FALSAFAH AQIDAH DALAM AL QUR’AN; Kedalaman Dan Rasionalitas Dalam Penyajian Ayat-Ayat Aqidah

Oleh: Enda Arova Rohmatuka, S.Pd.I

PENDAHULUAN

Aqidah merupakan doktrin pertama yang ditekankan dalam keyakinan seorang muslim. Bahkan dengan konsep monoteisme yang dibawa Islam, aqidah telah menjadi doktrin yang paling penting, di samping juga menjadi subjek wacana teologi yang luas. Selama sepuluh tahun masa awal dakwah Islam di Makkah, dihabiskan untuk menguatkan dasar aqidah ini. Baru pada tahun ke sepuluh kenabian ada perintah untuk shalat. Hal ini dapat dipahami karena sebelum Islam datang membawa ajaran monoteisme, Jazirah Arab – tempat diturunkannya al Qur’an dan awal dakwah Islam –  dipenuhi dengan kepercayaan politeisme. Sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama hanya untuk menguatkan dasar-dasar aqidah dan ketuhanan yang benar-benar tunggal dan Maha Esa.

Dasar-dasar aqidah tersebut disampaikan melalui ayat-ayat al Qur’an, dan hampir seluruh bagian al Qur’an berhubungan dengan aqidah. Sementara Islam merupakan ajaran, sekaligus ideologi, pemikiran dan kehidupan. Selain itu Islam juga memiliki hakikat Ilahi sekaligus insani.[1]

Dengan demikian aqidah Islam berhubungan erat dengan segala aspek kehidupan manusia. Aqidah menjadi pangkal pokok tema-tema lainnya dalam ajaran Islam, seperti masalah-masalah kehidupan, manusia, harta benda, dan ilmu pengetahuan. Aqidah menjadi sendi yang mendasari segala nilai dan amal perbuatan manusia, sehingga mampu membentuk moral (akhlak), yang kemudian mengendalikan tingkah laku seseorang. Karena itulah awal mula dakwah rasul dititikberatkan pada penanaman dasar aqidah keimanan yang kuat dan sempurna.[2]

Demikian pentingnya aqidah dalam agama Islam ini sehingga al Qur’an sebagai kitab sucinya pun menyebutkan banyak sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan aqidah. Dan makalah ini akan mencoba membahas makna filosofis dari beberapa ayat aqidah yang ada dalam al Qur’an, serta kedalaman dan rasionalitas dalam penyajian ayat-ayat tersebut, kemudian mencoba mengkaitkannya dengan realitas yang terjadi di masyarakat muslim dunia pada masa sekarang ini. Dengan demikian rumusan pertanyaan yang akan dibahas adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana pemaknaan konsep aqidah sebagai inti ajaran Islam? 2) Bagaimana penyajian serta pemaknaan ayat-ayat aqidah yang ada dalam al Qur’an? 3) Bagaimana aqidah Islam dapat menjembatani problematika yang terjadi pada masyarakat muslim dewasa ini?

 

PEMAKNAAN KONSEP AQIDAH SEBAGAI INTI AJARAN ISLAM

Term aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan, aqidah dalam hal ini dimaksudkan pada sesuatu yang diyakini oleh seseorang. Aqidah merupakan perbuatan hati, yakni kepercayaan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Sedangkan aqidah dalam Islam bermakna iman kepada Allah, malaikat Allah, kiab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, hari akhir, dan qadha’ qadar, yang mana hal ini lebih umum disebut sebagai rukun iman.[3]

Ajaran atau syariat agama Islam sendiri terbagi menjadi dua, yakni yang bersifat i’tiqadiyah (kepercayaan) dan ‘amaliyah (perbuatan). Kepercayaan dalam hal ini menjadi pokok agama, dan amal perbuatan menjadi cabang yang berdiri di atas pokok agama. Sehingga benar atau rusaknya ‘amaliyah tergantung dari benar atau rusaknya i’tiqadiyah, dan aqidah yang benar menjadi fundamen serta merupakan syarat sahnya amal.[4] Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat al Qur’an berikut ini:

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”(QS. al Kahfi: 110)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (QS. al Zumar: 65)

 

Selain dapat menghapus amal kebaikan yang telah dilakukan, dalam al Qur’an juga disebutkan bahwa mempersekutukan Tuhan merupakan dosa yang paling besar dan tidak akan diampuni. Hal ini karena dalam kemusyrikan terkandung penzaliman terhadap hakikat dan menurunkan manusia dari tingkat penguasa dunia (khalifah Allah fi al ardl) ke tingkat perbudakan yang tunduk pada makhluk. [5]

Aqidah yang lurus ini benar-benar menjadi fokus perhatian dalam dakwah, tidak hanya oleh Nabi Muhammad saw. saja, tetapi Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., dan seluruh nabi yang diutus sebelum Muhammad, juga melakukan hal yang serupa. Seluruh nabi yang diutus mulai dari Adam as. hingga Muhammad saw. membawa perintah aqidah untuk mengesakan Allah swt. Namun syariat yang dibawa masing-masing nabi tidaklah dapat dianggap sama, karena aqidah yang ada dalam agama Islam pun memiliki ciri-ciri tersendiri, yakni:

  1. Keterbukaan dalam syahadat,
  2. Wawasan yang luas yang menjadikan Allah sebagai Tuhan seluruh alam, bukan Tuhan orang Islam saja,
  3. Kejelasan dan kesederhanaan,
  4. Keutuhan antara iman (aqidah) dan Islam (amal perbuatan).[6]

Dalam aqidah Islam ini, yang menempati urutan pertama untuk diyakini adalah keberadaan Allah sebagai Tuhan yang Maha –Maha segalanya– dan Dia hanya ada satu –Maha Esa– yang lebih dikenal dengan konsep tauhid. Meskipun tauhid ini hanya merupakan salah satu bagian dari aqidah Islam, namun tauhid ini justru menjadi inti dari aqidah Islam, dan tampak pada kalimat syahadat.

Pentingnya peran agama Islam sebagai agama paripurna yang tidak mengatur urusan ukhrawi saja, namun juga dalam mengatur urusan-urusan duniawi, menjadikan aqidah sebagai landasan berfikirnya. Dalam hal ini tauhid –yang merupakan ilmu yang membahas tentang Allah swt., sifat-sifat yang wajib pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan pada-Nya, dan sifat-sifat yang harus ditiadakan dari pada-Nya, serta tentang rasul-rasul Allah untuk menetapkan kerasulan mereka, hal-hal yang wajib ada pada diri mereka, hal-hal yang boleh dikaitkan kepada mereka, dan hal-hal yang terlarang mengaitkannya pada mereka[7]– harus mampu menjadi dasar segala perbuatan yang dilakukan seorang muslim, termasuk menjadi pengendali untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang baginya.

Keyakinan terhadap keesaan Allah ini tidak sekedar untuk diucapkan dan diyakini saja, melainkan lebih dari itu. Keyakinan tersebut harus ditunjukkan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hambanya yang beragama dan meyakini keberadaannya, setidaknya juga harus mampu menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Dalam pengakuan tentang keesaan Allah ini terkandung dua segi yakni segi rububiyah (keesaan dalam menciptakan dan memimpin) dan segi uluhiyah  (keesaan dalam pemujaan dan kebaktian). Sedangkan dalam pengakuan terhadap risalah kenabian terkandung upaya membenarkan dan meyakinkan secara sempurna tentang adanya malaikat, kitab, hari akhir, pokok syari’at dan hukum.[8] Sementara itu untuk mengenal Allah dengan jalan perasaaan fitrah dan rasa hati tidaklah memerlukan bukti. Karena perkenalan dengan cara ini sudah kesadaran dari unsur rohani, yang secara alami ada di tiap diri manusia.[9]

 

AYAT-AYAT AQIDAH DALAM AL QUR’AN

Ajaran al Qur’an dari awal hingga akhir mengandung ajakan kepada tauhid, mengingkari kemusyrikan, menjelaskan balasan baik dan buruk. Dan ayat-ayat aqidah memiliki porsi paling banyak dari keseluruhan ayat dalam al Qur’an. Di antara ayat-ayat al Qur’an yang berbicara tentang aqidah adalah:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. (QS. al Ikhlas: 1-4)

Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. : 3)

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. : 88)

dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS. al Baqarah: 115)

 

  1. dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al Baqarah: 186)

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Nisa’: 135)

Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. orang-orang Itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (QS. Al Nisa’: 162)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. Al Taubah: 20)

 

Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya. (QS. al Anbiya’: 94)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, (QS. al Ahzab: 70)

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh Balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang Tinggi (dalam syurga). (QS. Saba’: 37)

 

Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Fathir: 7)

 

KEDALAMAN DAN RASIONALITAS PENYAJIAN AYAT AQIDAH DALAM AL QUR’AN

Beberapa ayat yang telah dipaparkan di atas, di antaranya menggambarkan salah satu aspek aqidah yakni tauhid atau ketuhanan. Serta memberikan penjelasan bahwa Tuhan Allah merupakan pencipta, satu-satunya pencipta, tiada berawal dan berakhir, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Berkehendak, Maha Sempurna dalam segala hal. Dalam bahasa filsafat, aqidah tersebut memiliki dua eksistensi yakni eksistensi keabadian dan eksistensi waktu.[10]

Al Qur’an menyebut kata aqidah (‘aqada dan bentukan katanya), sebanyak tujuh kali, yakni dalam surat al Nisa’: 33, al Maidah: 89, al Maidah: 1, al Baqarah: 235, al Baqarah: 237, Thaha: 27, dan al Falaq: 4.[11]

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya, dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. al Nisa’: 33)

 

Dalam ayat di atas bentukan lafadznya adalah ‘aqadat, dan memiliki makna bersumpah setia.

 

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.

 

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. al Maidah: 89)

 

Aqidah dalam hal ini merupakan sebuah aksioma yang memasuki akal batin, tertanam kuat di dalamnya, berpengaruh pada pikiran dan perasaan, serta mengarahkan pola pikir dan perbuatan-perbuatan manusia. Dalam menunjuk hal ini al Qur’an menggunakan kata amana-yu’minu dan bentukan kata lain dari kata tersebut. Untuk menyebutkan aqidah atau keimanan dalam pengertian khusus –keimanan mutlak–  kata amana-yu’minu dan kata bentukannya memiliki makna sebagai berikut:

  1. Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb,
  2. Meyakini bahwa Allah sebagai Pemilik yang berwenang mutlak,
  3. Meyakini bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi,
  4. Meyakini segala yang diwahyukan kepada para nabi melalui perantara malaikat, juga meyakini kebenaran para rasul, hari akhir, dan takdir.[12]

Namun kata amana-yu’minu dan kata bentukannya juga digunakan untuk merujuk pada keyakinan yang salah. Karena dari zaman dahulu hingga saat ini pun masih terdapat pengikut berbagai aliran yang menyimpang dan meyakini ideologi yang salah. Keyakinan terhadap ideologi yang salah ini juga disebut sebagai sebuah keimanan –yang salah– dengan menyandarkannya pada kebatilan yang diimani,[13] seperti yang terdapat pada ayat berikut ini:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. (QS. al Nisa’: 51)

 

Atau bisa disebut sebagai sebuah keimanan –yang salah– namun membatasinya dengan sebutan tertentu,[14] seperti yang terdapat pada ayat berikut:

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).

 

Setiap nabi atau rasul yang diutus –termasuk Muhammad saw– pada awal dakwahnya selalu mengucapkan “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya”. Kalimat seperti ini di antaranya ada pada surat al A’raf: 59, 65, 73 dan 85, hal ini dilakukan karena aqidah merupakan landasan bangunan Islam.[15]

Sementara itu, untuk memahami tujuan pewahyuan ayat-ayat aqidah, perlu diketahui beberapa prinsip dari aqidah itu sendiri. Syaikh Ali Thanthawi merumuskan prinsip-prinsip dalam memahami aqidah, sebagai berikut:

  1. Apa yang bisa diketahui dengan indra, tidak diragukan bahwa ia ada,
  2. Sebagaimana keyakinan bisa diperoleh melalui indra dan penglihatan, keyakinan juga bisa diperoleh melalui kabar yang disampaikan oleh orang yang terpercaya kejujurannya,
  3. Tidak dibenarkan bagi seseorang untuk mengingkari keberadaan benda-benda semata hanya karena tidak dapat terdeteksi oleh indra,
  4. Daya khayal manusia tidak mampu membayangkan selain apa yang telah terdeteksi oleh indra,
  5. Akal tidak bisa mengetahui dan menghukumi sesuatu, kecuali sesuatu tersebut dibatasi oleh ruang dan atau waktu. [16]

Di samping memahami prinsip-prinsip di atas, untuk menghasilkan sebuah keyakinan yang kuat atas aqidah seorang muslim juga digunakan tiga aturan rasionalitas berikut ini:

  1. Menolak semua yang tidak berkaitan dengan realitas, aturan ini melindungi seorang muslim dari membuat pernyataan yang tidak jelas dan dapat dibuktikan.
  2. Menafikan hal-hal yang sangat bertentangan, aturan kedua ini melindungi dari kontradiksi di satu pihak dan paradoks di pihak lain. Terlebih dalam hal kontradiksi antara wahyu dan akal, aturan ini dapat menolak kontradiksi tersebut, yakni dengan terus mempelajari tesis-tesis yang tampak bertentangan itu. Sehingga dapat menunjukkan kesatuan dari dua sumber kebenaran, wahyu dan akal.
  3. Terbuka terhadap bukti baru dan atau berlawanan, aturan yang terakhir ini dapat melindungi seorang muslim dari literalisme, fanatisme, dan konservatisme yang hanya membawa stagnasi.[17]

Dengan hal-hal yang telah disebutkan di atas, menjadikan seorang muslim mampu memperoleh keyakinan atas aqidahnya melalui ayat-ayat yang terdapat dalam al Qur’an. Keyakinan atas aqidah ini kemudian diiringi dengan cabang atau furu’nya, yakni amal perbuatan. Dengan adanya keyakinan akan tauhid –bahwa Allah itu Tuhan yang menguasai manusia, menjadi Raja bagi manusia, dan satu-satunya tuhan yang berhak disembah– mengantarkan pada kewajiban untuk menyembah-Nya dan hanya menyembah kepada-Nya. Rangkaian yang tidak dapat dipisahkan ini dapat dilihat dalam ayat al Qur’an berikut ini:

Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. (QS. al Nas: 1-3)

 

Dalam ayat di atas, walaupun telah disebutkan kata al nas pada ayat pertamanya, namun ayat kedua dan ketiga tetap menyebutkan al nas, tidak menggunakan kata ganti. Hal tersebut selain memperlihatkan keindahan bahasa yang digunakan dalam al Qur’an, juga karena ketiga hal itu merupakan perkara yang masing-masing berdiri sendiri. Namun meski demikian ketiganya tetap memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain dan membentuk suatu kesatuan rangkaian seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.[18]

 

AQIDAH ISLAM DAN TANTANGAN DUNIA MODERN

Pada zaman yang telah maju ini, aqidah –dalam hal ini pendidikan aqidah– seolah terabaikan. Kecenderungan masyarakat yang hedonis lebih mengunggulkan urusan dunia dan semakin mengikis kesadaran akan adanya akhirat, sehingga aqidah pun ikut terkesampingkan. Padahal jika mau mencermati lebih dalam terhadap makna dan kontribusi yang mampu diberikan oleh sebuah konsep aqidah Islamiyah, akan terlihat kunci jawaban atas berbagai persoalan yang saat ini tengah membelit masyarakat dunia modern. Karena Islam adalah ajaran, sekaligus ideologi, pemikiran, dan kehidupan itu sendiri. Antara Islam dan kehidupan modern merupakan dua sisi yang tak dapat dipisahkan, antar keduanya pun tidak bertentangan, hal ini memperlihatkan sifat Ilahi sekaligus insani yang dimiliki oleh Islam.[19]

Sementara realita kehidupan manusia dewasa ini penuh dengan berbagai persoalan yang sangat kompleks, mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, hingga etika moral pun tampak carut marut. Islam dengan aqidah sebagai kuncinya dapat menjadi salah satu jawaban untuk berbagai persoalan yang terjadi. Aqidah Islam dapat menjadi kunci yang mengendalikan dan mengarahkan kemajuan yang dicapai ke arah kemanusiaan dan peradaban.

Dalam sejarah telah dicatat keberhasilan Muhammad saw. dalam membina sebuah tatanan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera dengan menggunakan basis aqidah Islam. Tentunya yang dimaksud di sini tidak lantas mengarah pada pembentukan sebuah negara Islam, melainkan

Keimanan dalam diri seseorang dapat menumbuhkan perasaan cinta dan semangat, karena meyakini bahwa dirinya berada dalam pengawasan Allah. Menjauhkan diri dari tipu muslihat, kehinaan moral dan pelecehan hak. Merasakan keagungan Tuhan, sehingga memandang seluruh keberadaan selain diri-Nya hanyalah makhlauk. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan. Merasakan ketenangan jiwa.[20]

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

al Aqqad, Abbas Mahmud. Filsafat Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.

 

Jaelani, Bisri M. Ensiklopedi Islam. Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007.

 

Khansa, Ummu. Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama dalam http://belajar-tauhid.blogspot.com/2005/05/makna-aqidah-dan-urgensinya-sebagai.html, diakses tanggal 31 Oktober 2011

 

Mariyah, Robii’atul. al Bahts an al Aqidah fi al Qur’an, tugas mata kuliah Studi al Qur’an, Program Pascasarjana IAI Ibrahimy Situbondo, 2011.

 

Paulusjan, Makalah Lengkap Tauhid dalam http://murtadinkafirun.forumotion.net/t11927-makalah-lengkap-tauhid, diakses tanggal 31 Oktober 2011.

 

Qardhawi, Yusuf. Berinteraksi dengan al Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press, 1999.

 

Qiraati, Muhsin. Membangun Agama. Bogor: Cahaya, 2004.

 

Shalaby, Ahmad. Studi Komprehensif tentang Agama Islam. Surabaya: Bina Ilmu, 1988.

 

Sho’ub, Hasan. Islam dan Revolusi Pemikiran; Dialog Kreatif Ketuhanan dan Kemanusian. Surabaya: Risalah Gusti, 1997.

 

Syaltut, Mahmud. Akidah dan Syari’ah Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1990.

 

Thanthawi, Syaikh Ali. Aqidah Islam, Doktrin dan Filosofi. Solo: Era Intermedia, 2004.

 

Yafie, Ali. “Informasi al Qur’an” dalam Mukjizat al Qur’an dan as Sunnah tentang Iptek, Jilid 2. Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

 

[1] Hasan Sho’ub, Islam dan Revolusi Pemikiran; Dialog Kreatif Ketuhanan dan Kemanusian (Surabaya: Risalah Gusti, 1997), h. 183

[2] Ali Yafie, “Informasi al Qur’an” dalam Mukjizat al Qur’an dan as Sunnah tentang Iptek, Jilid 2 (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 181.

[3] Ummu Khansa, Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama dalam http://belajar-tauhid.blogspot.com/2005/05/makna-aqidah-dan-urgensinya-sebagai.html, diakses tanggal 31 Oktober 2011

[4] Ibid.

[5] Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan al Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), h. 109.

[6] Ali Yafie, Informasi al Qur’an dalam “Mukjizat al Qur’an dan as Sunnah tentang Iptek Jilid 2” (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h. 181

[7] Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007), h. 412.

[8] Mahmud Syaltut, Akidah dan Syari’ah Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), h.5

[9] Ahmad Shalaby, Studi Komprehensif tentang Agama Islam (Surabaya: Bina Ilmu, 1988), h.56.

[10] Abbas Mahmud al Aqqad, Filsafat Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), h. 157.

[11] Robii’atul Mariyah, al Bahts an al Aqidah fi al Qur’an, tugas mata kuliah Studi al Qur’an, Program Pascasarjana IAI Ibrahimy Situbondo, 2011, h. 3.

[12] Syaikh ali Thanthawi, Aqidah Islam, Doktrin dan Filosofi (Solo: Era Intermedia, 2004), h. 13.

[13] Ibid. h. 12.

[14] Ibid.

[15] Ummu Khansa, Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama.

[16] Syaikh Ali Thanthawi, Aqidah Islam, h. 15 – 32.

[17] Paulusjan, Makalah Lengkap Tauhid dalam http://murtadinkafirun.forumotion.net/t11927-makalah-lengkap-tauhid, diakses tanggal 31 Oktober 2011.

[18] Syaikh Ali Thanthawi, Aqidah Islam, h. 46.

[19] Hasan Sho’ub, Islam dan Revolusi Pemikiran, h. 183.

[20] Muhsin Qiraati, Membangun Agama (Bogor: Cahaya, 2004), h. 11-12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *