SIAPAKAH ALIRAN KHAWARIJ?

Tanuri, SPd.I, M.H.I

  1. Latar Belakang

Kaum Khawarij bisa dibilang menjadi salah satu gerakan Islam yang paling tua dalam sejarah dunia. Khawārij (bahasa Arab: خوارج baca Khowaarij, secara harfiah berarti “mereka yang keluar”) ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya.

Khawarij pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di daerah yang kini ada di Irak selatan, dan merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi’ah. Gerakan Khawarij berakar sejak Khalifah Utsman bin Affan dibunuh, dan kaum Muslimin kemudian mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ketika itu, kaum Muslimin mengalami kekosongan kepemimpinan selama beberapa hari. Kabar kematian ‘Ustman kemudian terdengar oleh Mu’awiyyah bin Abu Sufyan. Mu’awiyyah yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ustman bin Affan, merasa berhak menuntut balas atas kematian ‘Ustman. Mendengar berita ini, orang-orang Khawarij pun ketakutan, kemudian menyusup ke pasukan Ali bin Abi Thalib. Mu’awiyyah berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ustman harus dibunuh, sedangkan Ali berpendapat yang dibunuh hanya yang membunuh ‘Ustman saja, karena tidak semua yang terlibat pembunuhan diketahui identitasnya.

Akhirnya meletuslah Perang Siffin karena perbedaan dua pendapat tadi. Kemudian masing-masing pihak mengirim utusan untuk berunding, dan terjadilah perdamaian antara kedua belah pihak. Melihat hal ini, orang-orang Khawarij pun menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari pasukan Ali bin abi Thalib. Mereka (Khawarij) merencanakan untuk membunuh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, tapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib saja. Orang-orang Khawarij ini keluar dari kepimpinan Ali bin Abi Thalib dengan dalih salah satunya bahwa Ali tidak tegas. Orang Khawarij ketika itu sering berkumpul di suatu tempat yang disebut Khouro-didaerah Kufah. Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah. Dalam mengajak umat mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah.[2]

 

  1. Perkembangan Khawarij

Khawarij terbagi menjadi delapan besar firqah, dan dari delapan firqah besar tersebut masih terbagi lagi dalam firqah-firqah kecil yang jumlahnya sangat banyak. Pepercahan inilah yang membuat Khawarij menjadi lemah dan mudah sekali dipatahkan dalam berbagai pertempuran menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah. Khawarij menganggap perlu pembentukan Republik Demokrasi Arab, mereka menganggap pemerintahan Bani Umayyah sama seperti pemerintahan kaum Aristokrat Barat.

Sekalipun Khawarij telah beberapa kali memerangi Ali dan melepaskan diri dari kelompok Ali, dari mulut mereka masih terdengar kata-kata haq. Iman Al Mushannif misalnya, pada akhir hayatnya mengatakan,”Janganlah kalian memerangi Khawarij sesudah aku mati. Tidaklah sama orang yang mencari kebenaran kemudian dia salah, dengan mencari kebathilan lalu ia dapatkan. Amirul mukminin mengatakan, bahwa Khawarij lebih mulia daripada Bani Umayyah dalam tujuannya, karena Bani Umayyah telah merampas khalifah tanpa hak, kemudian mereka menjadikannya hak warisan. Hal ini merupakan prinsip yang bertentangan dengan Islam secara nash dan jiwanya. Adapun Khawarij adalah sekelompok manusia yang membela kebenaran aqidah agama, mengimaninya dengan sungguh-sungguh, sekalipun salah dalam menempuh jalan yang dirintisnya”.

Khalifah yang adil Umar bin Abdul Azis, menguatkan pendapat khalifah keempat yakni Ali, dalam menilai Khawarij dan berbaik sangka kepada mereka, “Aku telah memahami bahwa kalian tidak menyimpang dari jalan hanya untuk keduniaan, namun yang kalian cari adalah kebahagian di akhirat, hanya saja kalian menempuh jalan yang salah”. Sebetulnya, yang merusak citra Khawarij adalah sikap mereka yang begitu mudah menumpahkan darah, terlebih lagi darah umat Islam yang menentang atau berbeda dengan pemikiran mereka. Dalam pandangan mereka darah orang Islam yang menyalahi pemikiran mereka lebih murah dibanding darah non-Muslim.

 

  1. Prinsip-Prinsip Khawarij

Walaupun Khawarij berkelompok-kelompok dan bercabang-cabang, mereka tetap berpandangan sama dalam dua prinsip :

Pertama, persamaan pandangan mengenai kepemimpinan. Mereka sepakat bahwa khalifah hendaknya diserahkan mutlak kepada rakyat untuk memilihnya, dan tidak ada keharusan dari kabilah atau keturunan tertentu, seperti Quraisy atau keturunan Nabi.

Kedua, persamaan pandangan yang berkenaan dengan aqidah. Mereka berpendapat bahwa mengamalkan perintah-perintah agama adalah sebagian dari iman, bukan iman secara keseluruhan. [3]

Ketiga, kedudukan bahwa Al Qur’an itu sebagai makhluk. Bahkan mereka beranggapan Allah senantiasa berkehendak atas sesuatu yang diketahui-Nya baik yang akan maupun yang tidak akan terjadi

Keempat, sikap pengikut aliran khawarij tentang siksa Allah bagi seorang muslim yang melakukan dosa besar yang sampai meninggalnya melakukan dosa besar, niscaya dia akan berada dalam neraka selama-lamanya.

Kelima, tentang anak-anak para pengikut aliran khawarij terpecah menjadi 3 kelompok anggapan :

  1. Kelompok yang beranggapan bahwa anak-anak orang musyrik itu niscaya dihukum seperti bapaknya yaitu di dalam neraka. Tetapi sekiranya si bapak anak-anak itu berpindah agama setelah lama anaknya meninggal, maka dalam hal ini mereka berbeda anggapan. Sebagian mereka beranggapan bahwa anak-anak itu tetap dihukum seperti bapaknya yang berpindah agama. Sebagian lainnya beranggapan bahwa anak-anak itu hanya dihukum seperti bapaknya yang belum berpindah agama, sebagaiman keadaan bapaknya ketika itu anak-anak meninggal, bukan dihukum seperti bapaknya yang kemudian berpindah agama.
  2. Kelompok kedua ini beranggapan bahwa boleh-boleh saja (jaiz) memberi siksaan ataupun tidak kepada anak-anak orang musyrik itu. Sementara kepada anak-anak orang mukmin, Allah niscaya member balasan seperti apa yang diperoleh bapaknya, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä öNåk÷Jyèt7¨?$#ur NåkçJ­ƒÍh‘èŒ ?`»yJƒÎ*Î/ $uZø)ptø:r& öNÍkÍ5 öNåktJ­ƒÍh‘èŒ !$tBur Nßg»oY÷Gs9r& ô`ÏiB OÎgÎ=uHxå `ÏiB &äóÓx« 4 ‘@ä. ¤›ÍöD$# $oÿÏ3 |=|¡x. ×ûüÏdu‘ ÇËÊÈ

 

 Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. At-Thur:21)

 

  1. Kelompok ini beranggapan bahwa anak-anak orang musyrik ataupun orang mukmin itu niscaya berada dalam syurga

 

 

  1. Sejarah Khawarij
  2.  Awal Munculnya Khawarij

Pada awal masa kekhalifahan Ustman, ekspedisi militer terus di galakkan sehingga wilayah Islam terus meluas dari ujung barat hingga timur Arabia. Sebagaimana kita sebutkan di depan, Sa’d ibn Waqash pernah merambah kekaisaran Chinadalam rangka ekpedisi damai. Bahkan, Konstantinopel yang baru bisa di taklukkan pada masa dinasti Utsmaniyah (Ottoman, 35H/577-656),dimasa itu reaksi politik yang di usung Utsman menuai reaksi keras dari berbagai kalangan.Karena,kebijakan-kepijakanya terkesan nepotis dengan banyak mengangkat keluarganya sendiri sebagai pejabat pemerintah..

 

Setelah Utsman ibn Affan wafat, warga Madinah bersepakat memilih Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah.Namun, Ali menolak penunjukan itu.Karena semua orang mendesaknya, untuk memimpin umat islam,sehingga di baiatlah Ali sebagai khalifah keempat pengganti Utsman.Namun, Mu’awyah menolak,ia bersikeras tidak mau membaitnya sebelum pembunuh Utsman di usut. Mendapati penolakan ini,Ali berencana menggempur Mu’awyah.Rencana itu, ternyata mendapat teguran keras dari berbagai kalangan(baca: protes), seperti Mughirah, Sa’d ibn Abi Waqqas dan Abdullah ibn Umar.[4]

 

Langkah ini,(baca: keinginan Ali menyerang Muawiyah) semakin mengundang kritik dan curiga dari berbagai kelompok,seperti Aisyah dan Thalhah ibn Abdillahyang berhasil dipengaruhi oleh Abdullah ibn Zubair. Mereka memimpin 30 ribu pasukan dari Makah.Pasukan Ali yang semula diarahkan ke Syam terpaksa di belokkan untuk menghadapi pasukan Aisyah.Sebelum kedua pasukan muslim itu bertemu,sempat diadakan pertemuan khusus antara utusan kedua pasukan.Dalam pertemuan itu,kedua utusan hampir sepakat untuk melakukan perdamaian.Hanya saja ditengah-tengah perundingan,timbul keributan dari orang-orang yang berkoalisi dalam skandal pembunuhan Utsman. Mereka khawatir,jika perdamaian jadi dilaksanakan,maka pengusutan atas diri mereka segera dilakukan.Artinya bahaya ada didepan mata.[5]

 

Dalam situasi yang kacau ini,kesempatanpun dimamfaatkan oleh Mu’awiyah untuk menyudutkan Ali.Tak lama berselang,pasukan Mu’awiyah dan pasukan Ali bertemu dikawasan Shiffin,hulu sungai Eufrat, perbatasan Iraq-Syiria, 37H/657M. Pecahlah perang saudara untuk yang kedua kalinya.Dalam perang itu,sekitar 90 ribu muslim tewas. Dipihak Ali,korban berjumlah 35 ribu orang,sementara dari pihak Mu’awiyah berjumlah 45 ribu orang.Dalam keadaan terdesak,pihak Mu’awiyah mencari siasat agar terhindar dari kekalahan telak.Atas usulan Amr bin Ash, mereka mengikat alQur’an diujung tombak dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebagai isyarat untuk mengambil keputusan al-Qur’an,tahkim bi al-Quran(baca: arbitrase).[6]

 

Menanggapi tahkim ini,pihak Ali terbelah. Sebagian berpendapat, seruan itu harus di hormati. Sementara yang lain mengatakan itu hanya politik Mu’awiyah untuk menghindari  kekalahan.Setelah menimbang untung dan ruginya, Ali kemudian menerima ajakan damai,kemudian keduanya sepakat akan melakukan perundingan damai beberapa hari setelah kejadian itu.[7]

 

Ramadhan, 37H/Feb 657M,waktu untuk mengadakan perundingan telah tiba.Ali mengutus empat ratus orang yang dipimpin oleh Syuraih ibn Hani’,sementara mu’awiyah mengutus Amr ibn al-Ash sebagai pemimpin perundingan. Pada hari pertama,mereka masih belum menemukan kata sepakat. Pada hari berikutnya, Ali mengutus Abu Musa al-Asy’ari sebagai juru runding dan dari pihak Mua’wiyah masih tetap di wakilioleh Amr ibn al-Ash.[8]

 

Abu Musa al-asy’ari dan Amr ibn al-Ash bertemu di sebuah tempat bernama ”Daulah Al-jadal”. Kedua orang ini mempunyai karakter yang berbeda.Abu musa lebih dikenal dengan orang yang sholeh, jujur dan rendah hati, lebih mengutamakan perdamaian.Sementara Amr ibn al-Ash dikenal sebagai politikus ulung yang sangat cerdik dan pandai mengolah siasat politik.Amr ibn al-Ash bertanya kepada Abu Musa, “Bagaimana menurut pendapat anda mengenai kedua pemimpin kita(Ali dan Mu’awiyah)”, Abu Musa menjawab, ”menurutku untuk menyelesaikan pertikaian ini, kedua pemimpin kita baik Ali maupun Mu’awiyah lebih baik turun dari jabatannya masing-masing.” Usulan Abu Musa disetujui oleh Amr bin Ash.Sebagai juru runding, dimana keduanya mempunyai wewenang untuk memberikan sebuah keputusan yang sudah disepakati, inilah yang dimaksud tahkim. Kedua juru runding itu kemudian keluar ruangan dan menemui para khalayak. Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa untuk mengumumkan keputusan yang sudah disepakatinya.

 

“Baiklah saudara-saudaraku! kami telah sepakat bahwa demi menciptakan kedamaian dan kerukunan umat Islam, maka Ali dan Muawiyah harus diturunkan dari jabatannya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini aku nyatakan bahwa aku mencabut kepemimpinan Ali dan Muawiyah dan kuserahkan kepada kalian untuk memilih pemimpin baru yang memiliki kapabilitas dan keahlian sesuai kehendak kalian.”, seru Abu Musa. Setelah itu,giliran Amr bin Ash untuk mengikrarkan keputusannya. “Saudara-saudaraku, saudara kita, Abu Musa,telah mengumumkan keputusannya untuk menurunkan pemimpinnya sendiri. Dengan ini, aku juga sepakat untuk menurunkan Ali dari kekhalifahan dan menobatkan Muawiyah sebagai khalifah yang baru”, tandasnya secara tegas.

 

Pidato Amr ini membuat pendukung Ali terperanjat.Apalagi Abu Musa, “Sungguh Allah swt tidak memberi pertolongan padamu sebab kau menghianati hasil musyawarah yang sudah mufakat, ibarat seekor anjing yang menjilat ludah sendiri,”cela Abu Musa. [9]

 

Dalam situasi yang sudah memanas, tiba-tiba Suraikh ibn Hani’ mendekati Amr bin Ash dan menyabetkan sebilah pedang ke arahnya. Tindakan Suraikh dibalas oleh Amr bin Ash dengan sebuah belati ke arahnya. Untungnya, para sahabat melerai pertikaian keduanya. Kenyataan ini membuat marah Khurkus, komandan pasukan Ali yang berasal dari Bani Tamim. Ia menganggap Muawiyah maupun Ali melanggar hukum Allah swt. karena dia merujuk pada firman Allah,surat al-Maidah 44:

4 `tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ

Artinya: barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

 

Melihat hal ini, orang-orang Khawarij pun menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari pasukan Ali bin abi Thalib. Mereka (Khawarij) merencanakan untuk membunuh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, tapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib saja. Orang-orang Khawarij ini keluar dari kepimpinan Ali bin Abi Thalib dengan dalih salah satunya bahwa Ali tidak tegas. Orang Khawarij ketika itu sering berkumpul di suatu tempat yang disebut Khouro-di daerah Kufah. Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah. Dalam mengajak umat mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah.[10]

Dengan seiring perjalanan waktu,mereka mulai melangkah lebih jauh dengan doktrin-doktrin teologis yang khas.Kelompok politik itu berubah menjadi aliran keagamaan.Sejak saat itu, babak baru sejarah dalam islampun di mulai. Sejarah mencatat beberapa aliran yang telah lahir turut meramaikan panggung sejarah teologis umat islam.Lengkap dengan sistem pemikiran-pemikiran masing-masing.

 

  1. Definisi Khawarij

Sebuah definisi pragmatis, selalu mengadopsi istilah asalnya, sebelum kemudian membentuk satu istilah tertentu secara devinitif.Secara etiomologi, tercatat dalam kosakata arab digunakan untuk arti,yang berada dipinggiran[11].Secara termenologi, adalah sebuah kelompok penentang tahkim dan menyatakan keluar dari barisan Ali[12]. Dengan kata lain, mereka keluar dari rumah menuju kepada Allah dan Rasulnya”. Dalam hal ini, mereka menamai dirinya, ”al-Satur”’ (para penjual). Mereka mengambil nama ini dari surat al-Taubah ayat 46:

öqs9ur (#rߊ#u‘r& ylrãã‚ø9$# (#r‘‰tãV{ ¼ã&s! Zo£‰ãã `Å3»s9ur on̍Ÿ2 ª!$# öNßgrO$yèÎ7/R$# öNßgsܬ7sVsù Ÿ@ŠÏ%ur (#r߉ãèø%$# yìtB šúïωÏè»s)ø9$# ÇÍÏÈ

 

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”

 

Nama lain mereka adalah ”haruriah ” di adopsi dari nama sebuah desa dekat kufah (irak ) harura. Tempat ini menjadi markas besar kaum Khawarij, setelah memisahkan diri dari Ali. Pada saat itu jumlah mereka berkisar 12,000orang. Di desa harura, Khawarij mengangkat Abdullah ibn Wahab al-Rasibi menjadikam imam menggantikan Ali bin Abi Thalib. Sebutan lain  ”Al-muhakkimah ” yaitu orang-orang yang berkata tidak ada hukum dimuka bumi ini kecuali hokum alloh. Prinsip kaum khowarij memang demikian saat menolak tahkim mereka menyitir ayat al-Quran surat al-An’am ayat 62[13]:

  • §NèO (#ÿr–Šâ‘ ’n<Î) «!$# ãNßg9s9öqtB Èd,ysø9$# 4 Ÿwr& ã&s! ãNõ3çtø:$# uqèdur äíuŽór& tûüÎ7Å¡»ptø:$# ÇÏËÈ

 

Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaanNya. Dan dialah pembuat perhitungan yang paling cepat.

 

 

  1. Pahamahan Khawarij

Kelompok ini beranggapan bahwa dari keempat khulafaurrosidin, hanya Abu Bakar dan Umar saja yang kepemimpinanya dianggab sah. Sedangkan Utsman dan Ali permainan politiknya telah menyimpang. Seperti nepotisme Ustman dan penerimaan tahkim Ali. Dimana status kekhalifahan keduanya dianggap batal. Bahkan mereka sangat berani menghukumi kufur.[14]

 

Selanjutnya yang menjadi khalifah tidak harus berdarah Quraisy. Yang terpenting adalah kualitas, kapabilitas dan kridibelitasnya. Selain itu, harus adil, bijaksana dan cakap dalam memimpin Negara. Dan terpilih dalam forum yang demokratis. Selama khalifah bersikap bijak, maka wajib didukung. Namun, jika tidak, harus diperangi dan diturunkan dari jabatannya. Prinsip yang sama dipraktekkan khawarij saat memilih pemimpin mereka, seperti Abdullah bin Wahab al-Rasibi, th 38H 658M, dia bukan dari golongan Quraisy,melainkan berasal dari suku Rasib, daerah yang termasuk pedalaman al-Azd.[15]

Perkembangan madzhab ini mempunyai beberapa prinsip yang membedakan dengan madzhab lain. Prinsip utama adalah ketika dihadapkan pada permasalahan-permasalahan tertentu, sementara kejelasan hukumnya telah termaktub dalam nash al-Qur’an, maka dengan nash itulah hukum difatwakan.Karena dalam memahami, mereka lebih mengedepankan literal(dhohir).Akan tetapi, jika tidak ada kejelasan dalam nash, mereka lebih memilih diam, terkecuali jika keadaan menuntut lain.Artinya, mereka akan memberikan sebuah hukum meggunakan logika, misalnya dalam masalah pernikahan, mereka memperbolehkan menikahi cucu dan keponakan. Jika mendapati teks nash yang ‘am(global), mereka langsung menerima implikasi yang tersurat dalam nash tersebut, misalnya dalam masalah Haji.Mereka langsung mengkafirkan tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu.[16]

Dalam Tafsir wa al-Mufassirun, Dr. Muhammad Husain, memaparkan pemahaman Khawarij yang berkaitan dengan seputar penafsiran al-Quran:

Tentang haji, ia mengatakan, bahwa yang tidak melaksanakannya adalah kafir. Dalam hal ini, ia bertendensi pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 97:

3 ¬!ur ’n?tã Ĩ$¨Z9$# kÏm ÏMøt7ø9$# Ç`tB tí$sÜtGó™$# Ïmø‹s9Î) Wx‹Î6y™ 4 `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÒÐÈ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

 

Mengenai sikap putus asa, putus asa dari rahmat Allah bagi mereka adalah kafir. Sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat 87:

¢ÓÍ_t7»tƒ (#qç7ydøŒ$# (#qÝ¡¡¡ystFsù `ÏB y#ߙqムÏmŠÅzr&ur Ÿwur (#qÝ¡t«÷ƒ($s? `ÏB Çy÷r§‘ «!$# ( ¼çm¯RÎ) Ÿw ߧt«÷ƒ($tƒ `ÏB Çy÷r§‘ «!$# žwÎ) ãPöqs)ø9$# tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÑÐÈ

 

 “Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

 

 

Mengenai orang fasik, menurut mereka, orang fasik wajib masuk neraka, dengan menyitir surat al-Lail ayat 14-16:

öö/ä3è?ö‘x‹Rr’sù #Y‘$tR 4‘©àn=s? ÇÊÍÈ   Ÿw !$yg9n=óÁtƒ žwÎ) ’s+ô©F{$# ÇÊÎÈ   “Ï%©!$# z>¤‹x. 4’¯<uqs?ur ÇÊÏÈ

 

 

Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

 

Dan dihari pembalasan, wajah orang fasik tidak boleh putih, sebagaimana Allah menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 106:

 

tPöqtƒ Ùu‹ö;s? ×nqã_ãr –Šuqó¡n@ur ×nqã_ãr 4 $¨Br’sù tûïÏ%©!$# ôN¨Šuqó™$# öNßgèdqã_ãr Länöxÿx.r& y‰÷èt/ öNä3ÏY»yJƒÎ) (#qè%rä‹sù z>#x‹yèø9$# $yJÎ/ ÷LäêZä. tbrãàÿõ3s? ÇÊÉÏÈ

 

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.

 

Pembohong, bagi mereka, kedudukannya sama dengan orang fasik. Untuk hal ini mereka berasumsi dengan surat al-Sajdah ayat 20:

$¨Br&ur tûïÏ%©!$# (#qà)|¡sù ãNßg1urù’yJsù â‘$¨Y9$# ( !$yJ¯=ä. (#ÿrߊ#u‘r& br& (#qã_ãøƒs† !$pk÷]ÏB (#r߉‹Ïãé& $pkŽÏù Ÿ@ŠÏ%ur öNßgs9 (#qè%rèŒ z>#x‹tã ͑$¨Z9$# “Ï%©!$# OçFZä. ¾ÏmÎ/ šcqç/Éj‹s3è? ÇËÉÈ

 

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) Maka tempat mereka adalah jahannam. setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.”

 

 

Anak yatim, bagi mereka, anak yatim yang melakukan skandal pembunuhan tidak wajib masuk neraka. Karena, Allah tidak menjelaskan tentang hal itu. Dan mengenai oran yang memakan harta anak yatim wajib masuk neraka. Hal ini dipertegas oleh surat al-Nisa’ ayat 10:

¨¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ tAºuqøBr& 4’yJ»tGuŠø9$# $¸Jù=àß $yJ¯RÎ) tbqè=à2ù’tƒ ’Îû öNÎgÏRqäÜç/ #Y‘$tR ( šcöqn=óÁu‹y™ur #ZŽÏèy™ ÇÊÉÈ

 

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).

 

Masalah nikah, bagi mereka, boleh menikahi cucu perempuan dan laki-laki dan keponakan laki-laki dan perempuan. Karena al-Quran tidak menyebutkan masalah tersebut.

 

  1. Tokoh-tokoh dan Sekte-sekte dalam Khawarij

 

  1. Tokoh-tokohnya

Khawarij dalam perkembangannya mengalami perpecahan yang tidak sedikit. Yang bisa dilacak dari beberapa literature, ada 7 sekte untuk perkembangan awal. Khawarij yang pertama, menamakan dirinya dengan sebutan ‘al-Muhakkamah al-Ula’ yaitu, mereka yang memberontak terhadap pemerintahan Ali. Pemimpin pertamanya adalah Abdullah bin Wahb al-Rasibi. Dia mengakui pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Namun, ia mengklarifikasi pemerintahan Ustman dan Ali. Dia mengakui pemerintahan Ustman pada pemerintahan awal dan enam tahun terakhir adalah kafir. Ali pada awalnya baik — sebelum penerimaan tahkim — dan setelahnya kafir. Sedangkan Muawiyah adalah laknatullah dan kafir secara umum. Karena, dia telah menduduki jabatan yang tak seharusnya dia duduki. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, al-Muhakkamah al-Ula terbagi menjadi aliran yang banyak sekali; Azariqah, Najadat, Bayhasiyyah, ‘Ajaridah, Tsa’alibah, Ibadiyyah dan Shufriyyah. Setelah itu ada lagi pembagian pada kelompok yang lebih kecil; ‘Ajaridah terbagi menjadi: Shalathiyyah yang dikomandoi oleh Utsman bin Abi al-Shult, Maymunah yang dipimpin oleh Maymun bin Khalid, Hamziyyah yang diketuai oleh Hamzah bin Adrok, Khalafiyyah yang dipimpin oleh Khalafi al-Kharaji, Athrofiyyah, Syu’aibiyyah dan hazimiyyah. Tsa’alibah terpecah menjadi: Akhnasiyyah, Ma’badiyyah, Rusyaidiyyah, Syibaniyah, Mukramiyyah, Muawimiyyah, Majhuliyyah dan Bid’iyyah. Ibadiyyah juga mengalami hal yang serupa walau pun tak sebanyak yang disebut diatas. Yaitu, Hafshiyyah, Haritsiyyah dan Yazidiyyah. Adapun yang popular dari yang tersebut diatas hanya tiga: Azariqah, Shufriyyah dan Ibadiyyah. Dan yang tersisa sampai sekarang hanya Ibadiyyah.[17]

 

  1. Sekte-sekte yang Populer dan Akidahnya
  2. Azariqah

Nama golongan ini disandarkan pada Rasyid Nafi’ bin al-Arzaq. Golongan ini berfatwa bahwa Negara yang tidak menganut fahamnya adalah Negara kafir. Dan siapa saja yang menempatinya adalah orang kafir, neraka diperuntukkan bagi anak-anak mereka yang tidak mengikutinya, mengingkari rajam terhadap pezina, had qadzap hanya bagi muhshanah dan menyamakan potong tangan, baik yang dicuri sedikit maupun banyak,[18] mengkafirkan Ali, dengan surat al-Baqarah, 204:

zÏz`ÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB y7ç6Éf÷èム¼ã&è!öqs% ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ߉Îgô±ãƒur ©!$# 4’n?tã $tB ’Îû ¾ÏmÎ6ù=s% uqèdur ‘$s!r& ÏQ$|Áςø9$# ÇËÉÍÈ

 

 

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.”

 

Mengkafirkan mereka yang lari dari peperangan (baca: orang pertama yang lari dari peperangan), membolehkan membunuh anak kecil dan perempuan yang berbeda dengan mereka, menggugurkan rajam bagi pelaku zina, dengan alasan, karena tidak ada kejelasan dari al-Quran, mengkategorikan anak-anak kecil yang terlahir dari orang musyrik sebagai penghuni nereka bersama orang tuanya, melarang taqiyyah, baik dalam ucapan dan perbuatan, Allah berhak mengutus seorang Nabi. Meskipun, Allah tahu dia akan kafir setelah pengangkatannya, atau kafir sebelum menjadi utusan, dosa besar dan kecil yang dilakukan terusmenerus oleh Nabi adalah kafir, mengkafirkan umat yang membolehkan Nabinya melakukan dosa besar dan kecil, dan seorang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan selamanya berada dalam neraka bersamasama orang kafir.[19]

 

  1. Shufriyyah

Nama ini disandarkan pada Ziyad al-Ashfar/Nu’man bin al-Ashfar/Abdullah bin Shaffar.[20] Mereka berbeda dengan Azariqah, Najadat dan Ibadiyyah dalam beberapa hal. Mereka, tidak mengkafirkan orang yang membunuh jika, ada sebuah keserasian dalam segi agama dan keyakinan, merajam pelaku pembunuhan, melarang membunuh anak kecilnya orang musyrik, tidak mengkafirkannya dan tak selamanya berada dalam neraka, memperbolehkan taqiyyah dalam ucapan dan tidak dalam perbuatan.[21]

 

  1. Ibadiyyah

Sekte ini di ketuai oleh Abdullah bin Ibad. Popularitas golongan ini mengalahkan semua aliran Khawarij yang lain. Karena, masih eksis sampai sekarang. Golongan ini berada di Negara Oman, Zanjabar dan samping kiri Afrika. Dan mereka memiliki refresentatif di beberapa kota jazirah Arab. Khususnya, Haldramaut, Shun’a, Makkah dan Madinah.[22] Dari segi akidah, golongan ini yang paling mendekati Ahlu al-sunnah waal-Jamaah. Dalam bukunya, Islam bila Madzahib, Dr. Mushtafa Syak’ah, memaparkan akidah-akidah aliran ini:

Ru’yah, ialah melihat Allah swt. di dunia atau akhirat, dengan hati atau dengan mata telanjang itu tidak mungkin karena, Allah bukan makhluk. Sedangkan yang bisa dilihat hanya makhluk. Karena tidak mungkin melihat Allah maka, menurutnya, ayat-ayat yang mutasyabbihah harus ditakwil. Seperti, yadullah dengan kekuasaan Allah. Sifat-sifat Allah, Ia memiliki sifa-sifat wajib dan mustahil. Yang wajib seperti: mendengar, melihat, berkuasa dan mengetahui denga zatNya. Yang mustahil, seperti: bodoh dan lemah itu sangat tidak mungkin bagi Allah. Takdir, menurutnya, iman seseorang —sebelum percaya secara penuh terhadap takdir Allah yang baik dan buruk—masih harus dipertanyakan dulu. Mereka menggunakan ayat al-Quran dalam menjustifikasi pendapatnya ini yaitu, .والله خلقكم وما تعملون, هل من خالق غير الله, الله خالق كل شيئ

Tentang kekadiman dan kemakhlukan al-Quran, mereka mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. Karena, menurutnya, al-Quran yang bisa dibaca dengan mulut itu bukan yang hakiki hanya merupakan petunjuk terhadap adanya al-Quran yang hakiki saja. Khilafah, seorang pemimpin

harus kafaah, adil, mulya dan takwa. Ia berdalil, ان أكرمكم عند الله أتقاكم.

 

  • Tokoh-tokoh Ibadiyyah

Dalam tubuh Ibadiyyah ada beberapa tokoh yang sangat dihormati dan diakui keilmuannya. Pengakuan itu tidak hanya dari orangorang Ibadiyyah sendiri. Melainkan dari golongan sahabat dan tabiin.

Pertama, Abdullah ibn Ibad, merupakan tangan kananya Abdullah ibn al-Rasibi. Diantara kelebihannya, cakap dalam masalah politik, berani, jujur dan cerdas.Kedua,Jabir bin Zaid, ia terkenal sebagai ahli fiq, dan merupakan guru dari Abdullah ibn Ibad. Popular dengan kezuhudan dan kerendahan hatinya. Beberapa sahabat dan tabiin yang terkenal kealimannya, memberikan komentar seputar kealiman Jabir bin Zaid. Diantaranya, Abdullalh bin Abbas, ” seandainya penduduk Bashrah mau belajar pada Jabir bin Zaid, niscaya mereka akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak”. Umar bin Dinar, “aku belum pernah melihat orang alim melebihi Jabir bin Zaid”. Dan Qatadah, dihari meninggalnya Jabir, pada 93 H, “pada hari ini, cendikiawan penduduk Irak telah menghadap Allah”. Dan ketiga, Abu Ubaidah Muslim bin Kuraimah, ia dianggap sebagai salah seorang yang sangat berpengaruh dikalangan ulama Ibadiyyah. Dan mayoritas ulama-ulama Ibadiyyah berperan penting dalam membentuk pribadi-pribadi yang kompeten menjadi pendakwah, imam, qadi dan ahli fiq. Dan yang mengagumkan lagi, beliau orang negro yang cacat secara fisik, pece (baca: buta sebelah mata). Akan tetapi, cacat fisik itu mengantarkannya menjadi orang sukses dalam prestasi keilmuan dan ketakwaanya dihadapan Tuhan.[23]

 

  • Pokok-pokok aliran al-Ibadiyah adalah :
  1. Sesungguhnya orang islam yang menentangnya bukanlah orang musyrik dan bukan pula Mukmin. Mereka menamakan kafir. Tetapi mereka dikatakan kafir nikmat, bukan kafir iktikad. Karena mereka itu tidak kufur kepada Allah, tetapi bersalah di sisi Allah Ta’ala.
  2. Darah orang yang menentangnya adalah haram, negerinya adalah negeri tauhid dan islam, kecuali gedung angakatan perang. Tetapi yang demikian itu tidak mereka umumkan. Mereka merasakannya bahwa negeri orang yang menentangnya dan darah mereka itu haram.
  3. Tidak halal mengambil harta rampasan perang orang islam yang ikut berperang kecuali kuda, senjata dan peralatan lainnya dan mereka mengembalikan emas dan perak.
  4. Menerima kesaksian orang-orang yang menentangnya, mengawininya dan saling waris-wasisinya

 

  1. Najadat

Pemimpinnya adalah Najdah ibn Amir al-Hanafi. Kelompok ini berbeda dengan kelompok lainnya. Aliran ini membagi agama pada dua porsi: pertama, mengetahui Allah, Rasulullah dan mengharamkan darahnya orang islam dan hartanya. Kedua, mengakui sesuatu yang diturunkan Allah secara keseluruhan. Dan selain itu yang berkenaan dengan halal, haram dan syariah, bagi yang tidak mengetahui permasalahan itu bisa ditolerir. Dan bagi mereka, seorang yang melakukan dosa, baik besar maupun kecil secara kontinyu, adalah kafir. Adapun yang tidak secara kontinyu adalah mukmin.[24] Memperbolehklan untuk menyiksa seorang mujtahid yang salah dalam memfatwakan sebuah hukum, memperbolehkan taqiyyah dalam segi ucapan dan perbuatan, dengan argumentasi surat Ali Imran, 28:

žw ɋς­Gtƒ tbqãZÏB÷sßJø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# uä!$uŠÏ9÷rr& `ÏB Èbrߊ tûüÏZÏB÷sßJø9$# ( `tBur ö@yèøÿtƒ šÏ9ºsŒ }§øŠn=sù šÆÏB «!$# ’Îû >äóÓx« HwÎ) br& (#qà)­Gs? óOßg÷ZÏB Zp9s)è? 3 ãNà2â‘Éj‹yÛãƒur ª!$# ¼çm|¡øÿtR 3 ’n<Î)ur «!$# 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÈ

 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

 

Dan juga dengan surat Ghafir, 28:

 

ttA$s%ur ×@ã_u‘ Ö`ÏB÷s•B ô`ÏiB ÉA#uä šcöqtãöÏù ÞOçFõ3tƒ ÿ¼çmuZ»yJƒÎ) tbqè=çFø)s?r& ¸xã_u‘ br& tAqà)tƒ }†În1u‘ ª!$# ô‰s%ur Mä.uä!%y` ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ `ÏB öNä3În/§‘ ( bÎ)ur à7tƒ $\/ɋ»Ÿ2 Ïmø‹n=yèsù ¼çmç/ɋx. ( bÎ)ur à7tƒ $]%ϊ$|¹ Nä3ö6ÅÁムâÙ÷èt/ “Ï%©!$# öNä.߉Ïètƒ ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωöku‰ ô`tB uqèd Ô$Ύô£ãB Ò>#¤‹x. ÇËÑÈ

 

Dan seorang laki-laki yang beriman di antara Pengikut-pengikut Fir’aun yang Menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah Padahal Dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta Maka Dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.

 

Memperbolehkan melarikan diri dari peperangan. Tapi, berperang lebih utama.[25] Ia berargumentasi dengan surat al-Nisa, 95:ž

žž 4 Ÿ@žÒsù ª!$# tûïωÎg»yfçRùQ$# óOÎgÏ9ºuqøBr’Î/ öNÍkŦàÿRr&ur ’n?tã tûïωÏè»s)ø9$# Zpy_u‘yŠ 4 yxä.ur y‰tãur ª!$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4 Ÿ@žÒsùur ª!$# tûïωÎg»yfßJø9$# ’n?tã tûïωÏè»s)ø9$# #·ô_r& $VJŠÏàtã ÇÒÎÈ

 

Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.

 

  1. Ajaridah

Adapun aliran khawarij yang radikal, antara lain al Jaridah. Mereka berpendapat:

  • Tidak mengakui surat yusuf termasuk ayat-ayat Al Qur’an.[26]
  • Aliran al-Ajaridah tidak menghalalkan harta bendanya, kecuali pemiliknya dibunuh. Berbeda sekali dengan aliran aliran al-Azariqah yang menghalalkan harta benda orang yang menentangnya dalam segala keadaannya
  • Menghalalkan menikahi cucu perempuannya sendiri, dan cucu kemenakannya. Karena yang dilarang dalam Al-qur’an ialah menikahi anak perempuannya sendiri atau menikahi kemenakan perempuan.

 

F.     Khawarij Modern

 

Dulu, di zaman klasik, ada kelompok Khawarij yang begitu radikal dan mudah sekali mengkafirkan musuh-musuhnya. Kelompok-kelompok Islam modern yang memakai pendekatan teroretis adalah Khawarij modern.

Teror bermula dari kepala, turun ke tangan, dan jatuh di bumi. Ada orang-orang yang membayangkan bahwa seluruh dunia memusuhi dirinya, dan karena itu ia harus membangun benteng, melindungi diri dari serangan. Itulah yang disebut dengan siege mentality, mentalitas bertahan karena merasa dikepung oleh ancaman dari kiri kanan. Dalam keadaan seperti itu, bahasa kemarahan akan tampak lebih menonjol. Sikap bersahabat kepada yang “lain” akan dianggap sebagai kelemahan, kelembekan, karena itu haruslah dijauhi.

Sa’duddin Ibrahim, Direktur Pusat Ibnu Khaldun untuk Studi Pembangunan, Kairo, menulis sebuah kolom menarik di koran berbahasa Arab yang terbit di London, Al Hayat,10/9/2004 yang lalu. Ia menulis, dalam artikel berjudul “Al Islamiyyun al-‘Arab Dhidd al-‘Alam” (Kaum Islamis Arab versus Dunia), bahwa ada gejala yang sungguh mengkhawatirkan: kaum Islamis Arab melakukan sejumlah tindakan kekerasan, menebar teror, di mana-mana, mulai dari Chechnya, Kashmir, Indonesia, Thailand, Pakistan, dan Afghanistan.

Dalam waktu yang tak lebih dari seminggu (sejak 30/8 hingga 5/9, 2004), kaum Islamis Arab mengklaim telah melakukan sejumlah tindakan kekerasan: menyembelih 12 warga Nepal (yang kemudian menimbulkan aksi balas dendam di Nepal sendiri), meledakkan dua pesawat penumpang komersial milik Rusia (100 orang lebih meninggal dalam tragedi itu), dan terakhir menyandera siswa sekolah dasar di Beslan, Rusia. Tak kurang dari 200 orang menjadi korban penyanderaan itu dalam aksi penyelamatan yang dilakukan oleh pasukan Rusia. Yang menarik: di antara penyandera yang terbunuh, ada 10 orang berkebangsaan Arab.

Kita semua tahu, organisasi yang selama ini dianggap sebagai “bandar” teror di berbagai negara, Tandzim al-Qa’idah atau lebih dikenal sebagai al-Qaidah, didirikan dan dipimpin oleh seorang milyarder berasal dari Saudi Arabia, Usamah bin Ladin. Pertanyaan kita: kenapa ini semua terjadi? Kenapa negeri-negeri Arab seperti menjadi pengekspor kaum radikal-ektremis di mana-mana? Adakah ini semua berkait dengan Islam, agama yang tanah kelahirannya ada di Arab?

Saya kira, umat Islam harus berani melakukan kritik-diri yang radikal, serta mengakui dengan terus-terang jika ada “borok” yang bersarang di tubuhnya. Barangsiapa mempelajari sejarah perkembangan gerakan-gerakan Islam modern, akan tahu bahwa kisah hubungan antara Islam, ideologi kekerasan, dan terorisme bukanlah sesuatu yang aneh. Salah satu titik balik penting dalam sejarah gerakan Islam modern adalah munculnya tokoh bernama Sayyid Qutb, ideologi gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir. Inilah ideolog Muslim pertama yang “memasak” tafsiran tentang jihad sebagai ajaran ofensif, bukan defensif (baca: jihad difa’i), yang kemudian dipakai oleh pelbagai kelompok Islam untuk membenarkan penggunaan kekerasan atas musuh-musuh Islam.

Dulu, di zaman klasik, ada kelompok Khawarij yang begitu radikal dan mudah sekali mengkafirkan musuh-musuhnya. Kelompok-kelompok Islam modern yang memakai pendekatan teroretis adalah Khawarij modern. Janganlah tertipu bahwa orang-orang yang melakukan pemboman di Bali, hotel JW Marriot dan bom Kuningan adalah orang-orang yang semata-mata “marah” pada orang-orang yang mereka anggap sebagai “musuh Islam”. Mereka mempunyai tafsiran keagamaan yang radikal, bahkan mereka adalah orang-orang yang secara ibadah agama sangat saleh. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Sa’duddin Ibrahim, mereka ini lebih banyak membahayakan Islam ketimbang membawa manfaat. Mereka, dengan tafsirannya itu, telah mengubah citra Islam dari agama perdamaian, menjadi agama teror, persis seperti orang-orang Khawarij di zaman klasik dulu.  Mereka Adalah Para Khawarij (Inilah Sifat dan Ciri Utama Kelompok Sesat Khawarij-Teroris)

Syaikhuna Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya, “Apakah di zaman ini ada yang masih membawa pemikiran Khawarij?” Jawab beliau hafizhohullah,

Ya Subhanallah. Memang benar masih ada di zaman ini. Tidakkah perbuatan seperti ini adalah perbuatan Khawarij?! Yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Yang lebih kejam lagi karena pemikiran semacam itu sampai-sampai mereka tega membunuh kaum muslimin dan benar-benar melampaui batas. Inilah madzhab Khawarij. Ada 3 sifat utama mereka:

  1. Mengkafirkan kaum muslimin
  2. Keluar dari taat pada penguasa
  3. Menghalalkan darah kaum muslimin

Inilah model pemikiran Khawarij. Seandainya ada yang dalam hatinya pemikiran semacam itu, namun tidak ditunjukkan dalam ucapan dan perbuatan, tetap ia disebut Khawarij dalam aqidahnya dan pemikirannya.

Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan di atas menunjukkan bagaimana Khawarij di zaman ini masih ada, bahkan akan terus bermunculan. Kami sengaja mengangkat fatwa tersebut untuk menunjukkan bahwa fenomena pemboman, teror dan kekerasan yang terjadi di negeri kita, tidak lepas dari peran Khawarij. Sifat mereka amat keras, jauh dari ulama, sehingga bertindak seenaknya. Mereka begitu mudah mengkafirkan penguasa. Bahkan para polisi dan tentara sebagai kaki tangan penguasa disebut para pembela thoghut. Maka wajar jika para Khawarij pernah melakukan teror bom bunuh diri di masjid kepolisian di hari barokah, hari Jumat. Itulah latar belakang mereka bisa melakukan pemboman. Awalnya dari pengkafiran, ujung-ujungnya adalah pengeboman.Salah satupemimpin besar merekasaat ini telah divonis 15 tahun penjara. Walaupun di balik jeruji, namun pemikirannya tidak bisa terkungkung karena pemikiran rusak Khawarij telah menyebar ke mana-mana khususnya di kalangan para pemuda. Benarlah kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِى آخِرِ الزَّمَانِ ، حُدَّاثُ الأَسْنَانِ ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Iman mereka tidak melebihi kerongkongannya. Mereka terlepas dari agama mereka seperti terlepasnya anak panah dari busurnya“. (Muttafaqun ‘alaih).

 

Tugas kita adalah belajar dan belajar serta terus dekat pada para ulama sehingga kita bisa benar dalam meniti jalan yang ditunjuki oleh Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan salaful ‘ummah, generasi emas dari umat ini. Semoga Allah menjauhkan kita dari pemikiran menyimpang dan menunjuki kita ke jalan-Nya yang lurus.

 

  1. PENUTUP

Dari pembahasan di atas yang sangat sederhana ini, kami dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagaimana berikut:

  • Perkembangan Khawarij dipenuhi dengan liku-liku, misalnya disibukkan dengan berperang melawan kelompok yang berbeda dengannya.
  • Masalah ubudiyah, menurut mereka, bahwa kewajiban shalat, puasa dan lainlain, termasuk bagian dari iman. Dengan kata lain, tidaklah sah keimanan seseorang jika, kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan itu ditinggalkan.
  • Khawarij juga terkenal sangat melindungi akidahnya dari halhal yang berbau kekufuran.
  • Sebenarnya, sekte-sekte atau tokoh-tokoh yang berperan penting dalam tubuh Khawarij, akan tetapi yang menjadi rujukan oleh kaum Khawarij hanya ada empat kelompok: Azariqah, yang dipimpin yang oleh Nafi’ bin al-Arzaq, Najadat, yang dipimpin oleh Najdah bin Amir, Shufriyyah, yang dipimpim oleh Ziyad bin Ashfar, Ibadiyyah, yang dipimpin oleh Abdullah bin Ibad. Namun anehnya dari empat kelompok itu yang bertahan sampai sekarang hanya Ibadiyyah. Menurut sebagian riwayat, kelompok ini sangat bijaksana dalam menyikapi persoalanpersoalan yang dihadapi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

al-Dzahabi, Muhammad Husain, Tafsir  wa al-Mufassirun, (Kairo, Dar al-Hadist, 2005)

Ali, Attabik, Muhdlor, Ahmad Zuhdi, al-Ashri: Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, (Yogyakarta, Multi Karya Grafika, Yogyakarta,  2003)

Abu al-Qasim Muhammad al-Hautsi, al-Mau’idhah al-Hasnah, hal: 104. Muhammad bin Hasan ad-Daylami, Qawa’id ‘Aqaaid Aali Muhammad, hal: 49.

Abu Zahu, Muhammad Muhammad, al-Hadist wa al-Muhaddistun: au Inayatu al-Ummah al-    Islamiyyah bi al-Sunnah al-Nabawiyya,

al-Dzahabi, Muhammad Husain, Tafsir  wa al-Mufassirun, (Kairo, Dar al-Hadist, 2005)

DEPAG, al-Quran dan terjemahan, CV. Tohaa Putra ( Jakarta:1987)

Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, (Jakarta:2001)

Imarah, Muhammad, Tayyaratu al-Fikr al-Islami, (Kairo, Dar al-Syuruk, 2007)

Imam Yahya bin Hamzah al-‘Alawi, al-Ifham Liafidat al-Bathiniyah at-Thugam, hal: 60.

Kamaluddin Nurdin Marjuni,DR al-Firaq as-Syi’iayyah Wa Ushuluha as-Siyasiyah, hal: 3. Universiti Sains Islam Malaysia. 2009.

al-Syak’ah, Mustahafa, Islam bila Madzahib, (Kairo, al-Daru al-Mashriyyah al-Lubnaniyyah, 2006)

al-Syahrastany, Abi al-Fath Muhammad bin Abd. Karim, al-Milal wa al-Nihal, (Kairo, Maktabah Taufikiyyah)

Sarungan, Kaum ,  Sejarah Tasyri’ Islam, (Surabaya, Khalista, 2006)

Kamaluddin Nurdin Marjuni,DR al-Firaq as-Syi’iayyah Wa Ushuluha as-Siyasiyah, hal: 3. Universiti Sains Islam Malaysia. 2009.

Al-Qadhi an-Nu’man, Da’aim al-Islam, 1/37-38. ad-Da’i Ali Bin Walid, Damighu al-Bathil, 2/18. ad-Da’i Idris ‘Imaduddin, Kitab Zahru al-Ma’ani.

 

Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, (Jakarta:2001)

 

 

 

 

 

                   [1]Makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Filsafat Akidah yang diampu oleh Prof. DR. Jamaluddin Miri, MA

                     [2]www.eramuslim, tanggal 4 Oktober 2011, jam 15.25

             [3] Muhammad Muhyidin Abdul Hamid, Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theologi Islam, (Bandung; Pustaka Setia cet I 1998)  hal 188

                  [4] Dr. Muhammad Imarah, Tayyarat al-Fikri al-Islami , Dar al-Syuruk, Kairo, cet. II, 2007, hal. 15

                 [5] Kaum sarungan, Sejarah Tasyri’ Islam, Khalista, Surabaya, 2006, hal. 120

[6]Ibid., hal. 117

                  [7] Muhammad Muhammad Abu Zahu, al-Hadist wa al-Muhaddistun: au Inayatu al-Ummah al-    Islamiyyah bi al-Sunnah al-Nabawiyya, hal. 43

                  [8] Dr. Muhammad Imaroh, Tayyarat al-Fikri al-Islami , Dar al-Syuruk, Kairo, cet. II, 2007, hal. 17

                     [9] Kaum Sarungan,  Sejarah Tasyri’ Islam, Khalista, SuraSbaya, 2006, hal. 122

                     [10]www.eramuslim, tanggal 4 Oktober 2011, jam 15.25

                      [11] Attabik Ali, Ahmad Zuhdi Muhdlor, al-Ashri: Kamus Kontemporer Arab-Indonesia,Multi Karya Grafika, Yogyakarta, cet. VIII, 2003, hal. 863

                     [12] Muhammad Muhammad Abu Zahu, al-Hadist wa al-Muhaddistun: au Inayatu al-imamah al-Islamiyyah bi al-Sunnah al-Nabawiyya, hal. 44

                      [13] Dr. Muhammad Imarah, Tayyaratu al-Fikr al-Islami , Dar al-Syuruk, Kairo, cet. II, 2007, hal. 19

                      [14] Dr. Muhammad Husain al-Dzahabi, Tafsir  wa al-Mufassirun, Vol. II, Dar al-Hadist, Kairo, 2005, hal. 263

                      [15] Dr. Muhammad Imarah, Tayyaratu al-Fikr al-Islami , Dar al-Syuruk, Kairo, cet. II, 2007, hal. 17

                     [16] Dr. Muhammad Husain al-Dzahabi, Tafsir  wa al-Mufassirun, Vol. II, Dar al-Hadist, Kairo, 2005, hal. 266

                          [17]Dr. Musthafa al-Syak’ah, Islam bila Madzahib, al-Daru al-Mashriyyah al-Lubnaniyyah, Kairo, cet. 17, 2006, hal. 132

                         [18]Dr. Muhammad Imarah, Tayyarat al-Fikr al-Islami, Dar al-Syuruq, Kairo, cet. II , 2007, hal. 32

                         [19]Abi al-Fath Muhammad bin Abd. Karim al-Syahrastany, al-Milal wa al-Nihal, ditahkik oleh Abi Muhammad Muhammad bin Farid, Maktabah Taufikiyyah, Kairo, hal. 133-135

                          [20]Dr. Muhammad Imarah, Tayyarat al-Fikr al-Islami, Dar al-Syuruq, Kairo, cet. II , 2007, hal. 33

                          [21]Abi al-Fath Muhammad bin Abd. Karim al-Syahrastany, op. cit., hal. 147

                          [22]Dr. Musthafa al-Syak’ah, Islam bila Madzahib, al-Daru al-Mashriyyah al-Lubnaniyyah, Kairo, cet. 17, 2006, hal. 132

 

                   [23] Dr. Musthafa al-Syak’ah, Islam bila Madzahib, al-Daru al-Mashriyyah al-Lubnaniyyah, Kairo, cet. 17, 2006, hal. 143-148

                      [24] Dr. Muhammad Imarah, Tayyaratu al-Fikr al-Islami,Dar al-Syuruk,Kairo, cet. II, 2007, hal. 32

                  [25]  Abi al-Fath Muhammad bin Abd. Karim al-Syahrastany, al-Milal wa al-Nihal, ditahkik oleh Abi Muhammad Muhammad bin Farid, Maktabah Taufikiyyah, Kairo, hal. 137

 

                  [26]Asy-Syahrastani, Al-Milal, Juz I, hal 128

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *