Syiar Ramadhan di masa pandemi

Ramadhan adalah bulan yang paling meriah dan paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Beberapa keistimewaan bulan Ramadhan sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an dan al-Sunnah adalah penghulu segala bulan (sayyid al-syuhur), bulan alQur’an (syahr al-Qur’an), bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka (rahmah, magfirah, ‘itqun min an-nar), terbukanya pintu-pintu surga dan tertutupnya pintu-pintu neraka, setan terbelenggu, kesempatan mendapatkan tiket pintu surga untuk yang berpuasa (Bab al-Rayyan), ganjaran pahala yang tidak terbatas), pahala ibadah fardhu berlipat minimal 10 kali dan ibadah sunnah berpahala seperti fardhu, serta hal yang mubah mendapatkan pahala sunnah, dan terdapat Lailatul Qadar yang kemuliaannya melebihi 1000 bulan.

Khusus di Indonesia, Ramadhan membawa suasana semarak dengan berbagai kegiatan ibadah dan pernik budaya. Ada ziarah kubur menjelang Ramadhan, buka puasa bersama, tarwih keliling, pawai bedug takbiran, yang diakhiri dengan silaturahmi setelah berlebaran. Namun, Ramadhan 1443 H/2020 M tahun ini, pandemik Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, telah merusak pelbagai tatanan kehidupan, baik sosial, politik, budaya, bahkan keagamaan.

Tahun ini, segala kesemarakan dan syiar Ramadhan harus diredam. Kita berharap semoga hanya tahun ini umat Islam menjalani Ramadhan dengan lebih banyak di rumah (stay at home). Pasalnya, prinsip Islam mendudukkan posisi keselamatan jiwa manusia di posisi tinggi dan prioritas. Akibatnya, setiap hal yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa manusia harus dihindari, termasuk syiar Ramadhan yang melibatkan partisipan dan kerumunan massa.

Terlepas dari itu, syiar Ramadhan tidak berarti menghentikan ghirah Ramadhan kita. Kerinduan kita akan Ramadhan seperti biasanya akan semakin terasa dengan Pandemi Covid-19 ini. Suasana berpuasa dengan banyak di rumah akan memberi banyak waktu untuk memperbanyak bacaan
al-Qur’an, zikir, belajar, bekerja dari rumah, shalat sunnat, dan semakin dekat dengan keluarga, berbagi takjil, bersedekah kepada orang yang berkekurangan, terutama yang terdampak Covid-19 ini. Semoga pandemic Covid-19 ini segera berlalu.[]

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan