Karekteristik Aqidah Dalam Al-Qur’an,  (Bentuk Toleransi agama Islam)

 

Dwi Aprilianto

Pendahuluan

Kebutuhan untuk menggali dan merumuskan petunjuk (hidayah) Al-Qur’an untuk kehidupan umat Islam di seluruh lini kehidupan semakin dirasa mendesak. Apalagi akhir-akhir ini, ada kegamangan dalam memilih sikap dan pandangan hidup, justru kaum muslim menunjukkan animo yang luar biasa dalam  keagamaan yang menjadi panduan segala hal yang terkait  urusan dunia dan akhirat. Kiranya hubungan intra dan antar umat beragama dalam konteks sosial menjadi tema yang sangat aktual untuk dibicarakan. Apalagi di Indonesia, sebagai negara demokrasi dan dihuni oleh mayoritas muslim, tentu saja wacana dan pedoman yang dianut oleh mayoritas penduduk muslim dalam menerapkan praktek demokrasi akan menjadi mainstream fokus hubungan antara Islam dan sikap toleransi di satu sisi dan peran Islam dalam membimbing hubungan antar umat beragama di sisi lain.

Al-Qur’an tidak pernah menyebut-nyebut kata tasamuh/toleransi aqidah secara tersurat hingga kita tidak akan pernah menemukan kata tersebut termaktub di dalamnya. Namun, secara eksplisit Al-Qur’an menjelaskan konsep toleransi aqidah dengan segala batasan-batasannya secara jelas dan gamblang. Oleh karena itu, ayat-ayat yang menjelaskan tentang konsep toleransi aqidah dapat dijadikan rujukan dalam implementasi toleransi dalam kehidupan.

Dari kajian bahasa di atas, toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mehrgaii adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adapt-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Ini semua merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan.

Seluruh manusia tidak akan bisa menolak sunnatullah ini. Dengan demikian, bagi manusia, sudah selayaknya untuk mengikuti petunjuk Tuhan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu. Toleransi antar umat beragama yang berbeda termasuk ke dalam salah satu risalah penting yang ada dalam system teologi Islam. Karena Tuhan senantiasa mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adapt-istiadat, dsb.

Konsep toleransi yang ditawarkan Al-Qur’an sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan ibadah, umat Islam tidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat Islam kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhan-tuhan mereka. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya. Bahkan Islam melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. Maka kata tasamuh atau toleransi dalam Islam bukanlah “barang baru”, tetapi sudah diaplikasikan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir.

 

Pemahaman Teks Ayat  Ayat Aqidah Dalam Al Quran

Dalam hasil penelitian Syamsul Hidayat, disebutkan bahwa para pemikir Islam berbeda pendapat dalam melihat isyarat-isyarat Al-Qur’an tentang toleransi keagamaan, pandangan pertama, dan ini merupakan pandangan yang dominan dalam Islam dan juga dalam agama-agama lain yaitu mereka yang berangkat dari klaim kebenaran atas agamanya sendiri, sementara agama orang lain adalah agama yang salah dan sesat.[1] Alasan yang memiliki pandangan yang pertama ini menurut hasil penelitian tersebut adalah bahwa isyarat Al- Qur’an tentang keberagan dalam keagamaan dan adanya larangan pemaksaan dalam memasuki agama, adalah justru untuk menunjukan kebenaran Islam diatas agama-agama yang lain. Meski demikian Islam mengakui, bahkan menghormati adanya agama-agama tersebut. Beberapa ayat yang menjadi dasar rujukan pandangan pertama ini adalah: Al-Qur’an hanya memerintahkan mengajak mereka kepada akidah Islam dengan hikmah seperti dalam surat  An-Nahl ayat 12

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

 

Dan sekalipun orang-orangyang bukan muslim itu tetap kepada akidah mereka, hak-hak mereka dijamin oleh hukum syari’ah yang diterapkan secara sama sehingga seluruh warga bersama kedudukannya dihadapan hukum syara. Menurut Roem Rowi yang dikutip Hidayat, tidak dipaksanya manusia untuk kembali bersatu dalam agama yang satu yakni Islam dkarenakan dua hal :

Pertama, karena agama adalah keyakinan yang akan memberikan ketenangan dan kepuasan batin dan bahkan sebaliknya akan melahirkan sifat kemunafikan yang amat dibenci oleh Allah. Kedua, karena telah nyata jalan menuju kebenaran, sebagaimana jelasnya jalan menuju kesesatan, sementara manusia telah dilengkapi dengan perangkat akal.[2]

Pandangan kedua, kelompok pemikir yang melihat bahwa isyarat al-Amin Abdullah dalam bukunya “Al-Qur’an Pluralisme“(1997) yang dikutip Hidayat menegaskan : Secara dialektis dan hermeneutika, Al-Qur’an memberikan tawaran yang bersifat terapis dari kecendrungan umat beragama yang selalu ingin menuntut truth claim, secara sepihak. Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat tegas terhadap pernyataan-pernyataan umat beragama yang bersifat ekslusif tersebut. (Seakan Al-Qur’an mengatakan), “Petunjuk bukanlah fungsi dari kaum-kaum tertentu, tetapi dari Allah dan manusia manusia yang sholeh; tidak ada satu kaum pun dapat mengatakan (mengklaim) bahwa hanya merekalah yang telah diangkat Allah dan yang telah memperoleh petunjuk-petunjuk-Nya.[3] ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukan kepada nilai nilai toleransi dalam Islam dan menjadi dasar argumentasi pandangan kedua ini antara lain adalah : Al Hujarat ayat 13, ”

 

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

 

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan makhluknya, laki-laki dan perempuan, dan menciptakan manusia berbangsa-bangsa, untuk menjalin hubungan yang baik. Kata ta’ârafû pada ayat ini maksudnya bukan hanya berinteraksi tetapi berinteraksi positif. Karena itu setiap hal yang baik dinamakan dengan ma’rûf. Jadi dijadikannya makhluk dengan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah dengan harapan bahwa satu dengan yang lainnya dapat berinteraksi secara baik dan positif. Lalu dilanjutkan dengan ayat … inna akramakum ‘indallahi atqâkum… maksudnya, bahwa interaksi positif itu sangat diharapkan menjadi prasyarat kedamaian dibumi ini, namun yang dinilai terbaik di sisi Allah adalah mereka itu yang betul-betul dekat kepada Allah. Selanjutnya dalam Surat al-Ankabut ayat 46 Allah menegaskan ”

 

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka], dan Katakanlah: “Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri”.

 

  

Kemudian dalam surat al- Maidah ayat 48:

Dan kami Telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu,

 

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia dapat menciptakan suatu bangsa atau satu umat, tetapi kenapa tidak? Alasannya sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan ayat, yaitu liyabluwakum fii mâ âtâkum… untuk menguji dengan apa yang kalian terima dari tuntunan Allah. Apakah manusia akan konsisten atau menyimpang. Oleh karena Allah ingin melihat siapa yang konsisten dan siapa yang tidak/menyimpang, maka fastabiqul khairât, berlomba-lombalah untuk menunaikan kebaikan. Sebab semua akan kembali kepada Allah. Jadi dengan demikian yang dikehendaki Allah adalah pluralisme interaksi positif, saling menghormati.[4]  Dalam surat Hûd ayat 118

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat

 

Dalam ayat ini dapat dipahami kalau Tuhan mau, dengan mudah sekali akan menciptakan manusia semuanya dalam satu kelompok, monolitik dan satu agama, tetapi Allah tidak menghendaki hal tersebut. Tetapi justru Tuhan menunjukan kepada realita bahwa pada hakikatnya manusia itu berbeda. Ini kehendak Tuhan.[5]

Surat Al-Baqarah ayat 62

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

 

Jadi jelas menurut pandangan kedua ini, bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi dalam Islam dapat dijumpai dalam Al-Qur’an. Hanya saja terkadang karena fanatisme manusia yang membawa dia bukan kepada khilaf , tetapi kepada syiqaq. Khilaf adalah perbedaan pendapat yang didasari atas saling hormat menghormati, sedangkan shiqâq adalah perbedaan pendapat yang membawa kepada pertikaian dan perselisihan.[6]

Manusia harus menerima kenyataan keragaman budaya dan agama serta memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya. Bila setiap muslim memahami secara mendalam etika toleransi yang terdapat dalam Al-Qur’an, tidak perlu lagi ada ketegangan, permusuhan, dan konplik baik intern maupun antar agama selama mereka tidak saling memaksakan.

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai kebebasan untuk meyakini agama yang dipilihnya dan beribadat menurut keyakinan tersebut. Dalam Al- Qur’an banyak ayat yang berbicara tentang penerimaan petunjuk atau agama Allah. Penerimaan terhadap sebuah keyakinan agama adalah pilihan bebas yang bersifat personal. Barang siapa yang sesat berarti ia menyesatkan dirinya sendiri Al-Qur’an dalam al-Isra’, ayat 15

 

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan kami tidak akan meng’azab sebelum kami mengutus seorang rasul

 

Al-Qur’an dalam al-Rum ayat 30

 

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

 

Fitrah adalah ciptaan dan agama adalah ciptaan Allah. Dua ciptaan dari Maha Pencipta yang sama, yaitu manusia dan agama, tidak mungkin melahirkan kontradiktif. Karena itu, opsi yang terbaik adalah memilih agama ciptaan Allah. Intinya sama sepanjang sejarah, yang dibawa oleh para Nabi/Rasul dan disempurnakan dengan kedatangan Nabi/Rasul terakhir, Muhammad Saw.[7]

Toleransi beragama adalah merupakan “hukum ilahi dan “sunnah” ilahiyah yang ada disemua bidang kehidupan, sehinga keberagaman ituada dan telah menjadi karakteristik utama semua makhluk Allah bahkan manusia dalam melaksanakan kewajibannya

 

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

 

Konsep dan pemahaman keberagaman dan toleransi seperti inilah yang di dukung oleh teks wahyu, akal dan kenyataan. Teks-teks wahyu yang dirujuk seperti dalam surat Hud ayat 118-119

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) Telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

dan al-Maaidah ayat 48

 Dan kami Telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu . kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu

 

 Keragaman  Aqidah dalam Al Quran

Di sisi lain  bahwasanya Ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa perbedaan dan keragaman bangsa-bangsa, syariat dan filsafah hidup memang dikehendaki oleh Allah swt. Islam datang sedang manusia wakttu itu dalam keadaan berpecahpecah pada golongan agama sekalipun ada sedikit seklai orang orang yang mengabdi kepada Allah dengan keyakinan, golongan golongan itu saling menuduh saling kutuk mengutuk antara satu dengan yang lain  dan dalam keadan itu mereka masih mendakwakan bahwa mereka berpegang pada tali allah,  islam mengingkari semua hal itu, bahwasanya semua agama yang  di bawah oleh para nabi hanya satu.[8]

Seperti ayat Al-Qur’an yang menggambarkan bahwa Allah mengutus serangkaian nabi dan rasul kepada manusia sepanjang zaman, dengan membawa akidah Islamiyah yang benar dan agama yang suci (hanif) antara lain seperti Nabi Nuh a.s .Seperti dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 71

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, Maka kepada Allah-lah Aku bertawakal, Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

 Begitu juga kisah nabi Ibrahim bersama cucunya yang diceritakan dalam Al-Qur’an dalam surat Al Baqoroh ayat 128

 

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang

 

Nabi Yusuf  dalam surat Yunus  ayat 101

Katakanlah: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

 Nabi Sulaiman dalam surat  An Naml ayat :44

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

 

Ayat-ayat Al-Qur’an yang di dalamnya Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengajak ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) dan para penyembah berhala semua agar masuk Islam Seperti yang di jelaskan dalam surat Al Imran ayat 20 dan 64

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. dan Katakanlah kepada orang-orang yang Telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. jika mereka masuk islam, Sesungguhnya mereka Telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.

 

Katakanlah: “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

 

Di antara pokok-pokok akidah islamiah yang telah disepakati oleh kaum muslimin adalah bahwa tidak ada agama yang benar di atas muka bumi selain agama Islam. Agama Islam adalah penutup seluruh agama-agama yang ada, menghapus agama, syari’at dan agama sebelumnya.. Allah  berfirman Al Imron ayat 19

 

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Allah berfirman: dalam surat al-Maidah ayat 3

 

Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Allah  juga berfirman: Al Imron ayat 85

 

Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

 

Imam Ibnu Jarir ath-Thobari berkata: “Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka Allah tidak akan menerimanya.” [9] Dan yang disebut dengan agama Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad adalah agama yang beliau bawa, bukan agama yang lain bak agama samawi yang telah dbanyak diselewengkan oleh para pengikutnya ataupun agama agama ciptaan manusia.

Muhammad bin Ja’far bin Zubair berkata:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ، أي: مَا أَنْتَ عَلَيْهِ يَا مُـحَمَّدً مِنَ التَّوْحِيْدِ لِلرَّبِّ، وَالتَّصْدِيْقِ لِلرُّسُلِ

“Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah  adalah Islam, yaitu jalan yang engkau tempuh wahai Muhammad dari mentauhidkan Robb dan membenarkan para rosul.” [10]

Ini menunjukan perbedaan yang antara Islam dan agama agama lain.  Seperti ayat-ayat dalam surat al-Kâfirûn, dimana Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersikap (barâ’ah) dari agama orang kafir dan musyrik Quraisy Begitu juga ayat-ayat Al-Qur’an yang menceritakan saling lempar klaim-klaim kebenaran (truth claim) antara kaum Yahudi dan Nasrani, bahwa klaim-klaim tersebut hanyalah angan-angan kosong, dan bahwa yang benar hanyalah Islam. Jadi sangat jelas ada perbedaan hakiki dan mendasar antar agama terutama Islam, Yahudi dan Nasrani Selanjutnya menurut logika akal sehat, bahwa tidak mungkin dibayangkan adanya keberagamaan antara dua hal, kecuali jika masing-masing dari keduanya memiliki karakteristik khusus yang membedakan dirinya dari yang lain. Demikian juga dalam hal agama-agama, tidak mungkin dibayangkan adanya agama-agama yang berbeda-beda dan beragam kecuali jika memang diantara yang satu dengan yang lain benar-benar ada perbedaan, yakni masing masing mempunyai ciri atau karakteristik  khusus yang membedakan dirinya dari yang lain dan akhirnya saling adanya pemahaman antara satu dengan yang lain.

Armada Riyanto, menyatakan bahwa adanya kekerasan agama, lebih disebabkan oleh sikap keagamaan yang fanatik (fanatisme), paham keagamaan yang fundamentalistis (fundamentalisme) dan integralisme. Dengan demikian, eksklusivisme sering dekat dengan konflik, pertikaian, dan kekerasan. Orang beragama yang menghadirkan kekerasan, karena level keagamaannya yang jargonsentrisme yang memperlihatkan keimanan yang logoistis, memiliki kekuatan bahasa yang provokatif, sempit dan rigid. Sehingga penghayatan yang kurang terhadap hakikat agama (being religious) menjadi sebab merebaknya komunalisme.[11]

 

 Bentuk  toleransi Aqidah Islam Dalam Al-Qur’an

Karena nilai-nilai Qur’ani diatas terkait dengan hubungan muslim dengan non muslim, tentu timbul pertanyaan apa yang dimaksud dengan ‘non muslim’ dalam pandangan Islam.

Pengertian Non-muslim sangat sederhana, yaitu orang yang tidak menganut agama Islam. Tentu  saja maksudnya tidak mengarah pada suatu kelompok agama saja, tapi akan mencakup sejumlah agama dengan segala bentuk kepercayaan dan variasi ritualnya. Al-Qur’an menyebutkan kelompok non muslim ini secara umum spt terdapat dalam surat Al-Hajj, ayat 17. dan surat al-Jasiyah, ayat 24

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi Keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”.

 

Dan mereka berkata: “Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanya berperasangka

Surat An-Nisa, ayat 1 (Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang sama) merupakan penetapan nilai al-Ikhwah al-Insaniyah (Persaudaraan kemanusiaan) yang dimaksud sebagai pedoman hubungan antar kelompok manusia yang disebut Al-Qur’an diatas. Nilai ini harus menjadi landasan masalah multikulturisme, multiagama, multibahasa, dan multi bangsa secara umum, karena Al-Qur’an menganggap perbedaan ras, suku, budaya dan agama s ebagai masalah alami (ketentuan Tuhan). Justru itu, perbedaan tadi tidak boleh dijadikan ukuran kemuliaan dan harga diri, tapi ukuran manusia terbaik adalah ketaqwaan dan kesalehan sosial yang dilakukannya. Ini yang dimaksud firman Tuhan dalam al-Hujurat ayat 13 sbb:

 

“Kelebihan hanya terdapat dalam kebaikan. Seseorang merasa lebih dengan keberadaan saudaranya. Kebaikan seseorang terlihat bila yang dianggap benar itu sama dengan kebenaran yang dianggapnya sendiri”

Dalam konteks hubungan dengan non-Muslim, Islam selain menetapkan persamaan dan keadilan sebagai dasar utamanya, juga menegaskan prinsip tolerasi yang tidak kalah pentingnya dengan prinsip persamaan dan keadilan. Kalau dilihat kata toleransi yang dalam bahasa Arab disebut ‘at-Tasamuh’ dari aspek etimologis, artinya al-jud (kualitas), al-bazl (upaya), al-I;tha (memberi), al-suhulah (spontan), al-yusr (kemudahan) dan al-bu’d ‘an al-dhaiq wa al-syiddah (jauh dari kesempitan dakekerasan). Ringkasnya at-tasamuh adalah interaksi dengan orang lain dengan penuh kemudahan, kelonggaran dan kerelaan, baik dalam aksi suka atau tidak suka.[12]

Atas ayat ini, para ulama dari dahulu sampai sekarang sepakat berpendapat bahwa toleransi (at-Tasamuh) merupakan elemen penting ajaran Islam. Al-Qur’an menghimbau umat manusia yang berbeda latar belakangan ras, warna, bahasan dan agama agar hidup berdampingan dalam suasana penuh kedamaian dan toleransi. Bila terjadi pertikaian, perselisihan dan permusuhan karena sebab-sebab tertentu, petunjuk Allah kepada umat Islam agar bersikap toleransi, memaafkan. Prinsip inilah yang seharusnya yang dipakai umat Islam dalam bergaul dengan berbagai suku bangsa sesuai dengan firman Allah Swt. Surat  Fuhsilat ayat 34-35

 

Bahkan Al-Qur’an tidak sekedar menghimbau umat Islam agar bersikap toleransi yang dianggap sebagai syarat mutlak bagi kehidupan yang damai, tetapi meminta komitmen mereka agar bersikap adil. Bukan dalam arti dapat menerima orang lain saja, tetapi harus menghormati budaya, kepercayaan dan distinksi peradabannya.

 

Hal yang dimaksud firman Allah surat Al-Mumtahanah ayat 8

 

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil (menghormati hubungan) terhadap orang-orang kafir yang tiada memerangimu dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (dan menghormati hubungan).

Ada tiga petunjuk Tuhan dalam ayat diatas, yaitu (1) Allah tidak melarang bersikap toleransi dengan orang lain, (2)  Toleransi dengan orang tidak menyerang umat Islam dan dalam kehidupan yang damai, santun dan bijak adalah corak keadilan itu sendiri, (3) penegasan bahwa siapa yang mengambil jalan toleransi ini memperoleh kasih sayang Allah. Dengan cara yang meyakinkan ini, pesan Allah dengan gampang dan mudah dapat diterima jiwa manusia, sekaligus sosialisasi prinsip toleransi di kalangan masyarakat dapat dicapai dengan baik.[13]

Selain itu, firman Tuhan diatas juga menjelaskan cara membina hubungan antara muslim dengan non-muslim. Hubungan tidak saja berkembang atas dasar prinsip keadilan dalam artian ‘siapa saja harus memperoleh haknya’, juga meningkat ke level al-ihsan (memberi santunan). Al-Ihsan ini lebih tinggi nilainya dari perolehan hak. Kata ‘al-bir yang pengertiannya ‘berbuat kebajikan’ sangat identik dengan prinsip keadilan. Tidak disangkal lagi, ungkapan Qur’ani ini merupakan tata cara bergaul dengan non muslim dalam kondisi damai yang harus berlandaskan al-birr (berbuat kebajikan dan al-ihsan (menyantuni) yang posisinya berada diatas pemberian hak. [14]

Ajaran toleransi ini sangat mendasar dalam Islam terutama bila terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan atau konflik. Tapi kapan dan apa penyebab terjadinya perselihan atau konflik yang tidak jarang memunculkan sikap kebencian dan permusuhan terhadap lain dan bertentangan dengan prinsip toleransi?  Menurut Bistami terdapat empat bentuk anggapan yang tidak sesuai dengan prinsip diatas.

Pertama, menganggap kelompoknya yang benar dan kelompok lain adalah salah. Anggapan seperti inilah yang melahirkan sikap kebencian dan permusuhan. Pelakunya akan memberikan dua alternatif bagi kelompok yang berbeda dengannya, yaitu lepaskan keyakinan atau siap diperangi. Slogan mereka yang terkenal adalah “Islam dan Kekafiran tidak mungkin berdampingan’. Akibatnya mereka bersikap eksklusif dan mengurung diri, hanya membaca buku kalangan sendri, mengutip pendapat pemimpin mereka dan menolak pendapat orang lain meski kemungkinan mengandung kebenaran. Untuk menjaga kesatuan kelompok, mereka tidak segan mencap kelompok lain sebagai ahli bida’, dhalal, kaum sesat dan sebagainya. Disinilah lahirnya sikap radikalisme dan ekstrimisme yang bertolak belakang dengan prinsip toleransi dalam Islam.

Kedua, kelompok yang beranggap sama dengan yang pertama. Bedanya, kelompok kedua membuka diri dan mau berdialog dengan pihak lain yang tidak sepaham. Keterbukaan berdiskusi dan bertukar pikiran memberi kesempatan bagi kelompok kedua ini untuk mendekati kelompok lain dan menganggap al-afdhal adalah lebih baik.

Ketiga, menganggap kelompoknya adalah benar, begitu juga kelompok yang lain. Tapi metode yang dipakainya lebih relevan dibanding metode kelompok lain. Semua kelompok dianggap benar, namun ada yang tidak mengetahui jalan yang lebih relevan untuk mencari kebenaran. Kelompok seperti ini cenderung dapat menerima sikap toleransi terhadap pihak lain.[15]

Dalam konteks menghadapi anggapan dan sikap kelompok non muslim, Islam telah menggaris metode yang dipakai dalam menghadapi mereka spt dijelaskan Allah dalam surat al-‘Ankabut, ayat 48.

 

Jangan berdiskusi dengan kelompok Yahudi atau Nashrani yang berbeda pendapat dengan mu, kecuali memakai cara yang lebih baik dan lebih berpetunjuk serta lebih mudah diterima. Namun bila mereka melewati batas moderat dalam berdiskusi, dapat dihadapi dengan pernyataan keras bahwa “Kami meyakini wahyu Tuhan dalam Al-Qur’an, Taurat dan Injil, yaitu kita sama-sama mempercayai Tuhan Yang Satu. Hanya kepadaNya kita menyatakan patuh dan taat”.

Selain itu, Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa UtusanNya, nabi Muhammad hanya ditugaskan untuk menyebar-luaskan agama Islam, bukan untuk memaksa orang masuk Islam spt terlihat dalam sejumlah Firman Allah dibawah ini.

 

Ingatkanlah dengan dakwahmu (Hai Muhammad). Tugasmu adalah menyampaikan dan kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka

 

“Engkau (Ya Muhammad) tidak mampu memaksa orang agar menjadi orang beriman”

 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); (dengan tanda-tanda yang kongrit), telah dijelaskan mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat”.

Islam melihat keberagamaan sebagai masalah pilihan, kemantapan dan keyakinan, maka tidak  boleh ada paksaan apapun bentuknya, sebab dalam masalah agama sepatutnya sepaptutnya orang harus ikhlas, karna tanpa ikhlas ini agama atau keimanan apapun tidak akan bermakna apa apa dalam kehidupanya. Oleh karna itu Allah menamakan sebuah surat pendek dalam Al-Qur’an yang menegaskan aqidah tawhid  dengan nama al Ikhlas. Konsep ini adalah salah satu landasan yang dipakai islam dalam menjelaskan fenomena keragaman agama.[16]

Ayat Al-Qur’an diatas merupakan ungkapan yang sangat tegas dan gambling mengenai pandangan islam terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan yang merupakan cirri kebebasan manusia yang paling utama.Bahkan menurut Sayyid  Qutb, kebebasan ini merupakan hak asasi manusia yang nomor satu yang tanpanya manusia bukan lagi manusia.[17]

 

Katakanlah : “Hai Ahli Kitab mari kembali kepada kalimat moderat yang sama-sama terdapat di kalangan kita, yaitu peribadatan hanya kepada Allah Swt, jangan mempersekutukannya. Jangan kita saling mematuhi halal atau  haram yang tidak ditetapkan Allah Swt. Kalau mereka enggan dengan himbauan yang benar, katakan kepada mereka: “Kami hanya patuh dan taat kepada ketentuan dari Allah

Bahkan untuk menghormati hubungan yang berdasarkan persaudaraan kemanusiaan dan prinsip toleransi tadi, Allah melarang umat Islam melukai perasaan non-muslim, dengan mencela ajaran agama, meskipun animisme seperti dimaksud dalam Al-Qur’an dalam al-An’am, ayat 108.

 

Janganlah kamu memaki patung-patung yang disembah kaum musyrik selain Allah. Perbuatan spt ini dapat memancing kemaraham mereka dengan memaki Allah dengan semena-mena dan melampaui batas. Sembahan patung-patung sebagai contoh bahwa setiap umat berbuat sesuai dengan   kesiapan mereka.

Dr. Syekh Yusuf al-Qaradhawi menyebutkan empat faktor yang melahirkan sikap toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap non-muslim: i) keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agamanya, kebangsaan dan kesukuannya. Kemuliaan ini mengimplikasikan hak untuk dihormati. ii) kayakinan bahwa perbedaan manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas (ontologis) yang dikehendaki Allah yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman atau kufur. Oleh karenanya tidak dibenarkan memaksa mereka untuk Islam. iii) seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran orang kafir atau menghukum kesesatan orang sesat. Allah lah yang akan mengadili mereka di hari perhitungan kelak. Dengan demikian hati seorang muslim menjadi tenang, tidak perlu terjadi konflik batin antara kewajiban berbuat baik dan adil kepada mereka dan dalam waktu yang sama harus berpegang teguh pada kebenaran keyakinannya sendiri. iv) keyakinan bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat Adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik Begitu juga Allah mencela perbuatan zalim meskipun terhadap orang kafir .[18]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Di dalam Al-Qur’an terdapat karesteritik ayat-ayat yang secara lahir bertentangan antara satu dengan yang lain. Di satu sisi, Islam mengisyaratkan bahwa setiap orang yang beramal dan berkarya positif serta memiliki keimanan maka ia berhak mendapatkan surga Tuhan. Ini berarti bahwa Islam memiliki watak inklusif. Namun di sisi lain, teks Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka ia tidak akan diterima Tuhan dan di akhirat akan merugi yang juga berarti bahwa Islam berwatak eksklusif, sebuah watak yang berdiri secara diametral dengan kategori watak yang disebutkan sebelumnya. secara langsung telah memecahkan problema pluralisme. Diakui oleh Al-Qur’an bahwa masyarakat dunia terdiri dari beragam komunitas yang memiliki orientasi kehidupan masing-masing. Komunitas-komunitas tersebut harus  menerima kenyataan akan keragaman sehingga mampu memberikan toleransi. Dengan perbedaan ditekankan  perlunya masing-masing  untuk saling berlomba dalam menuju kebaikan, karena mereka akan dikumpulkan oleh Allah untuk memperoleh keputusan final. Apresiasi demikian artikulatif ditunjukkan Al-Qur’an ketika menatap realitas pluralisme, Semua ajaran agama  menghendaki wujud kebaikan di masyarakat dan menentang segala bentuk kedzaliman.

Berdasarkan pemikiran di atas, berarti bahwa secara normatif-doktriner, semua agama menuntut terciptanya keharmonisan dan kerukunan hidup antarumat beragama. Jika sebab yang mendasar bukan terletak pada ajaran agama, maka ketegangan antar umat beragama harus selalu dicari akar dan solusinya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Muhammad, Risalah Tauhid, terj Firdaus A.N, Bulan Bintang Jakarta 1992

Abdul Najmi, Ahmad Abdul Mabdi, Samaha Al Islam Fi Janibi Al Ijtima’i, Robithoh Al Jamiah Al Islamiyah, 2005

 

Al Atsanawi, Ali Abdu, huriyah al mu’taqid ad dini lighoiri al islam fi dzilli samahati al islam,tt

 

Hidayat, Syamsul, Studi Agama dalam Pandangan Al-Qur’an, Hasil penelitian, 2001

Khoir, Busthomi Muhammad said, ru’ya al islamiyah limuskilah at taadudiyah, tt

Qutb, Sayyid, Fi Dzilal Al Qur’an, (Cairo:Beirut  Dar Al Suruq, Cet  10, 1981)

Riyanto, Armada, Membongkar Eksklusivisme Hidup Beragama. Widyasasana, 2000 Malang

 

Shihab, Alwi, Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam, (ed). Sururin, Bandung: Nuansa, 2005

At Thobari, Abu  ja’far Muhammad Jarir, Jami’ Al Bayan Fi At Ta’wil Al-Qur’an Maktabah Ibnu Taimiyah Kairo

Thoha, Anis Malik, Tren Pluralisme Agama:Tinjauan Kritis, Jakarta, Perpektif Kelompok Gema Insani, Cet I, 2005

Zaqzuq, Muhammad Hamdi, Tasamuh Fi Al islam, Robithoh Jamaah Islamiyah, 2005.

 

 

[1] Syamsul Hidayat, Studi Agama dalam Pandangan Al-Qur’an, Hasil penelitian, 2001, hal. 103

[2]  Syamsul Hidayat, Studi Agama dalam Pandangan Al-Qur’an,  hal 102

[3]  Syamsul Hidayat, Studi Agama dalam Pandangan Al-Qur’an,  hal 102

 

[4] Alwi Shihab, Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam, (ed). Sururin, Bandung: Nuansa, 2005 , hal. 15-20.

[5] I Alwi Shihab, Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam  ….., hal 17

[6] Alwi Shihab, Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam……,  hal 20

[7] Alwi Shihab, Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam, (ed). Sururin, Bandung: Nuans, 2005, hal. 69-70.

 

[8] Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, terj Firdaus A.N., Bulan Bintang Jakarta 1992, hal 138

[9] Abu  Ja’far Muhammad Jarir At Thobari, Jami’ Al Bayan Fi At  Ta’wil Al-Qur’an Maktabah Ibnu Taimiyah Kairo Cet Ii Vol 6, hal 570

[10] Abu  ja’far Muhammad jarir at thobari, Jami’ Al Bayan …. Vol 6 hal 276

[11] Armada Riyanto, Membongkar Eksklusivisme Hidup Beragama . Widyasasana, 2000 Malang, hal 16-34.

[12] Ahmad Abdul Mabdi Abdul Najmi. Samaha Al Islam Fi Janibi Al Ijtima’i, Robithoh Al Jamiah Al Islamiyah, 2005, hal 23

[13]  Muhammad Hamdi Zaqzuq, Tasamuh Fi Al islam, Robithoh Jamaah Islamiyah, 2005, hal 9

[14] Ali Abdu Al Atsanawi, huriyah al mu’taqid ad dini lighoiri al islam fi dzilli samahati al islam, hal 176

[15]   Busthomi Muhammad Said, Ru’ya Al Islamiyah Limuskilah At Taadudiyah

[16] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama:Tinjauan Kritis, Jakarta, Perpektif Kelompok Gema Insani, Cet I, 2005, hal 210-211

[17]  Sayyid Qutb, Fi Dzilal Al Qur’an, (Cairo:Beirut  Dar Al Suruq, Cet  10, 1981), Juz 1, hal 289

[18] Yusuf al-Qaradhawi, Ghairu al-Muslimin fi al-Mujatama’ al-Islami:  hal 53-55

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *