JIWA YANG TENANG

Assalamu’alaikum w.w.

“Why do we only rest in peace, why don’t we live in peace too ?.”
(“Mengapa kita hanya tenang setelah kematian, mengapa tidak hidup juga dalam ketenangan.”)

Di hiruk-pikuk akhir zaman ini dengan segala permasalahan dan fitnah yang merajalela, amatlah mudah mengusik ketenangan hati dan pikiran.

Bawalah bekal keimanan kepada Allah swt dalam menjalani hidup agar memiliki kearifan dan hati yang seluas samudra untuk senantiasa bersabar dan berlapang dada.

Sesungguhnya ketenangan hiduplah yang menjadi kunci meraih ketenangan kematian.

Allah berfirman yang diabadikan dalam Al Qur’an,:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ — ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
[To the righteous it will be said], “O reassured soul, — Return to your Lord, well-pleased and pleasing [to Him],
(“Wahai Jiwa yang Tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya.”) (QS. Al-Fajr: 27-28).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya, hati tidak akan (merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan melakukan ketaatan kepadaNya)…. barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dariNya, kelezatan dariNya, kemuliaan dariNya, dan kebahagiaan dariNya untuk selama-lamanya.”

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum w.w.

Dr. Imam Syaukani, MA

geladeri.com

Tinggalkan Balasan

Next Post

Hukum puasa Tarwiyah

Rab Jul 31 , 2019
Para ulama menfatwakan bahwa puasa sepuluh hari (kecuali hari Ied) dari awal bulan Dzulhijjah hukumnya sunnah, berdasarkan hadits : عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ […]