Buka Puasa Bersama di masa pandemi

Buka puasa bersama adalah momentum berbuka puasa di mana kaum muslimin berkumpul di suatu tempat, baik di masjid, rumah, kantor, ruang terbuka, dan selainnya secara bersama. Biasanya penyediaan suguhan berbuka puasa berupa makanan dan minuman dilakukan oleh perorangan, beberapa orang, ataupun institusi. Ini sejalan dengan tuntunan syariat Islam yang mulia dan pelakunya akan memperoleh banyak pahala dan kebajikan. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Turmudzi)

Dalam kondisi normal, kegiatan buka puasa bersama atau buka bersama merupakan agenda tahunan umat Islam, baik secara individu maupun instansi. Individu atau keluarga yang berkecukupan dan berkemampuan berusaha untuk mengadakan acara buka bersama di rumahnya dengan mengundang tetangga, kerabat, kolega, dan
terutama kaum dhuafa’.

Dalam masa pandemik Covid-19, kegiatan buka bersama ditiadakan atau dilarang oleh pemerintah, karena berkumpulnya banyak orang dalam kegiatan tersebut. Pelarangannya bukanlah pada berbuka puasa bersama, melainkan pada konteks berkumpunya banyak orang.

Hal ini untuk menyelematkan umat dari penularan virus. Prinsip Islam adalah mencegah bahaya lebih utama daripada mengusahakan kebaikan atau pahala. Pada Ramadhan tahun ini, umat Islam
dapat menyelenggarakan buka puasa bersama tanpa harus mengumpulkan orang berpuasa (sha’imun).

Caranya adalah dengan menyiapkan makanan dan minuman sebagaimana biasanya, dan dikirimkan ke rumah orang yang berpuasa. Insya Allah, cara ini tidak dilarang asalkan memerhatikan
protokol kesehatan dan keselamatan yang berlaku. Dengan begitu, keutamaan dan kebaikan yang diniatkan dapat tercapai. Tentu saja, cara ini tidak sesemarak buka bersama pada kondisi normal. Namun, niat dan pahala akan diperoleh oleh orang-orang yang ikhlas melakukannya.[]

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan