SISTEMATIKA USLUB AL-QURAN; UNIVERSALME INTEGRAL DAN KESEIMBANGAN

Oleh: Mohammad Ali Mufi, M.H.I

 PENDAHULUAN

Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupannya, agar memperoleh kebahagiaan lahir dan batin, di dunia dan di akhirat kelak. Konsep-konsep yang dibawa al-Quran selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena ia turun untuk berdialog denga setiap umat yang ditemuinya, sekaligus menawarkan pemecahan terhadap problema tersebut, kapan dan dimanapun mereka berada.

Sebagai sumber utama ajaran Islam, al-Quran dalam membicarakan suatu masalah sangat unik, tidak tersusun secara sistematis sebagaimana buku-buku ilmiyah yang dikarang manusia. Al-Quran jarang sekali membicarakan  suatu masalah secara rinci, kecuali menyangkut masalah agidah, pidana dan beberapa masalah tentang hukum keluarga. Umumnya al-Quran lebih banyak mengungkapkan suatu  persoalan secara global, parsial dan seringkali menampilkan suatu masalah dalam prinsip-prinsip dasar dan garis besar.

Keadaan demikian, sama sekali tidak berarti mengurangi keistimewaan al-Quran sebagi firman Allah. Bahkan sebaliknya, disitulah letak keunikan dan keistimewaan al-Quran yang membuatnya berbeda dari kitab-kitab lain dan buku-buku ilmiyah. Hal ini membuat al-Quran menjadi objek kajian yang selalu menarik dan tidak pernah kering bagi kalangan cendikiawan, baik muslim maupun non muslim, sehingga ia tetap aktual sejak diturunkan empat belas abad yang silam.

Oleh karena itu, merupakan sebagian tujuan diturunkannya al-Quran untuk menjadi bukti atas kerosulan Muhammad Saw. Yang tetap abadi sepanjang sejarah sebagi sebuah mujizat yang memberikan petunjuk kepada umat manusia, tentunya sisi-sisi kemu`jizatan al-Quran sangat banyak sekali dan tak terhitung jumlahnya, akan tetapi yang paling dominan dari sisi i`jaz al-Quran yaitu kehebatan uslub atau penyajian al-Quran baik dari keindahan bahasa yang sistematis, bersifat universal, integral serta kesinambungan. Itulah letak kehebatan al-Quran ketika pada masa turunnya telah membungkan para sastrawan dan pakar bahasa saat itu, maka sudah barang tentu siapapun yang datang sesudahnya sangat lemah untuk menandingi kehebatan al-Quran, al-Quran dari sisi balaghah nya bagaikan air yang mengalir di daun talas atau roh di dalam jiwa manusia.

Maka dalam makalah yang singkat ini, penulis mencoba untuk menguraikan secara sistematis tentang  uslub atau penyajian al-Quran dari sisi keindahan bahasanya yang membuat para sastrawan arab jahiliah saat itu bertekuk lutut di hadapan kehebatan al-Quran.

 

  1. USLUB ALQURAN
  2. Pengertian uslub

Secara etimologi kata Uslub adalah berasal dari kata salaba – yaslubu – salban yang berarti merampas, merampok dan mengupas,[1] yang artinya: jalan di tengah rimbanya pepohonan, cara, system atau metode, sehingga bias dikatakan cara seseorang dalam menyampaikan pembicaraan pada mitra bicara (mokhotob).[2] Adapun secara terminology adalah: metode yang dipergunakan oleh pembicara dalam mengekspresikan sesuatu dalm merangkai kata-kata, serta pemilihan lafatdz sehingga maksud dari pembicaraannya terarah dan sistematis. Atas dasar itu maka pengertian uslub al-Quran adalah : cara atau metoda tersendiri yang dipergunakan dalam bahasa al-Quran dalam merangkai kata-kata serta pemilihan lafad-lafadnya. Oleh karena tidaklah heran kalau kita temukan dalam al-Quran gaya bahasa khusus dalam menyampaikan pesan-pesan al-Quran, karena baik perkataan Tuhan atau manusia sekalipun mempunyai gaya bahasa yang berbeda.[3]

  1. Uslub Berbeda Dengan Mufrodat dan tarkib

Uslub al-Qur’an bukanlah mufradat (kosa kata) dan susunan kalimat, akan tetapi metode yang dipakai al-Qur’an  dalam memilih mufradat dan gaya kalimatnya. Oleh karena itu, uslub al-Qur’an berbeda dengan hadis, syi’ir, dan prosa serta kalam dan buku-buku yang ada, meskipun bahasa yang digunakan sama dan mufradat (kosa kata) yang dipakai membentuk kalimatnya juga sama.[4]

Uslub atau metode penyajian itu sama sekali berbeda dengan tarkib atau susunan bahasa dari rangkaian kata-kata akan tetapi uslub atau metode penyajian bentuknya sangat vareatif sekali sesuai dengan cara seseorang  menyampaikan baik  berbentuk prosa  atau puisi, karena susunan kata yang dipakai tetap satu, tarkibnya juga satu, begitupun juga metode penyajian al-Quran menempuh jalan yang sama sebagaimana layaknya sastrawan arab pada saat itu, hanya saja yang menakjubkan dari gaya bahasa al-Quran adalah uslub-Nya membuat sastrawan Arab bertekuk lutut untuk bisa menyamai keindahan uslubnya.[5]

Jadi Uslub al-Qur’an adalah metode analisis dan pendekatan yang refrensif dalam menyusun kalimat-kalimatnya dan pemilihan lafaz-lafaznya. Uslub al-Qur’an  mempunyai karakteristik, yaitu:  sentuhan lafaz al-Qur’an melalui  keindahan intonasi al-Qur’an dan keindahan bahasa al-Qur’an, dapat diterima semua lapisan masyarakat, al-Qur’an menyentuh (diterima) akal dan perasaan, keserasian rangkaian kalimat al-Qur’an dan kekayaan seni redaksional.

Uslub dalam bahasa Indonesia disebut gaya bahasa, yaitu pemanfaatan  atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, baik itu kaitannya dengan tulisan sastra maupun tulisan kebahasan (linguistik).

Dengan demikian uslub al-Qur’an adalah metodenya yang ekselen dalam menyusun kalimat-kalimatnya dan pemilihan lafaz-lafaznya. Maka tidak aneh jika uslub al-Qur’an berbeda dengan uslub  kitab-kitab samawiyah lainnya. Sebagaimana juga uslub yang dipakai manusia berbeda satu sama lain sebanyak kuantitas jumlah mereka, bahkan uslub yang dipakai seorang akan berbeda  sesuai dengan tema dan dan konteksnya.

 

  1. Klasifikasi Uslub yang berlaku di kalangan bangas Arab

Untuk dapat mengetahui posisi uslub Al-Qur’an, maka harus diketahui klasifikasi uslub yang berlaku di kalangan bangsa Arab. Secara global, uslub dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

Pertama: Uslub khitaby (gaya bahasa retorika), Retorika merupakan salah satu seni yang berlaku pada bangsa Arab yang mempunyai karakteristik dengan kandungan makna yang kuat, memakai lafadz yang serasi, argumentasi yang relevan dan kekuatan intelegent quetion oratornya. Biasanya seorang orator berbicara mengenai tema yang relevan dengan realitas kehidupan untuk membawa audiens mengikuti pemikirannya. Uslub yang indah, jelas, lugas merupakan unsur yang dominan dalam retorika untuk mempengaruhi aspek psikis audiens.

Kedua:  Uslub ‘Ilmy (gaya bahasa ilmiah) Uslub ‘ilmy harus jauh dari aspek subyektif dan emotif penuturnya, karena eksperimen ilmiah itu obyektif dan tidak ada hubungannya dengan aspek psikis, emotif dan kondisi  orang yang melakukannya. Uslub ilmiah membutuhkan logika yang baik, pemikiran yang lurus serta jauh dari imajinasi dan emosi, karena sasarannya adalah pikiran dan menjelaskan fakta-fakta ilmiah.

Karakteristik uslub ‘ilmiah adalah jelas dan lugas. Namun juga harus menampakkan efek keindahan dan kekuatan penjelasan, argumentasi yang kuat, redaksi yang mudah, rasa yang brilian dalam memilih kosa kata dan informasi yang dapat dipahami dengan mudah. Oleh karena itu, uslub ‘ilmiah harus tematik dan terhindar dari majaz, kinayah dan permainan kata-kata lainnya.

KetigaUslub Adaby (Gaya bahasa Sastra) sangat subyektif, karena ia merupakan ungkapan jiwa pengarangnya, pemikirannya dan emosinya. Oleh karena itu, uslub adaby sangat spesifik.

Sasaran uslub adaby adalah aspek emosi bukan logika, karena uslub ini digunakan untuk memberi efek perasaan pembaca. Oleh karena itu, temanya mempunyai relevansi yang erat dengan jiwa pengarang dan mengesampingkan teori ilmiah, argumentasi logis, terminologi ilmiah dan penomoran-penomoran.[6]

Keindahan uslub al-qur’an benar-benar membuat orang-orang arab dan orang-orang luar arab kagum dan terpesona. Kehalusan bahasa, keanehan yang menakjubkan dalam ekspresi, ciri-ciri khas balaghah dan fashahah baik yang abstrak maupun yang konkrit, dapat mengungkapkan rahasia keindahan dan kekudusan al-qur’an. Barangsiapa yang mampu menggali rahasia balaghoh al-qur’an itu, dia akan bisa mengeluarkan khazanah kandungannya. Di dalam al-qur’an terkandung nilai-nilai istimewa dimana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia manyamai isi yang terkandung di dalamnya.

Nabi SAW. Pernah menantang orang-orang kafir untuk bertanding melawan al-qur’an. Ternyata mereka tidak mampu dan kebingungan. Jago-jago retorika arab menjadi bungkam seribu bahasa. Tantangan tersebut dikemukakan pada masa dimana kemampuan untuk menunjukkan dan merealisasikan bidang sastra memungkinkan, dan bakat bangsa arab dalam lapangan ini tumbuh dengan subur.

Bahasa arab sejak turunnya Al-Qur’an sampai saat ini telah dilalui dengan berbagai fase antara pasang surut, meluas dan menyempit, bergerak dan statis serta modern dan kolot. Sedangkan al-qur’an dalam suatu fase berada dalam semua keadaan dan fase berada pada kedudukan yang paling atas yang akan menguasai semuanya.[7] Al-qur’an tetap akan memancarkan nur dan hidayahnya, melimpahkan keaslian dan keagungannya, mengalirkan kelembutan dan kebesaran, mengeluarkan keindahan dan kemegahan. Al-qur’an senantiasa membawa bendera kemu’jizatan dan mengajak bertanding dengan bangsa-bangsa dunia dengan penuh keyakinan dan kepercayaan sambil mengatakan kebenaran dengan jelas lagi kuat dan menyatakan kekuatan serta kemampuan kemu’jizatannya.[8]

  1. Jenis-Jenis Uslub Al-Qur’an

Al-Quran muncul dengan uslub yang sangat baik dan indah, megagumkan orang-orang Arab karena keserasian dan keindahannya, keharmonisan susunanya. Di dalamnya terkandung nilai-nilai istimewa yang tidak akan pernah terdapat dalam ucapan manusia. Nabi Muhammad Saw, pernah membuka kesempatan untuk bertanding melawan Al-Quran, namun semua sastrawan tidak mampu melakukannya dan mereka mengalami kebingungan, bahkan para ahli pidato pun menjadi bungkam. Hal ini dikemukakan pada masa ketika  kemampuan untuk menunjukkan dan merealisasikan bidang ini (sastra) sangat memungkinkan. Dan bakat suatu bangsa dalam lapangan ini tumbuh dengan subur.

Dalam hal ini, Az-Zarqoni mengatakan” Ketahuilah bahwa bahasa Arab sejak turunnya Al-Quran sampai saat ini telah melalui berbagi fase antara pasang surut, meluas dan menyempit, bergerak dan statis,modern dan kolot, sedangkan Al-Quran dalam semua fase berada pada kedudukan yang paling atas yang akan menguasai semuanya.  buku-buku ilmu tafsir kita menjumpai beberapa pembahasan yang apabila kita teliti pembahasan tersebut dapat digolongkan pada pembicaraan tentang uslub atau gaya bahasa serta penyajian Al-Quran. Karena itu pembahasan uslub-uslub Al-Qur’an ini meliputi :

  1. Amtsalul-Qur’an (perumpamaan dalam Al-qur’an)
  2. Jadadul-Qur’an (pembantahan dalam Al-qur’an)
  3. Aqsamul-Qur’an (sumpah-sumpah dalam Al-qur’an)
  4. Qasasul-Qur’an (kisah-kisah dalam Al-Qur’an)
  5. Balaghatul-Qur’an

Al-qur’an dalam uslubnya yang menakjubkan mempunyai beberapa keistimewaan, diantaranya:[9]

Pertama: Kelembutan al-qur’an secara lafdziyah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.

Lafazh-lafazh dan susunan kata (tarkib) yang digunakan Al Qur’an amat unik. Makna yang lembut diungkapkan dengan lafazh yang lembut. Makna yang kasar diungkapkan dengan lafazh yang kasar dan seterusnya. Ayat yang mneggunakan lafazh lembut untuk mengungkapkan makna yang lembut, misalnya :

“ Di dalam syurga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.”

Bandingkan dengan ayat yang menggunakan lafazh kasar untuk mengungkapkan makna yang kasar adalah:

[10]

“Sesungguhnya di neraka jahannam itu ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampau batas.”

Oleh karena itu, siapaun yang mendengarkan irama lagu Al-Quran saat dikumandangkan sekalipun ia bukan orang arab, dia akan merasakan keindahan iramanaya yang menggetarkan sanubari dan menorehkan kesan yang sangat mendalam setiap kali dibacakan dan tidak membosankan.

Keindahan irama inilah yang secara alamiyah bersentuhan dengan pendengaran orang arab di awal-awal Al-Quran diturunkan, yang mana tidak ada satupun bahasa yang mengungguli keindahannya, dan bahkan belum pernah terdengar sebuah gubahan syair atau sajak yang sehebat Al-Quran. Sampai Walid Al-Mughiroh mengatakan” ini bukanlah syair”.

Kedua: Keserasian al-qur’an baik untuk awam maupun kaum cendikiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan al-qur’an.

Al-Quran dengan gaya bahasanya yang indah, apabila ayat-ayatnya dilantuntan kepada khalayak umum akan merasakan  keagungan al-Quran, serta memahami akan hakekat Al-Quran bahwa ia dari Allah, berbeda dengan perkataan manusia yang kadangkala sesuai menurut sekelompok orang yang sesui dengan kemampuan menangkap keindahan serta gaya bahasanya.

Ketiga: Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana al-qur’an memberikan doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.

Dalam hal ini, bias kita ambil sebuah contoh argumentasi secara rasionl  akan pemberitaan al-Quran tentang hari kebangkitan menanggapi para pembesar Quraisy yang mengingkarinya, bagaimana al-Quran dengan gaya bahasanya yang cukup menggetarkan hati serta dalam waktu yang bersamaan membungkam orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan dari kubur[11]. Kita lihat bagaimana Al-Quran membawakan dalil yang mengetuk hati dan menghibur perasaan dengan isi dalil-dalil yang memuaskan ini, dala hal ini  Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[12]

Contoh konkrit bias kita lihat juga dalam surat Yusuf bagaimana dalam redaksi al-Quran yang memuat sebuat nasihat yang yang begitu berharga, akan kewajiban untuk senantiasa berpegang teguh dengan mempertahankan kehormatan dan sikap amanah, sehingga dalam salah satu pasal  yang indah Allah berfirman:

 

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.[13]

Renungkanlah dalam ayat ini, bagaimana tiga faktor kesesatan diparadokkan dengan tiga faktor sifat menahan diri. Gaya paradoksisme dari kisah yang menarik ini menggambarjkan suatu perdebatan sengit antara tentara Tuhan dan tentara setan, lalu ditertapkan pada kedua sisi timbangan di hadapan akal yang sehat.

Keempat: Keindahan sajian al-qur’an serta susunan bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan serta perhatian.

Irama kata (nadham) yang digunakan. Susunan huruf-huruf ada kata-kata dalam Al Qur’an tersusun dalam irama khas yang unik, tidak dapat dijumpai dalam pembicaraan manusia, baik dalam sya’ir maupun dalam kalimat yang bersajak (natsar). Sebagai contoh, firman Allah SWT :

.[14]

 “Sesungguhnya, Aku bersumpah dengan bintang-bintang. Yang beredar dan terbenam. Demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya. Dan demi subuh apabila fajarnya telah mulai menyingsing.”

Ayat di atas menyebutkan huruf “sin” secara berulang-ulang yang ternyata sangat sesuai dengan makna yang diungkapkannya, yaitu keheningan malam dan menyingsingnya fajar. Juga ayat Kursy, misalnya yang di dalamnya terdapat pengulangan huruf “lam” sebanyak 23 kali dimaksudkan untuk menyimak makna ayat dengan penuh perhatian. Kadang-kadang kita dijumpai satu ayat Al Qur’an dengan ayat seluruhnya pendek dengan akhiran kata yang sama. Kadang-kadang cukup panjang ayatnya. Tetapi kita jumpai pula gabungan dari keduanya. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an bukanlah puisi dan bukan pula prosa.

Kelima: Al-qur’an mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global dan bentuk yang terperinci.

Gaya bahasa Al-Quran yang menggambungkan dua bentuk yaitu bentuk global dan yang terperinci, adalah merupakan sebuah keunikan tersendiri yang tidak akan pernah ditemukan dalam rangkaian kata-kata manusia, karena ia merupakan sebuah tujuan yang tidak akan bias satu padukan dalam satu ungkapan. Kerena pada dasarnya perkataan itu hanya ada dua kemungkinan; antara dua sifat yang tidak akan pernah bersatu yaitu adakalanya global ( membutuhkan penjelasan lebih lanjut)  atau terperinci.

Keenam: Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan dalam beberapa lafadz dan susunan yang bermacam-macam yang semuanya indah dan halus.

 

Keunikan ini bias kita lihat dalam beberapa contoh bentuk perintah atau larangan yang diungkapkan dengan aneka rupa redaksi yang berbeda-beda, contoh dalam bentuk perintah Al-Quran memberikan redaksi dengan memakai kata perintah secara jelas seperti dalam ayat:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”

 Dalam ayat ini Al-Quran menggunakan kata perintah secara jelas, tapi dalam ayat lain untuk tujuan yang sama Al-Quran tidak secara langsung menggunakan bentuk perintah, akan tetapi bentuk berita bahwa sesuatu itu telah diwajibkan kepada orang sebelum mereka. Dalam firaman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”,.

Adapun contoh redaksi yang berbentuk larangan juga banyak ditemukan dalam redaksi bahasa Al-Quran diantaranya;  bentuk larangan dengan menggunakan kata larangan yang jelas, atau menjelaskan bahwa tindakan tertentu diharamkan atau menegasikan akan kebolehan perbuatan tertentu atau hanya dengan memberikan sifat bahwa perbuatan tersebut tidak mempunyai nilai kebaikan sama sekali.

Ketujuh: Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat (yang dikemukakan)

Lafazh dan susunan kata yang digunakan mencakup makna yang beraneka ragam dan menyeluruh dengan menggunakan lafazh yang ringkas. Misalnya firman Allah SWT:

“ Dan di dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup.” [15]

Penggalan ayat tersebut, lafazhnya sedikit. Tetapi bila diuraikan maknanya akan panjang lebar. Makna ayat tersebut adalah apabila seseorang mengetahui kalau dia membunuh kelak akan dibunuh, maka hal ini akan mencegahnya untuk melakukan pembunuhan. Jadi dengan tiadanya pembunuhan berarti akan terjamin kehidupan bagi masyarakat.

 

Contoh tentang penjelasan keistimewaan Uslub Al-Quran:

  1. Bila anda perhatikan susunan lafal Al-Quran, niscaya anda akan melihat beberapa pola dan ungkapan yang sesuai dengan ketentuan karang-mengarang dan tulis menulis, dan sesuai dengan fungsi huruf demi huruf yang ditinjau dari segi kefasihan dalam ucapan. Anda akan mendapatkan suatu susunan yang sempurna dengan bunyi huruf yang sesuai dengan bentuk irama music yang andaikata irama itu polos tidakalah enak didengar dan diucapkan, namun bila irama tersebut diterapkan dalam Al-Quran, niscaya anda akan merasakan suatu irama yang sungguh menarik dan mengagumkan[16].

Di antaranya adalah lafal “ نذر “ sebagi jamak dari kata “ نذير”  harakat dammah atau bunyi “ U”  pada kata tersebut sungguh berat karena secara berturut-turut ada pada konsonan “n” dan ذ  lebih-lebih lagi bunyi ( makhroj huruf) tersebut adalah kaku dan sulit diucapkan, tetapi bila kata-kata tersebut diterapkan oleh A-Quran tidaklah demikian, sebagaimana firman Allah

Dan Sesungguhnya Dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, Maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu.”[17]

Kalo kita renungkan susunan di atas, dan perhatikan dengan sungguh-sungguh, kemudian mantapkan pula letak qalqalah ( suara) memantul) dalam kata “  لقد” dan qalgalah “ ta” pada kata  بطشتنا serta harakat fatha( bunyi “a” yang berurutan) mulai dari huruf sesudah “ ta” samai dengan huruf “ wau” pada firman Allah  بطشتنا فتماروا yang dipisahkan dengan “mad” (bacaan panjang). Dengan sendirinya, keberatan ucapan dammah ( pada nuzur) akan hilang. Harakat dammah tersebut berada tepat pada tempatnya bagaikan bumbu dalam berbagai makanan[18].

  1. Di dalam Al-Quran terdapat ucapan yang asing bahkan teramat asing, tidak cocok untuk diletakkan dalam kalimat sempurna kecuali yang terdapat dalam Al-Quran itu sendiri. Lafal itu adalah kata  ضيزى  dalam firman Allah:

 

“yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil..[19]

Di samping itu, keindahan lafal “ diiza” dalam susunan kalimat sempurna termasuk keindahan yang paling asing dan dikagumi. Kalau bahasa Arab menghendkinya, pada tempat ini tidak ada lafal yang patut, kecuali lafal “ diiza”  karena surat An-Najm, semuanya terpisah dari huruf “ya”. Dengan demikian, kalimat itu berfungsi sebagai pemisah, dan persoalannya dalam hal lingkungan orang-orang Arab. Ayat itu dating untuk menjelaskan penyebutan patung-patung dan dugaan mereka tentang pembagian anak, kereana mereka menganggap malaikat dan patung-patung itu adalah anak perempuan Allah[20]. Di samping itu, juga tentang penguburan hidup-hidup anak perempuan mereka, kemudian Allah berfirman:

“ Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.”[21]

Keasingan lafal itu adalah hal yang sangat sesuai ( relevan) dengan keasingan pembagian yang diingkarinya ini. Dan semua jumlah itu seolah-olah digambarkan dalam bentuk ucapannya, yaitu bentuk ingkar dalam jumlah pertama dan bentuk tahakkum ( pengejekan) dalam jumlah berikutnya. Gambaran ini adalah bentuk yang teramat indah dalam retorika, khususnya pada lafal garib yang tempatnya cocok sekali di akhir ayat.

Susunan kalimat dan gaya bahasa al-qur’an bebas pula dari tujuan umum sebagaimana yang terdapat dalam syair-syair dan sajak-sajak. Bersamaan dengan itu irama puitis yang terdapat dalam rangkaian itu sendiri menciptakan pemisahan kalimat yang berpola serupa dan yang tidak memerlukan bentuk-bentuk tertentu yang lazim mengikat susunan syair atau sajak, karena semuanya itu terangkum dalam keistimewaan khas. Gaya bahasa alqur’an mencakup semua bentuk puisi dan prosa[22].

 

 

 

 

KESIMPULAN

Keindahan Al-Quran dalam bentuk bahasa adalah aspek yang mengagumkan, yang menjadi ciri keistimewaan Al-Quran dalam bentuk sifat-sifat huruf dan tertib susunan kata-katanya, yang berbeda dengan susunan-susunan yang dituangkan oleh setiap orang dalam pembicaraannya.

Keindahan bahasa ini telah mencapai puncak kemukjizatan, sehingga kalau ada suatu ucapan manusia masuk ke dalam Al-Quran, pasti perasaan keindahan Al-Quran pada lidah-lidah pembaca itu menjadi hilang susunan Al-Quran dalam telinga pendengarnya akan menjadi kacau.

Al-qur’an merupakan tantangan universal, yaitu Al-qur’an secara keseluruhan, baik dari segi hukum-hukumnya, kehebatannya, terutama dalam  balaghahnya dan keterangannya, yang merupakan yang merupakannya tantangan khusus, yaitu tantangan untuk mendatangkan yang serupa dengan salah satu surat Al-qur’an, walaupun surat itu yang paling pendek, seperti surat Al-kautsar, karena uslub Al-qur’an berbeda dengan uslub Hadits dan uslub bahasa Arab.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ash-Shaabuny, Muhammad Ali, Prof.Dr. 2008. Studi Ilmu Al-Quran. Bandung: Pustaka Setia.

Abu Zahrah, Muhammad, Prof. 2008. Ushul Fiqih. Jakarta: Pustaka Firdaus

Abdul Kholiq ‘Adhimah, Muhammad. Tt. Diraasaat Li Al- Ushlub Al- QUR’AN Al- Karim. Kairo: Daar Al-Hadits

Al- Sya’rawi, Muhammad al-mutawally. Tt. Mu’jizat al-qur’ani. Kwait: Idaarah al-maktabah

Djalal, Abdul, prof.dr.H. 2000. Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu

Hisyam Hariz, sami Muhammad. 2006. Nadzarat Min al- I’jaz al- bayani fi al-qur’an al- karim. Kairo: Daar al- syuruq wa an- nasyr

Ibnu Shalih Al- ‘ammar, Abdul Aziz. 2006. Al- Khashaish al-maudhu’iyyah wa al-ushlubiyah fi haditsi al-qur’an ‘an al-qur’an. Dubai: Raf’u al-musahimah

Kholaf, Abdul Wahab. Ilm Ushul Fiqh. Beirut: Daar Al- Qutub Al- Ilmiyah

Husin Al-Munawwar, Said Agil, Prof.Dr.H. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta: Ciputat Press

Al-Zarqony, Mohammad Abdul Adzim,Tt. Manahilul Irfan fi Ulumil Quran. Beirut: Daarel Fikr

Diposkan Oleh Asra’, Minggu, 20 November 2011, 08.00 wib : http://10109472.blog.unikom.ac.id/mu-jizat-al.1pg diakses pada Jumat, 25 Maret 11 – 18:20 WIB

 

[1]  Munawwir Abdul Fattah dan Adib Bisyri, Kamus al-Bisyri, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1999), hlm. 335.

[2] Ibrahim Anis dkk., al-Mu’jam al-Wasit}, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), jilid I, hlm. 4

[3]  Mohammad Abdul Adzim al-Zarqony, Manahilul Irfan fi Ulumil Quran,  Juz.II (Beirut: Daarel Fikr,) jhlm.128

[4]  Mohammad Abdul Adzim al-Zarqony, Manahilul Irfan fi Ulumil Quran,  Juz.II (Beirut: Daarel  Fikr,) jhlm.128

[5]  www.http/stilistika-al-quran-dirasah-fi-uslub-al.html

[6]  www.http/stilistika-al-quran-dirasah-fi-uslub-al.html

[7]   Said Agil Husin al Munawar, alQur’an Membangun Tradisi Kesalehan yang Hakiki (Jakarta: Ciputat Press, 2002),hal. 34

[8]  Muhammad Ali As-Shabuny,  Studi Ilmu Al-Quran ( Bandung: Pustaka Setia 2008) hlm.143

[9] Ibid.,hal.35

[10] Q.S An-naba’ : 21-22

[11]  Mohammad Abdul Adzim al-Zarqony, Manahilul Irfan fi Ulumil Quran,  Juz.II (Beirut: Daarel  Fikr,) jhlm.128

[12]  Q.S Fussilat : 39.

[13]  Q.S Yusuf : 23.

[14]  Q.S At-takwiir : 15-17

[15]  QS Al Baqarah : 179

[16]  [16]  Muhammad Ali As-Shabuny,  Studi Ilmu Al-Quran ( Bandung: Pustaka Setia 2008) hlm.145

[17]  Q.S AL-Qamar: 36

[18]  Ibid, hlm.145

[19]   Q.S Al-Najam : 22

[20]   Muhammad Ali As-Shabuny,  Studi Ilmu Al-Quran ( Bandung: Pustaka Setia 2008) hlm.143

[20]  Muhammad Ali As-Shabuny,  Studi Ilmu Al-Quran ( Bandung: Pustaka Setia 2008) hlm.147

[21]  Q.S Al-Najam :  21- 22

[22]  Ibid, hlm.147

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *