Zakat Fitrah dan Zakat Mal di masa pandemi

Secara bahasa, zakat fitrah terdiri dari dua kata, zakah dan fithr. Kata zakah berarti “sesuatu yang tumbuh, suci, berkah”. Adapun fithrah berarti “berbuka”, atau “awal penciptaan”. Sesuai namanya, zakat fitrah dimaksudkan membawa kesucian dan pertumbuhan jiwa yang baik.
Zakat Fitrah merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dengan amaliyah Ramadhan, karena salah satu fungsinya adalah membersihkan sisa-sisa dosa yang masih ada setelah pelaksanaan puasa dan amaliyah Ramadhan. Selain itu, zakat fitrah juga berfungsi pembersihan jiwa setiap insan. Zakat itrah mensyaratkan berakhirnya bulan Ramadhan sebagai penanda waktu (haul).

Dengan begitu, orang yang meninggal sebelum selesainya bulan Ramadhan tidak terkena kewajiban zakat fitrah. Sebaliknya, seorang anak bayi yang baru lahir di penghujung Ramadhan, terkena kewajiban zakat fitrah.

Dalil diwajibkannya zakat fitrah hadits dari Abdullah ibn ‘Umar bahwa “Nabi saw. mewajibkan zakat fitrah, berupa satu sha’ kurma atau gandum kepada kaum Muslimin, budak atau merdeka, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa. Beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Ied”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadits ini menjelaskan bahwa setiap orang Islam wajib menunaikan zakat fitrah. Zakat anggota keluarga dibayarkan oleh kepala keluarga atau yang penanggung nafkah. Bagi seseorang yang masih memiliki kelebihan makanan sampai esok hari sebanyak 1 (satu) sha’ (sekitar 2,5 kg) bahan makanan pokok, wajib membayar zakat fitrah.

Mustahiq (penerima) zakat fitrah ada delapan golongan sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Taubah [9]: 60, yaitu fakir, miskin, amil, muallaf, budak, orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang yang dalam perjalanan. Golongan yang kedelapan ini disebutkan secara umum tanpa menyebutkan pengkhususan orang Muslim. Oleh karena itu, non-muslim dapat diberikan zakat—dengan dalil keumuman ayat ini—atau dimasukkan dalam kategori mu’allaf, yaitu yang dibujuk hatinya untuk memeluk atau menetap dalam agama Islam. Imam al-Syawkani dalam Nayl al-Awtharnya menjelaskan bahwa dalam sebuah Riwayat disebutkan bahwa Rasululah SAW memberikan bagian zakat kepada non-Muslim, lalu orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah ke dalam Islam, karena sesungguhnya Muhammad memberi tanpa takut miskin”.

Zakat fitrah dibayarkan dengan bahan makanan pokok yang sama dengan konsumsi sehari-hari. Zakat fitrah juga dapat dibayarkan dengan uang tunai yang senilai dengan kuantitas dan kualitas bahan makanan pokok tersebut. Untuk masyarakat Indonesia, pembayaran zakat dengan uang senilai lebih praktis dan mudah daripada dengan beras sebagai makanan pokok. Hanya saja, harga beras sewaktu-waktu dapat berubah, sehingga memengaruhi jumlah ketika dikonversi.

Perbedaan zakat fitrah dengan zakat mal adalah pada penentuan waktunya. Zakat fitrah sudah ditentukan waktunya yakni bulan Ramadhan dan hari pertama Syawal (sebelum khatib ‘Ied Fitri naik ke mimbar) setiap tahunnya. Adapun zakat mal bergantung pada kecukupan jumlah nisab (nishab). Nisab zakat mal adalah 85 gram emas dan nishab zakat f itrah adalah persedian makanan untuk 1 hari kedepan.

Waktu penyaluran zakat fitrah adalah di akhir Ramadhan atau di awal bulan Syawal, dan waktu penyaluran zakat mal disesuaikan dengan masa setahun (haul) sejak mencapai nisab. Meski demikian, banyak umat Islam yang memilih bulan Ramadhan untuk mengeluarkan zakat mal.


Idealnya, pembayaran dan pembagian zakat fitrah dilakukan pada masa-masa terakhir bulan suci Ramadhan. Karena Rasulullah SAW menginginkan tidak ada orang yang tidak memiliki sesuatu untuk
dimakan pada hari raya Idul Fitri. Akan tetapi, dalam masa-masa tertentu ketika kebutuhan mendesak maka bisa saja pengumpulan dan penyaluran sebagian zakat fitrah didahulukan di awal atau pertengahan Ramadhan.

Sehingga tidak terjadi penumpukan zakat fitrah di akhir Ramadhan, sementara kebutuhan sudah ada di awal atau pertengahan Ramadhan. Demikian juga dengan zakat harta (mal). Meskipun belum mencapai haul, pembayaran zakat mal dapat dipercepat jika sudah mencapai nishab. Ini semata-mata untuk memberikan manfaat yang maksimal kepada masyarakat.

Dalam masa pandemik Covid-19 ini, bisa jadi sebagian masyarakat kehilangan kesempatan untuk bekerja, mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Zakat dari para muzakki akan sangat membantu kehidupan mereka yang terdampak secara ekonomi. Di sinilah kesempatan emas bagi
umat Islam yang berkecukupan untuk menyegerakan pembayaran zakat harta, memperbanyak infaq dan sedekah sebagai bukti kasih sayang antara sesama Muslim atau sesama manusia.[]

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan