Mengenakan Masker dalam Shalat

Dalam shalat, terutama saat sujud, terdapat tujuh anggota badan yang merapat ke lantai tempat shalat. Ketujuh anggota badan tersebut adalah dahi termasuk hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua jari kaki. Terkait hidung, ada yang memasukkannya sebagai bagian dari dahi dan ada juga yang tidak memasukkannya.

Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ menyatakan makruh shalat menggunakan litsam (atau bahasa kekinian kimamah/masker), dengan dalil bahwa “Rasulullah SAW melarang seseorang shalat dengan
menutup mulut” (HR. Abu Daud).

Dalam situasi pandemi Covid-19, penggunaan masker sangat penting dilakukan untuk mencegah masuknya virus ke dalam mulut dan hidung. Sementara itu, lantai tempat shalat terkadang tidak bisa
dipastikan apakah terdapat virus di atasnya atau tidak. Dalam kaidah fiqhiyah ditegaskan bahwa pencegahan bahaya terhadap bahaya lebih diprioritaskan.

Atas dasar itu, penggunaan masker saat shalat di tempat yang tidak bisa dipastikan steril dapat dibenarkan. Kondisi darurat membolehkan penggunaannya. Adapun jika dipastikan bahwa tempat shalat tersebut steril, maka penggunaan masker tidak perlu dan tidak dianjurkan. Karena masker tidak termasuk hiasan (zinah) yang dianjurkan saat menghadiri atau melaksanakan shalat.

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan