Tema-Tema Hukum dalam Al Quran ( Konsep Hukum Ibadah dalam Al Qur’an dan Ibadah dalam Islam)

Oleh: Dr. Abdillah, M.H.I

 

PENDAHULUAN

Al Quran merupakan pedoman hidup umat Islam dalam segala aspek kehidupan. Baik itu dalam hal aqidah, pendidikan, syariat, ibadah, muamalat dan berbagai aspek kehidupan yang lain. Seperti juga ketika kita berbicara hukum. Juga Al Quran menjadi rujukan pertama dalam penentuan hukum dalam islam. Sebagai suatu tuntunan atau pedoman hidup maka tidak heran jikalau kajian tentang al Quran banyak menyita perhatian.

Sebagai kitab suci terakhir dari agama hanifdalam persoalan hukum atau syariat, Al Quran dikenal sebagai mashdar al awwal fi at tasyri’. Al Quran merupakan pelengkap dari para pendahulunya dari kitab-kitab suci terdahulu. Dari syariat nabi-nabi sebelum nabi Muhammad saw. Petunjuk yang dibawanya pun dapat menyinari seluruh isi alam ini, baik bagi manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Karena itu, keistimewaan yang dimiliki al Quran tidak dapat di ukur dengan perhitungan manusia, termasuk didalamnya memuat intisari dari kitab Zabur, Taurat dan Injil. Lebih-lebih keistimewaan Al Quran ini karena telah terjaga dari perubahan tangan-tangan kotor manusia, baik dari umat lain maupun dari umat islam itu sendiri. Dalam Ayat al Quran, Allah sendiri yang berjanji akan menjaga orisinilitas Al Quran. Terpelihara dari perubahan jenis apapun.

Dalam kajian tentang tema-tema hukum dalam Al Quran sendiri, kami memberikan indikasi bahwa al Quran mempunyai banyak aspek yang berbicara tentang hukum. Aspek hukum tersebut dapat kita lihat dari sepanjang sejarah Islam itu sendiri yang di kombinasikan dari ayat- ayat al Quran. Sangat banyak contoh di sepanjang sejarah hukum islam, tidap pernah lepas satupun, persoalan yang solusi awalnya akan dirujuk kembali kepada Al Quran. Sehingga singkronisasi perkataan yang mengatakan bahwa hukum islam salihun likulli zaman wa makan  itu juga akan terbawa kepada pengertian dasar tentang statement bahwa demikian halnya Al Quran itu sesuai dengan konteks zaman dan tempat. Menjadi bukti bahwa kebenaran akan agama Islam benar adanaya, dengan kemampuan al Quran bertahan selama lebih dari 1400 abad silam serta mampu menjawab berbagai macam problematikan permasalahan umat Islam.

Makalah singkat ini, kami mencoba menguraikan tema-tema hukum dalam Al Quran yang dikaitkan atau di spesialisasikan ke dalam konsep hukum ibadah saja. Karena kami sendiri, bukanlah satu orang yang mengerjakan tugas ini, melainkan merupakan satu bahagian dari dua orang yang mendapat tugas tersebut. Sesuaipembahagian hukum  secara umum, kami rangkum dan simpulkan kedalam dua bahagian besar yaitu hukum ibadah dan hukum muamalat. Hukum ibadah akan kami jelaskan sendiri di makalah ini, sedangkan hukum muamalat akan dijelaskan oleh teman, sabahat kami Yusol Hana dalam makalah tersendiri.

Sekian pengantar dari kami. Semoga penjelasan berikutnya adalah penjelasan yang di inginkan oleh pengampuh dalam kaitannya dengan tema-tema hukum Al Quran perspektif konsep ibadah dalam Islam.Menguraikan secara sistematis dan mendalam tentang kajian hukum tentang ibadah dari sumber hukum pertama dalam islam yaitu al- Quran al Karim.

 

PEMBAHASAN

 

  1. Tema-Tema Hukum dalam Al Quran

 

Dalam berbagai macam diskursus penelitian tentang tema-tema hukum dalam al Quran, banyak mufasir ataupun ahli hukum yang mencoba menguraikan tentang tema hukum kedalam pelbagai macam pembahagian. Ada juga yang berbicara tentang perincian ayat-ayat hukum yang ada dalam al Quran. Memilah dan mencoba menyimpulkan seberapa banyak al Quran berbicara tentang hukum. Dan lain sebagainya.

Mengenai seberapa banyak al Quran sebagai rujukan hukum Islam berbicara tentang hukum itu sendiri ulama berbeda pendapat dalam hal tersebut. Sebahagian memberikan batasan bahwa ayat tentang hukum didalam al Quran itu sebanyak limaratus ayat. Perkataan ini disandarkan kepada al Gazali yang mana dia menyandarkan perkataannya kepada Ibn Arabi.[1] Sedangkan dilain pendapat Siddiq Hassan Khan berpendapat bahwa ayat hukum dalam al Quran itu sebanyak dua ratus ayat tidak lebih.[2] Sedangkan pendapat yang lain adalah ulama yang mengatakan tidak ada batasan khusus tentang ayat-ayat hukum dalam al Quran. Bisa saja lebih atau bisa saja kurang. Pendapat ini dipaparkan oleh Ibn Daqiq al Iydi yang kemudian di rajihkan oleh Syamakhsyari.[3] Dari segi banyak dan sedikitnya adalah tergantung dari seorang fakih yang di karuniai kecerdasan akal saja untuk mengetahui seberapa banyak ayat hukum yang ada dalam al Quran. Dan ini jugalah yang menurut kami lebih dekat dengan pendapat kami.

Sedangkan menurut para fuqaha dalam beberapa rujukan kami, seperti ushul fiqh Abdul Wahhab Khallaf dan Muhammad Abu Zahra membagi tema hukum dalam Al Quran menjadi sub bagian yang terperinci. Dalam ushul fiqhi Abdul Wahhab Khallaf sendiri kita dapati pembahagian tema hukum awalnya bisa dibagi dalam tiga kategori pembahagian secara umum. Pertama, Hukum I’tiqadia yaitu hukum yang berkaitan dengan mukallaf dalam persoalan I’tiqad atau keyakinan. Seperti iman kepada Allah SWT. Malaikatnya, Rasulnya dan sebagainya yang wajib di imani. Kedua, Hukum Khulqiyyah (akhlak) yang mengatu bagaimana seyogyanya seorang mukallaf dalam menujukkan perilaku yang  terpuji dan menghidari perilaku yang tercela. Ketiga, Hukum Amaliah yang membahas dengan hubungan segala yang bersumber dari seorang mukallaf berupa perkataan, perbuatan, akad dan tindakan.[4]

Sedangkan Muhammad Abu Zahra dalam buku ushul fiqhinya menguraikannya dalam berbagai sub tema, ibadah, muamalah, hukum keluarga, Kaffarat dan sebagainya. Menurutnya hukum didalam Al Quran itu sifatnya global. Dan kemudian diperinci oleh sunnah.[5]

Sedangkan kami disini akan lebih membagi tema hukum yang ada dalam Al Quran secara global kedalam dua bahagian saja. Sama dengan pembahagian yang dilakukan oleh Abdul Wahhab Khallaf dalam perincian  al ahkam al amaliyah [6] Yang pertama hukum ibadah meliputi shalat, zakat, puasa, haji, dan segala aspek ibadah yang mengatur hubugan antara manusia dengan Tuhan. Dan hukum Muamalat yang mengatur hubungan mukallaf antara satu dengan lainnya. Seperti hukum ahwal Syakhsiyyah. Ahkam Muduniyah. Dan lain-lain.

Hukum Ibadah dan Muamalat telah di jelaskan di dalam al Quran secera global. Jadi tidak salah ketika salah seorang mengatakan bahwa didalam al Quran telah tercakup semua tentang huku. Benar adanya. Namun hal ini masih bersifat sangat umum, sehingga penjelasan dari maksud dan tujuan ayat tersebut membutuhkan penjelasan dari Hadits rasul, serta ijtihad para fuqaha untuk zaman sekarang agar interpretasi hukum selalu sesuai dengan zaman dan waktu.

Interpretasi yang kami maksudkan adalah ketentuan dalam hukum syari’at itu bisa berubah. Namun tetap berada dibawah koridor al Quran dan Hadits sebagai pondasi dasar atas hukum itu sendiri. dan ini berlaku hanya terhadap hukum muamalat yang mengatur hubungan antara manusia dengan yang lainnya. Sedangkan mengenai ibadah adalah telah paten dan tidak berubah dari masa Rasulullah saw. Sampai hari kiamat. Seperti shalat, jumlah rakaatnya dan tatacaranya adalah sesuai penjelasan sunnah rasul.

 

Prinsip Hukum dalam Al Qur’an.

Secara bahasa, makna prinsip diartikan permulaan, tempat pemberangkatan dan titik tolak atau al Mabda atau asas yang bermakna kebenaran yang dijadikan pokok dasar berfikir, bertindak dan sebagainya.[7] Prinsip hukum islam bisa dibagi dalam dua kategori. Yaitu yang bersifat umum dan bersifat khusus. Prinsip umum adalah prinsip keseluruhan hukum islam yang bersifat universal dan yang khusus adalah prinsip setiap cabang hukum islam itu sendiri. [8]

Tiap tiap pakar hukum berbeda beda menyebutkan jumlah prinsip hukum Islam. Munawir Sadjali mencatat lima prinsip dasar yang ada. Musyawarah, ketaatan pada pemimpin,keadilan, persamaan dan hubungan antara umat dari berbagai agama. Lain dengan al Maududi mencatat sembilan prinsip kekuasaan legislatif dan kedaulatan hukum ditangan Allah, keadilan, persamaan, tanggung jawab pemeerintah, musyawarah, ketaatan, larangan usaha yang haram, amar maruf nahimungkar. Namun, meski demikian tetap ada persamaan yang global antara tiap-tiap bahagian yang dipaparkan.[9]

Namun disini kita akan menguraikan bebarapa saja dan mengaitkannya dengan ayat al Quran sebagai tolak ukur prinsip hukum Islam tersebut.

  1. Prinsip Tauhid

Tauhid (ketuhanan yang maha esa) adalah prinsip umum atau universal sebagai prinsip hukum Islam lainnya. Prinsip ini ditarik dari ayat al Quran.

 

Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.[10]

 

Prinsip umum ini melahirkan prinsip khusus, misalnya prinsip-prinsip ibadah, yakni prinsip yang berhubungan langsung dengan Allah SWT tanpa perantara. Dan bahkan menjadi landasan hukum segala ketentuan hukum dalam tasyri.

 

 

  1. Prinsip Keadilan

Prinsip keadilan dalam al Quran disebut dengan dua kata yaitu, adl dan qisth. Dari kata adl sebagai kata benda disebut sebanyak 14 kali sedangkan kata qisth dari akar kata q-s-ta sebanyak 15 kali. Diantara  ayat al Quran tentang keadilan

 

“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

 

Qurais Shihab, pakar tafsir indonesia menjelaskan bahwa Mufassirin mengartikan adil paling tidak pada empat makna. Pertama adil dalam arti sama. Kedua adil dalam arti adil dalam arti seimbang Ketiga adil dalam aritin perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan sesuai porsinya, dan Keempat adil yang di nisbatkan kepada Allah SWT.

  1. Prinsip Persamaan Al Musawaah

Landasan ketiga dari hukum Islam adalah prinsip adanya kesamaan antar tiap individu yang harus dilaksanakan atas mereka semua tidak ada seorangpun yang memiliki keistimewaan tersendiri.

 

 

Landasan prinsip ini didasarkan pada surat ayat al Quran

“orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”[11]

 

Persamaan akan mewujudkan ikatan persaudaraan, semakin banyak persamaan maka semakin kokoh ikatan persaudaraan.  Dan ini akan membuat kita peka terhadap sesama. Landasan inilah yang menjadi tolak ukur juga dalam hukum Islam, sebagai agama rahmatan lil alamin.

  1. Prinsip Kemerdekaan Al Hurriyah

Konsep al hurriyah yang dimaksud adalah konsep kememerdekaan secara umum. Baik individu maupun kelompok. Konsep ini dijelaskan dalam ayat al Quran

“tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.[12]

 

  1. Prinsip Tolong Menolong dan Toleransi

Prinsip tolong menolong dan toleransi ini adalah sebagai prinsip lanjutan dari kemerdekaan tadi. Prinsip ini juga akan membangun kerjasama serta akan menciptakan kesukunan sosila baik antara sesama muslim maupun nonmuslim.

Asas prinsip ini bisa kita dapati dalam ayat

“Hai orang-orang beriman, apabila kamu Mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada rasul. dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”[13]

 

Dan banyak lagi sebenarnya prinsip hukum islam lainya yang terdapat dalam al Quran. Dan menjadi landasan hukum seperti amar makruf dan nahi mungkar yang berfungsi sebagai sosial enginerin dan sosial controlpada lima hukum: wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah.

 

Penetapan Hukum dalam Al Quran.

Penerapan hukum dalam Al Quran adalah untuk kepentingan manusia, bukan kepentingan Allah SWT.  ini kita bisa simpulkan dari maqasid syariah dalam al Quran itu sendiri. Tapi disni, orientasi yang maksudkan itu bisa dilihat pada periode penurunan wahyu secara berkala atau berangsur-angsur. Tidak sedikitnya pembebanan di dalam penerapan hukum dan meniaakan kesempitan dan kesukaran.

Berangsur angsur turunya Al Quran adalah merupakan ketentuan yang disesuaikan dengan kemampuan manusia. Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari turunya Al Quran secara berangsu-angsur, antaralain agar manusia mampu memahami hukum-hukum yang ditetapkan.[14] Untuk sesuai dengan kondisi kebutuhan saat itu. Untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi dan menjawab setiap pertanyaan.[15]

Beberapa kasus yang berkaitan dengan ini misalnya pengharaman minuman keras yang diturunkan secara berangsur angsur dan ditemukan dalam beberapa ayat.

 

Mereka bertanya kepadamu tentang minuman keras dan judi. Katakanlah: pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya…”[16]

 

Ayat ini tidak  belum mengharamkan minuman keras (khamar) bagi orang-orang Arab yang pada masa itu merupakan tradisi, melainkan hanya mengingatkan kepada mereka bahwa meskipun minuman keras mempunyai manfaat, tetapi manfaatnya tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan mudharat dan dosa yang diakibatkan. Setelah itu diturunkan ayat berikutnya untuk memberi peringatan yang sudah mengandung unsur larangan tapi tidak sampai kepada hukum haram.

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengerjakan shalat ketika kamu sedang mabuk, kecuali jika kamu telah mengetahui apa apa yang kamu katakan”[17]

 

Peringatan ayat ini berkisar pada larangan orang-orang isla meminum khamar ketika menjelang waktu shalat, sebab dengan memuinum khamar orang bisa mabuk, yang menyebabkan ucapanya tidak terkontrol dan bisa mengakibatkan bacaan dalam shalatnya juga tidak terkontrol, antara bacaan satu dengan yang lain tidak benar.

Hal ini diketahui berdasarkan riwayat yang menyebutkan peristiwa turunya ayat tersebut yang disebut dengan asbabun nuzul sebuah ayat. Di jelaskan suatu ketika Abdu Rahman bin Auf mengundang beberapa sahabat untuk makan bersama. Dalam acara tersebut ikut di hidangkan khamar yang menyebabkan mereka mabuk. Ketika waktu shalat tiba, salah seorang dari mereka menjadi imam dia keliru membaca surat al Kafirun

 

قل ياايها الكافرون اعبد ماتعبدون

 (Katakanlah: Hai orang-orang Kafir, Kami menyembah apa yang kamu sembah…)

 

Berdasarkan peristiwa ini larangan untuk meminum khamar itu karena para ditakutkan kekeliruan ketika melaksanakan shalat. Sebab saat mabuk bisa keliru dalam membaca ayat-ayat al Quran.[18] Namun, peringantan ini belum membuat umat Islam berhenti meminum khamar. Misalnya, antara waktu tertentu masih ada yang meminumnya. Para sahabat masih ada yang meminum khamar setelah shalat isya dan sewaktu ingin tidur. Atau bahkan setelah makan.

Oleh karena itu untuk menghentikan perbuatan meminum khamar bagi orang Islam, maka turunlah perintah berikutnya yang menjelaskan bahwa perbuatan yang seperti itu adalah perbuatan syetan.

 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi dan mengundi nasib adalah (pekerjaan) keji dari perbuatan syetan, sebab itu hendaklah kamu jauhi, mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan”[19]

 

            Ayat terakhir ini jelas sudah mengharamkan minuman keras. Dan dikategorikan dalam perbuatan syeitan yang harus di jauhi oleh orang-orang islam. Suatu kaedah yang dinisbatkan kepada syaitan maka hukumnya adalah haram untuk di laksanakan.

Pengangsuran penetapan hukum dalam Al Quran merupakan suatu bukti orientasi perubaha-perubahan penetapan hukum, terutama persoalan yang sudah menjadi tradisi dalam masyarakat yang dulit diubah. Ini merupakan sosialisi hukum islam sehingga bisa diterima oleh segala pihak yaitu menetapkan hukum tersebut tidak sekaligus tapi melakukannya secara berangsur-angsur.

Contoh lain tentang hukum yang di tetapkan secara berangsur-angsur ini dapat dilihat dari penerapan hukum untuk pelaku zina yang semula hanya di olok-olok kemudian dikenakan tahanan rumah dengan firman-Nya surat An Nisa ayat 15-16 kemudian diperberat dalam surat An Nur ayat2. Begitu juga kewajiban Shalat yang semula hanya dua kali sehari yakni pagi dua rakaat dan sore dua rakaat kemudian menjadi limakali sehari semalam. Kewajiban puasa semula hanya tiga kali dalam sebulan kemudian diperintahkan penuh dalam bulan ramadhan.[20]

Asas sedikit pembebanan dimaksudkan agar kewajiban agama kepada umat manusia itu tidak menyulitkan dan menyusahkan. Hal ini mengacu kepada ayat al Quran

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

 

Ayat ini menahan diri untuk menanyakan masalah yang tidak ada ketetapan hukumnya pada waktu itu dan dibiarkan tawaquf semata mata untuk memberi kelonggaran kepada manusia.[21] Dan untuk memahami lebih dalam asas sedikitnya taklid ini kita harus membahas poin ketiga yaitu meniadakan kesempitan dan kesukaran.

Meniadakan kesempitan dan kesukaran adalah merupakan asas penerapan hukum islam yang diambil dari al Quran. Beberapa ayat al Quran diantaranya

 

“…dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka…”[22]

 

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.”[23]

 

Uraian diatas menggambarkan bahwa ayat ayat al Quran berkenaan dengan tidak menyulitkan untuk hal hukum baik itu ibadah dan muamalah menandakan kasih sayang tuhan terhadap manusia. Syekh Hahdori bahkan menegaskan dengan adanya asas ini maka disyariatkan pula rukhsah dalam berbagai aspek ibadah, seperti berbuka bagi musafir memakan barang haram ketika darurat dan lain sebagainya.[24]

 

  1. Macam-Macam Hukum dalam Al Quran.

Berbicara tentang macam macam Hukum dalam al Quran maka ini menuntuk kami untuk menguraikan pembahagian itu secara mendalam. Mungkin dimulai dari telaah mendalam akan al Quran sendiri atau merujuk kepada para ulama yang telah menulis tentang pembahagian tersbut kemudian melakukan metodologi pembagian atanra satu dengan yang lainnya. Tapi disni, sejak dari awal kami telah memberikan kesimpulan umum saja dari pembahagian tersebut, yakni membagi  hukum dalam Al Quran itu dalam dua bahagian saja yakni hukum Ibadah dan hukum Muamalat.

 

  1. Hukum Ibadah

Dalam al Quran, Hukum ibadah telah dijelaskan secara keseluruhan. Dan diketahui bahwa shalat, zakat, haji, puasa di fardhukan.

“dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.[25]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”[26]

“ Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah[102]. Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”

 

Hanya saja perintah al Quran tentang hukum ibadah ini bersifat global. Seperti halnya perintah sholat . Allah SWT tidak memberikan gambaran rinci tatacara serta waktu pelaksanaannya akan tetapi kemudian diketahu dari hadits Rasulullah saw. Sebagaimana beliau menjelaskannya dalam sabdanya:

 

صلو كما رايتموني اصلي

 

“Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat”

Demikian juga ibadah haji, Allah SWT menyebutkannya secara global, kemudian dijelaskan dengan sempurna oleh Rasulullah saw dalam bentuk praktek dengan tertuang dalam sabdanya:

 

خذوعنيمناسككم

“Ambillah contoh manasik haji kalian dari Aku”

Zakat pun demikian dijelaskan perinciannya oleh Rasulullah saw. Dengan melaksanakan amalan pelaksanaan zakat dengan mengumpulkan atau mengirimkannya ke amil kemudian membagikannya ke mustahiq.

Barangkali ada pertanyaan mengapa al Quran menjelaskan masalah-masalah ibadah secara global dan kemudian dirinci oleh Sunnah kebanyakan dengan metode praktek? Pertanyaan ini di jawab oleh Abu Zahra dengan mengatakan bahwa hal itu bisa diartikan untuk menunjukkan bahwa ibadah adalah inti dari agama Islam.[27] Yang menjadi tiang dari tegaknya masyarakat dan terjalinya hubungan sosial yang harmonis. Dan dalam hal ini al Quran dan Sunnah saling memperkuat satu dengan lainnya. Untuk mempersempit terjadinya qiyas dan interpretasi personil dalam persoalan ibadah yang kemudian menciptakan bid’ah.

 

  1. Hukum Muamalat

Hukum muamalat yang kami maksudkan disni adalah segala hukum selain hukum yang mengatur hubungan dengan Allah SWT. Dengan katalain, yaitu hukum yang mengatur tatanan manusia dalam hal sosial kemasyarakatan. Berinteraksi dengan masyarakan demi menciptakan sebuah masyarakan Islami.

Cakupan hukum muamalat ini tentunya sangatlah luas dan tidak terbatas. Berbeda dengan hukum ibadah yang stagnan dan hanya didapati dari sumber asli atau tauqify tapi dalam muamalat hukum ini berkembang. Dan diberikan otoritas kepada para mujtahid untuk menyesuaikannya dengan kondisi kekinian melihat zaman dan waktu terjadinya dengan tetap mengacu kepada al Quran, Hadits, Ijma dan Qias.

Beberapa diantara hukum muamalat dalam al Quran adalah hukum al ahwal as syakhsiyat yaitu hukum yang berhubungan dengan hukum keluarga, yang mengatuh hubungan pasangan suami isteri dan hubungan dengan karib kerabat. Mencakup didalamnya, talaq, iddah, warisan dan lain sebagainya.

 

“mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

 

Dan contoh hukum muamalat yang lain adalah hukum al Muduniyat yang berhubungan dengan mengatur bagaimana tatangan jual beli[28] yang baik, dengan lebih tepatnya hukum yang mengatur hubungan harta personil dnengan  memberikan hak kepada yang berhak. Hukum Jinayat yaitu hukum yang bersumber dari seorang mukallaf yang berupa perbuatan dosa yang harus mendapat ganjaran atau hukuman.[29] Seperti hukum potong tangan hukum pelaku zina dan lain sebagainya. Semuanya adalah hukum selain hukum ibadah yang mengatur hubungan dengan Allah SWT.

 

  1. Konsep Ibadah Perspektif Al Qur’an

 

Sekaran kami mencoba menguraikan ibadah secara tersendiri dari muamalat sebagai orientasi makalah ini. Klimat ibadah berasal daripada kalimat `abdun’. Ibadah dari segi bahasa bererti patuh, taat, setia, tunduk, menyembah dan memperhambakan diri kepada sesuatu. [30]Dari segi istilah agama Islam  ialah tindakan, menurut, mengikut dan mengikat diri dengan sepenuhnya kepada segala perkara yang disyariatkan oleh Allah SWT dan diserukan oleh para Rasul-Nya, sama ada ia berbentuk suruhan atau larangan.[31]

Ibadah adalah ketundukan hamba yang tak terhingga kepada Allah dengan cara melakukan tindakan apapun disertai mengharap ridlo Allah, ibadah adalah tugas pokok manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.

$tBuràMø)n=yz£`Ågø:$#}§RM}$#uržwÎ)Èbr߉ç7÷èu‹Ï9ÇÎÏÈ!$tB߉ƒÍ‘é&Nåk÷]ÏB`ÏiB5-ø—Íh‘!$tBur߉ƒÍ‘é&br&ÈbqßJÏèôÜãƒÇÎÐÈ

“Dan  Aku tidak ciptakan  jin dan manusia kecuali  supaya  mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku”[32]

Diantara redaksi Al-Qur’an juga terdapat rangkaian ibadah kepada Allah diiringi larangan menyekutukan kepada-Nya (QS. Ali-Imran: 64; QS. An-Nur: 55; QS. An-Nisa’: 38 dan lain-lain) dan diiringi oleh perintah untuk sabar, teguh dalam menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah semata (QS. Maryam: 65), diiringi syukur kepada Allah (QS. Al-Ankabut: 17), dan terkadang diiringi perintah tawakal kepada-Nya (QS. Hud: 123), dan ada pula yang disertai perintah bertaqwa kepada-Nya (QS. Al-Ankabut: 16), diiringi perintah bersujud kepada-Nya (QS. Al-Hajj: 77; QS. An-Najm: 62), dan diiringi larangan menyembah dan perintah menjauhi thaghut (QS. An-Nahl: 36). Secara umum, perintah untuk beribadah kepada Allah adalah bermuara pada sikap ikhlas (QS. Az-Zumar: 2), karena hanya amal yang ikhlas saja yang diterima di sisi-Nya. Perhatikan ayat berikut:

!$¯RÎ)!$uZø9t“Rr&šø‹s9Î)|=»tFÅ6ø9$#Èd,ysø9$$Î/ωç7ôã$$sù©!$#$TÁÎ=øƒèCçm©9šúïÏe$!$#ÇËÈ

“Sesungguhnya  kami  menurunkan  al-Qur’an  kepadamu  dengan sebenarnya, maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya.”[33]

Sebahagian ulama mengatakan bahawa perhambaan (ibadah) kepada Allah hendaklah disertai dengan perasaan cinta serta takut kepada Allah swt. dan hati yang sihat dan sejahtera tidak merasa sesuatu yang lebih manis, lebih lazat, lebih seronok dari kemanisan iman yang lahir dari pengabdian (ibadah) kepada Allah swt. Dengan ini maka akan bertautlah hatinya kepada Allah dalam keadaan gemar dan reda terhadap setiap perintah serta mengharapkan supaya Allah menerima amalan yang dikerjakan dan merasa bimbang serta takut kalau-kalau amalan tidak sempurna dan tidak diterima oleh Allah seperti yang ditegaskan dalam firman-Nya yang bermaksud.Maka ibadah seperti inilah yang diterima oleh Allah SWT[34]

Dalam konteks ikhlas beribadah didasarkan pada kesadaran diri untuk melakukannya tanpa mengharapkan imbalan apapun, hanya karena Allah semata. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”[35]

Memahami Konsep Ibadah

Yang perlu juga menjadi landasan kajian kita tentang ibadah adalah memahami konsep ibadah itu sendiri terlebih dahulu. Ibadah pada dasarnya adalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dan tidak kembali kepada Allah SWT. Secara individu ibadah dapat memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena sejatinya, hambalah yang butuh kepada Allah SWT dan bukan sebaliknya.[36] Sebagaimana juga ibadah menjadi jalan untuk pengampunan dosa dan maksiat[37] dan juga merupaka jalan untuk merasakan kehadiran Allah SWT lebih dekat dan ada disegala tempat. Inilah sekurang kurangnya dari konsep ibadah jika kita bisa memahaminya dengan baik.

Tidak memahami pelaksanaan ibadah hanya untuk pengguguran kewajiban hukum saja namun jauh dari itu merupakan ibadah yang di ibaratkan oleh imam Al Gazali sebagai ghadza nafsiyyah kebutuhan pokok jiwa manusia.

Begitupun dalam konsep bermasyarakat. Sangat penting memahami konsep ibadah tersebut. Karena masyarakat merupakan kumpulan dari individu-individu. Dan sangat di tentukan masyarakat yang baik itu bermula dari individu yang baik juga. Dalam konsep ini, ibadah dalam Islam banyak mengajarkan konsep persatuan dalam masyarakat. Kita lihat misalnya dalam ibadah shalat, konsep jamaah, imam dan makmum yang teratur mengajarkan akan persatuan dan kepatuhan pada pemimpin[38]. Konsep puasa dengan waktu tertentu menunjukkan bagaimana keselarasan waktu diseluruh masyarakat islam.[39] Dalam ibadah Haji, tempat yang satu, arah yang satu semuanya mengajarkan konsep persatuan umat yang menjadi dasar kuatnya sebuah tatanan sosial bermasyarakat.[40]

 

Kekhususan Ibadah dalam Islam

Ibadah dalam islam mempunyai kekhususan tersendiri. Terangkum dalam ayat-ayat al Quran sebagai asas yang paling tinggi dalam agama Islam. Diantara kekhususannya: Pertama, Ibadah hanya untuk Allah SWT[41] tidak mempersekutukannya[42]Kedua, langsung kepada Allah SWT, dan Allah SWT sendiri yang memeberi ganjaran atas amalan seorang hamba. Dan Ketiga, sebagai tempat untuk menunjukkan ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah SWT. karena didalam ibadah tidak ada cela untuk menambahkan dan mengurangi. Semuanya tauqifi dan taabbudi dari Rasulullah saw.

Islam juga menjadikan dalam konsep ibadah beracu pada setiap perbuatan manusia dalam hidup ini asal di dasari dengan niat yang ikhlas. Baik perbuatan tersebut ada kaitannya dengan urusan dunia maupun tidak. Konteks seperti ini ibadah terbagi dalam dua yaitu, ibadah mahda dan ibadah gair al mahda. Dalam hal ini niatlah yang menjadi konsep ukuran ibadah tersebut. Dan ini jugalah yang di maksudkan Allah SWT dalam ayatNya

 

óOs9Ç`ä3tƒtûïÏ%©!$#(#rãxÿx.ô`ÏBÈ@÷dr&É=»tGÅ3ø9$#tûüÏ.Ύô³ßJø9$#urtûüÅj3xÿZãB4Ó®LymãNåkuŽÏ?ù’s?èpuZÉit7ø9$#ÇÊÈ

“ orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,”

 

Dan hadits Rasulullah saw:“Sesungguhnya amalan itu tergantung niat , dan sesungguhnya tiap perbuatan itu tergantung apa yang di niatkan”

 

PENUTUP

            Tema tema hukum dalam al Quran tidak terbatas terhadap angka tertentu. Jumlahnya tergantung kepada kefakihan seorang melihat dan menyelami hakikat dan nilai hukum yang terkandung dalam suatu ayat. Membutuhkan pendalama dan ketajaman berfikir untuk menentukan suatu hukum dengan bersandarkan ayat tersebut.

Bebicara hukum dalam al Quran secara garis besar dapat dibagi dalam dua bahagian. Pertama Ibadah. Dan Kedua Muamalat. Ibadah mengatur hubungan seorang mukallaf/hamba dengan tuhannya. Dan dapat dibagi dua, ibadah mahda dan gair mahda.ibadah mahda semuanya bersifat wajib dan tauqify dari Allah SWT dalam al Quran dan dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya. Sifatnya ta’abbdi. Karena tidak ada ruang akal didalamnya. Hanya merujuk kepada bagaimana rasul melaksanakannya dan kemudian mengikutinya.

Muamalah dalam artian luas adalah hukum yang mentuh hubungan manusia selain kepada Allah SWT. Mengatur tatanan interaksi sosial manusia. Hukum keluarga. Hukum bermasyarakat. Hukum tata negara dan lain sebagainya. Dalam artian luas juga muamalat berbeda dengan ibadah karena otoritas akal di berlakukan didalamnya. Mujtahid lebih mendapatkan ruang untuk melakukan ijtihad terhadap suatu hukum yang belum ada, akan tetapi dengan batasa tetap mengambil sandaran dari sumber-sumber hukum dalam Islam.

Khusus dalam Ibadah, islam sangat toleran dalam pelaksanaan ibadah. Tidak ada ibada kecuali untuk kepentingan manusia. Untuk menjaga diri, agama, harta, keturunan dan akal. Tidak ada pembebanan bahkan ada rukhsa didalamnya. Ibadah juga mencakup luar pengertiannya. Tidak sekedar melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji tetapi juga setiap lini kehidupan bisa bernilai ibadah. Dan yang sangat ditekankan dalam ibadah adalah niat yang tulus dan ikhlas untuk beribadah. Karena ketiadaan niat akan menyebabkan ibadah tidak diterima, meskipun secara hukum syara’ sudah sah karena telah memnuhi syarat sah dan rukun pelaksanaannya.

[1]Imam Al Gazali Mustasfa min Ilmil Ushul Juz I ( Kairo: Dar Al Fikr:tt) Hal 342.

[2]Siddiq Hasan Khan Nail Maram fi Tafsir Ayat al Ahkam (Mesir: Maktaba Tujjariah Kubra: tt) Hal:1

[3]Abdul Ilah. Huairi al Huairi. Asbab Ikhtilaf Mufassirin fi Tafsir Ayat al Ahkam (Risalah Magister. Dal Ulum. Kuliah Syariah Islamiah. 2001) Hal. 19

[4]Abdul Wahhab Khallaf Ilmu Ushul Fiqh (Kairo:Dar al Qalam:1978) Hal.32

[5]Muhammad Abu Zahro Ushul Fiqh (Jakarta:Pustaka Firdaus:2008) Hal 126.

[6]Abdul Wahhab Khallaf Ilmu Ushul Fiqh (Kairo:Dar al Qalam:1978) Hal.32-33

[7]Kamus Besar Bahasa Indonesia Sofware V1.1

[8]Dedi Supriadi, Sejarah Hukum Islam…. Hal.157

[9]Dedi Supriadi, Sejarah Hukum Islam…. Hal.158

[10]QS Al Imran: 64

[11]QS Al Hujarat :10

[12]QS al Baqarah: 256

[13]QS Al Mujadalah: 9

[14]Umar Shihab, Kontekstualitas Al Quran (Jakarta: Penamadani:2003) Hal 408

[15]Ibrahim Al Ibyari, Tarikh Al Quran (Kairo:Dar al Qalam;tt) Hal.80-82

[16]QS Al Baqarah:219

[17] QS  An Nisa: 43.

[18] Jalaluddin Abd Rahman As Suyuthi. Lubab al Nuqul fi Asbab an Nuzul. (Riyadh: Maktabah Riyad Al Haditsah:tt) Hal.63.

[19]QS:Al Maidah: 90

[20]Dedi Supriyadi Sejarah Hukum Islam(Bandung:Pustaka Setia:2007) Hal.156

[21]Masjfuk Zuhdi, Pengatar Hukum Syariah (Jakarta: CV Haji Masagung. 1990) Hal. 23

[22]QS Al A’raf 157

[23]QS An Nisa: 28

[24]Syeikh Muhammad Hadhori, Tarikh at Tasyri’ al Islami (Indonesia: Makbah Dar al Kutub al Islami. 1981) Hal.17.

[25]QS Al Baqarah: 110

[26]QS Al Baqarah: 183

[27]Muhammad Abu Zahra Ushul Fiqh…127

[28]QS. Al Baqarah : 275

[29]Abdul Wahhab Khallaf Ushul Fiqh…Hal.33

[30]Sya’ban Muhammad Ismail al ibadatu fi al Islam Mafhumuha wa Khasaisuha (kairo:Maktaba Kulliyah Azhariya.1980) Hal.14

[31]Yusuf Qardhawi Al Ibadatu fi al Islam (Kairo: Dar Salam) Hal.31

[32]QS. Adz-Dzariyat: 56

[33]QS Az Zumar: 2

[34] Imam Abu Hamid Al Gzali Ihya UlumuddinJuz I (Mesir. Maktaba as Shafa) Hal. 67

[35] QS.Al-Bayyinah:5.

[36] Sya’ban Muhammad Ismail Al Ibadah Fi… Hal.31.

[37] QS. Hud: 114

[38] Abuddin Nata Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT Raja Grapindo) Hal. 20

[39] Sya’ban Muhammad Ismail Al Ibadah Fi… Hal.34.

[40] Sya’ban Muhammad Ismail Al Ibadah Fi… Hal.35.

[41] QS. An Nisa: 36

[42] QS. Al Kahf: 111

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *