KAIDAH-KAIDAH PENAFSIRAN AL-QUR’AN: ASBAB AL-NUZUL DAN MUNASABAH

Oleh: Muhammad Asrori, Lc.,M.H.I*

 

  1. PENDAHULUAN

Asbab al-nuzul merupakan ilmu yang menunjukkan hubungan dan dialektika antara nash (teks) dan realitas. Asbab al-nuzul memberikan materi baru bagaimana peran teks dalam merespon realitas yang melingkupinya. Teks juga menjelaskan bagaimana ayat atau sejumlah ayat diturunkan ketika ada satu peristiwa khusus yang mengharuska munculnya teks tersebut. Sangat sedikit ayat-ayat yang diturunkan tanpa ada sebab eksternal. Sehingga dalam memahami makna teks dituntut adanya pengetahuan awal tentang realitas yang memproduksi teks-teks tersebut.[1]

Jika asbab al-nuzul merepresentasikan sebuah kajian al-Qur’an dalam posisinya sebagai sebuah “diskursus” menandai kaitan yang erat antara teks dengan dimensi historis yang menyertai proses turunnya -ketika ayat-ayatnya diwahyukan secara oral  dan asbab nuzul mengupas latar belakang dalam bentuk peristiwa atau pertanyaan yang muncul dan menyebabkan ayat-ayat itu turun-, maka ilmu munasabah merepresentasikan sebuah pendekatan tekstual. Ilmu munasabah mengupas keterkaitan erat ayat-ayat al-Qur’an dalam tata urutan seperti yang tersusun dalam mushaf antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dari ayat pertama hingga ayat terakhir al-Qur’an, kesemuanya terjalin satu keterkaitan yang erat laksana sebuah kalimat yang padu. Keberadaan ilmu munasabah menegaskan kembali pandangan tentang tata urutan ayat dan surat al-Qur’an yang bersifat tauqifi, yang bila digali lebih dalam lagi menegaskan pandangan tentang ketinggian gaya bahasa al-Qur’an yang memiliki nilai i’jaz bahkan dalam susunan redaksi ayat per-ayat yang ditampilkannya.

Tulisan ini akan membahas dua kaidah penafsiran al-Qur’an; pertama, ilmu asbab al-nuzul yaitu ilmu tentang sebab-sebab turunnya ayat al-qur’an melalui tujuh cakupan pembahasan; a. Pengertian asbab al-nuzul al-Qur’an; b. Metode mengetahui asbab al-nuzul; c. Redaksi asbab alnuzul; d. Urgensi mengetahui asbub alnuzul; e. jumlah sebab-sebab banyak tetapi turun ayatnya satu; f. Turunnya ayat berkali-kali tetapi sebab turunnya satu; g. Asbab alnuzul makro dan penerapannya dalam pembentukan hukum Islam. Kedua, ilmu munasabah  al-Qur’an dengan pembahasan: a. Pengertian munasabah; b. Sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu munasabah; c. Urgensi mengetahui ilmu munasabah; d. Segi-segi munasabah al-Qur’an, kemudian penutup.

 

  1. PEMBAHASAN
  2. ASBAB AL-NUZUL
  3. Pengertian Asbab al-Nuzul

Asbab alnuzul adalah ilmu al-Qur’an yang mempelajari tentang sebab-sebab turunnya ayat-ayat suci al-Qur’an. Muhammad Aly al-Shabuni memberi arti yaitu terjadinya kasus (kejadian) atau pertanyaan yang dimintakan jawaban atas hukumnya kepada Nabi SAW. Kemudian turun ayat yeng berkenaan dengan hal itu.[2]

Manna’ Khalil al-Qatan menambahkan karena sebagian besar al-Qur’an turun untuk tujuan umum sedangkan sejarah maupun kehidupan para sahabat ada yang bersifat khusus bahkan terjadi suatu kaus diantara sahabat yang masih kabur penjelasan hukumnya, kemudian ditanyakan kepada Nabi Saw dan turunlah ayat.[3]

Sunhi al-Salih menggarisbawahi pengertian asbab al-nuzul bahwa mengetahui/mengenal kondisi dan situasi pada saat sajak (puisi) syair itu digunakan akan membantu seseorang dalam memahami sajak (puisi) syair itu. Demikian pula asbab al-nuzul dapat dipahami sebagai ilmu kisah yang melatarbelakangi suatu ayat al-Qur’an, dan mengenal sebab-musabab turunnya ayat tersebut4. [4]

Ilmu asbab al-nuzul sudah berkembang pada masa sahabat bahkan ilmu ini sudah dimaklumi dan dimengerti semenjak Nabi SAW masih hidup karena ilmu ini memang membahas kejadian/pertanyaan selama periode al-Qur’an di-nuzul-kan. Yang belum ada hanyalah formulasi materi asbab al-nuzul itu dan tafsir khususnya. Tentang materi asbab al-nuzul, sudah lengkap, artinya materinya hanya dapat diambil dari rentang waktu periode turunnya al-qur’an.

Adapun perintis-perintis ilmu asbab al-nuzul adalah bahwa semua sahabat mengenal ilmu ini bahkan asbab al-nuzul  harus bersumber kepada sahabat. Demikian pula para mufassirun pada periode sesudah sahabat (tabi’in dan tabi’it tabi’in) sampai pada saatnya muncul secara tegas ilmu asbab al-nuzul yang terpisah dari al-Qur’an dan ilmu-ilmu al-Qur’an lainnya.

 

  1. Metode Mengetahui Asabab al-Nuzul

Al-Qur’an merupakan respon atas situasi saat ayat tersebut turun. Sebab-sebab turunnya  suatu ayat setidaknya dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu: Pertama, al-Qur’an diturunkan berkaitan dengan suatu peristiwa tertentu. Kedua, al-Qur’an diturunkan ketika Nabi SAW ditanya mengenai suatu masalah. Pengetahuan tentang asbab al-nuzul dapat diketahui dengan cara:

 

 

  1. Periwayatan

Mayoritas ulama berpendapat bahwa asbab al-nuzul hanya dapat diketahui melalui periwayatan hadis. Hadis-hadis asbab al-nuzul kebanyakan diriwayatkan oleh ulama ahlu al-sunnah wa al-jamaáh yang jumlahnya mencapai beberapa ratus ribu hadis. Sedang hadis asbab al-nuzul yang diriwayatkan ulama Syiáh jumlahnya sedikit (beberapa ribu saja). Ada dua alasan yang menyebabkan orang meragukan hadis asbab al-nuzul. Pertama, gaya kebanyakan perawi tidak meriwayatkan asbab al-nuzul, tetapi meriwayatkan suatu kisah dan menghubungkannya dengan ayat-ayat al-Qur’an yang didasarkan pada pendapatnya dan bukan atas dasar pengalaman dan pengamatan. Kedua, pelarangan periwayatan hadis berlangsung sampai abad I H. mengakibatkan periwayatan secara maknawi kemungkinan mengalami perubahan.[5]

Dalam hadis-hadis asbab al-nuzul terdapat norma-norma yang telah dibuat para ulama, yaitu:[6]

  1. Apabila ada dua riwayat yang berbeda, maka dipegangi yang riwayatnya lebih valid.
  2. Apabila sanad dari dua riwayat sama validnya, maka diutamakan adalah perawi yang menyaksikan peristiwa atau pertimbangan-pertimbangan semacamnya.
  3. Apabila dua riwayat tersebut sulit di-tarjih, maka pemecahannya adalah hipotesis berulang-ulangnya turun ayat setelah ada dua sebab atau sebab-sebab yang disebutkan.
  4. Turunnya ayat berulang dan banyaknya ayat pada satu sebab.

Menyandarkan pengetahuan asbab al-nuzul pada sisi periwayatan tidaklah mencukupi, karena periwayatan asbab al-nuzul mulai muncul pada masa tabi’in. Sedang pada masa sahabat belum diperlukan adanya asbab al-nuzul untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an. Kebutuhan akan adanya asbab al-nuzul muncul ketika pada masa tabi’in mengalami kesulitan dalam mengungkap makna yang terkandung dalam suatu ayat, sehingga intervensi dalam periwayatan sulit dihindari. Al-Wahidi menambahkan sahabat yang menjadi sandaran hadis itu haruslah: 1) Orang yang menyaksikan turunnya al-qur’an; 2) mengetahui sebab-sebab turun; 3) membahas pengertiannya; dan 4) bersungguh-sungguh dalam mencarinya.[7]

  1. Ijtihad

Cara mengetahui asbab al-nuzul dengan ijtihad dilakukan dengan bersandar pada sejumlah unsur dan tanda-tanda internal dan eksternal dalam suatu ayat. Asbab al-nuzul  hanyalah konteks sosial bagi suatu ayat sehingga sebab-sebab turunnya ayat dapat dicari dari dalam dan luar teks.[8]

Ijtihad sebagai cara untuk menentukan asbab al-nuzul sebenarnya telah dilakukan oleh Imam Syafi’i, seorang atba’ at tabiin, dalam menjelaskan asbab al-nuzul QS. Al-An’am: 145 yang secara lahiriah menyebutkan makanan yang diharamkan Allah adalah bangkai, darah yang mengalir, daging babi dan hewan yang disembelih tidak karena Allah. Ayat ini menurut Imam Syafi’i bukan merupakan pembatasan sesuatu yang diharamkan Allah sebagaimana pendapat Imam Malik, tetapi ayat ini turun berkaitan denagn situasi orang-orang kafir yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Pendapat Imam Syafi’i juga didasarkan pada urutan turunnya ayat dalam pelarangan khusus soal makanan adalah sebagai berikut: QS. Al-An’am: 145, QS. Al-Nahl: 115-116, QS. Al-Baqarah: 172-173, kemudian QS. Al-Maidah: 4. Ayat yang membatasi makanan yang haram adalah ayat yang turun terakhir.[9]

 

  1. Redaksi Asabab al-Nuzul

Dalam ilmu asbab al-nuzul, sebab-sebab turunnya ayat ada kalanya karena terjadinya peristiwa tertentu (kasus) atau karena munculnya pertanyaan yang menuntut jawaban. Sedangkan ayat itu sendiri mempunyai makna atau berbicara soal dan atau mengandung hukum tertentu. Kedua masalah ini merujuk pada pengertian yang berbeda. Terjadinya kasus dan ditanya soal tertentu merujuk pada asbab al-nuzul. Sedangkan pembicaraan soal tertentu dan mengandung hukum tertentu merujuk pada isi kandungan ayat. Yang menarik kedua rujukan tersebut dapat diungkapkan dengan kata yang sama persis misalnya :

  1. Ayat ini turun mengenai hal “ini” dapat merujuk pada asbab al-nuzul atau isi (hukum ayat tergantung kelanjutan keterangan). Ini yang disebut redaksional tidak jelas dan semua kalimat yang senada dengan itu.[10]
  2. Redaksionalnya jelas dan tidak mengganda arti, yaitu khusus untuk menyatakan tentang asbab al-nuzul; a) sebab turunnya ayat ini adalah “ini”, b) telah terjadi peristiwa ini maka turunlah ayat ini, c) telah ditanya Nabi Saw tentang ini maka turunlah ayat ini.

Dalam hal menghadapi riwayat mengenai asbab al-nuzul lebih dari satu, maka:

  1. Bila redaksionalnya tidak tegas maka diambil yang ada qarinah (indikasi) sebab nuzul.
  2. Bila yang satu tegas dan lainnya samar maka diutamakan yang tegas.
  3. Bila semua tegas maka diambil yang shahih.
  4. Bila semua shohih maka diambil yang lebih kuat.
  5. Bila semuanya shohih dan kuat serta waktunya berdekatan maka keduanya dinyatakan sebab nuzul .
  6. Bila waktunya tidak berdekatan dan tidak mungkin dikompromikan dipandang turun berulang kali.[11]

 

 

 

  1. Urgensi Mengetahui Asbab al-Nuzul

Ulama ulum al-Qur’an sepakat akan arti penting asbab al-nuzul dalam penafsiran al-Qur’an. Manna’ al-Qatthan menjelaskan tentang kegunaan asbab al-nuzul sebagai berikut:[12]

  1. Menjelaskan hikmah yang dikaitkan dengan pensyariatan hukum.
  2. Men-takhsis-kan hukum, meskipun dengan sighat yang umum. Seperti dalam Ali Imran: 188, menurut suatu riwayat Marwan bin Hakam menyuruh kepada pengawalnya yang bernama Rafi untuk menanyakan kepada Ibnu Abbas, “Tanyakan kepadanya sekiranya setiap orang dari kami gembira dengan apa yang didatangkan dan suka terhadap apa yang diperbuat, apakah kami akan terkena azab semuanya”. Ibnu Abbas menjawab: “bukan kamu yang dimaksud ayat tersebut, namun ayat itu ditujukan kepada ahli kitab”. Kemudian Ibnu Abbas juga membacakan QS. Ali Imran: 187 yang menjelaskan bahwa Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab.
  3. Jika ada ayat yang diturunkan berbentuk ám (umum) dan ada dalil yang men-takhsis-nya, maka cukup men-takhsis-kannya. Sebagaimana Al-Nur: 23-25 tentang orang-orang yang menuduh perempuan berzina. Ayat tersebut turun khusus pada Aisyah atau pada salah seorang istri Nabi SAW. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Allah tidak akan menerima taubat orang-orang yang menuduh perempuan yang baik-baik berbuat zina. Kemudia ia membacakan QS. an-Nur: 4-5 yang menyebutkan orang-orang yang menuduh perempuan baik berbuat zina akan diampuni jika bertaubat. Ayat ini (QS. Al-Nur: 4-5) mengkhususkan yang umum (QS. Al-Nur: 23-25).
  4. Jalan terbaik untuk memahami makna ayat-ayat al- Qur’an dan menyingkap hal-hal yang masih diragukan. Sebagaimana yang terjadi pada Marwan bin Hakam yang kesulitan memahami QS. Ali Imran: 188 yang telah diuraikan di atas.
  5. Menjelaskan sebab turun suatu ayat. Seperti turunnya QS. Al-Ahqaf: 17, menurut Marwan ayat tersebut turun berkaitan dengan Abdurrahman bin Abu Bakar, namun pernyataan tersebut dibantah oleh Aisyah.

 

  1. Berbilangnya Sebab dan Turunnya Satu Ayat

Tidak semua ayat al-qur’an diketahui asbab al-nuzulnya. Bahkan dari 6.236 ayat al-qur’an[13] hanya 806 ayat yang disertai asbab al-nuzulnya. Dari 806 ayat terebut dapat dibedakan menjadi :

  1. Asbab al-nuzulnya banyak, nuzul al-ayatnya (turun ayat) banyak.
  2. Asbab al-nuzulnya banyak, nuzul al-ayatnya satu.
  3. Asbab al-nuzulnya satu, nuzul al-ayatnya banyak.
  4. Asbab al-nuzulnya satu, nuzul al-ayatnya satu.

Bila dihitung secara harfiah yang bernilai ta’addud al-asbab wa al-nuzul wahid hanyalah kriteria 2 yang jumlahnya 88. Bila tidak terlampau ketat dapat ditambah dengan kriteria 1 yang jumlahnya 48, sehinga total berjumlah 136 ayat. Kepentingan dari pembagian ini adalah untuk mengetahui beberapa hal :

  1. Keutuhan respons dari begitu besarnya masyarakat pada waktu itu kepada Nabi SAW baik umat Islam, maupun kaum kuffar Hal ini merupakan pengakuan kenabian walaupun mereka tidak mengikuti agamanya.
  2. Betapa utuhnya perhatian Nabi SAW kepada umat manusia dengan membuka diri untuk merespons segala aspek kehidupan.
  3. Merupakan rahmat tersendiri betapa Allah SWT melibatkan umat manusia dalam menurunkan firman-Nya kepada Nabi SAW. Sungguh tanpa keikutsertaan makhlukpun al-Qur’an tetap firman Allah SWT yang harus ditaati.

Contoh A; tentang mendatangi istri dari belakang.

 

 

Kasus:

  1. Pendapat Yahudi (Riwayat Bukhari Muslim)
  2. Kasus Umar (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi)
  3. Kasus Masyarakat Islam (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah) Setelah sampai pada Nabi SAW turunlah QS. Al-Baqarah: 223:

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”

Contoh B; tentang Arah Sholat

Kasus:

  1. Nabi SAW sholat dalam pejalanan Mekkah-Madinah (Riwayat Muslim dan lain-lain dari Ibnu Umar).
  2. Nabi SAW ketika di Madinah masih berkiblat ke arah Masjid al-Aqsho kemudian pindah ke al-Masjid al-Haram (Riwayat Ibnu Majah dan lain-lain dari Ibnu Abbas).
  3. Perjalanan gelap gulita tak tahu arah kiblat (Riwayat Tirmidzi dan lain-lain dari Rabi’ah)
  4. Waktu perang sulit tentukan kiblat (Riwayat Darul Qutni dan lain-lain dari Jabir).

Kemudian Turunlah QS. Al-Baqarah: 115:

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.”

 

 

 

  1. Berbilangnya Ayat yang Turun dengan Satu Sebab

Banyaknya ayat yang turun di berbagai surat di dalam al-Qur’an sedang sebabnya hanya satu. Hal semacam ini tidak dianggap sebagai hal yang penting[14], bahkan turunnya ayat tanpa asbab al-nuzul pun tidak juga tidak dipermasalahkan, dan dan jumlahnya jauh lebih banyak yaitu 5430 ayat atau 87 %. Ayat yang masuk dalam katagori ta’addud al-nazil wa al-sabab wahid hanya sejumlah 88 ayat atau 0,1 % dari total ayat.

Ada indikasi bahwa kebanyakan ayat ini menyangkut: Pertama, keadilan dan universalitas; jawaban kepada tantangan musuh laten Islam yaitu ahl al-Kitab, musyrik dan kafir. Contohnya adalah pertanyaan Ummu Salamah kepada Nabi SAW: “Ya Rasulallah, aku tidak mendengar Allah SWT menyebut perempuan sedikitpun mengenai hijrah?” (H.R. al-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Ummi Salamah). Dari pertanyaan tersebut turunlah QS. Ali Imron: 195; QS. Al-Ahzab: 33; QS. Al-Nisa: 32.

 

  1. Asbab al-Nuzul Makro dan Penerapannya dalam Pembentukan Hukum Islam

Ide asbab al-nuzul makro diperkenalkan oleh al-Syatibi dalam kitab al-muwafaqat fi ushul al-syariáh, yang mendefinisikan asbab al-nuzul sebagai situasi dan kondisi yang melingkupi orang yang mengajak bicara, orang yang diajak bicara dan pembicaraanya.[15] Ide tersebut dikembangkan oleh Syaih Waliyullah al-Dahlawi[16] yang menganggap usaha ulama dalam mengumpulkan riwayat asbab alnuzul mengada-ada. Tujuan pokok diturunkannya al-Qur’an adalah untuk mendidik jiwa manusia dan memberantas kepercayaan yang keliru dan perbuatan buruk lainnya. Tema-tema dalam al-Qur’an menurut al-Dahlawi -sebagaimana dikutip Hamim Ilyas- menunjuk pada lima pengetahuan, yaitu:[17]

  1. Pengetahuan mengenai hukum ibadah, muámalah, dan lain-lain (ilm alahkam).
  2. Pengetahuan mengenai bantahan terhadap empat kelompok sesat; Yahudi, Nasrani, munafik dan musrik (ilm al-mukhashamat).
  3. Pengetahuan mengenai peringatan akan nikmat-nikmat Allah (ilm al-tadkir bi ni’mat Allah).
  4. Pengetahuan mengenai peringatan akan hari-hari Allah SWT (ilm al-tadkir bi ayyam Allah).
  5. Pengetahuan mengenai peringatan akan kematian dan masa sesudahnya (ilm al-tadkir bi al-maut wa ma ba’da).

Konsep asbab al-nuzul makro secara detail dapat dielaborasi dari pemikiran Fazlur Rahman.[18]

Dalam memahami ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mengkaji asbab al-nuzul mikro, namun yang lebih penting adalah mengetahui asbab al-nuzul makro. Asbab al-nuzul makro adalah latar belakang sosio-historis masyarakat Arab secara keseluruhan, yaitu memahami situasi makro dalam kondisi Arab pra Islam dan ketika Islam datang. Asbab al-nuzul makro tidak hanya membahas bagian-bagian individual al-Qur’an saja, tetapi juga terhadap al-Qur’an secara keseluruhan dengan latar belakang paganisme mekkah. Memahami unsur makro tersebut akan membantu seseorang dalam memahami pesan al-Qur’an secara keseluruhan. Memahami al-Qur’an tanpa asbab al-nuzul mikro dan makro akan menggiring pada kesalahan dalam menilai secara tepat elan dasar al-Qur’an.[19]

Peran penting latar belakang sosio-historis dapat dilihat dari proses penafsiran yang ditawarkan Rahman, yang disebut gerakan ganda (double movement). Langkah pertama dimulai dengan mengkaji situasi atau problem historis dimana teks al-Qur’an tersebut merupakan jawabannya. Termasuk dalam langkah ini mengkaji situasi makro dalam masyarakat, adat istiadat, lembaga-lembaga, termasuk kehidupan bangsa Arab secara keseluruhan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui prinsip-prinsip umum dalam al-Qur’an. Langkah kedua, berangkat dari prinsip-prinsip umum tersebut harus ada gerakan kembali ke kasus-kasus yang dihadapi sekarang, tentunya dengan mempertimbangkan kondisi sosial saat ini.

Penerapan asbab al-nuzul dalam penafsiran al-Qur’an adalah untuk lebih memahami ayat dan menghilangkan keraguan, disamping itu untuk menghindari kesan adanya pembatasan secara mutlak terhadap suatu ayat. Penerapan asbab al-nuzul sifatnya sangat kasusistik dan tidak bisa diterapkan untuk semua ayat al-Qur’an.[20]

Penerapan asbab al-nuzul yang sangat terbatas dikalangan ulama menimbulkan kesan ambigu. Di satu sisi kegunaan asbab al-nuzul diakui oleh mayoritas ulama, namun di sisi lain penerapannya sangat kasusistik.

Minimnya peran asbab al-nuzul dalam penafsiran al-Qur’an disebabkan asbab al-nuzul lebih dipahami dalam konteks mikro, sehingga ruang lingkup pembahasannya menjadi sangat terbatas. Selain itu juga disebabkan oleh kebiasaan ulama berpegang pada kata-kata yang umum dan bukan sebab yang khusus (al-ibrah bi ‘umum al-lafd laa bi khusus al-sabab).

Memegangi keumuman kata dan mengabaikan kekhususan sebab pada semua teks al-Qur’an menghasilkan pemikiran yang sulit diterima. Akibat yang serius adalah munculnya penghancuran terhadap hikmah pen-tasyri-án secara bertahap dalam masalah halal-haram, terutama berkaitan makanan dan minuman, selain itu juga mengancam hukum itu sendiri.[21]

Kajian asbab al-nuzul disamping meneliti fakta sejarah dibalik suatu ayat, juga mengetahui hikmah pen-tasyri-án ayat-ayat hukum. Hikmah pen-tasyri-án tidak akan nampak jika keumuman kata tetap dijadikan pegangan. Ayat-ayat mengenai pelarangan khamr yang diturunkan secara bertahap merupakan ilustrasi betapa pentingnya kekhususan sebab. Ayat-ayat tersebut adalah :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah keduanya mengandung dosa besar dan manfaat bagi orang banyak, namun dosanya lebih besar dari pada manfaatnya.” (QS. al-Baqarah (2): 219).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat sementara kalian dalam keadaan mabuk, hingga kalian mengetahui apa yang kalian katakana.” (QS. an-Nisa’ (4): 43).

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Oleh karena itu jauhilah, semoga kalian beruntung. Setan hanyalah ingin menimbulkan permusuhan dan saling membenci diantara kamu melalui khamr dan judi, dan setan ingin menghalangi kalian dari ingat kepada Allah dan shalat. Oleh karena itu, apakah kalian bersedia menghentikannya?” (QS. al-Maidah (5): 90-91).

Ayat pertama tentang khamr (QS. al-Baqarah (2):219) turun dalam kondisi masyarakat yang begitu keras memegangi manfaat khamr, kemudian ditanamkan pemahaman dalam benak mereka tentang manfaat dan dosanya dengan penegasan bahwa dosanya lebih besar. Ayat kedua (QS. Al-Nisa’: 43) mencoba mengurangi intensitas minum khamr dengan larangan meminum khamr sebelum masuk waktu shalat. Kondisi masyarakat saat itu adalah minum khamr hampir sepanjang hari. Pengharaman khamr baru dilakukan dengan turunnya QS. Al-Maidah: 90-91. Apabila keumuman kata dijadikan pegangan, boleh jadi orang akan mengambil ayat yang pertama atau yang kedua. Akibatnya sangat membahayakan. Dari uraian tersebut juga menunjukan fungsi asbab al-nuzul sebagai penjelas hikmah pen-tasyri-án hukum.

 

  1. MUNASABAH AL-QUR’AN
  2. Pengertian Munasabah

Menurut bahasa, munasabah sangan identik dengan nuqarabah artinya kesesuaian. Dalam pemakaian sehari-hari dimaksudkan terdapat hubungan seperti hubungan antara dua orang yang mempunyai keterkaitan dengan keturunan sehingga disebut kerabat. Hal ini sama sepert masalah “illah” dalam masalah qiyas yang terdapat dalam pembahasan fiqh.[22] Sedangkan menurut istilah Munasabah dapat didefinisikan sabagai suatu ilmu yang membahas tentang hubungan ayat-ayat atau surat dalam al-Qur’an. Dalam ensiklopi hukum islam didefinisikan sebagai berikut :

Munasabah iyalah keterkaitan antara satu ayat dan ayat lain atau satu surat dan surat lain, karena adanya hubungan antara satu dan ayat yang lain, yang umum dan yang khusus, yang konkrit dan yang abstrak, atau adanya hubungan keseimbangan, adanya hubungan yang berlawanan atau adanya segi-segi keserasian informasi al-Qur’an dalam bentuk kalimat berita tentang alam semesta.[23]

Secara sederhana dapat difahami bahwa munasabah adalah suatu bahasan tentang keterkaitan atau hubungan antar variabel-variabel surat dalam berbagai macam posisi dan formatnya. Keterkaitan-keterkaitan yang dibicarakan mencakup: Ayat dengan ayat, surat dengan surat, akhir surat dengan awlanya, awal ayat dengan akhirnya dan akir surat dengan awal surat berikutnya.

Pemahaman terhadap munasabah sangan erat kaitannya dengan tingkat intelegensia orang yang menggelutinya. Semakin tinggi tingkat kemampuan seseorang, semakin dalam pula rahasia-rahasia munasabah yang dapt ditemukan.

 

  1. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Munasabah

Secara historis ilmu munasabah termasuk ilmu yang muncul belakangan dibandingkan dengan ilmu-ilmu al-Qur’an lainnya. Disamping itu, orang yang menggeluti bidang ilmu ini juga sangat sedikit. Hal ini disebabkan antara lain karena pelik dalam pemahamannya dibanding dengan ilmu lain. Sehingga hanya beberapa orang saja yang mencoba memahami ilmu mansabah ini.[24]

Ulama yang pertama sekali mencoba menggagas ilmu ini Abu Ja’far bin Zubair, ia merupakan salah seorang ahli dalam ilmu-ilmu al-Qur’an yang hidup pada abad III atau IV H. Pada tahap berikutnya jejak-jejak Abu Ja’far juga diikuti oleh Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib. Sedangkan menurut Jalaluddin al-Suyuthi, ilmu ini dikembangkan pertama sekali oleh Imam Abu Bakar al-Naisabury di Baghdad.

Pada tahap berikutnya seorang ahli ilmu al-Qur’an bernama Ibrahim bn Umar al-Biqa’ dengan kitabnya Nazm al-Dural fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, ia membahas ilmu ini secara lebih lengkap. Kitab ini khusus membicarakan tentang keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lain serta antara satu surat dengan surat yang lain dalam al-Qur’an. Disamping itu terdapat juga ‘Allamah Abi Ja’far Ahmad bin Ibrahim bin al-Zubir al-Tsaqafi al-Ashimy al-Andalusi dengan judul kitabnya Mu’alim bi al-Burhan fi Tartibi Suwar al-Qur’an. Kitab ini membahas tentang munasabah antara ayat. Pendapat-pendapat dari kitab ini oleh al-Biqa’ diketengahkan pada awal seluruh dalam kitab Nazmnya.[25]

Latar belakang sejarah timbulnya ilmu ini, erat hubungannya dengan sikap para Mufassir pada masa itu yang selalu bertanya-tanya tentang hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Mereka selalu terbentur ketika melihat kandungan al-Qur’an yang seakan-akan tidak punya hubungan sama sekali antara ayat yang satu dengan ayat berikutnya. Abu Bakar al-Naisabury yang di sebut sebagai pelopor ilmu ini permulaannya mencoba mencari hubungan ayat-ayat yang ia tafsirkan tersebut. Cara yang ia lakukan adalah dengan mengeluarkan beberapa pertanyaan sekitar ayat yang ia tafsirkan. Pertama kali ia ajukan pertanyaan apakah ayat itu melengkapi atau menyempurnakan ayat sebelumnya ataukah ayat itu berdiri sendiri? Jika berdiri sendiri, apakah segi persesuaiannya dengan ayat sebelumnya? Kenapa ayat-ayat itu tersusun sedemikian rupa? Sedangkan tentang urutan turunnya ayat tidak sedikitpun diragukannya.[26]

Fakhr al-Din Al-Razy, salah seorang ahli tafsir menyadari betul pentingnya ilmu ini. Penafsiran Al-Qur’an berdasarkan susunan ayat dalam mushaf, menurutnya dapat memberikan kesan terpilah-pilahnya masalah-masalah yang dijelaskan Al-Qur’an. Namun bila diselidiki dengan mencari keterkaitan tentu hal tersebut tidak akan terlihat bahkan terasa benar-benar bahwa antara ayat yang satu dengan ayat yang lain saling berkaitan. Dengan demikian ilmu munasabah merupakan sesuatu yang mesti dimiliki oleh para mufassir agar pesan-pesan al-Qur’an dapat dipahami seutuhnya.

Masalah ini mencapai puncaknya di bawah usaha Ibrahim bin Umar Al-Biqa’i (809-885 H) tetapi korelasi di sini ternyata menyangkut sistematika penyusunan ayat dan surat al-Qur’an sesuai dengan urutannya dalam mushaf, bukan dari segi korelasi ayat-ayat yang membahas masalah yang sama dan terkadang bagian-bagiannya terpencar dalam beberapa surat. Di sisi lain maksud al-Biqa’i ini adalah untuk menjelaskan kemukjizatan al-Qur’an dari segi sistematika penyusunan ayat-ayat dan surat-suratnya, serta sebab pemilihan suatu segi-segi petunjuk al-Qur’an yang dapat dipetik kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.[27]

Penafsiran suatu masalah dalam al-Qur’an harus dilakukan secara komprehensif. Pemahaman tidak hanya terpusat pada satu ayat saja, tetapi mesti dilakukan penelitian dalam keseluruhan surat bahkan dalam keseluruhan al-Qur’an, khususnya ayat-ayat yang ada keterkaitannya dengan masalah yang dibahas.

Hingga sekarang para ahli belum banyak yang melibatkan diri dalam bidang ilmu munasabah ini. Karya yang dianggap terlengkap adalah hasil karya al-Biqa’i dengan pembahasan keseluruhan al-Qur’an yang kusus membahas keterkaitan baik antara ayat per-ayat maupun antar surat-surat serta berbagai segi lainnya. Sedangkan pembahasan-pembahasan lain sebagai mana yang terdapat dalam kitab-kitab ‘ulum al-Qur’an hanya sekedar memperkenalkan tentang munasabah serta sejauh mana dipentingkan dalam khazanah ilmu-ilmu keislaman.

 

 

 

  1. Urgensi Mengetahui Munasabah

Ilmu munasabah cukup erat korelasinya dengan ilmu tafsir. Karena itu kegunaannya juga tak dapat dipisahkan dengan penafsiran ayat al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana pentingnya ilmu asbab alnuzul dalam penafsiran al-Qur’an yang sangat berpengaruh kepada hasil penafsiran tersebut. Demikianlah kepentingan ilmu tafsir terhadap ilmu munasabah. Dengan mengetahui bagaimana seluk beluk munasabah al-Qur’an akan sangat terbantu dalan segi kecermatan dan ketelitian menakwilkan dan memahami isi kandungan suatu ayat yang di tafsirkan.[28]

Menurut al-Zarkasyi seperti dikutib Manna’ khalil al-Qattan menyatakan bahwa manfaat ilmu munasabah adalah untuk menguatkan hubungan suatu pembicaraan yang di bahas sehingga bentuk susunannya menjadi kukuh dan saling bersesuaian. Sedangkan Abu Bakr ibnu ‘Arabi menambahkan bahwa mengetahui munasabah akan menjadikan pembahasan seperti satu kata, memberi makna yang serasi serta maknanya yang teratur.[29] Sedangkan manfaat lainnya adalah untuk menanggapi makna yang terkandung, merasakan nilai-nilai kemukjizatan. Dapat memahami hukum yang terkandung di dalam ayat yang dibahas dan mengetahui susunan kalimat yang serasi serta ketinggian uslub (gaya bahasa) yang dipergunakan.

 

 

 

  1. Munasabat dan Kaitannya dengan Asbab alNuzul

Turunnya al-Qur’an melalui proses yang mempunyai tahapan-tahapan tertentu yang sering disebut dengan istilah berangsur-angsur. Proses bertahap tersebut di maksudkan agar penerima wahyu tidak menanggung beban yang berat, jika penurunannya serentak sekaligus. Disamping itu juga dimaksud agar penerima wahyu tersebut tidak merasa dipaksakan untuk merubah sesuatu kebiasaan yang sudah menjadi kelaziman sebelum adanya wahyu. Dari pemahaman di atas, suatu topik juga diselesaikan secara berangsur-angsur. Hal ini dimaksudkan agar suatu persoalan tidak menjadikan manusia bersikap was-was dan tegang menunggu kelanjutan dari ayat yang telah di turunkan. Dalam kasus tertentu, manusia sedang menunggu sesuatu vonis yang mungkin saja membuat mareka tertekan dengan datangnya wahyu tersebut, tetapi ditunda oleh Allah untuk menghindari keadaan demikian. Penundaan tersebut diselingi dengan persoalan-persoalan yang lain yang secara umum tidak mempunyai hubungan sama sekali. Tetapi bila kajian ditempuh dengan tingkat kedalaman ilmu yang tinggi, tentu akan memberi maknalain yang tidak diduga sama sekali sebelumnya.

Dalam sejarah penurunan al-Qur’an dijelaskan bahwa berapapun jumlah ayat yang diterima Nabi SAW, beliau tidak pernah menyimpannya untuk dikumpulkan sampai mencapai jumlah tertentu atau menyelesaikan suatu masalah tertentu, baru disampaikan kepada sahabat. Tetapi sebaliknya beliau langsung mendiktekan semua ayat-ayat tersebut kepada para sahabat tanpa melihat materi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, tidaklah berarti Nabi SAW tidak pernah memberi keterangan tentang hubungan antar ayat, sebaliknya beliau selalu menyampaikan apakah ayat tertentu merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya atau tidak ada hubungan sama sekali.[30] Oleh karena itu dapat dipahami bahwa penulisan al-Qur’an sebagaimana format sekarang tidak berdasarkan urutan turunnya, melainkan berdasarkan keserasian hubungan ayat-ayat dan suratnya. Proses penulisan al-Qur’an itu sendiri tidak lepas dari pengawasan dengan perantaraan Jibril kepada Nabi SAW diteruskan kepada para penulis al-Qur’an.

Secara sepintas memang nampak susunan demikian tidak serasi dan tidak memuaskan setiap pembahasan dalam topik tertentu. Namun perlu diketahui bahwa seni tata ruang yang dilakukan seseorang ahli di bidang itu sebagai contoh secara lahirnya sulit dipahami. Berdasarkan pelakunya adalah seorang, pikiran kita pasti bertanya-tanya apa hikmah di balik demikian. Begitu juga halnya dengan al-Qur’an, penyusunannya dikendalikan langsung oleh Allah tentu mempunyai makna dan rahasia yang perlu pamahaman yang mendalam. Untuk menunju kepada pemahaman kepada hal tersebut tentu tidak akan tercapai dengan pamahaman yang dangkal dan tidak mempunyai keahlian dalam bidang tersebut.

Para ulama yang bergelut dalam bidang ‘Ulum al-Qur’an berusaha memahami apa gerangan rahasia di balik sistematika tata urutan setiap ayat al-Qur’an. Bahkan mereka juga berusaha memahami rahasia susunan kata demi kata dalam al-Qur’an, dan banyak di antara mereka yang memberikan penjelasan yang cukup rasional.

 

  1. Segi-segi Munasabah al-Qur’an

Sistematika al-Qur’an merupakan salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an itu sendiri. Karena dimensi tersebutlah sistematika sulit dan sukar untuk dimengerti oleh manusia, tanpa melakukan kajian secara khusus dan mendalam. Sistematika al-Qur’an makin mengambang pemahamannya bila dibandingkan dengan sistematika karya ilmiah buah tangan manusia. Pisau analisa yang digunakan dalam kajian sekitar sistematika al-Qur’an tidak hanya dicukupkan dengan yang lazim digunakan dalam telaah keilmuan dalam koridor ilmiah. tetapi mesti adanya telaah yang multi dimensi seperti dimensi kemukjizatan al-Qur’an itu sendiri. hal ini sebgai konsekuensi bahwa al-Qur’an juga diturunkan sebagai mukjizat yang menantang sikap arogansi kaum Quraisy terhadap al-Qur’an.

Sistematika redaksi al-Qur’an telah ditata sedemikian rupa oleh Allah SWT, sehingga ditemukan adanya munasabah (keserasian yang ditemukan dalam ayat-ayat dan surat al-Qur’an), yaitu keserasian antara satu kalimat dengan kalimat yang lain dalam satu ayat, antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam banyak ayat antara fasilah (pemisah) dengan kandungan surat, antara satu surat dengan surat yang lainnya, antara mukadimah satu surat dengan akhir surat, antara akhir satu surat dengan awal surat berikutnya, dan atau antara nama surat dengan kandungan surat.[31]

berdasarkan kutipan diatas, dapat dijabarkan paling kurang terdapat delapan macam atau delapan tempat yang memungkinkan keharusan adanya munasabah baik yang berkaitan dengan ayat-ayat maupun dengan surat-surat serta hubungan antara ayat dari suatu surat dengan ayat dalam surat lain, di antaranya adalah :

  1. Munasabah antara satu surat dengan surat berikutnya. Contohnya, surat al-Fatihah berkaitan dengan surat al-Baqarah ayat 152 dan 186.
  2. Munasabah antara akhir satu surat dengan awal surat berikutnya. misalnya, akhir surat al-Fatihah berkaitan erat dengan awal surat al-Baqarah. jika akhir surat al-Fatihah mengandung do’a agar umat Islam diberi jalan yang lurus, taitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, maka awal surat al-Baqarah menjawab do’a tersebut dengan agar umat Islam berpedoman pada al-Qur’an. Orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya akan nikmat dan tidak dimurkai Allah.
  3. Munasabah antara pembuka dan awal sebuah surat, seperti surat Qaf yang mayoritas ayatnya menggunakan Qaf. Sebagai contoh: Al-Qaul, al-Qurb, al-Qalb, dan al-Qur’an. Demikian juga dalam surat al-Ra’du yang dimulai dengan kalimat alif lam ra, seperi kata al-‘Arsyi, al-Qamar, al-Tsamarat, al-Ardh, al-Turab, al-Nar, al-Arham, an-Nur dan kata ar-Ra’du
  4. Munasabah antara awal dan akhir sebuah surat. Awal surat al-Qashash menceritakan perjuangan Nabi Musa AS dalam melawan kekuasaan Fir’aun, dan usahanya untuk keluar dari Mesir atas perintah dan bantuan Allah SWT. Sedangkan pada akhir surat tersebut Allah SWT menyampaikan berita gembira kepada Nabi SAW dengan menjanjikan dengan mengembalikan beliau ke Mekkah setelah sebelumnya hijrah ke Madinah. Karena surat itu diceritakan juga bahwa Nabi Musa AS tidak akan menolong orang yang berbuat dosa, sementara pada akhir surat itu juga Allah SWT melarang Nabi SAW untuk menolong orang-orang kafir.
  5. Munasbah antara nama dan isi (isi yang mendominasi) sebuah surat. Surat al-Fatihah memiliki banyak nama, diantaranya fatihah al-Kitab, Um al-Qur’an, Sab’ al-Masani, al-Kans dan al-Asas. Nama-nama ini sesuai dengan kandungan yang ada dalam surat al-Fatihah tersebut.
  6. Munasabah antara satu ayat dengan ayat yang lainnya dalam sebuah surat. Misalnya, surat al-Baqarah: 1-20. ke-20 ayat ini berbicara mengenai tiga kelompok sosial, yaitu orang-orang mukmin (ayat: 1-5), orang-orang kafir (ayat: 6-7), dan orang-orang munafik (ayat: 8-20). Pada setiap kelompok dibicarakan pula sifat-sifat ketiga kelompok tersebut. Jika suatu surat cukup pendek, maka seluruh ayatnya saling mendukung.

 

  1. PENUTUP

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa al-Qur’an adalah pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, disamping  ilmu asbab al-nuzul, ilmu munasabah juga penting dan erat kaitannya dengan ilmu tafsir. Dengan kita mengetahui sebab-sebab turunnya ayat juga seluk beluk kesesuaian dan keterkaitan satu sama lain, hal ini akan  sangat membantu kita dalam segi kecermatan dan ketelitian ketika memahami isi kandungan suatu ayat yang ditafsirkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zaid, Nasr Hamid, Tekstualitas al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qurán (Yogyakarta: LKiS, 2001).

Al-Biqa’i, Ibrahim bin Umar, Nazm al-Dural fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar (Beirut: Darul Qutub Ilmiah, Cet. I, 1995).

Ilyas, Hamim, Asbab an-Nuzul Dalam Studi Al-Qur’an, dalamYudian W. Asmin (ed.), Kajian Tentang Al-Qur’an dan Hadis: Mengantar Purna Tugas Prof. Drs. H.M. Husein Yusuf, Yogyakarta: Forum Studi Hukum Islam Fakultas Syariáh IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1994.

Mubarak, Jaih, Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam (Bandung: Rosada, 2000).

Muhaimin, dkk, Dimensi-dimensi Studi Islam (Surabaya: Karya Abditama, Cet. I, 1994).

Nasution, Harun (ed.), Ensiklopedia Islam (Jakarta: DEPAG RI, Jilid III, 1988).

Tim Penyusun,  Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve Cet. I, jld. IV, 1997).

Al-Qattan, Manna’, Mabahis fi Ulum al-Qur’an (Beirut: al-Muttahidah, 1973).

———, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an (Jakarta:Pustaka Firdaus, 1999).

———,Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual (Bandung: Pustaka, Cet. II, 2000).

Rahman, Fazlur, Islam (Bandung: Pustaka, Cet. IV 2000).

Al-Shabuni, Mohammad Aly, Pengantar Studi al-Qur’an (Bandung: Al-Ma’arif,1984).

Al-Shalih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu AlQur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus,1999).

Al-Shiddiy, Hasby, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur’an/Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1974).

Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an (Bandung: Mizan, Cet XII).

Al-Suyuti, al-Imam Jalaluddin, al-Itqon fi Ulum al-Qur’an (Kairo: Darul Fikri, 1951).

Thabathabaí, Allamah M.H., Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, alih bahasa A. Malik Madaniy dan Hamim Ilyas (Bandung: Mizan, Cet. IV, 1992).

Al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ilum al-Qur’an (Bairut: Darul al-Kutub al-‘ilmiah, 1988).

Al-Zarqani, Muhammad Abdul Azim, Manahij al-Irfan fi Ulum al-Qur’an (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2001).

 

 

* Peserta Program Pascasarjana Kader Ulama Konsentrasi Aqidah dan Filsafat Hukum Islam IAII Situbondo.

[1] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qurán: Kritik Terhadap Ulum al-Qurán (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. 125-126.

[2] Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu al-Qur’an, (ter.): Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hal. 45.

[3] Manna’ Khalil al-Qatan, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an (Jakarta: Litera Antarnusa, 1987), hal.106.

[4] Subhi…, Studi…,), Jakarta: Pustaka Firdaus,1999), hal. 155.

[5] Allamah M.H. Thabathabaí, Mengungkap Rahasia Al-Qurán, alih bahasa A. Malik Madaniy dan Hamim Ilyas, (Bandung: Mizan, cet. IV, 1992), hlm. 121.

[6] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas.., hlm. 146-147.

[7] Al-Qattan, Studi…,hal.107

[8] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas.., hlm. 146-147.

[9] Hamim Ilyas, Kajian.., hlm. 77-78. lihat pula Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas.., hlm.137-138.

[10] Al-Qattan, Studi…,120-121.

[11] Ibid, hal.131-132.

[12] Al-Qattan, Mabahits fi Ulum al-Qurán (Beirut: al-Muttahidah, 1973), hlm. 75-82.

[13] Al-Shiddiqy, Pengantar…, hal.65

[14] Al-Qattan, Studi…, hal.132

[15] Hamim Ilyas, Kajian.., hlm. 73.

[16] Syah Waliyullah al-Dahlawi mempunyai nama asli Kutb al-Din al-Dahlawi, lahir di Delhi India tahun 1973 dan wafat tahun 1762. Gelar Syaih Waliyullah diperoleh karena kedalamannya di bidang agama. Keahliannya dibidang Tafsir, hadis dan fiqh. Pada tahun 1971 ad-Dahlawi menunaikan ibadah haji sambil memperdalam ilmu di Mekah dan Madinah selama tigatahun. Ad-Dahlawi telah menghasilkan 9 kitab, diantaranya ushul al-tafsir fauz al-kabir fi ushul al-tafsir, yang berisi metodologi tafsir dan tafsiran baru yang disesuaikan dengan zaman, termasuk didalamnya ide tentang asbab an-nuzul makro. Gagasan-gagasan beliau oleh Pemikir Islam terutama di India. Pujian terhadap ad-Dahlawi diantaranya diungkapkan oleh Muhammad Iqbal, seorang pujangga dan penyair Islam dari Pakistan, “Syaih Waliyullah ad-Dahlawi adalah ulama besar terakhir”. Sepeninggal ad-Dahlawi, gagasan pembaharuannya dilanjutkan dan dikembangkan oleh Pemimpin gerakan pembaharuan Islam di India, seperti Syaih Abdul Azizi (putranya) Sayid Ahmad Sahid, Syaih Ismail (cucu), Sayid Syarifatullah, Shidiq Khan, dll. Lebih lanjut baca Harun Nasution (ed.), Ensiklopedia Islam, III (DEPAG: Jakarta , 1988) hlm. 911-915.

[17] Hamim Ilyas, Kajian.., hlm. 73.

[18] Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, perbatasan India (sekarang menjadi bagian negara Pakistan) dan meninggal 26 Juli 1988 di Chicago. Rahman merupakan intelektual radikal bagi masanya. Gelar kesarjanaannya diperoleh dari Universitas Punjab (1942), gelar Doktor dari Universitas Oxford dalam bidang Filsafat (1949). Karirnya sebagai Dosen dimulai ketika ia mengajar Bahasa Persia dan Filsafat Islam di Universitas Durham (1950-1958), assisten Professor dalam bidang Islamic Studies di McGill University. Rahman sempat meninggalkan karir akademis yang telah mapan demi menghadapi tantangan-tantangan di Pakistan. Pada awalnya Rahman diangkat sebagai professor tamu, lalu menjadi Direktur Pusat Lembaga Kajian Islam (Central Institue of Islamic Research) tahun 1961-1968. Akibat ancaman politik dan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi karya intelektualnya, Rahman mengundurkan diri dari lembaga tersebut dan pada musim semi tahun 1969 Rahman ditunjuk sebagai Professor Pemikiran Islam di Universitas Chicago dan mengabdi hingga akhir hayatnya. Tokoh-tokoh yang banyak mempengaruhi pemikiran Rahman adalah al-Ghazali, Ibn Taimiyah, Syaih Waliyullah ad-Dahlawi, asy-Syatibi dll. Pendekatan yang digunakan Rahman lebih bercorak sosio-historis. Semasa hidupnya – setidak-tidaknya – Rahman telah menulis 10 buku, 69 artikel dan 4 artikel dalam Ensiklopedia. Diantara karya (buku) yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah: Tema-tema Pokok Al-Qurán (Major Themes of Qurán), Membuka Pintu Ijtihad (Islamic Methodology in History), Islam dan Modernitas:Tentang Transformasi Intelektual (Islam and Modernity), Islam (Islam), Filsafat Shadra (The Philosophy of Mulla Shadra), Kenabian Dalam Islam (The Propecy in Islam), dan Kebangkitan dan Pembaharuan di Dunia Islam (Revival and Reform in Islam: a Study of Islamic Fundamentalism).

[19] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intelektual (Bandung: Pustaka, cet. II, 2000), hlm. 6-7. lihat pula Fazlur Rahman, Islam (Bandung: Pustaka, cet. IV, 2000), hlm. 386.

[20] Hamim Ilyas, Kajian.., hlm. 86.

[21] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas.., hlm. 135.

[22] Al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ilum al-Qur’an (Bairut: Darul al-Kutub al-‘ilmiah, 1988)

[23] Tim Penyusun, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cet. I, jld IV, 1997)

[24] Ibrahim bin Umar al-Biqa’i, Nazm al-Dural fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar (Beirut: Darul Qutub Ilmiah, Cet. I, 1995)

[25] Ibid, hlm. 5.

[26] Subhi Shalih, Membahas  Ilmu-ilmu al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet. IV, 1993), hlm. 18.

[27] Shihab M. Quraish, Membumikan al-Qur’an (Bandung: Mizan, Cet XII, 1996), hlm. 112.

[28] Al-Qattan.., hlm. 137

[29] Ibid,

[30] Ibid., hlm. 241

[31] Muhaimin, dkk, Dimensi-dimensi Studi Islam (Surabaya: Karya Abditama, Cet. I, 1994), hal. 93.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *