SEJARAH PENURUNAN ALQURAN; Bagaimana Alquran Diturunkan, (Periodisasi Penurunan, dan Pembahasan Sab’atu Ahruf)

Oleh: Ibnu Saerozi, M.H.I

 PENDAHULUAN

Menurut bahasa (etimologi), kata Alquran berarti “bacaan” atau “yang dibaca”. Menurut gramatikal Arab, lafadz Alquran adalah isim masdar dengan arti isim maf’ul yang berarti “yang dibaca”[1]. ada beberapa ulama yang mengartikan Alquran menurut bahasa antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Al-Farra, beliau menyatakan bahwa Alquran artinya adalah membenarkan, karena Alquran terambil dari kata “qarain”, jamak dari “qaraniah”. Dan firman Allah disebut Alquran dengan arti yang demikian ayat-ayat dalam Alquran satu sama lain saling benar membenarkan.
  2. Al-Asy’ari, beliau mengatakan bahwa Alquran artinya ialah menggabungkan sesuatu dengan yang lain, karena Alquran terambil dari kata “qarana”. Dan Alquran berarti demikian, karena surat-surat maupun ayat-ayat bahkan juga huruf-hurufnya saling beriringan dan bergabung satu dengan yang lain.
  3. Az-Zajjaj, beliau mengartikan bahwa Alquran artinya adalah mengumpulkan, karena Alquran berasal dari kaa “Qar’i” dan firman Allah disebut demikian, karena Alquran mengumpulkan surat-suratnya menjadi satu kesatuan, atau karena mengumpulkan saripati kitab-kitab suci Allah yang turun sebelumnya.

Setelah dimaknai secara etimologis demikian, kata “Alquran” terlaku dalam keumuman dimaknai sebagai “kalam Allah yang dibaca oleh para hamba”.

Sedangkan Pengertian al-Qur’an menurut istilah (terminologi), terdapat definisi yang berfariasi, para ulama’ berfariasi dalam merumuskan definisi al-Qur’an, antara lain:

  1. Menurut Wahbah az-Zuhaili[2]

Alquran ialah firman Allah ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan menggunakan bahasa Arab, yang memiliki fungsi i’jaz (melemahkan argumen musuh) di tiap suratnya -terpendek sekalipun-, sebagaimana tertulis dalam mushaf yang dinukil secara berurutan, yang pembacaan terhadapnya dianggap sebagai ibadah, dan yang diawali dengan surat al-fatihah serta diakhiri dengan surat an-naas

  1. Menurut Muhammad Khudari Beik[3]

Al-Qur’an adalah firman Allah yang berbahasa arab yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW untuk dipahami isinya dan diingat selalu, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang sudah ditulis dalam mushaf dimulai dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nas

  1. Menurut Syaikh Muhammad Abduh

Alkitab atau Alquran ialah bacaan yang telah tertulis dalam mushaf-mushaf yang terjaga dalam hafalan-hafalan umat islam.

  1. Menurut Abdul Wahhab Khallaf[4]

Alquran ialah firman Allah yang diturunkan melalui Ruhul Quds (Malaikat Jibril) ke dalam hati utusan Allah Nabi Muhammad saw dengan lafadz-lafadz yang berbahasa Arab dan makna-makna hakiki, agar menjadi argumen bahwasanya beliau benar-benar merupakan utusan Allah. Sebagai pedoman bagi kehidupan manusia, yang pembacaan terhadapnya dikategorikan sebagai ibadah. Ia tersusun di antara dua sisi mushaf, yang dimulai dengan surat al-fatihah, dan diakhiri dengan surat an-naas, yang disampaikan kepada kita secara berurutan, secara tulisan maupun pembacaan, dari masa ke masa, terjaga dari perubahan dan penggantian.

Meskipun ada beberapa perbedaan dari definisi-definisi yang dikemukakan para ulama diatas, namun bisa kami simpulkan bahwa semuanya bersepakat mendefinisikan Alquran sebagai: “Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah”.

Di dalam Alquran sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagal tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18)

Artinya:

‘Sesungguhnya mengumpulkan Al Qur’an (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggunggan kami. kerana itu jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikut bacaannya”.

Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.

Dari pemahaman-pemahaman diatas, merupakan sebuah hal yang maklum bagi kita bahwa Alquran merupakan sebuah kumpulan wahyu yang otentik, yang benar-benar berasal dari firman Allah swt dan tidak ada keraguan didalamnya.[5] Salah satu persoalan terkait Alquran yang perlu dipahami oleh kalangan akademisi dari sisi originalitas dan keotentikannya ialah pengetahuan tentang sejarah penurunannya. Hal ini perlu dipahami sebagai jawaban atas keraguan-keraguan yang dilontarkan oleh berbagai fihak yang berusaha merusak keyakinan ummat islam terhadap Alquran.

Untuk tujuan tersebut, dalam makalah ini akan dipaparkan persoalan tentang bagaimana wahyu Alquran diturunkan, kemudian periodisasi penurunannya, dan pembahasan tentang Sab’atu Ahruf.

  1. PEMBAHASAN

Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan[6].

Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan orang-orang musyrik.

Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan kitab-kitab yang dikenal manusia.

Dari sini, merupakan sebuah kebutuhan bagi kita untuk membahas persoalan bagaimana Alquran sebagai sebuah wahyu Allah diturunkan, yang dilanjutkan dengan periodisasi penurunannya serta pembahasan mengenai Sab’atu Ahruf.

B.1 Bagaimanakah Alquran Diwahyukan.

Literatur mengenai hal ini terdapat banyak sekali. Salah satu diantaranya ialah dalam kitab kumpulan hadits Sahih Bukhari yang didalamnya ada satu bab khusus yang membahas persoalan turunnya wahyu. Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits yang tertera dalam kitab tersebut:

  1. Dari ‘Aisyah, Ummul Mu’minin r.a Katanya Harits bin Hisyam r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: “bagaimanakah caranya wahyu turun kepada Anda?”

Jawab Rasulullah saw. “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku (kedengaran) seperti loceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, lantas aku mengerti apa yang dikatakannya.”

“Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki datang kepadaku. Dia berbicara kepadaku dan aku mengerti apa yang dikatakannya.”

Kata ‘Aisyah r.a. “ Aku pernah melihat Nabi, ketika wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimbah peluh.[7]

  1. Dari Aisyah, Ummul Mu’minin r.a. katanya: “ Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah saw. Ialah berupa mimpi-baik waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah isterinya. Untuk itu beliau membawa bekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali pula ke Gua Hira, hingga suatu ketika datang kepadanya Al-Haq (kebenaran atau wahyu), yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira itu.”

Malaikat datang kepadanya, lalu katanya, “Bacalah!”

Jawab Nabi, “ Aku tidak pandai membaca.”

Kata Nabi selanjutnya menceritakan, “Aku ditarik dan dipeluknya sehingga aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca.

“Bacalah !” katanya.

Jawabku, “ Aku tidak pandai membaca.”

Aku ditarik dan dipeluknya pula sampai kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca. “Bacalah.!” Katanya.

Kujawab, “Aku tidak pandai membaca.”

Aku ditarik dan dipeluknya untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskannya seraya berkata:

“(bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu Yang Maha Mulia.)”

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, “Selimuti aku! Selimuti aku!”

Lantas diselimuti oleh Khadijah, hingga hilang rasa takutnya.

Kata Nabi saw. Kepada Khadijah (setelah dikhabarkannya semua kejadian yang baru dialaminya itu), “Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”

Kata Khadijah, “Jangan takut! Demi Allah! Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan (mengadakan) barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan kerana menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Nasrani (Krintian) pada masa jahiliyah itu. Ia pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. 4) Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa dikehendaki Allah dapat disalinnya. 5) Usianya telah lanjut, dan matanya telah buta.

Kata Khadijah kepada Waraqah, “ Hai anak pamanku! Dengarkanlah khabar dari Anak Saudara Anda Muhammad ini.”

Kata Waraqah kepada Nabi. “Wahai Anak Saudaraku ! Apakah yang telah terjadi atas diri Anda?”

Lalu Rasulullah saw, menceritakan kepadanya semua peritiwa yang telah dialaminya.

Berkata Warakah, “Inilah namus (Malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Wahai, semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.”

Maka bertanya Nabi saw. “Apakah mereka akan mengusirku?”

Jawab Waraqah, “ Ya, betul! Belum pernah seorang juapun yang diberi wahyu seperti Anda, yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, nescaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.”

Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara waktu.[8]

  1. Kata Ibnu Syihab, Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepadanya, bahawa Jabir bin Abdullah al Anshari menceritakan tentang terputusnya wahyu, katanya Nabi saw berkata dalam hadisnya: “Pada suatu waktu, ketika aku sedang berjalan-jalan, tiba-tiba kedengaran olehku suatu suara dari langit. Maka kuangkat pandanganku kearah datangnya suara itu. Kelihatan kepadaku malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hira dahulu. Dia duduk di kursi antara langit dan bumi. Aku terperanjat kerananya dan terus pulang. Aku berkata kepada Khadijah, “selimutkan Aku!” Lalu Allah swt. Menurunkan ayat:

“Hai, orang yang berselimut! Bangunlah! Maka berilah peringatan! Dan besarkanlah Tuhanmu! Dan bersihkanlah pakaianmu! Dan jauhilah berhala!” (Al Muddatstsir, 74:1-5)[9]

  1. Dari Ibnu Abbas r.a. katanya: “ Rasulullah saw. Adalah seorang yang amat permurah, dan lebih permurah lagi selama bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril datang menemuinya. Biasanya  Jibril datang kepada Nabi saw. Tiap-tiap malam Ramadhan dan beliau-beliau keduanya membaca Qur’an berganti-ganti. Sesungguhnya Rasulullah saw. Lebih pemurah berbuat kebaikan daripada murahnya angin berhembusan.”[10]

Dari hadits-hadits diatas, kita dapat mengetahui bahwa ada dua persoalan terkait turunnya wahyu Alquran. Pertama tentang ayat / surat apakah yang pertama kali turun dan Kedua bagaimanakah gambaran kondisi ketika wahyu diturunkan.

Persoalan pertama yakni tentang ayat / surat apakah yang pertama kali turun berawal dari perbedaan antara riwayat Aisyah dan Jarir, dimana jika Aisyah menyatakan bahwa ayat yang pertama turun ialah surat al-Alaq, sedangkan Jarir mengatakannya surat al-Mudatstsir. Dari perbedaan ini, para ahli Ulumul Qur’an kemudian menyatukannya dengan mengatakan bahwasanya karena dari dua hadits tersebut sama-sama menceritakan perihal bahwa wahyu pertama turun saat Nabi sedang menyepi di gua Hira. Hanya perbedaannya, jika Aisyah meriwayatkan bahwa wahyu pertama turun ketika Nabi masih berada di gua tersebut, sedangkan Jarir mengatakannya ketika Nabi pulang dari gua Hira. Dari sini kemudian para ahli Ulumul Qur’an menyimpulkan bahwa wahyu pertama yang turun ialah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah, yakni aurat al-‘alaq, dan diturunkan di saat Nabi masih berada di Gua Hira. Sedangkan untuk hadits riwayat Jarir, mereka berpendapat bahwa ayat surat al-mudatstsir tersebut merupakan yang kedua turunnya.[11]

Persoalan kedua ialah mengenai bagaimana wahyu Alquran turun, dimana dalam hal ini bisa kita simpulkan ada 4 cara, yakni:[12]

  1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku”, sebagaimana tertera dalam surah Asy Syuura ayat 51:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Artinya:

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

  1. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
  2. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.
  3. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surah An Najm ayat 13 dan 14.

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14)

Artinya:

Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di Sidratulmuntaha.

Masih terkait dengan diskursus ini, dalam kata pengantarnya untuk buku Muhammad; Prophet for Our Time, edisi terjemahan bahasa Indonesia, karya Kren Armstrong, Jalaluddin Rahmat melancarkan kritik yang cukup mengena terkait bagaimana prosesi ketika wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan bersandar pada Hadits al-Bukhari no.3 riwayat Aisyah, dimana Jalaluddin memetakan kritiknya pada dua persoalan, yakni[13]:

  1. Kritik Sanad;

Dalam kritik sanad ini, Jalaluddin meyatakan bahwa salah satu perowi dalam hadits tersebut ialah Al-Zuhri, yang merupakan khadim dari khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Al-Zuhri ini terkenal sekali sebagai seseorang yang sangat membenci Ali bin Abi Thalib sekaligus sangat memuji-muji Hisyam bin Abdul Malik yang menjadi khalifah sekaligus majikannya. Demikian juga dengan perowi yang lainnya, yakni Urwah bin Zubair yang oleh Abdullah bin Umar pernah disindir sebagai orang munafik karena sering memuji-muji para khalifah / pemimpin. Dari sini Jalaluddin meragukan sifat keterpercayaan dari para perowi hadits ini.

Kritik sanad selanjutnya ialah bahwa perowi utama dari hadits ini ialah ‘Aisyah, sedangkan pada saat wahyu tersebut turun, ‘Aisyah belum lahir. Namun dalam hadits tersebut seolah beliau menyaksikan secara langsung bagaimana Nabi pulang dari gua Hira, bagaimana Nabi kemudian bertemu Khadijah, dan seterusnya. Lebih lanjut menurut Jalaluddin, memang bisa saja Aisyah mendengar dari Nabi tentang hal ini, namun yang menjadi persoalan, jika demikian adanya, seharusnya haditsnya menggunakan redaksi: ”Aku mendengar Nabi bersabda …”

  1. Kritik Matan;

Dalam kritik matan ini, Jalaluddin mengemukakan bahwa di hadits ini Nabi terlihat tidak memahami fenomena apa yg terjadi pada dirinya hingga khadijah perlu berkonsultasi dengan Waraqah, juga terlihat bahwa beliau sangat ketakutan akan kedatangan Jibril Sang pembawa wahyu. Sehingga terkesan bahwa pengalaman spiritual nabi ini merupakan pengalaman yang begitu mencekam dan menakutkan. Padahal di dalam Alquran Surah al-An’am ayat 125 disebutkan:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Maka menurut Jalaluddin Rahmat, yang paling mungkin benar tentang turunnya wahyu, khususnya wahyu pertama ialah dengan cara yang membuat Rasulullah benar-benar merasa lapang dada sebagaimana dalam QS al-an’am ayat 125, dan bukannya membuat Nabi merasa takut seperti dalam hadits riwayat Aisyah.

B.2 Periode Turunnya Al-Quran

Para ulama ‘Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran.[14]

B.2.1 Periode Pertama

Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: “Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan” (QS 74:1-2).

Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu (QS 74:1-7).

Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil (QS 73:1-4).

Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).

Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216).

Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah.

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, misalnya surah Al-A’la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah “sebanding dengan sepertiga Al-Quran”, karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.

Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma’un yang menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai hidup bergotong-royong.

Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:

  1. Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
  2. Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: “Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami.”
  3. Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.

B.2.2 Periode Kedua

Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua –termasuk Rasulullah saw.– berhijrah ke Madinah.

Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti: Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16:125).

Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: “Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud” (QS 41:13).

Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Manusia memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?” Katakanlah, wahai Muhammad: “Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamu sekalian membakar.” Tidaklah yang menciptakan langit dan bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: “Jadilah!”Maka jadilah ia (QS 36:78-82).

Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: “Siapakah di antara manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan dengannya.

Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.

B.2.3 Periode Ketiga

Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?

Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al-Quran menyarankan: Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman (QS 9:13-14).

Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti: Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS 5:90-91).

Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian mendapat peringatan (QS 24:27).

Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: “Janganlah kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya” (QS 3:139-140).

Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar, sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad): “Wahai ahli kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan Allah.” Maka bila mereka berpaling katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (QS 3:64).

 

B.3 Pembahasan Sab’atu Ahruf

Nabi mempunyai pandangan yang jauh kedepan dalam hal berdakwah dan mensosialisasikan Al-Quran kepada para sahabatnya. Nabi melihat bahwa orang Arab terdiri dari berbagai macam puak (kabilah) yang mempunyai berbagai macam dialek. Di samping itu Nabi menginginkan agar Al-Quran bisa dibaca oleh semua kalangan, mulai dari anak kecil, yang buta huruf sampai orang tua. Dalam sebuah hadis disebutkan:

لقى رسول الله صلى الله عليه وسلم جبريل فقال يا جبريل إنى بعثت إلى أمة أميين : منهم العجوز، والشيخ الكبير، والغلام، والجارية، والرجل، الذى لم يقرأ كتاباً قط، قال : يا محمد إن القرآن أنزل على سبعة أحرف

“Nabi bertemu Jibril, lalu beliau berkata: Hai Jibril, aku diutus kepada umat yang ummi (buta huruf), di antara mereka ada yang sudah tua, anak-anak, dan orang yang tidak bisa membaca sama sekali. Jibril berkata: Hai Muhammad, sesungguhnya Al-Quran diturunkan dalam tujuh huruf.” (HR Abi Ibnu Ka’b ra.)

Banyak sahabat yang meriwayatkan hadis yang semisal dengan hadis di atas. Abdushabur Syahin dalam kitabnya “Tarikh Al-Quran” menyebutkan bahwa ada 25 sahabat yang meriwayatkan hadis ini. Sedangkan jumlah sanad dari 25 sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut ada 46 sanad. Dari jumlah tersebut yang mempunyai kwalitas dla’if berjumlah 8 sanad, selainnya yang berjumlah 38 sanad berkualitas sahih. Dilihat dari sisi ini Syahin menggolongkan hadis ini kedalam hadis yang mutawattir.[15]

Banyak ulama yang berbeda pendapat dalam memahami hadis diatas. Secara garis besar bisa terbagi menjadi dua pendapat:

  1. Yang mengatakan bahwa hadis tersebut termasuk “mutasyabihat” atau yang sukar dipahami maknanya.
  2. Yang mengatakan bahwa hadis tersebut bisa dipahami maknanya.

Mereka yang bisa memahami maksud hadis tersebut, berbeda pemahaman dalam menyikapi kata “tujuh”. Ada yang memaknainya sebagai bilangan yang pasti yaitu antara bilangan “delapan” dan “enam”, adapula yang memaknai angka tersebut sebagai kiasan dari “sesuatu yang banyak”, sebagaimana bilangan “tujuh puluh” untuk bilangan banyak pada hitungan “puluhan” sebagaimana firman Allah:

اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka.” (QS At-Taubah: 80)

Atau bilangan “tujuh ratus” untuk bilangan “ratusan” sebagaimana firman Allah :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Jika yang dimaksud dengan bilangan “tujuh” adalah kiasan untuk arti banyak, maka pengertian hadis tersebut adalah bahwa Al-Quran bisa dibaca dengan banyak ragam bacaan dan semuanya berasal dari Allah.

Sementara mereka yang berpendapat bahwa bilangan “tujuh” adalah “haqiqatul ‘adad” (tujuh apa adanya) juga berbeda pendapat didalam menentukan tujuh huruf tersebut.

Ada yang berpendapat “tujuh bahasa” sebagaimana yang diutarakan oleh Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (w 224 H) dengan arti bahwa tujuh bahasa tersebut adalah induk dari bahasa-bahasa Arab yang masyhur seperti: Quraisy, Hudzail, Tamim, Azd, Rabi’ah, Hawazin, dan Sa’d bin Bakr. Satu bahasa terkadang lebih banyak digunakan dari yang lainnya, tapi tidak sampai keluar dari tujuh bahasa tersebut. Mereka pun berbeda pendapat dalam menentukan “tujuh bahasa”.

Ada yang berpendapat bahwa maksud dengan “sab’atu ahruf” adalah “sab’atu Qira’at” (tujuh bacaan). Artinya ada beberapa kalimat Al-Quran yang dibaca dengan satu bacaan saja. Ada juga yang dibaca dengan dua, tiga, tapi  maksimal sampai tujuh aneka bacaan.

Ada yang memaknai bahwa maksud dengan “sab’atu ahruf” adalah “sab’atu Aujuh” atau tujuh macam perbedaan dalam cara pengucapan. Contohnya antara mufrad dan jama’, antara mudzakkar dan muannats, antara taqdim dan ta’khir dan lain sebagainya. Mereka yang mengikuti pendapat inipun berbeda pendapat, seperti analisa Ibn Al-Jazari (w 833 H) berbeda dengan analisa Abu Al-Fadl Ar-Razi. Ar-Razi mengatakan bahwa tujuh macam perbedaan itu seperti:

  1. Perbedaan bentuk isim seperti mufrad-tatsniyah-jama’ antara tadzkir-ta’nits.
  2. Perbedaan bentuk fi’il seperti madli-mudlari’-amar.
  3. Perbedaan i’rab seperti rafa’-nashab-jazm.
  4. Naqsh-ziyadah (penambahan dan pengurangan huruf).
  5. Taqdim-ta’khir.
  6. Ibdal (mengganti huruf)
  7. Perbedaan dialek seperti: imalah-fath, tarqiq-tafkhim, idgham-izhar.[16]

Sementara Ibn al-Jazari mengatakan bahwa 7 macam perbedaan itu adalah:

  1. Perbedaan harakat tanpa merobah makna dan bentuk kalimat seperti: (البخل) (يحسب).
  2. Perbedaan huruf yang menyebabkan perbedaan makna bukan bentuk kalimat (shurah) seperti :(فتلقى آدم من ربه كلمات)  .
  3. Perbedaan huruf yang menyebabkan perbedaan makna, tapi tidak dalam bentuk kalimat (shurah) seperti:(هنالك تبلوا – تتلوا) (ننجيك – ننحيك) .
  4. Perbedaan huruf  yang tidak merobah makna seperti: (الصراط – السراط).
  5. Perobahan huruf dan makna seperti:  (امضوا الى ذكر الله – فاسعوا) dan (أشد منكم – منهم قوة)
  6. Taqdim-Ta’khir seperti : (فيقلتون – ويقتلون).
  7. Tambahan dan pengurangan huruf seperti: (ووصى – وأوصى) [17]

Ibn al-Jazari memandang bahwa perbedaan dari segi bacaan: Imalah-Fath, Idgham-Izhar, Raum-Isymam, Tafkhim-Tarqiq, tahqiq-tashil-Ibdal-Naql, Mad-Qashr, bukanlah perbedaan yang hakiki.

Masih banyak lagi ulama yang memberikan komentar terhadap hadis di atas. Imam Suyuthi menyebutkan sampai 36 pendapat. Dari ke 36 pendapat tersebut ada yang lebih mendekati kepada “ruh an-nash” ada yang sudah di luar jalur, seperti mereka yang menganalisa tujuh macam perbedaan tersebut terkait dengan makna, seperti “halal-haram”, “janji-ancaman” dan lain sebagainya. Adanya banyak pendapat tersebut dikarenakan tidak adanya satu teks / nash dari Nabi atau sahabat yang menjelaskan arti “Sab’atu Ahruf” sebagaimana dikatakan oleh Ibn Al-‘Arabi seperti dikutip oleh Az-Zarkasyi:[18]

(لم يأت في معنى هذا السبع نص ولا أثر واختلف الناس في تعيينها)

“Tidak ada satu penjelasanpun yang menentukan arti dari “sab’atu ahruf” ini. Oleh karena itu para ulama berbeda pendapat.”

Dalam pandangan penulis, menentukan “sab’atu ahruf” dalam ketiadaan nash atau atsar hanyalah ijtihadi saja, bukan merupakan kepastian. Boleh jadi begitu, boleh juga lainnya. Yang perlu digaris-bawahi dalam mengamati arti “sab’atu ahruf” adalah bahwa Nabi mengajarkan Al-Quran kepada para sahabatnya:

  1. Dengan “aujuh mutaghayirah” (beragam bacaan). Satu bacaan berbeda dengan lainnya dari segi cara pelafalannya. Perbedaan tersebut adakalanya terkait dengan bahasa, dialek, atau lainnya. Adakalanya menyebabkan perbedaan makna dan adakalanya tidak.
  2. Beragam bacaan tersebut semuanya “munazzalah” atau diturunkan oleh Allah kepada NabiNya atau semuanya berasal dari Allah melalui NabiNya.
  3. Tujuan dari semuanya  adalah untuk memudahkan bagi umatnya.

Para ulama juga berbeda pendapat tentang eksistensi “sab’atu ahruf” saat ini. Apakah masih eksis atau tinggal satu huruf yaitu Harf Quraisy. Begitu juga mereka berbeda pendapat tentang eksistensi “sab’atu ahruf” pada rasm usmani. Ada yang mengatakan tinggal satu yaitu harf quraisy. Ada yang mengatakan semuanya masih ada, karena umat Islam tidak bisa menghilangkan bacaan yang pernah diajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya. Mereka harus mempertahankan eksistensi qira’at-qira’at tersebut. Ibn Al-Jazari berpendapat bahwa tulisan pada mushaf usmani yang ada sajalah yang  masih mencakup Al-Ahruf As-Sab’ah. Hal itu tidak mengikut sertakan bacaan yang telah dinasakh.  Menurut pendapat penulis apa yang dikatakan oleh Ibn Al-Jazari cukup beralasan mengingat ragam bacaan yang terdapat pada qira’ah tujuh atau sepuluh masih bisa dibayangkan unsur taysir atau kemudahannya seperti bacaan idgham atau imalah dan lain sebagainya. Bisa dikatakan bahwa bacaan yang ada pada Qira’at Tujuh dan Sepuluh adalah sebagian dari al-Ahruf as-Sab’ah yang dahulu pernah diajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya. Nabi berkata :

إن هذا القرآن أنزل على سبعة أحرف فاقرءوا ما تيسر منه.

Sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas tujuh huruf, maka bacalah apa yang mudah darinya.”[19]

Perkataan Nabi ini menjelaskan bahwa umat Islam tidak wajib membaca semua varian bacaan, tapi mereka diperbolehkan memilih dari beberapa varian bacaan yang ada sesuai dengan apa yang mudah bagi mereka. Perkataan Nabi ini  memberikan pemahaman bahwa mempertahankan keseluruhan Al-Ahruf As-Sab’ah adalah tidaklah wajib. Betapapun demikian, bacaan yang mutawatir perlu dilestarikan untuk menjaga keaslian dan keotentikan Al-Quran.

 

  1. KESIMPULAN
  1. Ada dua pendapat tentang ayat yang pertama turun, yakni jika menurut Aisyah, ialah surat iqra, sedangkan menurut Jarir, yang pertama kali turun ialah surat al-Mudatstsir. Dua pendapat ini oleh para ahli Ulumul Qur’an digabungkan sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa ayat yang pertama kali turun ialah surat iqra, dan selanjutnya surat al-mudatstsir
  2. Menurut para ahli Ulumul Qur’an, Ada 4 cara penurunan wahyu Alquran, yakni:
  1. Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya.
  2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya
  3. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng
  4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli

Empat model penurunan Alquran semacam ini berdasarkan hadits-hadits terkait turunnya wahyu. Meski demikian, Jalaluddin Rahmat menolak semua pendapat diatas, dan lebih memilih melihat QS. Al-An’am ayat 125 dan berkesimpulan bahwa turunnya wahyu kepada Nabi tidaklah berat, namun malah melapangkan dada Nabi.

  1. Periodisasi penurunan ayat Alquran jika mengacu pada pendapat Quraisy Shihab terbagi menjadi 3:
  1. Periode pembentukan Nabi Muhammad sebagai Rasul
  2. Periode Dakwah ketauhidan
  3. Periode Peradaban
  1. Pembahasan mengenai Sab’atu Ahruf meliputi perdebatan sebagai berikut:
  1. Tentang apakah hadits yg menyikapi persoalan ini termasuk mutasyabihat atau tidak. Kemudian bercabang menjadi perdebatan apakah kata “tujuh” tersebut merupakan kiasan atau benar-benar “tujuh”.
  2. Demikian juga pada pemaknaan kata “ahruf”. Ada yang memaknainya sebagai “bahasa”, ada yang memaknainya “qira’at”, dan ada yang memaknainya “aujuh / macam pengucapan”

Dari perdebatan-perdebatan tersebut, pada dasarnya hanyalah persoalan ijtihadi saja, karena tidak ada nash khusus menyikapi hal ini. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah bahwasanya Nabi Muhammad mengajari sahabatnya berbagai ragam bacaan Alquran dan kesemuanya itu benar-benar munazzalah (diturunkan) oleh Allah swt dan bertujuan untuk memudahkan ummat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahannya (Semarang : CV. Toha Putra, 1989)

 

Ibn al-Jazari, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf, Thayyibah an-Nasyr fi al-Qirâ’ah al-‘Asyr (Maktabah Syamilah)

 

Khudari Beik, Muhammad, Ushûl al-Fiqh (Kairo : Dar al-Hadits, 2003)

 

Quraisy Shihab, M., Membumikan Al-Quran; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Penerbit Mizan, 1998, cet. XVIII)

 

Rahmat, Jalaluddin, Kata Pengantar Untuk : Armstrong, Karen, Muhammad : Prophet for Our Time, terj. Yuliani Liputo (Bandung : Mizan, 2007)

 

Syahin, Abdushabur, Târîkh al-Qur’an al-Karim (Jeddah, Al-Fath, 1946)

 

Asy-Syuyuthi, Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar, Al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’an (Riyadl : Penerbitan Raja Fahd, tt)

 

Wahhab Khallaf, Abdul, Ilm al- Ushûl al-Fiqh (Beirut : Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2010)

 

Az-Zarkasyi, Badruddin Muhammad bin Abdillah bin Bahadur, Al-Burhâ fî ‘Ulûm al-Qur’an, (Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, 1957)

 

Az-Zuhaili, Wahbah, Ushûl Fiqh al-Islâmy (Damaskus : Dar al-Fikr, 2008)

 

[1] Wahbah az-Zuhaili, Ushûl Fiqh al-Islâmy (Damaskus : Dar al-Fikr, 2008), Juz I, hal. 404

[2] Ibid, hal. 405

[3] Muhammad Khudari Beik, Ushûl al-Fiqh (Kairo : Dar al-Hadits, 2003), hal. 207

[4] Abdul Wahhab Khallaf, Ilm al- Ushûl al-Fiqh (Beirut : Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 2010), hal.17

[5] QS. Al-Baqarah: 2

[6] M. Quraisy Shihab, Membumikan Al-Quran; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Penerbit Mizan, 1998, cet. XVIII), hal. 34

[7] HR al-Bukhari (no.2). untuk redaksi hadits tersebut ialah sebagaimana berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ الحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يَأْتِيكَ الوَحْيُ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الجَرَسِ ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ ” قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الوَحْيُ فِي اليَوْمِ الشَّدِيدِ البَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

[8] HR. al-Bukhari (no.3). untuk redaksi hadits tersebut ialah sebagaimana berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ: أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ العَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا، حَتَّى جَاءَهُ الحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ، فَجَاءَهُ المَلَكُ فَقَالَ: اقْرَأْ، قَالَ: ” مَا أَنَا بِقَارِئٍ “، قَالَ: ” فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: اقْرَأْ، فَقُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ، فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي، فَقَالَ: { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ } ” فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقَالَ: ” زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ” فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الخَبَرَ: ” لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي ” فَقَالَتْ خَدِيجَةُ: كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الكَلَّ ، وَتَكْسِبُ المَعْدُومَ ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الحَقِّ، فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ العُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ يَكْتُبُ الكِتَابَ العِبْرَانِيَّ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ، فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ: يَا ابْنَ عَمِّ، اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى ؟ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى، فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ: هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى، يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا ، لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ “، قَالَ: نَعَمْ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ، وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ، وَفَتَرَ الوَحْيُ.

[9] HR. al-Bukhari (no.4). untuk redaksi hadits tersebut ialah sebagaimana berikut:

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ: وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ: ” بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي، فَإِذَا المَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي ” فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: { يَا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ . قُمْ فَأَنْذِرْ } إِلَى قَوْلِهِ { وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ } . فَحَمِيَ الوَحْيُ وَتَتَابَعَ. تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، وَأَبُو صَالِحٍ، وَتَابَعَهُ هِلاَلُ بْنُ رَدَّادٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَقَالَ يُونُسُ، وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ.

[10] HR. al-Bukhari (no.6). untuk redaksi hadits tersebut ialah sebagaimana berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ : أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ قَالَ : أَخْبَرَنَا يُونُسُ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ (ح) وَحَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ : أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ قَالَ : أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ : أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

[11] Badruddin Muhammad bin Abdillah bin Bahadur az-Zarkasyi, Al-Burhâ fî ‘Ulûm al-Qur’an, (Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, 1957), juz I, hal. 201

[12] Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahannya (Semarang : CV. Toha Putra, 1989), hal. 16

[13] Jalaluddin Rahmat, Kata Pengantar Untuk : Karen Armstrong, Muhammad : Prophet for Our Time, terj. Yuliani Liputo (Bandung : Mizan, 2007), hal. 26-27

[14] Quraisy Shihab, Membumikan Al-Quran; hal. 34

[15] Abdushabur Syahin, Târîkh al-Qur’an al-Karim (Jeddah, Al-Fath, 1946), hal. 56

[16] Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar Asy-Syuyuthi, Al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’an (Riyadl : Penerbitan Raja Fahd, tt), juz I hal. 131

[17] Ibn al-Jazari Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf, Thayyibah an-Nasyr fi al-Qirâ’ah al-‘Asyr (Cirebon: DQ Press, 2010), Juz I, hal.38

[18] Az-Zarkasyi, Al-Burhân, juz I, hal. 212

[19] HR Muslim (no. 1936)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *