KONSEP IMAMAH MENURUT SYIAH ASYARIYAH  

Oleh: Yusrol Hana

 

  1. MUQADDIMAH

Nabi Muhammad Saw bersabda :“Bahwasannya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 golongan dan akan pecah ummatku sebanyak 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu”. Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya:”Siapakah yang satu itu Ya Rasulallah?” Nabi Muhammad SAW menjawab:”Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku” (H.r. Imam Tirmidzi).

Bermula dari perselisihan yang bersifat politis (pada akhirnya masuk menjadi ranah ideologi dan teologi) antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang berakhir dengan Tahkim (Arbitrase), maka memunculkan 2 golongan dalam menyikapi terhadap Ali bin Abi Thalib, yang pertama Khowarij, mereka menyalahkan Ali bin Abi Thalib karena menerima ajakan Tahkim, mereka membenci bahkan mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, dan yang kedua Syi’ah, mereka membela Ali bin Abi Thalib, bahkan sampai mengkultuskan dan mengkuduskan beliau.

 

  1. Awal Munculnya Syiah Istna Asyariyah
1

Kemunculan Syiah imamiyah berawal dari persoalan tentang siapakah yang akan menggantikan kepemimpinan Ja’far Al Shadiq, seorang ahli tafsir, hadist, fiqh, filsafat, fisika, yang masih keturunan Ahlul Bait. Ja’far Al Shadiq diyakini oleh pengikut Syiah Imamiyah sebagai imam ke lima setelah Ali, Hasan, Husain, dan Muhammad Al Baqir. Berbeda dengan Syiah Zaidiyyah yang cenderung ekstrem dan lebih bernuansa politis, syiah imamiyyah cenerung moderat dan lebih menekankan bidang ilmu pengetahuan, pemikiran, dan filsafat. Hal ini sesuai dengan semangat yang di bawa oleh Ja’ofar Al Shadiq yang tidak tertarik dengan keputusan politik, melainkan lebih menekankan dibidang ilmu pengetahuan.

Kehidupan politik dibawah Daulah Bani Umayah yang selalu melakukan penekanan terhadap syiah membuat Ja’far Al Shadiq lebih memilih berjuang melalui jalur pendidikan. Ia melanjutkan perjuangan ayahnya mengajar di perguruan yang berada di masjid Nabawi dan merupakan perguruan pertama yang mengajarkan Filsafat. Kealiman Ja’far Al Shadiq cukup di kenal oleh masyarakat luas sehingga banyak ulama-ulama besar yang berguru kepadanya. Diantaranya adalah tiga pendiri Madzhab, yakni Malik Bin Anas, Sufyan al Tsauri, dan Abu hanifah bin Nu’man, di samping ilmuan-ilmuan lain seperti Ibnu Uyaynah, ibnu Jarih dan fisikawan muslim terkenal Jabir bin Hayyan. Kebesaran nama Ja’far al Shadiq pada akhirnya mengusik ketenangan khalifah kedua Bani Abasiyah, Al Manshur. Karena itu, sang khalifah berulang kali melakukan upaya-upaya pembunuhan terhadapnya, dan usaha terakhir adalah dengan member racun pada makananya. [1]

1

Pasca kematian Ja’far al Shadiq timbul perbedaan pendapat di kalangan Syiah Imamiyah. Mereka mempermasalahkan tentang siapakah imam yang berhak mengantikan kedudukan Ja’far al Shadiq. Sebagian berpendapat bahwa pengganti Ja’far al Shadiq adalah putranya yaitu Ismail, walaupun ia meninggal terlebih dahulu dari pada Ja’far al Shadiq sendiri. Keyakinan ini kemudian melahirkan golongan Syiah Ismailiyah. Sebagian lagi berpendapat bahwa yang berhak mengantikan Ja’far al Shadiq adalah Musa al Kazim putra Ja’far al Shadiq, golongan ini kemudian di kenal dengan Syiah Itsna Asyariyah atau syiah yang meyakini kepemimpinan dua belas orang imam.[2]

 

  1. Dalil Imamah Menurut Istna Asyariyah

Karena masalah imamah dan pengangkatan Imam harus bersumber dari sisi Allah Swt, maka untuk mengenal imam kita memerlukan nash (ayat dan riwayat) yang definitif dan dalil-dalil rasional yang menetapkan bahwa orang-orang ini adalah para imam yang diangkat oleh Allah Swt. Misalnya akal manusia tatkala menemukan pelbagai tipologi imamah seperti ilmu, keadilan, keberanian, kemaksuman pada diri seseorang secara sempurna dan orang lain tidak memiliki tipologi-tipologi ini maka dia akan menghukumi bahwa siapa yang seharusnya menjadi imam. Atau dengan perantara ayat-ayat al-Qur’an atau riwayat-riwayat yang bersifat definitif baik dari sisi keluarannya (qath’i al-shudur) atau dari sisi petunjuknya (qath’i al-dhalalah) yang menetapkan siapa yang laik menjadi imam.[3]

Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa ayat dan riwayat yang tafsirannya mengangkat masalah ini:

  1. Dalil Al Qur’an

“Sesungguhnya engkau [hanyalah] adalah seorang pemberi peringatan dan pada setiap kaum terdapat seorang yang memberikan petunjuk” Qs. Al-Ra’ad :7

Para penafsir Syiah dan sebagan penafsir Ahlusunnah di antaranya Imam Fakhurrazi seorang mufassir kawakan Ahlusunnah berkata: Pemberi peringatan adalah Nabi Saw dan pemberi petunjuk (hadi) adalah Ali ra. Lantaran Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Saw meletakkan tangannya yang mulia di dadanya dan berkata: “AKu adalah pemberi peringatan (Ana al-Mundzir). Dan kemudian menunjuk kepada Ali bin Abi Thalib As dan bersabda: “Dan engkau adalah pemberi petunjuk (Hadi) wahai Ali! Bika yahtadi al-muhtadun min ba’di.” (Melaluimu orang-orang yang mencari petunjuk mendapatkan petunjuk).
Tafsir al-Durr al-Mantsur yang merupakan tafsir yang popular di kalangan Ahlusunnah menukil banyak riwayat dari Nabi Saw terkait dengan penafsiran ayat ini: “Nabi Saw tatkala ayat ini diturunkan beliau meletakkan tangannya yang penuh berkah di dadanya dan bersabda: “Aku adalah pemberi peringatan. Dan kemudian menunjukkan kepada Ali bin Abi Thalib As dan bersabda: Engkau adalah pemberi petunjuk wahai Ali”.

  1. “Yâ Ayyuhalladzina Amanu Ittaqullâh wa Kunû ma’a al-Shâdiqîn.” (Wahai orang-orang beriman bertakwalah dan hendaklah kalian bersama orang-orang benar, Qs. Al-Taubah:119)

Imam Fakhrurazi dalam menafsirkan redaksi “al-Shadiqin” berkata bahwa yang dimaksud dengan shâdiqin adalah para maksum. Akan tetapi ia menambahkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang maksum adalah seluruh umat.[4]
Di samping itu, banyak mufassir dan muhaddis Ahlusunnah seperti Ibnu Abbas menukil bahwa ayat di atas adalah berkaitan dengan Baginda Ali bin Abi Thalib ra. Allamah Tsa’labi dalam Tafsir-nya, Ganji dalam Kifâyat al-Thâlib, Allamah Sibth al-Jauzi dalam Tadzkirah adalah sekelompok ulama yang menukil demikian bahwa: Para ulama Sirah (sejarah Nabi) berkata bahwa makna ayat ini adalah bahwa kalian harus bersama Ali dan keluarganya. Ibnu Abbas berkata: “Ali As adalah tuan dan penghulu para shadiqin.”

  1. “Athi’uLlah wa Athi’urrasul wa Ulilamri minkum.” (Taatilah Allah dan taati Rasuluulullah dan Ulil Amri di antara kalian., Qs. Al-Taubah [9]:)
    Para penafsir Syiah semuanya sepakat bahwa yang dimaksud dengan Ulil Amri pada ayat ini adalah para Imam Maksum.

 

  1. Prinsip-prinsip Syiah Imamiyah
  2. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad SAW. Ada tiga bentuk pengertian ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad SAW dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas pada Nabi Muhammad SAW sendiri, Ali, Fatimah, Hasan, Husein, dan imam-imam dari keturunan Ali bin Abi Talib.

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Al Ahzab ayat 33.

  1. Al-Bada’.
    Dari segi bahasa bada’ berarti tampak. Doktrin al-bada’ adalah keyakinan bahwa Allah SWT mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syiah, perubahan keputusan Allah SWT itu bukan karena Allah SWT baru mengetahui sesuatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syiah keyakinan semacam ini termasuk kufur.
    Ja’far as-Sadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah SWT baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah SWT.”
  2. ‘Asyura.
    ‘Asyura berasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharam yang diperingati kaum Syiah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husein bin Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61 H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan ‘asyura tersebut, selain mengenang perjuangan Husein bin Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-orang Syiah membaca selawat bagi Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Husein dan keluarganya itu, serta memperagakan berbagai atraksi (seperti memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap wafatnya Husein bin Ali.
  3. Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi Muhammad SAW. Dalam Syiah kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama dan sekaligus sebagai pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syiah, kecuali pada Syiah Zaidiah, penentuan imam bukan berdasarkan atas kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah SAW langsung, yang lazim disebut nas. Oleh karena itu, persoalan imamah dalam Syiah termasuk salah satu rukun agama atau ushuluddin. Soal Imamah oleh kaum Syi’ah disamakan dengan shalat, zakat, puasa dan ibadah haji. Ahli hadist mereka, Al Kaliniy dalam Shahih Al Kafiy mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Abu Hamzah, bahwasanya Abu Ja’far a.s. berkata: “Rukun Islam ada lima: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (mengakui imamah). Pada ‘hari Ghadir” tidak ada sesuatu yang diserukan (Rasul Allah) seperti seruannya mengenai imamah.”[5]
  4. Dari segi bahasa ‘ishmah adalah bentuk masdar dari kata ‘ashama yang berarti memelihara atau menjaga. ‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad SAW, telah dijamin oleh Allah SWT dari segala bentuk perubatan salah atau lupa. Nabi SAW atau imam yang diyakini terlepas dari kesalahan itu disebut maksum. Dalam Syiah, seorang nabi atau imam haruslah bersifat maksum. Menurut mereka, apabila seseorang yang mendapat tugas membawa amanah Allah SWT itu tidak bersifat maksum maka akan timbul keraguan atas kebenaran risalah atau amanah yang dibawanya itu.
  5. Mahdawiyyah berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi.
    Dalam Islam, keyakinan akan datangnya Imam Mahdi ini cukup berakar kuat di kalangan kaum muslimin; tidak hanya di kalangan penganut paham Syiah, tetapi juga di kalangan mayoritas ahlusunah waljamaah. Hal itu disebabkan oleh cukup banyaknya riwayat mengenai akan datangnya sang juru selamat ini. Namun, antara keyakinan Syiah dan keyakinan ahlusunah waljamaah terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Dalam ahlusunah waljamaah, figur Imam Mahdi itu tidak jelas. Mahdi itu disebutkan mempunyai beberapa kriteria, antara lain: keturunan Fatimah, memiliki nama yang serupa dengan nama Nabi SAW, dan akan muncul bersamaan dengan turunnya Nabi Isa AS. Selain itu dalam ahlusunah waljamaah ada keyakinan akan kegaiban Imam Mahdi.
  6. Marja’iyyah atau Wilayah al-Faqih.

Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilayah al-faqih terdiri dari dua kata: wilayah berarti kekuasaan atau kepemimpinan dan faqih berarti ahli fikih atau ahli hukum Islam. Wilayah al-faqih mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fukaha. Menurut Syiah Dua Belas, selama masa kegaiban Imam Mahdi, kepemimpinan umat terletak di pundak para fukaha, baik dalam persoalan keagamaan maupun dalam urusan kemasyarakatan. Para fukahalah yang seharusnya menjadi pucuk pimpinan masyarakat, termasuk dalam persoalan kenegaraan atau politik. Hal itu disebabkan Imam Mahdi telah melimpahkan tanggung jawab kepemimpinannya yang mencakup urusan kegagaamn dan kemasyarakatan itu kepada para fukaha yang bersifat adil dan mempunyai kemampuan memimpin.

  1. Raj’ah.
    Kata raj’ah berasal dari kata raja’a, yang artinya pulang atau kembali[6]. Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah SWT yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah SWT yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi.

Raj’ah dalam keyakinan Syiah bukan merupakan keyakinan pokok. Ia diyakini karena beberapa riwayat dari imam-imam mereka menyatakan akan adanya raj’ah tersebut. Selain itu, penganut Syiah pun mendasarkannya pada surah al-Gafir (al-Mu’min) ayat 11 yang artinya : “Mereka menjawab: Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?” Menurut mereka, dalam ayat di atas tercantum makna ar-raj’ah karena di dalamnya disebutkan adanya dua kehidupan setelah mati, yaitu kehidupan yang terakhir di akhirat dan satu lagi kehidupan sesudah mati sebelum kehidupan di akhirat. Kehidupan yang disebut terakhir itulah menurut mereka yang disebut ar-raj’ah[7].

  1. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqa yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan.
    Dalam sejarah Syiah, sikap taqiyah ini sering dijumpai sehingga menjadi semacam syiar dalam ajaran mereka. Hal ini disebabkan menurut sejarah, mereka selalu dimusuhi dan diburu oleh penguasa-penguasa yang tidak suka kepada mereka, sehingga untuk menyelamatkan diri mereka terpaksa melakukan taqiyah. Salah satu alasan yang digunakan Syiah untuk membenarkan sikap mereka ini adalah peristiwa yang menimpa sahabat Ammar bin Yasir yang dipaksa orang-orang kafir Kuraisy untuk menyatakan dirinya kufur padahal ia sendiri tidak menghendakinya.
  2. Tawallii dan Tabarrii.

Kata tawallii berasal dari kata tawallaa fulaanan yang artinya mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrii berasal dari kata tabarra’a ‘an fulaan yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Tawallii dan tabarrii merupakan salah satu doktrin Syiah yang amat penting. Tawallii dimaksudkan sebagai sikap keberpihakan kepada ahlulbait, mencintai mereka, patuh pada perintah-perintah mereka, dan menjauhi segala larangan mereka. Adapun tabarrii dimaksudkan sebagai sikap menjauhkan diri atau melepaskan diri dari musuh-musuh ahlulbait, menganggap mereka sebagai musuh-musuh Allah SWT, membenci mereka, dan menolak segala yang datang dari mereka.[8]
Kedua sikap ini dianut pemeluk-pemeluk paham Syiah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallii kepada ahlulbait dan tabarrii dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi SAW mengenai Ali bin Abi Talib yang berbunyi: ” Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya, maka hendaklah ia menjadikan Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang yang membela Ali, musuhilah orang yang memusuhi Ali, binasakanlah orang yang menghina Ali, dan lindungilah orang yang melindungi Ali.” (HR. Ahmad bin Hanbal)[9].

 

  1. Konsep Imamah

Imamah memiliki nilai yang sangat signifikan dalam Islam. Menurut perspektif al-Qur’an imamah merupakan tingkatan terakhir dalam perjalanan manusia menuju kesempurnaan yang hanya dapat dicapai oleh para nabi ulul azmi. Termasuk Nabi Ibrahim As, Al-Qur’an menyatakan:

όÎ)ur #’n?tFö/$# zO¿Ïdºtö/Î) ¼çmš/u‘ ;M»uKÎ=s3Î/ £`ßg£Js?r’sù ( tA$s% ’ÎoTÎ) y7è=Ïæ%y` Ĩ$¨Y=Ï9 $YB$tBÎ) ( tA$s% `ÏBur ÓÉL­ƒÍh‘èŒ ( tA$s% Ÿw ãA$uZtƒ “ωôgtã tûüÏJÎ=»©à9$#

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, “Dan dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah [2]:124)
Dalam ayat ini disebutkan bahwa imamah sedemikian tingginya sehingga Nabi Ibrahim, setelah menerima jabatan kenabian dan risalah pada akhir hidupnya dan setelah melintasi pelbagai ujian dan tantangan berat, beliau ingin mendapatkan kehormatan dengan memangku jabatan ini.

Kedudukan imamah pada sebagian urusan dapat dikumpulkan dengan makam kenabian. Seperti pada nabi ulul azmi yaitu Nabi Ibrahim al-Khalil As yang di samping mencapai makam kenabian dan risalah juga sampai pada makam imamah. Dan yang lebih benderang lagi adalah terkumpulnya makam kenabian, risalah dan imamah pada diri Nabi Muhammad Saw. Boleh jadi pada hal-hal tertentu makam imamah ini berpisah dari makam risalah dan kenabian; seperti pada para imam Maksum yang hanya memikul jabatan imamah tanpa adanya wahyu yang diturunkan kepada mereka.[10]

Imamah adalah hal yang sangat penting untuk melanjutkan estafet dan kelanjutan dari kenabian, maka lumrahnya pelbagai filsafat terkait dengan para imam maksum juga dapat ditetapkan. Dengan kata lain, Tuhan yang menciptakan manusia untuk melintasi jalan kesempurnaan dan kebahagiaan. Tuhan yang mengutus para nabi untuk membimbing dan memberikan petunjuk kepada manusia. Lantaran manusia harus bersandar pada kekuatan wahyu dan memiliki derajat kemaksuman maka keniscayaannya adalah untuk melanjutkan jalan ini, setelah wafatnya Rasulullah Saw, Allah Swt mengangkat para khalifah yang maksum yang akan membantu umat manusia untuk sampai kepada tujuan utamanya sedemikian sehingga tanpa pos imamah ini tujuan ini tidak akan tercapai[11]. Karena:

  1. Semata-mata bersandar pada akal manusia tentu tidak memadai untuk mengidentifikasi seluruh faktor dan sebab kemajuan dan kesempurnaan manusia. Dan terkadang bahkan sepersepuluhnya saja manusia tidak kuasa mengidentifikasi faktor-faktor tersebut.
  2. Ajaran para nabi setelah wafatnya boleh jadi mengalami penyimpangan dan distorsi. Untuk mencegah pelbagai distorsi maka sudah seharusnya ada seorang maksum dan Ilahi yang menjaga dan mengawal ajaran tersebut. Benar bahwa Allah Swt berfirman terkait al-Qur’an:

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm:

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Namun untuk menjaga agama Allah Swt mengangkat para maksum yang merupakan sebab dan faktor bagi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan.

Kesemua ini disebutkan pada penjelasan Imam Shadiq As yang bersabda: “Di antara kami Ahlulbait pada setiap generasi terdapat orang-orang adil yang menjaga agama dari penyimpangan orang-orang ghulat, memangkas tangan-tangan ahli bid’ah, para pencipta agama dan ahli batil. Serta memelihara dari pelbagai takwil keliru orang-orang jahil.”[12]

Imam Ali bersabda: “Sekali-kali bumi tidak akan kosong dari hujjah, lahir atau tersembunyi sehingga dalil-dalil Ilahi dan tanda-tanda-Nya tidak kabur.”
3. Membentuk pemerintahan Ilahi dan menegakan keadilan serta menyampaikan manusia kepada tujuan-tujuan yang menjadi maksud penciptaannya tidak dapat terlaksana kecuali melalui hadirnya para maksum. Karena pelbagai pemerintahan manusia sesuai dengan bukti-bukti sejarah senantiasa untuk semata-mata mengeruk keuntungan material orang-orang atau kelompok tertentu dan seluruh usaha mereka adalah untuk maksud ini. Sebagaimana berulang kali kita menyaksikan pelbagai wacana seperti demokrasi, pemerintahan rakyat atau hak-hak asasi manusia dan semisalnya adalah sekedar kedok untuk mencapai tujuan-tujuan setan pelbagai kekuasaan. Dan mereka dengan memanfaatkan media-media ini dalam bentuk lahir lalu ditimpakan kepada masyarakat untuk meraih tujuan-tujuan duniawinya. Imam Ali As dalam ucapan singkat mencirikan ruh imâmah sebagai berikut: “Kedudukan seorang imam yang memerintah urusan kaum Muslimin adalah laksana kedudukan benang bagi manik-manik, karena ia menghubungkan dan mengumpulkan mereka. Apabila benang putus, mereka akan terserak dan hilang dan tak akan berkumpul lagi.”

  1. Kelanjutan perintah-perintah agama yang harus diterapkan pada masyarakat memerlukan adanya para imam yang mengetahui segala sesuatu dan seluruh masalah agama sehingga tidak secuil pun keburaman dan keraguan tersisa bagi setiap orang.

 

  1. Imam –Imam Syiah Itsna Asyariyah

Istna Asyariyah berpendapat bahwa wajib mentaati dan mengikuti terhadap khalifahnya yang dua belas[13]

  1. Khalifah Ali ra. Biasanya bergelar Murtadho Asadullah Al- Ghalib, yang terpilih, singa Allah, yang jaya, Meninggal 40 H/ 661 M.
  2. Hasan di gelari Mujtaba, yang di akui meninggal 44 H/ 664 M.
  3. Husein, Syahid al Karbela, meninggal 60 H/ 679 M.
  4. Ali II, karena kesalehanya diberi gelar Zainal Abidin, perhiasan orang taat, meninggal 94 H/ 713 M.
  5. Muhammad, digelari Al Baqir, juru tafsir yang gaib-gaib, atau yang berwawasan dalam, seorang yang sangat alim dan sederhana, meninggal 113 H/ 731 M.
  6. Ja’far, digelari As Sodiq, adalah putra sulung Muhammad Al Baqir. Ja’far seorang ulama, seorang literator, dan seorang ahli hokum, namanya sangat terkenal dikalangan semua sekte Islam. Kepandaiannya dan kebijakanya, kesucianya dan sifatnya yang jujur sangat luar biasa, menyebabkan dia di hormati, bahkan juga dihormati oleh musuh-musuh keluarganya. Dia meninggal pada usia lanjut di kota kelahiranya ( Madinah) semasa pemerintahan Abu Ja’far Al Mansur, Khalifah bani Abbasiyah, dalam tahun 148 H/ 765 M.
  7. Abdul Hasan Musa, di gelari Al Khadim, putra Ja’far As Shodiq, juga digelari Abdus Shaleh, hamba yang shaleh, karena kesalehanya dan usaha-usahanya menyenangkan Allah swt. Dia lahir di Madinah pada 129 H/746 M dan meninggal di Baghdad tanggal 25 Rajab 183H/ 1 September 799 M dalam penjara, di mana dia di tahan selama beberapa tahun oleh Harun Ar Rasyid, yang amat cemburu atas penghormatan orang terhadap imam itu di Hijaz
  8. Ali III, Abdul Hasan Ali bergelar Ar Ridho, yang diridhoi Tuhan, karrena sifatnya yang suci. Dia seorang yang alim, penyair, dan seorang filosofi. Dilahirkan di kota Madinah tahun 153 H/ 770 M dan meninggal di Thus, Khurasan. Tahun 202H/ 817 M. dia kawin dengan saudara Makmun yang bernama Ummul Fadh.
  9. Abu ja’far Muhammad, bergelar Al Jawwad, karena kedermawananya dan kelapangan hatinya, dan bergelar juga At Taqi, karena ketaatanya. Dia seorang keponakan Al Makmun dan juga kawin dengan anaknya, yang bernama Ummul Habib. Dia sangat dihormati oleh Khalifah al makmun dan penggantinya Al Mu’tashim. Lahir 195 H/811M, dan Meninggal 220 H/835 M.
  10. Ali IV, di gelari An Naqi’ yang suci, meninggal 260 H/868 M.
  11. Abu Muhammad Al Hasan Ibnu Ali Al Askari, digelari al Hadi, pemimpin, dan disebut Al Askari karena lama tinggal di bawah pengawasan Al Mutawakkil di Surraman Raa, barat laut dari kota Baghdad, yang juga di namai Al Askar, dia seorang yang taat dan mulia sifatnya. Seorang penyair dan literator yang terkemuka. Dia lahir di Madinah pada 231 H/ 846 M dan meninggal di Al Askar tahun 260 H/ 874 M. konon dia diracun oleh Mutawakkil.
  12. Muhammad Al Mahdi, Imam ini menurut kepercayaan orang Syiah menghilang ke dalam suatu gua di Surraman Raa, pada usia lima tahun. Orang percaya bahwa dia masih hidup dan orang masih mengharap-harap munculnya kembali untuk mengadakan lagi khilafah dan mengembalikan lagi kesucian umat manusia. Dia digelari imam gaib, yang tidak kelihatan, Al Muntadhar, yang dinanti-nantikan kedatanganya dan Al Qoim, yang hidup.[14]

 

  1. Perkembangannya di dunia modern

Golongan Syiah banyak terdapat di India, Pakistan, Irak, Yaman, dan terutama di mana Syiah menjadi madzhab resmi negara. maka diantara aliran-aliran yang paling terkenal adalah Istna Asyariyah, di namakan demikian karena mereka menghubungkan imam imamya kepada imam dua belas. Syiah aliran istna asyariyah ini adalah akidah resmi pemerintahan Iran sampai sekarang, peranan orang-orang syiah di Mesir dengan berdirinya kerajaan Fatimiyah (358-567H/ 969-1171 M). [15]

Kelompok Syiah Istna Asyariyah juga banyak kita temui di Irak sekarang, sampai-sampai jumlahnya mencapai setengah dari jumlah penduduknya yang mengikuti akidah, tatanan kerumahtanggaan, mawarist, wakaf, zakat dan ibadat-ibadat lainya.[16]

 

  1. Kesimpulan
  2. Imamah merupakan suatu keharusan untuk menjaga dan mengatur alam ini, seperti halnya Rasul utus oleh Allah swt.
  3. Membentuk pemerintahan Ilahi dan menegakan keadilan serta menyampaikan manusia kepada hidupnya.
  4. Kelanjutan perintah-perintah agama yang harus diterapkan pada masyarakat memerlukan adanya para imam yang mengetahui segala sesuatu dan seluruh masalah agama sehingga tidak secuil pun keburaman dan keraguan tersisa bagi setiap orang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama, Al- Qur’an dan Terjemahan, CV. Toha Putra. Jakarta: 1987.

Abu Zahroh, Muhammad, Tarikh al Madzahib al Islamiyah. Kairo:Darul fikr al Aroby.  2009

Abu Saadat al Mubarok al Jazairy, Majduddi , Jamiul Ushul Fi Ahadis al Rasul,. Lebanon: Maktabah Al Hilwani. 1972.

Abbas, Sirojuddin,  I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, Jakarta: Pustaka Tarbiyah 1995.

Al-Syahrastani, Abi al Fath Muhammad bin Abdul Karim, Al Milal wa al Nihal,. Bairut, Darul Fikr.

Ali Attabik. dan Mudhor, Ahmad Zuhdi, Al Ashri : Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. Yogyakarta: Multi Karya Grafika. 1998.

  1. Nasir, Sahilun, Pemikiran Kalam (Teologi Islam) Sejara, Ajaran, dan perkembanganya,. Jakarta: Rajawali Pers, 2010.

Udzma, Ayatullah abu Fadl Ibnu Ridho, Ushul Kafi. Maktabah Syamilah.

Al Kailamy. Al Kafiy fil Ushul. Kairo: Darul Fikr. 2005.

Tim Saluran Teologi Lirboyo. Akidah Kaum Sarungan. Kediri: Tamatan Aliyah Lirboyo. 2005.

http://mawarkarbala.blogspot.com/2007/04/apa-itu-syiah-imamiyah.html

http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/articles/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/imamate/keharusan_seorang_imam/001.html

[1] Tim Saluran Teologi Lirboyo 2005, Akidah Kaum Sarungan, (Kediri: @Tamatan Aliyah Lirboyo, 2005), hal. 102.

[2] Abi al Fath Muhammad bin Abdul Karim al Syahrastani, Al milal wan nihal (Bairut: Darul Fikr, 2005).  hal. 136

[3]http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/articles/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/imamate/keharusan_seorang_imam/001.html

[4] Fakhrurazi, Tafsir al-Kabir  jil. 16, hal. 221.

[5] Al Kailamy, Al Kafiy fil Ushul,(Kairo: Darul Fikr, 2005). hal. 369

[6] Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia (Krapyak: Mulya Karya Grafika 1998), hal. 960

[7] Sirajuddin Abbas, I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah (Jakarta: Pustaka Tarbiyah 1995). Hal. 102

[8] http://mawarkarbala.blogspot.com/2007/04/apa-itu-syiah-imamiyah.html

 

[9] Majduddin Abu Saadat al Mubarok al Jazairy, Jamiul Ushul Fi Ahadis al Rasul, (Lebanon: Maktabah Al Hilwani 1972), Juz 8. Hal. 649

[10] Muhammad Imarah, Tayyarat al Fikr al Islami (Kairo: Dar al Syuruq, 2007). Hal. 56

[11]http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/articles/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/imamate/keharusan_seorang_imam/001.html

[12]Ayatullah al Udzma abu Fadl Ibnu Ridho, Ushul Kafi (Maktabah Syamilah) jil. 1, hal. 32

[13] Muhammad Abu Zahroh, Tarikh Madzahib Al Islamiyah (Kairo: Darul Fikr, 2009), hlm. 56

[14] Sahilun A. Nasir, Pemikiran Kalam (Teologi Islam) Sejara, Ajaran, dan perkembanganya, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hal. 119

[15] Ibid.  hal. 102

[16] Muhammad Abu Zahroh, Tarikh Madzahib al muashiroh, hal. 56

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *