Tarawih dan Witir Berjamaah di masa pandemi

Ibadah shalat tarwih berjamaah di masjid merupakan salah satu ibadah unggulan di bulan suci Ramadhan. Umumnya, para pengurus masjid (DKM) telah menyiapkan imam dan penceramah pilihan. Masyarakat atau jamaah dapat mengikuti shalat tarwih dengan mudah, khusyu, dan mendapatkan nasihat atau pencerahan dari para ustad ataupun kiai yang memberikan ceramah
dengan topik-topik yang menarik.

Pada situasi pandemik Covid-19 ini, kegiatan shalat tarwih berjamaah kemungkinan ditiadakan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk shalat tarwih di rumah masing-masing, meski tidak semua
umat Islam terbiasa melakukan shalat tarwih secara mandiri di rumah, baik individu maupun berjamaah dengan keluarga.

Berikut ini beberapa tuntunan shalat tarwih:
1. Dilakukan secara berjamaah jika memungkinkan. Imam oleh laki-laki yang sudah baligh. Bisa juga diimami oleh perempuan jika makmumnya perempuan atau anak kecil. Niat sebagai imam (imaman) atau sebagai makmum (ma’muman).
2. Posisi shalat sebagaimana shalat berjamaah pada umumnya. Imam di depan, disusul makmum laki-laki, kemudian makmum perempuan.
3. Jumlah rakaat sebanyak 20 (dua puluh) rakaat ditambah witir 3 (tiga) rakaat, sehingga berjumlah 23 rakaat.
4. Salam setiap 2 rakaat, kecuali witir terakhir yang hanya 1 rakaat.
5. Jika ada di antara anggota keluarga yang dapat memberikan nasihat (tausiyah), maka itu lebih baik. Kegiatan tarwih di rumah ini dapat menjadi ajang Latihan dan keakraban sesama anggota
keluarga.
6. Dibolehkan jeda setelah salam. Jadi kalau ada yang memiliki hajat, atau makan-minum di sela-sela tarwih dapat dilakukan. Ini salah satu kelebihan shalat tarwih di rumah daripada di masjid.
7. Jika shalat sendiri (munfarid), maka berlaku tata cara sebagaimana shalat malam: mengeraskan suara (jahr) pada bacaan surah al-Fatihah dan ayat/surah lainnya bagi laki-laki, dan menyamarkan
(sirr) bagi perempuan.
8. Untuk penanda bilangan rakaat setelah salam, ganjil dan genap bisa menggunakan lafal doa tertentu.
9. Doa setelah shalat tarwih. Adapun shalat witir merupakan rangkaian dalam pelaksanaan qiyaamullail di bulan Ramadhan. Berbeda dengan shalat tarwih yang khusus di bulan Ramadhan, shalat witir terdapat tuntunan dalam syariat untuk melaksanakannya setiap
malam, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Beberapa tuntunan shalat witir adalah:
1. Shalat witir hukumnya sunnah mu’akkadah dengan banyak keutamaan.
2. Shalat witir selalu berjumlah ganjil minimal 1 (satu) rakaat dan maksimal 11 (sebelas) rakaat.
3. Umumnya shalat witir dilaksanakan 3 rakaat diselingi salam pada rakaat kedua, atau tiga rakaat sekaligus.
4. Shalat witir adalah shalat yang terakhir setiap malam. Bagi yang hendak menambah shalat tahajjud setelah shalat tarwih, maka shalat witirnya setelah tahajjud, dan tidak shalat witir
setelah shalat tarwih.
5. Disunnahkan membaca doa qunut pada malam ke-16 (enam belas) di bulan Ramadhan.
6. Bila hendak shalat tahajjud setelah shalat witir, maka tidak perlu witir lagi sesudah tahajjud.
7. Doa setelah shalat witir

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan