Azan Shalat Rawatib Shallu Fii Buyuutikum

Pada dasarnya, mengumandangkan azan dan iqamah merupakan syiar Islam, di samping sebagai pemberitahuan tanda masuknya waktu shalat fardhu bagi umat Islam. Hukum dasarnya adalah sunnah. Bahkan, menurut Mazhab al-Syafi’i dan Hanbali, azan dan iqamah pun dianjurkan ketika hendak shalat sendirian (munfarid), meski dengan suara pelan yang cukup didengarkan oleh diri

kita sendiri. Persoalannya adalah bagaimana mengumandangkan azan di saat adanya pandemi semisal Covid-19 saat ini, di mana terdapat imbauan dari Pemerintah ataupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas masukan dari ahli kesehatan untuk menerapkan pengaturan jarak fisik ataupun sosial (physical/social distancing) agar dapat memutus rantai penyebaran Covid-19. Di satu sisi, kumandang azan adalah panggilan untuk shalat berjamaah (hayya ‘ala shalah). Di lain sisi, kita dilarangberjamaah di masjid karena tentu akan mengumpulkan banyak orang yang melanggar penerapan physical distancing.

Sebenarnya, bagian tertentu di lafal azan pada masa pandemi dapat saja berubah, misalnya lafal “hayya ala shalah” diganti dengan redaksi shallu fi buyutikum atau shallu fi rihalikum yang artinya“shalatlah di rumah atau kediaman kalian”, sebagaimana diriwayatkan sahabat Ibn ‘Abbas. Adapun sahabat Ibn ‘Umar mengumandangkan azan sebagaimana biasanya kemudian menambahkan dengan lafal shallu fi buyutikum atau shallu fi rihalikum di akhir azan.

Tentu saja, perlu pemakluman kepada masyarakat tentang ini secara cermat. Kontroversi alias komentar ketidaksetujuan dari yang belum mengetahui kebolehan azan seperti ini akan muncul. Perlu pemakluman juga bahwa kumandang azan dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini hanya berfungsi sebagai penanda masuknya waktu, bukan panggilan untuk berjamaah di masjid. Karena tujuan utama penambahan lafal demikian adalah agar tetap shalat di rumah, masyarakat atau jamaah masjid sekitar yang sudah memahami dan patuh untuk tidak shalat berjamaah di masjid, azan tetap dikumandangkan seperti biasanya tanpa perubahan ataupun penambahan lafal  seperti di atas.

Kita diminta untuk shalat di rumah masing-masing secara berjamaah dengan anggota keluarga. Dalam kondisi darurat seperti ini, kebiasaan berjamaah dan niat tulus kita untuk shalat berjamaah di masjid akan dihitung berjamaah di masjid oleh Allah SWT, meski kita hanya melakukannya di rumah.

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan