Meninggalkan Shalat Jumat Berkali-kali Selama Merebaknya Pandemi

Tidak jumatan bagi yang wajib Jumat tanpa uzur yang dibenarkan oleh syariat adalah tergolong dosa. Sejumlah Riwayat hadits menyebutkan tentang itu, di antaranya “Siapa yang meninggalkan tiga kali shalat jumat karena meremehkan, niscaya Allah SWT menutup hatinya”. (HR. alTurmudzi, al-Thabarani, dan al-Daruquthni).

Hadits lain menyebutkan, “Siapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa uzur, niscaya ia tergolong orang munafiq” (HR. al-Thabarani). Kita perlu mencermati redaksi kedua hadits tersebut terutama pada kata tahawunan biha dan bila udzr. Keduanya menggariskan bahwa meninggalkan shalat Jumat yang dimaksudkan adalah karena “meremehkan” dan “tanpa uzur”. Ketika tidak jumatan bukan karena meremehkan atau karena adanya uzur, maka itu bukan yang dimaksud dalam hadits tersebut.

Beberapa uzur yang membolehkan tidak jumatan adalah hujan lebat yang sekiranya dapat
membasahi pakaiannya dan menghalanginya melakukan shalat, salju, cuaca yang sangat
dingin, sakit yang menyulitkannya ikut berjamaah di masjid, kekhawatiran adanya
gangguan keselamatan jiwa, kehormatan diri, dan harta bendanya jika ia ikut jumatan. Covid-
19 tergolong salah satu uzur karena kekhawatiran menulari atau tertular virusnya ketika ikut jumatan yang notabene mengharuskan dilaksanakan berjamaah.

Jangankan tiga kali, lebih dari itu pun jika memang kondisi merebaknya Covid-19 belum berubah ke situasi yang aman, maka tidak melaksanakan jumatan diganti dengan shalat dhuhur empat rakaat di rumah masing-masing. Ini adalah keringanan atau dispensasi (rukhshah) dalam syariat Islam jika terdapat uzur.

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan