TAFSIR SEBAGAI HASIL PENELITIAN AL-QUR’AN 

   Oleh: Khofifah, S.H.I 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim

Puja dan puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam, pengatur jagad raya. Hanya karena hidayah, inayah dan taufiq-Nya, kita bisa menjalankan tugas dan aktivitas dalam thalabul ‘ilmi. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi akhir zaman.

Makalah yang kami tulis berjudul “TAFSIR SEBAGAI HASIL PENELITIAN AL QUR’AN” alhamdulillah dapat terselesaikan dengan baik. Materi tersebut diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an. Tujuan dari pengangkatan judul tidak lain untuk mengetahui beberapa metode dalam melakukan penelitian terhadap al-Qur’an, pendekatan-pendekatan dalam meneliti serta corak penelitian tersebut.

Dalam menyelesaikan makalah ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pengajar, teman-teman dan semua pihak yang membantu proses tersebut. Ada sebuah pepatah yang menyatakan“ Tiada gading yang tak retak”,  maka makalah inipun tentunya tiada terbebas dari kekurangan dan kelemahan di dalamnya. Namun penulis telah berusaha meminimalkannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharapkan tegur sapa, saran dan penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaatnya bagi pengembangan studi al-Qur’an pada umumnya.

Sukorejo, 19 November 2011

 

 

Penulis

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Menurut informasi yang diberikan al-Qur’an sendiri, tujuan utama dan pertama dari penurunan kitab suci Allah adalah sebagai buku petunjuk dan sebagai sumber dari segala macam aturan hukum,[1] khususnya bagi umat Islam dan orang-orang yang bertakwa serta umat manusia pada umumnya. Hal ini tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 2 dan 185:[2]

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab ini ( Al-Qur’an) ini tidak ada  keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, siapa yang di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka ( wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

               

Menurut Fazlur Rahman, Al-Qur’an mempunyai nilai atau aspek universal yang harus dipegang karena melampaui zaman dan tempat, sehingga ayat-ayat Al-Qur’an tidak bisa dipahami secara literal begitu saja sebagaimana yang dipahami oleh para Mufassir klasik.[3] Oleh karena itu, memahami kitab suci al-Qur’an dengan cara hanya mengambil makna harfiyahnya, akan menjauhkan seseorang dari petunjuk yang terdapat dalam al-Qur’an, bahkan bisa menyesatkannya.

Al-Qur’an sendiri berisi tantangan-tantangan terhadap orang-orang yang meragukan atau mengingkari kebenarannya,[4] seperti dinyatakan dalam surat al-Isra’ ayat 88, surat Hud ayat 13, dan lain-lain.  Selain itu, keberadaan Al-Qur’an di tengah-tengah umat Islam, ditambah dengan keinginan mereka untuk memahami petunjuk dan mukjizat-mukjizatnya, telah melahirkan sekian banyak disiplin ilmu keIslaman dan metode-metode penelitian.

Dalam referensi lain dinyatakan bahwa Hasan Hanafi merupakan salah satu pemikir progresif Muslim dari Mesir. Beliau berpendapat dalam bukunya yang berjudul Dirasat Islamiyah menyatakan, ”Wahyu bukanlah sesuatu yang berada di luar konteks yang kokoh tak berubah, melainkan berada dalam konteks yang mengalami perubahan demi perubahan.”[5] Teks al-Qur’an bukanlah monumen mati yang untouchable, yang tidak dapat disentuh oleh tangan sejarah. Sebaliknya ia lahir di ruang tidak hampa untuk merespons segala persoalan kemanusiaan yang terus bergerak dinamis.[6] Sehingga hal ini akan terdapat peluang untuk melakukan penelitian Al-Qur’an demi mewujudkan kemaslahatan umat.

Di sisi lain, terdapat kaum terpelajar Muslim yang mempelajari berbagai disiplin ilmu. Ini antara lain didorong keinginan untuk memahami petunjuk; informasi dan mukjizat Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an berbicara tentang berbagai aspek kehidupan serta mengemukakan beraneka ragam masalah, yang merupakan pokok-pokok bahasan berbagai disiplin ilmu, maka kandungannya tidak dapat dipahami secara baik dan benar tanpa mengetahui hasil-hasil penelitian dan studi pada bidang-bidang yang dipaparkan oleh al-Qur’an.

Penegasan tersebut berarti tidak seorang pun dewasa ini yang dapat merasakan secara sempurna keindahan bahasa al-Qur’an -yang merupakan salah satu mukjizatnya- sejak lunturnya kemampuan dan rasa kebahasaan orang-orang Arab sendiri.

Sebelum berbicara banyak tentang beberapa perangkat metodologis tafsir al-Qur’an. Secara umum, tafsir bermakna kegiatan Ilmiah yang berfungsi memahami dan menjelaskan kandungan makna al-Qur’an. Kegiatan penafsiran ini dilakukan dengan asumsi, bahwa tidak semua umat Islam bisa memahami kandungan makna al-Qur’an. Sehingga tafsir memiliki urgensi yang cukup besar dalam rangka menjelaskan kandungan makna al-Qur’an kepada umat Islam.

Dewasa ini, cukup banyak tantangan yang dihadapi masyarakat Islam, bahkan umat manusia, yang menanti petunjuk pemecahannya. Ini harus diantisipasi. Sebab, bukankah kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah berfungsi “memberi jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem masyarakat”? Umat Islam, melalui para pakarnya, dituntut untuk memfungsikan al-Qur’an sebagaimana petunjuk di atas; dan hal ini tidak mungkin dapat terlaksana tanpa pemahaman secara baik atas petunjuk-petunjuk kitab suci itu.

Bagaimana Al-Qur’an memberikan penjelasan tentang petunjuk itu? Jawabannya terhadap pertanyaan ini dijelaskan dalam ilmu tafsir Al-Qur’an. Hanya saja, dalam ayat di atas dikatakan bahwa al-Qur’an memberikan kriteria atau tolok ukur itu bukannya berwujud semacam definisi, melainkan suatu penjelasan, sehingga kita bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.

Untuk lebih terfokusnya pembahasan makalah ini, penulis menitikberatkan mengenai tafsir sebagai hasil penelitian al-Qur’an, kemudian tentang metode penelitian, pendekatan, dan corak dalam melakukan penelitian terhadap al-Qur’an,  Dengan semangat itulah, penulis mencoba menguraikan beberapa hal yang berkaitan dalam makalah ini, yang pada intinya penulis ingin berbagi informasi tentang apa, dan bagaimana metode, pendekatan dan corak dalam melakukan penelitian terhadap al-Qur’an?.

BAB II

PEMBAHASAN

 

Syekh Manna’ Qaththan dalam Mabahits fi Ulum al- Qur’an menjelaskan kata tafsir berasal dari wazan taf’iil dari kata Fassara yang berarti menerangkan, membuka dan menjelaskan makna yang ma’qul. Dalam bahasa Arab term fasru berarti membuka arti yang sukar, sedangkan pengertian tafsir adalah membuka dan menjelaskan arti yang dimaksud dari lafadz-lafadz yang sulit. [7] Dengan demikian tafsir merupakan salah satu sarana yang tepat ketika kita akan melakukan sebuah penelitian terhadap al-Qur’an.

Selanjutnya metodologi tafsir adalah sebuah ilmu yang mengajarkan kepada orang yang mempelajarinya untuk menggunakan metode tersebut dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an.[8] Mengingat isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda dan orientasinya berlainan, maka semua metode tafsir yang ada pada dasarnya bisa dimanfaatkan secara sendiri-sendiri atau kolektif (kombinasi). Tergantung kepada kebutuhan  masalah dan ayat yang ditafsirkan.

Menurut hemat penulis, berbagai metode tafsir yang ada merupakan laksana perangkat alat-alat kelengkapan untuk menyelesaikan sebuah bangunan atau pekerjaan. Katakanlah semisal gergaji, pahatan, golok, pisau, bagi seorang tukang; laptop, pena, buku, modem, tinta, dan lain-lain bagi seorang pengajar; kunci inggris, tespen, obeng dan lain-lain bagi seorang teknisi. Pada satu waktu, mungkin tidak semua alat tersebut dibutuhkan secara bersama-sama, tetapi pada waktu lain sangat mungkin diperlukan secara keseluruhan.

Dalam Menafsirkan Al-Qur’an, ada tiga cara yang dapat ditempuh, yaitu:[9]

  1. Menafsirkan ayat itu sendiri dengan menggunakan bantuan pendekatan ilmiah atau non-ilmiah yang kita kuasai.
  2. Menafsirkan ayat dengan bantuan hadis
  3. Gabungan antara keduanya, yakni menafsirkan ayat dengan memperhatikan dan meneliti ayat itu terhadap ayat-ayat lainnya, serta dengan bantuan hadis-hadis.

Berikut akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan metodologi penafsiran al-Qur’an

  1. Metode

Adapun metode yang berkembang dalam penafsiran al-Qur’an terdapat 4 macam, yaitu:[10]

  1. Metode Tahlili atau metode Tajzi’i adalah metode penafsiran al-Qur’an yang dilakukan dengan cara menjelaskan ayat al-Qur’an dalam berbagai aspek, serta menjelaskan maksud yang terkandung didalamnya, sehingga kegiatan Mufassir hanya menjelaskan ayat per ayat, surat per surat, makna lafadz-lafadz tertentu, susunan kalimat, persesuaian-persesuaian kalimat satu dengan yang lainnya, asbabun nuzul, hadits yang berkenaan dengan ayat yang ditafsirkan.

Metode ini banyak dilakukan Mufassir salaf dan oleh sebagian pengamat ahli tafsir berpendapat bahwa metode Tahlili adalah metode yang gagal, sebab cara penafsirannya yang parsial justru tidak dapat menemukan substansi al-Qur’an secara integral dan ada kecenderungan pendapat pribadi karena pemaknaan ayat tidak dikaitkan dengan ayat lain yang topiknya sama.

Hampir semua tafsir al-Qur’an menggunakan tafsir Tahlili, karena tafsir ini tidak banyak melibatkan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan penafsiran  bahkan praktis dilakukan. Di antara model tafsir Tahlili adalah:

  • Tafsir al Maraghi, oleh Musthafa al-Maraghi
  • Tafsir Qur’an al ‘Adzim, oleh Abi Fida Ibnu Katsir.
  1. Metode Tafsir Ijmali adalah metode penafsiran al-Qur’an yang dilakukan dengan cara menjelaskan maksud al-Qur’an secara global tidak terperinci.

Metode ini diterapkan agar orang awam lebih mudah menerima maksud al-Qur’an tanpa berbelit-belit¸ sehingga dengan sedikit penjelasan seseorang dapat mengerti hasil penafsiran tersebut. Adapun kitab tafsir yang tergolong menggunakan metode Ijmali adalah:

  • Tafsir Qur’an al-Karim, oleh Muhammad Farid Wajdi
  • Tafsir al-Wasith, yang dikeluarkan oleh Majma’ul Buhuts
  1. Metode Muqarin adalah suatu metode penafsiran al-Qur’an dengan cara perbandingan. Artinya, dengan menemukan dan mengkaji perbedaan-perbedaan antara unsur-unsur yang dibandingkan, kemudian membandingkan beberapa pendapat yang ada, lalu dipilih mana yang lebih unggul di antaranya.[11]

Metode Muqarin dilakukan dengan membandingkan ayat satu dengan yang lain, yaitu ayat-ayat yang mempunyai kemiripan redaksi dalam dua masalah yang berbeda, atau membandingkan ayat dengan hadits yang tampak bertentangan, serta membandingkan pendapat ulama’ tafsir menyangkut penafsiran al-Qur’an.

  1. Metode Maudhu’i adalah metode penafsiran al-Qur’an yang dilakukan dengan cara memilih topik tertentu yang hendak dicarikan penjelasannya dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan topik tersebut, lalu dicarikan hubungan antara berbagai ayat tersebut agar satu sama lain bersifat menjelaskan, kemudian ditarik kesimpulan akhir berdasarkan pemahaman mengenai ayat-ayat yang saling terkait itu.

Sebagaimana dikatakan oleh Quraish Shihab,[12] beberapa perincian dan kinerja metode Maudhu’i  adalah :

  1. Menetapkan masalah yang akan dibahas
  2. Memperhatikan masalah yang terjadi di masyarakat
  3. Locally dan temporal
  4. Melalui kosakata atau sinonimnya
  5. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut
  6. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang  asbab al-nuzul
  7. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surat masing-masing
  8. Menyusun  pembahasan dalam kerangka  yang sempurna
  9. Pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.

Contoh Metode Maudhu’i atau Tematik adalah penyelesaian kasus riba yang dilakukan oleh Ali al-Shabuni dalam Tafsir ayat Ahkam yang secara hirarki menentukan urutan ayat.

  • Surat ar-Rum ayat 39 yang menjelaskan kebencian Allah kepada riba walaupun belum diharamkan
  • Surat an-Nisa’ ayat 130 yang menjelaskan keharaman riba secara tersirat belum tersurat
  • Surat Ali Imran ayat 30 yang menjelaskan keharaman riba dengan jelas, namun yang diharamkan sebagian bukan keseluruhan,
  • Surat al-Baqarah ayat 278 yang menjelaskan keharaman riba secara mutlak.

Kitab tafsir yang berkembang dewasa ini banyak menggunakan metode Maudhu’i adalah:

  • Al-Bayani fi Aqsami al-Qur’an, Oleh Ibnu Qayyim
  • Majaz al-Qur’an, oleh Abu Ubaidah
  • Nasikh wa Mansukh min al-Qur’an, oleh Abu Ja’far an- Nuhas
  • Mufradat al-Qur’an, oleh Ar-Raghib
  • Asbab an-Nuzul, oleh al-Wahidi
  • Al-Insan Fi al-Qur’an dan al-Mar’ah fi al-Qur’an karya dari ‘Abbas Mahmud al -‘Aqqad .[13]

Dengan metode Maudhu’i, akan dikukuhkan kembali fungsi al-Qur’an sebagai kitab suci yang menuntun jalan setiap gerak kehidupan manusia, serta dapat menjadi bukti bahwa ayat-ayat al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Perbedaan secara esensial antara tafsir Maudhu’i dengan tafsir Tahlili adalah:

  • Tafsir Tahlili mengikuti tertib ayat dan surat sebagaimana dalam mushaf, sedang tafsir maudhu’i mengikuti topik yang dibahas.
  • Tafsir Tahlili mencakup berbagai topik bahasan, sedang tafsir maudhu’i hanya satu topik.
  • Tafsir Tahlili menjelaskan lafadz dan ayat al-Qur’an sesuai keahliannya, sedang tafsir Maudhu’i menjelaskan topik bahasannnya.
  • Tafsir Tahlili tidak dapat dibahas secara tuntas lagi pula pembahasannya tidak mendetail, dan masih berkaitan dengan penjelasan sebelum atau sesudahnya, sedangkan tafsir Maudhu’i pembahasannya dapat tuntas sekaligus.

Dan perbedaan tafsir Ijmali dengan tafsir Maudhu’i adalah sebagai berikut:

  • Tafsir Ijmali berkaitan dengan penjelasan ayat secara global menurut tertib mushaf sedangkan tafsir Maudhu’i menerangkan satu topik dari berbagai ayat.
  • Tafsir Ijmali menerangkan ayat tidak sampai tuntas, apalagi menuntaskan kasus tertentu sedangkan tafsir Maudhu’i dapat menuntaskan kasus dari berbagai ayat tanpa menghiraukan tertib mushaf.

Sedangkan perbedaan tafsir Muqarin dengan tafsir Maudhu’i adalah bahwa tafsir Muqarin tidak menerangkan topik tertentu melainkan menerangkan persesuaian redaksi ayat walaupun diambil dari beberapa surat tanpa menghiraukan tertib mushaf, sedangkan tafsir Maudhu’i menerangkan satu topik tertentu, dan mencari ayat-ayat yang sesuai dengan topik tanpa menghiraukan tertib mushaf.

Adapun menurut Umar Shihab menyatakan bahwa penafsiran Al-Qur’an dengan al-Qur’an yang di dalam kajian ulumul Qur’an dikenal dengan dua macam metode tafsir.[14]

  1. Tafsir Muttashil, yakni menafsirkan suatu ayat dengan ayat berikutnya secara berkaitan atau berhubungan. Dengan kata lain bahwa untuk mengetahui makna ayat tersebut, dapat diperoleh pada ayat berikutnya. Misalnya, dalam ayat 2 surat al-Qadr menyebutkan, “ Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu?.

Jika ayat ke-2 dari surat al-Qadr di atas berdiri sendiri atau terpisah dengan ayat lain, maka seseorang tidak akan menemukan dan mengetahui maksudnya. Namun setelah diperhatikan ayat berikutnya, maka kita dapat mengetahui secara jelas bahwa hal ini dilanjutkan dengan ayat yang ke-3 yang berbunyi: “ Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan”.

  1. Tafsir Munfashil, yakni menafsirkan satu ayat dengan ayat lain yang berbeda tempat. Dengan kata lain, bahwa untuk mengetahui maksud ayat tersebut, dapat dilihat di ayat lain, yang mungkin berada di surat yang lain. Misalnya, ayat 48 surat an-Nisa’ yang berbunyi :

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, barang siapa yang mempersekutukan Allah, sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar.”[15]

 

Apabila ayat ke- 48 tersebut dipahami secara terpisah, maka akan menimbulkan pemikiran bahwa bagi seseorang yang melakukan dosa syirik tidak akan pernah diampuni oleh Allah SWT, kecuali dosa selain syirik, sebagaimana pemahaman mayoritas umat Islam. Bahkan ada yang beranggapan bahwa pemahaman tersebut benar secara mutlak, sehingga tidak ada kesempatan bertobat bagi orang yang melakukan dosa syirik. Tetapi pemahaman tersebut akan hilang ketika kita mengetahui makna ayat  53 dalam surat az –Zumar.

Dengan memperhatikan kandungan surat az-Zumar ayat 53, kita akan menemukan cakrawala baru bahwa dosa apapun yang diperbuat oleh manusia, termasuk dosa syirik, akan diampuni selama dosa tersebut disesali dan tidak diulangi. Oleh karena itu, untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan dalam memahami ayat al-Qur’an, hendaknya seseorang jangan tergesa-gesa berpegang pada satu ayat saja tanpa memperhatikan ayat yang lain. Karena ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

Dalam bukunya Islah Gusmian dinyatakan bahwa ada dua tokoh yakni Yunan yusuf dan Nashruddin Baidan yang menyusun struktur pemetaan baru dalam bentuknya yang berbeda. Yunan melihat  literatur tafsir dengan ranah yang ia sebut “ karakteristik tafsir”, yakni sifat khas yang ada di dalam literatur tafsir. Dalam konteks ini, M. Yunan Yusuf memetakannya dari tiga arah, yaitu:[16]

Tabel I

Karakteristik Tafsir Pemetaan  M. Yunan Yusuf

METODE TAFSIR TEKNIK PENYAJIAN TAFSIR PENDEKATAN TAFSIR
1.Antar ayat 1.       Runtut 1.Fiqih
2.Ayat dengan hadis 2.       Topikal 2.Falsafi
3.Ayat dengan kisah Israiliyyat 3.Shufi, dan lain-lain

 

Berbeda dengan Yunan, Nashruddin memetakannya dalam 2 bagian. Hal ini bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel II

Konstruksi  Ilmu  Tafsir Rekonstruksi Nashruddin Baidan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun perspektif metodologis yang dipetakan dua pengamat tafsir ini mempunyai kemiripan, tetapi dari segi kategorisasi, esensi konstruksi yang mereka bangun berbeda. Tafsir riwayat yang oleh Baidan dikategorikan sebagai “ bentuk tafsir”, oleh Yunan dikategorikan sebagai “ Metode Tafsir”. Tafsir Tematik dan analitis yang oleh Baidan dikategorikan sebagai “metode tafsir”, oleh Yunan dimasukkan ke dalam kategorikan sebagai “ teknik penyajian tafsir”, dan yang dikategorikan oleh Yunan sebagai “ metode Tafsir” oleh Baidan dikelompokkan sebagai “ bentuk tafsir”. Keduanya menemukan titik kesamaan hanya pada kategori “ pendekatan tafsir”.

Sebagaimana terlihat pada tabel II, bagi Baidan penafsiran dalam bentuk riwayatannya dapat diterapkan melalui metode global dan analitis. Ini terjadi, disebabkan oleh terbatasnya riwayat. Artinya, sejauh ada riwayat model penafsiran ini bisa dilakukan. Oleh karena itu, bagi Baidan bentuk tafsir riwayat tidak dapat diandalkan untuk dijadikan bahan utama bagi analisis perbandingan dalam metode komparatif, sebagaimana juga ia tidak dapat diandalkan dalam penyelesaian kasus tertentu. Sebaliknya, penafsiran dalam bentuk ra’yu dapat diterapkan melalui salah satunya atau gabungan dari metode tersebut di atas.

Di sini terlihat, bahwa tafsir bi al ma’tsur bagi Baidan merupakan bentuk penafsiran yang diperoleh dari Nabi melalui beberapa riwayat. Meskipun dalam bentuk penafsiran semacam ini ada penafsiran antar ayat, namun bagi Baidan tetap harus dirujukkan pada adanya riwayat.

 

  1. Kelebihan dan kelemahan

Berikut kelebihan dan kelemahan yang ada dalam keempat metode tersebut, yaitu:[17]

  1. Kelebihan dan kelemahan Tahlili

Mengenai kelebihan dengan metode ini adalah bahwa Tahlili mempunyai ruang lingkup yang amat luas dan Mufassir  memili peluang yang luas dalam menuangkan ide dan gagasannya. Metode Tahlili mempunyai kelemahan yaitu ketidakmampuan dalam menyelesaikan satu pokok bahasan secara menyeluruh.

  1. Kelebihan dan kelemahan Ijmali

Kelebihannya adalah:

  1. Praktis dan mudah dipahami
  2. Bebas dari penafsiran Israilliyat
  3. Akrab dengan bahasa Al-Qur’an

Sedangkan kelemahannya adalah:

  1. Menjadikan petunjuk Al-Qur’an bersifat parsial
  2. Tidak ada ruangan untuk menganalisis yang memadai
  3. Kelebihan dan kelemahan metode Muqarin

Metode ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu:

  1. Dapat memusatkan perhatian pada penggalian hikmah dibalik redaksi ayat untuk kasus yang sama dan pemilihan redaksi yang mirip untuk masalah yang berbeda.
  2. Mengaitkan hubungan Al-Qur’an dengan hadis yang berkaitan dengan sebuah permasalahan yang dibahas.
  3. Mengetahui orisinalitas penafsiran seorang

Adapun kelemahannya adalah:

  1. Metode ini tidak bisa diberikan kepada pemula.
  2. Kurang dapat diandalkan untuk menjadi problem solving terhadap permasalahan yang muncul di masyarakat, sebab lebih mengutamakan perbandingan ulama’ tafsir dari pada memecahkan sebuah permasalahan.
  3. Terkesan lebih mengutamakan penafsiran ulama terdahulu dari pada ulama kontemporer.
  1. Kelebihan dan kelemahan metode Maudhu’i

Mengenai kelebihan dari metode ini adalah:

  1. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengkaji maksud ayat al-Qura’an secara utuh.
  2. Menjawab tantangan zaman
  3. Praktis dan sistematis dalam memecahkan masalah yang ada
  4. Dinamis dan senantiasa sesuai dengan tuntutan zaman

Sedangkan yang menjadi kelemahan dalam metode ini adalah:

  1. Memenggal ayat Al-Qur’an. Maksudnya, hanya mengambil satu ayat yang didalamnya mengandung berbagai masalah.
  2. Membatasi pemahaman ayat.
  1. Pendekatan

Adapun pendekatan-pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an, meliputi [18]:

  1. Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif adalah pendekatan empiris yang berpijak pada kepentingan Ilmiah semata.  al-Qur’an dalam pendekatan ini dibicarakan kaitan dengan ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam al-Qur’an dengan ilmu-ilmu pengetahuan modern yang timbul pada masa sekarang. Sejauh mana paradigma-paradigma Ilmiah itu memberi dukungan dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an dan penggalian berbagai jenis ilmu pengetahuan, teori-teori baru dan hal-hal yang ditemukan setelah melalui masa turunnya al-Qur’an.

Di antara ilmu-ilmu yang dimaksud adalah hukum-hukum alam, astronomi, teori-teori kimia, ilmu kedokteran, fisika, zoologi, botani, geografi dan sebagainya yang dapat dikembangkan melalui penemuan-penemuan baru penelitian Ilmiah. Penelitian ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini bisa dijadikan sebagai pendekatan yang bersifat objektif,  karena diilandasi oleh kepentingan Ilmiah.

Di dalam al-Qur’an terdapat lebih dari delapan ratus ayat-ayat kauniyah, sebagian di antaranya berbicara tentang langit, bumi, udara, hewan, tumbuh-tumbuhan, perbintangan dan industri.

  1. Pendekatan Subjektif

Pendekatan subjektif adalah pendekatan yang terkait dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Pendekatan tersebut tergantung pada warna culture dan aqidah ahli tafsir, apakah ia seorang praktisi politik ataukah praktisi sebuah mazhab yang banyak mempengaruhinya. Seperti pendekatan yang dilakukan oleh sufi, mereka mengkaji Al-Qur’an dengan sudut pandang yang sesuai dengan teori-teori tasawuf dan mengabaikan aspek-aspek lain. Begitu pula apabila seorang ahli antropologi atau sosiologi, mereka dalam melakukan penelitian terhadap Al-Qur’an biasanya mengkaji Al-Qur’an dengan pendekatan yang sesuai dengan bidangnya.

  1.  Pendekatan Langsung

Pendekatan langsung adalah pendekatan yang menggunakan data primer. Data primer dalam kajian tafsir adalah Al-Qur’an itu sendiri, hadits-hadits, dan riwayat dari Rasulullah saw, pendapat-pendapat sahabat dan pendapat para tabi’in. Data primer tersebut menjadi mi’yar bagi penelitian al-Qur’an, apabila data yang diperoleh bagus, maka hasil yang akan diperoleh dari kegiatan penelitian al-Qur’an juga akan optimal.

  1. Pendekatan Tidak Langsung

Pendekatan ini adalah menggunakan data sekunder yaitu upaya yang di tempuh setelah melakukan pendekatan primer. Dengan kata lain ia merupakan pengembangan dari pendekatan pertama, seperti pendapat para ulama, riwayat, kenyataan sejarah di masa turunnya al-Qur’an, pengertian bahasa dan lafaz al-Qur’an, kaidah lafaz bahasa, kaidah-kaidah istimbat serta teori-teori ilmu pengetahuan al-Qur’an.  Data-data yang diperlukan merupakan data masa lalu sehingga perlu dipergunakan proses pemerikasaan dengan kritik sejarah.

  1. Pendekatan Komprehensif

Pendekatan komprehensif adalah pendekatan yang membahas tentang objek penelitian al-Qur’an  dari seluruh aspek. Dalam hal ini Al-Qur’an dijelaskan dari berbagai segi dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat al-Qur’an dalam mushaf. Semua segi yang dianggap perlu bermula dari kosa kata, asbab al-Nuzul, munasabah al-ayat, dan yang lainnya yang berhubungan dengan teks atau kandungan ayat.

  1. Pendekatan Sektoral

Pendekatan sektoral adalah pendekatan yang membahas objek tanpa membahas objek lain selain dirinya. Pendekatan ini berusaha mengkaji al-Qur’an secara singkat dan global tanpa uraian panjang lebar. Pembahasannya menguraikan arti ayat demi ayat, surat demi surat sesuai dengan urutan dalam mushaf serta diuraikan dengan uraian yang mudah dipahami baik dari segi bahasanya maupun sistematikanya oleh orang berilmu dan awam.

  1. Pendekatan Disipliner.

Pendekatan disipliner merupakan objek dari sisi sebuah disiplin ilmu. Pendekatan disiplin ini mengandung makna menggunakan konsep-konsep, asas-asas disiplin terkait untuk memecahkan masalah.  Di antara macam-macam pendekatan ini adalah pendekatan syarâ’, sosio-historis, filosofis, linguistik (riwayat dan bahasa).

  1. Pendekatan multidisipliner.

Pendekatan ini berupaya membahas dan mengkaji objek dari beberapa disiplin ilmu suatu objek dengan mengaitkan disiplin ilmu lain. Artinya ada upaya untuk menafsirkan ayat al-Qur’an dengan berbagai disiplin ilmu tertentu yang berbeda dalam sebuah penafsiran.

Menurut penulis, di antara berbagai macam pendekatan di atas, yang paling ideal adalah pendekatan multidisipliner. Sebab kita bisa meneliti al- Qur’an dengan mudah dan optimal walaupun dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya melakukan penelitian dalam disiplin ilmu agama, maka bisa juga terkait dengan bidang ilmu kesehatan, politik maupun sosial.

  1. Corak Penafsiran Al-Qur’an

Setiap model penafsiran Al-Qur’an tidak lepas dari keahlian Mufassir, keahlian itu selanjutnya dijadikan standarisasi dalam menafsirkan Al-Qur’an, karena itu dalam ilmu tafsir ditemukan berbagai macam corak penafsiran seperti corak Kalami, Ilmi, Tasawufi, Fiqih, Falsafi, Adab ijtima’i, Lughowi, Tarikhi dan Siyasi.[19]

  1. Corak Kalami yaitu model penafsiran Al-Qur’an yang bahasanya mengacu pada penjelasan ilmu Kalam. Model ini dikembangkan oleh aliran Mu’tazilah. Kitab tafsir yang tergolong corak Kalami adalah tafsir Anwar at Tanzil oleh Baidhawi ( wafat 692 H).
  2. Corak Fiqih yaitu model penafsiran Al-Qur’an yang menerangkan hukum-hukum yang diistimbathkan dari hukum syara’ melalui ijtihad ulama’, karena itu dalam model ini banyak diterangkan masalah-masalah ibadah, muamalah, jinayat, munakahat dan sebagainya. Kitab yang tergolong corak fiqih adalah:
  3. Ahkam al- Qur’an oleh Abu Bakar al-Jashshos
  4. Ahkam al-Qur’an oleh Abu Bakar al-‘Arabi
  5. Ahkam al-Qur’an oleh al-Harasyi
  6. Tafsir Ibnu Taimiyah, oleh Ibnu Taimiyah.
  7. Corak Tasawufi yaitu model penafsiran Al-Qur’an yang keterangannya cenderung pada isyarat-isyarat atau menerangkan arti dibalik yang nyata sedang sumber penafsiran itu dari pengalaman ibadah yang ditempuh.

Corak Tasawufi dibagi menjadi dua macam:

  1. Tasawuf Nadzhari, yaitu tasawuf yang dihasilkan dari perenungan yang mendalam sehingga renungan itu menimbulkan suatu kesimpulan yang digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Kitab tafsir yang tergolong model ini adalah Futuhul Makiyah oleh Ibnu Arabi.
  2. Tasawuf ‘Amali yaitu tasawuf yang dihasilkan dari pengalaman ibadah yang terus-menerus, ikhlas dan khusyu’ dengan tambahan kegiatan-kegiatan tertentu. Model ini yang paling banyak ditemukan dalam penafsiran Tasawufi, seperti ‘Araisil Bayan fi Haqaiqil Qur’an oleh Asy-Syirazi.
  3. Corak Ilmi yaitu model penafsiran Al-Qur’an yang menggunakan hukum berfikir Ilmiah, sehingga model penafsiran ini menggunakan persyaratan Ilmiah jika menafsirkan al- Qur’an. Misalnya menafsirkan ayat tentang kauniyah (fenomena alam) didasarkan atas ilmu fisika, biologi, kimia, astronomi, geologi, geofisika, botani, antropologi, dan sebagainya.

Tafsir Ilmi sebenarnya sama halnya dengan tafsir maudhu’i yang secara tematik dan dapat diterima keberadaannya. Mengingat penafsiran ini berdasarkan dalil naqli dan dalil aqli dengan berbagai metode Ilmiah yang ada. Contoh tafsir Ilmi adalah Tafsir Ilmi Lil Ayati Kauniyah Fi Qur’anul Karim oleh Ustadz Hanafi Ahmad.

  1. Corak Falsafi yaitu model penafsiran al-Qur’an yang menggunakan pendekatan filsafat dengan cara merenungkan dan menghayati ayat yang ditafsirkan, kemudian mengkajinya secara radikal, sistematik dan obyektif. Pada model ini, para ulama’ sebagian pro dan sebagian kontra.

Bagi yang pro mengatakan bahwa filsafat dapat dipergunakan manusia setelah menghilangkan perbedaan atau pertentangan ajarannya terhadap Islam. Karena sumber filsafat dari terjemahan kitab Yunani maka perlu Islamisasi filsafat. Sehingga rumusan filsafat dapat dipergunakan menafsirkan Al-Qur’an.

Sedangkan bagi ulama’ yang kontra tidak menerima tafsiran filsafat sebab disiplin ilmu ini banyak bertentangan dengan aqidah. Model yang kedua ini diwakili oleh Fahrur Razi dalam Tafsirnya Mafatihul Ghaib, adapun  model yang  pertama diwakili oleh Tantawi Jauhari dalam tafsirnya al-Jawahir.

  1. Corak Adabi Ijtima’i yaitu model penafsiran Al-Qur’an yang bahasanya dikupas berdasarkan sosio-kultural masyarakat, sehingga bahasanya lebih mengacu pada sosiologi. Kitab yang termasuk golongan ini adalah:
    1. Tafsir al-Manar, oleh Rasyid Ridha
    2. Tafsir al-Maraghi oleh Mushtafa al-Maraghi
    3. Tafsir Qur’an Al- Karim, oleh Syekh Mahmud Syalthut.
  2. Corak Lughawi yaitu model penafsiran Al-Qur’an yang lebih menekankan aspek kebahasaan, kaidah dan sastranya, untuk menerangkan arti atau maksud ayat. Adapun kitab yang tergolong model ini adalah:
    1. Tafsir Bahrul Muhith, oleh Hayyan ( wafat, 745 H)
    2. Tafsir al-Kasyaf, oleh Zamahsyari (wafat,538 H)
  3. Corak Tarikhi atau Qishashi yaitu model penafsiran yang lebih menekankan aspek penjelasan kisah-kisah Al-Qur’an. Kitab yang tergolong corak ini adalah “ Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani Tanzil” oleh Imam Khazin (wafat 741 H).
  4. Corak Siyasi adalah model penafsiran Al-Qur’an yang keterangannya untuk menguatkan faham politik masing-masing. Adapun kitab yang termasuk kategori corak Siyasi adalah:
    1. Tanzihul Qur’an ‘anil Mathain, oleh al-Qadhi Abdul Jabar (wafat 415 H) dari golongan Mu’tazilah.
    2. Durrasul Anwar, oleh Abdul Lathif al-Kazirani dari golongan syi’ah.

Berbagai corak penafsiran tersebut menjadi khazanah dan kekayaan ilmu dalam Islam, mengingat isi kandungan Al-Qur’an memuat berbagai macam masalah kehidupan, sehingga dapat ditafsirkan menurut dimensi keahlian Mufassir masing-masing.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, dapat kami simpulkan:

Al-Qur’an merupakan petunjuk Allah yang apabila kita pelajari maka akan menemukan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi penyelesaian berbagai problem hidup. Apabila dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa dan karsa kita mengarah kepada realitas keimanan yang dibutuhkan bagi stabilitas dan ketentraman hidup pribadi khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Dengan demikian kita membutuhkan sebuah tafsir. Tentu saja tafsir itu perlu diberikan oleh yang ahli, atau yang biasanya disebut Mufassir. Tetapi dalam surat al-Baqarah ayat 185 tersebut, dinyatakan bahwa petunjuk ditujukan kepada seluruh manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap manusa memiliki potensi untuk mendapatkan petunjuk itu dari al-Qur’an. Sudah tentu ada syaratnya, misalnya mengetahui bahasa al-Qur’an. Bahkan diperlukan bahasa yang mendalam agar bisa mengetahui makna dan maksud suatu ayat secara lebih tajam karena adanya bahasa adalah simbol yang mengandung makna yang terpendam.

Berbicara perangkat metodologi ilmu tafsir, secara umum metodologi tafsir al-Qur’an terdiri atas tiga perangkat: metode tafsir, pendekatan tafsir, dan corak tafsir.

Seperti dipaparkan, ada empat konsep dasar metodologi tafsir, yaitu metode Tahlili, metode Ijmali, metode Muqarin, dan metode Maudhu’i Seorang Mufassir yang menggunakan metode Tahlili, akan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an secara runtut dari awal hingga akhir. Tafsir dengan metode Tahlili  memiliki beberapa kecenderungan, di antaranya tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ra’yi, tafsir sufi, tafsir fiqih, tafsir falsafi, tafsir ‘Ilmi, dan tafsir al-adabii al-ijtimaa’ii. Metode Ijmali juga membahas secara runtut berdasarkan urutan mushaf. Tetapi uraiannya dikemukakan secara global dan singkat. Adapun metode Muqarin menekankan pembahasannya pada aspek perbandingan (komparasi) tafsir al-Qur’an di antara beberapa Mufassir. Sedangkan metode Maudhu’i adalah metode tafsir yang pembahasannya berdasarkan tema-tema tertentu yang terdapat dalam al-Qur’an.

Selanjutnya, ada beberapa macam pendekatan yang biasa dipakai oleh ilmu tafsir, yaitu pendekatan objektif-subjektif, pendekatan langsung-tidak langsung, pendekatan komprehensif-sektoral, dan pendekatan disipliner-multidisipliner. Mengenai pendekatan multidisipliner, hal ini sangat tepat untuk digunakan oleh para pengkaji tafsir al-Qur’an di tengah gencarnya gelombang wacana integrasi ilmu. Nantinya, kajian tafsir al-Qur’an tidak hanya bergerak di tengah saja. Tetapi, terus menyebar seperti gelombang air membentuk jaring-jaring ilmu, dengan memanfaatkan disiplin ilmu-ilmu lain.

Sehingga penafsiran yang dimunculkan seorang Mufassir tidak terjebak ke dalam penafsiran yang diwarnai aura kepicikan, oportunis, ideologis, dan hal negatif lainnya . Tetapi penafsiran yang objektif-Ilmiah, dalam rangka memberi solusi bagi kehidupan umat Islam dewasa ini, yang hidup dalam gelombang modernisasi.

Selain kedua unsur metodologi di atas yang meliputi metode dan pendekatan penelitian atau penafsiran Al-Qur’an. Dalam ilmu tafsir juga ditemukan berbagai macam corak penafsiran seperti corak Kalami, Ilmi, Tasawufi, Fiqih, Falsafi, Adab ijtima’i, Lughowi, Tarikhi dan Siyasi. Dari aneka corak penafsiran tersebut, semuanya akan menjadi khazanah dan kekayaan ilmu dalam Islam khususnya bidang Studi al-Qur’an. Kita sudah mengetahui bahwa isi kandungan al-Qur’an memuat berbagai macam masalah kehidupan, sehingga dapat ditafsirkan menurut dimensi keahlian Mufassir masing-masing.

Dengan demikian dari fakta sejarah membuktikan bahwa tidak seorangpun yang mampu menjawab tantangan-tantangan terhadap orang-orang yang meragukan bahkan mengingkari kebenarannya. Oleh sebab itu, semakin terbukti bahwa al-Qur’an itu sesungguhnya mu’jizat.

 

  1. Saran dan Kritik

Demikianlah pemaparan makalah kami, penulis hanyalah manusia biasa. Penulis yakin makalah ini penuh dengan kekurangan baik dari segi bahasa, isi, atau yang lainnya. Oleh karena itu demi kesempurnaan makalah, penulis mohon kritik dan saran yang membangun demi terwujudnya kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga tulisan tersebut bermanfaat khususnya  bagi penulis pribadi dan pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ar-Rumi, 1419, Fahd bin Abdur Rahman bin Sulaiman, Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahajihi, Riyadh: at-Taubah, 1419.

Ghazali, Abd. Muqsith, 2009, Metodologi Studi Al Qur’an.  Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Gusmian, Islah, 2002, Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi, Jakarta: Teraju.

Hatta , Ahmad, 2009, Tafsir Qur’an Per Kata: Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah, Jakarta: Maghfirah Pustaka.

Jaelani, Bisri M, 2007, Ensiklopedi Islam, Yogyakarta: Panji Pustaka.

Juhana, Hendri 01 Juli 2011, Pendekatan2 Tafsir Al-Quran menurut Pak Ustad, dalam http://dumalana.com/2011/07/01/pendekatan2-tafsir-al-quran-menurut-pak-ustad/ , diakses tanggal 15 November 2011.

Qaththan Manna’ Khalil, 1981, Mabahits fi Ulumil Qur’an, Riyadh: Maktabah Ma’arif.

Rahardjo, M. Dawam, 2002, Ensiklopedi al-Quran: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci,  Jakarta: Paramadina

Rofi’ah, Khusniati, 2010, Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial,  Ponorogo: Jurusan Ushuluddin STAIN Ponorogo.

Saifullah, dkk. 2004, Ulumul Qur’an, Ponorogo, PPS Press

Shihab, Quraish, 1994, Membumikan al-Qur’an  Bandung: Mizan.

Shihab, Umar, 2003, Kontekstual al-Quran: Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Quran,  Jakarta: Penamadani.

Suma,  Moh. Amin, 2002, Pengantar Tafsir Ahkam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Tajab, Muhaimin dan Abdul Mujib,1994, Dimensi-Dimensi Studi Islam  Surabaya: Karya Abditama.Thabathaba’i, Muhammad Husain, 2003, Memahami Esensi Al-Qur’an, Jakarta: Lentera

Yasid, Abu, 2007,  Nalar dan Wahyu: Interrelasi dalam Proses Pembentukan Syari’at ,  Jakarta: Erlangga.

Zuhdi, Masjfuk, 1993, Pengantar ‘Ulumul Qur’an, Surabaya: PT. Bina Ilmu.

[1].Masjfuk Zuhdi, Pengantar ‘Ulumul Qur’an, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1993), hal. 22

[2] .Ahmad Hatta, Tafsir Qur’an Per Kata: Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul dan Terjemah, ( Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2009), hal. 2 dan hal. 28

[3] . Khusniati Rofi’ah, Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial, ( Ponorogo: Jurusan Ushuluddin STAIN Ponorogo, 2010)hal. 17

[4].Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam, (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007), Hal. 311

[5] .  Abd. Muqsith Ghazali, Metodologi Studi Al Qur’an. ( Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009), hal. 142

[6] Abu Yasid,  Nalar dan Wahyu: Interrelasi dalam Proses Pembentukan syari’at , ( Jakarta: Erlangga, 2007) hal. 2

[7] .Manna’ Khalil al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, (Riyadh: Maktabah Ma’arif, 1981) hal. 277

[8].Moh. Amin Suma,  Pengantar Tafsir Ahkam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal.171

[9]. Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera ,2003),hal.75

[10] .Tajab, Muhaimin dan Abdul Mujib, Dimensi-Dimensi Studi Islam ( Surabaya: Karya Abditama, 1994) hal. 120

[11] .Fahd bin Abdur Rahman bin Sulaiman ar-Rumi,Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahajihi, (Riyadh: at-Taubah, 1419) hal. 60

[12] Quraish Shihab. Membumikan al-Qur’an ( Bandung: Mizan, 1994) hal. 114

[13] . M, Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, ( Jakarta: Paramadina, 2002).hal 4

[14] . Umar Shihab, Kontekstual Al-Qur’an: Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Hukum dalam Al-Qur’an, ( Jakarta: Penamadani, 2003),hal. 11

[15] . Ahmad Hatta, Tafsir Qur’an Per Kata………..hal. 86

[16] .Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi, (Jakarta: Teraju, 2002), hal. 118

[17].Saifullah,dkk. Ulumul Qur’an, (Ponorogo, PPS Press, 2004), hal.147

[18] Hendri Juhana, 01 Juli 2011, Pendekatan2 Tafsir Al-Qur’an menurut Pak Ustad, dalam http://dumalana.com/2011/07/01/pendekatan2-tafsir-Al-Qur’an-menurut-pak-ustad/, diakses tanggal 15 November 2011.

[19]. Tajab, Muhaimin dan Abdul Mujib, Dimensi-Dimensi Studi Islam…..,hal. 126

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *