KAIDAH-KAIDAH PENAFSIRAN AL-QUR’AN

Oleh: M.A. Heryanto Alfudholli, S.Th.I., M.H.I

 

  1. PENDAHULUAN

Nabi Muhammad SAW. bukan hanya bertugas menyampaikan Al-Qur’an melainkan sekaligus menjelaskannya kepada umat sebagaimana ditegaskan di dalam surat an-nahl ayat 44:

Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada           umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[1] dan supaya    mereka memikirkan.”

 

Kecuali dari penafsiran Nabi SAW. Ayat- ayat tertentu juga berfungsi menafsirkan ayat yang lain. Ada yang langsung ditunjuk oleh Nabi bahwa ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat lain (tafsir bil ma’tsur) dan ada pula yang ditunjuk oleh ulama berdasarkan ijtihad (tafsir bil ra’yi).

Dengan berkembangnya zaman, maka berkembang pula lah metode-metode yang digunakan oleh para mufasir dalam menafsirkan Al-Qur’an, sehingga tidak bisa dihindari adanya perbedaan-perbedaan dikalangan mufasir dalam menafsiri suatu ayat yang sama.

Al-Qur’an adalah sumber tasyri’ pertama bagi umat Muhammad. Dan kebahagian mereka tergantung pada permasalahan maknanya, pengetahuan rahasia-rahasianya dan pengamalan apa yang terkandung di dalamnya. Kemampuan setiap orang dalam memahami tafsir dan ungkapan Al-Qur’an tidaklah sama. Perbedaan daya nalar diantara mereka ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami makna-makna yang dzahir dan pengertian ayat-ayatnya secara global. Sedang kalangan cerdik cendikia dan terpelajar akan dapat maenyimpulkan pula dari padanya makna-makna yang menarik.

Redaksi ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran. Dalam hal Al-Qur’an, para sahabat Nabi sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosa katanya, tidak jarang berbeda pendapat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca.
Al-Qur’an secara teks memang tidak berubah, tetapi penanfsiran atas teks, selalu berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu manusia. Karenanya, Al-Qur’an selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan (ditafsirkan) dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir diajukan sebagai jalan untuk membedah makna terdalam dari Al-Qur’an itu. Sehingga Al-Qur’an seolah menantang dirinya untuk dibedah.

Saat ini, banyak terjemah, tafsir, dan buku yang mengupas Al-Qur’an. Setiap kali kita mendengar khutbah dan ceramah, kita juga acap kali telah hafal ayat-ayat yang disampaikan. Kita pun melaksanakan nilai dan ajaran Al-Qur’an dalam ibadah ritual maupun muamalah. Berbagai istilah seperti sabar, tawakkal, amal, ilmu salam, bismillahirrahmanirrahiim, juga diucapkan sebagai bahasa nasional dan bahasa sehari-hari. Tak pelak, kini situasinya sudah sangat jauh berbeda dari masa lalu. Yang mana, sekarang, juga banyak orang sangat akrab dengan bahasa Al-Qur’an, dan mengerti intisari ajarannya walaupun tak menguasai bahasa Arab.

Selama empat belas abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an. Walaupun demikian terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami Al-Qur’an secara ayat per-ayat bahkan kata per-kata. Selain itu, pemahaman akan Al-Qur’an terutama didasarkan pada pendekatan filologis gramatikal. Pendekatan ayat per-ayat atau kata per-kata tentunya menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong) tentang pesan Al-Qur’an. Bahkan, sering terjadi penafsiran semacam ini secara tidak semena-mena menggagalkan ayat dari konteks dan dari aspek kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu, seperti dalam penafsiran teologis, filosofis, dan sufistis, gagasan-gagasan asing sering dipaksakan ke dalam Al-Qur’an tanpa memperhatikan konteks kesejarahan dan kesusasteraan kitab suci itu.

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang memiliki tingkat keaslian serta keluasan pembahasan dalam ilmu pengetahuan tidak akan pernah kering dari panafsiran, ibarat lautan tanpa batas yang tidak akan pernah kering di minum oleh zaman, oleh karena itu penafsiran dalam Al-Qur’an tidak akan pernah mencapai titik akhir kecuali atas kehendak Allah, Al-Qur’an sendiri diturunkan Allah sebagai kitab terakhir bagi umat di alam semesta artinya tidak akan ada lagi kitab suci yang akan di turunkan oleh Allah SWT. Walaupun Allah mampu untuk menurunkannya, itulah janji Allah[2].

Al-Qur’an akan selalu di butuhkan oleh segenap umat manusia mulai awal di turunkannya sampai nanti di akhir zaman, sebagai kitab yang menjadi dasar atau undang-undang bagi umatnya tentunya memiliki makna yang abstrak dan berbentuk isyarat-isyarat yang bisa di pahami oleh orang-orang tertentu yang mumpuni. Bagi umat muslim Al-Qur’an tempat kembali untuk semua masalah, walaupun sering terjadi penafsiran-penafsiran yang tidak bertangung jawab atas Al-Qur’an seperti yang sering kita saksikan saat ini, untuk mengantisipasi hal-hal tersebut adalah tugas kita umat Islam, modal awal dalam masalah ini ialah dengan mengkaji kembali historis dari ilmu penafsiran Al-Qur’an dengan begitu wawasan kita tentang penafsiran Al-Qur’an akan bertambah luas sehinga mempermudah kita dalam menghadapi perkembangan peradaban manusia serta merta kita bisa memperkecil segala bentuk konflik yang terjadi baik dalam bentuk sosial maupun keilmuan.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa mengkhawatirkan kebebasan dalam menafsirkan alqur’an sehingga banyak terjadi penyimpangan, maka penulis mencoba menguraikan kaidah-kaidah penafsiran al Qur’an dengan menjelaskan hakekat tafsir dan takwil, syarat menafsirkan serta tujuan menafsirkan al Qur’an dengan menghubungkan sesuatu yang masih terkait didalamnya.

 

  1. KAIDAH-KAIDAH TAFSIR AL QUR’AN

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 3:

Artinya:Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya     ada ayat-ayat yang muhkamaat[3], Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain             (ayat-ayat) mutasyaabihaat[4]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong     kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang    mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari            ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan   orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-  ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat             mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.            (Surah Ali Imran: 3. Ayat: 7)

 

Ada dua petunjuk dalam kaidah-kaidah pentafsiran al Qur’an yang berlaku di Indonesia, diantaranya:

  1. Petunjuk Tak Langsung

Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (Rakernas MUI) di Jakarta tgl 6 November 2007 memutuskan Sepuluh Kriteria Sesat.  Seseorang atau segolongan orang dinyatakan sesat atau menyimpang dari jalan yang benar jika a.l. “melakukan penafsiran Al­Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir”. Sayang kaidah-kaidah tafsir yang valid tak disebutkan, maka kriteria tersebut justru membuat umat semakin bingung. Padahal masalahnya amat signifikan dan urgen dalam memahami suatu ayat. Oleh karena itulah Pembaharuan Islam menurunkan artikel “Kaidah Tafsir Al-Qur’an” yang valid. Validitasnya dapat diuji.

Jika diamati dengan teliti Al-Qur’an adalah satu-­satunya Kitab Suci yang hidup, karena bukan hanya memperkenalkan apa, siapa dan bagaimana dirinya, dari mana asalnya dan apa isinya saja, melainkan pula menjelaskan tuntas bagaimana cara memahami atau menafsirkannya. Ternyata ada dua macam petunjuk, yang perlu dipedomani yaitu petunjuk tak langsung (indirect) dan petunjuk langsung (direct). Petunjuk tak langsung terdapat dalam struktur isi Qur’an Suci, seperti dikemukakan oleh R. Soedewo P.K. Qur’an Suci terdiri dari tiga bagian, yaitu[5] :

  1. Ayat tunggal Bismillahir­rahmanir-rahim, sebagai inti dari saripatinya Qur’an Suci,
  2. Al-Fatihah, sebagai saripatinya Quran Suci, atau dalam Hadist disebut Ummul Kitab,
  3. Qur’an Sucinya sendiri yang terdiri dari 113 surat , yakni surat no. 2, Al-Baqarah (Sapi Betina) sampai No. 114 An-Nas (manusia). Sedang petunjuk langsungnya dinyatakan dalam Surah Ali Imran ayat: 7 di atas.

 

 

 

  1. Petunjuk Langsung

            Al Qur’an mengandung petunjuk tentang kaidah menafsirkan Qur‘an Suci. Secara garis besar, seperti dikemukakan oleh Maulana Muhammad Ali dalam tafsirnya The Holy Qur’an dan bukunya The Religion of Islam ada empat kaidah, yaitu:

 

Pertama, tentang macam-macam ayat. Berkenaan dengan tafsir-menafsirkan ayat Qur‘an Suci dibedakan menjadi dua macam saja, yaitu :

  • Muhkamat, bersifat menentukan, yakni ayat yang artinya tak berubah dan tak berganti (kata muhkamat berasal dari kata hakama artinya mencegah, lalu dari kata ini digubah menjadi ahkama artinya membuat sesuatu menjadi kuat atau stabil) sebagaimana diterangkan dalam ayat 11:1 bahwa Qur‘an Suci itu “kitabun uhkimat ayatuhu (Kitab yang ayat­-ayatnya bersifat menentukan)”.
  • Mutasyabihat, bersifat ibarat, yakni ayat yang dapat ditafsirkan bermacam­-macam, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 39: 23 bahwa Qur‘an Suci itu “kitaban mutasyabihan matsani (sebuah Kitab yang bagian-bagiannya berhubungan erat satu sama lain, yang perintahnya berkali-kali diulang)“. Kata mutasyabihat (dari kata syibh artinya menyerupai atau mirip) makna aslinya apa yang dalam beberapa bagian serupa atau mirip; oleh sebab itu dapat ditafsirkan bermacam-macam.

Kedua, sumber tafsir. Menurut H.M. Ghulam Ahmad, rasihuna fil’ilmi (orang yang kuat ilmunya) pada zaman akhir ini dalam bukunya Barakatud-Du’a sumber tafsir Qur‘an Suci ada 7 macam, yaitu[6]:

  1. Quran Suci itu sendiri. Tafsirul-qur’an bil­qur’an. Caranya : secara tekstual, suatu hal yang hanya disinggung dalam suatu ayat diuraikan panjang lebar di ayat yang lain. Ayat-ayatnya saling menjelaskan. Tak ada ayat yang saling bertentangan (4:82). Secara kontekstual, baik konteks sastranya maupun sejarahnya. Dalam konteks sastra lihat ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, sedang dalam konteks sejarahnya lihat budaya setempat dan asbabun-nuzulnya. Secara kontentual, lihat isi atau tema Suratnya.
  2. Hadits Nabi. Jika tak menemukan tafsir dalam Qur‘an Suci carilah dalam Hadits Nabi, karena Nabi Suci adalah orang yang menerima langsung dari Allah dan yang paling tahu akan makna suatu ayat.
  3. Atsar sahabat. Penjelasan para sahabat Nabi adalah sumber tafsir setelah hadits, karena mereka yang menghayati dan mendapat pendidikan langsung dari Nabi Suci bagaimana memahami dan mengamalkan ajaran Qur‘an Suci.
  4. Hati nurani. Antara hati nurani murni pembaca dengan Qur‘an Suci terdapat hubungan mistis yang luar biasa eratnya, karena seperti dinyatakan dalam ayat 30:30 Islam adalah fitrah Allah dan manusia diciptakan atas fitrah itu, maka Islam disebut agama fitrah.
  5. Bahasa Arab dengan kaidah-kaidahnya, seperti kamus, nahu, sharf, manthiq, ma’ani, dll. Tetapi beliau menyatakan jangan terlalu terpukau di sini, karena Qur‘an Suci memiliki cara tersendiri untuk memahami dirinya.
  6. Sunnatullah di alam kasar. Berulangkali Qur‘an Suci menganjurkan pembacanya agar memperhatikan sunnatullah di alam kasar, karena ada keselarasan dengan sunnatullah di alam rohani.
  7. Ilham, kasyaf (visiun) dan ru’ya orang suci, para mujaddid dan mujtahid. Mereka adalah muthahharun (orang-orang yang disucikan) yang karena itu dapat “menyentuh” Qur‘an Suci yang terjaga keasliannya (56:77-80).

 

Ketiga, dalam menafsirkan ayat mutasyabihat jangan sekali-kali bertentangan dengan ayat mukhamat, yang menurut ayat Suci di atas adalah “landasan Kitab”. Maksudnya pokok asasi agama atau kaidah-kaidah agama itu didasarkan atas ayat-ayat muhkamat. Jika didasarkan ayat mutasyabihat manusia tersesat dari jalan yang benar, misalnya doktrin Kristen tentang ketuhanan Isa Almasih (9:30).

 

Keempat, hal-hal yang zhanni (samar-samar) tak boleh bertentangan dengan yang qathi (pasti). Demikian pula ayat-ayat yang bersifat khusus, harus dihubungkan dan ditundukkan kepada ayat yang bersifat umum.

 

  1. HAKEKAT TAFSIR, TAKWIL DAN TERJEMAH
  2. Tafsir, Takwil, dan Terjemah
  3. Tafsir al-Qur’an adalah interpretasi berdasarkan pada ilmu pengetahuan yang mapan. tafsir adalah kata benda infinitif yang diderivasikan dari kata kerja transitif “fassara” yang menurut lexicolog Arab klassik, berarti menemukan, mendeteksi, mengungkapkan, memunculkan atau membuka sesuatu yang tersembunyi; atau membuat sesuatu menjadi jelas, nyata, atau gamblang; menerangkan, menjelaskan atau menafsirkan. Tafsir al-Qur’an menunjukkan arti “memperluas, menjelaskan, atau menginterpretasikan cerita yang ada dalam al-Qur’an, dan memaklumkan pengertian kata-kata atau ekspresi yang janggal, serta menjelaskan keadaan ketika ayat-ayat itu diwahyukan.” Pengertian Tafsir yang telah mapan adalah bahwa ia berusaha memberikan arti melalui bukti nyata atau eksternal (dalalah zahirah) sebagai bandingan dari bukti internal atau tersembunyi (dalalah batinah) yang terkandung dalam takwil atau interpretasi yang lebih mendalam[7].

 

  1. Takwil adalah kata benda infinitif dari kata kerja transitif, “awwala” yang berarti membuat sesuatu itu kembali atau mengurangi sesuatu, yang berarti “menemukan, mendeteksi, mengungkapkan, mengembangkan, atau membuka, atau menjelaskan, menggambarkan, atau menterjemahkan tentang sesuatu atau mungkin menguranginya atau tentang sesuatu yang terjadi atau mungkin terjadi.” Istilah takwil yang disebutkan sebanyak 13 kali dalam al-Qur’an, menunjukkan arti penterjemahan sesuatu yang simbolik (seperti mimpi), seperti dalam surah Yusuf (12):101.

Artinya: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku   sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi.          (ya Tuhan) Pencipta    langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di    akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku             dengan orang-orang yang saleh”.

  

contoh tafsir dan takwil, firman Allah dalam surat al-An’am : 95.

Artinya: “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-         buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang   mati dari yang hidup. (yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Maka       mengapa kamu masih             berpaling?”.

 

Tapi ketika kita menginterpretasikan kalimat yang sama dengan pengertian bahwa Ia menjadikan orang beriman (al-mu’min) dari kafir (al-kafir), atau Ia melahirkan orang alim dari yang jahil, maka ini adalah takwil  Al-Tabari, yang dengan sengaja memberi judul tafsir al-Qur’annya dengan ta’wil, tidaklah semata-mata meriwayatkan interpretasi atau penjelasan tradisional (tafsir), tapi seringkali ia menambahkan ta’wil-nya sendiri, seperti dalam hal pembahasannya tentang hakekat dan arti Iblis dalam Al-Baqarah (2):34.

Artinya: “dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah[8]             kamu kepada             Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

 

Tafsir-nya tentang siapakah Iblis itu sangat jelas. Dengan menggunakan penafsiran tradisional dari Ibn Abbas, dan dengan membandingkan (cross-reference) dengan ayat-ayat al-Qur’an yang lain dan juga dengan analisa linguistik, kita tahu bahwa al-Tabari adalah benar ketika ia menegaskan bahwa Iblis adalah satu diantara species makhluk dari genera jin, yang termasuk didalamnya semua makhluk yang tersembunyi (dari perkataan ijtanna, menyembunyikan dirinya). Ia diciptakan dari api yang tidak berasap, yang disebut Samun. Iblis adalah istilah dari kata benda if’iil yang berasal dari bentuk keempat kata kerja ablasa yang berarti “berputus asa pada kebaikan”, “merasa menyesal”, “bersedih”. Jadi Iblis dinamakan demikian karena ia berputus asa dari ampunan Tuhan ketimbang meminta (ampunan) dariNya setelah ketidaktaatannya yang terdahulu. Ia sebaliknya malah mencari kelonggaran-Nya untuk melanjutkan perbuatan jahatnya. Dalam kasus Adam yang mencari ampunan setelah ia melanggar perintahNya bertolak belakang sama sekali dengan kasus Iblis.  Sekarang ta’wil al-Tabari bahwa pelajaran dari Iblis ini dapat diaplikasikan kepada makhluk lain yang terlalu sombong dalam mengikuti perintah-perintah Tuhan, dan mereka yang terus-menerus dalam keadaan tidak taat, adalah benar. Jadi, Iblis adalah juga kiasan (metafora) dari arogansi, kecemburuan, dan penolakan dengan penuh keangkuhan untuk berserah diri kepada perintah-perintah Tuhan, dan karena itu sama dengan mereka yang mengingkari rahmat Allah dan yang menyukai mereka. Masih terdapat contoh lain mengenai perbedaan tafsir-ta’wil: Abi Talib al-Thalabi menafsirkan kata “mirsad” dari kalimat yang ada dalam surah (al-fajr :14):

 

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”

yang berasal dari bentuk “mif’aal” dari kata kerja “rasada” yang sama dengan “raghaba”, berarti mengawasi, memperhatikan. Ta’wil ayat ini, menurut pendapatnya, adalah suatu peringatan agar tidak menjauhkan diri dari perintah-perintah Tuhan, tidak lupa pada rahmat-Nya dan selalu bersiap sedia untuk mengingatNya. Contoh lain terdapat dalam al-An’am (6):82 :

Artinya: “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka           itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

 

Tafsirnya diberikan oleh Nabi sendiri. Dalam hadits disebutkan bahwa ketika ayat ini diwahyukan, ummat Islam merasa sangat cemas, termasuk beberapa sahabat. Mereka lalu bertanya kepada Nabi tentang siapa diantara mereka yang belum berbuat adil pada diri mereka. Nabi kemudian menjawab bahwa ia bukanlah seperti yang mereka bayangkan dan bahwa zulm (ketidak adilan) disini berarti syirik, atau menyekutukan sesuatu atau seseorang dengan Kesesaan Tuhan sebagaimana yang tersurat dalam ayat “fa inna al-syirka la zulmun ‘azim”. Para Sufi, seperti Muhyi al-Din Ibn al-Arabi, memberikan ta’wil ayat tersebut dengan mengatakan bahwa zulm disini menunjuk kepada syirik yang tersembunyi (syirk khafi). Contoh dari syirik yang tersembunyi adalah cerminan negatif dari hati (dhuhur min nafs al-qalb) atau bahkan bekas-bekas keberadaannya (wujud baqiyah).

 

  1. Terjemah muncul dikarenakan penyebaran Islam ke seluruh dunia, terjemah dibedakan menjadi dua macam, yaitu tarjamah lafdziyah dan tarjamah tafsiriyah.
  • Tarjamah lafdziyah yaitu menyalin suatu kata kepada padanannya dalam bahasa lain dengan susunan kalimat mengikuti bahasa asal, demikian juga urut-urutannya.
  • Tarjamah tafsiriyah didefinisikan dengan, “Penjelasan makna suatu perkataan dengan menggunakan bahasa lain dengan tidak terikat pada susunan ataupun urut-urutan kalimat bahasa aslinya.

Terjemahan Al-Qur’an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; terkadang untuk arti hakiki, terkadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya, seperti dalam surata al-Baqarah :191.

Artinya: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka   dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah[9][117] itu lebih      besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di    Masjidil  haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka             memerangi kamu (di tempat itu), Maka bunuhlah mereka. Demikanlah Balasan      bagi orang-orang kafir”.

Kata fitnah dalam ayat di atas tidak sepadan maknanya dengan kata fitnah yang sudah menjadi bagian dari kosa kata bahasa Indonesia, karena fitnah di sini ditafsirkan dengan makna syirik, sebagaimana dalam tafsir Jalalain.

 

  1. Urgensi Tafsir

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril as. dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. [10]Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syariat, asas-asas perilaku, menuntun manusia ke jalan yang paling lurus dalam pemikiran dan amal. Namun, Allah SWT tidak menjamin perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafazh Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir, apalagi sering digunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Untuk itulah diperlukan penjelasan yang berupa tafsir Al-Qur’an,   Al-Qur’an sendiri dalam ayatnya menyatakan bahwa al-Qur’an diturunkan sebagai berkah yang harus dipikirkan dan dipahami, yang kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam surat al-An’am : 92

#x‹»ydur ë=»tGÏ. çm»oYø9t“Rr& Ô8u‘$t6ãB ä-Ïd‰|Á•B “Ï%©!$# tû÷üt/ Ïm÷ƒy‰tƒ u‘É‹ZçFÏ9ur ¨Pé& 3“tà)ø9$# ô`tBur $olm;öqym 4 tûïÏ%©!$#ur tbqãZÏB÷sムÍotÅzFy$$Î/ tbqãZÏB÷sム¾ÏmÎ/ ( öNèdur 4’n?tã öNÍkÍEŸx|¹ tbqÝàÏù$ptä† ÇÒËÈ

Artinya: “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi;        membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan) sebelumnya[11] dan agar kamu            memberi  peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-      orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang beriman kepada adanya            kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya”.

 

  1. SYARAT MENAFSIRKAN ALQUR’AN

            Asbabunnuzul adalah sebuah ilmu yang menerangkan tentang latar belakang turunnya suatu ayat. Atau bisa juga keterangan yang menjelaskan tentang keadaan atau kejadian pada saat suatu ayat diturunkan, meski tidak ada kaitan langsung dengan turunnya ayat. Tetapi ada konsideran dan benang merah antara keduanya.

            Seringkali peristiwa yang terkait dengan turunnya suatu ayat bukan hanya satu, bisa saja ada beberapa peristiwa sekaligus yang menyertai turunnya suatu ayat. Atau bisa juga ada ayat-ayat tertentu yang turun beberapa kali, dengan motivasi kejadian yang berbeda.

            Tentu saja ilmu asbabun-nuzul ini wajib dan mutlak dimiliki oleh seorang mufassir. Dan memang ilmu ini merupakan salah satu bagian dari sekian banyak syarat yang harus dimiliki oleh mufassir.

            Kami kutipkan dari salah satu rujukan yang ada, tentang beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, antara lain:

  1. Sehat Aqidah

Seorang yang beraqidah menyimpang dari aqidah yang benar tentu tidak dibenarkan untuk menjadi mufassir. Sebab ujung-ujungnya dia akan memperkosa ayat-ayat Al-Quran demi kepentingan penyelewengan aqidahnya. Maka kitab-kitab yang diklaim sebagai tafsir sedangkan penulisnya dikenal sebagai orang yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah, tidak diakui sebagai kitab tafsir[12].

 

 

 

  1. Terbebas dari Hawa Nafsu

Seorang mufassir diharamkan menggunakan hawa nafsu dan kepentingan pribadi, kelompok dan jamaah ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Juga tidak terdorong oleh ikatan nafsu, dendam, cemburu, trauma dan perasaan-perasaan yang membuatnya menjadi tidak objektif. Dia harus betul-betul meninggalkan subjektifitas pribadi dan golongan serta memastikan objektifitas, profesionalisme dan kaidah yang baku dalam menafsirkan.

 

  1. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran

Karena Al-Quran turun dari satu sumber, maka tiap ayat menjadi penjelas dari ayat lainnya, dan tidak saling bertentangan. Sebelum mencari penjelasan dari keterangan lain, maka yang pertama kali harus dirujuk dalam menafsirkan Al-Quran adalah ayat Al-Quran sendiri. Seorang mufassir tidak boleh sembarangan membuat penjelasan apa pun dari ayat yang ditafsrikannya, kecuali setelah melakukan pengecekan kepada ayat lainnya. Hal itu berarti juga bahwa seorang mufassir harus membaca, mengerti dan meneliti terlebih dahulu seluruhayat Al-Quran secara lengkap, baru kemudian boleh berkomentar atas suatu ayat. Sebab boleh jadi penjelasan atas suatu ayat sudah terdapat di ayat lain, tetapi dia belum membacanya[13].

 

  1. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah

Berikutnya dia juga harus membaca semua hadits nabi secara lengkap, dengan memilah dan memmilih hanya pada hadits yang maqbul saja. Tidak perlu menggunakan hadits yang mardud seperti hadits palsu dan sejenisnya. Tentang kekuatan dan kedudukanhadits nabi, pada hakikatnya berasal dari Allah juga. Jadi boleh dibilang bahwa hadits nabi sebenarnya merupakan wahyu yang turun dari langit. Sehingga kebenarannya juga mutlak dan qath’i sebagaimana ayat Al-Quran juga.

 

  1. Merujuk kepada Perkataan Shahabat

Para shahabat nabi adalah orang yang meyaksikan langsung bagaimana tiap ayat turun ke bumi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi objek sasaran diturunkannnya ayat Al-Quran. Maka boleh dibilang bahwa orang yang paling mengerti dan tahu tentang suatu ayat yang turun setelah Rasulullah SAW adalah para shahabat nabi SAW. Maka tidak ada kamusnya bagi mufassir untuk meninggalkan komentar, perkataan, penjelasan dan penafsiran dari para shahabat Nabi SAW atas suatu ayat. Musaffri yang benar adalah yang tidak lepas rujukannya dari para shahabat Nabi SAW.

 

  1. Merujuk kepada Perkataan Tabi’in

Para tabi’in adalah orang yang pernah bertemu dengan para shahabat Nabi SAW dalam keadaan muslim dan meninggal dalam keadaan muslim pula. Mereka adalah generasi langsung yang telah bertemu dengan generasi para shahabat. Maka rujukan berikutnya buat para mufassir atas rahasia dan pengertian tiap ayat di Al-Quran adalah para tabi’in.

 

  1. Menguasai Bahasa Arab, Ilmu dan Cabang-cabangnya

Karena Al-Quran diturunkan di negeri Arab dan merupakan dialog kepada kepada orang Arab, maka bahasanya adalah bahasa Arab. Walaupun isi dan esensinya tidak terbatas hanya untuk orang Arab tetapi untuk seluruh manusia. Namun kedudukan Arab sebagai transformator dan komunikator antara Allah dan manusia, yaitu Al-Quran menjadi mutlak dan absolut.Kearaban bukan hanya terbatas dari segi bahasa, tetapi juga semua elemen yang terkait dengan sebuah bahasa. Misalnya budaya, adat, ‘urf, kebiasaan, logika, gaya, etika dan karakter. Seorang mufassir bukan hanya wajib mengerti bahasa Arab, tetapi harus paham dan mengerti betul budaya Arab, idiom, pola pikir dan logika yang diberkembang di negeri Arab. Karena Al-Quran turun di tengah kebudayaan mereka. Pesan-pesan di dalam Al-Quran tidak akan bisa dipahami kecuali oleh bangsa Arab. Tidak ada cerita seorang mufassir buta bahasa dan budaya Arab. Sebab bahasa terkait dengan budaya, budaya juga terkait dengan ‘urf, etika, tata kehidupan dan seterusnya. Dan kalau dibreak-down, bahasa Arab mengandung beberapa cabang ilmu seperti adab (sastra), ilmu bayan, ilmu balaghah, ilmul-‘arudh, ilmu mantiq, dan lainnya. Semua itu menjadi syarat mutlak yang harus ada di kepala seorang mufassir.

 

  1. Menguasai Cabang-cabang Ilmu yang Terkait dengan Ilmu Tafsir

Kita sering menyebutnya dengan ‘Ulumul Quran. Di antara cabang-cabangnya antara lainilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh, ilmu tentang al-‘aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan seterusnya. Tidak pernah ada seorang mufassir yang kitab tafsirnya diakui oleh dunia Islam, kecuali mereka adalah pakar dalam semua ilmu tersebut.

 

  1. Pemahaman yang Mendalam

Syarat terakhir seorang mufassir adalah dia harus merupakan orang yang paling paham dan mengerti tentang seluk belum agama Islam, yaitu hukum dan syariat Islam. Sehingga dia tidak tersesat ketika menafsirkan tiap ayat Al-Quran. Dia juga harus merupakan seorang yang punya logika yang kuat, cerdas, berwawasan, punya pengalaman, serta berkapasitas seorang ilmuwan. Demikian sekelumit syarat mendasar bagi seorang mufassir sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Manna’ Al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits fi ‘Ulumil Quran.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. TUJUAN MENAFSIRKAN AL QUR’AN

            Dari sejarah diturunkannya Al-Qur’an, dapat diambil kesimpulan bahwa al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok[14]:

  • Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
  • Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
  • Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”

Dari tujuan Al-Qur’an diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa tujuan mempelajari tafsir, ialah :

Memahamkan makna-makna Al-Qur’an, hukum-hukumnya, hikmat-hikmatnya, akhlaq-akhlaqnya, dan petunjuk-petunjuknya yang lain untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Maka dengan demikian nyatalah bahwa, faidah yang kita dapati dalam mempelajari tafsir ialah : “terpelihara dari salah dalam memahami Al-Qur’an”.            Sedangkan maksud yang diharap dari mempelajarinya, ialah : “mengetahui petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, hukum-hukumnya degan cara yang tepat”.

 

 

 

 

 

  1. KESIMPULAN

            Ayat-ayat yang ada dalam Al Qur’an yang sangat banyak ini sejatinya dapat menjawab semua persoalan yang terjadi pada masyarakat. Namun kesan yang ada pada saat ini seakan-akan ayat Al Qur’an masih mengandung misteri sehingga belum mampu menjawab semua persoalan yang ada. Kesan dan pemahaman yang keliru ini adalah akibat dari ”miskin”nya cara, metode dan pendekatan dalam memahami dan menafsirkan ayat Al Qur’an. Metodologi tafsir Al Qur’an adalah salah satu cara untuk mengkaji, memahami dan menguak lebih jauh maksud dan kandungan dari ayat-ayat Al Qur’an. Metode tafsir yang adapun sangat beragam model, bentuk dan pendekatannya[15].

            Adalah suatu hal yang sangat penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami macam-macam metode tafsir ayat Al Qur’an yang ada dengan berbagai macam pendekatannya, jika hal ini telah kita ketahui, maka ayat-ayat Al Qur’an semakin hidup dan mampu untuk menjawab segala persoalan masyarakat yang berkembang begitu cepat. Hal ini semakin mempertegas bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah yang menjadi rujukan dan sumber utama semua umat Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Ghazali. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kairo: Al-Tsaqafah Al-Islamiyah, 1356 H. Jilid II.

 

Anwar, Rosikhan. Ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia, 2005

 

Aziz, Amir Abd. Dirasat Fi Ulum al-Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1983

 

Chirzin, Muhammad, al-Qur’an dan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima       Yasa, 2003. Cetakan II

 

Depag RI, Al Qur,an dan Terjemahnya, Semua Edisi

 

Dahlan, Abd. Rahman dalam “ Kaidah-Kaidah Penafsiran al-Qur’an”. Bandung: Mizan, 1998.

 

Hasan, Ahmad , Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup ( Bandung, Pustaka, 1984)

 

Khaeruman, Badri. Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia,       2004.

 

Saleh, Ahmad Syukri. Metodologi Tafsir Al-Qur’an Kontemporer Dalam Pandangan        Fazlur Rahman. Jambi: Sulthan Thaha Press bekerjasama dengan Gaung        Persada Press Jakarta, 2007

 

Shihab , M. Quraish ,  Membumikan Al-Qur’an, Mizan, Bandung, ctkn  II, 1994.

 

  1. Ali Yasir, KH., Kaidah Tafsir Al Quran, Posted on Rabu, 8 Oktober 2008 by redaksi studi islam, tersedia dalam: http://studiislam.wordpress.

 

Suryanto Yayan, Hakekat Tafsir, Friday, October 17, 2008 9:40 AM, tersedia dalam              http://id.answers.yahoo.com/  http://swaramuslim.net/  http://dunia.pelajar-  islam.or.id/

 

Supiana, – Karman, M.,  Ulumul Qur’an dan Pengenalan Metode Tafsir (Bandung,           Pustaka Islamika, 2002).

 

 

 

                [1] Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran

                [2] Supiana, M.Ag – M. Karman, M.Ag, Ulumul Qur’an dan Pengenalan Metode Tafsir (Bandung, Pustaka Islamika, 2002). hal. 62.

                [3] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.

                [4] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

                [5] S. Ali Yasir, KH., Kaidah Tafsir Al Quran, Posted on Rabu, 8 Oktober 2008 by redaksi studi islam, tersedia dalam: http://studiislam.wordpress.

                [6] Ibid

                [7] Suryanto Yayan, Hakekat Tafsir, Friday, October 17, 2008 9:40 AM, tersedia dalam  http://id.answers.yahoo.com/  http://swaramuslim.net/  http://dunia.pelajar-islam.or.id/

 

                [8]Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah

                [9] Fitnah (menimbulkan kekacauan), seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama

[10] Ahmad Hasan, Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup, ( Bandung, Pustaka, 1984), hal. 62

                [11] Ialah kitab kitab dan shahifah shahifah yang diturunkan sebelum Al Quran

[12] Rosikhan Anwar, Ilmu Tafsir. (Bandung: Pustaka Setia, 2005). Hal. 86.

 

                [13] Ibid. hal . 87

                [14] M. Quraish Shihab, Dr., Membumikan Al-Qur’an, Mizan, Bandung, ctkn VII,1994,hlm.40

            [15] Yusuf Effendi, METODE DAN PENDEKATAN TAFSIR AL-QUR’AN, Posted on 13 April 2010 tersedia dalam http://yusufeff84.wordpress.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *