SEJARAH PEMIKIRAN DAN PERKEMBANGAN ALIRAN ASY‘ARIYAH

Oleh : Robii’atul Mariyah, S.Th.I, M.H.I

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Aliran Asy’ariyah banyak dikenal dengan ahlus sunnah wal jama’ah. Atau bisa juga dikatakan, bila berbicara mengenai ahlus sunnah wal jama’ah identik dengan pembahasan Aliran Asy’ariyah[1].

Sebelum memasuki dan membahas mengenai bagaimana sejarah perkembangan dan pemikiran aliran Asy’ariyah, ada baiknya diketahui bagaimana awal mula dinisbatkannya ahlus sunnah wal jama’ah pada aliran asy’ariyah ini.

Ahlus sunnah wal jama’ah merupakan satu aliran teologi dalam Islam yang timbul karena reksi terhadap paham-paham golongan Muktazilah; merupakan nama bagi aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Paham Muktazilah yang disebarkan kali oleh Wasil bin Atha’ pada tahun 100 H (718 M)  mendapat pengaruh dalam masyarakat. Pengaruh ini mencapai puncaknya pada masa khalifah Abbasiyah, yaitu al-Makmun, al-Mu’tashim dan Al-wasiq. Pengaruh ini semakin kuat ketika aliran Muktazilah dijadikan sebagai madzhab resmi yang dianut negara pada masa Khalifah al-Makmun pada tahun 813-833 M [2].

Dalam penyebaran paham Muktazilah terjadi suatu peristiwa ang menjadilembaran hitam dalam sejarah perkembangan Muktazilah itu sendiri. Khalifah al-Makmun yang menerapkan prinsip amar makruf nahi munkar melakukan pemaksaan paham Muktazilah dalam seluruh jajaran pemerintahannya, bahkan juga seluruh masyarakat Islam.

1

Dalam pemaksaan paham-paham Muktazilah ini banyak ulama yang menjadi panutan masyarakat menjadi korban penganiayaan. Hal ini terjadi misalnya pada Ahmad bin Hanbal, seseorang yang berpegang teguh pada hadis nabi dan tidak mau menerima logika dalam pembuktian masalah-masalah akidah, yang harus mendapatkan siksaan karena sikap kuat dan konsistennyadalam mempertahankan prinsip bahwa al-Qur’an itu bukanlah makhluk sebagaimana yang dianut oleh muktazilah.

Peristiwa ini dalam sejarah teologi Islam dengan nama mihnah, ujian akidah. Banyak diantara para lama yang mendapat ujian seperti ini dan diantara mereka ada yang lolos dari ujian tersebut, artinya menerima paham yang dianut oleh khalifah.

Namun, Ahmad bin Hanbal tidak mau mengubah keyakina mereka untuk mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah makhluk. Sikap tegas beliau dalam menentang ajaran ini mendapat simpati dari masarakat, khalifah tidak berani menghukum mati Ahmad bin Hanbal. Dikhawatirkan jika belau dihukum mati akan menimbulkan kekacauan ditengah- tengah masyarakat.

Tatkala al-Mutawakkil menjadi Khalifah, ia melihat bahwa posisinya perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat. Sementara itu yang termasuk kelompok mayoritas pada saat itu adalah penganut Ahmad bin Hanbal. Oleh karena itu, pada tahun 856 M khalifah membatalkan paham muktazilah sebagai paham resmi negara, yang menurut sebagian orang awam sulit untuk menerima pemikiran-pemikiran muktazilah yang rasionalis dan filosofis[3]. Oleh karena itu, mereka menginginkan madzhab yang sifatnya sederhana yang sejalan dengan sunah Nabi Muhammad SAW dan tradisi para sahabat.

Dalam keadaan demikian, muncullah Abu Hasan al-Asy’ari dengan paham teologi baru yang berusaha menampung aspirasi rakyat dengan berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad SAW dan tradisi para sahabatnya. Aliran teologi baru ini kemudian dengan nama Asy’ariyah atau al-Asy’ariyah. Paham-paham yang dikembangkan oleh Asy’ari ini banyak yang berbeda dengan paham-paham yang disebarkan oleh muktazilah.

Sebenarnya istilah ahlus sunnah wal jama’ah tidak hanya dinisbatkan pada aliran Asy’ariyah saja, namun juga pada aliran Maturidiyah yang muncul di daerah Samarkan dan didirikan oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi[4].

Pada makalah ini tidak dibahas keduanya antara Asy’ariyah dan maturidiyah, akan tetapi lebih membahas dan mendalami mengenai sejarah pemikiran dan perkembangan aliran Asy’ariyah.

 

  1. Rumusan Masalah

Pada makalah Asy’ariyah ini, dapat dirumuskan  permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana sejarah berdiri dan perkembangan asy’ariyah?
  2. Bagaimana pemikiran-pemikiran asy’ariyah?
  3. Bagaimana perkembangan aliran asy’ariyah hingga saat ini?
  4. Siapa tokoh-tokoh aliran asy’ariyah?

 

  1. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam makalah ini terdiri dari 3 bab. Pertama adalah pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah serta sistematika penulisan.

Pada bab kedua berisikan pembahasan yang terbagi dalam 4 term. Sejarah berdiri dan perkembangan Asy’ariyah, pemikiran-pemikiran Asy’ariyah, tokoh-tokoh Asy’ariyah, perkembangan asy’ariyah hingga saat ini.

Terakhir pada bab ketiga merupakan kesimpulan atau konklusi dari makalah ini.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. SEJARAH BERDIRI DAN PERKEMBANGAN ASY’ARIYAH
  2. Pendiri

Asy`ariyah merupakan paham akidah yang dinisbatkan kepada Abu Hasan Al-Asy`ariy[5]. Nama lengkap beliau adalah  Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Al-Asy’ari, seorang sahabat Rasulullah saw. Kelompok Asy’ariyah menisbahkan pada namanya sehingga dengan demikian ia menjadi pendiri madzhab Asy’ariyah.

Abul Hasan Al-Asya’ari dilahirkan pada tahun 260 H/874 M di Bashrah dan meninggal dunia di Baghdad pada tahun 324 H/936 M. Ia berguru kepada Abu Ishaq Al-Marwazi, seorang fakih madzhab Syafi’i di Masjid Al-Manshur, Baghdad. Ia belajar ilmu kalam dari Al-Jubba’i, seorang ketua Muktazilah di Bashrah.

Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Abu Ali Al-Jubba’i, salah seorang pembesar Muktazilah. Hal itu menjadikan otaknya terasah dengan permasalahan kalam sehingga ia menguasai betul berbagai metodenya dan kelak hal itu menjadi senjata baginya untuk membantah kelompok Muktazilah.

 

  1. Sejarah Berdirinya Asy’ariyah

Pada masa berkembangnya ilmu kalam, kebutuhan untuk menjawab tantangan akidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena pada waktu itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat Barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen Barat ketika menyerang akidah Islam. Karena itulah metode akidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli

Munculnya kelompok Asy’ariyah ini tidak lepas dari ketidakpuasan sekaligus kritik terhadap paham Muktazilah yang berkembang pada saat itu. Kesalahan dasar Muktazilah di mata Al-Asy’ari adalah bahwa mereka begitu mempertahankan hubungan Tuhan—manusia, bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan dikompromikan.

Al-Asy’ari yang semula berpaham Muktazilah akhirnya berpindah menjadi Ahli Sunnah. Sebab yang ditunjukkan oleh sebagian sumber lama bahwa Abul Hasan telah mengalami kemelut jiwa dan akal yang berakhir dengan keputusan untuk keluar dari Muktazilah. Sumber lain menyebutkan bahwa sebabnya ialah perdebatan antara dirinya dengan Al-Jubba’i seputar masalah ash-shalah dan ashlah (kemaslahatan).

Sumber lain mengatakan bahwa sebabnya ialah pada bulan Ramadhan ia bermimpi melihat Nabi dan beliau berkata kepadanya, “Wahai Ali, tolonglah madzhab-madzhab yang mengambil riwayat dariku, karena itulah yang benar.” Kejadian ini terjadi beberapa kali, yang pertama pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, yang kedua pada sepuluh hari yang kedua, dan yang ketika pada sepuluh hari yang ketiga pada bulan Ramadhan. Dalam mengambil keputusan keluar dari Muktazilah, Al-Asy’ari menyendiri selama 15 hari. Lalu, ia keluar menemui manusia mengumumkan taubatnya. Hal itu terjadi pada tahun 300 H[6].

Setelah itu, Abul Hasan memposisikan dirinya sebagai pembela keyakinan-keyakinan salaf dan menjelaskan sikap-sikap mereka. Pada fase ini, karya-karyanya menunjukkan pada pendirian barunya. Dalam kitab Al-Ibanah, ia menjelaskan bahwa ia berpegang pada madzhab Ahmad bin Hambal.

Abul Hasan menjelaskan bahwa ia menolak pemikirian Muktazilah, Qadariyah, Jahmiyah, Hururiyah, Rafidhah, dan Murjiah. Dalam beragama ia berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan apa yang diriwayatkan dari para shahabat, tabi’in, serta imam ahli hadits.

 

  1. Periodisasi Pemikiran Al-Asy’ari.

Dalam kehidupan Asy’ary terdapat tiga periode dalam hidupnya yang berbeda dan merupakan perkembangan ijtihadnya dalam masalah akidah.

  1. Periode Pertama

Beliau hidup di bawah pengaruh Al-Jubbai, syaikh aliran Muktazilah. Bahkan sampai menjadi orang kepercayaannya. Periode ini berlangsung kira-kira selama 40-an tahun. Periode ini membuatnya sangat mengerti seluk-beluk akidah Muktazilah, hingga sampai pada titik kelemahannya dan kelebihannya.

 

  1. Periode Kedua

Beliau berbalik pikiran yang berseberangan paham dengan paham-paham Muktazilah yang selama ini telah mewarnai pemikirannya. Hal ini terjadi setelah beliau merenung dan mengkaji ulang semua pemikiran Muktazilah selama 15 hari. Selama hari-hari itu, beliau juga beristikharah kepada Allah untuk mengevaluasi dan mengkritik balik pemikiran akidah muktazilah.

Di antara pemikirannya pada periode ini adalah beliau menetapkan 7 sifat untuk Allah lewat logika akal, yaitu:

  • Al-Hayah (hidup)
  • Al-Ilmu (ilmu)
  • Al-Iradah (berkehendak)
  • Al-Qudrah (berketetapan)
  • As-Sama’ (mendengar)
  • Al-Bashar (melihat)
  • Al-Kalam (berbicara)

Sedangkan sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah, seperti Allah punya wajah, tangan, kaki, betis dan seterusnya, maka beliau masih menta’wilkannya. Maksudnya beliau saat itu masih belum mengatakan bahwa Allah punya kesemuanya itu, namun beliau menafsirkannya dengan berbagai penafsiran. Logikanya, mustahil Allah yang Maha Sempurna itu punya tangan, kaki, wajah dan lainnya.

 

  1. Periode Ketiga

Pada periode ini beliau tidak hanya menetapkan 7 sifat Allah, tetapi semua sifat Allah yang bersumber dari nash-nash yang shahih. Kesemuanya diterima dan ditetapkan, tanpa takyif, ta’thil, tabdil, tamtsil dan tahrif.

Beliau para periode ini menerima bahwa Allah itu benar-benar punya wajah, tangan, kaki, betis dan seterusnya. Beliau tidak melakukan:

  • takyif: menanyakan bagaimana rupa wajah, tangan dan kaki Allah.
  • ta’thil: menolak bahwa Allah punya wajah, tangan dan kaki.
  • tamtsil: menyerupakan wajah, tangan dan kaki Allah dengan sesuatu.
  • tahrif: menyimpangkan makna wajah, tangan dan kaki Allah dengan makna lainnya.

Pada periode ini beliau menulis kitabnya “Al-Ibanah ‘an Ushulid-Diyanah.” Di dalamnya beliau merinci akidah salaf dan manhajnya. Al-Asyari menulis beberapa buku, menurut satu sumber sekitar tiga ratus.

 

 

 

  1. Penyebab Asy’ary Keluar dari Mu’tazilah

Penyebab keluarnya Al-Asy’ari dari aliran mu’tazillah antara lain:

  1. Pengakuan Al-Asy’ari telah bertemu Rasulullah SAW sebanyak 3 kali. yakni pada malam ke-10, ke-20 dan ke-30 bulan Ramadhan. dalam mimpinya itu Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan paham Mu’tazillah.
  2. Al-Asy’ari merasa tidak puas terhadap konsepsi aliran Mu’tazilahdalam soal – soal perdebatan yang telah ditulis diatas.
  3. Dari segi politik sebagian kalangan berpendapat bahwa beliau kalah pamor dengan Abu Hasyim, murid al-Juba’I yang lain[7].

Al-Asy’ari sebagai orang yang pernah menganut paham Mu’tazillah, tidak dapat menjauhkan diri dari pemakaian akal dan argumentasi pikiran. ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa akal pikiran dalam agama atau membahas soal-soal yang tidak pernah disinggung oleh Rasulullah merupakan suatu kesalahan.

Dalam hal ini ia juga mengingkari orang yang berlebihan menghargai akal pikiran, karena tidak mengakui sifat-sifat Tuhan.

 

  1. Kisah Imam Asy’ari dan Al Juba’iy

Contoh perdebatan antara Imam Al-asy’ary dengan Abu Ali Al-Jubai:

Abu Hasan Al-Asy’ary bertanya: “Bagaimana menurut pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal dalam keadaan berlainan, mukmin, kafir dan anak kecil?”.

Al-Jubai: “Orang Mukmin adalah Ahli Surga, orang kafir masuk neraka dan anak kecil selamat dari neraka”.

Al-Asy’ari: “Apabila anak kecil itu ingin meningkat masuk surga, artinya sesudah meninggalnya dalam keadaan masih kecil, apakah itu mungkin?”

Al-Jubai: “Tidak mungkin bahkan dikatakan kepadanya bahwa surga itu dapat dicapai dengan taat kepada Allah, sedangkan Engkau (anak kecil) belum beramal seperti itu”.

Al-Asy’ari: “Seandainya anak itu menjawab memang aku tidak taat. seandainya aku dihidupkan sampai dewasa, tentu aku beramal taat seperti amalnya orang mukmin”.

Al Juba’I: Allah menjawab: “Aku mengetahui bahwa seandainya engkau sampai umur dewasa, niscaya engkau bermaksiat dan engkau disiksa. Karena itu Aku menjaga kebaikanmu. Aku mematikan mu sebelum engkau mencapai umur dewasa”.

Al-Asy’ari: “seandainya si kafir itu bertanya: Engkau telah mengetahui keadaanku sebagaimana juga mengetahui keadaannya, mengapa engkau tidak menjaga kemashlahatanku, sepertinya?”

Maka Al-Jubai diam saja, tidak meneruskan jawabannya .

  1. PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ASY’ARIYAH

Pada hakikatnya pemikiran Asy’ariyah biasa disandingkan dengan pendapat Aliran Maturidiyah —yang notabenenya sama-sama dikenal sebagai ahlussunnah wal jama’ah— kemudian dikaitkan pula dengan pendapat Aliran Mu’tazilah.

Al-Asy’ari merumuskan pandangan teologinya dalam al-Luma’ Fi ar-Radd ’ala ahl az-Ziyag wa al-Bida’ Pemikiran-pemikiran pokok al-Asy’ariy ada tujuh:

 

 

 

  1. Tentang sifat Allah SWT

Bagi al-Asy’ari Allah SWT. Bagi al-Asy’ariy Allah mempunyai sifat (sifat dua puluh) seperti al-’Ilm (mengetahui), al-Qudrah (kuasa), al-Hayah (hidup), as-Sama’ (mendengar), dan al-Bashar (melihat).

Sifat-sifat tersebut berada di luar Zat Tuhan dan bukan Zat Tuhan itu sendiri.Oleh karena itu, Tuhan mengetahui bukan dengan Zat-Nya, melainkan mengetahui dengan dengan pengetahuan-Nya. Begitu pula dengan sifat-sifat lainnya[8].

  1. Tentang Kedudukan al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kalam Allah SWT dan bukan makhluk dalam arti diciptakan. Karena al-Qur’an adalah sabda Allah SWT maka pastilah al-Qur’an bersifat Qadim.

Pandangan Asy`ariyah sama dengan pandangan Maturidiyah. Keduanya sama-sama mengatakan bahwa Al-quran itu adalah Kalam Allah Yang Qadim. Mereka berselisih paham dengan Mu`tazilah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu makhluq.

  1. Tentang Melihat Allah SWT di akhirat

Allah SWT akan dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala karena Allah mempunyai wujud.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan dalil Asy’ariyah untuk menyakinkan pendapatnya adalah:

  1. QS. Ar-Rum ayat 25

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä br& tPqà)s? âä!$yJ¡¡9$# ÞÚö‘F{$#ur ¾Ín̍øBr’Î/ 4 §NèO #sŒÎ) öNä.$tãyŠ ZouqôãyŠ z`ÏiB ÇÚö‘F{$# !#sŒÎ) óOçFRr& tbqã_ãøƒrB ÇËÎÈ

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). (QS. Ar-Rum ayat 25)[9]

  1. QS Yasiin ayat 82

!$yJ¯RÎ) ÿ¼çnãøBr& !#sŒÎ) yŠ#u‘r& $º«ø‹x© br& tAqà)tƒ ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù ÇÑËÈ

Artinya : Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. (QS Yasiin ayat 82)[10].

 

  1. QS Al-A’raaf ayat 54

žcÎ) ãNä3­/u‘ ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóムŸ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜtƒ $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàf‘Z9$#ur ¤Nºt¤‚|¡ãB ÿ¾Ín͐öDr’Î/ 3 Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u‘$t6s? ª!$# >u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ

Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al-A’raaf ayat 54)[11].

 

  1. QS Al-Kahfi ayat 109

@è% öq©9 tb%x. ãóst7ø9$# #YŠ#y‰ÏB ÏM»yJÎ=s3Ïj9 ’În1u‘ y‰ÏÿuZs9 ãóst6ø9$# Ÿ@ö7s% br& y‰xÿZs? àM»yJÎ=x. ’În1u‘ öqs9ur $uZ÷¥Å_ ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ #YŠy‰tB ÇÊÉÒÈ

Artinya : Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS Al-Kahfi ayat 109)[12].

 

  1. QS Al-Mukmin ayat 16

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. šc÷ryŠ$oYムàMø)yJs9 «!$# çŽt9ø.r& `ÏB öNä3ÏFø)¨B öNà6|¡àÿRr& øŒÎ) šcöqtãô‰è? ’n<Î) Ç`»yJƒM}$# šcrãàÿõ3tGsù ÇÊÉÈ

Artinya :(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari Keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS Al-Mukmin ayat 16)[13].

 

  1. QS Al-A’raaf ayat 54

žcÎ) ãNä3­/u‘ ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóムŸ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜtƒ $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàf‘Z9$#ur ¤Nºt¤‚|¡ãB ÿ¾Ín͐öDr’Î/ 3 Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u‘$t6s? ª!$# >u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÎÍÈ

Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al-A’raaf ayat 54)[14].

 

 

 

  1. QS Al-Kahfi ayat 109

@è% öq©9 tb%x. ãóst7ø9$# #YŠ#y‰ÏB ÏM»yJÎ=s3Ïj9 ’În1u‘ y‰ÏÿuZs9 ãóst6ø9$# Ÿ@ö7s% br& y‰xÿZs? àM»yJÎ=x. ’În1u‘ öqs9ur $uZ÷¥Å_ ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ #YŠy‰tB ÇÊÉÒÈ

Artinya : Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS Al-Kahfi ayat 109)[15].

 

  1. QS Al-Mukmin ayat 16

tPöqtƒ Nèd tbrã—̍»t/ ( Ÿw 4’s”øƒs† ’n?tã «!$# öNåk÷]ÏB ÖäóÓx« 4 Ç`yJÏj9 à7ù=ßJø9$# tPöqu‹ø9$# ( ¬! ωÏnºuqø9$# ͑$£gs)ø9$# ÇÊÏÈ

Artinya :(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari Keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (QS Al-Mukmin ayat 16)[16].

 

  1. Tentang Perbuatan Manusia

Pebuatan-perbuatan manusia diciptakan oleh Allah SWT. Walaupun al-Asy’ary mengakui adanya daya dalam diri manusia, daya itu tidak efektif. Paham ini dikenal dengan istilah al-kasb[17].

  1. Tentang Rupa Tuhan

Mengenai antropomorfisme, al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah SWT mempunyai mata, muka, tangan dan sebagainya seperti disebut di dalam al-Qur’an. Akan tetapi tidak diketahui bagaimana bentuknya.

 

 

  1. Tentang Dosa Besar

Orang mukmin yang berdosa besar tetap dianggap mukmin selama ia masih beriman kepada Allah SWT dan Rosul-Nya. Ia hanya digolongkan sebagai orang durhaka. Tentang dosa besarnya diserahkan kepada Allah SWT, apakah akan diampuni atau tidak.

Sedangkan muktazilah berpendapat bahwa pelaku dosa besar berada pada manzilah baina manzilataini[18].

  1. Tentang Keadilan Allah SWT

Allah SWT adalah pencipta seluruh alam. Dia memiliki kehendak mutlak terhadap ciptaan-Nya. Karena itu Ia dapat sekehendak-Nya. Ia dapat saja memasukkan seluruh manusia kedalam surga, sebaliknya dapat pula memasukkan seluruh manusia kedalam neraka[19].

  1. . PERKEMBANGAN ALIRAN ASY’ARIYAH

Aliran ini termasuk cepat berkembang dan mendapat dukungan luas dikalangan sebelum meninggalnya pendiri Aliran Asy’aiyah itu sendiri yaitu Imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari, yang wafat pada tahun 324 H/934 M.

Sepeninggalnya Al-Asy’ari sendiri mengalami perkembangan dan perubahan yang cepat karena pada akhirnya Asy’ariyah lebih condong kepada segi akal pikiran murni dari pada dalil nash.

Aliran asy’ariyah dapat berkembang secara luas pada kalangan masyarakat karena dianggap dapat menengahi pendapat antara  aliran Jabariyah dan aliran Qodariyah  secara arif.

Pada dasarnya ciri-ciri orang yang menganut aliran Asy’ariyah adalah sebagai berikut:

Iman adalah membenarkan dengan hati, amal perbuatan adalah kewajiban untuk berbaut baik dan terbaik bagi manusia. dan mereka tidak mengkafirkan orang yang berdosa besar. Kehadiran Tuhan dalam konsep Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya.

Namun demikian beberapa pendapat asy’ari ini tidak lepas dari koreksi  oleh generasi penerusnya, namun koreksi-koreksi ini tidak lain merupakan penyempurnaan yang dilakukan oleh penganut madzhab ini. Di antaranya ialah sebagai berikut:

Muhammad Abu Baki al- Baqillani (w. 1013 M), tidak begitu saja menerima ajaran-ajaran Asy’ari. Misalnya tentang sifat Allah dan perbuatan manusia. Menurut al-Baqillani yang tepat bukan sifat Allah, melainkan hal Allah, sesuai dengan pendapat Abu Hasyim dari Muktazilah. Selanjutnya ia beranggapan bahwa perbuatan manusia bukan semata-mata ciptaan Allah, seperti pendapat Asy’ari. Menurutnya, manusia mempunyai andil yang efektif dalam perwujudan perbuatannya, sementara Allah hanya memberikan potensi dalam diri manusia.

Pengikut Asy’ari lain yang juga menunjukkan penyimpangan adalah Abdul Malik al-Juwaini yang dijuluki Imam al-Haramain (419-478 H). Misalnya tentang anthropomorfisme al-Juwaini beranggapan bahwa yang disebut tangan Allah harus diartikan (ditakwilkan) sebagai kekuasaan Allah. Mata Allah harus dipahami sebagai penglihatan Allah, wajah Allah harus diartikan sebagai wujud Allah, dan seterusnya. Jadi bukan sekadar bila kaifa atau tidak seperti apa pus, sepertidikatakan Asy’ari.

Pengikut Asy’ari yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam yang beraliran Ahli sunnah wal jamaah ialah Imam Al-Ghazali. Tampaknya paham teologi cenderung kembali pada paham-paham Asy’ari. Al-Ghazali meyakini bahwa:

  1. Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan zat Tuhan danmempunyai wujud di luar zat.
  2. Al-Qur’an bersifat qadim dan tidak diciptakan.
  3. Mengenai perbuatan manusia, Tuhanlah yang menciptakan daya dan perbuatan
  4. Tuhan dapat dilihat karena tiap-tiap yang mempunyai wujud pasti dapat dilihat.
  5. Tuhan tidak berkewajiban menjaga kemaslahatan (ash-shalah wal ashlah) manusia, tidak wajib memberi ganjaran pada manusia, dan bahkan Tuhan boleh memberi beban yang tak dapat dipikul kepada manusia.

Berkat Al-Ghazali paham Asy’ari dengan sunah wal jamaahnya berhasil berkembang ke mana pun, meski pada masa itu aliran Muktazilah amat kuat di bawah dukungan para khalifah Abasiyah. Sementara itu paham Muktazilah mengalami pasang surut selama masa Daulat Bagdad, tergantung dari kecenderungan paham para khalifah yang berkuasa. Para Ulama yang Berpaham Asy-‘ariyah.

Kebanyakan para ulama di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung menyatakan dirinya sebagai penganut aliran Asy’ariyah. Mereka mengamini pendapat Imam Asy’ariyah bahwa Al-Qur’an itu Qadim, bahwa manusia dapat melihat Tuhannya kelak di surga, tentang bahwasanya mukmin yang berdosa besar tidak serta merta menjadi kafir.

  1. Hasyim Asy’ari pada sambutan pembukaan deklarasi berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama menandaskan: “Ciri Ahlussunah wal Jama‘ah, adalah mereka yang di bidang tauhid mengikuti Imam Abu Alhasan Al’asy’ari atau Abu Mansur Almaturidi; di bidang fiqh mengikuti madzhab empat: Imam Abi Hanifah, Malik bin Anas, Syafi’i bin Idris atau Ahmad bin Hambal; dan di bidang tasawuf mengikuti ajaran Syaikh Junaid Albaghdadi dan Imam Alghazali.”[20].

 

 

 

 

 

  1. TOKOH-TOKOH ALIRAN ASY’ARIYAH

Perkembangan Madzhab Asy’ariyah ini tentu saja tidak lepas dari peranan-peranan para tokoh yang baik secara langsung maupun tidak langsung mengklaim dirinya bahwa mereka mengikuti aliran Asy’ariyah. Berikut ini merupakan tokoh- tokoh yang mengikuti aliran asy’ariyah.

  1. Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)[21]

Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama.

Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

  1. Abdul Ma’ali bin Abdillah Al-Juwaini[22]

Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.

Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:

  1. Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  2. Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  3. Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  4. Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan.
  5. Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)[23]

Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll

Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.

  1. Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)[24]

Penulis tafsir Mafaatihul Ghaib, Fakhruddin ar-Razi atau al-Fakhrurrazi ini berbeda dengan ar-Razi. Fakhrurraziy lahir pada tahun 544 H, sedangkan ar-Raziy atau Rhazes, demikian orang Barat memanggilnya, lahir sekitar dua abad sebelumnya. Keduanya memang sama-sama ahli di bidang ilmu kalam atau filsafat. Fakhrurraziy wafat pada tahun 606 H.

Setelah berkutat dengan ilmu kalam dan menyelaminya selama bertahun-tahun, Fakhrurraziy menulis kitab Aqsaamul Ladzdzaat. Di dalam buku itu Fakhrurraziy menuliskan pengakuannya tentang kerusakan filsafat.

Katanya, “Aku telah mencermati berbagai metode yang ditawarkan oleh ilmu Kalam dan Filsafat (tentang ketuhanan). Nyatanya, keduanya sama sekali tidak menyirnakan dahaga orang yang kehausan. Kudapati, metode yang paling baik adalah metode al-Qur`an. Bahkan itu adalah satu-satunya metode yang benar. Tentang itsbat, bacalah: ‘ar-Rahman bersemayam di atas ‘Arasy’ (Thaha: 5) dan ‘Kepada-Nya akan naik perkataan-perkataan yang baik.’ (Fathir: 10). Tentang nafyi, bacalah: ‘Tidak ada sesuatu yang semisal dengan-Nya.’ (asy-Syura: 11).”

Fakhrurraziy juga menggubah seuntai syair yang maknanya sebagai berikut:

Ujung lancang akal hanyalah belenggu

Akhir upaya orang-orang yang sok berilmu hanyalah kesesatan

Ruh-ruh kita rasa terasing dari jasad kita

Buah dunia kita hanya derita dan marabahaya

Kita tak beroleh faidah kajian sepanjang umur

Selain kumpulkan katanya dan kata mereka

Betapa telah kita lihat tokoh-tokoh dan berbagai negeri

Semua maju dengan cepat, namun segera pula semua hilang

Tak sedikit gunung telah didaki tokoh-tokoh

Tokoh-tokoh hilang, tapi gunung tetaplah gunung.

 

  1. Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
  2. Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

 

Serta banyak pula tokoh-tokoh lain yang dapat dijadikan makalah tersendiri di luar pembahasan ini.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Dari pemaparan makalah diatas dapat disimpulkan bahwa Asy`ariyah merupakan paham akidah yang dinisbatkan kepada Abu Hasan Al-Asy`ariy. Seorang tokoh muktazilah yang kemudian menyatakan pertaubatannya menjadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Pemikiran Asy’ari yang pokok ada tujuh dan disebut pula dengan Ushul as-Sab’ah yaitu:

  1. Mengenai Sifat Allah SWT, Allah mempunyai sifat.
  2. Al-Qur’an bukanlah makhluk dan bersifat Qadim.
  3. Manusia dapat melihat Allah SWT di akhirat.
  4. Al-Kasb, yakni pendapat bahwa perbuatan-perbuatan manusia diciptakan oleh Allah.
  5. Allah mempunyai mata, muka, tangan dan sebagainya sebagaimana dalam al-Qur’an tanpa mengetahui bagaimana bentuknya.
  6. Orang mukmin yang berdosa besar tidaklah kafir, hanya dikategorikan sebagai orang durhaka.
  7. Kehendak Allah adalah mutlak. Ia bisa memasukkan seluruh manusia ke surga ataupun neraka.

Aliran Asy’ariyah berkembang begitu pesat, karena ajarannya dianggap dapat menengahi aliran Jabariyah dan Qodariyah.

Di Indonesia, NU salah satu organisasi terbesar diwakili oleh KH. Hasyim Asy’ari mendeklarasikan bahwa aliran ini menganut aliran ahlus sunnah wa al-Jama’ah yang identik dengan asy’ariyah dan maturidiyah.

Mereka yang berakidah ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah paling dekat di antara yang lain kepada ahlus sunnah wal jamaah. Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat

Begitulah sejarah pemikiran dan perkembangan aliran Asy‘ariyah, semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

Abdul Karim, Muhammad, 2005, al-Milal wa an-Nihal, Beirut: Dar al-Fikr.

Abdullah ,Taufik, Prof. Dr.  dan Mr. Moh. Hisyam, 2003, Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta: Pt. Intermasa.

Abu Zayd,Nasr Hamid, 1997,  Imam Syafi’I: Moderatisme Elektisisme Arabisme, Yogyakarta: LKis.

Ahmad Hanafi M.A., 2003, Theology Islam (ilmu kalam), Jakarta: Pustaka al-Husna.

Departemen Agama RI., 2006  Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta:______.

Feillard,Andre, 1999, NU vis -a-vis Negara, Yogyakarta: LKis.

Hanafi, Ahmad, M.A.,  2003, Pengantar Teologi Islam, Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Hasymy, Ahmad, Prof., 1997, Sejarah masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Cetakan ke 3 _________

K.Hitti, Philip, 2005, History Of the Arabs, edisi terjemah R. Cecep Lukman Yasin dkk., Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Nasution, Harun, Prof. Dr.______, Teologi Islam (aliran-aliran sejarah analisa perbandingan),__________

Prodjodikoro, Drs. HMS.______, Aliran-aliran dalam ilmu kalam,________

Rozak, Abdul, 2007, Ilmu kalam, Bandung: Pustaka Setia.
Salihun, A. Nasir, 1996,  Pengantar Ilmu Kalam, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

www.muslim.or.id

[1] Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007), h. 71

[2] Philip K. Hitti, History Of the Arabs, edisi terjemah oleh R. Cecep Lukman Yasin dkk., (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta), h. 396

[3] Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam,…., h.42

[4] Ibid., h. 43

[5] As-Syahrostani,  al-Milal wa an-Nihal (Beirut: Dar al-Fikr, 2005), h.75

[6] Ibid., h. 72

[7] Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam, …, h 72

[8] As-Syahrostani,  al-Milal wa an-Nihal, …., h.76

[9] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan terjemahannya, (Jakarta:____) h. 215

[10] Ibid., h. 275

[11] Ibid., h. 312

[12] Ibid., h. 112

[13] Ibid., h. 270

[14] Ibid., h. 114

[15] Ibid., h. 230

[16] Ibid., h. 197

[17] As-Syahrostani,  al-Milal wa an-Nihal, …, h. 78

[18] Ibid., h 73

[19] Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam, ….., h.73

[20] Andre Feillard, NU vis -a-vis Negara,(Yogyakarta: Lkis, 1999), h. 87.

 

[21] www,muslim.or.id

[22] Ibid.

[23] Ibid

[24] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *