ALIRAN KHAWARIJ “Studi Analisis Sejarah dan Ajaran Aliran Khawarij”

 

Oleh : Muhammad Ghozali, S.Pd.I

  1. Latar Belakang

Kematian khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan secara tragis melalui tangan para perusuh tahun 35 H telah menyebabkan terjadinya beberapa peristiwa yang mengguncang tubuh umat Islam. Salah satu di antaranya adalah perang Shiffien, 2 tahun setelah ‘Ali ibn Abi Thalib dibai’at jadi khalifah menggantikan ‘Utsman.

Perang besar antara kubu ‘Ali dengan kubu Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan itu, tidak hanya mengoyak umat Islam menjadi dua kubu besar secara politis, tetapi juga melahirkan dua aliran pemikiran yang secara ekstrem selalu bertentangan yaitu Al-Khawarij dan Syi’ah. Misalnya Khawarij mengkafirkan dan menghalalkan darah ‘Ali setelah peristiwa, sementara Syi’ah belakangan mengkultuskan ‘Ali demikian rupa sehingga seolah-olah ‘Ali adalah manusia tanpa cacat. Sekalipun semula kedua aliran tersebut bersifat politik tapi kemudian untuk mendukung pandangan dan pendirian politik masing-masing, mereka memasuki kawasan pemikiran agama.

Tapi sebelum menganalisis masalah di atas penulis akan deskripsikan terlebih dahulu asal usul dan perkembangan Khawarij, dengan tekanan pada asal usul, untuk dapat melihat secara jelas bagaimana persoalan politk diberi legitimasi teologi di samping alasan teknis terbatasnya halaman untuk berbicara panjang lebar tentang perkembangan Khawarij masa-masa selanjutnya. Sedangkan mengenai doktrin pemikiran politik dan teologi Khawarij itu sendiri tidak penulis bicarakan secara khusus, tetapi hanya beberapa doktrin diungkapkan dalam perjalanan bahasan kesejarahan tentang perkembangan pemikiran itu sendiri. Sikap itu diambil karena makalah ini memakai pendekatan historis, bukan doktriner.

Makalah ini akan menfokuskan pembahasan pada aliran Khawarij, yang tercatat dalam sejarah memiliki pandangan-pandangan politik dan teologi yang ekstrem. Pertanyaan yang ingin penulis teliti jawabannya adalah bagaimanan sejarah munculnya aliran Khawarij, ajaran- ajaran yang ditawarkannya dan bagaimana perkembangannya[1].

  1. Pengertian Khawarij

Secara bahasa Khawarij adalah Jama’ dari lafadz خا رج   yang merupakan Isim Mustaq dari lafadz خروج  .[2]

Menurut kamus Al-‘Ishry Khawarij adalah “ Yang berada di pinggiran atau di luar”.[3]

Sedangkan pengertian Khawarij menurut Epistimologi ulama berbeda pendapat ;

  1. Sebagian ulama mendefinisikan Khawarij dengan pengertian politik secara umum, yaitu diartikan sebagai orang yang keluar dari Imam yang telah disepakati oleh Imam syari’atnya disetiap zaman

Sebagaimana yang dikatakan oleh Asy- Syahrastani bahwa Khawarij adalah :

كل من خرج على الامام الحق الذى اتفقت الجماعة عليه يسمى خارجيا. سواء كان الخروج من أيام الصحابة على الأئمة الراشدين أو كان بعدهم على التابعين باحسان والأئمة فى كل زمان.[4]

Tiap yang berontak kepada Imam yang benar yang disetujui oleh jamaah dinamakan Khawarij, baik berontaknya itu pada masa sahabat terhadap khulafaurrasyidin atau pada masa sesudahnya terhadap Tabiin dan Imam- Imam pada setiap zaman”[5].

 

  1. Sebagian ulama mendefinisikan Khawarij sebagai kelompok tertentu yang keluar dari Imam Ali[6]

Mu’tazilah adalah sebutan bagi orang- orang yang memisahkan diri dari jamaah Hasan Al- Bashri, dipimpin oleh Washil bin Atho’. Tetapi Washil bin Atho’ menamakan golongannya dengan Ahlul ‘Adli Wat Tauhid. Hal itu berbeda dengan Khawarij ini. Mereka memang menerima sebutan Khawarij dengan pengertian sebagai orang- orang yang keluar pergi berperang untuk menegakkan kebenaran.

Hal ini mereka dasarkan pada ayat:

ومن يهاجر فى سبيل الله يجد فى الارض مراغما كثيرا وسعة، ومن يخرج من بيته مهاجرا إلى الله ورسوله ثم يدركه الموت فقد وقع أجره على الله، وكان الله غفورا رحيما[7]

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul- Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Kaum Khawarij juga kadang- kadang menamakan diri mereka sebagai kaum Syurah. Artinya “Orang- orang yang mengorbankan dirinya” untuk kepentingan keridhaan Allah SWT. Mereka mendasarkan pada ayat:

ومن الناس من يشرى نفسه ابتغاء مرضاة الله، والله رؤوف بالعباد.[8]

Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba- hamba- Nya.”

Nama yang sering dipakaikan kepada golongan ini. Perkataan tersebut berasal dari kata kerja “ Kharaja” (telah keluar), dan mereka disebut dengan Khawarij adalah karena mereka telah keluar dari golongan Ali ra., padahal tadinya mereka adalah sebagian dari pengikut- pengikutnya. Mereka sendiri menyebut diri mereka dengan “Syurah” (Pembeli), yang berarti bahwa mereka membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan duniawi. Arti ini sama dengan pengertian yang di atas, bahwa mereka mempertaruhkan kehidupan dunia untuk kepentingan kehidupan akherat kelak.[9]

Selain itu mereka juga disebut Haruriyah, yaitu dinisbatkan kepada perkataan “Harura”, ialah Nama sebuah tempat di sungai Furat di dekat kota Riqqah, yang mana mereka bertempat tinggal sesudah Ali ra. Kembali beserta pasukannya dari Shiffin, lantaran mereka tidak mau memasuki kota Kufah.[10]

Nama lain yang juga dipakaikan kepada golongan ini ialah “Muhakkimah”, artinya mereka adalah orang- orang yang berpendapat bahwa “ Tidak ada hukum selain Allah”.

 

  1. Sejarah Pemikiran Khawarij

 

Awal mula kemunculan aliran Khawarij para Mutakallimin berbeda pendapat: ada yang mengatakan dimulai sejak masa Rasulullah, sejak masa Khalifah Utsman bin ‘Affan, ada juga yang mengatakan sejak masa Imam Ali ra, sejak terjadinya tahkim antara Mu’awiyah dan ali ra., dan ada juga yang mengatakan terjadi pada masa Imam Nafi’ Al- Arzak.[11]

Imam Abu Zahroh mengatakan bahwa aliran ini muncul di tengah pasukan Ali saat peperangan yang terjadi antara Ali ra. melawan Muawiyah,[12]sedangkan Salihun A. Nasir berpendapat bahwa asal mulai kaum khawarij adalah orang- orang yang mendukung Ali ra. Akan tetapi akhirnya mereka membencinya karena dianggap lemah dalam menegakkan kebenaran, mau menerima tahkim yang sangat mengecewakan, sebagaimana mereka juga membenci Muawiyah karena melawan Sayyidina Ali Khalifah yang sah. Mereka menyatakan konfrontasinya dengan pihak Muawiyah, mereka menuntut agar Sayyidina Ali mengakui kesalahannya, karena mengakui Tahkim, bila Sayyidina Ali ra. Mau bertaubat, maka mereka mau bersedia lagi bergabung dengannya untuk menghadapi Muawiyah. Tetapi bila beliau tidak mau bertaubat maka orang- orang Khawarij menyatakan perang baginya.[13]

Dapat dikatakan bahwa dalam pertempuran Shiffin, Ali ra. Hampir saja mendapat kemenangan akan tetapi Muawiyah setelah merasa dirinya akan mengalami kekalahan di Medan laga, ia lantas mengalihkan perjuangan ke Medan lain, yang mana Ali ra. Tak mungkin menandinginya, yaitu medan Siasat dan tipu daya . Muawiyah didampingi pula oleh ahli filsafat arab yang lihai yaitu Amr Ibn ‘Ash. Muawiyah berseru padanya : “Ya Ibn ‘Ash kita hampir binasa, kini cobalah gunakan kecerdikanmu!” Amr lalu menasihatkan supaya para prajurit mengangkat mushaf- mushaf Al-Qur’an di atas ujung tombak mereka, sambil berseru kepada musuh:”Kami ingin bertahkim kepada kitab Allah.”

Ali ra. Telah merasa bahwa itu hanyalah tipu muslihat musuh. Akan tetapi sayangnya pedang- pedang tentaranya sudah tumpul, seakan- akan mereka telah menanti- nantikan seruan itu dengan kesabaran yang hampir habis. Karena itu banyak di antara mereka yang mundur dan terus mengabulkan keinginan musuh. Ali ra. Berusaha mengajak mereka untuk melanjutkan pertempuran itu, hingga berhasil mendapatkan kemenangan yang telah hampir dicapainya itu, akan tetapi kewibawaan Ali ra. Terhadap tentaranya memang selamanya lemah sebagaimana yang telah disebutkan dalam uraian tentang Ali ra. Oleh sebab itu, mereka tidak mau tunduk kepadanya, dan malah tetap bertekad untuk menghentikan pertempuran itu.

Mereka yang membangkang terhadap Ali ra. Berada di bawah pimpinan Al- Asy’ats ibn Qais al- Kindi, Mus’ir Ibnu Fidki at- Tamimi dan Zaed Ibnu Husein At- Thai, mereka berkata kepada Ali ra. : “Mereka itu mengajak kepada kitab Allah SWT., tetapi kamu mengajak kita untuk menggunakan pedang”, Ali ra menjawab: “Aku lebih tahu tentang kitab Allah SWT. Bergabunglah kamu kembali kepada teman- temanmu yang lain…..!

Ali ra. Mencoba memalingkan mereka dari keinginan mereka, atau setidak- tidaknya menangguhkan untuk mengabulkan tuntutan mereka. Ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada panglimanya, Al- Atsar untuk mendapatkan kemenangan atas pasukan Muawiyah, sebab di hadapan Al- Asy’ats hanya tinggal segelintir kecil saja prajurit- prajurit Syam yang hampir- hamper mengalami kehancurannya. Tetapi Al- Asy’ats berkata kepada Ali ra. : “Engkau harus memerintahkan kepada pasukan untuk kembali dan menghentikan pertempuran atau kami akan melakukan terhadapmu apa yang telah kami lakukan terhadap Utsman.”[14]

Ali mengirimkan utusan kepada Al- Asy’ats memintanya datang, tetapi Al- Asy’ats menjawab: “Janganlah aku ditarik pada saat ini dari tempatku ini. Aku berharap bahwa pada saat ini akan dapat merebut kemenangan, sebab itu janganlah memintaku agar segera datang!”.

Tatkala pasukan Ali ra. Mengetahui jawaban Al- Asy’ats ini, mereka makin bergolak, dan menuduh Ali ra. Bahwa dia telah telah menghasut Al- Asy’ats untuk meneruskan pertempuran itu. Kekacauan makin memuncak, sehingga Ali ra. Terpaksa mengirimkan kembali utusannya kepada Al- Asy’ats. Ketika dia merasa bahwa Al- Asy’ats ragu- ragu, berkatalah Yazid: “Apakah Engkau ingin untuk mendapatkan disini, padahal di sana Amirul Mu’minin dibunuh orang atau menyerah? Al- Asy ats menjawab: “Tidak demi Allah Maha suci Allah ! “ kata Yazid: “Nah; demikianlah,  Mereka mengancamnya untuk dibunuh. Atau diserahkan kepada orang- orang Syam, jika Engkau tidak mau kembali”. Dan kembalilah Al- Asy’ats dan pertempuran itu dihentikan.

Demikianlah Al- Asy’ats dan kawan- kawannya berhasil mendapatkan keinginannya. Tetapi ini merupakan awal dari perpecahan dan permulaan bagi peperangan yang sangat kejam, sebab Al- Asy’ats dan pengikut- pengikutnya menyerang para pembangkang itu mereka dianggap sebagai penghianat.

Dalam pada itu tampaknya sebagian besar dari sahabat- sahabat Ali ra. Merasa senang dengan adanya ketenangan itu, dan mereka dapat beristirahat, yang belum pernah mereka nikmati sejak permulaan Khilafah Ali ra.

Al- Asy’ats minta izin pada Ali ra. Untuk mendatangi Mu’awiyah. Guna menanyakan apakah yang dimaksudkan dengan mengangkat mushaf- mushaf tersebut. Ali ra. Memberi izin. Tatkala Al- Asy’ats bertemu dengan Muawiyah, Muawiyah berkata, : “ Marilah kita dalam Kitab- Nya, kirimlah seorang yang kamu sukai sebagai utusan, dan kami pun demikian. Kemudian kita minta kepada mereka agar mereka menjalankan apa yang tersebut dalam kitan Allah SWT, dan janganlah mereka melanggarnya. Kemudian kita akan mengikuti apa- apa yang mereka sepakati berdua.

Dengan demikian mulailah babak baru tentang perselisihan yang timbul antara kalangan tentara Ali ra. Orang Syam sepakat untuk memilih Amr Ibn Ash sebagi utusan mereka. Amr adalah Ahli siasat arab yang sudah terkenal.Ali ra. Ingin mengajukan Abdullah Ibn Abbas, tetapi kawan- kawannya tidak menyetujui hal itu, dan mereka berkata kepada Ali ra. : “Ibnu Abbas adalah kerabatmu terdekat, ia amat ingin menjaga kepentinganmu.

Kemudian Ali ra. Mengajukan Al- Asy’ats, tetapi mereka berkata: “ Adakah orang lain yang telah membakar bumi ini selain dari Al- Asy’ats sendiri?.”

Suatu yang janggal bahwa mereka tidak membolehkan Ali ra. Untuk memilih seseorang yang memiliki hubungan erat dengannya. Dan mereka tetap berkeras kepala untuk memilih seseorang yang netral. Tetapi mereka tidak mau bersikap semacam itu terhadap Muawiyah. Mereka membiarkan Muawiyah memilih seseorang yang mempunyai sifat- sifat yang menyebabkannya mempunyai keunggulan mutlak terhadap pihak lawannya. Amru adalah kerabat terdekat bagi Mu’awiyah, serta mempunyai kepentingan yang sama. Selain itu, dia adalah salah seorang dari ahli- ahli siasat arab yang amat cerdik. Sayang sekali, mengapa Ali ra. Menerima saja perlakuan yang begitu rendah? Tidakkah dia dapat mengundurkan diri dari jabatan Khalifah itu, di mana dia tidak mempunyai kekuasaan apa- apa?.

Bagaimanapun juga, akhirnya sebagian besar dari pengikut Ali ra. Mengajukan Abu Musa al- asy’ari. Maka berkatalah Ali ra. Kepada mereka: pada mulanya kamu telah mendurhakai aku. Sekarang janganlah aku didurhakai lagi. Dia pernah meninggalkan aku, dia menyuruh orang- orang untuk meninggalkan aku. Sesudah itu ia juga pernah melarikan diri dari pada aku, hingga akhirnya ku memberinya keamanan”.

Akan tetapi orang- orang Irak itu tetap juga mempertahankan pendapat mereka, hingga akhirnya Ali ra. Terpaksa menyerah menerima Abu Musa, walaupun sebenarnya ia tidak rela.

Kedua pihak menetapkan Daumatul Jandal sebagai tempat perdamaian, dengan ketentuan bahwa Tahkim tersebut akan dilaksanakan dalam bulan Ramadhan pada tahun itu juga (7 H).

Setelah tercapai kata sepakat untuk bertahkim, maka kembalilah pasukan- pasukan kedua belah pihak ke pangkalannya masing- masing. Akan tetapi kepulangan pasukan Mu’awiyah dapat dipandang sebagai kepulangan yang memperoleh kemenangan karena mereka telah terhindar dari kekalahan dan kehancuran, dan juga karena kokohnya persatuan mereka. Lagi pula mereka mempunyai harapan besar untuk masa datang. Sebaliknya kepulangan tentara Ali ra. Adalah membawa pertanda bagi kekalahan yang tidak dapat dihindarkan, sebab mereka pulang dalam keadaan bercekcok, berselisih pendapat, dan saling salah menyalahkan.

Akhirnya Ali ra. Sampai kembali ke Kufah, tetapi hanya dengan sebagian tentaranya saja. Adapun yang sebagiannya lagi telah memisahkan diri dan memberontak terhadapnya. Mereka pergi ke suatu desa bernama Harura, dan tidak mau masuk ke Kufah. Aneh sekali, bahwa mereka ini justru adalah orang- orang yang tadinya memaksa Ali ra. Untuk menerima usul bertahkim yang dikemukakan oleh golongan Mu’awiyah.

Ali ra. Pergi mendatangi orang- orang Khawarij itu, dan berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada kamu dengan nama Allah. Adakah kamu mengetahui adanya orang yang lebih benci daripadaku untuk bertahkim?” mereka menjawab: “Tidak!” Ali ra. Berkata lagi: “Adakah kamu tahu bahwa kamulah yang memaksa aku, sehingga aku mau menerimanya?” jawab mereka: “Ya, benar”. Kata Ali ra. : “Lalu apakah sebabnya kamu meninggalkan aku?” jawab mereka: “Kami telah berbuat dosa yang besar, sebab itu kami bertobat kepada Allah, hendaklah Enkau pula bertobat kepada Allah SWT., dan mohonlah ampun kepada- Nya, agar kami kembali lagi kepadamu!” maka Ali ra. Berkata: “ Aku mohon ampun kepada Allah SWT. Atas semua dosaku!” sesudah itu mereka kembali bersama Ali ra. Hal ini berbeda dengan pendapat pada sebagian buku- buku teologi lain bahwa ada yang mengatakan Ali ra. Tidak mau menerima ajakan mereka, karena Ali ra. Merasa tidak bersalah, mereka semua berjumlah kira- kira enam ribu orang.

Di Kufah mereka ini menyiarkan bahwa Ali ra. Menganggap bertahkim itu suatu dosa dan telah menyesal dan berbalik dari putusan itu, dan dia telah meminta ampun kepada Allah SWT. Atas dosanya itu. Maka datanglah Al- Asy’ats kepada Ali ra. Menanyakan hal itu. Maka Ali ra. Menjawab: “Barang siapa yang mengatakan bahwa aku telah berbalik dari putusan untuk bertahkim, orang itu adalah pendusta. Dan siapa yang menganggapnya sebagai suatu kesesatan, maka dia lebih sesat darpadanya!”.

Mendengar pernyataan ini, maka orang- orang Khawarij itu keluar lagi dari golongan Ali ra. Untuk kedua kalinya. Lalu Ali ra. Mengutus Abdullah Ibnu Abbas untuk berdialog kepada mereka dan menjelaskan apa- apa yang masih kabur bagi mereka.

Mereka berkata kepada Ibnu Abbas : “Ali telah melakukan kesalahan besar ia bertahkim kepada sesama manusia mengenai darah dan jiwa, padahal tidaklah ada hukum selain hukum Allah SWT..” jawab Ibnu Abbas: “ Tidakkah kamu tahu, bahwa Allah SWT. Pun menyuruh bertahkim kepada sesama manusia mengenai seekor kelinci yang hanya berharga seperempat dirham yang diburu pada bulan- bulan haram. Dan Allah SWT. Menyuruh untuk bertahkim mengenai perselisihan antara seorang lelaki dengan isterinya. Dan tidakkah kamu tahu, bahwa Nabi pun berhenti berperang setelah adanya perjanjian gencatan senjataantara Beliau dengan orang- orang Musyrikin di Hudaibiyah?”

Mereka berkata lagi: “ Ya, tetapi Ali telah mencoret namanya dari jabatan sebagai Khalifah.”

Ibnu Abbas menjawab: “Nabi pun telah berbuat demikian pula, beliau telah mencoret namanya dari jabatannya sebagai nabi ketika terjadi perdamaian di Hudaibiyah. Namun demikian, beliau toh tetap Nabi.”[15]

Setelah mendengar keterangan- keterangan itu, sebagian mereka lantas menerima pendapat Abdullah Ibnu Abbas, dan mereka kembali lagi kepada Ali ra. Adapun sebagian yang lain, setelah mereka dikalahkan dengan kebenaran, mereka lalu berkata: “Janganlah kamu bersoal jawab dengan orang ini, sebab mereka termasuk golongan orang- orang yang oleh Tuhan dikatakan: “Bahkan mereka itu adalah orang- orang yang suka bertengkar” (Q.S. Zukhruf. 43 :58 ). Juga disebut Tuhan tentang mereka: “ Dan Engkau memberikan peringatan dengannya kepada kaum yang keras kepala” (Q.S. Maryam. 19: 97).

Demikianlah mereka ini terus memisahkan diri dan tidak mau bergabung kembali kepada Ali ra. Gerakan Khawarij berpusat di dua tempat,. Suatu markas di Bathaih yang menguasai dan mengontrol kaum Khawarij yang berada di Yaman, Hadramaut, dan Thaif. Tokoh- tokohnya Ialah Abu Thaluf, Najdat, bin ‘Ami, dan Abu Fudaikha.

Situasi yang menyebabkan timbulnya firqah Khawarij digambarkan demikian.

اقترن ظهور هذه الفرقة بظهور الشيعة. فقد ظهر كلاهما كفرقة فى عهد علي رضي الله عنه. فقد كانوا من انصاره وإن كانت الشيعة فكرتها أسبق من فكرة الخوارج[16]

Bersamaan timbulnya firqah Khawarij ini adalah timbulnya firqah Syiah. Keduanya timbul sebagai firqah pada masa Khalifah Ali ra. Semula mereka (Khawarij) ini adalah pendukung Sayyidina Ali, sekalipun pemikiran Syi’ah lebih dahulu daripada pemikiran Khawarij.”

 

  1. Ajaran Khawarij

Ajaran –ajaran pokok firqoh Khawarij ialah Khilafah, dosa dan Imam. Apabila firqoh Syi’ah berpendapat bahwa Khilafah itu bersifat Waratsah, yaitu warisan turun temurun, dan demikian pula yang terjadi kemudian khalifah- khalifah  Bani Umayah dan Bani Abbasiyah,maka berbeda sama sekali pendirian Khawarij ini tentang Khilafah. Mereka menghendaki kedudukan Khalifah dipilih secara demokrasi melalui pemilihan bebas. Menurut Sunni, Khalifah haruslah seorang penguasa yang bebas tanpa kekurangan- kekurangan pribadi, seorang yang berwatak baik, mempunyai kesanggupan untuk mengurus soal- soal Negara dan memimpin jamaah waktu shalat.

Pandangan Firqah Khawarij terhadap Khalifah Sayyidina Ali ra. Dan Mu’awiyah adalah:[17]

ابتداء الخوارج كلامهم فى أمور تتعلق بالخلافة فقالوا بصحة خلافه أبى بكر وعمر لصحة انتخابها، وبصحة خلافة عثمان فى سنيه الاولى. فلما غير وبدل ولم يسر سيرة أبى بكر وعمر، وأتا بما أتى من أحداث وجب عزله، وأقروا بصحة خلافة علي ولكنهم قالوا إنه أخطأ فى التحكيم وحكموا بكفره لما حكم وطعنوا فى اصحاب الجمل: طلحة والزبير وعائشة، كما حكموا بكفر أبى موسى الأشعرى وعمرو بن العاص.

Asal mula ajaran Khawarij adalah hal- hal yang berkaitan dengan khalifah. Mereka berpendapat sahnya Khilafah Abu Bakar dan Umar, karena sahnya pemilihan keduanya, dan sahnya khalifah Utsman pada beberapa tahun awal pemerintahannya, tatkala dia berubah dan menyimpang kebijakannya dan tidak mengikuti jejak Abu Bakar dan Umar, dan berbuat hal- hal yang telah diperbuatnya (menyimpang), maka dia wajib dipecat. Mereka mengakui sahnya Khalifah Ali, tetapi selanjutnya mereka berpendapat bahwa dia telah bersalah dalam masalah tahkim. Mereka menghukumnya kafir karena menerima tahkim. Mereka juga mengutuk (mengkafirkan ) orang- orang yang terlibat perang Jamal: Talhah, Zubair, dan Aisyah, sebagaimana pula mereka mengkafirkan Abu Musa Al- Asy’ari, dan Amr bin Ash.”

Dalam hubungan ini jelaslah bahwa Khalifah atau pemerintahan Abu Bakar dan Umar Ibnu Khattab secara keseluruhan dapat mereka terima. Bahwa kedua Khalifah ini diangkat dan bahwa keduanya tidak menyeleweng dari ajaran- ajaran Islam, mereka akui. Tetapi Utsman Ibn Affan mereka anggap telah menyeleweng mulai dari tahun ke tujuh dari masa Khalifahnya, dan Ali juga mereka pandang menyeleweng sesudah peristiwa arbitrase tersebut di atas.[18]

Dosa yang ada hanyalah dosa besar saja, tidak ada pembagian dosa besar dan dosa kecil. Semua pendurhakaan terhadap Allah SWT. Adalah berakibat dosa besar. Pendapat Khawarij ini berbeda dengan paham Sunni yang membagi ada dosa besar dan dosa kecil. Dosa kecil disebut Sayyiat.

Firman Allah SWT. :

إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلا كريما[19]

Jika kamu menjauhi dosa- dosa besar diantara dosa- dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya kami hapus kesalahan- lesalahan (dosa- dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”

Dosa besar atau Kabair banyak diterangkan dalam Al- Qur’an dan Hadits mengenai ancaman- ancamannya, diantaranya Syirik, Bersihir, membunuh manusia tanpa hak, memakai atau memakan harta anak yatim, makan riba, berkata dan bersaksi dusta, berani kepada orang tua, lari dari Medan perang Fi Sabilillah, menuduh curang wanita salehah dan sebagainya.

Latar belakang Khawarij menetapkan dosa itu hanya satu macamnya, yaitu hanya ada dosa besar saja, agar orang Islam yang tidak sejalan dengan pendiriannya dapat diperangi dan dapat dirampas harta bendanya, dengan dalih mereka berdosa dan setiap yang berdosa adalah kafir.

Al- Ka’bi menerangkan:[20]

اكفار علي وعثمان والحكمين وأصحاب الجمل وكل من رضي  بتحكيم الحكمين والإكفار بارتكاب الذنوب ووجوب الخروج على الإمام الجائز.

Mengkafirkan Ali ra., Utsman, Dua orang Hakam (Juru runding), orang- orang yang terlibat dalam perang Jamal dan orang- orang yang rela terhadap tahkim dan mengkafirkan orang- orang yang berdosa besar dan wajib berontak terhadap penguasa yang menyeleweng.”

Menurut Sunni, bahwa orang Islam yang melakukan dosa tidaklah kafir. Ia tetap Islam, hanya saja sebagai Muslim yang bermaksiat,  memang dia akan dihukum di akhirat untuk sementara waktu di neraka dan bila masa hukuman mereka itu telah habis, akan dikeluarkan dan akan dimasukkan ke dalam surga:

Sekalipun asal mula gerakan Khawarij itu masalah politik semata, namun kemudian berkembang menjadi corak keagamaan. Mereka berwatak keras, tanpa perhitungan taktik strategi, tanpa berpikir panjang atas kekuatan yang ada pada pihak lawan. Hal ini merupakan pencerminan tabiat orang Arab badui yang mudah emosi.

Diterangkan:[21]Ahmad Amin berpendapat bahwa Khawarij itu pada mulanya merupakan bentuk gerakan politik semata- mata. Kemudian pada masa Khalifah Abdul Malik Ibnu Marwan mereka mulai mencampuadukkan pandangan- pandangan politiknya dengan masalah- masalah Agama. Dan orang- orang yang berpengaruh dalam hal ini adalah aliran Azariqah, pengikut Nafi’ Bin Azraq. Dan keputusan Khawarij yang paling penting dalam hal ini, sesungguhnya mengamalkan perintah- perintah Agama seperti Salat, Puasa, berlaku benar, Adil merupakan bagian dari Iman. Iman itu bukan hanya Iktikad saja. Barangsiapa beriktikad bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad ialah Rasulullah, kemudian orang itu tidak mengamalkan kewajiban- kewajiban Agama dan justru melakukan dosa besar, maka dia itu Kafir.

Dari kutipan tersebut jelaslah bahwa menurut Khawarij Iman itu bukan hanya membenarkan dalam hati dan Ikrar lisan saja, tetapi amal ibadah menjadi bagian dari Iman. Barangsiapa tidak mengamalkan ibadah (Amal Bil Arkan) seperti Shalat, Puasa, Zakat, dan lain- lain, maka kafirlah dia.

Menurut paham Sunni, unsur Iman ialah membenarkan dalam hati (At- Tashdiq Bil Qolbi) dan pengakuan dengan ucapan lisan (Al- Ikrar Bil Lisan). Sejak orang menyatakan pengakuannya dengan membaca syahadat, maka orang itu sudah menjadi Muslim dan berlaku baginya hukum Islam. Mengenai amal Ibadah, Shalat, Puasa, Zakat, dan lain- lain adalah merupakan kesempurnaan Iman.

Perbedaan pandangan tentang Iman dan Kafir menurut Khawarij dan Murji’ah tampak sekali sempit dan kelonggarannya.[22]

 

إن بحث الخوارج كبحث المرجئة يدور حول الكفر والإيمان. نظر إليه المرجئة نظرا واسعا رحيما. فأدخلوا فى ساحة الإيمان كل مصدق وأرجائوا العفو من كل عاص. وأرجاؤا أصحاب الفتنة إلى الله يقضى بينهم. ونظر الخوارج إليه نظرا شديدا ضيقا. فلم تعدوا مؤمنا إلا من تحرز عن الكبائر.

 

Sesungguhnya pembahasan tentang Khawarij itu seperti pembahasan tentang Murji’ah, berputar- putar sekitar Kufur dan Iman. Murji’ah berpandangan luas dan penuh dan penuh kasih saying, memasukkan ke dalam lingkup iman setiap orang yang membenarkan dalam hatinya, dan member maafi setiap orang yang bermaksiat dan menangguhkan hokum (kafir atau iman) kepada Allah sampai hari ahir nanti orang- orang yang berbuat fitnah yang memberi keputusan antara mereka. Sedangkan Khawarij berpandangan radikal dan sempit, tidak dianggap mukmin, kecuali orang yang terpelihara dari dosa besar.”

Syiah meletakkan Taqiyyah sebagai strategi perjuangan, maka firqah Khawarij tanpa tedeng aling- aling dan tanpa kompromi menolak adanya Taqiyyah.

وبينا يعد الشيعة عن أصولهم التقية . يعد الخوارج من أصولهم الخروج على السلطان الجائر فى غير مواربة ومن غير نظر إلى قوة الخارج وقوة الإمام. وهم يخالفون المرجعة لأن الخوارج مؤلف جبهة معاوضة وتقابل الأمويين والعباسيين والمرجئة يكونون جماعة حياد ومسالمة[23]

Dan kami terangkan bahwa Syi’ah menggap Taqiyyah sebagai asas pendiriannya, dan Khawarij menganggap memberontak terhadap penguasa yang menyeleweng sebagai asas pendiriannya tanpa perhitungan (tanpa tedeng aling- aling) terhadap kekuatan yang ada pada Khawarij sendiri dan kekuatan yang ada pada penguasa. Mereka berbeda pendirian dengan Murji’ah, karena Khawarij itu menyusun front yang menentang dan memerangi Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, sedangkan Murji’ah membentuk kelompok yang netral dan damai.

Bila menurut firqoh Mu’tazilah orang yang berdosa besar itu dianggapnya tidak Islam dan tidak pula Kafir atau Al- Manzilah Baina Al- Manzilatain, maka firqah Khawarij dalam hal ini pendiriannya lebih ekstrem.

وهم أشد من المعتزلة إذ يعدون مرتكب الكبيرة كافرا على حين أن المعتزلة تعده لا كافرا ولا مؤمنا. وهم أشد من المعتزلة أيضا فى تمسكهم بمبدئ الامر بالمعروف والنهي عن المنكر مواربة ولا حسبان قوة وضعف.[24]

Mereka (Khawarij) lebih ekstrem daripada Mu’tazilah, karena mereka menganggap orang yang berdosa besar itu Kafir, sedangkan Mu’tazilah tidak menganggapnya Kafir dan tidak pula Mukmin. Mereka juga lebih ekstrem daripada Mu’tazilah dalam memerangi prinsip- prinsip amar ma’ruf nahi mungkar.”

 

  1. Perkembangan Khawarij

 

Menurut Al- Syahartsani, mereka terpecah menjadi delapan subsekte,

وكبار الفرق منهم المحكمة، والأزارقة، والنجدات، والبيهسية، والعجاردة، والثعالبة، والإباضية، والصفرية، والباقون فروعهم.[25]

Dan menurut Al- Baghdadi dua puluh sekte.[26]Al- Asy’ari menyebut subsekte- subsekte yang jumlahnya lebih besar lagi.[27]

Namun penulis hanya akan memaparkan aliran- aliran Khawarij yang popular saja, adapun aliran tersebut yaitu:

  1. Al- Muhakkimah

Golongan Khawarij asli dan terdiri dari pengikut- pengikut Ali ra., disebut golongan Al- Muhakkimah. Bagi mereka, ‘Ali ra., Mu;awiyah, kedua pengantara Amr Ibnu ‘Ash dan Abu Musa Al- Asy’ari dan semua orang yang menyetujui arbitrase bersalah dan menjadi Kafir.

Selanjutnya hukum Kafir ini mereka luaskan artinya sehingga termasuk ke dalamnya tiap orang yang berbuat dosa besar.

Berbuat zinah dipandang sebagai salah satu dosa besar, maka menurut pandangan golongan ini orang yang mengerjakan zinah telah menjadi Kafir dan keluar dari Islam. Begitu pula membunuh sesama manusia tanpa sebab yang sah adalah dosa besar. Maka perbuatan membunuh manusia menjadikan si pembunuh keluar dari Islam dan menjadi Kafir. Demikianlah seterusnya dengan dosa- dosa besar lainnya.

  1. Al- Azariqah

Golongan yang dapat menyusun barisan baru dan besar lagi kuat sesudah golongan Al- Muhakkimah hancur adalah golongan Azariqah. Daerah kekuasaan mereka terletak diperbatasan Irak dengan Iran. Nama ini diambil dari Nafi’ Ibnu Al- Arzaq. Pengikutnya, menurut Al- Baghdadi, berjumlah lebih dari 20 ribu orang, Khalifah pertama yang mereka pilih adalah Nafi’ sendiri dan kepadanya mereka beri gelar Amir Al- Mukminin. Nafi’ mati dalam pertempuran di Irak pada tahun 686 M.

Subsekte ini sikapnya lebih radikal dari Al- Muhakkimah. Mereka tidak lagi memakai term Kafir, tetapi term Musyrik atau Polytheist. Dan di dalam Islam syirik atau Polytheisme merupakan dosa yang terbesar, lebih besar dari Kufr.

Selanjutnya yang dipandang Musyrik ialah semua orang Islam yang tak sepaham dengan mereka. Bahkan orang Islam yang sepaham dengan Al- Azariqah, tetapi tidak mau berhijrah ke dalam lingkungan mereka juga dipandang Musyrik. Dengan kata lain, orang Al- Azariqah sendiri yang tinggal di luar lingkungan mereka dan tidak mau pindah ke daerah kekuasaan mereka, juga dipandang Musyrik. Dan barangsiapa yang datang ke daerah mereka dan mengaku pengikut Al- Azariqah tidaklah diterima begitu saja, tetapi harus diuji. Kepadanya diserahkan seorang tawanan. Kalau tawanan ini ia bunuh, maka ia diterima dengan baik, tetapi kalau tawanan itu tidak dibunuhnya, maka kepalanya sendiri yang mereka penggal.

Sikap yang tidak mau mencabut nyawa tawanan itu, memberi keyakinan kepada mereka bahwa ia berdusta dan sebenarnya bukan penganut Al- Azariqah. Lebih lanjut lagi bukan hanya orang Islam yang tak sepaham dengan mereka, bahkan anak isteri orang- orang yang demikian pun boleh ditawan dan dijadikan budak atau dibunuh. Memang, dalam anggapan mereka, hanya daerah merekalah yang merupakan Dar Al- Islam, sedang daerah Islam yang lainnya Dar Al- Kufr, yang wajib diperangi. Dan yang mereka pandang Musyrik, bukan hanya orang- orang dewasa, tetapi juga anak- anak dari orang yang dipandang Musyrik.[28]

Menurut paham subsekte yang ekstrem ini hanya merekalah yang sebenarnya orang Islam. Orang Islam yang di luar lingkungan mereka adalah kaum Musyrik yang harus diperangi. Oleh karena itu kaum Al- Azariqah, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hazm, selalu mengadakan Isti’rad yaitu bertanya tentang pendapat atau keyakinan seseorang. Siapa saja yang mereka jumpai dan mengaku orang Islam yang tak termasuk dalam golongan Al- Azariqah,mereka bunuh.[29]

 

  1. An- Najdat

Najdah Ibnu ‘Amir al- Hanafi dari Yamamah dengan pengikut- pengikutnya pada mulanya ingin menggabungkan diri dengan golongan Al- Azariqah. Tetapi dalam golongan tersebut akhir ini timbul perpecahan. Sebagian dari pengikut- pengikut Nafi’ Ibnu Al- Azraq, diantaranya Abu Fudaik, Rasyid Al- Tawil dan Atiah Al- Hanafi tidak dapat menyetujui paham bahwa orang Arzaqi yang tidak mau berhijrah ke dalam lingkungan Al- Azariqah adalah Musyrik. Demikian pula mereka tidak setuju dengan pendapat tentang boleh dan halalnya dibunuh anak isteri orang- orang Islam yang tak sepaham dengan mereka.[30]

Abu Fudaik dengan teman- teman serta pengikutnya memisahkan diri dari Nafi’ dan pergi ke Yamamah. Disini mereka dapat menarik Najdah ke pihak mereka dalam pertikaian paham dengan Nafi’, sehingga Najdah dengan pengikut- pengikutnya membatalkan rencana untuk berhijrah ke daerah kekuasaan Al- Azariqah. Pengikut Abu Fudaik dan pengikut Najdah bersatu dan memilih Najdah sebagai Imam baru. Nafi’ Ibnu Al- Arzaq tidak lagi diakui sebagai Imam. Nafi’ telah mereka pandang kafir dan demikian pula orang yang masih mengakuinya sebagai Imam.

Najdah, berlainan dengan kedua golongan di atas, berpendapat bahwa orang yang berdosa besar yang menjadi kafir dan kekal dalam neraka hanyalah orang Islam yang tak sepaham dengan golongannya. Adapun pengikutnya jika melakukan dosa besar, betul akan mendapat siksaan, tetapi bukan dalam Neraka, dan kemudian akan masuk Surga.[31]

Dosa kecil baginya akan menjadi dosa besar, kalau dikerjakan terus menerus dan yang mengerjakannya sendiri menjadi Musyrik.[32]

Seterusnya ia berpendapat bahwa yang diwajibkan bagi tiap- tiap Muslim ialah mengetahui Allah dan Rasul- Rasul- Nya, mengetahui haram membunuh orang Islam dan percaya pada seluruh apa yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasul- Nya, orang yang tidak mengetahui ini tak dapat diampuni[33]. Selain hal itu mereka tidak wajib mengetahuinya, kalau mereka mengerjakan sesuatu yang haram karena mereka tidak mengetahunya maka ia dapat dimaafkan.

Dalam lapangan politik Najdah berpendapat bahwa adanya Imam perlu, hanya jika maslahat menghendaki demikian.

Manusia pada hakekatnya tidak berhajat pada adanya Imam untuk memimpin mereka. Dalam hal ini mereka sebenarnya dekat dengan ajaran- ajaran komunisme yang mengatakan bahwa Negara akan hilang dengan sendirinya dalam masyarakat komunis.

Dalam kalangan Khawarij, golongan inilah yang pertama membawa paham Taqiyah, yaitu merahasiakan dan tidak menyatakan keyakinan untuk keamanan diri seseorang. Taqiyah, menurut pendapat mereka, bukan hanya dalam bentuk ucapan, tetapi juga dalam bentuk perbuatan. Jadi seseorang boleh mengucapkan kata- kata dan boleh melakukan perbuatan- perbuatan yang mungkin menunjukkan bahwa pada lahirnya ia bukan orang Islam, tapi pada hakekatnya ia tetap menganut ajaran Islam.[34]

Tetapi tidak pula semua pengikut Najdah setuju dengan pendapat dan ajaran- ajaran di atas, terutama paham bahwa dosa besar itu membuat pengikutnya jadi kafir, dan bahwa dosa kecil bisa menjadi dosa besar. Perpecahan dikalangan mereka kelihatannya ditimbulkan oleh pembagian Ghanimah (Barang rampasan perang) dan sikap lunak yang diambil Najdah terhadap Khalifah ‘Abdul Malik Ibnu Marwan dari dinasti Bani Umayah. Dalam salah satu serangan yang dipimpin anak anak Najdah sendiri, mereka memperoleh harta dan tawanan. Tetapi sebelum dikeluarkan seperlima daripadanya, sebagai diwajibkan dalam Syari’at dan sebelum mereka kembali ke pangkalan, harta dan tawanan itu telah dibagi oleh yang turut dalam serangan tersebut diantara mereka sendiri. Selanjutnya dalam serangan terhadap kota Madinah mereka dapat menawan seorang anak perempuan yang diminta kembali oleh Abdul Malik. Permintaan ini dikabulkan oleh Najdah, hal mana tak dapat disetujui pengikutnya, karena Abdul Malik adalah musuh mereka.[35]

Dalam perpecahan ini Abu Fudaik, Rasyid al- Tawil, dan ‘Atiah Al- Hanafi memisahkan diri dari Najdah. Atiah mengasingkan diri ke Sajistan di Iran, sedang Abu Fudaik dan Rasyid mengadakan perlawanan terhadap Najdah. Akhirnya Najdah dapat mereka tangkap dan penggal lehernya.

 

  1. Al- Ajaridah

Mereka adalah pengikut dari ‘Abd al- Karim Ibn ‘Ajrad yang menurut Al- Syahartsani merupakan salah satu teman dari ‘Atiah al- Hanafi.

Kaum Al- ‘Ajaridah bersifat lebih lunak karena menurut paham mereka berhijrah bukanlah merupakan kewajiban sebagai diajarkan oleh Nafi’ Ibn al- Arzaq dan Najdah, tetapi hanya merupakan kebajikan. Dengan demikian kaum ‘Ajaridah boleh tinggal di luar daerah kekuasaan mereka dengan tidak dianggap menjadi Kafir. Di samping itu harta yang boleh dijadikan rampasan perang hanyalah harta orang yang telah mati terbunuh. Sedang menurut Al- Azariqah seluruh harta musuh boleh dijadikan rampasan perang. Seterusnya mereka berpendapat bahwa anak kecil tidak bersalah, tidak Musyrik menurut orang tuanya.

Selanjutnya aliran ‘Ajaridah ini mempunyai paham puritanisme. Surat Yusuf dalam Al- Qur’an membawa cerita cinta dan Al- Qur’an sebagai kitab suci kata mereka, tidak mungkin mengandung cerita cinta. Oleh karena itu mereka tidak mengakui surat Yusuf sebagai bagian dari Al- Qur’an.[36]

Sebagaimana Harun Nasution bahwa adapun aliran Khawarij yang radikal, antara lain aliran  Al- Ajaridah, mereka berpendapat:

  1. Tidak mengakui surat Yusuf termasuk ayat- ayat al- Qur’an.

…….أنهم ينكرون سورة يوسف من القرآن ويزعمون أنها قصة من القصص. قالوا ولا يجوز أن تكون قصة العشق من القرآن.[37]

Mereka mengingkari surat Yusuf sebagai bagian dari  Al- Qur’an, menganggapnya hanya merupakan dongeng belaka.mereka berpendapat bahwa tidak layak terdapat kisah cinta dalam Al- Qur’an.

  1. Aliran Al- ajaridah tidak menghalalkan harta bendanya, kecuali pemiliknya dibunuh. Berbeda sekali dengan aliran al- Azariqah yang menghalalkan harta benda orang yang menentangnya dalam segala keadaannya.
  2. Menghalalkan menikahi cucu perempuannya sendiri, dan cucu kemenakannya. Karena yang dilarang dalam Al- Qur’an ialah menikahi anak perempuannya sendiri atau menikahi kemenakan perempuan.

 

Sebagai golongan Khawarij lain, golongan ‘Ajaridah ini juga terpecah belah menjadi golongan- golongan kecil. Diantara mereka, yaitu golongan Al- Maimunah, menganut paham Qadariyah. Bagi mereka semua perbuatan manusia, baik dan buruk, timbul dari kemauan dan kekuasaan manusia sendiri. Golongan Al- Hamziyah juga mempunyai paham yang sama. Tetapi golongan Al- Sya’aibiyah dan Al- Hazimiah menganut paham sebaliknya. Bagi mereka Tuhanlah yang menimbulkan perbuatan- perbuatan manusia. Manusia tidak dapat menentang kehendak Allah.[38]

 

  1. Al- Sufriyah

Pemimpin Golongan ini adalah Ziyad Ibn Al- Asfar. Dalam faham, mereka dekat sama dengan golongan Al- Azariqah dan oleh karena itu juga merupakan golongan yang ekstrem. Hal- hal yang membuat mereka kurang ekstrem dari yang lain adalah pendapat- pendapat berikut:

  1. Orang Sufriyah yang tidak berhijrah tidak dipandang Kafir.
  2. Mereka tidak berpendapat bahwa anak- anak kaum musyrik boleh dibunuh.
  3. Selanjutnya tidak semua mereka berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar menjadi Musyrik. Ada sebagian mereka yang membagi dosa besar dalam dua golongan, dosa yang ada sangsinya di Dunia, seperti membunuh dan berzina, dan dosa yang tak ada sangsinya di Dunia, seperti meninggalkan sembahyang dan puasa. Orang yang berbuat dosa golongan pertama tidak dipandang Kafir. Yang menjadi kafir hanyalah orang yang melaksanakan dosa golongan kedua.
  4. Daerah golongan Islam yang tak sepaham dengan golongan mereka bukan Dar Al- Harb yaitu daerah yang harus diperangi; yang diperangi hanyalah Ma’askar atau camp pemerintah, sedang anak- anak dan perempuan tak boleh dijadikan tawanan.
  5. Kufr dibagi dua; Kufr Bin Inkar Al- Ni’mah yaitu mengingkari rahmat Tuhan dan Kufr Bi Inkar Al- Rububiyah yaitu mengingkari Tuhan. Dengan demikian term Kafir tidak selamanya harus berarti keluar dari Islam.

Disamping pendapat- pendapat di atas terdapat pendapat- pendapat yang spesifik bagi mereka;

  1. Taqiyah hanya boleh dalam bentuk perkataan dan tidak dalam bentuk perbuatan
  2. Tetapi sungguh pun demikian, untuk keamanan dirinya perempuan Islam boleh kawin dengan lelaki Kafir, di daerah bukan Islam.

 

  1. Al- Ibadiyah

Ciri khusus orang- orang Khawarij mempunyai pandangan yang radikal dan ekstrem, kecuali aliran Al- Ibadiyah yang pendapatnya agak moderat,. sebagaimana diterangkan:

وهم أكثر الخوارج اعتدالا وأقربهم إلى الجماعة الإسلامية تفكيرا فهم أبعدهم عن الشطط والغلو.[39]

Mereka adalah aliran Khawarij yang paling moderat, pendapat- pendapatnya kebanyakan benar, paling dekat pemikirannya dengan Ahlus Sunnah dan paling jauh dari pendapat- pendapat yang melampaui batas.

Diantara pendapat- pendapatnya adalah :[40]

 

Namanya diambil dari  ‘Abdullah Ibnu Ibad, ya pada tahun 686 M, memisahkan diri dari golongan Al- Azariqah.[41]

وجملة آراء الإباضية :

  • إن مخالفيهم من المسلمين ليسوا مشركين ولا مؤمنين ويسمونهم كفارا. ويقولون عنهم أنهم كفار نعمة لا كفار فى الاعتقاد وذلك لأنهم لم يكفروا بالله ولكنهم قصروا فى جنب الله تعالى.
  • دماء مخالفيهم حرام، ودارهم دار توحيد وإسلام إلا معسكر السلطان. ولكنهم لا يعلنون ذلك. فهم يسرون فى أنفسهم أن دار المخالفين ودماءهم حرام.
  • لا يحل عن غنائم المسلمين الذين يحاربون إلا الخيل والسلاح وكل ما فيه من قوة فى الحروب ويردون الذهب والفضة.
  • تجوز شهادة المخالفين ومناكحتهم والتراوث بينهم.

 

Adapun pokok- pokok pikiran aliran Al- Ibadiyah adalah :

  1. Sesungguhnya orang Islam yang menentangnya bukanlah Musyrik dan bukan pula Mukmin. Mereka menanamkannya Kafir. Tetapi mereka dikatakan kafir nikmat, bukan kafir I’tikad karena mereka itu tidak kufur kepada Allah SWT, tetapi bersalah kepada Allah SWT.
  2. Darah orang yang menentangnya adalah haram, negerinya adalah negeri Tauhid dan Islam, kecuali gedung angkatan perang. Tetapi yang demikian itu tidak mereka umumkan, mereka merahasiakannya bahwa negeri orang yang menentangnya dan darah mereka itu haram.
  3. Tidak halal mengambil harta rampasan perang orang Islam yang ikut berperang kecuali kuda , senjata dan peralatan perang lainnya dan mereka mengembalikan emas dan perak.
  4. Menerima kesaksian orang- orang yang menentangnya, mengawininya dan saling waris- mewarisinya.”

 

Tidak mengherankan kalau paham moderat seperti digambarkan di atas membuat ‘Abdullah Ibnu Ibad tidak mau turut dengan golonga Al- Azariqah dalam melawan pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. Bahkan ia mempunyai hubungan yang baik dengan Khalifah ‘Abd Malik Ibn Marwan. Demikian pula halnya dengan Jabir Ibnu Zaid al- Azdi, pemimpin Ibadiyah sesudah Ibnu Ibad, mempunyai hubungan baik dengan Al- Hajjaj, pada waktu yang tersebut akhir ini dengan kerasnya memerangi golongan- golongan Khawarij yang berpaham dan bersifat ekstrem.

Oleh karena itu, jika golongan Khawarij lainnya telah hilang dan hanya tinggal dalam sejarah, golongan Al- Ibadiyah ini masih ada sampai sekarang dan terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, Umman dan Arabia selatan.[42]

Adapun golongan- golongan Khawarij ekstrem dan radikal, sungguh pun mereka sebagai golongan telah hilang dalam sejarah ajaran- ajaran ekstrem mereka masih mempunyai pengaruh, walaupun tidak banyak, dalam masyarakat Islam sekarang.

 

  1. Kesimpulan

Dari uraian- uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Para Ulama berbeda pendapat mengenai kemunculan Aliran Khawarij, ada yang mengatakan sejak zaman Nabi SAW, sejak Khalifah Utsman dan ada juga yang mengatakan sejak pasca peperangan yang terjadi antara Ali a.s. dan Mu’awiyah, namun dari referensi yang penulis baca, mayoritas berpendapat bahwa aliran ini muncul sejak pasca peperangan (Tahkim) antara Ali a.s. Dan Mu’awiyah.
  2. Ajaran Khawarij adalah :
  1. Aliran Al- Muhakkimat :
  • Menganggap ‘Ali ra., Mu’awiyah, kedua pengantara Amr Ibnu ‘Ash dan Abu Musa Al- Asy’ari dan semua orang yang menyetujui arbitrase bersalah dan menjadi Kafir dan telah melakukan dosa besar.
  • Orang Islam yang melakukan dosa besar seperti berzina, membunuh sesama manusia tanpa sebab yang sah, dan dosa besar lainnya dianggap telah Kafir (Keluar dari Islam)

 

  1. Aliran Al- Azariqah :
  • Mereka menganggap Kafir sebagai orang yang Musyrik (dianggap dosa terbesar)
  • Menganggap Musyrik orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka termasuk orang Islam yang tinggal di luar lingkungan mereka.
  • Anak isteri orang- orang yang dianggap Musyrik boleh ditawan dan dijadikan budak atau dibunuh.
  • Mereka menganggap hanya merekalah orang yang Islam selain kelompok dari mereka dianggap Musyrik
  • Dar Islam hanya daerah mereka, di luar daerah mereka dianggap Dar al- Kufr yang wajib diperangi.

 

  1. Aliran An- Najdat
  • Mengnggap tidak halal membunuh anak isteri orang- orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka.
  • Orang yang berdosa besar yang menjadi Kafir dan kekal dalam neraka hanyalah orang Islam yang tak sepaham dengan golongannya. Adapun pengikutnya jika melakukan dosa besar, betul akan mendapat siksaan, tetapi bukan dalam Neraka, dan kemudian akan masuk Surga.
  • Dosa kecil baginya akan menjadi dosa besar, kalau dikerjakan terus menerus dan yang mengerjakannya sendiri menjadi Musyrik
  • Mereka menganggap bahwa yang harus dipelajari adalah bagaimana mengetahui Allah dan Rasul- Rasul- Nya, mengetahui haram membunuh orang Islam dan percaya pada seluruh apa yang diwahyukan Allah SWT kepada Rasul- Nya, orang yang tidak mengetahui ini tak dapat diampuni.
  • Taqiyah (Merahasiakan dan tidak menyatakan keyakinan untuk keamanan diri seseorang) menurutnya bukan hanya dalam bentuk ucapan, tetapi juga dalam perbuatan.

 

  1. Aliran Al- ‘Ajaridah
  • Berhijrah bukanlah kewajiban akan tetapi merupakan kebajikan, dan tidak dianggap kafir orang Islam yang tetap tinggal di luar daerah kekuasaannya.
  • Harta yang boleh dijadikan rampasan perang hanyalah harta orang yang telah mati terbunuh.
  • Mereka menganggap anak kecil tidak bersalah, tidak Musyrik menurut orang tuanya.
  • Surat Yusuf dalam Al- Qur’an membawa cerita Cinta dan Al- Qur’an sebagai kitab suci kata mereka, tidak mungkin mengandung cerita Cinta. Oleh karena itu mereka tidak mengakui surat Yusuf sebagai bagian dari Al- Qur’an

 

  1. Aliran Al- Sufriyah
  • Orang Sufriyah yang tidak berhijrah tidak dipandang Kafir.
  • Mereka tidak berpendapat bahwa anak- anak kaum Musyrik boleh dibunuh.
  • Mereka membagi dosa besar dalam dua golongan, dosa yang ada sangsinya di Dunia, seperti membunuh dan berzina, dan dosa yang tak ada sangsinya di Dunia, seperti meninggalkan sembahyang dan puasa. Orang yang berbuat dosa golongan pertama tidak dipandang Kafir. Yang menjadi kafir hanyalah orang yang melaksanakan dosa golongan kedua.
  • Daerah golongan Islam yang tak sepaham dengan golongan mereka bukan Dar al- Harb, yang diperangi hanyalah Ma’askar atau camp pemerintah,
  • Anak- anak dan perempuan tak boleh dijadikan tawanan.
  • Mereka membagi kufur menjadi dua yaitu Kufr Bin Inkar Al- Ni’mah dan Kufr Bi Inkar Al- Rububiyah.
  • Berbeda dengan aliran An- Najdah, Taqiyah menurut mereka hanya boleh dalam bentuk perkataan dan tidak dalam bentuk perbuatan.
  • Perempuan Islam diperbolehkan kawin dengan lelaki Kafir di daerah bukan Islam.

 

  1. Aliran Al- Ibadiyah
  • Tidak menganggap Musyrik maupun Kafir orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka.
  • Daerah orang Islam yang tak sepaham dengan mereka kecuali camp pemerintah merupakan Dar At- Tauhid, daerah yang meng Esa- kan Tuhan, dan tak boleh diperangi.
  • Mengerjakan dosa besar tidak membuat orang keluar dari Islam.
  • Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah kuda dan senjata, emas dan perak harus dikembalikan kepada orang empunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Zahrah. Tt. Taarikh Al- Madzahib Al- Islamiyah. Libanon: Daar Al- Fikr Al- Aroby

Abdul Raziq, Muhammad Isma’il, DR. 1985. Al- Khawarij Fii Biladil Maghrab. Maghribi: Daar Al- Tsaqofah.

Al- ‘Asy’ari, Al- Imam Abil Hasan ‘Ali bin Isma’il. 1990. Maqolat Al- Islamiyah wa Al- Ikhtilaf al- Mushallin. Beirut: Maktabah Al- ‘Ishriyah.

Al- Baghdadi. Tt. Al- Faraq baina al- firaq. Kairo:

Ali, Atabik dan Ahmad Zuhdi Muhdlor. 1996. KAMUS KONTEMPORER ARAB- INDONESIA. Yogyakarta: Multi karya grafika.

Ali Subelih. 1991. Al– Fisal Fi Al- Ahwa Wa Al- Nihal . Kairo:

Amin, Ahmad. 1969. Fajrul Islam. Beirut: Daar Al- Kitab Al- ‘Arabiy.

Nasir, Salihun A.. 1991. Pengantar Ilmu Kalam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

                               . 2010. Pemikiran Kalam Teologi Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Nasution Harun. 2010.  Teologi Islam, Aliran- aliran sejarah analisa perbandingan. Jakarta: UI Press.

Syahrastani, Muhammad Abdul Karim bin Abi Bakar Ahmad. 2005.  Al- Milal Wa An- Nihal . Beirut: Daar Al- Fikr.

Ghalib bin Ali ‘Awaji. 2001. Firaq Al- Mu’ashirah. Jeddah: Al- Maktabah Al- ‘Ishriyah Al- Dzahabiyyah

 

 

 

[1] Muhammad Abu Zahrah, Taarikh Al- Madzahib Al- Islamiyah (Daar Al- Fikr Al- Aroby, tt) hlm.68

[2] Ghalib bin Ali ‘Awaji, Firaq Al- Mu’ashirah (Jeddah: Al- Maktabah Al- ‘Ishriyah Al- Dzahabiyyah, 2001), hlm. 225

[3] Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, KAMUS KONTEMPORER ARAB- INDONESIA (Yogyakarta, Multi karya grafika, 1996), hlm. 863

[4] Muhammad Abdul Karim bin Abi Bakar Ahmad Syahrastani, Al- Milal Wa An- Nihal (Beirut: Daar Al- Fikr, 2005), hlm. 92

[5] Ibid.,hlm. 92

[6] Ghalib bin ali ‘Awaji,………………..hlm. 225

[7] An- Nisa’ : 100

[8] Al- Baqarah 207

[9] Salihun A. Nasir, Pemikiran Kalam Teologi Islam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010)

[10] Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran- aliran sejarah analisa perbandingan (Jakarta: UI Press, 2010)

[11] Ghalib bin Ali ‘Awaji, Firaq Al- Mu’ashirah (Jeddah: Al- Maktabah Al- ‘Ishriyah Al- Dzahabiyyah, 2001), hlm. 232

[12] Abu Zahrah, Tarikh Al- Madzahib Al- Islamiyah (Daar Al- Fikr Al- Aroby, tt), hlm. 61

[13] Salihun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1991), hlm.92

[14] Ibid., hlm. 126

[15] Ibid., hlm. 130

[16] Abu ZahrahTarikh ,hlm. 65

[17] As- Syahartsani, Al- Milal Wa An- Nihal, Juz I, hlm. 161

[18] Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI Press, 2010)

[19] An- Nisa’ . 31

[20] Al- Baghdadi, Al- Farq, hlm. 73

[21] Sahilun A.Nasir, Pemikiran Kalam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 134

[22] Ibid., hlm. 135

[23] Amin, Dluha, Juz III, hlm. 259

[24]  Ibid.,

[25] Muhammad Abdul Karim bin Abi Bakar Ahmad Asyahartsani, Al- Milal Wa an- Nihal (Libanon: Daar Al- Fikr, 2005)

[26] Al- Baghdadi, Al- Faraq baina al- firaq (Kairo: tt), hlm. 7- 115

[27] Maqalat, 157- 196

[28] Harun Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI Press, 2010), hlm. 17

[29] Ali Subelih, Al– Fisal Fi Al- Ahwa Wa Al- Nihal (Kairo: )hlm. 30

[30] Al- Farq, 87

[31] Harun Nasution, Teologi Islam…………….., hlm. 18

[32] Ibid.,

[33] Almilal hal. 123 dan maqalat hlm. 163

[34] Harun Nasution, Teologi Islam………………., hlm. 19

[35] Ibid.,

[36] Ibid., hlm. 20

[37] Asy- Syahartsani, , Al-Milal Wa An- Nihal (Libanon: Daaru Fikr, 2005), hlm. 128

[38] Ibid.,

[39] Abu zahrah, tarikh, hlm. 85

[40] Ibid.,

[41] Ibid., hlm. 22

[42] Ibid., hlm. 23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *