Iktikaf di masa pandemi

Iktikaf bermakna “berdiam”. Ibadah iktikaf adalah kegiatan berdiam di masjid untuk jangka waktu tertentu. Iktikaf dimaksudkan sebagai media seseorang meninggalkan aktivitas duniawi dan memfokuskan diri untuk beribadah. Waktu untuk beriktikaf tidakdibatasi. Boleh hanya beberapa saat, beberapa jam, atau berhari-hari. Selain dari ibadah shalat, zikir, dan membaca al-Qur’an, unsur penting dalam iktikaf adalah merenungkan hakikat kehidupan dan kehambaan (muhasabah).

Rasulullah SAW mencontohkan iktikaf setiap bulan Ramadhan pada 10 (sepuluh) malam terakhir di bulan Ramadhan. Iktikaf harus dilakukan di masjid dan dalam kondisi suci dari hadas besar. Dalam keadaan iktikaf, seseorang hanya boleh meninggalkan masjid untuk urusan yang urgen, misalnya makan atau ke kamar kecil.

Dalam masa pandemi Covid-19 ini, kemungkinan masjid ditutup untuk iktikaf, untuk menghindari kerumunan orang yang berpotensi menyebabkan penularan penyakit. Artinya, tidak mungkin beriktikaf di tempat selain masjid, karena kehilangan salah satu rukunnya.

Jika hendak memperoleh manfaat iktikaf, maka mengondisikan rumah seolah olah sebagai tempat iktikaf dapat saja dilakukan. Tetapi, ini tidak bisa disebut iktikaf, meski manfaatnya dapat saja diperoleh, terutama dengan muhasabah, bertafakkur merenungkan dosa-dosa, beristigfar, berzikir,
memperbanyak bacaan al-Qur’an, dan melakukan shalat-shalat sunnah.

Shalat sunnah dapat berupa shalat sunnah rawatib, shalat hajat, shalat sunnah wudhu, ataupun shalat sunnah saja (muthlaq). Jadi, meskipun tidak dapat disebut sebagai iktikaf, namun pengondisian jiwa dan rumah tinggal seperti itu dapat mendatangkan manfaat iktikaf, terutama dalam aspek pensucian diri (tazkiyah nafs).[]

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan