Tradisi Bermaafan

Sejalan dengan imbauan Pemerintah untuk pembatasan sosial berskala besar, maka tradisi bermaafan dalam rangkaian hari raya, dengan kontak fisik bersalaman langsung, ditiadakan. Kegiatan bermaafan dapat dilakukan dengan isyarat dari jarak aman, yaitu minimal satu setengah meter. Lebih baik lagi bila jaraknya lebih dari itu. Saat merebaknya pandemik ini, muncul istilah “salam korona” yang ditandai dengan tidak berjabat-tangan langsung, tetapi sekadar mengangkat tangan kanan dan meletakkannya di dada atau mengakat tangan setinggi bahu sebagai pertanda salam kepada orang lain. Kegiatan berkumpul-kumpul secara fisik sebaiknya ditiadakan. Kelebihan rezeki yang sedianya
disiapkan untuk acara semacam itu dapat disalurkan untuk bakti sosial atau membantu aksi menanggulangi pandemi Covid-19.


Kegiatan semacam itu mendapatkan kemuliaan lebih dari sekadar silaturrahim, tetapi ada sedekah dan infak. Kegiatan bermaafan juga dapat dilakukan melalui media komunikasi. Seperti telepon, telepon genggam, SMS, percakapan melalui media sosial dan semisalnya.
Dalam rangkaian hari raya, ada pula kelompok-kelompok yang senang mengadakan acara khusus dengan varian bentuk, semisal halal bi halal, silaturahmi, ataupun reuni. Di beberapa daerah di Tanah Air, ada yang mengadakan hari lebaran khusus untuk merayakan puasa sunat enam hari di bulan Syawal. Inti dari acara semacam itu ialah menyegarkan silaturahmi yang hukumnya adalah wajib dengan kemasan yang bermacam-macam.


Inti atau substansi (maqashid) perayaan ‘Ied adalah Pertama, memperdalam hubungan di antara umat dan memperkuat ikatan iman satu sama lain; Kedua, keluar sejenak dari  kebiasaan atau rutinitas hidup yang monoton; Ketiga, menggembirakankeluarga, orang tua, sanak saudara, dan sahabat, terlebih bila sebelumnya berpisah atau berjauhan tempat tinggal; Keempat, berekreasi, menunjukkan kegembiraan, kesenangan, dan kebersamaan. Kelima, mengingatkan hak para fakir-miskin, orang lemah, dan orang yang berkebutuhan, termasuk mereka yang terdampak pandemic Covid-19.

Agama Islam tidak melarang umatnya mengekspresikan kegembiraan merayakan ‘Ied sesuai kebiasaan di tempat tinggal masing-masing. Tentu, ekspresi kegembiraan dapat disesuaikan sesuai porsi dan situasinya. Semoga Covid-19 ini segera berlalu dan perilaku bermaafan tidak surut olehnya.[]

Sumber : Fikih Pandemi di Masa wabah (NUO Publishing)

Tinggalkan Balasan