Shalat Berjamaah di Masjid, di masa wabah

Pada dasarnya menjaga jiwa dari tertularnya virus yang mematikan hukumnya wajib. Memprioritaskan yang wajib daripada yang sunnah adalah lebih baik. Jika ada yang tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid dengan jarak makmum berjauhan dengan niat menghindari kontak fisik, itu dapat mengurangi keutamaan shalat jamaah kita.

Shalat berjamaah mensyaratkan rapih dan rapatnya shaf (taswiyah al-shufuf). Ulama Hanaf i, Maliki, Syaf i’i, dan Hanbali menyatakan hukum taswiyah shufuf adalah mustahab, bukan wajib, sehingga sehingga meninggalkan kerapihan dan rapatnya shaf dalam shalat jamaah tidak membatalkan shalat. Salah satu argumentasinya adalah lafal hadits “kerapihan shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat” (HR. al-Bukhari). Kata tamam yang berarti “kesempurnaan” adalah bersifat tambahan, di luar dari yang semestinya, sehingga tidak membatalkan shalat jika meninggalkannya. Meski ada ulama
yang membolehkan shaf jamaah yang renggang dalam kondisi darurat, namun sikap hati-hati kita harus lebih diutamakan.

Banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan semisal belum adanya jaminan siapa yang sudah atau tidak tertular dari jamaah yang hadir, dan adanya pengidap yang tanpa gejala, dan selainnya. Kita perlu memahami dengan baik maksud hadits “Hindarilah wabah penyakit seperti larimu (menghindari) kejaran macan” (HR. al-Bukhari). Kita diminta menghindari semaksimal secara serius penyakit, terlebih virus Covid-19 yang sangat mudah menular dan mematikan ini.

Hadits lain menyebutkan “Bagi yang makan bawang merah atau bawang putih, hendaknya ia
menjauhi kami atau menjauhi masjid kami” (Muttafaq ‘Alaih). Maksudnya, bukan makan bawang merah atau bawang putih yang terlarang, tetapi baunya yang dapat
mengganggu jamaah yang lain.

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan