Kaum Takfiri, Madrasah Zahiri Al Judud

Oleh : Abu Fatih Jaulani

Secara umum, ahli hadist dan riwayat lebih dekat dengan literalisme daripada ahli fiqih dan dirayah, untuk itu, setelah zaman sahabat, ahli fiqih terbagi dalam dua madrasah: madrasah hadist dan atsar lalu madrasah akal dan qiyas, kebanyakan ahli atsar tinggal di Hijaz, dan ahli akal tinggal di Iraq.

Dulu madrasah atsar mencoba mengambil faedah dari madrasah akal, sebagaimana As-Syafi’i mengambil faedah dari buku-buku bin Hasan, ibnu Mubarak dan imam-imam ahli hadist lainnya.

Madrasah akal adalah hasil tarbiyah Ibnu Mas’ud, sedangkan Madrasah Ahli Atsar hasil tarbiyah Ibnu Umar, kamudian kedua madrasah ini semakin dekat, tepatnya, ketika murid-murid Abu Habifah yang merupakan wakil dari madrasah akal mengambil faedah dari madrasah atsar.

Tetapi masih ada saja orang yang fanatik menuduh dan menyerang dengan keras Abu Hanifah sebagaimana terdapat di kitab Assunah dan tarikh bahgdad, padahal Abu Hanifah bukan pencipta madrasah akal, dia hanyalah pewaris madrasah fiqh yang ada di Kufah hasil didikan Ibnu Mas’ud.

Ibnu Mas’ud sebagaimana di riwayatkan oleh Al-Bukhari

وَفُقَهَاؤُكُمْ يَذْهَبُونَ، ثُمَّ لَا تَجِدُونَ مِنْهُمْ خَلَفًا، وَيَجِيءُ قَوْمٌ يَقِيسُونَ الْأُمُورَ بِرَأْيِهِمْ

“para ahli fiqh kalian telah tiada, kemudian kalian tidak mendapatkan penggantinya. Sehingga, sebuah kaum menganalogikan segala hal dengan akal mereka (lihat Ibnu Hajar Fathul Bari (13/283)

Literalisme agama memang dekat dengan ahli Atsar sebagaimana ungkapan Dr. Yusuf Qardhawi, di era modern sekarang memang para penganut madrasah atsar banyak hafal hadist bahkan kutubus sittah sekalipun, tetapi banyak juga melupakan maksud-maksud syariat, hukum, hikmah dan maslahat.

Misalnya ketika menjelang Idul Fitri mereka akan muncul fatwa nyelenehnya tentang Zakat fitrah harus dengan beras alasannya zakat dengan uang kertas tidak dikenal Alquran dan As-Sunnah, mereka beralasan mengikuti Alquran dan As-Sunna, mereka tetap bersikukuh harus berupa biji, gandum, jagung, beras, kurma, dan kismis, mereka mengharamkan selain berang tersebut, barang siapa zakat fitrah berupa uang maka zakatnya batil, menyalahi sunnah.

Padahal perkara ini perkara ikhtilaf, bagaimana dalam perkara mereka menaikkan bendera wala wal barra’, padahal ahli fiqh tidak hanya mengambil jenis makanan yang ada didalam sunnah, tetapi mereka mengqiyaskan mekanan yang ada didalam sebuah negeri, atau bahkan membolehkan dengan uang, terutama jika ia lebih bermanfaat bagi si faqir, pendapat ini adalah pendapat mazhab Hanafi, khalifah Al-Rasyid Umar bin Abd Aziz, karena inti dari syariat ini adalah kecukupan orang faqir di hari yang mulia ini.

Padahal dengan uang bisa lebih manfaat dengan membelikan daging sapi, ayam dan bumbunya, hal tersebut, tiada lain demi menjaga maqosid Nash, inilah fiqh yang benar lagi kuat. Sampai disini terkadang Islam terzalimi oleh orang saleh dari pada musuhnya sendiri karena mereka tidak memahami tujuan Syariat itu sendiri.

Jangan heran jika neo Zhahiri jaman ini terjadi kontradiksi, meski secara literal ia melaksanakan sunnah, mereka hanya memgikuti jasad sunnah dan mengeyampingkan ruhnya, padahal waktu itu, Rasulullah melihat kondisi lingkungan dan waktu itu, sehingga beliau mewajibkan Zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan, karena waktu itu, hal tersebut lebih mudah bagi orang untuk mengeluarkannya dan lebih bermanfaat bagi orang yang mendapatkannya.

Padahal uang saat itu menjadi barang yang langka bagi bangsa Arab terutama bagi orang-orang kampung. Dengan demikian, memberikan makanan lebih mudah bagi mereka. Dan orang faqir pun lebih membutuhkannya. Sehingga, diwajibkanlah zakat dari barang yang mudah bagi mereka dan lebih dibutuhkan. ya akhi, ini baru masalah zakat, belum dalam masalah politik, Jihad, darah dan harta lainya.

Mazhab Zhahiri adalah mazhab yang menolak Qiyas, Qiyas berarti mempertemukan sesuatu yang tidak ada nash hukumnya dengan hal lain yang ada nash hukum nya kerena persamaan hukumnya. berhubung qiyas aktifitas akal, maka ada beberapa ulama berselisih paham dengan ulama jumhur, yakni mereka yang tidak mempergunakan qiyas.

Mazhab Zhahiriyah tidak mengakui adanya illath nash dan tidak berusaha mengetahui sasaran nash dan tujuan nash, mereka membuang jauh-jauh, mereka menetapkan hukum dari teks semata. misal nya masalah siwak untuk gigi dan dengan sikat gigi modern saat ini, tujuan dari itu semua adalah kebersihan tetapi dengan sarana yang berbeda.

Saya menyimpulkan para takfiri hari merupakan lulusan Madrasah Zhahiri al Judud, dalam bidang politik mereka yang paling ringan misalnya mengharamkan demokrasi sementara yang paling ekstrem mereka mengkafirkan pelakunya, satu level di bawah Khawarij Merah Jambu…Waallahu Alam

geladeri.com

Tinggalkan Balasan

Next Post

Pendapat Rektor ITS, Tentang Wacana Rektor Asing

Jum Agu 2 , 2019
Menyoal Wacana Rektor Asing Oleh: Joni Hermana (Rektor ITS 2015-2019) Ketika baru-baru ini Menteri Ristekdikti menyampaikan gagasan tentang mengimport rektor dan dosen asing untuk menaikkan posisi ranking PTN (Perguruan Tinggi […]