikal. Dalam bidang kemanusiaan, pikiran-pikiran Gus Dur banyak dipengaruhi oleh para pemikir Barat dengan filsafat humanismenya. Secara rasa maupun praktek prilaku yang humanis, pengaruh para kyai yang mendidik dan membimbingnya mempunyai andil besar dalam membentuk pemikiran Gus Dur. Kisah tentang Kyai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’shum dari Krapyak dan Kyai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada sentuhan-sentuhan kemanusiaan.

Dari segi kultural, Gus Dur melintasi tiga model lapisan budaya. Pertama, Gus Dur bersentuhan dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup, dan penuh dengan etika yang serba formal; kedua, dunia Timur yang terbuka dan keras; dan ketiga, budaya Barat yang liberal, rasioal dan sekuler. Kesemuanya tampak masuk dalam pribadi dan membetuk sinergi. Hampir tidak ada yang secara dominan berpengaruh membentuk pribadi Gus Dur. Sampai sekarang masing-masing melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu kelihatan dinamis dan sulit dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

 

 

 

 

  1. Islam, Pluralisme, Pribumisasi,  dan Demokrasi
  1. Pluralisme

Dewasa ini kita sering mendengar perdebatan isu tentang Pluralisme agama dengan pemahaman yang berbeda-berbeda. Tantangan keras dinisbatkan pada pengusung gagasan term ini, dengan alasan bahwa tidak ada kebenaran yang sama dalam suatu agama, Islam adalah Islam dan bukan agama lain yang secara teologis berbeda. Dalam buku, Pluralisme: Tantangan bagi Agama-agama(1989), Horald Coward mengatakan,” Pluralisme keagamaan merupakan tantangan khusus yang dihadapi agama-agama dunia dewasa ini, meskipun dalam arti tertentu pluralisme keagamaan selalu ada bersama kita.[5]

Kalau kita telusuri sejarah pemikiran, khususnya filsafat, maka kita akan menemukan, bahwa konsep pluralisme itu tidak hanya menyangkut masalah agama, tapi juga aspek-aspek lain seperti politik, social, ekonomi, yang pada intinya, masyarakat ingin ikut secara aktif terlibat di dalamnya. Namun yang menjadi perbincangan hangat, apalagi didukung banyaknya kasus kerusakan, anarkisme yang mengatas-namakan agama menjadikan isu pluralisme sangat membooming

Menurut John Hick dalam Encyclopaedia of Religion, mendefinisikan pluralisme Agama sebagai teori yang merujuk pada hubungan antar agama atau tradisi, dengan klaim-klaimnya yang saling berlawanan. Menurut John Hick, agama-agama besar di dunia sebenarnya merupakan satu konsepsi yang berbeda-beda sebagai respon terhadap the ultimate. Agama-agama yang ada hanyalah merupakan different manisfestation of the same reality.[6]Ditambahkan oleh Sayyed Husein Nasr, bahwa agama-agama yang ada hanyalah merupakan bentuk lahir yang berbeda dari hakikat yang sama (expression of one the same truth). Agama-agama itu bedanya hanya pada kulitnya, dan karena itu tidak usah diperdebatkan. Menurut John Hick, conflicting truth claim itu hanya terjadi di luarnya saja.[7]

Pluralisme dan Humanisme yang diperjuangkan KH. Abdurrahman Wahid bukan mencampur adukkan ataupun mengaburkan ajaran agama atau kepercayaan, namun justeru menguatkan jati diri masing-masing dengan memperkaya titik temu kesamaan sehingga menjadi kebenaran universal yang disepakati. Humanisme yang diperjuangkan bukan kemanusiaan tanpa nilai, namun berlandaskan kepada nilai-nilai dasar budaya bangsa yang berurat berakar dalam diri Bangsa Indonesia yang mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa.[8]

William L. Rowe, mengklasifikasikan tiga macam sikap keberagamaan yaitu; Eksklusivisme, Inklusivisme, dan Pluralisme. Ekslusivisme lebih menganggap agama yang dianutnya adalah paling benar. Paham ini banyak dibawa oleh kelompok-kelompok fundamentaslis-tekstualis, pemahaman tentang konsep kebenaran agama lebih dipahami sepihak dengan mengambil dasar agamanya, dalam hal ini Al-Qur’an dipahami secara tekstual tanpa mempertimbangkan konteks bahasa, dan budaya.[9] Inklusivisme merupakan cara atau sikap keberagamaan yang terbuka menerima kebenaran agama orang lain dengan tetap memandang keberanaran agamanya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Inklusivisme Islam adalah pemahaman atau wawasan keislaman yang terbuka dan toleran, yang terjawantah dalam sikap dan perilaku keseharian.[10] Sedangkan Pluralisme merupakan suatu sikap keberagamaan yang menganggap semua agama sama. Lahirnya pluralisme paham keagamaan ini merupakan suatu keniscayaan di saat pluralitas agama, kultur, ras, bersama-sama hidup dalam satu lingkup yang sama, seperti halnya di Indonesia. Karena sikap pluralisme atau kesadaran akan pluralitas agama dapat menciptakan toleransi, kerjasama, dialog, solidaritas, persamaan, dan tatanan politik yang demokratis. Kesadaran semacam ini, dalam pandangan Gus Dur perlu digalakkan untuk membina kerukunan antara sesama pemeluk agama. Karena bagaimanapun juga satu agama dengan agama yang lain jelas berbeda. Kristen dan Yahudi tentu tidak bisa menerima konsepsi dasar Islam, demikian juga sebaliknya, misalnya tentang konsep ketuhanan. Sebab memang berbeda. Ironisnya, jika kemudian perbedaan menyebabkan kebencian bahkan sampai menghina keyakinan orang lain tentu ini merupakan suatu bentuk sikap yang kurang terpuji dan tidak benar. Karena dalam pandangan Gus Dur, agama dan keyakinan apapun pada dasarnya tetap mengabdi pada Tuhan. Masing-masing agama mempunyai jalannya sendiri-sendiri, tapi tetap menuju Tuhan yang satu. Karenanya, pemeluk suatu agama tidak dapat memenangkan dirinya sendiri dan lantas menyalahkan agama orang lain. Umat Islam tidak boleh menyebut hanya Islam yang paling benar. Lebih baik umat beragama bekerja sama menyelesaikan permasalahan kemanusiaan. Di sini Gus Dur lebih menekankan Isu Pluralisme bukan dalam arti Persamaan Agama dalam hal yang bersifat prinsipal teologis, tapi baginya ada persamaan dalam setiap agama dalam mengajarkan nilai-nilai universal keagamaan dalam wilayah kemanusian, keadilan, persamaan, dan kebebasan. Gus Dur sangat tidak sepakat dengan pemahaman Islam Formalis yang banyak menyuarakan teks al-Qur’an dengan pemahaman sempit, seperti ketika menafsirkan ayat ” udkhulu fi al-silmi kaffah”, dalam Islam Formalis, ayat itu sering dipahami sebagai ajakan untuk masuk agama Islam. Dalam penafsiran Gus Dur kata al-Silmi hendaknya dipahami sebagai arti perdamaian. Karena memang Islam itu adalah damai.[11] Implikasi dari penafsiran ayat tersebut jika dimaknai dengan Agama Islam, maka akan mengarah kepada pemahaman fundamental yang mengesampingkan nilai-nilai universal Islam, dan menjadikan Islam sebagai Agama penguasa agama lain.

Memang ada sebagian masyarakat yang belum terbuka dengan nilai-nilai universal Islam, lebih lebih suka mempertahankan kebenaran agamanya dan merasa sakit jika agama mereka dianggap sama denga agama lain, bahkan dalam suatu diskusi tentang teologi Islam, banyak menjustifikasi kebenaran aliran tertentu dan menganggap aliran yang lain bukan dari Islam. Salah satu kasus misalnya tentang konsep iman antara Mu’tazilah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Syi’ah, dan lain-lain.[12] Sikap kaku dan bertahan dalam argumentasi sering menimbulkan pengkafiran terhadap pemikiran dan pandangan lain, padahal kalau kita tarik kesimpulan dalam setiap silogis pemikirannya, pasti berujung pada tauhid Allah SWT. Dalam pandangan Nasr Hamid Abu Zaid, zaman sekarang Islam belum siap dengan perkembangan zaman, sehingga kebebasan berfikir sering mendapatkan klaim kafir ( fi kulli tafkir takfir). Ketidaksiapan inilah yang menimbulkan Islam tertinggal jauh dari Barat.

Di dalam Islam sendiri terdapat suatu justifikasi ayat yang menginformsikan bahwa sebenarnya “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.[13] Inilah satu ayat yang dijadikan pedoman oleh mereka yang bersikap eklusif dalam beragama. Ataupun juga terhadap ayat lain “Barangsiapa mengambil selain Islam sebagai agama, maka amal kebajikannya tidak akan diterima oleh Allah,dan di akhirat termasuk orang yang merugi …”.[14]  Dua ayat ini dengan tegas menyatakan suatu perbedaan antara Islam dengan agama yang lain. Terhadap ayat ini, Gus Dur menilai bahwa ayat itu jelas menunjuk pada wilayah teologis yaitu masalah keyakinan, dan hal itu wajar-wajar saja. Dalam masalah keyakinan masing-masing tradisi agama mempunyai tradisi teologis sendiri; seperti Gus Dur katakan bahwa: “Selama Nabi Muhammad saw. masih berkeyakinan; “Tuhan adalah Allah dan beliau sendiri adalah utusan Allah swt.”, selama itu pula orang-orang Yahudi dan Kristen tidak dapat menerima (berarti tidak rela kepada) keyakinan/aqidah tersebut. Sama halnya dengan sikap kaum muslimin sendiri, selama orang Kristen yakin bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan, maka selama itu pula kaum muslimin tidak akan rela kepada agama tersebut”. Dan dalam ide tentang pluralisme ini, Nurkholis Madjid menambahkan,´bahwa perbedaan dan keanekaragaman atau pluralitas dalam pola hidup manusia adalah kehendak Allah. Ketika Al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia diciptakan dalam berbagai kelompok dan etnis yang berbeda-beda dengan tujuan saling memahami, saling mengenal, dan saling menumbuhkan toleransi. Oleh karena itu, pluralitas yang selanjutnya mengarah kepada pemahaman tentang pluralisme, dalam konteks ini, berarti suatu sistem nilai yang mengharuskan manusia menghormati semua bentuk keanekaragaman dan perbedaan, dan menerima hal tersebut sebagai realitas yang tidak bisa disalahpahami bahkan dijauhi.[15] Dan Madjid menambahkan bahwa pluralitas secara teologis termasuk dalam katagori sunnatullah yang tak terhindarkan karena kepastiannya itu.[16] Dengan kata lain kalau ada perbedaan dalam menumbuhkan pluralitas, perbedaan yang dapat ditenggang adalah perbedaan yang tidak membawa pada kerusakan kehidupan bersama sebagai prinsip agama.[17]

Bagaimanapun juga, penerimaan secara teologis ini merupakan suatu yang signifikan ketika itu dibawa dalam kerangka truth claim (klaim kebenaran) dalam beragama. Karena truth claim menurut Whitehead, merupakan suatu yang penting dalam agama ataupun ilmu pengetahuan. Manusia membutuhkan dogma yang membungkus klaim kebenaran. Dogma dan agama berfungsi untuk memformulasikan kebenaran pengalaman beragama, sebagaimana dogma dalam ilmu pengetahuan mengungkapkan kebenaran pengamatan rasional. Dan kita tidak mau kembali ke sejarah filsafat yang menjadikan agama dan ilmu, hati dan akal, iman dan rasional menjadi komponen tang bermusuhan, seperti pada zaman filisafat sofis yang lebih menekankan akal dari pada agama, atau sebaliknya menjadikan agama satu-satunya kebenaran sseperti yang terjadi pada filsafat abad pertengahan. Menurut Gus Dur, ayat seperti yang dikutip di atas, di mana pada satu sisi mencerminkan suatu perbedaan keyakinan teologis namun pada sisi yang lain ayat itu juga tidak menolak kerjasama antar Islam dan berbagai agama lainnya. Dengan demikian, tambah Gus Dur, perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerjasama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Bukankah dengan saling pengertian mendasar antar-agama, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam mencari bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan dan kasih sayang. Dan bukankah dalam agama Islam ada maqashid al-Syari’ah dengan menjamin keselamatan lima hal (agama, jiwa,akal, keturunan, dan harta), dan tidak ada penjelasan secara terperinci apakah jaminan tersebut khusus bagi umat Islam, tapi yang jelas kemaslahatan suatu ajaran agama hendaknya memiliki sifat umum untuk seluruh umat manusia, tanpa melihat perbedaan agama. Gus Dur memahami 5 maqashis  diatas sebagai ajaran universalisme yang sempurna.[18] Dalam keselamatan dan jaminan agama, hendaklah masing-masing orang, kelompok tanpa ada paksaan untuk berpindah agama. Sering kali Gus Dur mengatakan Islam sebagai mayoritas hendaklah bersikap tenggang rasa dan saling mengerti dengan kelompok minoritas termasuk di dalamnya aliran-aliran, hal ini karena undang-undang negara Indonesia menjamin hak-hak beragama masyarakatnya. Memaksakan kehendak berarti melanggar aturan undang-undang. Menurut Gus Dur, sebenarnya sikap toleransi adalah bagian inheren dari kehidupan manusia.[19]

Pada konteks inilah kita dapat melihat suatu pandangan yang liberal dari Gus Dur. Dengan tidak meninggalkan akar-akar tradisi agama dia mencoba melihat persoalan aktual yang terjadi saat ini dalam koridor dan kerangka metodologis dialektika yang dinamis antara pesan suatu ayat dengan semangat jaman yang terus berkembang. Oleh karena itu, pemikirannya begitu khas “Indonesia” sekaligus mencerminkan suatu pemahaman agama yang luas. Tidak heran bila Gus Dur dapat diterima oleh berbagai kalangan baik itu di dalam kalangan Islam sendiri ataupun dari golongan yang lain. Karena Islam yang dia pahami adalah pada semangat kemanusiaannya (humanitarianisme).[20]

Dalam hal menyangkut kebijakan kultural, Gus Dur mendorong para santri untuk mendobrak komunitas-komunitas mereka yang sempit., dan masuk ke dalam hubungan yang dewasa. Hubungan yang dewasa dimaksud adalah sikap saling menghormati dan tidak kaku dalam menghadapi perbedaan kultural. Masyarakat tidak boleh bersikap eksklusif dalam kehidupan sehari-hari, melainkan harus merangkul masyarakat lain ada yang di sekitarnya. Agaknya sentilan sederhana ini ditujukan bagi mereka yang kurang terbuka dan memarginalkan kaum minoritas yang berbeda agama, sosial, dan budaya.[21]

Menurut Greg Barton dalam bukunya ´Gagasan Islam Liberal di Indonesia bahwa tulisan-tulisan Abdurrahman Wahid banyak mengandung muatan pluralisme. Satu contoh gagasan pluralisme adalah dalam buku muslim di Tengah Pergumulan karangan Abdurrahman Wahid, dalam kata pengantarnya dia menyebutkan :[22]

Tidak sedikit kesulian yang ditimbulak oleh perubahan terus-menerus dalam sudut penglihatan yang disajikan oleh tulisan-tulisan yang dimuat dalam buku ini. Dengan hanya mempelajari buku ini, mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin ditarik sebuah kesan umum yang jelas tentang bentuk pemikiran yang berkembang dalam diri penulis. Namun sebuah warna jelas sekali telah menampakkan diri; keterbukaan untuk menelusuri berbagai cara berfikir dan kesediaan untuk mencari kebenaran di manapun juga ia berada. Kalau dengan warna umum ini saja dapat dicari manfaat penerbitan buku kumpulan tulisan ini, sudah terbalaslah jerih payah menerbitkannya.[23]

            Dan sebagai pembahasan akhir dari term ini, kita tidak bisa memungkiri, bahwa ide pluralisme sudah ada dalam tradisi pemikiran Islam, baik dalam wilayah teologi, fiqih, filsafat, dan tasawuf. Empat ranah dalam pemikiran Islam tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menjadi hamba yang diridhai oleh Allal SWT. Namun dalam memahami Islam sendiri, mereka banyak berbeda pendapat. Dalam sejarah, baik itu teologi, fiqih, filsafat, dan tasawuf, tidak sedikit yang melakukan truth claim, bahkan perbedaan itu identik dengan mukmin dan kafir.[24]

 

  1. Pribumisasi Islam

Mungkin ketika muncul istilah Islam Pribumisasi, selintas terbayang dalam pikiran kita untuk membumikan ajaran Islam, membawa Islam yang bersumber dari langit (agama samawi) turun ke bumi dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Pribumisasi Islam merupakan gagasan Gus Dur yang berkembang pada era 8o-an , tujuan gagasan pribumisasi  Islam adalah agar terjadinya dialog Islam dan kebudayaan sehingga keduanya dapat saling menerima dan memberi, saling mengisi. Meski terdapat ketegangan di antara keduanya. Namun, hendaknya tidak ada upaya penaklukan atau hubungan menang kalah dalam hal ini. Sebagaimana hal ini dapat dibaca di tulisan tulisan Gus Dur sebelumnya  terutama makalah Al- Qur`an dalam pemahaman konteks sosial baru dalam bukunya “ Muslim di Tengah Pergumulan.”[25]

Usaha Gus Dur dalam memahami Islam dalam konteks budaya masyarakat, tidak hanya konsep dan teoris. Dalam latar belakang makalah ini disebutkan satu kasus aktualisasi pemikiran Gus Dur adalah dia menggunakan ”assalamu’alaikum” vis-à-vis “selamat pagi”. Dalam praktek tersebut Gus Dur mengajak masyarakat (muslim) perluanya mempertimbangkan situasi lokal dalam memahami ajaran Islam, menurutnya Islam Indonesia tidak akan tercabut dari  akar budaya dan tradisi masyarakatnya sendiri.[26] Sebagai warga Indonesia yang secara konstitusional mengakui adanya multi agama, budaya, maka Islam hendaknya bergaul dengan budaya yang ada tanpa harus takut kehilangan akidahnya. Dewasa ini banyak orang takut budaya, modernisasi, dan nasionalisme akan mencabut ketauhidan yang sudah tertancap dalam dada. Banyak kasus perilaku sosial-budaya-agama yang seakan-akan tidak bisa dipertemukan, misalnya ada sebagian Islam yang tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara, karena mereka sudah punya dasar agama yang kuat yaitu Al-Qur’an dan al-Hadis, konsekwensinya, mereka tidak mau mengamalkan butir-butir pancasila yang sudah dirumuskan oleh tokoh-tokoh agama dan nasional dulu. Bahkan fenomena yang menarik adalah, ada sebagian masyarakat yang tidak mau melakukan hormat kepada bendera merah putih karena takut kafir, dan juga ada dalam tradisi agama di Indonesia, masyarakat yang panas matanya ketika melihat ssmbol-simbol Islam diubah dengan produk barat, seperti pemakaian tahun dan tanggal Hijriyah dirubah mrnjadi masehi.

Terjadinya dialog antara pendiri NU dengan tokoh Nasionalis untuk mencari titik temu agama dan faham kebangsaan merupakan realitas yang menarik. Apakah Islam dapat menerima paham ini?.Dalam bahasa  Ir.Soekarno presiden pertama RI, beliau menerjamahkan makna nasiolisme dengan mengatakan nasionalismeku adalah kemanusian.

Pada titik inilah Gus Dur sering berbicara tentang perjuangan atas nama kemanusiaan. Bahkan untuk membedakan tindakan agama dengan tindakan “bukan agama” dilihat dari praktik dan sikap yang manusiawi. Jika suatu tindakan tidak manusiawi terjadi dengan  menggunakan atas nama agama, maka jelaslah, bahwa itu sebenarnya bukan praktik keagamaan yang benar. Karena itu Gus Dur terkenal dengan sifatnya yang humanis.

Meski demikian, bukan berarta Gus Dur anti agama. Justru beliau sadar betul suatu ungkapan, bahwa “Islam itu luhur dan tiada yang lebih luhur diatas(islam)”.Namun, Gus Dur juga tidak mau terjebak pada sikap verbal dalam memahami ungkapan ini. Beliau membuktikan keyakinannya pada ajaran agamanya yang luhur itu dalam tindak – tanduknya , sikap – sikap politiknya yang menjunjung tinggi kemanusian. Beliau menolak betul tindakan tidak manusiawi termasuk kekerasan yang dibungkus dan dikemas atas nama agama. Beliau juga setuju dengan tindakan – tindakan  manusiawi meski tidak atas nama agama. Beliau membela eksistensi dan hak hidup kaum minoritas di tanah air. dan Gus Dur selalu mengatakan, bahwa ucapan dan tindakannya itu dilakukan karena ia ingin melaksanakan amanat undang-undang dan pancasilah.

Sampai disini,dapat dikatakan,bahwa perjuangan pribumisasi Islam yang diusung Gus Dur, adalah perjuangannya untuk mendialogkan Islam dengan masalah -masalah kemanusian misalnya kebudayaan .Kebudayaan adalah hasil kreatifitas manusia. Namun proses Pribumisasi tersebut tidak boleh terjadi percampuran antara Islam dan Budaya lokal. Ia juga tidak setuju, jika membaca ayat-ayat al-Qur’an dalam sholat diganti dengan bahasa lain. Tidak tidak setuju dengan pendapat Abu Hanifah yang memperbolehkan membaca al-Fatihah dengan tarjamah.[27] Lalu  bagaimana agama menyikapinya. Dengan rumusan pemikiran Gus Dur, tentu saja agama harus menyikapinya secara manusiawi, dan tidak serta merta memberangus kreatifitas manusia itu. Beliau menghargai hak -hak  manusia,kebebasan berpikir,sambil membuang hal-hal  yg tidak perlu atau bertentangan dengan agama secara perlahan[28]

Agaknya usaha Islam Pribumisasi yang digagas Gus Dur ini bukan tidak berlandaskan. Ketika Islam datang ke Indonesia, para wali songo juga melakukan metode dakwah bil hal, artinya. Konteks budaya masyarakat hindu ketika itu tidak serta merta dihapus dengan Islam, namun mereka mencoba mengkompromikan nilai-nilai universal Islam dengan budaya lokal tersebut. dan metode wali songo tersebut banyak diwarisi oleh tradisi keagamaan dalam organisasi sosial keagamaan NU di Indonesia. Dan lagi-lagi, bahwa dunia NU, Pesantren sangat mempengaruhi ide pribumisasi Gus Dur, walaupun Gus Dur juga sering disebut orang sebagai manusia produk tiga budaya; budaya jawa Indonesia, budaya timur (arab), dan budaya barat. Dan untuk mempertajam adanya pribumisasi ini, Gus Dur memberikan contoh yang kongkret lagi selain salam di atas. Masjid Demak adalah rekonsiliasi dan akomodasi dari budaya. Ranggin atau atap yang berlapis pada masjid tersebut diambilkan dari konsep “Meru” dari masa pra-Islam (Hindu-Budha) yang terdiri dari Sembilan susun. Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga susun saja, melambangkan tiga tahab keberagamaan seorang muslim, iman, islam, dan ikhsan. Pada mulanya orang baru beriman saja, kemudian ia melaksanakan Islam ketika menyadari pentingnya syariat, dan puncaknya adalah ihsan. Ikhsan adalah puncak tauhid yang mengandung makna peleburan alam materi menuju alam yang penuh kasih sayang dan cinta.[29]

Usaha Gus Dur dengan melakukan pendekatan kultural (budaya) adalah untuk menjelaskan kepada publik nilai-nilai subtansial yang ada dalam agama Islam. Asumsi pendekatan kultural didasarkan pada pandangan teori kebudayaan, bahwa sitem nilai mempengaruhi pembentukan sistem simbol, dan sistem simbol itu pada akhirnya akan mempengaruhi sistem sosio-kultural. Sistem nilai Islam bersumber dari tauhid, yaitu tuhan adalah pusat dari segala sesuatu. Dalam Al-Qur’an sering kata perintah iman disandarkan dengan perintah berbuat baik (amal shaleh), menurut kontowijoyo sistem nilai Islam itu pada dasarnya memuat dua sifat, teosentris dan humanistis. Dalam kaitan dengan ayat tersebut, perintah iman mengandung sifat teosentris, dan perintah amal shaleh sebagai humanistis, begitu juga dalam ibadah mahdah shalat, takbir sebagai pengagungan kepada Tuhan dan salam terakhir ke kanan dan kiri sebagai simbol kemanusian.[30]

Pemahaman Gus Dur tentang Islam memang tidak diragukan lagi, hal ini bisa dilihat dalam memahami istilah pribumisasi Islam. Istilah ini tidak sama dengan jawanisasi atau singkretisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan local di dalam merumuskan hokum-hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri, dan juga bukan meninggalkan norma demi budaya. Pribumisasi Islam adalah bagian dari sejarah Islam. Islam selalu berkembang seiring dengan perubahan zaman, satu kasus misalnya dalam Islam, Islam melarang berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan. Ketika ketentuan itu masuk ke Indonesia, Islam dihadapkan pada budaya Sunda yang memiliki adat berjabat tangan, ditambah budaya dari barat. Lalu ketika mereka melakukan jabat tangan, apakah islam mengalami erosi di Indonesia?, bagi Gus Dur, Islam tetap menegang 5 prinsip dasar Islam dan 6 prinsip dasar iman[31]

Dan untuk menutup term ini, penulis menegaskan, bahwa Islam Pribumisasi itu tidak hanya mengkompromikan Islam dan Budaya Lokal, tapi lebih luas lagi, barat dan budaya-budaya yang berasal dari negara lain juga masuk dalam wilayah pribumisasi, karena budaya itu tidak bersifat lokal saja, tapi lebih dari itu budaya bisa bersifat universal.

 

  1. Agama dan Demokrasi

Dalam pandangan Gus Dur, salah satu sebab yang menghambat kiprah demokratisasi di kalangan lembaga dan kelompok keagamaan adalah perbedaan hakikat nilai-nilai dasar yang dianut keduanya. Sebuah agama senantiasa bertitik tolak dari pandangan normatif yang diajarkan oleh Kitab Suci-nya. Ini berarti hanya ada satu jenis kebenaran yang dapat diterima sebuah agama, yaitu kebenaran ajarannya sendiri. Apalagi kalau hal-hal normatif itu dituangkan dalam bentuk hukum agama (syari’ah) dalam Islam dan hukum kanon di kalangan Gereja Katolik. Hukum agama itu bersifat abadi, karena ia berlandaskan Kitab Suci yang abadi pula. Mengubah hukum agama berarti pula membatasi keabadian Kitab Suci, dan dengan sendirinya mengusik mutlaknya kebenaran yang dibawakan agama yang bersangkutan. Bahwa kaum muslimin telah berhasil mengembangkan teori hukum agama (ushul fiqh, legal theory) dan kaidah hukum agama (qawa’id al-fiqh, legal maxims), tidak menutup kenyataan bahwa antara syari’ah dan demokrasi memang terdapat perbedaan yang esensial

Dalam sistem demokrasi, hak asasi manusia haruslah dilindungi. Gus Dur mempersoalkan klaim sejumlah pemikira dan pemimpin dunia Islam yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang paling demokratis dan amat menghargai hak asasi manusia. Ironisnya, kenyataan yang ada justru berbeda dari klaim mereka. Di negari-negeri muslim, pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia justru banyak terjadi. Satu kasus misalnya tentang perusakan tempat ibadah oleh beberapa masyarakat sering terjadi, tidak hanya itu, kekerasan fisik juga sering menimpah masyarakat minoritas. Dalam hal ini Islam adalah Mayoritas, dan agama selainnya adal minoritas, termasuk di dalamnya aliran-aliran Islam yang dianggap sesat oleh MUI dan sebagian ormas Masyarakat.[32]

Demokrasi, sebaliknya dari ajaran agama, justru membuka peluang seluas-luasnya bagi perubahan nilai oleh masyarakat, dan dengan demikian justru dapat mengancam nilai-nilai abadi yang terkandung dalam agama. Masalah perceraian bagi Gereja Katolik Roma dan masalah perpindahan agama ke agama lain dalam Islam adalah sesuatu yang tidak pernah dapat dipecahkan tanpa mengancam sifat abadi dari kebenaran yang dibawakan masing-masing agama itu. Perceraian merusak kesucian perkawinan yang telah diberkati oleh Tuhan dalam pandangan Gereja Katolik, dan dengan sendirinya hak warga negara untuk melakukan perceraian melalui perundang-undangan negara merupakan tantangan kepada konsep perkawinan yang diyakini Gereja. Berpindah agama ke agama lain dalam hukum Islam berarti penolakan (riddah, apostasy) kepada kebenaran konsep Allah sebagai Zat Yang Maha Besar (konsep Tauhid), karenanya tidak dapat dibenarkan dan pelakunya diancam hukiuman mati. Sedangkan demokrasi dalam hal ini justru berpendapat sebaliknya. Keyakinan akan kebenaran merupakan hak individual warga masyarakat, dan dengan demikian justru harus ditegakkan, dengan konsekuensi adanya hal bagi warga negara untuk berpindah agama. Menurut Gus Dur kalau ketentuan Fiqih ini diberlakukan dalam onteks Indonesia, maka lebih dari 20 juta jiwa manusia Indonesia yang berpindah agama dari Islam ke Kristen sejak tahun 1965 harus dhukum mati.[33]

Demokrasi menyamakan derajat dan kedudukan semua warga negara di muka undang-undang, dengan tidak memandang asal usul etnis, agama, jenis kelamin dan bahasa ibu. Sedangkan tiap agama tentu lebih dahulu cenderung untuk mencari perbedaan atas dasar hal tersebut, minimal perbedaan agama dan keyakinan. Karenanya, sejak lahirnya setiap agama memiliki kekhususan (unikum)-nya sendiri, yang secara mendasar harus ditundukkan kepada kepentingan bersama seluruh bangsa, apalagi diinginkan agama tersebut dapat menjunjung demokrasi. Jelaslah dengan demikian, bahwa fungsi transformatif yang dibawakan oleh agama bagi demokratisasi kehidupan masyarakat, harus bermula dari transformasi intern masing-masing agama. Karena itu, agama dapat memberikan sumbangan bagi proses demokratisasi, manakala ia sendiri berwatak membebaskan.[34]

Islam harus membebaskan dokma yang sudah tidak seusai dengan zaman, seperti dogma tentang wanita dan laki-laki, bagaimana peran dan kedudukannya dalam agama?. Dalam kasus bagaimana Islam memahami kepemimpinan wanita. Sejumlah pemimpin partai-partai politik Islam, beberapa tahun lalu menyatakan bahwa kepemimpinan wanita tidak tepat dalam pandangan agama. Dasar anggapan itu adalah dalil Al-Qur’an yang mengatakan, lelaki lebih tegak atas wanita” dan dalam sumber lain dikatakan, ”wanita hanya mempunyai separuh akal lelaki, dan masih banyak argumentasi baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menjelaskan bahwa wanita itu dibawah pria, baik dalam urusan sosial, budaya, dan agama.[35]Di sinilah perlu tinjauan ulang tentang wawasan keadilan yang diberikan al-Qur’an dengan kehidupan manusia sendiri. Keadilan adalah ajaran universal yang ada dalam setiap agama. Keadilan bukan menjadi acuan etis atau dorongan moral belaka, tapi keadilah dalam Al-Qur’an bersifat perintah agama, maka pelaksanaanya merupakan pemenuhan kuwajiban agama, dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang muslim di hari perhitungan kelak.[36]

Menurut Gus Dur, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki kecenderungan tekstual yang memarginalkan wanita, hendaklah ditafsirkan ulang. Baginya konsep persamaan dalam Islam antara laki-laki dan wanita itu sangat dijunjung tinggi, dan ini ditegaskan AL-Qur’an sendiri. ” Sesungguhnya Ku-ciptakan kalian sebagai laki-laki dan perempuan.[37] Ayat ini mengisyaratkan persamaan, dan perbedaan pria dan wanita hanyalah bersifat biologis, tidak bersifat instutusional/kelembagaan sebagaimana disangkakan banyak orang dalam literatur Islam Klasik[38] dalam kasus lain Gus Dur juga menyinggung tentang masalah bahwa tidak akan perna sukses sebuah kaum yang menyerahkan kepemimpinanya kepada wanita. Bagi Gus Dur harus ada reinterpretasi terhadap hadis itu. Mengingat hadis itu disampaikan pada periode Nabi yang kondisi masyarakat Arab ketika itu gaya kepemimpinannya masih berbentuk perseorangan (individual leadership).

Sebagai bait akhir dalam pembahasan demokrasi ala Gus Dur ini, penulis ingin menyampaikan kekaguman dengan model berfikir Gus Dur yang konsisten dan argumentative. Pola berfikir yang berani, tegas, dan dinamis, dan toleran adalah jiwa Gus Dur, walaupun banyak yang menggugat dan mencaci, tapi realitasnya adalah banyak disukai oleh multi etnis, budaya, agama.

 

  1. Kesimpulan

 

Kontekstualisasi ajaran Islam, meski bukan tema baru, akan terus menjadi isu sentral bagi dinamisasi suatu peran agama dalam masyarakat. Ia tidak hanya memberikan suatu penyegaran kembali pemahaman tapi juga mengajak para pemeluk agama untuk terus menggali pesan-pesan agama yang belum terungkap guna kepentingan kemaslahan umat. Begitu juga dengan “pribumisasi Islam” yang ditawarkan oleh Gus Dur. Ia berupaya memberikan suatu pandangan baru tentang Islam yang dilihatnya sebagai suatu nilai yang tidak harus terjebak dengan formalisme agama atau konsep-konsep tertentu yang akhirnya membuat Islam itu sendiri menjadi kaku. Lebih dari itu, “pribumisasi Islam” lahir dari kecenderungan pemahaman agama yang melihat kesadaran historis Islam itu sendiri yang sangat lekat dengan budaya lokal.

Lokalitas budaya ini harus dilihat sebagai suatu yang integral dengan agama itu sendiri, dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai universalitasnya. Karena dengan cara demikianlah kita dapat memaknai, memahami, dan mengkontekskan rasa keagamaan (sense of religiousity) dan penghayatan beragama dalam dimensinya yang lain.

Disamping itu Gagasan tentang Pluralisme hendaklah dipahami sebagai pengakuan kebenaran tentang adanya perbedaan. Khususnya dalam kehidupan beragama di Indonesia. Setiap agama punya standar kebenaran dalam pemahaman teologinya. Namun yang lebih penting dari itu adalah nilai-nilai universal dalam setiap agama harus dikedepankan dalam menjaga kedamaian, kerukunan, dan keselamatan manusia. Maka ide pluralisme harus lebih menekankan kepada bahwa setiap manusia berbeda dan memiliki tujuan yang sama. Keanekaragaman budaya, agama hendaklah menjadi kekayaan bangsa dan Negara, dan tidak perlu melahirkan anarkisme, brutalisme, krimilasime. Begitu juga dalam kaitanya dengan demokrasi, bahwa sudah saatnya Islam membangun nilai-nilai demokrasi yang menurutnya sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Gus Dur mengajak berfikir dinamis, dan tidak kaku, khususnya dalam menghadapkan ajaran-ajaran Islam dengan komplkesitas zaman termasuk efek dari demokarasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Taufik, Dr. Prof. Sejarah Umat Islam Indonesia (Jakarta: PT.Intermasa, 2003)

Barton, Greg, Gus Dur; The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid ( Jakarta: Equinox Publishing, 2002)

Coward, Harold, Pluralisme : Tantangan Bagi Agama-agama (Yogyakarta:Penerbit Kanisius, 1989)

Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya ( Bandung: CV Penerbit J-ART, 2005

Djalil, Abdul, Matori,  PKB Dan Inklusivisme Islam (Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara, 1999)

Greg Barton, Ph.D,  Gagasan Islam Liberal Di Indonesia (Jakarta: Pustaka Antara, 1990)

Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Jakarta: Mizan,1994)

Madjid, Nurcholish, Islam Universal (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007)

Nasution, Harun,  Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandinga (Jakarta: UI-Press, 2002)

Rachman, Budy Munawar,  Tugas Cendekiawan: Modernisme dan Tantangan Pluralisme Keagamaan, dalam Refleksi Kaum Muda,  Kebebasan Cendekiawan (Yogyakarta: Pustaka Republika, 1996)

Saleh,. Fauzan, Dr, Teologi Pembaharuan :Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX (Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001)

Al-Syahrastani,  Al-Milal wa An-Nihl (Beirut: Dar al- Fikri, 2005)

Wahid, Marzuki, Abd. Moqsith Ghozali, dan Suwendi, Geger di Republik NU, Perebutan Wacana, Tafsir Sejarah, Tafsiran Makna (Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara, 1999)

Wahid, Abdurrahman, Islamku Islam Anda Islam Kita (Jakarta : Abdurrahman Wahid, 2006)

Wahid, Abdurrahman, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Depok: Desantara, 2001)

Wahid, Abdurrahman, , Muslim di Tengah Pergumulan (Jakarta: Leppenas, 1981)

Wijdan, Aden SZ. DKK, Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2007)

Woodward, R. (ed), Toward a New Paradigm: Recent Development in Indonesian Islamic Thought (Arizona: Arizona State Iniversity Program for Southeast Asian Studies, 1996)

(http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/01/pribumisasi-islam-in-memoriam-gus-dur/)

(http://silajaratanadoang-mabela.blogspot.com/2011/01/abdurrahman-wahid-pluralisme-demokrasi.html)

http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/18/deklarasi-gerakan-pluralisme-humanisme-gus-dur/)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1]  Aden Wijdan SZ. DKK, Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Safiria Insani Press, 2007), 120-121

[2]  Barton, Greg, Gus Dur; The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Jakarta: Equinox Publishing, 2002.

[3]  Greg Barton, Gagasan Islam Liberal Di Indonesia (Jakarta: Paramadina,1999),hal.488

[4]  Marzuki Wahid, Abd. Moqsith Ghazali, Suwendi,  Geger di Republik NU (Jakarta: Kompas, 1999), hal. 299

[5]  Harold Coward, Pluralisme : Tantangan Bagi Agama-agama (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1989), hal.167

[6]  Aden Wijdan SZ. DKK,  Pemikiran dan Peradaban Islam, hal.209

[7]  Ibid, hal. 210

              [8]  http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/18/deklarasi-gerakan-pluralisme-humanisme-gus-dur/)

[9]  Dalil yang sering dipakai oleh kelompok ini adalah tentang kesempurnaan agama Islam, Hubungan antara Islam dan Ahl al-kitab. Permasalahan ini ada dalam beberapa ayat Al-Qur’an ( Q.S. Al-Baqarah : Q.S. Ali Imran (3): 19, Q.S. Ali Imran (3): 67-68, Q.S. AL-Baqarah(2): 121. dll

[10]  Matori Abdul Djalil, PKB Dan Inklusivisme Islam, dalam Marzuki Wahid, Abd.Moqsith Ghozali, dan Suwendi, Geger di Republik NU, Perebutan Wacana, Tafsir Sejarah, Tafsiran Makna (Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara, 1999), hal. 135

[11]  Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita (Jakarta : Abdurrahman Wahid, 2006), cet II, hal. xv

[12]  Baca buku tentang aliran-aliran teologi Islam dalam : Harun Nasution,  Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandinga (Jakarta: UI-Press, 2002)  dan juga Al-Syahrastani,  Al-Milal wa An-Nihl (Beirut: Dar al- Fikri, 2005)

[13]  QS. Al-Baqarah (2): 120

[14]  Q.S. Ali Imran (3): 85

[15]  Fauzan Saleh, Teologi Pembaharuan :Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX (Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001), hal.348. dikutib dari Madjid, Islam Doktri dan Peradaban. Kajian tentang isu pluralisme di Indonesia, lihat tulisan-tulisan yang lain, in Search of Islamic Roots For Modern Pluralism :The Indonesia Experience”, dalam Mark R. Woodward (ed), Toward a New Paradigm: Recent Development in Indonesian Islamic Thought (Arizona: Arizona State Iniversity Program for Southeast Asian Studies, 1996, hal. 89-116.

[16]  Q.S. AL-Fathir (35 ): 43

[17] Budy Munawar Rachman,  Tugas Cendekiawan: Modernisme dan Tantangan Pluralisme Keagamaan, dalam Refleksi Kaum Muda,  Kebebasan Cendekiawan (Yogyakarta: Pustaka Republika, 1996), hal. 215

[18]  Abdurrahman Wahid, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam.  Lihat Nurcholish Madjid, Islam Universal (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007),hal.2-3

[19] Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Depok: Desantara, 2001), hal. 180-181

[20](http://silajaratanadoang-mabela.blogspot.com/2011/01/abdurrahman-wahid-pluralisme-demokrasi.html)

[21] Greg Barton, Ph.D,  Gagasan Islam Liberal Di Indonesia (Jakarta: Pustaka Antara, 1990), hal.400

[22]  Ibid, hal. 395

[23]  Abdurrahman Wahid, Muslim di Tengah Pergumulan (Jakarta: Leppenas, 1981), hal.3

[24]  Aden Wijdan SZ. DKK,  Pemikiran dan Peradaban Islam, hal.72-90

[25]  Abdurrahman Wahid, Muslim di Tengah Pergumulan (Jakarta: Leppanas, 1981)

[26]  Aden Wijdan SZ. DKK,  Pemikiran dan Peradaban Islam, hal.120

[27]  Aden Wijdan SZ. DKK,  Pemikiran dan Peradaban Islam, hal. 121

[28]  (http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/01/pribumisasi-islam-in-memoriam-gus-dur/)

[29] Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan (Jakarta: Desantara, 2001), hal.118

[30]  Taufik Abdullah dan Mohamad Hisyam, Sejarah Umat Islam Indonesia (Jakarta: PT.Intermasa, 2003), hal. 333-334, dikutib dari buku : Kuntowijoyo, Paradigma Islam (Jakarta: Mizan,1994), hal.226

[31]  Abdurrahman Wahid, Pergulatan……….., hal. 120

[32] Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda, Islam Kita : Agama Masyarakat Negara Demokrasi (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), cet II, hal. 121

[33]  Ibid, hal. 122

[34]  (http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/01/pribumisasi-islam-in-memoriam-gus-dur/)

[35] Q.S. Al-Nisa’ (4): 34, Q.S. Al-Nisa’ (4): 11

[36]  Abdurrahman Wahid, Konsep-konsep Keadilan. Lihat Nurcholish Madjid, Islam Universal (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hal.330-337

[37]  Q.S. Al-Hujarat (49): 13

[38] Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda………, hal. 128-129

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *