Memahami Esensi AlQuran

Oleh ; Alwi bani Rakhman, M.H.I

 

Pendahuluan

Diantara keutamaan Allah Swt yang diberikan kepada manusia bahwasanya Dia tidak membiarkan manusia untuk selalu mencari petunjuk atau hidayah dalam kehidupan dengan segala yang dititipkan-Nya antara lain melalui fithrah salimah yang mengantarkan manusia kepada kebaikan. Lebih dari itu, Allah Swt senantiasa mengutus seorang Rasul kepada manusia dengan membawa kitab yang menyeru untuk beribadah kepada-Nya semata, memberikan berita gembira dan memperingati bagi yang berdosa serta supaya dijadikan sebagai hujjah untuk kebaikan yang telah diperbuat.[1]

Muhammad Saw sebagai salah satu utusan yang membawa dan menyempurnakan risalah kenabian sebelumnya dianugerahi sebuah mukjizat yang diturunkan kepadanya, al-Qur’an. Kitab suci, pedoman hidup umat untuk kehidupan dunia dan akhirat. Ia adalah risalah Allah Swt yang sempurna dan kaffah yang dengannya Nabi Saw diutus tidak hanya untuk umatnya semata melainkan seluruh manusia dan bahkan alam semesta, menantang dan melemahkan Arab sebagai ahli fashahah untuk mendatangkan semacam al-Qur’an, serta membimbing dan mengarahkan manusia kepada kebaikan.

Agama Islam yang mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan berisi ajaran yang membimbing umat manusia menuju kebahagiaan dan kesejahteraan, dapat diketahui dasar-dasar dan undang-undangnya melalui al-Qur’an.[2] Ini sebagaimana kesepakatan seluruh umat Muslim di dunia akan kebersumberan terutama bagi keteraturan dan keberhasilan hidup manusia dan akhirat adalah berdasarkan darinya. Tidak dapat ditemukan di satu sisi ulama tafsir menjunjung al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam, kemudian ulama hadis memposisikannya setelah sunnah Nabi Saw. Hal yang tidak dapat diterima juga mutakallimun hanya mengidolakan gaya berfikir falsafi melainkan mereka sebelum atau setelahnya merujuk kembali kepada al-Qur’an. Demikian al-Qur’an menjadi pokok dan atau sumber pertama dalam ajaran suci Islam.

Ia yang secara harfiah berarti ‘bacaan yang sempurna’ itu memiliki keistimewaan yang luar biasa. Sebab tiada bacaan yang semacam al-Qur’an yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihapal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja dan anak-anak. Tiada bacaan seperti al-Qur’an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, melainkan ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, maupun saat turunnya sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya. [3]

Hampir seluruh -jikalau tidak bisa dikatakan semua- pengetahuan, keilmuan, wacana serta diskursus keagamaan Islam termotivasi olehnya dan bersumber darinya. Al-Qur’an dengan sedemikian keutamaannya juga menawarkan dan memberikan solusi bagi berbagai persoalan hidup manusia, baik yang bersifat ruhiyyah maupun ‘aqliyyah, jasmani maupun ruhani, individual maupun sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.[4] Sebab tidak lain al-Qur’an lah yang diyakini menjadi jalan hidup (way of life) dan petunjuk serta kitab undang-undang dan atau norma serta sumber penilaian pertama dan terutama yang harus ditempuh bagi segenap umat Muslim di seluruh penjuru dunia untuk mengarungi dinamika kehidupan sehingga menjadi terarahkan kepada kehidupan yang teratur, seimbang, dan harmonis serta memiliki nilai-nilai keridhoan Ilahi sebagaimana dikehendaki oleh syari’at. Bahkan, Al-Qur’an, Kitab Suci umat Muslim terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Saw meski bukan kitab ilmu pengetahuan yang di dalamnya mengajarkan teori-teori ilmiah kehidupan secara detail, namun ia memberikan seruan kepada manusia untuk mengungkap dan menelaahnya supaya menjadi manfaat dan maslahat. Karena ia dianggap sebagai induk semua ilmu pengetahuan sebab mencakup seluruh aspek-aspek pengetahuan meski tidak seluruhnya disampaikan secara eksplisit dan atau partikular, melainkan secara universal.

Sedemikian niscayanya al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, umat Muslim khususnya, tidak menjadi keraguan lagi. Keberadaannya menjadi penimbang dan penentu gerak hati dan perbuatan manusia, sebab hakikatnya sebagai kalam Ilahi. Makalah singkat ini menjadi salah satu upaya penulis untuk menguraikan bagaimana hakikat al-Qur’an sebagai pedoman hidup terutama bagi umat Muslim khususnya dan untuk seluruh alam umumnya. Kekurangan dan kelebihan merupakan suatu hal kewajaran bagi seorang pelajar seperti penulis yang notabene masih dalam tahap berproses. Karenanya, koreksi dan komentar positif serta membangun menjadi harapan tersendiri guna pencapaian kekayaan pemahaman keilmuan dan pengetahuan.

 

Pengertian al-Qur’an

             Secara etimologis kata ‘القرأن’ adalah asal kata (mashdar) dari قرأ- يقرَأ yang bermakna الجمع و الضم (mengumpumpulkan/kumpulan). Kemudian القراءة (bacaan) adalah kumpulan huruf dan kata dalam suatu susunan tertentu. Sedangkan al-Qur’an pada dasarnya seperti bacaan sebagaimana dinyatakan dalam ayat

¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ   #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ

“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.” [5]

¼çm¯RÎ) ×b#uäöà)s9 ×Lq̍x. ÇÐÐÈ

“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia”[6]

Namun al-Qur’an di sini adalah ‘bacaan’ yang khusus diturunkan kepada Nabi Saw. secara menyeluruh. Sehingga jikalau seseorang membaca sebagian ayat saja maka sudah cukup dikatakan bahwa ia membaca al-Qur’an. Sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan sebutan ‘al-Qur’an’ diantara kitab-kitab yang Allah turunkan kepada para utusan adalah sebab ia mengumpulkan intisari kitab-kitab suci sebelumnya, bahkan di dalamnya terkandung seluruh pengetahuan.[7]

Al-Farra’, sebagaimana dikutip oleh Majfuk Zuhdi, dalam Ma’an al-Qur’an menguuraikan bahwa lafadz al-Qur’an tidak menggunakan huruf hamzah dan diambil dari kata قرائن jamak dari قرينة yang berarti indikator atau petunjuk. Hal ini disebabkan karena sebagian ayat al-Qur’an serupa satu sama lain. Maka seolah-olah sebagian ayatnya merupakan petunjuk dari apa yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa. Serupa dengan al-Farra’, abu al-Hasan al-Asy’ari seorang teolog kenamaan dan pemuka aliran sunni berpendapat akan ketidakadaan hamzah dalam lafadz al’Qur’an. Namun al-Asy’ari membedakan dengan menyebut bahwa ia diambil dari kata قرن yang berarti menggabungkan. Sebab al-Qur’an terhimpun dan terkumpulkan atas berbagai surat dan ayat. Berbeda halnya dengan kedua ulama tersebut, al-Zajjaj pengarang kitab Ma’an al-Qur’an menyatakan bahwa lafadz al-Qur’an adalah berhamzah, terambil dari kata القَرء yang artinya penghimpunan.[8]

Dalam menerangkan pengertian al-Qur’an secara terminologis Manna’ al-Qaththan memberikan batasan tertentu sebagai gambaran yang dimaksud yaitu adanya al-Qur’an tersebut adalah dapat disaksikan dengan indera manusia, semisal terdeskripsikan dalam pengertian ‘tertulis dalam mushhaf’ dan atau dapat ‘terbaca dengan lisan’. Dari batasan inilah kemudian mampu dipahami berbagai pengertian yang diuraikan oleh ulama.[9]

Secara umum ulama menguraikan pengertian al-Qur’an dengan كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته (Kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw dan dipandang beribadah dengan membacanya). ‘Kalam Allah’ mengisyaratkan bahwa ia adalah kalam yang sebelumnya bersifat jinsiy dan mencakup seluruh kalam. Namun di sini menjadi khusus setelah diidhafahkan dengan lafadz Allah, sehingga mengecualikan seluruh kalam selain dari-Nya.[10] Kemudian Muhammad Saw menjadi muqayyid untuk mengecualikan kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para Nabi seperti Taurat, Injil, Zabur dan lainnya. Sedang kalimat ‘membacanya dinilai ibadah’ bermakna perintah untuk membacanya baik dalam sholat maupun selainnya dengan maksud ibadah. Hal ini untuk mengecualikan qira’at al-ahad dan al-ahadis al-qudsiyyah.[11]

Selain itu tambahan lain juga dibubuhi oleh banyak ulama semisal المعجز (yang melemahkan atau sebagai mukjizat), بواسطة جبريل عليه السلام  (melalui perantara malaikat Jibril as.), المنقول الينا بالتواتر (yang dinukil/diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir), المبدوء بسورة الفاتحة والمختوم بسورة الناس (dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas), dan بلسان عربي (berbahasa Arab).[12]

 

Nama dan Sifat

            Al-Jahiz, sebagaimana disampaikan oleh al-Suyuthi dan dinukil oleh Mukhatab Hamzah berkata:

“Allah Swt memberi nama Kitab-Nya berbeda dengan penamaan yang berlaku di kalangan Arab terhadap jumlah dan tafsil. Allah swt menamai jumlah kaimat-kalimanta dengan al-Qur’an, kalangan Arab menggunakan istilah Diwan. Allah Swt menamai bagian-bagiannya dengan Surat sedang orang arab dengan Qashidah. Allah Swt menamai bagian surat dengan Ayat, bangsa Arab menamainya dengan Bait. Allah Swt menamai akhir ayat dengan Fashilah, sedang bangsa Arab menyebutnya Qafiyah”.[13]

 

Al-Qur’an sebagaimana tersebut di atas berbeda dengan kalam yang lain. Allah Swt sendirilah yang menamainya dengan nama-nama yang banyak lagi indah. Diantara yang disebutkan ulama sebagaimana dalam ayat-ayat-Nya adalah:

  1. القران

ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 …

“ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). …”[14]

 

Selain itu juga diungkapkan dalam QS. Al-Isra’ [17]: 9, Al-Waqi’ah [56]: 77)

  1. الكتاب

ô‰s)s9 !$uZø9t“Rr& öNä3ö‹s9Î) $Y6»tGÅ2 ÏmŠÏù öNä.ãø.ό ( Ÿxsùr& šcqè=É)÷ès? ÇÊÉÈ

“ Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?”[15]

 

Begitu juga disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2

  1. الفرقان

x8u‘$t6s? “Ï%©!$# tA¨“tR tb$s%öàÿø9$# 4’n?tã ¾Ínωö6tã tbqä3u‹Ï9 šúüÏJn=»yèù=Ï9 #·ƒÉ‹tR ÇÊÈ

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”[16]

 

  1. الذكر

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”[17]

 

Begitu juga dinyatakan dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 50.

 

 

  1. التنزيل

¼çm¯RÎ)ur ã@ƒÍ”\tGs9 Éb>u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÒËÈ

“Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,”[18]

 

Sebagian ulama lain menyebutkan 55 buah nama untuk al-Qur’an, bahkan lebih dari 90 nama. Namun Subhi Shalih, sebagaimana dikuti Masjfuk Zuhdi, berpendapat bahwa sebagian ulama terlalu berlebihan dalam menyebutkan dan menjumlahkan nama-nama untuk al-Qur’an. Mereka mencampuradukkan antara nama dan sifatnya.[19]

Meskipun demikian umumnya ulama, sebagaimana Allah Swt menyebutnya sendiri dalam sebagian ayat-ayat-Nya, kata al-Qur’an dan al-Kitab lah yang paling sering dan lazim digunakan. Nalar kontekstualnya adalah sebab ‘al-Qur’an’ dibaca menggunakan lisan dan ‘al-Kitab’ tersusun dalam bentuk tulisan. Kedua nama tersebut berdasarkan penamaan sesuatu sesuai dengan makna yang terdapat dalam suatu -al-Qur’an- tersebut.

Selain itu penamaan dengan kedua nama ini sebagai isyarat akan hak al-Qur’an untuk ‘ditolong’ yaitu dengan menjaganya, baik bi al-shudur (hafalan) maupun al-sutur (tulisan). Sehingga apabila seorang telah keliru dalam membaca atau menulisnya maka yang lain akan mengoreksi dan membenarkannya. Sesorang yang telah dianggap unggul dalam menghafalnya pun tidak akan ‘diakui’ secara legal kecuali bacaannya telah sesuai dengan al-rasm al-mujma’ sebagaimana telah diupayakan oleh para shahabat. Sebaliknya tulisan seseorang belum mendapatkan legalisasi keshahihan melainkan telah terkoreksi oleh para penghafal al-Qur’an sesuai dengan sanad yang shahih lagi mutawatir.

            Sebagaimana nama-nama al-Qur’an, mengenai sifat-sifatnya pun Allah Swt sendiri yang menguraikannya sebagaimana terdokumentasikan dalam berbagai ayat. Diantaranya adalah:

  1. نور (QS. Al-Nisa [4]: 174)
  2. هدى وشفاء ورحمة وموعظة (QS. Yunus [10]: 57)
  3. مبارك (QS. Al-An’am [6]: 92)
  4. مبين (QS. Al-Maidah [5]: 15)
  5. بشرى (QS. Al-Baqarah [2]: 57)
  6. عزيز (QS. Fusshilat [41]: 41)
  7. بشير ونذير (QS. Fusshilat [41]: 3-4)
  8. مجيد (QS. Al-Buruj [85]: 21)
  9. الشفاء (QS. Al-Isra’ [17]: 87) [20]

 

Kedudukan al-Qur’an; Perbedaan dengan Hadis Qudsi

            Al-Qur’an yang mulia menegaskan dalam beberapa ayatnya bahwa ia adalah Kalam Allah yang Mahaagung, yakni bahwa ia bersumber dari Allah Swt yang kemudian disampaikan (diwahyukan) kepada Nabi Saw. Untuk membuktikan bahwa ia merupakan firman Allah Swt yang sebenarnya dan bukan buatan manusia, Al-Qur’an menantang manusia untuk mendatangkan yang serupa dengannya meskipun hanya satu ayat. Namun tidak seorangpun mampu membuatnya.[21] Firman Allah Swt,

÷Pr& tbqä9qà)tƒ ¼ã&s!§qs)s? 4 @t/ žw tbqãZÏB÷sムÇÌÌÈ   (#qè?ù’u‹ù=sù ;]ƒÏ‰pt¿2 ÿ¾Ï&Î#÷WÏiB bÎ) (#qçR%x. šúüÏ%ω»|¹ ÇÌÍÈ

“Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya. sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.”[22]

 

$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #“uqolù;$# ÇÌÈ   ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ

“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”[23]

Hadis Qudsi, meskipun sama bersumber dari Allah Swt namun kekuatan status hukum dan kedudukannya diantara pedoman hidup manusia yang dibawa dan disampaikan Nabi Saw berbeda. Sebelum kami jelaskan perbedaan tersebut, akan dihadirkan pengertian hadis Qudsi terlebih dahulu. Manna’ al-Qaththan menguraikan bahwa hadis Qudsi secara istilah adalah sesuatu yang disandarkan oleh Nabi Saw kepada Allah Swt. Artinya Nabi Saw meriwayatkannya sebagaimana bahwa ia adalah bersumber dari Kalam Allah. Nabi Saw bertindak sebagai perawi pertama untuk menyampaikan Kalam Allah tersebut sesuai dengan lafadz yang disampaikan-Nya. Maka jika seseorang meriwayatkan hadis Qudsi, maka hendaknya ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt berfirman: …”.

Diantara contohnya adalah sebuah riwayat dari Abi Hurairah ra. bahwasanya Rasulallah Saw bersabda: Allah Swt berfirman:

أناعند ظن عبدي بي, وأنا معه إذا ذكرني, فإن ذكرني في نفسه ذكره في نفسي, وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خيرمنه … (رواه البخاري ومسلم)

Terdapat berbagai perbedaan antara al-Qur’an dengan hadis Qudsi, namun beberapa yang terpenting adalah:

  1. Al-Qur’an sebagai Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Saw dengan lafadz-Nya menantang bangsa Arab untuk mendatangkan semisalnya, Ia adalah mukjizat atas kebenaran risalah Muhammad Saw hingga hari kiamat. Namun mereka terlemahkan sebab ketidakmampuan untuk menyainginya. Sedangkan hadis Qudsi tidak didatangkan dengan membawa tantangan dan bukan pula sebagai alat untuk melemahkan.
  2. Al-Qur’an tidak dinasabkan kecuali kepada Allah Swt. Sedangkan Hadis Qudsi sebagaimana disebutkan sebelumnya terkadang dinasabkan secara ikhbar kepada Nabi Saw karena beliaulah al-Mukhbir dari Allah Swt.
  3. Al-Qur’an seluruhnya diriwayatkan secara mutawatir, statusnya Qath’i al-Subut. Sedangkan hadis Qudsi mayoritas bersumber dari khabar ahad dan statusnya Dzanny al-Subut. Maka kualitas hadis Qudsi terkadang shahih, hasan dan bahkan dha’if.
  4. Al-Qur’an bersumber dari Allah Swt baik secara lafdzi maupun ma’nawi, karenanya ia adalah wahyu baik dengan lafadz maupun makna. Sedangkan hadis Qudsi, maknanya bersumber dari Allah Swt, namun lafadznya dari Rasul Saw. Ia adalah wahyu melalui maknanya, bukan lafadznya. Karenanya menurut jumhur ulama hadis, periwayatannya secara makna masih dapat diterima.
  5. Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam pengertiannya bahwa membacanya bernilai ibadah, dengannya pula bahkan shalat seseorang dapat dikatakan sah. Berbeda halnya dengan hadis Qudsi yang tidak diperbolehkan membacanya di dalam sholat dan siapa yang membacanya baginya pahala secara umum, bukan secara khusus seperti pahala seseorang yang membaca al-Qur’an.[24]

 

Tujuan Kehadiran

Jazirah arab terletak sangat terisolasi, baik dari sisi daratan maupun lautan. Kawasan ini pada dasarnya terletak di pojok kultural yang cukup mematikan. Sejarah dunia yang besar telah jauh meninggalkannya. Perselisihan yang membawa peperangan antar suku berlangsung dalam skala besar-besaran di berbagai stepa jazirah tersebut. Dari sudut pandang Negara-negara adikuasa, Arabia merupakan kawasan terpencil dan terkesan ‘biadab’, sekalipun memiliki posisi yang cukup penting sebagai kawasan peyangga dalam ajang perebutan kekuasaan politik di Timur Tengah, yang ketika itu dikuasai dua imperium raksasa; Romawi dan Persia.[25] Selain itu, di belahan dunia lain, Hindia dan Cina telah menunjukkan kesohorannya sebagai bagian dari pelopor peradaban ulung yang tidak sedikit kekuatannya dan telah meluas pengaruhnya bahkan sampai pada tanah nusantara.

Diantara dua karakter peradaban dan kebudayaan Romawi serta Persia dari Barat yang bercorak materialistis kemudian Timur yang bercorak ruhiyyah khiyaliyyah  inilah menurut DR. Muhammad Ramadhan Buthi, al-Qur’an sebagai bukti terutama risalah kenabian Muhammad Saw turun. Hikmah dari pemilihan Jazirah Arab sebagai pusat dakwah pertama Islam Rasul Saw adalah hikmah yang bersifat ikhtiyari. Artinya Nabi Saw sebagai seorang ummi yang ‘tidak memiliki basis pendidikan’ layaknya pujangga dari negeri-negeri di sekitarnya dipilih sebagai pemegang tugas pokok dan utama penyebar risalah Tauhid melalui al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.[26] Artinya berdasarkan latar sejarah tersebut, tidak berlebihan jikalau memang al-Qur’an pada awalnya turun berdasarkan sebab khusus yang terkait dengan letak geografis, kondisi sosial, dan politik masyarakat Arab dan sekitarnya. Bangsa Arab yang memiliki corak kehidupan khas dengan berbagai persoalan yang khas pula, di samping berdirinya ‘Baitullah’ menjadi hikmah tersendiri bagi turunnya al-Qur’an untuk pertama kali di wilayah tersebut.

Namun demikian kekhususan sebab mula tersebut bukanlah misi yang terutama sebagaimana dikehendaki oleh al-Qur’an itu sendiri. Beberapa kali dinyatakan di dalamnya bahwa ia ada sebagai pedoman untuk kebaikan seluruh alam. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang ajarannya tidak hanya ditujukan untuk  manusia, melainkan mencakup makhluk yang lain juga, yaitu jin.[27] Ia datang sebagai penawar dan obat dari penyakit-penyakit dunia dan akhirat, solusi dari berbagai persoalan hidup manusia.[28] Al-Qur’an menempuh berbagai cara guna mengantar manusia kepada kesempurnaan kemanusiaannya.

Para ulama membagi sejarah turunnya al-Qur’an secara umum dalam dua periode; (1) Periode sebelum hijrah dimana pokok seruannya adalah ajakan ketauhidan dan akhlak terpuji dan (2) Periode setelah hijrah, yaitu ketika masyarakat Muslim di Madinah telah sampai pada keimanan yang cukup kuat namun muncul permasalahan baru antara lain etika berhubungan dengan ahl al-kitab dan tentang hukum-hukum praktis. Berdasarkan hal tersebut, Prof DR. M Quraish Shihab menyimpulkan bahwa tujuan pokok diturunkannya al-Qur’an adalah:

  1. Petunjuk aqidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan dan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan
  2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif
  3. Petunjuk mengenai syari’at dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[29]

Di lain kesempatan, Quraish Shihab pun kembali menguraikan tujuan kehadiran al-Qur’an yang menurutnya bersifat terpadu dan menyeluruh, bukan sekedar mewajibkan pendekatan religious yang bersifat ritual dan mistis yang dapat memicu formalitas beku dan kesengsaraan. Sehingga menurutnya pula tujuan al-Qur’an yang sering kita peringati nuzulnya adalah:

  1. Untuk membersihkan akal dan mensucikan jiwa dari segala bentuk kesyirikan serta memantapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru sekalian alam. Keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan bagi umat manusia.
  2. Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni umat manusia merupaan umat yang seharusnya dapat bekerjasama dalam pengabdian kepada Allah Swt. Dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
  3. Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar su atau bangsa, tatapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinisme, kesatuan sosial, politik dan ekonomi, dan kesemuanya di bawah satu keesaan, Allah Swt.
  4. Untuk mengajak manusia berfikir dan bekerja sama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan mufdakat yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan.
  5. Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit, dan penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia, dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan agama.
  6. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih saying dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan bermasyarakat manusia.
  7. Untuk memberi jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran
  8. Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi guna menciptakan suatu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia dengan panduan Nur Ilahi.[30]

Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan Dustur al-Tasyri’ (kitab undang-undang syari’at Islam), sumber hukum-hukum yang dicari oleh umat Muslim. Di dalamnya terkandung perihal halal-haram, perintah dan larangan. Al-Qur’an juga menjelaskan sikap dan sifat baik, sopan santun, adab, dan akhlak yang harus ditanamkan dalam diri setiap Muslim. Sehingga dengannya ia dapat memperoleh kebahagiaan. Al-Qur’an pula yang menjadi sumber utama petunjuk atau hidayah yang mampu mengantarkan manusia menuju surga dan keridhaan Allah Swt. Serta ia pulalah yang menjadi ‘wasilah’ yang mampu menciptakan kedamaian dan memecahkan permasalahan masyarakat Muslim khususnya.[31]

Muhammad Abduh dalam memulai penulisan tafsirnya menyebutkan banyak ayat al-Qur’an yang dengannya Allah Swt mensifati kitab-Nya. Diantaranya sebagaimana dalam firman Allah Swt.,

ô‰s)s9 šc%x. ’Îû öNÎhÅÁ|Ás% ×ouŽö9Ï㠒Í<‘rT[{ É=»t6ø9F{$# 3 $tB tb%x. $ZVƒÏ‰tn 2”uŽtIøÿム`Å6»s9ur t,ƒÏ‰óÁs? “Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ Ÿ@‹ÅÁøÿs?ur Èe@à2 &äóÓx« “Y‰èdur ZpuH÷qu‘ur 5Qöqs)Ïj9 tbqãZÏB÷sムÇÊÊÊÈ

“ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”[32]

 

!$¨B öNåk–E‰uhô©r& t,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur Ÿwur t,ù=yz öNÍkŦàÿRr& $tBur àMZä. x‹Ï‚­GãB tû,Íj#ÅÒßJø9$# #Y‰àÒtã ÇÎÊÈ

“Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”[33]

 

Selain itu terdapat juga dalam QS. Al-Baqarah [2]: 1,  22-23, Ali Imran [3]: 1, 5, Hud [11]: 1-4, Yusuf [12]: 1-3, Al-Ankabut [29]: 47-49, Shad [38]: 28, Al-Nisa [4]: 81, Al-Hasyr [59]: 21. Menurutnya, ayat-tersebut diturunkan pertama supaya manusia dapat merenungi dan mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu yang shalih tentang bagaimana mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Melalui al-Qur’an pula Allah Swt memberikan petunjuk kepada bangsa Arab, sehingga dengannya mereka menjadi pemimpin para umat dengan menaklukkan bangsa-bangsa besar di sekitarnya. Dengan al-Qur’an pula diri-diri mereka menjadi tenang dan tenteram sebab telah mampu membacanya dengan benar, baik dalam sholat maupun di luar sholat. Pengetahuan mengenai sebab-sebab kekuatan dan kelemahan, kekayaan dan kemiskinan, kemulyaan dan kesengsaraan dan sebagainya tidak lain mereka peroleh kecuali berdasarkan petunjuk sunnah-sunnah Allah Swt sebagaimana dalam al-Qur’an.[34]

Abduh menambahkan, kaitannya dengan tafsir al-Qur’an, yaitu ia menguraikan bahwa al-Qur’an mesti ditegaskan kembali fungsi utamanya sebagai ‘peringatan’, ‘ancaman’, ‘kabar gembira’, ‘hidayah’, dan ‘pencipta kemaslahatan’. Sebab selama ini banyak sekali kitab tafsir yang tidak menyentuh persoalan tersebut sedangkan pada saat sekarang pemahaman dan aktualisasi fungsi tersebut sangat urgen. Sebab tidak ada kitab pedoman utama yang berhak menjadi petunjuk terbaik kecuali al-Qur’an.[35]

  1. Husain Thabathaba’i, salah seorang ulama syi’ah juga melengkapi kandungan dan fungsi al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam. Menurutnya al-Qur’an mengandung tiga sumber dasar Islam, yaitu:
  2. Dasar-dasar akidah. Ini terbagi menjadi tiga dasar agama (ushul al-din); tauhid, kenabian, dan akhirat.
  3. Akhlak yang diridhai
  4. Hukum hukum syara’ dan perbuatan-perbuatan yang dasarnya telah dijelaskan dalam al-Qur’an, sedangkan perinciannya diserahkan kepada Nabi Saw. Karenanya al-Qur’an bertindak sebagai sandaran kenabiannya, yang dengannya manusia mampu memilih jalan yang baik dan diridhai.[36]

 

Keutamaan dan Keistimewaan

  1. Afif Muhammad mengemukakan bahwa seandainya al-Qur’an dapat dikatakan sebagai ‘buku’, maka ia merupakan satu-satunya buku yang sanggup merubah dunia dalam skala yang luar biasa besar. Kesanggupannya ini tidak mungkin sanggup ditandingi oleh buku-buku lain, minimal karena alas an berikut ini. Pertama, al-Qur’an adalah “buku” bukan sembarang buku. Ia adalah firman Allah Swt yang kemudian dihapal, dicatat, dibukukan, dan disebarluaskan kepada pemeluk-pemeluknya di seluruh dunia. Kedua, karena ia merupakan firman Allah Swt, maka petunjuk-petunjuk yang diberikannya ditakini oleh umat Muslim sebagai kebenaran mutlak yang karenanya mereka tidak pernah ragu untuk mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Ketiga, petunjuk yang diberikan olehnya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang jika diamalkan secara sungguh-sungguh akan manjadikan manusia yang berakhlak qur’ani.[37]

Perintah ‘membaca’ sebagaimana tersebut dalam ayat yang pertama kali turun merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. ‘Membaca” dalam aneka maknanya adalah syarat utama dan pertama dalam pengembangan ilmu serta teknologi dan membangun peradaban. Adapun peradaban Islam lahir disertai dengan kehadiran al-Qur’an yang memulainya dengan perintah ‘membaca’ tersebut. Pengatahuan dan peradaban yang dirancang oleh al-Qur’an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam memperolehnya.[38]

Sungguh ayat-ayat al-Qur’an merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rautan jiwanya. Karena itu, seringkali pada saat ayat al-Qur’an berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terlihat tidak saling berkaitan. Tetapi, orang-orang yang dengan tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan. Salah satu tujuan al-Qur’an memilih sistematika demikian adalah untuk mengingatkan manusia bahwa ajaran-ajaran al-Qur’an adalah satu kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ia adalah Kalam Ilahi yang menjadi ‘nur’ bagi ‘gelap’nya kehidupan, sandaran perintah, larangan dan anjuran dalam rangka beribadah kepada-Nya.[39]

Kembali menurut Quraish Shihab, bahwa dalam memahami kemukjizatan al-Qur’an, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk mempermudah pemahaman bukti-bukti tersebut, yaitu:

  1. Kepribadian Nabi Muhammad Saw.

Disebutkan bahwa kepribadian Rasul adalah al-Qur’an, sedang tidak ada satupun dari al-Qur’an melainkan kebaikan. Namun bukan di sini tempatnya menguraikan akhlak beliau yang mulia, namun yang perlu digarisbawahi adalah keadaan beliau sebagai seorang yang ummy, yakni tidak pandai membaca dan menulis serta tidak pernah belajar dalam suatu lembaga pendidikan atau halaqah pendidikan tertentu. Namun beliau mampu menyampaikan melalui ayat-ayat al-Qur’an aneka informasi sejarah dan hal-hal ilmiah yang tidak diketahui oleh masyarakatnya bahkan oleh masyarakat ilmiah kecualli berabad-abad tahun setelahnya.

  1. Kondisi masyarakat saat Turunya al-Qur’an

Masyarakat Arab sebagaimana disebutkan sebelumnya, khususnya yang berada di Mekkah, dapat dikatakan sangat terisolasi dari masyarakat-masyarakat lain yang waktu itu relative lebih maju, seperti Mesir, Persia, Romawi, Cina, Hindia. Para pedagang yang sekalipun telah sampai Yaman dan Syam, namun tidak menghasilkan pengaruh dalam bidang ilmiah. Kalupun ada, maka sangat terbatas dan sedikit.

Sebaliknya, masyarakat non-arab relatif lebih maju yaitu dengan menguasai beberapa ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, jikalau diperhatikan pengatahuan yang mereka hasilkan tidak lebih dari sekedar hasil perenungan dan pengamatan sepintas. Artinya, pada dasarnya pengetahuan mereka pada masa turunnya al-Qur’an bukan atas dasar metode ilmiah yang sistematik.

  1. Masa dan Cara Kehadiran al-Qur’an

Hal yang tidak kurang pentingnya dalam upaya meyakinkan kemukjizatan al-Qur’an adalah masa dan cara turunnya wahyu kepada Nabi Saw. aspek yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa:

  1. Kehadiran wahyu al-Qur’an di luar kehendak Nabi Saw.
  2. Kehadirannya secara tiba-tiba[40]

Ketiga aspek tersebut yang menurut Quraish shihab mampu mengantarkan pada pemahaman dan keyakinan bahwa al-Qur’an merupakan sesuatu yang layak untuk diangkat sebagai mukjizat dalam arti sebagai bukti kebenaran Muhammad saw sebagai utusan Tuhan yang membawa misi risalah. Maka diibaratkan seandainya Tuhan berkehendak untuk berkata: “Muhammad adalah utusan-Ku dan buktinya adalah Aku memberikannya wahyu melalui al-Qur’an”.

Al-Qur’an tidak mengkhususkan pembicaraaannya kepada bangsa tertentu, semisal bangsa Arab. Begitu juga ia tidak mengkhususkan pembicaraannya kepada satu kelompok tertentu saja, semisal umat Muslim. Melainkan ia juga mengarahkan pembicaraannya kepada seluruh manusia, baik Muslim maupun non-Muslim, bangsa Arab maupun non-Arab. Ayat-ayat al-Qur’an juga banyak yang menunjukkan universalitas dakwah Islam.

Al-Qur’an memuat tujuan utama yang dituju oleh umat manusia dan menjelaskannya dengan sempurna. Karena, tujuan utama itu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan pandangan realistik terhadap alam serta melaksanakan pokok-pokok akhlak dan hukum-hukum perbuatan. Karenanya al-Qur’an selain menjelaskan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam kitab-kitab sebelumnya mengenai prinsip akidah dan pokok-pokok perbuatan juga menguraikan lebih kaitannya dengan realitas dinamika alam. [41]

Bagi umat Islam, al-Qur’an merupakan sumber pertama dan utama dengan lingkup dimensi yang luas. Setidaknya menurut Mukhotob Hamzah terdapat empat dimensi pokok kehidupan manusia yang bersumber dari dari al-Qur’an, yaitu:

  1. Umum, sebagaimana maknanya tertuang dalam Umm al-Kitab yang oleh banyak ulama mengandung setidaknya lima unsur: Tauhid, Janji dan Ancaman, Ibadah, Jalan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat, dan Sejarah sebagai rujukan dan tambang keteladanan dalam kehidupan.
  2. Hukum, yang terdiri dari al-ahkam al-i’tiqadiyyah, al-khuluqiyyah, dan ‘amaliyyah.
  3. Metodologis Paedagogis, yaitu sebagaimana terdeskripsikan dalam bukti lahirnya disiplin keilmuan, seperti ilmu kebahasaan (gramatikal Arab), tafsir, hadis, filsafat, sosial, ekonomi, politik, bahkan sains dan teknologi dan sebagainya. Hal ini berarti bahwa al-Qur’an selain sarat dengan substansi dan informasi juga memiliki kandungan metodologis dan paedagogis.
  4. Prinsip-prinsip Bidang Kehidupan, yaitu prinsip Keyakinan (I’tiqadiyyah), Keberibadahan (‘Ubudiyyah), Sosial (Ijtima’iyyah), Politik (Siyasiyyah), Ekonomi (Iqtishadiyyah), Ilmu dan Pengetahuan (al-‘Ulum wa al-Ma’arif), dan Filsafat (Falsafiyyah).[42]

 

Penutup

            Al-Qur’an yang merupakan Kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Muhammad Saw diamana dengan membacanya dianggap sebagai ibadah dan berpahala merupakan kitab pedoman paling utama bagi umat Muslim. Keberadaannya menjadi suatu keniscayaan yang mampu mengantarkan manusia kepada tujuan utama dalam kehidupannya di dunia dan akhirat, membimbing dan mengarahkannya dalam rel kebaikan dan ketaatan yang diridhai oleh Sang Pemilik alam semesta.

Al-Qur’an merupakan mukjizat bagi Rasul Muhammad Saw sebagai bukti kebenaran risalah yang dibawa dan disampaikannya kepada umat. Keutaman dan keistimewaan yang terkandung di dalamnya baik dari tata bahasa dan keserasian penyusunannya yang desertai dengan hadirnya Muhammad Saw dalam ruang bangsa Arab dengan karakter khas, menjadikannya pantas menduduki peringkat tertinggi dalam deretan Kitab Pedoman Umat. Terlebih, adanya sebagai hidayah, rahmat, peringatan dan atau berita gembira, tidak hanya ditujukan kepada golongan atau kelompok tertentu melainkan seluruh umat manusia dan untuk  kemaslahatan alam semesta dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Demikian diskusi singkat yang mampu diberikan penulis yang pasti terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Karenanya, kritik dan saran membangun sangat diharapkan guna memperkaya khasanah keilmuan sebagai jembatan peradaban umat, Muslim khususnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abduh, Muhammad dan Ridho, Muhammad Rasyid. Tafsir al-Qur’an al-Hakim. Kairo: Dar al-Mannar. 1947.

Amal, Taufik Adnan. Rekonstruksi sejarah Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Alvabet. 2005.

Al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan. Fiqh al-Sirah Muhammad Saw. Beirut: Dar al-Fikr. 1993.

Hamzah, Mukhotob. Studi al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media. 2003.

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi al-Mujallad al-Awwal. Kairo: Maktabah Mushthafa al-Jailani. 1946.

Al-Qaththan, Manna’. Mabahis fi Ulum al-Qur’an. Riyadh: Mansyurat al-‘Ashr al-Hadis. 1973.

Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin li Ma Tadhammanahu min al-Sunnah wa Ay al-Furqan. Beirut: al-Risalah. 2006.

Shihab, Muhammad Quraish. Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. 1994.

_______________________. Mukjizat Al-Qur’an; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib. Bandung: Mizan. 2000.

_______________________. Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan Media Utama. 2007.

Supiana dan Karman, M. Ulumul Qur’an dan Pengenalan Metode Tafsir. Bandung Pustaka Islamika. 2002.

Thabathaba’i, Muhammad Husain. Memahami Esensi Al-Qur’an terjemah Idrus Aklaf. Jakarta: Lentera Basritama. 2003.

Al-Zamakhsyari, Muhammad bin Umar. Al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi wujuh al-Ta’wil al-mujallad alawwal. Riyadh: Maktabah al-‘Abaikan. 1998.

Zuhdi, Masjfuk. Pengantar Ulumul Qur’an. Surabaya: Bina Ilmu. 1993.

[1] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an (Riyadh: Mansyurat al-‘Ashr al-Hadis, 1973), hlm. 17.

[2] Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi Al-Qur’an terjemah Idrus Aklaf (Jakarta: Lentera Basritama, 2003), hlm. 13.

[3] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan Media Utama), hlm. 3.

[4] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 19.

[5] QS. Al-Qiyamah [75]: 17-18. Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 20. Lihat juga dalam Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin li Ma Tadhammanahu min al-Sunnah wa Ay al-Furqan (Beirut: al-Risalah: 2006), hlm. 425.

[6] QS. Al-Waqi’ah [56]: 77

[7] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 20.

[8] Masjfuk Zuhdi, Penagntar Ulumul Qur’an (Surabaya: Bina Ilmu, 1993), hlm. 2.

[9] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 20.

[10] Dalam pembicaraan ini nampaknya penulis tidak berkepentingan untuk membahas lebih mengenai hakikat Kalam Allah, yaitu tentang apakah ia termasuk hadis (sebagai huruf-huruf yang diciptakan oleh Allah Swt) atau qadim (sebagai makna yang melekat atau berdiri pada Dzat Allah Swt).

[11] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 21.

[12] Mukhotob Hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hlm. 1-2. Lihat juga Muqaddimah Muhammad bin Umar al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi wujuh al-Ta’wil al-mujallad alawwal (Riyadh: Maktabah al-‘Abaikan, 1998), hlm. 95.

[13] Mukhotob Hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif …, hlm. 3.

[14] QS Al-Baqarah [2]: 185.

[15] QS. Al-Anbiya’ [21]: 10.

[16] QS. Al-Furqan [25]: 1.

[17] QS. Al-Hijr [9]: 9.

[18] QS. Al-Syu’ara [26]: 192. Lihat Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 21. Lihat juga Mukhotob Hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif …, hlm. 3-6. Masjfuk Zuhdi, Penagntar Ulumul Qur’an…, hlm. 4.

[19] Masjfuk Zuhdi, Penagntar Ulumul Qur’an…, hlm. 3.

[20] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 22.

[21] Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi Al-Qur’an, hlm. 24.

[22] QS. Al-Thur [52]: 33-34.

[23] QS. Al-Najm [53]: 3-4.

[24] Manna’ al-Qaththan, Mabahis fi Ulum al-Qur’an…, hlm. 26.

[25] Taufik adnan amal, Rekonstruksi sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), hlm. 11.

[26] Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah Muhammad Saw. (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), hlm. 21-23.

[27] QS. Al-Ahqaf [46]: 29-31.

[28] QS. Thaha [20]: 123-124.

[29] Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 40.

[30] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an…, hlm. 16.

[31] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi al-Mujallad al-Awwal (Kairo: Maktabah Mushthafa al-Jailani, 1946), hlm. 5

[32] QS. Yusuf [12]: 111.

[33] QS. Al-Kahfi [18]: 51.

[34] Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir al-Qur’an al-Hakim (Kairo: Dar al-Mannar, 1947), hlm. 1-6.

[35] Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir al-Qur’an al-Hakim…, hlm. 11.

[36] Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi Al-Qur’an…, hlm. 24.

[37] Pengantar dalam Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an dan Pengenalan Metode Tafsir (Bandung Pustaka Islamika, 2002), hlm. 11.

[38] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 8.

[39] Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an…, hlm. 9.

 

[40] Muhammad Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an; Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 63-76.

[41] Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi Al-Qur’an…, hlm. 27

[42] Mukhotob Hamzah, Studi al-Qur’an Komprehensif …, hlm. 14-21.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *