TEMA-TEMA HUKUM MU’AMALAH  DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Yusrol Hana, M.H.I

  1. Pendahuluan

Agama Islam adalah agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum muslim di seluruh dunia, merupakan way of life  yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang esensial, berfungi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah berfirman:

 

“ Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”.[2]

Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, Hukum (syariah) dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut, dan Allah swt. menugaskan Rasul saw, untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu: Allah swt. Berfirman:

 

“ keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”.[3]

Tujuan diturunkanya Al-Qur’an adalah untuk memberi petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan, petunjuk mengenai Akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupanya secara individual atau kolektif, petunjuk mengenai Syariat Dan Hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “ Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan di dunia dan akhirat”.[4]

 

  1. Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an Adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.[5] Dalam pengertian lain, al-Qur’an adalah mukjizat orang islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk menggeluarkan manusia dari lubang kegelapan menuju cayaha keislaman, dan sebagai petunjuk ke jalan yang lurus.[6] Allah ta’ala berfirman:

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan beransur-ansur.”[7]

Dan firman-Nya:

 

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”.[8]

Allah Ta’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Allah ta’ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya:

 

“Sesunggunya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”[9]

Oleh karena itu berabad-abad telah berlangsung namun tidak satu pun musuh-musuh Allah yang berupaya untuk merubah isinya, menambah, mengurangi atau pun menggantinya. Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka tipudayanya. Allah ta’ala menyebut al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkatan, pengaruhnya dan keuniversalannya serta menunjukkan bahawa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.

 

  1. Tema-Tema Hukum Dalam Al-Qur’an

Di  dalam kitab suci Al-Qur’an terdapat hukum-hukum yang bertujuan untuk mengatur kehidupan umat manusia untuk dapat hidup bahagia, tentram, makmur, sejahtera dan lain-lain. Ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Memuat aturan-aturan yang menyangkut hubungan manusia dengan pencipta-Nya –Allah swt, hubungan makhluk dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.[10]

Ada tiga macam tema hukum dalam al-Qur’an,[11] yaitu:

  1. Hukum-hukum I’tiqadiyah, yaitu yang bersangkutan dengan apa yang diwajibkan kepada seorang mukallaf tentang I’tiqadnya kepada Allah swt, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan hari akhir.
  2. Hukum-hukum Khulqiyah, yaitu yang bersangkutan dengan apa yang diwajibkan kepada mukallaf untuk meningkatkan moral, budi pekerti, adap sopan santun dan menjauhkan diri dari segala bentuk kejelekan.
  3. Hukum-hukum ‘Amaliyah, yaitu yang berhubungan dengan apa yang bersumber dari perkataan, perbuatan, janji dan pembelanjaan manusia.

Kemudian dari hukum-hukum amaliyah ini di dalam al-Qur’an dibagi menjadi dua bagian:

  1. Hukum-hukum yang berkenaan tentang Ibadat seperti halnya sholat, puasa, zakat, haji, nadzar, sumpah, dan semua perkara yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya.
  2. Hukum-hukum yang berkenaan tentang Muamalah seperti halnya tentang perjanjian, segala macam tindakan, hukuman, kejahatan dan selainya dari selain ibadat. Yang bertujuan mengatur hubungan mukallaf, antara satu sama lain. Baik itu pribadi, masyarakat atau bangsa.

Hukum yang dikembalikan kepada ibadat, dinamakan dalam istilah syar’i sebagai hukum mu’amalat. Adapun pada perkembangan dunia modern,  penamaan hukum muamalah itu bermacam-macam, menurut apa yang berhubungan denganya, dan apa yang dituju dengan hukum terhadap bermacam-macam hal:

  • Ahkam al-Ahwal al-Syakhshiyyah, yaitu yang berhubungan dengan keluarga. Yang dimaksud ialah mengatur hubungan suami istri dan karib kerabat. Hukumnya di dalam al-qur’an ada sekitar 70 ayat.
  • Ahkam al-Mahduniyah, yaitu yang berhubungan dengan mu’amalah pribadi, tukar menukar, upah-mengupah, gadai, bagi hasil. Bertujuan mengatur hubungan pribadi yang bersangkut dengan harta benda. Hukumnya di dalam al-qur’an ada sekitar 70 ayat.
  • Hukum jinayah, yaitu yang bersangkut dengan apa yang bersumber dari mukallaf tentang kejahatan, dan apa yang sepatutnya menerima sanksi hukuman. Tujuanya ialah memelihara kehidupan orang, hartanya, nama baiknya dan hak-haknya. Begitu juga membatasi hubungan harta yang diambil dengan orang yang melakukan kejahatan dan masyarakat luas. Dalil hukumnya dalam al-Qur’an ada sekitar 30 ayat.
  • Hukum murafi’at, yaitu yang bersangkutan dengan hukum, saksi dan sumpah. Tujuanya adalah untuk mengatur keberanian untuk mewujudkan keadilan diantara orang banyak. Dalil hukumnya ada sekitar 13 ayat.
  • Hukum dusturiyah, yaitu yang bersangkutan dengan peraturan hukum dan asal-usulnya. Tujuanya adalah untuk membatasi hubungan pemerintah dengan warga negara. Menetapkan hak-hak pribadi dan masyarakat. Dalil hukumnya dalam al-Qur’an sekitar 10 ayat.
  • Hukum dauliyah, yaitu yang bersangkutan dengan pergaulan negara Islam dengan yang bukan Islam. Dan pergaulan orang yang bukan Muslim di negara Islam. Tujuanya yaitu untuk membatasi huungan negara Islam dengan negara-negara lain diwaktu damai dan waktu perang. Membatasi hubungan Muslim dengan yang bukan Muslim dalam negara Islam. Dalil hukumnya di dalam al-Qur’an ada sekitar 25 ayat.
  • Hukum iqtishadiyah wal maliyah, yaitu yang bersangkutan dengan hak orang meminta dan yang diharamkan dalam hal harta kekayaan. Mengatur pemasukan dan pengeluaran. Tujuanya adalah untuk mengatur yang menyangkut harta antara orang kaya dengan orang miskin. Antara negara dan perorangan. Dali hukumnya dalam al-Qur’an ada sekitar 10 ayat.[12]

 

  1. TEMA HUKUM MU’AMALAH DALAM AL-QUR’AN
  2. Jual Beli

Manusia dijadikan Allah SWT sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha mencari karunia Allah yang ada dimuka bumi ini sebagai sumber ekonomi. Allah SWT berfirman:

 

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.[13]

Pengertian jual beli secara etimologis adalah menukar sesuatu dengan sesuatu. Sedangkan secara terminologis berarti transaksi penukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan)[14]. Sedangkan menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Majmu’, didefinisikan sebagai pertukaran harta dengan harta, untuk saling menjadikan milik.

  1. Hukum Jual Beli

Orang yang terjun dalam bidang usaha jual beli harus mengetahui hukum jual beli agar dalam jual beli tersebut tidak ada yang dirugikan, baik dari pihak penjual maupun pihak pembeli. Jual beli hukumnya mubah. Artinya, hal tersebut diperbolehkan sepanjang suka sama suka. Allah berfirman.

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu‘

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.”[15]

Hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut.

ﺇﻨﻤﺎ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﺗﺮﺍﺩ ( ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺮﻯ)

Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka suka sama suka.” (HR Bukhari)

ﺃﻠﺒﻴﻌﺎﻥ ﺑﺎ ﻟﺨﻴﺎﺭ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻴﺘﻔﺮﻗﺎ ( ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺒﺨﺎﺮﻯ ﻭ ﻤﺴﻠﻢ)

“ Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum berpisah dari tempat akad.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan jual beli dan tawar menawar dan tidak ada kesesuaian harga antara penjual dan pembeli, si pembeli boleh memilih akan meneruskan jual beli tersebut atau tidak. Apabila akad (kesepakatan) jual beli telah dilaksanakan dan terjadi pembayaran, kemudian salah satu dari mereka atau keduanya telah meninggalkan tempat akad, keduanya tidak boleh membatalkan jual beli yang telah disepakatinya.

  1. Rukun dan syarat Jual Beli

Dalam menetapkan rukun jual beli, di antara ulama terjadi perbedaan pendapat. Menurut Ulama Hanafiyah, rukun jual beli adalah ijab dan qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridla, baik dengan ucapan maupun perbuatan[16].

Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi. [17]

Pertama:  Penjual atau pembeli harus dalam keadaan sehat akalnya

Orang gila tidak sah jual belinya. Penjual atau pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya. Apabila ada paksaan, jual beli tersebut tidak sah.

Kedua:  Syarat Ijab dan Kabul

Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan, misalnya saya menjual mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari perkataan si penjual, misalnya saya membeli mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelum akad terjadi, biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu.

Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalah saling rela (ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang melakukan transaksi itu diwakilkan. Di zaman modern saat ini, jual beli dilakukan dengan cara memesan lewat telepon. Jula beli seperti itu sah saja, apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas barang pesanannya dan mempunyai keyakinan tidak ada unsur penipuan.

Ketiga: Benda yang diperjualbelikan

1) Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi sarat sebagai berikut.

2) Suci atau bersih dan halal barangnya

3) Barang yang diperjualbelikan harus diteliti lebih dulu

4) Barang yang diperjualbelikan tidak berada dalam proses penawaran dengan orang lain

5) Barang yang diperjualbelikan bukan hasil monopoli yang merugikan

6) Barang yang diperjualbelikan tidak boleh ditaksir (spekulasi)

7) Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi kuasa

  1. C. Perilaku atau sikap yang harus dimiliki oleh penjual

Pertama: Berlaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya, dusta merupakan perilaku orang munafik. Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar.

Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah. “Empat macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang congkak, orang tua renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.”(HR Nasai dan Ibnu Hibban)

Kedua:  Menepati Amanat merupakan sifat yang sangat terpuji. Yang dimaksud amanat adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya. Orang yang tidak melaksanakan amanat dalam islam sangat dicela. Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya. Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan.

Ketiga: Jujur, Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku jujur. Kejujuran merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah SWT. Firman Allah:

 

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”[18]

Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Al-Qur’an menginginkan agar dengan kisah teladan orang-orang beriman dapat diterapkan dalam setiap kehidupan kita, baik itu pemikiran, ruhiyat, serta Akhlaknya yang jujur.[19]

Lawan sifat jujur adalah menipu atau curang, seperti mengurangi takaran, timbangan, kualitas, kuantitas, atau menonjolkan keunggulan barang tetapi menyembunyikan cacatnya. Hadis lain meriwayatkan dari umar bin khattab r.a berkata seorang lelaki mengadu kepada rasulullah SAW sebagai berikut: “katakanlah kepada si penjual, jangan menipu! Maka sejak itu apabila dia melakukan jual beli, selalu diingatkannya jangan menipu.”(HR Muslim)

Keempat: Khiyar, artinya boleh memilih satu diantara dua yaitu meneruskan kesepakatan (akad) jual beli atau mengurungkannya (menarik kembali atau tidak jadi melakukan transaksi jual beli). Ada tiga macam khiyar [20]yaitu sebagai berikut:

1) Khiyar Majelis

Khiyar majelis adalah si pembelian penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiyar majelis ini berlaku pada semua macam jual beli.

2) Khiyar Syarat

Khiyar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari

3) Khiyar Aib (cacat)

Khiyar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Hadis nabi Muhammad SAW. Yang artinya : “Jika dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiyar selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar, kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah.” (HR Mutafaqun alaih)

  1. Riba

Bagi manusia yang tidak memiliki iman, segala sesuatunya selalu dinilai dengan harta (materialisme). Manusia berlomba-lomba untuk memperoleh harta kekayaan sebanyak mungkin. Mereka tidak memperdulikan dari mana datangnya harta yang didapat, apakah dari sumber yang halal atau haram. Salah satu contoh perolehan harta yang haram adalah sesuatu yang berasal dari pekerjaan memungut riba.

Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut, Yang artinya : “Dari Abu Hurairah r.a ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Akan tiba suatu zaman, tidak ada seorang pun, kecuali ia memakan harta riba. Kalau ia memakannya secara langsung ia akan terkena debunya.” (HR Ibnu Majah)

Kata riba (ar-riba) menurut bahasa yaitu tambahan (az ziyadah) atau kelebihan. Riba menurut istilah syarak ialah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar menukar suatu barang yang tidak diketahui syaraknya.[21] Atau dalam tukar menukar itu disyaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat. Riba dapat terjadi pada hutang piutang, pinjaman, gadai, atau sewa menyewa. Contohnya, Fauzi meminjam uang sebesar Rp 10.000 pada hari senin. Disepakati dalam setiap satu hari keterlambatan, Fauzi harus mengembalikan uang tersebut dengan tambahan 2 %. Jadi hari berikutnya Fauzi harus mengembalikan hutangnya menjadi Rp 10.200. Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba. Allah SWT berfirman:

 

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.[22]

Allah telah melarang hamba-Nya untuk memakan riba, Allah juga menjanjikan untuk melipatgandakan pahala bagi orang yang ikhlas mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Allah SWT berfirman.

 

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”[23]

Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : “Dari Jabir r.a ia berkata : Rasulullah SAW telah melaknati orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, dan (selanjutnya) nabi bersabda, mereka itu semua sama saja.” (HR Muslim)

Beberapa ayat dan hadis yang telah disebutkan menunjukan bahwa Islam sangat membenci perbuatan riba dan menganjurkan kepada umatnya agar didalam mencari rezeki hendaknya menempuh cara yang halal.

Ulama fikih membagi riba menjadi empat bagian,[24] yaitu sebagai berikut:

Pertama: Riba fadal yaitu tukar menukar dua buah barang yang sama jenisnya, namun tidak sama ukurannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarnya. Contohnya tukar menukar emas dengan emas atau beras dengan beras, dan ada kelebihan yang disyaratkan oleh yang menukarkan. Supaya tukar menukar seperti ini tidak termasuk riba harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut. Barang yang ditukarkan harus sama, Timbangan atau takarannya harus sama, Serah terima harus pada saat itu juga.

Kedua: Riba nasiah, yaitu tukar menukar barang yang sejenis maupun yang tidak sejenis atau jual beli yang pembayarannya disyaratkan lebih oleh penjual dengan waktu yang dilambatkan. Contohnya, salim membeli arloji seharga Rp 500.000. Oleh penjualnya disyaratkan membayarnya tahun depan dengan harga Rp 525.000

Ketiga: Riba yad, yaitu berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima. Misalnya, orang yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut dari penjual, penjual dan pembeli tersebut telah berpisah sebelum serah terima barang itu. Jual beli ini dinamakan riba yad

  1. Ijarah

Ijarah menurut bahasa adalah al-itsabah (memberi upah)[25]. Misalnya aajartuhu, baik dibaca panjang atau pendek, yaitu memberi upah. Sedangkan menurut istilah fiqih ialah pemberian hak pemanfa’atan dengan syarat ada imbalan.[26]

Hukum Pensyari’atan Ijarah, Allah swt berfirman :

“Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya”.[27]

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, Ya Bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang peling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[28]

 

“Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidr menegakkan dinding itu, Musa berkata, Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”[29]

Segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya dan sesuatu itu yang tetap utuh, maka boleh disewakan untuk mendapatkan upahnya, selama tidak didapati larangan dari syari’at. Dipersyaratkan sesuatu yang disewakan itu harus jelas dan upahnya pun jelas, demikian pula jangka waktunya dan jenis pekerjaannya.

Dari Hanzhalah bin Qais, ia bertutur: Saya pernah bertanya kepada Rafi’ bin Khadij tentang menyewakan tanah dengan emas dan perak. Maka jawabnya, “Tidak mengapa, sesungguhnya pada masa Nabi saw orang-orang hanya menyewakan tanah dengan sewa hasil yang tumbuh di pematang-pematang galengan, tepi-tepi parit, dan beberapa tanaman lain. Lalu yang itu musnah dan yang ini selamat, dan yang itu selamat sedang yang ini musnah. Dan tidak ada bagi orang-orang ketika itu sewaan melainkan ini, lalu yang demikian itu dilarang. Adapun sewa dengan sesuatu yang pasti dan dapat dijamin, maka tidak dilarang.”

Adapun perbuatan yang tidak boleh diambil upahnya sebagai mata pencaharian telah Allah swt gambarkan:

 

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Mulia Pengampun Lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).”[30]

  1. Jihad

Makna jihad terulang dalam al-Qur’an sebanyak empat puluh satu kali, kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti letih atau sukar. Jihad memang sukar dan menyebabkan keletihan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata juhd yang berarti kemampuan. Ini karena jihad menuntut kemampuan dan harus dikerjakan sebesar kemampuan.

Demikian terlihat bahwa jihad merupakan cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Tampak pula kaitan yang sangat erat dengan kesabaran sebagai isyarat bahwa jihad adalah sesuatu yang sulit, memerlukan kesabaran serta ketabahan. Kesulitan ujian atau ujian yang menuntut kesabaran itu dijelaskan rincianya antara lain dalam Furman Allah:

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat”.[31]

Jihad juga mengandung arti kemampuan yang menuntut sang mujahid mengeluarkan segala daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan. Karena itu jjihad adalah pengorbanan, dengan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil, tetapi membeli semua yang dimilikinya. Ketika memeberi dia tidak berhenti sebelum tujuanya tercapai.

 

“(orang-orang munafik itu) Yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih”.[32]

Terakhir dan yang terpenting dari segalanya adalah bahwa jihad harus dilakukan demi Allah, bukan untuk memperoleh tanda jasa, pujian, apalagi keuntungan duniawi. Berulang-ulang al-Qur’an menegaskan redaksi fi sabilihi (di jalan-Nya). Bahkan al-Qur’an memerintahkan:

 

“dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya”.[33]

Kesimpulanya jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, kelesuan, tidak pula pamrih. Tetapi jihad tidak dapat dilaksanakan tanpa modal, karena itu jihad mesti disesuaikan dengan modal yang dimuliki dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tersebut tercapai dan selama masih ada modal, selama itu pula jihad dituntut.

Karena jihad harus dilakukan dengan modal, maka mujahid tidak mengambil, tetapi memberi. Bukan mujahid yang menenti imbalan selain dari Allah, karena jihad diperintahkan semata-mata demi Allah. Jihad menjadi titik tolak seluruh upaya, karenanya jihad adalah puncak segala aktifitas. Jihad bermula dari upaya mewujudkan jati diri yang bermula dari kesadaran. Kesadaran harus berdasarkan pengetahuan dan tidak datang dengan paksaan. Karena itu mujahid bersedia berkorban, dan tak mungkin menerima paksaan, atau melakukan jihad dengan terpaksa.[34]

 

  1. Kesimpulan

Pertama: Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, Hukum (syariah) dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar nya.

Kedua: Tujuan diturunkanya Al-Qur’an adalah untuk memberi petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan, petunjuk mengenai Akhlak. Petunjuk mengenai Syariat Dan Hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.

Ketiga: Hukum-hukum amaliyah di dalam al-Qur’an dibagi menjadi dua, yaitu: Hukum Ibadah dan Hukum Mu’amalah, kemudian Hukum yang dikembalikan kepada ibadat, dinamakan dalam istilah syar’i sebagai hukum mu’amalat. Adapun pada perkembangan dunia modern,  penamaan hukum muamalah itu bermacam-macam, diantaranya: Ahkam al-Ahwal al-Syakhshiyyah Hukumnya di dalam al-qur’an ada sekitar 70 ayat. Ahkam al-Mahduniyah Hukumnya di dalam al-qur’an ada sekitar 70 ayat. Hukum jinayah hukumnya dalam Al-Qur’an ada sekitar 30 ayat. Hukum murafi’at, hukumnya ada sekitar 13 ayat.Hukum dusturiyah, hukumnya dalam al-Qur’an sekitar 10 ayat. Hukum dauliyah, hukumnya di dalam al-Qur’an ada sekitar 25 ayat.Hukum iqtishadiyah wal maliyah.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an Al-Karim

Hadis

Anshari, H. Endang Saifuddin, M.A. 2004. Wawasana Islam Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sistem Islam. Jakarta: Gema Insani Press.

Dimyathi, Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syatho. Hasyiyah ‘Ianatuth al-Thalibin. Bairut: Dar Al-Fikr. juz.3.

Al-Ghomrawi, Muhammad Zuhri . 2004. As-Siroj al-Wahhaj. Bairut: Dar al-Fikr. jil.1.

Husin Al-Munawar , Prof. DR. H. Said Agil, M.A. 2002. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki . Jakarta: Ciputat Press.

Al-Jazairi, Abdur Rahman.  Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahibil Arba’ah. Maktabah Syamilah.

Jazuli, Ahzami Samiun. 2010. Hijrah Dalam Pandangan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press.

Khalaf , Abdul Wahab. 2010.  Ilmu Ushul Fiqh. Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Al-Khotib, Muhammad Al-Syirbuni. 1415.  Al Iqna’ Fi Halli Alfadhi Abi Syuja’. Bairut: Dar Al-Fikr. juz. 2

Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. Kuwait: Wizaroh al-Auqoh wa Syu’un al-Islamiyyah.  jil. 9.

Al Mubarkafuri, Syaikh Abdurrahman. Tuhfah Al Ahwadzi, (Al Maktabah Asy Syamilah ), Juz. 5.

An-Nawawi, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syarif. Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab. Maktabah Syamilah.

Al-Qotthon, Manna’. 1973.  Mabahits Fi Ulum al-Qur’an. Surabaya: Al-Hidayah, 1973.

Shihab, M. Quraish. 1996. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Showi, Ahmad. 1995.  Balaghatu as-Salik Liaqrabi al-masalik. Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. jil. 3

 

 

 

[1] Makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Studi Al-Qur’an yang diampu oleh DR. Wawan Djuandi, M.Ag. pada Program S2 Kader Ulama Konsentrasi Aqidah dan Filsafat Hukum Islam Institut Agama Islam Ibrahimy, Situbondo, Jawa Timur.

[2] Q.S. Al-Isra’: 9

[3] Q.S. An-Nahl: 44

[4] M. Quraish Shihab, “Membumikan Al-Qur’an” (Bandung: Mizan, 1996), hal. 40

[5] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010), hal. 17

[6] Manna’ al-Qotthon, Mabahits Fi Ulum al-Qur’an (Suabaya: Al-Hidayah, 1973), hal. 9

[7] Q.S. Al-Insan: 23

[8] Q.S. Yusuf: 2

[9] Q.S. Al-Hijr: 9

[10] Said Agil Husin Al-Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hal. 345

[11] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010), hal. 23

[12]  Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh (Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010), hal. 24

[13] Q.S. Al-Baqarah: 275

[14] Muhammad Zuhri Al-Ghomrawi, As-Siroj al-Wahhaj (Bairut: Dar al-Ma’rifah), hal. 172

[15] Q.S. An Nisa : 29

[16] Abdur Rahman Al-Jazairi, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahibil Arba’ah (Maktabah Syamilah), hal. 117

[17] Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, (Kuwait: Wizaroh al-Auqoh wa Syu’un al-Islamiyyah), jil. 9, hal. 10

[18] Q.S. Al A’raf : 85

[19] Ahzami Samiun Jazuli, Hijrah Dalam Pandangan Al-Qur’an ( Jakarta: Gema Insani Press, 2010), hal. 120

[20] Muhammad Al-Syirbuni Al-Khotib, Al Iqna’ Fi Halli Alfadhi Abi Syuja’ (Bairut: Dar Al-Fikr, 1415), juz. 2, hal. 312

[21] Abu Bakar Ibnu Sayyid Muhammad Syatho Dimyathi, Hasyiyah ‘Ianatuth al-Thalibin (Bairut: Dar Al-Fikr, tt), juz.3, hal. 19

[22] Q.S. Al Baqarah : 275

[23] Q.S. Al Baqarah : 276

[24] Abu Zakariya Muhyiddin bin Syarif An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab (Maktabah Syamilah), hal. 172

[25] Muhammad Zuhri Al-Ghomrawi, As-Siroj al-Wahhaj (Bairut: Dar al-Fikr, 2004), jil.1, hal. 216

[26] Ahmad Showi, Balaghatu as-Salik Liaqrabi al-masalik (Bairut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), jil.3, hal. 467

[27] Q.S. Al-Thalaq: 6

[28] Q.S. Al-Qashas: 26

[29] Q.S. Al-Kahfi: 77

[30] Q.S. An-Nur: 33

[31] Q.S. Al-Baqarah: 214

[32] Q.S. At-Taubah: 79

[33] Q.S. Al-Hajj: 78

[34] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), hal. 506

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *