Qunut Nazilah Untuk Korban Pandemi

Qunut Nazilah untuk korban pandemic

Secara semantik, qunut berarti “ketaatan”, “shalat”, “diam”, “berdiri”, dan “berdoa”. Dalam arti “doa” inilah yang lebih dikenal. Secara syariat, qunut berarti “nama dari sebuah doa yang dibacakan di waktu berdiri dalam shalat pada waktu tertentu”. Adapun arti nazilah yaitu musibah yang menimpa, seperti adanya pandemi, kekeringan, bahaya yang meliputi kaum Muslimin, baik secara keseluruhan maupun di kawasan tertentu.

Pembacaan doa qunut nazilah di tengah merebaknya Covid-19 yang menyerang banyak kaum muslimin di banyak negara sangat baik untuk dilaksanakan setiap waktu shalat, terlebih telah dianjurkan oleh MUI atas pertimbangan Covid-19 ini sudah masuk kategori musibah besar yang menimpa kaum Muslimin.

Qunut Nazilah pertama kali dicontohkan Rasulullah SAW setelah peristiwa pembantaian 70 sahabat dari kalangan Anshar yang diutus ke Najd di Bi’r Ma’unah tahun IV H. Hukumnya Sunnah menurut
Mazhab Syaf i’i. Dalilnya adalah hadits, “Sungguh Rasulullah SAW membaca doa qunut (nazilah) selama sebulan karena (tragedi) terbunuhnya para Qurra’ (ahli alQur’an)”. (HR. al-Bukhari & Muslim).

Adapun bacaan doa qunut nazilah tidak ada bacaan tertentu, sehingga dapat dibacakan doa sesuai konteksnya. Namun, lebih baik jika membaca doa qunut shalat subuh yang populer. Dalam shalat berjamaah, baik shalat dengan bacaan jahr (subuh, magrib, dan isya) maupun sirr (zhuhur dan ashar) imam membaca doa qunut nazilah secara jahr (suara yang terdengar), sedangkan makmum mengaminkan tanpa perlu membaca doa qunut secara mandiri.

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan