KISAH DAN PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN (Ilustrasi Pesan Qur’ani)  

Oleh : Anas Fais Hermawan

PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan kitab suci pedoman seluruh umat Islam yang memiliki mukjizat paling besar. Kemukjizatannya dalam segi manapun dapat ditemukan. Mulai dari susunan bahasa, pesan moral, sampai pada susunan huruf dalam tiap kalimat pun akan ditemukan nilai kemukjizatannya.

Berbeda dengan kitab-kitab suci pendahulunya, Al-Qur’an mempunyai keunikan yang sejalan dengan fungsi pengutusan Rasulullah SAW, yakni rahmatan li al-âlamîn (rahmat untuk seluruh alam). Dalam artian Al-Qur’an sebagai kitab suci universal yang mampu menjawab dan menjelaskan semua sudut dalam setiap sisi kehidupan manusia yang beraneka macam dan ragam bentuknya. Allah secara tegas menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan tidak hanya untuk umat tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia yang ada dalam setiap masa dan tempatnya. Sebagaimana QS. As-Saba’ ayat 28 yang berbunyi:

!$tBur y7»oYù=y™ö‘r& žwÎ) Zp©ù!$Ÿ2 Ĩ$¨Y=Ïj9 #ZŽÏ±o0 #\ƒÉ‹tRur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇËÑÈ

..dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (As-Saba’ : 28)[1]

 

Sebagaimana islam yang telah mengklaim diri sebagai suatu ajaran yang final, Al-Qur’an sebagai kitab suci dari agama Islam haruslah lebih sempurna dari kitab suci pendahulunya. Menurut Sayid Muhammad Husein Thabataba’i, nilai-nilai kebenaran yang ada dalam kitab-kitab samawi (seperti Zabur, Taurat, dan Injil) diadopsi dan disempurnakan dalam Al-Qur’an dengan beberapa tambahan[2]. Keyakinan bahwa Islam sebagai agama yang mutlak dan final sebagaimana telah digariskan dalam Al-Qur’an menyebabkan suatu keniscayaan bahwa pesan Al-Qur’an wajib dan harus tersampaikan kepada seorang muslim secara menyeluruh (kaffah).

Lain dari pada itu, pada sisi lain seorang manusia muslim pada dasarnya memiliki perbedaan kadar ukuran kemampuan untuk menerima dan mengkonsumsi materi yang masuk kedalam otaknya. Seseorang mungkin faham dengan sebuah pernyataan hanya dalam sekilas pandang mengenai suatu hal. Namun lain halnya dengan mereka yang dikaruniai kemampuan terbatas yang harus menghafal bahkan sampai 70 kali untuk satu materi saja. Hal ini memang manusiawi dan inilah yang kemudian menjadi alasan kenapa dalam Al-Qur’an harus disertakan contoh-contoh (amtsâl) serta kisah-kisah (qashash) antara lain hikmahnya adalah sebagai penguat dan penjelas mengenai makna pesan yang dikandung suatu ayat dalam Al-Qur’an.

Menurut Kuntowijoyo, pada dasarnya terbagi menjadi dua. Yakni, Bagian pertama adalah berisi tentang konsep-konsep dan bagian kedua adalah Kisah-kisah dan perumpamaan[3]. Pembagian seperti ini memberi isyarat bahwa kompleksitas pesan konsep yang terdapat dalam Al Qur’an inilah yang kemudian diperjelas oleh Allah melalui bagian yang kedua, yakni kisah-kisah dan perumpamaan.

Masih banyak sekali hikmah yang terkandung dalam amtsal dan qashash dalam Al-Qur’an yang kemudian menjadi sebuah perhatian khusus bagi penulis untuk mengkaji lebih lanjut mengenai kedua term kandungan isi Al-Qur’an ini. Makalah ini penulis susun dalam rangka mencari beberapa hubungan keterkaitan antara tujuan penyampaian Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci dengan penyertaan bentuk-bentuk perumpamaan dan penceritaan di dalamnya.

PEMBAHASAN

  1. Perumpamaan dalam Al-qur’an (amtsâl Al-Qur’an)
  2. Definisi Amtsâl Al-Qur’an

Kata amtsâl adalah isim jamak yang berasal dari mufrod mitslu atau kata dasar matsala yang berarti perumpamaan atau contoh. Manna’ al-Qaththan dalam mabahits fi al-Ulum al-Qur’an menyerupakan makna al-Mitslu dengan al-Syibhu baik secara lafaz ataupun maknanya[4].

Secara terminologis kata matsal atau amtsâl diartikan oleh para ahli sastra sebagai ucapan atau ungkapan yang telah biasa diungkapkan untuk menyamakan keadaan sesuatu dikaitkan dengan keadaan sesuatu (yang lain) yang dituju[5].

Dalam kaitannya dengan ilmu Ulumul Qur’an, kata ini sering didefinisikan sebagai istilah untuk ayat-ayat yang mengandung bentuk perumpamaan tentang suatu hal dengan hal lain. Sebagian ulama’ tafsir membagi term amtsâl kaitannya dengan ini ke dalam bagian yang mendorong untuk berfikir Yakni, ayat-ayat yang dalam memahaminya tidak dapat dilakukan kecuali dengan proses berfikir. Namun pengertian semacam ini nampaknya lebih luas cakupannya dari sekedar amtsâl. Karena banyak sekali ayat-ayat yang dalam memahaminya memerlukan sebuah proses berfikir dan bukan hanya dalam bentuk perumpamaan saja. Ayat-ayat yang menjelaskan tentang kejadian dan kosmologi alam semesta juga merupakan satu bentuk kelommpok ayat yang memerlukan pemikiran dalam memahaminya.

Kata al-Mitslu menurut al-Qaththan juga dapat diistilahkan untuk ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal atau cerita yang spektakuler (luar biasa)[6]. Pemikiran inilah yang kemudian menjadikan ayat-ayat yang termasuk dalam kategori amtsâl banyak sekali jumlahnya karena pembahasan mengenai hal meluas meliputi pemberitaaan tentang apapun yang luar biasa seperti syurga atau neraka yang juga menjadi salah satu bagian dari ayat-ayat amtsâl.

Terdapat perbedaan antara ulama’ mengenai esensi dari makna amtsâl dalam Al-Qur’an. Sebagaian ulama’ berpendapat bahwa Bayânul amtsâl sebagai sebuah bentuk majaz murakkab yang konteksnya adalah perumpamaan. Dalam hal ini amtsâl diidentikkan sebagai bentuk istiârah tamtsîliyah (kiasan yang menyerupakan). Berbeda dengan ulama’ tafsir yang menyatakannya sebagai bentuk pengungkapan mengenai hal-hal yang abstrak dalam bentuk indah,singkat, dan menarik sehingga mudah untuk masuk kedalam jiwa, baik dalam bentuk tasybîh ataupun majâz mursal (ungkapan bebas)[7].

Dalam beberapa ayatnya, Allah secara tegas menyatakan bahwa Allah memang “dengan sengaja” membuat penjelasan dengan bentuk perumpamaan (amtsâl) dalam beberapa firmanNya. Ayat-ayat yang dimaksud antara lain:

 

….Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (QS. Ar-Ra’d : 17)

….Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrahim : 25)

….Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.(QS. Muhammad : 3)

 

Begitu penting pemahaman mengenai ayat-ayat perumpamaan (amtsâl) yang disisipkan oleh Allah dalam firmanNya sehingga terdapat beberapa ayat yang mengkaitkan antara pengingkaran bentuk amtsâl sebagai salah satu bentuk kekufuran.

Dan Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (Nya) (QS. Al Isra’ : 89).

 

  1. Macam-macam Amtsâl Al-Qur’an

Amtsâl dalam Al-Qur’an dari segi pengungkapannya terbagi menjadi tiga macam. Yakni al-Amtsâl al-Musharrahah, al-Amtsâl al-Kâminah, dan al-Amtsâl al-Mursalah[8].

  1. al-Amtsâl al-Musharrahah

Merupakan bentuk perumpamaan dalam Al-qur’an yang pengungkapannya diungkapkan secara jelas. Yakni dengan menggunakan kata mitsli ataupun lafadz lain yang serupa atau semakna dengan kata mitsli. al-Amtsâl al-Mursalah merupakan bentuk amtsâl yang paling banyak dalam Al-Qur’an. Adapun beberapa contoh al-Amtsâl al-Musharrahah dalam Al-Qur’an akan dibahas pada sub bab pembahasan selanjutnya.

  1. al-Amtsâl al-Kâminah

Macam yang kedua ini merupakan bentuk perumpamaan yang didalamnya tidak disebutkan secara jelas menggunakan lafadz perumpamaan (tamtsîl), namun ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam redaksinya yang padat, dan mempunyai pengaruh tersendiri ketika dialihkan kepada yang serupa dengannya[9]. yang perlu ditegaskan dalam hal ini adalah bahwa sebenarnya Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskannya sebagai sebuah bentuk perumpamaan. Hanya saja isi kandungannya salah satu bentuk perumpamaan[10].

Penggolongan ayat ke dalam al-Amtsâl al-Kâminah cenderung lebih menuai pro dan kontra. Seorang Muslim atau satu kelompok dalam Islam mungkin bisa mengatakan bahwa satu ayat dinyatakan sebagai ayat al-Amtsâl al-Kâminah, namun berbeda dengan kelompok lain yang belum tentu menyatakannya sebagai ayat al-Amtsâl al-Kâminah. Hal ini dikarenakan penafsiran atau pemahaman ayat sebagai ayat al-Amtsâl al-Kâminah cenderung bergantung pada subjektifitas tiap Muslim itu sendiri.

  1. al-Amtsâl al-Mursalah

Al-Amtsâl al-Mursalah merupakan bentuk perumpamaan dalam al-Qur’an yang bebas, tanpa lafadz tasbih tetapi masih dapat di golongkan matsal. Ia sudah berlaku di masyarakat dan sudah menjadi ungkapan sehari-hari[11].

Dalam hal ini al-Zarkasyi berbeda pendapat dengan Manna’ al Qhattan. Al-Zarkasyi membagi amtsâl hanya menjadi dua macam yakni  amtsâl dhahir (sharih) dan amtsâl kaminah (ghairu sharih)[12]. Keduanya identik dengan dua bagian  amtsâl dalam pembagian Manna’ al-Qaththan yakni al-Amtsâl al-Musharrahah dan al-Amtsâl al-Kâminah.. Al-Zarkasyi tidak memasukkan al-Amtsâl al-Mursalah sebagai salah satu bentuk amtsâl dikarenakan perumpamaan dan perbandingan pada amtsal mursalah kurang jelas atau kurang nampak karena amtsâl ini menggunakan peribahasa.

Secara global, dalam masalah al-Amtsâl al-Mursalah, ulama’ berbeda pendapat tentang apa dan bagaimana hukum menggunakannya sebagai matsâl. Ada dua pendapat[13]:

Pendapat pertama mengatakan bahwa orang yang mempergunakan al-Amtsâl al-Mursalah telah keluar dari adab Al-Qur’an. Alasannya adalah karena Allah telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk dijadikan matsâl tetapi untuk direnungkan dan diamalkan isi kandungannya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa tidak ada halangan bila seseorang mempergunakan Al-Qur’an sebagai matsâl dalam keadaan sungguh-sungguh. Misalnya ada seseorang diajak untuk mengikuti ajarannya, maka ia bisa menjawab bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

  1. Contoh-contoh Amtsâl Al-Qur’an

Beberapa pembahasan mengenai contoh-contoh ayat amtsâl dalam Al-Qur’an sesuai pembagiannya yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya adalah sebagai berikut:

  1. Contoh al-Amtsâl al-Musharrahah

Contoh al-Amtsâl al-Musharrahah salah satunya adalah seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 261:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al Baqarah : 261).

 

Dalam ayat ini dijelaskan keuntungan besar bagi orang-orang yang mau berinfak dengan menyamakannya terhadap orang yang menanam 1 butir biji yang kelak menghasilkan 700 butir biji. Penyamaan pahala orang yang infak dengan hasil tanaman pada ayat ini jelas menggunakan lafazh matsal. Dalam ayat ini yang disamakan adalah keuntungan.

Contoh al-Amtsâl al-Musharrahah lain adalah Firman Allah mengenai orang munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 17 yang berbunyi:

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (QS. Al Baqarah : 17).

 

Di dalam ayat-ayat ini Allah membuat perumpamaan (matsâl) bagi orang munafik, yakni matsâl yang berkenaan dengan api (nâr) dalam firman-Nya “adalah seperti orang yang menyalakan api. Dalam hal ini Allah bermaksud mengumpamakan cahaya api yang timbul dari nyala api itu adalah laksana petunjuk atau hidayah menuju jalan yang benar. Namun, kendati orang-orang munafiq telah menyalakan api “hidayah” itu (dengan masuk ke dalam agama Islam secara lahir), Allah menghilangkah kemanfaatan dari api itu dalam artian orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka[14]. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.

  1. Contoh al-Amtsâl al-Kâminah

Beberapa contoh mengenai al-Amtsâl al-Kâminah diantaranya adalah ayat-ayat yang bertendensikan pada pembentukan cara hidup dalam batas-batas kewajaran dalam hal ini ayat-ayat yang senada dengan perkataan orang-orang arab pada umumnya “sebaik-baiknya urusan adalah pertengahannya”[15]. Terdapat setidaknya empat ayat yang mengisyaratkan hal ini. Antara lain adalah :

  1. Al Baqarah ayat 68:

…Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu (QS. Al Baqarah : 68)

 

  1. Al Furqan ayat 67:

dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (QS. Al Furqan : 67)

 

  1. Al Isra’ ayat 29:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[16]karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (QS. Al Isra’ : 29)

 

  1. Al Isra’ ayat 110:

…dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[17]dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

 

   

  1. Contoh al-Amtsâl al-Mursalah

Contoh al-Amtsâl al-Mursalah dapat dilihat diantaranya adalah terdapat pada:

  1. Al Baqarah ayat 216

…Dan boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu… (QS. Al Baqarah : 216)

 

  1. Al-Isra’ ayat 84

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[18]masing-masing” …

 

  1. An Najm ayat 58

Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah (An Najm : 58)

 

  1. Faedah Amtsâl Al-Qur’an

Dutinjau dari berbagai macam dan contoh amtsal dalam al-Qur’an, maka para pakar Ilmu Al-Qur’an menyatakan pengungkapan amtsal dalam al-Qur’an mempunyai banyak faedah. Di antaranya sebagaimana dikemukakan oleh Rasihon Anwar adalah:[19]

  1. Menampilkan sesuatu yang abstrak (yang hanya bisa digambarkan dalam pikiran) ke dalam bentuk sesuatu yang konkret (material) yang dapat ditangkap indera agar akal dapat menerima pesan yang disampaikan oleh perumpamaan itu. Karena makna yang abstrak bisa jadi membuat hati masih ragu maka perlu adanya penggambaran dalam bentuk konkret agar mudah dicerna. Contohnya pada surat al-Baqarah ayat 264:

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan…”(QS. Al Baqarah : 264)

 

Dalam ayat tersebut, hilangnya pahala sedekah (abstrak) yang disebabkan riya’ (pamer) disamakan dengan hilangnya debu di atas batu licin (konkret) yang disebabkan hujan.

  1. Menyingkap makna yang sebenarnya dan menampilkan hal yang gaib dalam sesuatu yang tampak. Seperti dalam surat al-Baqarah ayat 275:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila…(QS. Al Baqarah : 275)

Ayat di atas adalah menceritakan keadaan pemakan riba ketika bangkit dari kubur kelak pada hari kiamat. Keadaan mereka pada saat itu yang masih gaib diserupakan dengan keadaan orang gila yang kemasukan setan[20].

  1. Menghimpun arti-arti yang indah dalam ungkapan yang singkat, sebagaimana yang terdapat dalam amtsâl kâminah dan amtsâl mursalah.
  2. Mendorong orang untuk beramal dan menimbulkan minat dalam ibadah dengan melaksanakan hal-hal yang dijadikan perumpamaan yang menarik dalam al-Qur’an. Seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 261:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al Baqarah : 261)

 

Dengan adanya iming-iming lipat gandanya pahala bagi orang menafkahkan hartanya di jalan Allah dengan menyerupakannya kepada keuntungan besar yang diraih seseorang dalam menanam biji-bijian maka manusia akan  terdorong untuk beramal.

  1. Dapat menjauhkan seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi jiwa. Seperti dalam surat al-Hujurat ayat 12:

…Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya… (QS. Al Hujurat : 12)

 

Manusia pasti akan merasa jijik dan tidak suka memakan daging orang lain yang telah meninggal. Karena itulan Allah SWT menyamakan perbuatan menggunjing orang lain dengan hal tersebut agar manusia menjauhi perbuatan tercela itu.

 

  1. Untuk memuji sesuatu yang dicontohkan, seperti pujian Allah kepada para sahabat Rasulullah dalam surat Al-Fath ayat 29:

…Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min)…(QS. Al Fath : 29)

 

Dalam ayat ini Allah para sahabat Rasul. Pada permulaan Islam, kaum yang mau beriman hanyalah sedikit, tidak lebih dari 10. Namun dalam waktu yang terbilang singkat, yaitu 23 tahun, para sahabat jumlahnya menjadi sangat banyak dan mampu menaklukkan kaum musyrikin dalam peristiwa fathu Makkah.

  1. Digunakan untuk mencela. Ini terjadi apabila sesuatu yang menjadi perumpamaan adalah hal yang dianggap buruk oleh manusia. Seperti dalam surat Al-A’raf ayat 176:

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami…(QS. Al A’raf : 176)

 

Dalam mencela orang-orang yang berilmu namun mereka tetap cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, Allah menyerupakan mereka dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.

  1. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan nasihat atau larangan serta lebih kuat pengaruhnya. Dalam kaitan ini Allah berfirman dalam surat az-Zumar ayat 27:

Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran (QS. Az Zumar : 27)

  

  1. Kisah-Kisah Dalam Al-Quran (Qashash Al-Qur’an)

Kandungan Alquran tentang sejarah atau kisah-kisah disebut dengan istilah Qashash Al-Quran (kisah-kisah Alquran). Beberapa keterangan menyatakan bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak ketimbang ayat-ayat yang berbicara tentang hukum. Hal ini memberikan isyarat bahwa Alquran sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah). Sesuai firman Allah:

 yang artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (QS. Yusuf : 111)

 

yang menarik tentang penceritaan dalam Al-Qur’an adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh  salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalah dalam satu diskusinya dengan tokoh ulama’ Jawa Timur bahwasannya ternyata penceritaan kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu cenderung hanya sekilas saja. Satu-satunya penceritaan yang paling lengkap hanyalah kisah nabi Yusuf As. Ini berbeda dengan apa yang ada dalam kitab Perjanjian Lama yang lebih lengkap menjelaskannya. Hal ini menurut beliau adalah merupakan keunikan Al-Qur’an yang lebih mementingkan ibrah (pesan) yang terkandung dalam cerita tersebut dibanding sibuk dengan menceritakan jalan cerita secara lengkap[21].

Kenyataan inilah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai penyempurna kitab-kitab terdahulu dan bukan merupakan sebuah buku cerita ataupun sejarah.

  1. Pengertian Qashash Al-Qur’an

Kata qashash berasal dari bahasa Arab, yakni bentuk masdar yang bermakna urusan, berita, kabar maupun keadaan. Dalam Alquran sendiri kata qashash bisa memiliki arti mencari jejak atau bekas[22] dan berita-berita yang berurutan[23].

Secara terminologi, pengertian istilah qashash al-Quran adalah kabar-kabar dalam Alquran tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi[24]. Manna al-Qaththan mendefinisikan qashash al-Quran sebagai pemberitaan al-Quran tentang hal ihwal umat-umat dahulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris[25].

  1. Macam-Macam Qashash Al-Qur’an

Manna’ al-Qaththan menjelaskan bahwa Kisah-kisah dalam Alquran dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Pertama, kisah para Nabi yang memuat dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang ada pada mereka, sikap para penentang, perkembangan dakwah dan akibat-akibat yang diterima orang-orang yang mendustakan para Nabi.

Kedua, kisah-kisah yang berkaitan dengan kejadian-kejadian umat-umat terdahulu dan tentang orang-orang yang tidak dapat dipastikan kenabiaanya, seperti kisah Thalut, Jalut, dua putra Adam, Ashahab al-Kahfi, Zulqarnai, Ashabul Ukhdud dan lain-lain.

Yang terakhir, kisah-kisah yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah seperti perang badar, uhud, tabuk dan lain sebagainya[26].

Ketiga macam penceritaan kisah dalam Al-Qur’an sebagaimana yang tersebut diatas merupakan penceritaan yang digunakan oleh Allah dalam rangka untuk lebih memperjelas suatu ajaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an dan bukan diceritakan semata-mata untuk memberitahu akan kejadian yang telah terjadi secara detail dan terinci.

  1. Unsur-unsur Qashash Al-Qur’an quran

Unsur-unsur dalam qashash al-Qur’an terdiri atas tiga bagian yakni:

Pelaku (al-Syaksy). Dalam Alquran para actor dari kisah tersebut tidak hanya manusia, tetapi juga malaikat, jin dan bahkan hewan seperti semut dan burung hud-hud.

Peristiwa (al-Haditsah). Unsur peristiwa merupakan unsur pokok dalam suatu cerita, sebab tidak mungkin, ada suatu kisah tanpa ada peristiwanya. Berkaitan peristiwa, sebagian ahli membagi menjadi tiga, yaitu a) peristiwa yang merupakan akibat dari suatu pendustaan dan campur tangan qadla-qadar Allah dalam suatu kisah. b) peristiwa yang dianggap luar biasa atau yang disebut mukjizat sebagai tanda bukti kebenaran, lalu datanglah ayat-ayat Allah, namun mereka tetap mendustakannya lalu turunlah adzab. c) peristiwa biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang dikenal sebagai tokoh yang baik atau buruk, baik merupakan rasul maupun manusia biasa.

Percakapan (Hiwar). Biasanya percakapan ini terdapat pada kisah yang banyak pelakunya, seperti kisah Nabi Yusuf, kisah Musa dsb. Isi percakapan dalam Alquran pada umumnya adalah soal-soal agama, misalnya masalah kebangkitan manusia, keesaan Allah, pendidikan dsb. Dalam hal ini Alquran menempuh model percakapan langsung. Jadi Alquran menceritakan pelaku dalam bentuk aslinya[27].

  1. Tujuan dan Fungsi Qashash Al-Qur’an

Sebagaimana penjelasan yang telah lalu bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an merupakan salah satu cara yang dipakai Al-Qur’an untuk mewujudkan tujuan yang bersifat agama. Dalam hal ini adalah untuk memperjelas pesan yang ingin disampaikan oleh Al-Qur’an itu sendiri. Selain itu, Al-Qur’an juga merupakan kitab dakwah agama dan kisah menjadi salah satu medianya untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah tersebut.

Oleh karena tujuan-tujuan yang bersifat religius ini, maka keseluruhan kisah dalam Al-Qur’an tunduk pada tujuan agama baik tema-temanya, cara-cara pengungkapannya maupun penyebutan peristiwanya[28]. Namun ketundukan secara mutlak terhadap tujuan agama bukan berarti ciri-ciri kesusasteraan pada kisah-kisah tersebut sudah menghilang sama sekali, terutama dalam penggambarannya. Bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan agama dan kesusasteraan dapat terkumpul pada pengungkapan Alquran[29]. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan kisah Alquran adalah untuk tujuan agama, meskipun demikian tidak mengabaikan segi-segi sastranya.

Adapun tujuan dan fungsi dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk menunjukkan bukti kerasulan Muhammad SAW. Sebab beliau meskipun tidak pernah belajar tentang sejarah umat-umat terdahulu, tapi beliau dapat tahu tentang kisah tersebut. Semua itu tidak lain berasal dari wahyu Allah.
  2. Untuk menjadikan uswatun hasanah suritauladan bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para Nabi dan orang-orang salih yang disebutkan dalam Al-Qur’an[30].
  3. Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad saw dan umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan[31].
  4. Mengungkap kebohongan ahli kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.
  5. Untuk menarik perhatian para pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penuturan kisah.
  6. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah, yaitu bahwa semua ajaran para Rasul intinya adalah tauhid[32].

 

Kesimpulan

Penyertaan bentuk perumpamaan (amtsâl) serta kisah-kisah (qashash) dalam Al-Qur’an merupakan salah satu cara yang dipakai Al-Qur’an untuk mewujudkan tujuan tersampaikannya esensi pesan yang tekandung di dalamnya. Dalam hal ini Al-Qur’an yang merupakan kitab dakwah agama, menyadari sepenuhnya bahwa kisah dan perumpamaan merupakan salah satu medianya yang penting untuk menyampaikan dan memantapkan dakwah tersebut. Kenyataan demikian terkait dengan kondisi pertama kali turunnya Al-Qur’an adalah pada masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesusastraan.

Namun meskipun demikian, bukan berarti Al-Qur’an terlalu berlebihan dalam menyampaikan sisi kesusastraan dalam kisah ataupun perumpamaannya. Kisah-kisah hanya diceritakan secara singkat tanpai mendetail, begitupun bentuk perumpamaan yang hanya diungkapkan secara singkat tanpa ada batas-batas segi persamaannya. Al-Qur’an tidak menganggap penting sisi ini. Yang lebih penting menurut Al-Qur’an adalah ibrah yang disampaikannya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an dan Terjemahnya, t.t. (Kudus: Mubarokatan Toyyibah)

 

  1. Hanafi, 1983, Segi-segi Kesusasteraan pada Kisah-Kisah Quran (Jakarta: Pustaka Al-Husna)

 

Al-Mahalli, as-Suyuthi, t.t. Tafsir al-Jalalain (Surabaya: Dar al-‘Abidiin) Hlm 43.

 

al-Qaththan, Manna’, 1973, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an (Riyadh: al-Mansyurat al-‘Ashru al-Hadits)

 

An-Naisaburi, Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad Ibn Ibrahim. t.t. Qashas Al-Anbiya (Beirut: Dar al-Fikr)

 

Anwar, Rosihon, 2001, Samudera al-Qur’an (Bandung: Pustaka Setia)

 

Ash-Shiddieqy, Hasbi, 1972, Ilmu-Ilmu Alquran. (Jakarta: Bulan Bintang)

 

Fumisbah, Amtsal al-Qur’an, http: // fumishbah.wordpress.com/2011 /04/08/makalah-q-semester-satu/ diakses pada 23 November 2011

 

Munawir, Fajrul dkk. 2005, Al-Quran (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijag,)

 

Nata, Abudin, 2004, Metodologi Studi Islam, Cet. 9 (Jakarta: PT. Grafindo Persada)

 

Qutb, Sayid, Al Tashwir al-Fannai fi al-Quran.

 

Rasyidi, Muhammad, Amtsal Dalam Al Qur’an, http:// azarasidi.blogspot.com /2011/03/amstal-dalam-al-quran.html diakses pada 23 Nopember 2011

 

Supiana, M. Karman, 2002, Ulumul Qur’an, Cet. I (Bandung: Pustaka Islamika)

 

Thabathaba’I, Muhammad Husein, 2003, Memahamai Esensi Al-Qur’an, diterjemah oleh: Idrus Al kaf, Cet. Ke III, (Jakarta:Lentera Basritama)

[1] Al-Qur’an dan Terjemahnya, t.t. (Kudus: Mubarokatan Toyyibah)

[2] Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’I, Memahamai Esensi Al-Qur’an, diterjemah oleh: Idrus Al kaf, Cet. Ke III, 2003 (Jakarta:Lentera Basritama) Hlm. 30

[3]Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, Cet. 9, 2004 (Jakarta: PT. Grafindo Persada) Hlm. 45

[4] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, 1973 (Riyadh: al-Mansyurat al-‘Ashru al-Hadits) Hlm. 282

[5] Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an, Cet. I, 2002 (Bandung: Pustaka Islamika) Hlm. 253

[6] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an,.. Hlm 282

[7] Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an,.. Hlm. 254

[8] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an,.. Hlm 284

[9] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an,.. Hlm 285

[10] Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an,.. Hlm. 259

[11] Fumisbah, Amtsal al-Qur’an, http: //fumishbah.wordpress.com/2011/04/08/makalah-q-semester-satu/ diakses pada 23 November 2011

[12] Sebagaimana dikutip oleh Muhammad Rasyidi dalam, Amtsal Dalam Al Qur’an, http://azarasidi.blogspot.com/2011/03/amstal-dalam-al-quran.html diakses pada 23 Nopember 2011

[13] Muhammad Rasyidi, Amtsal Dalam Al Qur’an, http://azarasidi.blogspot.com/2011/03/amstal-dalam-al-quran.html diakses pada 23 Nopember 2011

[14] Al-Qur’an dan Terjemahnya, TT (Kudus: Mubarokatan Toyyibah)

[15] Supiana dan M. Karman, Ulumul Qur’an,.. Hlm. 259

[16] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah

[17] Maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma’mum.

[18] Termasuk dalam pengertian Keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya.

[19] Rosihon Anwar, Samudera al-Qur’an (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 109.

[20] Al-Mahalli & as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain (Surabaya: Dar al-‘Abidiin, t.t.) Hlm 43.

[21] Dikutip dari pernyataan Ulil Abshar Abdalah dalam Dialog Terbuka Jaringan Islam Liberal VS Forum Kiai Muda Jatim pada 11 Oktober 2009 di Tulangan Sidoarjo Jawa Timur

[22] Lihat Q.S. Al-Kahfi: 64 dan Q.S. Al-Qashash: 11

[23] Lihat Q.S. Al-Imran: 62 dan Q.S. Yusuf: 111

[24] Hasbi Ash-Shiddieqy. Ilmu-Ilmu Alquran.1972 (Jakarta: Bulan Bintang). hlm. 176

[25] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an,… Hlm. 306

[26] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an,… Hlm. 306

[27] Fajrul Munawir dkk. Al-Quran. 2005 (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijag,). Hlm. 108-109

[28] Sayid Qutb. Al Tashwir al-Fannai fi al-Quran. Hlm. 111

[29] A. Hanafi, Segi-segi Kesusasteraan pada Kisah-Kisah Quran.1983 (Jakarta: Pustaka Al-Husna). Hlm. 68

[30] Abu Ishaq Ahmad bin Muhammad Ibn Ibrahim an-Naisaburi. Qisas Anbiya. (Beirut: Dar al-Fikr). Hlm. 12

[31] Q.S. Huud :120

[32] Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an,…Hlm. 307

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *